KangAdhi7 Blog

All About Article

sumedang larang 2

Posted by kangadhi7 on May 31, 2010


KERAJAAN SUMEDANG LARANG BAGIAN 2

 

PERISTIWA HARISBAYA 

Kisah Sumedang pada masa Geusan Ulun banyak dipengaruhi oleh akibat Peristiwa Harisbaya, seperti lepasnya daerah Sindangkasih (asal Pangeran Santri) menjadi wilayah Cirebon ; munculnya mitos-mitos yang berhubungan dengan Jayaperkosa (hanjuang, dago jawa, sindang jawa, penggunaan batik) ; dan berpindahnya ibukota Sumedang dari Kutamaya ke Dayeuh Luhur. Kisah ini menjadi mitos yang kerap menimbulkan perbedaan pendapat dalam menafsirkan sejarah di tatar Sunda umumnya dan khususnya sejarah Sumedang.

Pasca wafatnya Geusan Ulun sangat berpengaruh terhadap perjalanan sejarah tatar Sunda, sulit menarik benang merah untuk mengetahui kesejatian sejarah dan budayanya. Dalam buku History of Java misalnya, Raffles masih dibingungkan, apakah Sunda itu dialek atau bahasa yang mandiri. Mengingat pada masa itu di tatar Sunda sangat sulit menemukan jejak kejayaan Urang Sunda, bahkan berada di bawah daulat Mataram, dan satu persatu wilayah di tatar Sunda diserahkan kepada Kompeni Belanda. Tak cukup sampai disitu, Raffles menyimpulkan pula, bahwa : bahasa Sunda sebagai varian dari bahasa Jawa, bahkan ada juga yang menyebut bahasa Sunda sebagai “bahasa Jawa gunung dibagian barat”.

Nasib kesejarahan di tatar Sunda pasca kemerdekaan pun demikian, banyak sejarah yang dikisahkan, terutama yang berasal dari sejarah lisan tidak menemukan tumbu dengan titi mangsa peristiwanya, sehingga tak jarang dituduh memiliki catatan sejarah palsu, atau tuduhan “sejarahnya diciptakan oleh Belanda”.

Jika ditelusuri lebh lanjut, konon masalah ini dahulu hanya karena Suryadiwangsa, putra Geusan Ulun (ada juga yang menyebutkan putra tirinya), dari Harisbaya menyerahkan Sumedang tanpa syarat kepada Mataram. Penyerahan ini bukan hanya berpengaruh terhadap Sumedang, melainkan juga seluruh tatar Parahyangan. Padahal ketika Geusan Ulun diistrenan, ia dianggap dan di amanahkan sebagai pewaris syah tahta Pajajaran. Pada masa itu Sumedang menguasai sisa Pajajaran yang berada di tatar Parahyangan (selebihnya dikuasai Banten dan Cirebon), tak kurang dari 44 Kandaga Lante dan 8 umbul berada dibawah daulat Sumedang.

Peristiwa Harisbaya dan segala akibatnya diceritakan melalui beberapa versi, diantaranya babad Sumedang, babad Cirebon dan babad Limbangan. Namun masing-masing versi memiliki alasan, adakalanya muncul perbedaan didalam menuturkan peristiwanya. Namun tentunya, kita pun tidak perlu mengadili kebenaran masing-masing yang dikisahkannya, karena masing-masing memiliki paradima yang berasal dari keyakinan kebenaran yang dikisahkannya. Dan memiliki alasan sesuai dengan jamannya.

Makam Geusa Ulun

Kasus Harisbaya

Kisah Harisbaya dan akibat dari peristiwanya dituturkan didalam rintisan penelusuran masa silam sejarah Jawa Barat (rpmssJB), secara garis besar dituturkan sebagai berikut :

•           Didalam Pustaka Kertabumi I/2 dikisahkan, bahwa peristiwa Harisbaya terjadi pada tahun 1507 saka atau 1585 M. Pada peristiwa ini pusat kekuasaan islam tidak lagi di Demak, karena sejak tahun 1546, setelah huru hara Demak yang menewaskan Prawoto (Demak) dan Muhamad Arifin alias Pangeran Paseran (Cirebon) putra Susuhunan Jati maka kekuasaan beralih ke Pajang. Pada masa huru hara Demak Geusan Ulun belum lahir, ia lahir 12 tahun pasca peristiwa dimaksud atau pada 1558 M.

Peristiwa Demak yang menewaskan Muhamad Arifin alias Pangeran Paseran (Cirebon) menyebabkan Susuhunan jati (ayahnya) merasa sakit hati, iapun mendukung penobatan Hadiwijaya (Pajang). Tak cukup sampai disitu, Susuhunan Jati mengirimkan Panembahan Ratu, cicitnya untuk berguru kepada Hadiwijaya (selama 16 tahun), untuk kemudian ia dinikahkan dengan putri Hadiwijaya.

Pada tahun 1582 M hubungan antara Cirebon dengan Pajang menemukan kendala. Hadiwijaya berseteru dengan Sutawijaya, putra Ki Gedeng Pamanahan, bupati Mataram (islam). Hadiwijaya berhasil dikalahkan oleh Mataram, hingga ia pun tewas setelah terjatuh dari gajah. Panembahan Ratu, Sutawijaya dan keluarga keraton Pajang menghendaki agar Banowo, putra bungsu Hadiwijaya menggantikan ayahnya. Dipihak keluarga Trenggono dan kerabat keraton Demak menghendaki agar yang menggantikan Hadiwijaya adalah menantunya, putra Sunan Prawoto, yakni Arya Pangiri. Kemudian Arya Pangiri disepakati menggantikan Hadiwijaya, sedangkan Banowo menjadi bupati Jipang.

Kisah ini menggambarkan, bahwa pada saat peristiwa Harisbaya terjadi (1585 M) yang berkuasa adalah Arya Pangiri (Pajang), sedangkan Panembahan Senopati (Mataram) mulai berkuasa pada tahun 1586 M setelah ia menjatuhkan Arya Pangiri dari tahta. Pajang pun diserahkan kepada Sutawijaya.

Panembahan Ratu pada waktu itu telah menjadi menantu Hadiwijaya, sehingga Arya Pangiri menganggap Panembahan Ratu memiliki pengaruh untuk menentukan kelangsungan Pajang. Ketika Arya Pangiri masih berkuasa, untuk menetralkan sikap Panembahan Ratu yang pro terhadap Banowo, ia diberi hadiah Harisbaya, seorang putri Madura yang cantik. Konon peristiwa ini terjadi ketika Panembahan Ratu menghadiri pemakaman Hadiwijaya. Namun Arya Pangiri tidak mengetahui, bahwa Harisbaya telah menjalin cinta dengan Geusan Ulun.

Harisbaya sebenarnya tidak sedemikian mencintai Panembahan Ratu, bukan karena Panembahan Ratu telah berusia lanjut, ia diperkirakan berusia 38 tahun sedangkan Geusan Ulun 27 tahun, namun karena Harisbaya telah memiliki hubungan dengan Geusan.

Pertemuan Geusan Ulun dengan Harisbaya terjadi ketika Geusan Ulun sedang berguru dan masih berstatus putra mahkota. Jika dilihat dari masanya, dimungkinkan terjadi ketika Geusan Ulun berguru di Pajang bukan di Demak, mengingat sejak huru hara (1546 M) Demak telah kehilangan fungsinya, baik sebagai pusat kekuasaan maupun sebagai pusat perguruan islam. Keberadaan Geusan Ulung di Pajang sama halnya dengan Panembahan, menurut Kertabhumi I/2, waktu itu Pajang sangat bersahabat dengan Cirebon, Banten dan Sumedang. Jika saja Susuhunan Jati yang terkenal sebagai mahaguru agama islam mengirimkan Panembahan Ray untuk berguru kepada Hadiwijaya, Pangeran Santri pun tentu akan menganggap layak mengirimkan putranya (Geusan Ulun) untuk berguru kepada Hadiwijaya di Pajang.

Pertemuan Geusan Ulun dengan Harisbaya di Pajang dalam waktu yang cukup lama (menurut babad antara 5 sampai 5 tahun), tentunya wajar jika menimbulkan benih-benih cinta. Hingga pada suatu ketika Geusan Ulun harus pulang ke Sumedang (tahun 1580 M) untuk dinobatkan sebagai penguasa Sumedang, menggantikan ayahnya. Pada waktu pertemuan tersebut dimungkinkan telah ada janji dari Geusan Ulun kepada Harisbaya tentang pewaris tahtanya dikemudian hari, sehingga Harisbaya mau dipersunting Geusan Ulun, dan rela meninggalkan Panembahan Ratu.

Tujuan Geusan Ulun ke Pajang dipaparkan pula, bahwa dimungkinkan ia bukan hanya untuk berguru agama islam, sama halnya dengan Panembahan Ratu, melainkan berguru tentang ilmu kenegaraan dan ilmu perang dari Hadiwijaya, bahkan disana ia bukan sebagai “santri” melainkan sebagai “satria”. Hal ini berdasarkan pada alasan antara Hadiwijaya disatu sisi dan disisi lain Geusan Ulun (keturunan Pangeran Santri) dan Penambahan Ratu (keturunan Susuhunan Jati) memiliki mazhab yang berbeda. Hadiwijaya penganut madzhab Syiah Muntadar sedangkan Geusan Ulun dan Panembahan Ratu penganut madzhab Syafi’i.

Peristiwa Harisbaya dijamannya membuahkan perseteruan antara Cirebon dengan Sumedang. Menurut cerita dari Sumedang, terjadi peperangan antara Cirebon dengan Sumedang, dimenangkan oleh Sumedang. Berdasarkan Babad Pajajaran yang ditulis pada masa Pangeran Kornel menyebutkan, tentara yang dikerahkan Cirebon sebayak 2.000 orang, sebaliknya menurut sumber Cirebon diceritakan akibat peristiwa Harisbaya hampir terjadi perang di antara kedua negara, tetapi dapat dicegah melalui jalan kompromi, “talak” Ratu Harisbaya dari Penembahan Ratu ditukar dengan daerah Sindangkasih. Dan dalam cerita manapun kompromi ini memang ada disebutkan.

Menurut Babad Cirebon “masa idah” Harisbaya itu 3 bulan 10 hari dan pernikahannya dengan Geusan Ulun menurut Pustaka Kertabhumi I/2 dilangsungkan pada tanggal 2 bagian terang bulan waisak tahun 1509 Saka, bertepatan dengan tanggal 10 April 1587 M. Peristiwa ini dilakukan 2 tahun pasca Harisbaya dilarikan dari Cirebon ke Sumedang.

 

Menurut Babad

Didalam rpmssJB dijelaskan, bahwa : Peristiwa Harisbaya dalam cerita babad dimulai ketika Prabu Geusan Ulun pulang berguru dari Demak, ia didampingi empat senapatinya, Jayaperkosa bersaudara. Kemudian singgah di Keraton Panembahan Ratu penguasa Cirebon. Geusan Ulun bertemu dengan Ratu Harisbaya isteri kedua Panembahan Ratu yang masih muda dan cantik, puteri Pajang berdarah Madura. Harisbaya sangat tergila-gila dengan ketampanana Geusan Ulun, ia merayu Geusan Ulun untuk melarikan diri ke Sumedang. Geusan Ulun yang didukung empat senapatinya yang tangguh kemudian mengabulkan permintaan tersebut. Kemudian ditengah malam buta ia meloloskan diri dari Cirebon.

Pelarian ini diketahui, Cirebon kemudian memerintahkan prajurit bayangkaranya untuk menangkap mereka, namun pasukan tersebut berhasil dipukul mundur oleh Jayaperkosa dan adik-adiknya, hingga mereka tiba di Kutamaya dengan selamat. Konon kabar, daerah bekas pertempuran tadi kemudian diberi nama “Dago Jawa” dan “Sindang Jawa”.

Kisah lolosnya Harisbaya membuat kegelisahan Cirebon. Panembahan Ratu mengutus para telik sandi mencari keberadaan Harisbaya. Pada suatu hari dua orang mata-mata Cirebon memergoki Harisbaya yang sedang berbelanja di pasar. Informasi ini disampaikan segera ke Cirebon. Dalam merespon kondisi ini, Cirebon menyiapkan pasukannya untuk menyerang Kutamaya. Namun tidak pernah menemukan sasarannya karena di hadang oleh pasukan Sumedang yang dipimpin Jayaperkosa.

Dalam kisah babad, peperangan ini pula muncul mitos tentang Jayaperkosa dan pohon “hanjuang”. Konon kabar, sebelum berangkat menyambut musuh yang akan menyerang Sumedang, Jayaperkosa berwasiat, : Jika daun hanjuang itu masih segar, maka ia masih hidup (walagri), namun jika daunnya menjadi layu artinya ia telah gugur”. Karena asyiknya Jayaperkosa mengejar musuh ia tersesat. Saudara-saudaranya menduga, Jayaperkosa gugur, sekalipun hanjuan itu masih tetep segar. Nangganan, salah satu saudara Jayaperkosa segera menuju ke Kutamaya untuk membujuk Geusan Ulun agar segera mengungsi ke Dayeuh Luhur. Kemudian evakuasi pun terjadi.

Selanjutnya diceritakan, Jayaperkosa terkejut ketika mendapatkan Kutamaya telah kosong, sementara hanjuang yang ditanam Jayaperkosa masih segar. Ia pun sangat merah ketika mengetahui Geusan Ulun dan rombongannya telah pindah ke Dayeuh Luhur dan menganggap Jayaperkosa dan pasukannya telah di kalahkan Cirebon. Ia mendatangi Geusan Ulun untuk menanyakan pangkal soal kepindahannya ke Dayeuh Luhur, setelah mengetahui persoalannya, kemudian membunuh Nangganan. Ia pun berujar : “tidak akan mau mengabdi lagi kepada siapapun juga”. Konon sebelum menjelang akhir hayatnya ia pun berpesan agar dikuburkan dipuncak bukit dalam sikap duduk yang menghadap ke arah Kabuyutan. Namun ada juga kisah babad yang menceritakan, “Jayaperkosa tidak mau kuburannya menghadap ke arah kuburan Geusan Ulun”. Sekalipun yang terakhir ini masih perlu ditelaah lebih jauh, karena Jayaperkosa lebih dahulu wafat sebelum Geusan Ulun.

Lingga Jayaperkosa

 

Kemarahan Jayaperkosa

Didalam Babad Limbangan maupun Babad Sumedang peranan Jayaperkosa dimasa Geusa Ulum dicertikan panjang lebar. Menurut rpmssJB, dipaparkan : kedua babad itu seolah-olah menenggelamkan peran Geusan Ulun di Sumedang dan menjadikan babad tersebut sebagai riwayat hidup Jayaperkosa. Padahal Jayaperkosa dan adik-adiknya menganggap Geulan Ulun bukan penguasa biasa, sehingga Jayaperkosa menyerahkan perangkat pakain raja Pajajaran, serta menyerahkan 44 Kanda Lante dan 8 Umbul, sehingga Geusan Ulun ditatar Parahyangan dianggap pewaris syah tahta Pajajaran. Kedudukan Jayaperkosa sendiri menurut koropak 630 adalah Mangkubumi, jabatan itulah yang tertinggi namun berada dibawah raja.

Buku tersebut selanjutnya menjelaskan pula, : seandainya perselisihan antara Geusan Ulun itu memang ada, satu-satunya faktor yang beralasan untuk diketengahkan adalah kesediaan Geusan Ulun untuk menerima tawaran kompromi dari Panembahan Ratu melalui pertukaran talak Harisbaya dengan daerah Sindangkasih. Hal ini sangat bertentangan dengan tujuan Jayaperkosa yang ingin menebus kekalahan Pajajaran dari Banten dan Cirebon. Ketika masa Jayaperkosa, Cirebon dianggap paling lemah, karena Banten dan Pajang sedang terjadi permasalahan di internnya. Jayaperkosa menjamin pula segala akibat dari terjadinya kasus Harisbaya, bukan hanya untuk menyenangkan Geusan Ulun melainkan bertujuan membuka kembali “Perang Pakuan”. Dan memang pada waktu Sumedang sudah kuat.

Disisi lain Panembahan Ratu dianggap tokoh penting dalam penaklukan Pajajaran. Jayaperkosa juga beranggapan, bahwa Panembahan ratu akan merasa terhina jika istrinya dibawa orang lain dan kemudian ia menyerang Sumedang. Kalau saja Panembahan Ratu tidak menawarkan kompromi dan Geusan Ulun tidak menerima tawaran tersebut, diniscayakan rencana ini akan berhasil. Namun nampaknya Panembahan Ratu lebih realistis, ia lebih memilih mendapat kompensasi daerah Sindangkasih ketimbang harus memiliki Harisbaya, atau semacam memilih langkah memenangkan langkah politik dari pada masalah harga diri. Kompromi yang diterima Geusan Ulun menyebabkan kemarahan Jayaperkosa. Dan dari sinilah kemudian muncul mitos tentang Jayaperkosa.

Geusan Ulun wafat pada tanggal 7 bagian gelap bulan Kartika tahun 1530 Saka, bertepatan dengan 5 November 1608 M. Ia dimakamkan di Dayeuh Luhur. Sedangkan Jayaperkosa tinggalah Lingga yang ada di dataran tinggi Dayeuh Luhur, saat ini masih nampak menghadap kabuyutan, suatu wilayah Dangiang Sunda, tempat Urang Sunda dimasa lalu mempertahankan harga dirinya.

 

Terakhir

Adanya perbedaan penulisan kisah dalam babad dan kisah lainnya dimungkinkan berbeda, suatu hal yang tidak dapat dipungkiri adalah paradigma dari para penulis dan petuturnya. Sangat tergantung keyakinannya ketika ia menuturkan atau mengisahkan. Sebagai generasi sesudahnya, kita tidak dapat begitu saja mengadili kebenaran dari masing-masing versi, atau menyalahkan paradigma para penulis dimasa lalu dengan paradigma kebenaran barat yang kadung menyeruak menjadi kebenaran kita saat ini.

Penafsiran kisah dan sejarah tersebut tentunya tidak lebih rumit dibandingkan dengan cara menafsirkan cerita pantun yang telah ada sebelum masa Sri Baduga. Cerita pantun tidak instan sebagai mana mencerna cerita komik atau sejarah lain, ia lebh rumit, penuh simbol-simbol yang perlu dimaknai. Padahal dari cerita pantun akan diketahui tentang budaya dari Urang Sunda “baheula”. Mungkin ini pula cara yang perlu digunakan dalam menafsirkan kesejarahan babad melalui pemaknaan dan membaca simbol-simbol budaya Sunda.

Untuk akhirnya, peristiwa Harisbaya dan segala akibatnya diatas mengajarkan pada generasi berikutnya tentang hidup dan pilihan hidup. Bagaimana suatu cita-cita besar dan masa depan dipertaruhkan hanya karena urusan pribadi. Pada akhirnya generasi yang akan datang menjadi tergadaikan. Disisi lain menggambarkan, bagaimana cita-cita dan harapan dipertahankan dan dijalankan, bagaimana pula pamadegan Urang Sunda dalam mempertahankan harga diri dan cita-citanya. Dan memang demikian seharusnya jika ingin bermartabat dan memiliki harga diri.

 

WEDANA BUPATI

Prabu Geusan Ulun merupakan raja Sumedang Larang pertama yang memiliki keabsyahan sebagai penerus tahta Pajajaran, setelah Jayaperkosa menyerahkan atribut raja Pajajaran dan 44 Kandaga Lante serta 4 umbul, namun ia juga raja terakhir dari Kerajaan Sumedang Larang, karena para penerusnya hanyalah setingkat bupati.

Geusan Ulun wafat pada tanggal 7 bagian gelap bulan Kartika tahun 1530 Saka, bertepatan dengan 5 November 1608 M, Ia dimakamkan di Dayeuh Luhur. Sebagai pengganti Geusan Ulun ditunjuk Pangeran Arya Suriadiwangsa putranya dari Harisbaya. Didalam Babad Pajajaran Pangeran Arya Suriadiwangsa disebut Pangeran Seda (ing) Mataram.

Prabu Geusan Ulun memiliki tiga orang istri, pertama Nyi Mas Cukang Gedeng Waru ; istri kedua Ratu Harisbaya, dan istri ketiga Nyi Mas Pasarean. Namun yang menjadi pertanyaan sampai sekarang, alasan apakah yang mendorong Prabu Geusan Ulun memberikan tahtanya kepada Pangeran Aria Suradiwangsa, padahal ia anak dari istri kedua, bukan kepada Rangga Gede putanya dari istri pertama, sebagai kebiasaan yang dilakukan para raja sebelumnya.

Dugaan pemberian tahta kepada Suriadiwangsa dimungkin karena ada kesepakatan antara Geusan Ulun dengan Harisbaya, sehingga Harisbaya mau dinikahi dan meninggalkan Panembahan Ratu. Hal tersebut diuraikan di dalam buku rintisan penelusuran masa silam sejarah Jawa Barat (rpmsJB).

Menurut babad, Harisbaya tergila-gila oleh Geusan Ulun. Demikianlah waktu tengah malam ia meninggalkan suami yang tidur lelap disampingnya lalu masuk kedalam tajug keraton untuk mengajak Geusa Ulun melarikan diri ke Sumedang. Bila benar demikian keadaannya, Geusan Ulun tentu tidak perlu menjanjikan atau memberikan jaminan apa-apa kepada Harisbaya. Ternyata kemudian yang ditunjuk adalah putranya Harisbaya, padahal putra sulungnya adalah Rangga Gede putra Nyi Gedeng Waru istri Geusan Ulun yang pertama. Penunjukan Suryadiwangsa, putra Harisbaya tak mungkin terjadi tanpa pernah ada “jaminan” dari Geusan Ulun kepada putri Pajang berdarah Madura ini. Hal ini merupakan indikasi bahwa bukan hanya Harisbaya yang “tergila-gila” melainkan harus dua-duanya. Jaminan itu pula tentu yang mendorong Harisbaya berbuat nista sebagai istri kedua seorang raja. Di Cirebon tidak mungkin kedudukan “ibu suri” diperolehnya.

 

Pangeran Aria Suriadiwangsa

Tentang sirsilah dari Suriadiwangsa sampai sekarang masih membuahkan perdebatan, karena ada versi yang menjelaskan, : ketika Harisbaya dipersunting oleh Geusan Ulun, ia telah mengandung, sehingga Suriadiwangsa dianggap sebagai putra Panembahan Ratu, suami pertama Harisbaya.

Hardjasaputra, didalam bukunya tentang : Bupati Priangan, dijelaskan, bahwa : setelah Prabu Geusan Ulun wafat, pemerintahan Sumedang diteruskan oleh anak tirinya, Raden Aria Suriadiwangsa (1608-1624). Namun rpmsJB menjelaskan dengan menguraikan waktu peristiwa, bahwa : “Suriadiwangsa benar-benar putra dari Geusan Ulun. Menurut Babad Pajajaran, masa idah Harisbaya itu 3 bulan 10 hari. Jadi, idah bisa menunjukan bahwa waktu dilarikan, Harisbaya tidak dalam keadaan mengandung.”

Dalam pembahasan rpmsJB sebelumnya menjelaskan pula, bahwa : “menurut Pustaka Kertabhumi I/2 peristiwa pelarian Harisbaya terjadi pada tahun 1507 Saka atau 1585 Masehi, sedangkan pernikahan Geusan Ulun dengan Harisbaya terjadi pada tanggal 2 bagian terang bulan Waisaka tahun 1509 Saka (kira-kira 10 April 1587), jadi ada selisih waktu dua tahun lamanya sejak Harisbaya dilarikan dari Pakungwati ke Sumedang dengan pelaksanaan pernikahannya”. Disisi lain tidak pernah ditemukan adanya kisah yang menjelaskan, bahwa Suriadiwangsa dilahirkan sebelum Harisbaya dinikahi oleh Geusan Ulun. Kiranya memang Suryadiwangsa adalah putra dari Geusan Ulun.

Pada masa pemerintahan Suriadiwangsa ada dua peristiwa yang berpengaruh terhadap sejarah Sumedang, yakni penyerahan Sumedang kepada Mataram pada tahun 1624 M, dan masalah yang terkait dengan penyerangan Mataram ke Madura. Pada tahun yang sama Pengeran Arya Suriadiwangsa wafat, sehingga banyak yang menafsirkan ia dijatuhi Hukuman Mati oleh Sultan Agung (Mataram).

 

Berserah Ke Mataram

Pada mulanya diwilayah Priangan hanya ada dua daerah yang berdiri sendiri, yakni Sumedang dan Galuh. Sumedang muncul setelah Kerajaan Sunda (Pajajaran) diruntuhkan oleh Banten (1579). Sumedang Larang menggantikan kekuasaan Pajajaran di Parahyangan ketika masa Geusan Ulun, sedangkan Galuh telah lebih dahulu direbut Cirebon dalam peperangan 1528 – 1530 M, kemudian menjadi Kabupaten sendiri yang berada dibawah daulat Cirebon.

Menurut Hardjasaputra : “Pada tahun 1595 Galuh dikuasai oleh Mataram dibawah pemerintahan Sutawijaya (Panembahan Senopati) yang memerintah Mataram pada tahun 1586 – 1601”. Sedangkan Sumedang Larang setelah wafatnya Prabu Geusan Ulun digantikan oleh Raden Aria Suriadiwangsa.

Penyerahan Sumedang Larang kepada Mataram tentunya tidak dapat dilepaskan dari perkembangan politik negara disekitar Sumedang Larang, seperti Mataram dan para penguasa di sekitar Jawa Barat (Banten, Cirebon) dan Kompeni Belanda yang selalu berupaya menguasai Nusantara.

Kekuasaan Sumedang Larang pada waktu sebelumnya, yakni pada masa Prabu Geusan Ulun, dianggap berhak meneruskan Pajajaran. Hal ini dibuktikan pada saa diistrenan Geusan Ulun menggunakan atribut raja-raja Pajajaran, ia pun diserahi 44 Kandaga Lante dan 8 Umbul, namun suatu yang tidak dapat disangkal lagi jika ia pun merupakan penguasa Sumedang Larang terakhir yang merdeka, terlepas dari negara lain, karena pasca wafatnya Prabu Geusan Ulun maka Sumedang Larang menjadi suatu daerah setingkat kabupaten yang berada dibawah daulat Mataram.

Pada masa pemerintahan Suriadiwangsa kekuasaan Mataram telah dipegang oleh Sultan Agung (1613-1645 M), Mataram (islam) mengalami masa kejayaannya dan menjadi negara yang kuat. Pada masa inilah Sumedang diserahkan kepada Mataram (1620 M).

Banyak kisah yang menjelaskan tentang alasan Pangeran Aria Suriadiwangsa menyerahkan Sumedang menjadi dibawah daulat Mataram. Paling tidak ada yang menarik dari versi yang bersebarangan ini tentang akibatnya dari pernikahan Harisbaya dengan Geusan Ulun, terutama kaitannya dengan posisi Pangeran Aria Suriadiwangsa, sebagai putra tiri atau anak kandung “pituin” Geusan Ulun.

Hardjasaputra (hal.21) menjelaskan, bahwa : “Ada dua faktor yang mendorong Pangeran Aria Suriadiwangsa bersikap demikian. Pertama, ia merasa bahwa Sumedang Larang terjepit diantara tiga kekuatan, yaitu Mataram, Banten, dan Kompeni (Belanda) di Batavia. Oleh karena itu, ia harus menentukan sikap tegas bila tidak ingin menjadi bulan-bulanan dari ketiga kekuatan tersebut. Kedua, ia masih mempunyai hubungan keluarga dengan penguasa Mataram dari pihak ibu Harisbaya (menurut Widjajakusumah dan R. Moh. Saleh, Ratu Harisbaya adalah saudara Panembahan Senopati, raja Mataram tahun 1586-1601/pen).

Alasan Hardjasaputra diatas yang tidak memperhitungkan adanya kekhawatiran Sumedang Larang terhadap Cirebon, mengingat ia berpendapat bahwa Pangeran Aria Suradiwangsa adalah bukan putra Geusan Ulun, melainkan putra Harisbaya dari Panembahan Ratu Cirebon, sehingga tidak mungkin Cirebon menyerang Sumedang.

Hal tersebut berlainan dengan pendapat para penulis rpmsJB yang meyakini Pangeran Arya Suriadiwangsa adalah asli anak Harisbaya dari Geusan Ulun. Penafsiran rpmsJB ini berakibat pula ketika memberikan alasan tentang penyerahan Sumedang kepada Mataram. Menurutnya : “Suriadiwangsa menyerah tanpa perang kepada Mataram. Hal ini merupakan bukti bahwa Sumedang sebenarnya lemah dalam kemiliteran. Salah satu penyebabnya ia kebiasaan rajanya mendirikan ibukota yang baru bagi dirinya. Pemerintahnya tak pernah mapan karena tiap ganti raja pusat kegiatannya selalu berpindah. Faktor lainnya yang mendorong Sumedang menyerah “secara sukarela” (prayangan) adalah menghindari kemungkinan adanya serangan dari Cirebon”.

Kekhawatiran terhadap serangan Cirebon tentunya sebagai akibat, pertama, peristiwa Harisbaya menyebabkan perseteruan Cirebon (Panembahan Ratu) dengan Sumedang (Geusan Ulun). Kedua, kekhawatiran Suriadiwangsa terhadap Mataram akan membantu Cirebon karena ada kekerabatan Mataram dengan Cirebon, Permaisuri Sultan Agung adalah Putri Ratu Ayu Sakluh kakak Panembahan Ratu, maka dengan berlindung dibawah Mataram diniscayakan Cirebon tidak akan menyerang Sumedang.

Penyerahan Sumedang kepada Mataram tentunya disambut baik oleh Sultan Agung. Dari persitiwa ini maka seluruh wilayah Priangan ditambah Karawang praktis menjadi bawahan Mataram. Dan Sultan Agung memproklamirkan ini kepada Kompeni. Dengan demikian di Jawa barat hanya Banten dan Cirebon yang masih dianggap memiliki kedaulatan.

Tentang status penguasa Sumedang pasca penyerahan kekuasaan kepada Mataram dijelaskan, sebagai berikut : “ untuk mengawasi wilayah Priangan dan mengkoordinasikan para kepala daerahnya, Sultan Agung mengangkat Raden Aria Suriadiwangsa menjadi Bupati Priangan (1620-1624 M) sekaligus bupati Sumedang, dengan gelar Pangeran Rangga Gempol Kusumadinata, yang terkenal dengan sebutan Rangga Gempol I. Sejak itulah di Priangan terdapat jabatan atau pangkat bupati, dalam arti kepala daerah, dengan status sebagai pegawai tinggi dari suatu kekuasaan”. (Hardjasaputra, hal 22).

VASSAL  MATARAM

Hukuman Mati

Penyerahan Sumedang menjadi bawahan Mataram tentunya bertujuan agar Sumedang dapat dilindungi oleh Mataram dari gangguang luar. Konsekwensi logis dari penyerahan ini adalah harus tunduknya para penguasa Sumedang terhadap titah Mataram. Dilain sisi, Sultan Agung memilki strong leadership, jika suatu misi yang diperintahkannya tidak berhasil maka ia tak segan-segan untuk memberikan punishment (hukuman).

Dari kisah Sumedang paling tidak ada dua orang Wedana Bupati yang dikenakan punishment hukuman mati oleh Sultan Agung, yakni Pangeran Aria Suriadiwangsa atau Rangga Gempol I (jika memang benar ia dihukum mati) dan Dipati Ukur.

 

Rangga Gempol I

Pada tahun 1624 Rangga Gempol I diperintahkan oleh Sultan Agung untuk menaklukan Madura, namun setelah Madura ditaklukan Mataram, pada tahun yang sama Rangga Gempol I wafat di Mataram.

Peristiwa tersebut menimbulkan beberapa spekulasi. Ada yang menyatakan kematian Rangga Gempol I di Mataram akibat dihukum mati oleh Sultan Agung, sementara pendapat lain menyatakan bahwa misi yang ditugaskan kepada Rangga Gempol I dianggap berhasil, karena sekalipun terjadi peperangan dan pasukan Madura sangat gigih bertahan, namun Madura dapat ditaklukan Mataram.

Dari salah satu sumber Sumedang menjelaskan, bahwa : “Pada tahun 1624 Rangga Gempol diminta Sultan Agung untuk membantu menaklukan Sampang Madura. Jabatan Bupati di Sumedang sementara dipegang oleh Rangga Gede.

Penaklukan Sampang oleh Rangga Gempol tidak melalui peperangan tetapi melalui jalan kekeluargaan karena Bupati Sampang masih berkerabat dengan Rangga Gempol dari garis keturunan ibu, Harisbaya, sehingga Bupati Madura menyatakan taat kepada Pangeran Rangga Gempol. Atas keberhasilnya Rangga Gempol tidak diperkenankan kembali ke Sumedang oleh Sultan Agung, sampai sekarang ada kampung bernama Kasumedangan yang dahulunya merupakan tempat menetap para bekas prajurit Rangga Gempol dari Sumedang. Pangeran Rangga Gempol wafat di Mataram dimakamkan di Lempuyanganwangi”.

Didalam catatan sejarah lain, menjelaskan, bahwa : Di Madura terdapat lima kerajaan, yakni Arosbaya, Sampang, Balega, Pamekasan dan Sumenep. Kelimanya bersatu untuk menghadapi serbuat Mataram, ketika itu pasukan Mataram dipimpin oleh Tumenggung Sujonopuro. Pasukan Madura berhasil menahan laju serangan Mataram, bahkan Tumenggung Sujonopuro tewas pada serangan malam hari yang dilakukan pasukan Balega. Pada serangan kedua akhirnya pasukan Madura dapat dikalahkan.

Dalam peristiwa tersebut memang Rangga Gempol berhasil membujuk bupati Sampang untuk menyerah secara damai, namun ia tidak berhasil membujuk bupati lainnya, sehingga terjadi perang hebat. Peristiwa ini dimungkinkan ditafsirkan sebagai kegagalan Rangga Gempol I menjalankan misinya, ia dijatuhi hukuman mati. Karena memang Sultan Agung selalu menghukum para bawahannya yang gagal melaksanakan tugas.

Pendapat yang berbeda, seperti yang dimuat didalam rpmsJB, menyatakan, bahwa : pada tahun yang sama ia dihukum mati di Mataram, bukan karena tidak berhasil menjalankan misinya, namun menurut rpmsJB yang menyimpulkan dari Rutjatan Sadjarah Sumedang memaparkan, bahwa: keberhasilan Rangga Gempol tersebut menjadikan ia sombong dan sesumbar, tanpa Sultan Agung pun ia mampu menaklukan Madura. Ucapannya terdengar oleh Sultan Agung, alasan inilah yang menyebabkan ia dihukum pancung.

Pada saat Rangga Gempol I menjalankan misinya ke Madura, jabatan Wedana Bupati Priangan dikuasakan kepada Rangga Gede, adiknya. Pangeran Dipati Rangga Gempol I meninggalkan 5 putera – putri, salah satunya anak pertama Raden Kartajiwa / Raden Soeriadiwangsa II yang menuntut haknya sebagai putra mahkota. Akan tetapi Rangga Gede menolaknya sehingga Raden Soeriadiwangsa II meminta bantuan kepada Sultan Banten untuk merebut kabupatian Sumedang dari Rangga Gede. Dalam suatu serangan, Rangga Gede tidak mampu menahan laju serangan Banten dan melarikan diri ke Mataram, sehingga ia diberikan sanksi politis dan ditahan di Mataram.

Kisah ini agar berbeda dengan versi lainnya. Menurut sumber Sumedang dijelaskan, bahwa serangan Banten ke Sumedang untuk memenuhi permintaan Raden Suriadiwangsa terjadi pada masa Pangeran Panembahan (1656 – 1706). Namun dalam catatan sejarah manapun, bahwa pada peristiwa ini memang Rangga Gede tidak sanggup menahan pemberontakan Suradiwangsa II, iapun melarikan diri ke Mataram. Sedangkan jabatan Wedana Bupati oleh Sultan Agung diserahkan kepada Dipati Ukur.

 

Dipati Ukur

Kegagalan Rangga Gede mengakibatkan Sultan Agung menyerahkan jabatan Wedana Bupati Priangan kepada Wangsanata yang dikenal dengan sebutan Dipati Ukur, penguasa tanah Ukur yang berpusat di Bandung Selatan (Krapyak). Ketika itu kekuasaan Dipati Ukur membawahi wilayah Sukapura, Sumedang, Bandung, Limbangan, sebagian daerah Cianjur, Karawang, Pamanukan dan Ciasem. Dipati ukur berasal daerah Purbalingga (Banyumas), ia menikah dengan Nyi Gedeng Ukur, putri Umbul Ukur. Kedudukannya sebagai Dipati Ukur karena menggantikan jabatan mertuanya.

Sultan Agung pada tahun 1628 memerintahkan Dipati Ukur untuk menyerang benteng Batavia, namun Dipati Ukur mengalami kegagalan dan ia tidak melaporkan ke Mataram, akibatnya ia di cap melakukan pemberontakan.

Tentang kisah Dipati Ukur, Soeria di Radja (1927) menemukan delapan versi, tentunya ada persamaan dan ada perbedaannya. Versi-versi tersebut, seperti dari Sumedang, Bandung Sukapura, Galuh, Banten, Talaga, Mataram dan Batavia (Hardjasaputra, 23). Mungkin jika saat ini diinventaris akan lebih banyak lagi, baik yang bersumber dari hasil penelitian sejarah maupun dari kepustakaan.

Versi sejarah resmi di terbitkan pada tahun 1990 an, diperuntukan bagi konsumsi anak-anak pelajar SMP Kelas 3 di Jawa Barat, diterbitkan Geger Sunten – 1990. Buku tersebut menjelaskan sebab musabab Dipati Ukur melakukan pemberontakan, sangat jarang diuraikan didalam sejarah dan catatan lainnya, kecuali kegagalan Dipati Ukur melakukan serangan kebenteng Batavia yang menyebabkan pembangkangan serta penangkapannya yang dilakukan oleh para umbul Priangan.

Didalam buku sejarah tersebut (hal 78) intinya menjelaskan, bahwa : Sultan Agung melihat adanya kekuatan Kumpeni Belanda di Batavia yang berhasil menyaingi Banten, ia mengajak Kumpeni untuk menaklukan Banten dan ditolak Kumpeni. Sultan Agung kemudian meminta kepada Kumpeni agar diakui sebagai pertuanan atas wilayah Jayakarta, ditolak Kumpeni. Pada tahun 1624 M ia pun meminta kepada Kumpeni untuk bersama-sama menaklukan Surabaya, juga ditolak Kumpeni, kemudian mendorongnya untuk menyerah Batavia dan mengusir Kumpeni dari daerah perbentengan di Batavia. (Hal. 78).

Pada tahun tahun 1628 Sultan Agung memerintahkan Dipati Ukur untuk membantu pasukan Mataram menyerang Kompeni di Batavia. Dalam catatan sejarah pada umumnya hanya disebutkan, bahwa Dipati Ukur gagal menunaikan tugasnya dan ia melakukan pembangkangan karena takut dihukum. Jarang diuraikan penyebab kegagalannya sebagai akibat komunikasi antara Dipati Ukur dengan Tumenggung Bahureksa.

Gelombang serangan pertama Mataram dilakukan melalui laut, dipimpin Tumenggung Bahureksa, selain itu Sultan Agung memerintahkan pasukan Priangan untuk membantu serangan melalui darat yang dipimpin oleh Dipati Ukur. Kedua pasukan tersebut ditentukan untuk bertemu di Karawang. Ternyata pasukan Priangan lebih dahulu tiba di Karawang.

Setelah ditunggu satu minggu pasukan Bahureksa belum juga tiba, pada akhirnya Dipati Ukur berinisiatif menyerah Batavia tanpa bantuan pasukan Bahureksa. Pasukan Dipati Ukur berhasil dipukul mundur, karena tidak cukup kuat untuk menyerang benteng Batavia yang sangat kokoh. Selang beberapa saat pasukan Bahureksa tiba di Karawang, namun ia tidak menjumpai pasukan Dipati Ukur. Dengan sangat marah ia pun menyerang benteng Batavia, ia pun berhasil di pukul mundur dan kembali ke Mataram.

Sultan Agung sangat marah atas kegagalan ini, ia memerintahkan pasukan Mataram untuk memanggil Dipati Ukur. Sayangnya pasukan Mataram tidak menemukan Dipati Ukur di krapyak, karena saat itu Dipati Ukur masih memusatkan kekuatannya diperbatasan Jayakarta untuk menyerang benteng Batavia kembali. Namun ia mendapat laporan dari salah satu wanita penduduk Tatar Ukur yang berhasil meloloskan diri, bahwa : pasukan Mataram di tatar ukur melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak senonoh dan mengganggu kehormatan wanita-wanita. Kondisi inilah yang memicu pemberontakan Dipati Ukur. Berkat bantuan tiga orang umbul Priangan, yakni : Kiwirawangsa Umbul Sukakerta ; Ki Astamanggala Umbul Cihaurbeuti ; Ki Somahita Umbul Sindangkasih, pihak Mataram dapat memadamkan pemberontakan Dipati Ukur pada tahun 1632.

Hal yang patut diketahui, bahwa : dengan dikuasainya wilayah Priangan oleh Mataram, maka kedudukan penguasa daerah di wilayah itu menjadi turun derajatnya, dari bupati dalam arti raja yang berdaulat penuh atas daerah dan rakyatnya, menjadi bupati vassal dalam arti pejabat tinggi yang wajib mengabdi kepada raja Mataram.

Kisah penangkapan Dipati Ukur yang selama ini kita dilakukan oleh tiga umbul Priangan, namun Naskah Leiden Oriental menjelaskan Dipati Ukur ditangkap oleh Bagus Sutapura (Adipati Kawasen) untuk kemudian dibawa ke Galuh. Naskah tersebut ditulis oleh Sukamandara yang pernah menjadi Jaksa di Galuh. Peristiwa penangkapannya menurut Prof. DR. Emuch Herman Somantri terjadi pada hari Senin tanggal 1 bulan Jumadil Awal 1034 H sekitar pertengahan tahun 1632.

Kisah penangkapan Dipati Ukur oleh Bagus Sutapura diuraikan didalam Sejarah Galuh, disusun oleh Raden Padma Kusumah. Naskah ini disusun berdasarkan naskah yang dimiliki oleh Bupati Galuh R.A.A Kusumah Diningrat 1836-1886 M, bupati Galuh R.T Wiradikusumah 1815 M dan R.A Sukamandara 1819 M. Naskah tersebut antara lain menjelaskan, sebagai berikut :

255 : Heunteu kocap dijalanna – Di dayeuh Ukur geus Neupi – Ki Tumenggung narapaksa – Geus natakeun baris – Gunung Lembung geus dikepung – Durder pada ngabedilan – Jalan ka gunung ngan hiji -Geus diangseug eta ku gagaman perang.

256 : Dipati Ukur sadia – Batuna digulang galing – Mayak – Gagaman di lebak – Rea anu bijil peujit – sawareh nutingkulisik – Pirang-pirang anu deungkeut – kitu bae petana – Batuna sok pulang panting – Ki Tumenggung Narapaksa rerembugan

257 : Urang mundur ka Sumedang – Didinya Urang Badami – Nareangan anu bisa – Nyekel raheden Dipati – Bupati pada mikir – Emut ku Dhipati galuh – Ka Ki bagus Sutapura – Waktu eta jalma bangkit – Seg disaur ana datang diperiksa

258 : Kyai bagus Sutapura – Ayeuna kawula meureudih – Dipati Ukur sing beunang – Ditimbalan dijeng gusti – Nanging kudu ati-ati – Perkakasna eta batu – Gedena kabina-bina – Dikira sagede leuit – Dingaranan Batu Simunding lalampah.

259 : Kyai bagus Sutapura – Perkakasna ngan pedang jeung keris – Datang kana pipir gunung – Tuluy gancangan nanjak – Geus datang kana tengah-tengah gunung – Batu Ngadurungdung datang – Dibunuh geus burak-barik.

260 : Nu sabeulah seug dicandak – Dibalangkeun nyangsang dina luhur kai – Nu matak ayeuna masyhur – Ngarana batu layang – Kocap deui Kyai bagus Sutapura ngamuk – Balad Ukur enggeus ruksak – Ukur ditangkap sakali.

276 : Hariring katu nimbalang – Eta maneh bener Kyai Dipati – Eh ayeuna Tumenggung – Tumenggung Narapaksa – Karep kamenta Ngabehi anu tilu – Ayeuna angkat Bupati

279 : Kyai bagus Sutapura – ayeuna ngarana kudu diganti – Bari diangkat Tumenggung – Tumenggung Sutanangga – Jeung bere cacah 7000 – Ayeuna Geus tetep linggih

 

Terakhir

Terhadap perbedaan versi ini sangat mungkin terjadi dan dapat menambah pengayaan pengetahuan masyarakat, khususnya di tatar sunda agar mengetahui kebenaran sejarahnya. Suatu hal yang perlu dicermati dari masing-masing versi tentang paradigma para penulis terhadap Dipati Ukur, apakah diakui sebagai pahlawan atau pembuat onar. Jika saja pembuat onar, maka keonaran tersebut harus dibaca sebagai pemberontakan orang tanah ukur – Priangan terhadap para tuan yang menguasai Priangan saat itu. Paling tidak, ada kenyamanan penguasa dan sekeselernya yang terganggu oleh Dipati Ukur, sehingga dikonotasikan negatif.

Pada akhirnya saya hanya bisa mencuplik salah satu “Tawis Katineung Ti Panglawungan Tembang Sunda Pamager Asih Bandung” (Renjagan), tentang proses dan makna penggalian sejarah, sebagai berikut :

Renjagan diri para aji

Ngarenjag para pujangga

Bejana pabeja-beja

Beja dibejakeun deui

Silih gitik ku pangarti

Lali kadiri pribadi.

 

PEMBAGIAN AJEG

Pemberontakan Dipati Ukur berlangsung dari 1628-1632 M. Hal tersebut menggambarkan, betapa sulitnya Mataram melakukan pengawasan terhadap Priangan yang memang jauh letaknya dari pusat kekuasaan. Berdasarkan latar belakang ini konon kabar Sultan Agung berupaya untuk menjaga stabilitas diwilayah Priangan dan Karawang dengan cara melakukan reorganisasi terhadap daerah-daerah tersebut.

Pembagaian wilayah tersebut menurut Hardjasaputra (hal 23) menjadi sebagai berikut : Pertama, Daerah Karawang, lumbung padi dan garis depan pertahanan Mataram bagian barat, dijadikan kabupaten, dengan statusnya tetap berada dibawah kekuasaan Wedana Bupati Priangan.

Kedua, pada tanggal 9 tahun Alip (menurut Hole : 20 April 1641) Wedana Bupati Priangan Tengah dibagi menjadi empat Kabupaten. Kabupaten Sumedang diperintah oleh Pangeran Dipati Kusumadinata (Rangga Gempol II), merangkan sebagai Wedana Bupati Priangan. Ketiga, daerah Priangan diluar Sumedang dan Galuh dibagi menjadi tiga kabupaten, yaitu Sukapura, Bandung dan Parakanmuncang. Untuk memerintah tiga kabupaten tersebut, Sultan Agung mengangkat tiga orang kepala daerah yang dianggap berjasa memadamkan pemberontakan Dipati Ukur, yakni : Ki Wirawangsa Umbul Surakerta menjadi Bupati Sukapura dengan gelar Tumenggung Wiradadaha ; Ki Astamanggala Umbul Cihaurbeuti menjadi Bupati Bandung, dengan gelar Tumenggung Wiraangunangun ; dan Ki Somahita Umbul Sindangkasih menjadi Bupati Parakanmuncang, dengan gelar Tumenggung Tanubaya. Pengangkatan tersebut sebagaimana ditulis dalam suatu Piagem.

Ketiga, Daerah Priangan Timur, yakni Galuh dipecah menjadi empat daerah, yaitu Utama, Bojonglopang (Kertabumi), Imbanagara, dan Kawasen.

Berdasarkan kisah dari sumber lainnya, : Utama diperintah oleh Sutamanggala, Imbanagara diperintah oleh Adipati Jayanagara, Bojonglopang diperintah oleh Dipati Kertabumi, dan Kawasen diperintah oleh Bagus Sutapura. Konon kabar Bagus Sutapura pada tahun 1634 diberikan jabatan Bupati di Kawasen karena ia dianggap berjasa menaklukan Dipati Ukur. Sementara Dipati Imbanagara yang dicurigai berpihak kepada Dipati Ukur, pada tahun 1636 dijatuhi hukuman mati.

 

Pasca Sultan Agung

Sultan Agung wafat pada pada tahun 1645 M, ia digantikan oleh putranya yang bergelar Sunan Amangkurat I atau Sunan Tegalwangi (1645 – 1677).

Kebijakan Sunan Amangkurat I terhadap daerah bawahannya pada umumnya sama dengan yang dilakukan Sultan Agung, terutama dalam hal melakukan reorganisasi kabupaten. Wilayah Mataram di bagian barat pada tahun 1656 – 1657 dibagi menjadi 12 Ajeg (setingkat Kabupaten), sembilan ajeg saat ini berada diwilayah Jawa Barat dan tiga ajeg saat ini termasuk wilayah Jawa Tengah.

Alasan Sunan Amangkurat I membagi daerah tersebut dikarenakan pasca pemberontakan Dipati Ukur di Priangan, khususnya di Priangan Tengah masih kacau. Disamping itu ada kekhawatiran terhadap kedudukan Kompeni Belanda di Batavia semakin kuat dan Banten sedang melebarkan kekuasaanya kewilayah timur. Oleh karena itu ia pun beranggapan untuk memperkuat Priangan Barat.

Sembilan ajeg yang berada diwilayah Jawa Barat tersebut, yakni :

(1) Sumedang didperintah oleh Pangeran Rangga Gempol III.

(2) Parakanmuncang diperintah oleh Tumenggung Tanubaya.

(3) Bandung diperintah oleh Tumenggung Wiraangunangun.

(4) Sukapura diperintah oleh Wiradadaha.

(5) Karawang diperintah oleh Tumenggung Panatayuda.

(6) Imbanagara diperintah oleh Ngabehi Ngastanagara.

(7) Kawasen diperintah oleh Mas Managara.

(8) Galuh oleh Wirabaja.

(9) Sekace.

Khusus Sakace terdapat perbedaan versi antara Babad Cirebon dan Babad Pasundan, karena babad Cirebon tidak mengenal daerah Sekace melainkan Sindangkasih, sama dengan yang dijelaskan para penulis dalam rpmsJB.

Reorganisasi ini juga menghapuskan jabatan wedana bupati di Priangan, terakhir dijabat oleh Pengeran Rangga Gempol III atau dikenal pula dengan sebutan Pangeran Panembahan, bupati Sumedang pada periode 1656 – 1706.

Reorganisasi daerah Priangan mengakibatkan jabatan bupati Sumedang, yang semulai bergelar “Pangeran” menjadi sederajat dengan bupati lainnya di Priangan, sama-sama bergelar ministeriales – perantara raja Mataram dengan rakyat Priangan, menurut Natanegara (1936) : “menyebabkan ketidak senangan Rangga Gempol III”. Ia ingin terus menjadi Wedana Bupati Priangan, sehingga memaksa Bupati Bandung, Sukapura, dan Parakanmuncang untuk tetap tunduk kepadanya. Akibatnya timbul konflik antara Rangga Gempol III dengan ketiga Bupati tersebut” (Hardjasaputra, hal 24).

 

MENGEMBALIKAN KEJAYAAN

Sultan Agung wafat pada tahun 1645, ia digantikan oleh Susuhunan Amangkurat I (1645 – 1677), putranya. Pasca wafatnya Sultan Agung kekuasaan Mataram berangsur-angsur turun dan menjadi lemah. Demikian pula pengaruhnya terhadap daerah-daerah kekuasaan lainnya yang semula dikuasai Mataram.

Mataram menjadi sangat lemah karena perselisihan diantara para pewaris tahta Amangkurat I yang tidak berkesudahan. Disamping itu, kerap terjadi serangan dari luar, seperti dari pasukan Makasar dan Madura. Amangkurat II didalam cara menyelesaikan masalah tersebut banyak meminta bantuan VOC. Bantuan yang diberikan tidak Cuma-Cuma, karena harus dibayar dengan beberapa wilayah yang dikuasainya.

Priangan khususnya dan sebagian Jawa Barat (yang berada diluar Banten dan Cirebon), menjadi wilayah Mataram akibat diserahkan tanpa syarat oleh Pangeran Aria Suriadiwangsa, mengalami nasib yang tidak kalah menyedihkan, daerah ini terpaksa harus diserahkan kepada VOC, sebagai bentuk kompensasi dari Mataram kepada VOC.

Pada mulanya wilayah Priangan Tengah dan Barat diserahkan kepada VOC sebagai daerah pinjaman, namun dalam proses selanjutnya Mataram semakin melemah dan dirundung permasalahan, dan terus menerus meminta bantuan VOC.

Priangan diserahkan melalui dua tahap, yakni pada tahun 1677 dan 1705. Tahap pertama dilakukan pada perjanjian 19-20 Oktober 1677, diserahkan wilayah Priangan Tengah dan Barat. Pada tahap kedua pada perjanjian 5 Oktober 1705, Mataram menyerahkan wilayah Priangan Timur dan Cirebon. Mataram sendiri secara total menjadi kekuasaan VOC pada tahun 1757. (Hardjasaputra, hal 31).

Tentang proses waktu tersebut, sumber Sumedang mengisahkan adanya eksistensi Pangeran Rangga Gempol III yang berupaya mengembalikan kejayaan Sumedang, sebagaimana pada masa Sumedanglarang ketika masih dikuasai Prabu Geusan Ulun. Kisah ini disitir didalam rpmsJB, : Rangga Gempol III pernah mengirimkan surat kepada Gubernur Willem Van Outhoorn pada hari Senin tanggal 2 Rabiul’awal tahun Je (4 Desember 1690) yang dicatat didalam buku harian VOC di Batavia pada tanggal 31 Januari 1691. Isi surat tersebut menuntut kepada VOC agar wilayah kekuasaannya dipulihkan sebagaimana wilayah yang dikuasai Geusan Ulun, leluhurnya (rpmsJB, hal 57).

Pangeran Rangga Gempol III (1656 – 1706) dikenal sebagai bupati yang cerdas dan pemberani. Ketika diangkat menjadi penguasa Sumedang bergelar Kusumahdinata VI, kemudian menyandang gelar Pangeran Panembahan. Suatu gelar yang diberikan Amangkurat I Mataram atas bakti dan kesetiaannya kepada Mataram.

Kekuasaan Rangga Gempol III di anggap wilayah Mataram yang paling besar di Priangan. Namun sejarah mencatat, bahwa Pangeran Gempol III adalah bupati Sumedang yang merangkap Wedana Bupati Priangan terakhir, untuk kemudian status para bupati Sumedang dianggap sederajat dengan bupati lainnya.

Sebagaimana dijelaskan diatas, pasca wafatnya Sultan Agung mengakibatkan Mataram menjadi lemah, hal tersebut akibat banyak gangguan stabilitas dari dalam dan luar keraton. Untuk mengatasi permasalahannya Mataram kerap meminta bantuan VOC. Bantuan tersebut tidak diberikan secara cuma-cuma, melainkan harus dibayar dalam bentuk penyerahan wilayah kekuasaannya kepada VOC.

Dalam rangka memenuhi kewajiban terhadap VOC, konon pada tahun 1652 Mataram mengadakan perjanjian lisan dengan VOC untuk memberikan hak pakai secara penuh atas daerah sebelah barat Sungai Citarum. Wilayah tersebut berada diluar wilayah Sumedang. Ketika itu Sumedang berada dibawah pemerintahan Raden Bagus Weruh alias Rangga Gempol II.

 

Penghapusan Wedana Bupati

Menurut Hardjasaputra, kira-kira tahun 1657 Amangkurat I membagi daerah priangan, dikarenakan pasca pemberontakan Dipati Ukur di Priangan, khususnya di Priangan Tengah masih kacau. Disamping itu ada kekhawatiran terhadap kedudukan VOC di Batavia semakin kuat dan Banten sedang melebarkan kekuasaanya kewilayah timur. Oleh karena itu ia pun memperkuat Priangan Barat.

Reorganisasi tersebut dilakukan pada masa Rangga Gempol III menjabat “Wedana Bupati Priangan” dan sekaligus merangkap sebagai penguasa Sumedang (1656 – 1706). Para bupati Sumedang sebelumnya bergelar “Pangeran”, dengan adanya reorganisasi maka Rangga Gempol menjadi sederajat dengan bupati lainnya yang ada di Priangan, sama-sama bergelar ministeriales – perantara raja Mataram dengan rakyat Priangan.

Masalah ini dianggap merugikan Rangga Gempol III, menurut Natanegara (1936) : “menyebabkan ketidak senangan Rangga Gempol III”. Ia ingin terus menjadi Wedana Bupati Priangan, sehingga memaksa Bupati Bandung, Sukapura, dan Parakan muncang untuk tetap tunduk kepadanya. Akibatnya timbul konflik antara Rangga Gempol III dengan ketiga Bupati tersebut” (Hardjasaputra, hal 24) 

Tentang masalah konflik tersebut, mungkin ada hubungannya dengan sumber Sumedang yang menghubungkan alasan Rangga Gempol III merebut kabupatian lain yang dibentuk Mataram pada masa Rangga Gempol II, seperti Bandung, Parakan Muncang dan Sukapura. Hal tersebut dikisahkan terjadi pasca Rangga Gempol menguasai pantai utara.

 

Akibat perjanjian Mataram

Sumber Sumedang menjelaskan adanya perjanjian lisan antara Mataram dengan VOC pada tahun 1652, mungkin yang dimaksud adalah perjanjian pinjam pakai atas tanah, namun VOC merasa tidak puas dengan perjanjian tersebut. Pada tahun 1677 dilakukan perjanjian secara tertulis. Konon dari pihak Sumedang dihadiri oleh Rangga Gempol III. Salah satu butir perjanjian menyebutkan batas sebelah barat antara Cisadane dan Cipunagara harus diserahkan mutlak oleh Mataram kepada VOC, kemudian dari hulu Cipunagara ditarik garis tegak lurus sampai pantai selatan dan laut Hindia. Permintaan tersebut oleh Amangkurat I ditolak, dengan alasan daerah antara Citarum dan Cipunagara termasuk kekuasaan kabupatian Sumedang dan bukan daerah kekuasaan Mataram. Daerah antara Citarum dan Cipunagara termasuk wilayah Sumedanglarang ketika masa kekuasaan Prabu Geusan Ulun.

Penolakan Mataram diterima dengan baik oleh VOC, sedangkan butir perjanjian lain disetujui oleh Mataram. Dengan demikian VOC menyetujui perjanjian tersebut, namun VOC meminta agar daerah yang dikuasainya sebagai hak pakai yang diberikan Mataram pada tahun 1652 menjadi milik VOC.

Ada kisah dari versi lain yang berasal dari penelitian, bahwa : “Perjanjian yang ditandatangani pada tanggal 19 – 20 Oktober 1677 tersebut menyebabkan Priangan Barat dan Priangan Tengah jatuh ketangan VOC”. (Hardjasaputra, Hal 31).

Memang Hardjasaputra (2004) tidak menjelaskan ada upaya dari Rangga Gempol III untuk mengembalikan wilayah Sumedang sebagaimana pada masa Prabu Geusan Ulun, bahkan didalam tulisannya tidak ditemukan adanya perjanjian lisan yang dibuat pada tahun 1652. Namun sumber Sumedang menyatakan, bahwa : Keinginan Rangga Gempol untuk mengembalikan wilayah kerajaan Sumedanglarang tentunya sangat sulit dilaksanakan, wilayah tersebut sudah dikuasai oleh Banten, Cirebon, Mataram dan VOC. Oleh karena itu Rangga Gempol III baru dapat memperluas wilayahnya ke pantai utara, seperti Ciasem, Pamanukan dan Indramayu yang masih termasuk kekuasaan Mataram.

Sumedang pada masa sebelumnya sangat tergantung kepada Mataram dan tidak memiliki pasukan yang kuat. Untuk memperkuat posisi Sumedang di pantai utara, maka Rangga Gempol III meminta bantuan Banten. Kebetulan saat itu Banten masih konflik dengan Mataram disebabkan Mataram sangat dekat dengan VOC. Banten menyambut baik permintaan ini, dan meminta Sumedang bergabung dengan Banten untuk menyerang VOC dan Mataram.

Permintaan Banten demikian mengurungkan niat Pangeran Panembahan untuk menerima bantuan Banten, mengingat ada kekhawatiran terjadi kembali peristiwa Raden Suriadiwangsa II (lihat : Bab pembagian Ajeg), ia pun memperhitungkan pasukan VOC yang sangat kuat dan tidak mungkin pada masa itu dapat dikalahkan.

Pembatalan rencana permintaan bantuan Banten menimbulkan pula kekhawatirannya akan serangan Banten dikemudian hari. Untuk alasan ini Rangga Gempol III mengirim surat kepada VOC, isinya memohon bantuan untuk menutup muara sungai Cipamanukan dan pantai utara agar dapat mencegah pasukan Banten, sedangkan penjagaan di darat ditangani oleh langsung oleh Sumedang. Surat tersebut dikirimkan pada tanggal 25 Oktober 1677. Sebagai imbalan, Rangga Gempol memberikan daerah antara Batavia dan Indramayu.

Jika dilihat dari wilayah yang dihadiahkan kepada VOC, sebenarnya Sumedang tidak merasa kehilangan, mengingat daerah tersebut sudah diberikan oleh Mataram kepada VOC berdasarkan perjanjian tahun 1677. Disisi lain, perjanjian Mataram dengan VOC pada 25 Februari dan 20 Oktober 1677 memberikan keuntungan langsung bagi Sumedang, karena dengan dikuasainya daerah tersebut oleh VOC maka secara otomatis VOC akan menempatkan pasukannya untuk menjaga wilayah tersebut dan dapat menghambat pasukan Banten untuk menyerang Sumedang. Konon masalah ini tidak disadari VOC pada waktu itu, bahkan menganggap Sumedang sebagai kerajaan yang berdaulat.

Untuk memperkuat posisinya diluar wilayah Sumedang, Rangga Gempol III juga mengadakan hubungan dengan penguasa Batulajang (bagian selatan Cianjur), yakni Rangga Gajah Palembang, cucu (mungkin juga putra) Dipati Ukur.

Langkah Rangga Gempol III selanjutnya, ia menyerang wilayah pantai utara, seperti daerah Ciasem, Pamanukan dan Ciparagi. Daerah tersebut sangat mudah dikuasai, bahkan di Ciparigi ditempatkan pasukan Sumedang untuk mempersiapkan menyerang Karawang. Langkah selanjutnya perluasan wilayah diarahkan ke Indramayu, namun Indramayu segera mengakui Rangga Gempol III sebagai penguasa Indramayu. Dari bertambahnya daerah kekuasaan Sumedang maka secara praktis daerah pantai utara Jawa, kecuali antara Batavia dan Indramayu menjadi bawahan Sumedang.

 

Serangan Banten

Kekhawatiran Rangga Gempol III terhadap Banten terbukti ketika ia sibuk menaklukan pantai utara, sementara Sultan Banten bersiap untuk menyerang Sumedang.

Pada tahun 10 Maret 1678 pasukan Banten bergerak untuk menyerang Sumedang melalui Muaraberes, memutar jalur perjalanan dari Tangerang ke Patimun Tanjungpura, sehingga berhasil lolos dari penjagaan VOC.

Perjalanan tersebut tiba di Sumedang pada bulan Oktober, namun pasukan Banten tidak dapat menguasai Ibukota Sumedang karena kokohnya pertahanan Rangga Gempol III. Dari pertempuran yang memakan waktu kurang lebih satu bulan, pasukan Banten kehilangan senapatinya yang tangguh, yakni Raden Senapati.

Kegagalan Banten pada serangan pertama disebabkan huru hara di intern Kesultanan Banten, mengingat adanya pertikaian antara Sultan Agung Tirtayasa yang memerlukan pasukannya untuk menghadap putranya, yakni Sultan Haji yang dibantu Belanda, sehingga pasukan Banten ditarik mundur dari Sumedang.

Untuk memperkuat posisinya Sumedang meminta bantuan VOC, terutama senjata dan mesiu. Didalam buku rpmsJB dijelaskan mengenai jalur pengiriman bantuan tersebut, melalui sebelah utara Gunung Tampomas, yakni dari muara Ciasem dengan menggunakan rakit sampai di Cileungsing, untuk kemudian dilakukan melalui jalan darat (Hal. 52).

Bantuan VOC tersebut tidak mendapat kompensi dari Sumedang, karena Rangga Gempol III tidak taat terhadap janjinya ; tidak pernah datang ke Batavia untuk melakukan Sowan, sebagaimana layaknya penguasa wilayah jajahan ; dan tidak pernah pula memberi penghormatan atau upeti. Akibatnya, VOC menarik pasukannya dari pantai utara. Namun ada versi lain yang mempertanyakan, apakah memang penarikan pasukan VOC disebabkan Rangga Gempol ingkar janji, mengingat kuatnya pasukan VOC yang sewaktu-waktu dapat menyerang Sumedang atau dipersiapkan untuk membantu Sultan Haji yang sedang melakukan pemberontakan di Surasowan.

Pasca menguasai pantai utara, Rangga Gempol III mengalihkan perhatiannya untuk menguasai daerah kebupatian yang dibentuk oleh Mataram, yakni Bandung, Parakan muncang, dan Sukapura. Rangga Gempol III menguasai kembali seluruh daerah bekas Sumedanglarang kecuali antara Cisadane dan Cipunagara yang telah diserahkan oleh Mataram kepada VOC pada tahun 1677.

Kisah ini berbeda dengan apa yang ditulis didalam buku rpmsJB jilid empat dijelaskan, bahwa : Rangga Gempol III hanya menguasai 11 dari 44 daerah yang semula dikuasai Geusan Ulun. Selebihnya sudah menjadi bawahan Bandung (8 daerah), Parakan Muncang (9 daerah) dan Sukapura 16 daerah (Hal. 57).

Kisah yang sama ditemukan pada versi lain, namun hanya mengisahkan adanya perselisihan antara Rangga Gempol III dengan para bupati yang dibentuk Mataram, yakni bupati Bandung, Parakanmuncang dan Sukapura, sebagai dampak dihapusnya jabatan Wedana Bupati yang semula di sandang Rangga Gempol III menjadi sejajar statusnya dengan bupati lain yang ada di Priangan. Sementara Rangga Gempol III masih menganggap para bupati tersebut sebagai bawahannya. Kisah ini tidak sampai pada uraian tentang keberhasilan Rangga Gempol menguasai kembali kabupatian di Priangan Tengah, karena hanya dikisahkan sebatas “ada persilihan”.

Pada masa kekuasaan VOC disadari, bahwa para bupati Priangan memiliki wibawa dan pengaruh terhadap rakyatnya. Akan tetapi disadari pula, pengangkatan salah seorang bupati Priangan untuk menjadi Bupati Kepala akan menimbulkan konflik diantara para bupati seperti yang terjadi pada Vasaal Mataram. Atas dasar pertimbangan ini kemudian VOC mengangkat bupati kepala yang berasa dari luar Priangan. Oleh karena itu VOC mengangkat Pangeran Aria Cirebon untuk menjadi Bupati Kepala (Bupati Kompeni), sebagaimana terdokumentasikan didalam Besluit tanggal 19 Februari 1706. Bupati Kepala bertugas mengawasi dan mengkoordinir bupati-bupati Priangan, agar mereka melaksanakan kewajiban terhadap VOC secara tertib dan lancar (Hardjasaputra – 2007).

 

KEKUASAAN VOC

Serangan Banten ke dua dilakukan pada awal oktober 1678. Pada awalnya pasukan Banten merebut kembali daerah-daerah yang dikuasai oleh Sumedang di pantai utara, Ciparigi, Ciasem dan Pamanukan. Pada masa itu daerah-daerah tersebut sudah tidak lagi dijaga pasukan VOC.

Penyerangan ke jantung kekuasaan Sumedang terlebih dahulu dilakukan dengan mengepung Sumedang. Hal ini dalukan oleh gabungan pasukan Banten, Bali dan Bugis, bertepatan pada awal bulan puasa, hari jum’at tanggal 18 Oktober 1678. Konon kabar pasukan gabungan tersebut di pimpinan oleh Cilikwidara dan Cakrayuda. Pelaksanaan penyerangan dilakukan tepat Hari Raya Idul Fitri, ketika itu Rangga Gempol III beserta rakyat Sumedang sedang melakukan Sholat Ied di Mesjid Tegalkalong. Tentunya siapapun tidak akan ada yang pernah menduga serangan tersebut akan dilakukan pada waktu shalat ied, apalagi penyerang dan yang diserang sama-sama memiliki ciri islam yang kental. Akibatnya banyak kerabat keraton dan rakyat Sumedang yang tewas, namun Rangga Gempol berhasil meloloskan diri ke Indramayu.

Rangga Gempol III pada masa pelariannya berupaya mengumpulkan sisa-sisa kekutan. Dengan bantuan dari Galunggung pada akhirnya Sumedang dapat direbut kembali. Namun pada medio Mei 1679 Banten kembali menyerang Sumedang dengan pasukan lebih besar, akhirnya Sumedang jatuh kembali ke tangan Banten, sementara itu Rangga Gempol III terpaksa mundur kembali ke Indramayu.

Pendudukan Sumedang oleh pasukan Banten hanya berlangsung sampai dengan bulan Agustus 1680, karena pasukan Banten ditarik untuk mendukung Sultan Ageng Tirtayasa yang sedang menghadapi Sultan Haji yang didukung oleh VOC. Dalam konflik ayah dengan anak tersebut dimenangkan Sultan Haji. Menurut Untoro (2007) : sejak masa kekalahan Sultan Ageung Tirtayasa oleh Sultan Haji, secara praktis kedaulatan Banten runtuh, apalagi setelah ditandatanganinya perjanjian pada tanggal 17 April 1984 (Hal. 41). Banten pada masa Sultan Haji tidak lagi mengganggu Sumedang, bahkan Sultan Haji berjanji kepada VOC, bahwa : Banten tidak akan mengganggu Cirebon dan Sumedang.

Pada tanggal 27 Januari 1681 Rangga Gempol III kembali ke Sumedang. Kemudian pada bulan Mei 1681 Rangga Gempol III memindahkan pusat pemerintahan dari Tegalkalong ke Regolwetan atau daerah Sumedang (sekarang) dan membangun gedung Srimanganti (saat ini menjadi Museum Prabu Geusan Ulun), namun tidak sempat disaksikannya, karena pada tahun 1706 Rangga Gempol III wafat dan dimakamkan di Gunung Puyuh.

Menurut buku rpmsJB, Rangga Gempol III pernah mengirimkan surat kepada Gubernur Willem Van Outhoorn pada hari Senin tanggal 2 Rabiul’awal tahun Je (4 Desember 1690) yang dicatat didalam buku harian VOC di Batavia pada tanggal 31 Januari 1691. Isi surat tersebut menuntut kepada VOC agar wilayah kekuasaannya dipulihkan sebagaimana wilayah yang dikuasai Geusan Ulun, leluhurnya (rpmsJB, hal 57).

Pada perjanjian tanggal 5 Oktober 1705, antara Mataram dengan VOC, wilayah Priangan Timur dan Cirebon diserahkan kepada VOC, dengan demikian seluruh Jawa Barat dan Banten praktis menjadi wilayah kekuasaan VOC, sedangkan Mataram diserahkan kepada VOC pada tahun 1757.

Rangga Gempol III digantikan oleh putranya Raden Tanumaja dengan gelar Adipati, bupati pertama kali yang diangkat oleh VOC. Kemudian didalam salah satu piagamnya yang bertanggal 15 November 1684, VOC mengangkat kepala-kepala daerah di Priangan untuk memerintah atas nama VOC. Pada peristiwa ini jumlah penduduk (cacah) yang berada dibawah masing-masing wilayah sudah ditentukan serta dijadikan ukuran kekuasaan para bupati. Hemat saya, hal ini dilatar belakangi oleh kepentingan VOC untuk memaksimalkan potensi masing-masing wilayah dalam mengelola hasil buminya, semakin produktif daerah tersebut maka semakin besar penghasilan yang didapat VOC.

Menurut de Klein dan Natanegara didalam Volks Almanak Sunda, masing-masing bupati tersebut memperoleh cacah, sebagai berikut : (1) Pangeran Sumedang 1015 cacah ; (2) Demang Timbanganten 1125 cacah ; (3) Tumenggung Sukapura 1125 cacah ; (4) Tumenggung Parakanmuncang 1076 cacah ; (5) Gubernur Imbanagara 708 cacah (6) Gubernur Kawasen 605 cacah (7) Lurang-lurah Bojonglopang 20 cacah dan 10 Desa. (Hardjasaputra, hal. 32).

 

Referensi :

•           Sumedang Larang (wikipedia, 17 Maret 2010).

•           Sejarah singkat Kabupaten Sumedang – sumedang.go.id – Pemda Sumedang, 17 Mei 2010.

•           Rintisan masa silam sejarah Jawa Barat – Proyek Penerbitan Sejarah Jawa Barat Pemeirntahan Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat, Tjetjep Permana, SH dkk. 1983 – 1984.

•           Bupati Di Priangan – dan Kajian Lainnya mengenai Budaya Sunda, Pusat Studi Sunda 2004.

•           Sejarah Jawa Barat, Yoseph Iskandar – Geger Sunten Bandung 2005.

Bupati Di Priangan, Kedudukan dan Peranannya pada Abad ke-17 – Abad ke 19, A. Sobana Hardjasaputra, dalam buku : Bupati di Priangan – dan Kajian lainnya mengenai Budaya Sunda (Seri Sunda Lana), Pusat Studi Sunda, Bandung – 2004.

Sejarah singkat Kabupaten Sumedang, sumedang.go.id – Pemda Sumedang, 17 Mei 2010.

Sumedang dari masa kemasa : sumedanglarang. blogspot.com, 16 Mei 2010.

Bupati Di Priangan, Kedudukan dan Peranannya pada Abad ke-17 – Abad ke 19, A. Sobana Hardjasaputra, dalam buku : Bupati di Priangan – dan Kajian lainnya mengenai Budaya Sunda (Seri Sunda Lana), Pusat Studi Sunda, Bandung – 2004.

•           Kapitalisme Pribumi Awal Kesultanan Banten 1522 – 1684. Kajian Arkeologi Ekonomi, Heriyanti Ongkodharma Untoro, Fakultas Ilmu Pengerahuan Budaya, Jakarta – 2007.

•           Rintisan penelusuran masa silam Sejarah Jawa Barat – Proyek Penerbitan Sejarah Jawa Barat Pemerintahan Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat, Tjetjep Permana, SH dkk, 1983 – 1984.

 

Di Kutip dari : GUNUNG SEPUH

akibalangantrang.blogspot.com

Disarikan oleh : Agus Setiya Permana

Dari : berbagai sumber

 

 

Posted in Legend & Mitos | Tagged: | Leave a Comment »

sumedang larang 1

Posted by kangadhi7 on May 31, 2010


KERAJAAN SUMEDANG LARANG BAGIAN 1

 

PENGANTAR

Nama Sumedang

Didalam cerita rakyat dikenal adanya sejarah penamaan Sumedang. Konon kabar pada suatu ketika Prabu Tajimalela melakukan tapabrata, untuk memperoleh petunjuk dari Sang Pencipta. Pada saat terbangun tiba-tiba mengucapkan kata : “Insun Medal Mandangan”, kemudian menjadi populer dengan sebutan Sumedang.

Didalam masyarakat beredar pula cerita yang mengabarkan, bahwa ucapan Sang Tajimalela tersebut terdiri dari dua kata, yakni “Insun medal; Insun madangan” dalam bahasa Indonesia berarti Aku dilahirkanan (lahir) ; Aku menerangi. Sumedang Larang dapat juga diartikan sebagai “tanah luas yang jarang bandingnya” (Su= bagus, Medang = luas dan Larang = jarang bandingannya). Selain itu kata Sumedang bisa diambil juga dari kata Su yang berarti baik atau indah dan Medang adalah nama sejenis pohon, sekarang dikenal sebagai pohon Huru.

Dari sinilah kata Sumedang diambil dari kata Insun Madangan yang berubah pengucapannya menjadi Sun Madang, selanjutnya menjadi Sumedang. Ada juga yang berpendapat berasal dari kata Insun Medal yang berubah pengucapannya menjadi Sumedang dan Larang berarti sesuatu yang tidak ada tandingnya.

 

Topografi

Sumedang saat ini merupakan daerah tingkat dua, terletak di sebelah Timur Propinsi Jawa Barat, secara geografis terletak pada posisi 107˚14’-108˚21’ Bujur Timur dan 60˚40’-70˚83’ Lintang Selatan. Berbatasan dengan Indramayu dan Subang di Sebelah Utara, Majalengka di Sebelah Timur dan Garut di Sebelah Tenggara serta Bandung di Sebelah Barat dan Selatan. Berjarak tempuh dari Ibukota Propinsi Jawa Barat, yakni Kota Bandung kurang lebih 45 km dan berada diantara dua kota tujuan wisata Bandung – Cirebon.

Sumedang disebut-sebut oleh Bujangga Manik didalam catatan pengembaraannya, diperkirakan ditulis pada abad 15 akhir atau awal abad 16. Catatatan Bujangga Manik ini oleh J. Noorduyn dianggap sebagai data Topografis Pulau Jawa dari sumber Sunda Kuno, berbentuk puisi naratif Sunda Kuna – naskah daun. Saat ini tersimpan di Perpustakaan Bodlein, Oxford (AS), sejak 1627 atau 1629. Tokoh Bujangga Manik kemudian diketahui seorang pangeran dari Pakuan (Bogor) yang memilih menjadi rahib Sunda.

Dalam perjalanan Bujangga Manik mencatatkan : “Sadiri aing ti inya – datang ka alas Eronan. Nepi aing ka Cinangsi, – meu(n)tas aing di Citarum. – ku aing geus kaleu(m)pangan, – meu(n)tas di Cipunagara, – ngalalar ka Tompo Omas, – meu(n)tas aing di Cimanuk, – ngalalar ka Pada Beunghar”. (sepergiku dari sana, – tiba ke wilayah Eronan. – Sesampai aku ke Cinangsi, – aku menyebrangi sungai Citarum. – semua itu telah kulalui, – menyebrang di sungai Cipunagara, – daerah Medang Kahiangan, berjalan lewat Tompo Omas, – aku menyebarang di sungai Cimanuk, – berjalan lewat pada Beunghar).

Ketika menanggapi catatan Bujangga Manik, buku “rintisan penelusuran masa silam sejarah Jawa Barat menjelaskan, bahwa : didekat Gunung Tompo Omas terdapat kerajaan Medang Kahiyangan. Nama kerajaan ini tercatat dalam Carita Parahyangan sebagai salah satu sasaran yang diserang pasukan Cirebon dalam masa pemerintahan Surawisesa (Pen : pengganti Sri Baduga). Belum jelas apakah ada hubungan antara nama Medang Kahiyangan dengan Sumedang Larang.

Pada saat Bujangga Manik memasuki Medang Kahiyangan, menurut catatan lain, Sumedang Larang sudah berpusat di Cipameungpeuk. Mungkin juga perjalanan Bujangga Manik melalui sebelah utara Gunung Tampomas, mengingat Sumedang Larang terletak disebelah selatan Tampomas. Sekalipun belum diketahui adanya titik persamaan antara Sumedang Larang dengan Medang Kahiyangan namun kedua catatan tersebut cukup jelas menggambarkan, bahwa di daerah Sumedang pada abad tersebut sudah ada semacam pemerintahan, sekalipun masih sangat sederhana.

 

Fase Ageman

Sumedang Larang dalam catatan sejarah mengalami dua fase keyakinan. Pertama fase Hindu (mungkin juga Sunda wiwitan), dimulai sejak ada Tembong Agung sampai dengan Galuh, protektor Sumedang Larang dikalahkan Cirebon di Talaga. Sekalipun demikian perlu juga diperhitungkan adanya perkembangan agama Budha, seperti pengaruh dari Talaga (pusat Budhisme) atau ketika Bujangga Manik melakukan pengembaraan. Konon kabar ia seorang rahib.

Kedua fase Islam, dimulai pada tahun 1529 M, mulai disebarkan oleh Maulana Muhammad alias Sunan Panakaran, putra Maulana Abdurachman alias Pangeran Panjunan. Pangeran Panakaran pada tahun 1504 M menikah dengan seorang putri dari Sindangkasih, kemudian melahirkan seorang putra, diberi nama Ki Gedeng Sumedang, dikenal dengan sebutan Pangeran Santri. Kemudian Pangeran Santri menikah dengan Ratu Setyasih yang bergeralr Pucuk Umum, pewaris syah dari tahta Sumedanglarang.

Sumedang Larang didirikan oleh Prabu Resi Tajimalela, namun Sumedang Larang sebagai kelanjutan dari Tembong Agung – Himbar Buana yang dirintis oleh Prabu Guru Aji Putih. Kisah tembong Agung dengan Sumedang Larang sama halnya dengan sejarah Galuh. Semula dirintis oleh Resi Guru Manikmaya di Kendan, pada jaman Wretikandayun kemudian dialihkan kesuatu daerah, untuk kemudian diberi nama Galuh (permata).

Ada yang menarik dari keberadaan kerajaan di tatar Sunda, pada umumnya didirikan oleh para pemuka agama, sama seperti pendiri Tarumanagara (Sang Maharesi-rajadirajaguru), Kendan (Sang Resiguru), Galuh (Wretikandayun), Indraprahasta (Resi Sentanu), Talaga (Pusat Budhisme), Cirebon (pusat Islam). Mungkin juga kesejarahan demikian menggambarkan ciri pokok dari masyarakat Sunda dahulu yang religius, sehingga tokoh agama merangkap pula dengan pemerintahan.

Ciri lainnya adalah, pada awal penyebaran agama dan masuknya pengaruh baru, nyaris tidak nampak adanya benturan. Mungkin yang lebih jelas ketika masa Sang Bunisora dan Wastukancana, bahkan putra Sang Bunisora, atau kakak sepupu Wastukancana dikenal sebagai haji pertama di daerah Galuh sehingga dikenal dengan sebutan Haji Purwa Galuh. Demikian pula pada masa Sri Baduga. Sebagaimana kita ketahui penyebar agama Islam pertama di Jawa Barat adalah Walangsungsang, putra Sri Baduga, bahkan salah satu istri Sri Baduga alumnus dari pesantren Quro.

 

Fase Kekuasaan

Mencermati fase kekuasaannya, di Sumedang Larang mengalami beberapa fase. Pertama, fase raja-raja Sumedang Larang dimulai dari Praburesi Tajimalela ada juga yang menyebutkan mulai dari Prabu Guru Aji Putih sampai dengan Prabu Geusan Ulun (1578 – 1601 M). Pada masa ini Sumedang Larang memiliki kekuasaan yang mandiri, sekalipun memang terseling sebagai kerajaan daerah, mengingat berada dibawah daulat Galuh. Sumedang Larang pernah didaulat sebagai pewaris syah tahta Pajajaran, mengingat ia memiliki kandage lante, perlengkapan pakaian raja-raja Pajajaran yang di persembahkan Jayaperkosa, senapati Pajajaran kepada Geusan Ulun.

Fase kedua, fase Bupati Wedana dibawah daulat Mataram. Fase ini dimulai sejak berkuasanya Rangga Gede alias Rangga Gempol 1 yang berkuasa pada tahun 1601 – 1625 M. Suatu hal yang masih perdebatan umum tentang siapa Rangga Gempol I, apakah ia anak syah dari Geusan Ulun atau anak tirinya, mengingat ada berita yang santer menyatakan, bahwa sebelum Harisbaya dinikahi Geusan Ulun ia telah hamil. Namun apapun isue nya, sejak masa ini Sumedanglarang berada dibawah daulat Mataram dan pernah dihadiahkan kepada Belanda pada masa Amangkurat II. Masa kekuasaan dibawah Mataram berlangsung hingga kekuasaan Rangga Gempol III (1656 – 1676 M).

Fase ketiga, fase Bupati Wedana dibawah daulat Belanda (VOC) kemudian terselang oleh Inggris dan kembali lagi dibawah Belanda dan Jepang. Dimulai pada masa Dalem Tumenggung Tanumaja (1706 – 1709 M). Fase lainnya terjadi pasca Indonesia menyatakan kemerdekaan.

Pada masa lalu dikenal pula adanya eksistensi Pangeran Kornel yang berani menentang Daendels ketika membangun Cadas Pangeran yang banyak memakan korban jiwa rakyat Sumedang. Kemudian ada pula kisah yang terjadi pada tahun 1888. Ketika itu Bupati Pangeran Aria Suriaatmaja atau dikenal juga sebagai Pangeran Mekah mengungkapkan kepada Belanda, bahwa Belanda harus memberikan kemerdekaan bagi bangsa di Nusantara. Hal ini dapat diketahui melalui literatur yang beliau tulis dalam buku dengan judul: “Ditiung memeh hujan” (sedia payung sebelum hujan).

 

CIKAL BAKAL

Kisah Sumedang diceritakan tumbuh sejak seorang resi keturunan Galuh datang untuk bermukim di pinggiran Cimanuk, daerah Cipaku, Kecamatan Darmaraja, ada juga yang menyebutkan didaerah Citembong Girang Kecamatan Ganeas Sumedang kemudian pindah ke kampung Muhara Desa Leuwi Hideung Kecamatan Darmaraja. Daerah-daerah tersebut telah ada pada abad kedelapan, dirintis oleh Cakrabuana. Konon kabar resi itu bernama Prabu Guru Aji Putih. Ia adalah putra Ratu Komara keturunan Wretikandayun (Galuh).

Prabu Guru Aji Putih menikah dengan Dewi Nawang Wulan (Ratna Inten), kemudian berputra ; sulung bernama Batara Kusuma atau Batara Tuntang Buana yang dikenal juga sebagai Prabu Tajimalela, kedua Sakawayana alias Aji Saka, ketiga Haris Darma dan yang terakhir Jagat Buana yang dikenal Langlang Buana.

Jika kisah ini ditelusuri lebih lanjut, tentunya masing-masing putra Wretikandayun dalam versi ini memiliki sejarahnya yang mandiri. Tokoh-tokoh tersebut tidak asing didengar telinga masyarakat tradisional Sunda, dikisahkan secara turun temurun melalui cerita lisan atau cerita pantun. Demikian pula tentang Prabu Guru Aji Putih, didalam kisah tradisional masyarakat Sunda, terutama yang hidup di tatar Parahyangan sangat meyakini bahwa cikal bakal berdirinya Sumedang Larang tidak dapat dilepaskan dari kerajaan sebelumnya, yakni Tembong Agung yang didirikan Prabu Guru Aji Putih.

Menurut catatan Pemda Sumedang : “Berdasarkan catatan sejarah yang ada, sebelum menjadi Kabupaten Sumedang seperti sekarang ini, telah terjadi beberapa peristiwa penting diantaranya : (1) Pada mulanya kabupaten Sumedang adalah sebuah kerajaan bernama Kerajaan Tembong Agung dengan rajanya bernama Prabu Galuh Haji Aji Putih (Aji Purwa Sumedang) ; (2) Pada masa pemerintahan Prabu Tuntang Buana yang juga dikenal dengan sebutan Prabu Tajimalela, Kerajaan Tembong Agung berubah nama menjadi kerajaan Sumedanglarang”. (http://www.sumedang. go.id – Pemda Sumedang, 17 Mei 2010).

Didalam versi lain dijelaskan tentang masalah ini, bahwa : ”Kerajaan Sumedang Larang berasal dari pecahan kerajaan Sunda-Galuh yang beragama Hindu, yang didirikan oleh Prabu Aji Putih atas perintah Prabu Suryadewata sebelum Keraton Galuh dipindahkan ke Pajajaran, Bogor. Seiring dengan perubahan zaman dan kepemimpinan, nama Sumedang mengalami beberapa perubahan. Yang pertama yaitu Kerajaan Tembong Agung (Tembong artinya nampak dan Agung artinya luhur) dipimpin oleh Prabu Guru Aji Putih pada abad ke XII. Kemudian pada masa zaman Prabu Tajimalela, diganti menjadi Himbar Buana, yang berarti menerangi alam, Prabu Tajimalela pernah berkata “Insun medal; Insun madangan”. Artinya Aku dilahirkan; Aku menerangi. Kata Sumedang diambil dari kata Insun Madangan yang berubah pengucapannya menjadi Sun Madang yang selanjutnya menjadi Sumedang. Ada juga yang berpendapat berasal dari kata Insun Medal yang berubah pengucapannya menjadi Sumedang dan Larang berarti sesuatu yang tidak ada tandingnya.” (Sumedang Larang, wikipedia, 17 Maret 2010).

Sebutan untuk kata Sumedang Larang dapat juga diartikan sebagai “tanah luas yang jarang bandingnya” (Su=bagus, Medang = luas dan Larang = jarang bandingannya).

Kemudian versi lainnya, seperti buku rintisan penelusuran masa silam Sejarah Jawa Barat dan Sejarah Jawa Barat yang ditulis Yoseph Iskandar, memaparkan : Kerajaan Sumedang Larang didirikan oleh Praburesi Tajimalela, berkedudukan di gunung Tembong Agung, menurut Carita Parahyangan disebut Mandala Himbar Buana, sedangkan Tajimalela disebut Panji Rohmayang putera Demung Tabela Panji Ronajaya dari daerah Singapura.

Penulis tidak menemukan eksistensi dari Prabu Guru Aji Putih didalam buku rintisan penelusuran masa silam Sejarah Jawa Barat. Buku tersebut langsung menuliskan Praburesi Tajimalela sebagai pendiri Sumedanglarang. Sementara didalam versi lain, Prabu Guru Aji Putih dianggap pendiri dan penguasa Tembong Agung, yang merupakan cikal bakal dari Sumedang Larang.

Mungkin juga kesejarahan Sumedang pada masa lalu tidak sedemikian dikenal sebagai mana masyarakat mengenal sejarah Sunda dan Galuh, karena kedua kerajaan tersebut dianggap sebagai sentra kekuasaan dan budaya Urang Sunda, atau karena Sumedang Larang statusnya sama dengan Talaga, kerajaan daerah yang tumbuh secara mandiri namun berada dibawah Galuh.

Tentang gelar yang Prabu Guru Aji Putih sebagaimana yang dilansir oleh Pemda Sumedang, tentunya menarik untuk ditelusuri lebih jauh tentang siapa Prabu Guru Aji Putih tersebut, mengingat istilah – gelar lengkap yang diberikan adalah Prabu Galuh Haji Aji Putih (Aji Purwa Sumedang).

Sebutan Haji didepan Aji tidak pula disalahkan jika ditafsirkan bahwa Prabu Guru Aji Putih telah memeluk agama islam (Haji), bahkan disebut Aji Purwa Sumedang. Padahal secara resmi islam menjadi ageman penguasa Sumedang sejak tahun 1529 M, pasca Praburesi Tajimalela. Hal ini mengingatkan pada sebutan yang diberikan kepada Bratalegawa, salah seorang putra Sang Bunisora (Sunda – Galuh). Ia mendapat gelar Haji Purwa Galuh, karena dianggap sebagai Haji pertama dari Galuh.

Memang ada kaitannya gelar yang menggunakan Sumedang dengan para penguasa yang berasal dari luar Sumedang, seperti Mangkubumi Sumedang Larang, diberikan kepada Ki Gedeng Sindangkasih, putra dari Niskala Wastukencana penguasa Sunda Galuh, mengingat Sumedang berada di bawah Galuh. (Yoseph Iskandar). Kemudian ditemukan pula gelar Ki Gedeng Sumedang yang diberikan kepada Pangeran Santri (rintisan masa silam sejarah Jawa Barat). Namun kedua tokoh ini tidak ditemukan adanya data yang menyebutkan bahwa mereka pendiri dari Sumedang Larang.

Sebagai perbandingan masa, terlacak pula Praburesi Tajimalela diperkirakan memerintah pada tahun 1300 an (koropak 410), sedangkan Mangkubumi maupun Ki Gedeng Sumedang eksistensi nya disebut-sebut pada tahun 1500 an.

Pertanyaan kedua, apakah yang dimaksudkan Prabu Galuh Haji Aji Putih (Aji Purwa Sumedang) orangnya sama dengan Haji Purwa Galuh (Galuh), mengingat versi ini menambahkan nama Galuh, yakni Prabu Galuh Hadji Adji Putih. Sekalipun demikian, para pemerhati sejarah pada umumnya sepakat, pada masa Prabu Guru Aji Putih, Sumedang memang masih berada dibawah protektorat Galuh dan belum ada pengaruh islam didalam pemerintahannya. Pengaruh islam mulai merebak ketika Galuh telah dikalahkan di Talaga oleh Cirebon, masa Susuhunan Jati. Sedangkan penguasa Sumedang pertama yang beragama islam adalah Pangeran Santri suami dari Setyasih – Pucuk Umum Sumedang.

Dari masing-masing versi sejarah yang dikisahkan diatas tentu pula tidak terlalu salah jika ada dua penafsiran tentang pendiri dari Sumedang Larang, yakni Prabu Galuh Haji Aji Putih disatu pihak dan Prabu Tajimalela dipihak lain. Mungkin akan sama dengan ambiguitas dalam menetapkan hari jadi Cirebon, apakah sejak masa Pangeran Walangsungsang mendirikan daerah Cirebon Larang atau ketika Syarif Hidayat menyatakan Cirebon sebagai Kesultanan yang merdeka dan melepaskan diri dari Pajajaran. Kedua tokoh tersebut terwadahi melalui penetapan hari jadi yang berbeda antara pemerintahan kota dan kabupaten.

Terhadap penetapan pendiri Sumedang Larang hemat saya perlu juga ditarik garis yang tidak menyalahi kesejatian dari sejarahnya. Pertama, keberadaan Sumedang Larang tidak dapat dipisahkan dari pendahulunya yang telah dirintis oleh Prabu Guru Aji Putih di Tembong Agung, kemudian berganti nama menjadi Himbar Buana. Kedua, istilah Sumedang Larang tidak dapat dipisahkan dari kisah Tajimalela yang mengucapkan kalimat “Insun Medal, Insun Madang”, sehingga menjadi kata Sumedang. Tajimalela dikenal pula sebagai cikal bakal yang melahirkan spirit Kasumedangan. Dengan demikian, jika dilihat dari sejarah eksistensi Sumedang telah dirintis sejak jaman Prabu Guru Aji Putih, sedangkan sebutan kata Sumedang Larang berawal dari jaman Praburesi Tajimalela. Hatur punten bilih lepat jujutanana.

 

MASA PRA ISLAM

Praburesi Guru Aji Putih

Seorang resi keturunan Galuh datang untuk bermukim di pinggiran Cimanuk, daerah Cipaku, Kecamatan Darmaraja. Daerah tersebut telah ada sejak abad kedelapan, dirintis oleh Cakrabuana. Konon kabar resi itu bernama Prabu Guru Aji Putih ini.

Berdasarkan versi rakyat Prabu Guru Aji Putih adalah putra Ratu Komara keturunan Wretikandayun (Galuh). Prabu Guru Aji Putih menikah dengan Dewi Nawang Wulan (Ratna Inten), kemudian berputra ; sulung bernama Batara Kusuma atau Batara Tuntang Buana yang dikenal juga sebagai Prabu Tajimalela, kedua Sakawayana alias Aji Saka, ketiga Haris Darma dan yang terakhir Jagat Buana yang dikenal Langlang Buana.

Sama dengan kisah Sang Maharesi Rajadirajaguru dari Tarumanagara yang disusun didalam rintisan penelusuran masa silam sejarah Jawa Barat, lambat laun daerah tersebut menjadi daerah yang ramai. Sekalipun dengan struktur pemerintahan yang sederhana, untuk kemudian berdirilah Tembong Agung sebagai cikal bakal kerajaan tersebut di Kampung Muhara, Desa Leuwihideung, Kecamatan Darmaraja sekarang.

Prabu Guru Aji Putih disebut-sebut mulai eksis di daerah tersebut pada pertengahan abad kesembilan masehi. Namun jarak ini terlalu jauh jika dihubungkan dengan masa pemerintahan Sang Tajimalela versi buku rintisan penelusuran sejarah Jawa Barat. Mungkin juga tahun yang dimaksudkan adalah tahun Saka. Menurut buku rintisan penelusuran masa silam sejarah Jawa Barat (rpmsjb), sama halnya dengan yang dimuat dalam koropak 410, Sang Tajimalela sejaman dengan tokoh Ragamulya (1340 – 1350) yang berkuasa di Sunda Kawali, ia pun sejaman pula dengan Suradewata, Ayahanda Batara Gunung Bitung Majalengka. Mungkin alasan ini pula buku tersebut tidak menghubungkan eksistensi Prabu Guru Aji Putih dengan Tajimalela.

 

Praburesi Tajimalela

Konon kabar Praburesi Tajimalela naik tahta menggantikan ayahnya pada mangsa poek taun saka. Ia pun sangat menaruh perhatian pada bidang pertanian di sepanjang tepian sungai Cimanuk, peternakan dipusatkan di paniis Cieunteung dan pemeliharaan ikan di Pengerucuk (Situraja).

Prabu Resi Tajimalela dianggap sebagai tokoh berdirinya Kerajaan Sumedang Larang. Pada awal berdiri bernama Kerajaan Tembong Agung, ada juga yang menyebutkan Himbar Buana, dengan ibukota di Leuwihideung – Darmaraja. Konon kabar, istilah Sumedang berasal dari kata “Insun medal – insun madang”.

Sang Tajimalela mempunyai tiga putra, yaitu Prabu Lembu Agung, Prabu Gajah Agung, dan Sunan Geusan Ulun. Menurut Layang (buku rsmsj menyebutnya naskah) Darmaraja, Prabu Tajimalela memberi perintah kepada kedua putranya, yakni Prabu Lembu Agung dan Prabu Gajah Agung untuk menjadi raja dan yang lain menjadi patihnya. Tapi keduanya tidak bersedia menjadi raja. Oleh karena itu, Prabu Tajimalela memberi ujian kepada kedua putranya jika kalah harus menjadi raja.

Sang Tajimalela memerintahkan kedua putranya untuk pergi ke Gunung Nurmala. Keduanya diberi perintah harus menjaga sebilah pedang dan kelapa muda. Kisah selanjutnya diceritakan, Prabu Gajah Agung karena sangat kehausan beliau membelah dan meminum air kelapa muda tersebut sehingga beliau dinyatakan kalah dan harus menjadi raja Kerajaan Sumedang Larang, tetapi wilayah dan ibu kotanya harus mencari sendiri. Sedangkan Prabu Lembu Agung atau Prabu Lembu Peteng Aji tetap di Leuwi-hideung, menjadi raja sementara. Setelah itu Kerajaan Sumedang Larang diserahkan kepada Prabu Gajah Agung dan Prabu Lembu Agung menjadi resi.

 

Penerus Taji Malela

Prabu Gajah Agung dikenal pula dengan sebutan Atmabrata. Setelah menjadi raja maka kerajaan dipindahkan ke Ciguling. Kemudian setelah wafat Ia dimakamkan di Cicanting Kecamatan Darmaraja.

Kisah Prabu Gajah Agung ketika mendapatkan tahtanya, sebagai mana didalam versi naskah Darmaraja, menurut buku rintisan masa silam sejarah Jawa Barat, mirip dengan kisah awal kerajaan Mataram menurut versi Babad Tanah Jawi. Untuk kemudian dari keturunan Ki Ageng Pamanahan ketiban pulung menjadi raja-raja di Mataram Islam.

Prabu Gajah Agung digantikan oleh putranya yang bernama Prabu Wirajaya, dikenal pula dengan nama Sunan Pagulingan, ia menjalankan pemerintahannya dari Cipameungpeuk.

Perpindahan ibu kota kerajaan ini bukan yang pertama kalinya, sejak masa Prabu Guru Aji Putih dan para penggantinya telah terjadi beberapa perpindahan ibu kota. Sama dengan ciri dari kerajaan lain di tatar Sunda, yakni Tarumanagara dan Sunda. Jadi wajar jika peninggalan raja-raja di tatar Sunda sulit ditemukan. Karena tidak memiliki tempat tinggal yang permanen.

Sunan Pagulingan mempunyai dua orang anak, pertama Ratu Istri Rajamantri yang menikah dengan Sri Baduga Maharaja dan pindah mengikutinya ke Pakuan Pajajaran. Kedua, bernama Mertalaya yang melanjutkan menjadi raja di Kerajaan Sumedang Larang. Karena ia berkedudukan di Ciguling maka ia pun diberi gelar Sunan Guling.

Tentang pernikahan Rajamantri dengan Sri Baduga tentunya membuahkan beberapa cerita rakyat, dikelak kemudian hari banyak yang menafsirkan bahwa penguasa Sumedang Larang adalah keturunan dari Sri Baduga Maharaja (Silihwangi).

Pasca meninggalnya Sunan Guling tahta Sumedang kelima dilanjutkan oleh putra tunggalnya, yaitu Tritakusuma atau Sunan Patuakan. Kemudian ia digantikan oleh Ratu Sintawati, putrinya, dikenal pula dengan sebutan Nyi Mas Ratu Patuakan. Ia menikah dengan Sunan Corenda, raja Talaga, putra dari Ratu Simbar Kencana dengan Kusumalaya putra Dewa Niskala. Sintawati menjadi cucu menantu penguasa Galuh.

Sunan Corenda mempunyai dua orang permaisuri, yakni Mayangsari, putri Langlang Buana (Kuningan), sedangkan dari Sintawati (Sumedang) memperoleh putri bernama Ratu Wulansari alias Ratu Parung, ia berjodoh dengan Rangga Mantri alias Sunan Parung Gangsa (Pucuk Umum Telaga) putera Munding Surya Ageung, putra Sri Baduga. Sunan Gangsa kemudian ditaklukan Cirebon pada tahun 1530 M dan masuk islam. Putranya Sunan Wanaperih, menggantikannya sebagai bupati Talaga kedua bawahan Cirebon.

Sunan Corenda dari Sintawati mempunyai puteri bernama Setyasih, kemudian setelah menjadi penguasa Sumedang ia diberi gelar Pucuk Umum. Pada masa pemerintahannya (1529 M) islam sudah mulai berkembang di Sumedang, disebarkan oleh Maulana Muhamad alias Palakaran.

 

Masuknya pengaruh islam

Ratu Pucuk Umun menikah dengan Pangeran Kusumahdinata, putra Pangeran Pamalekaran (Dipati Teterung), putra Aria Damar Sultan Palembang keturunan Majapahit. Ibunya Ratu Martasari/Nyi Mas Ranggawulung, keturunan Sunan Gunung Jati dari Cirebon. Pangeran Kusumahdinata lebih dikenal dengan julukan Pangeran Santri karena asalnya dari pesantren dan perilakunya sangat alim. Sejak itulah mulai penyebaran agama Islam di wilayah Sumedang Larang.

 

MASA ISLAM

Penyebaran islam di Sumedang

Pasca wafatnya Tirtakusuma atau Sunan Patuakan raja Sumedang Larang kelima, ia digantikan oleh Ratu Sintawati, putrinya yang bergelar Nyi Mas Patuakan. Pada masa pemerintahannya, atau kira kira tahun 1529 M agama islam mulai menyebar di Sumedang. Penyebaran islam di Sumedang dilakukan oleh Maulana Muhamad (Pangeran Palakaran).

Nyi Mas Patuakan kemudian menikah dengan Sunan Corenda, raja daerah Talaga, putra dari pasangan Ratu Simbar Kancana dan Kusumalaya (putra Dewa Niskala). Dari pernikahannya ini melahirkan seorang putri yang diberi nama Satyasih.

Pada saat di nobatkan sebagai penguasa Sumedang, Satyasih diberi gelar Ratu Pucuk Umum. Untuk kemudian menikah dengan Pangeran Santri, putra dari Maulana Muhammad (Pangeran Palakaran) dan Putri Sindangkasih (Majalengka).

 

Pernikahan

Sebagaimana diatas, Maulana Muhammad (Pangeran Palakaran) disebut-sebut sebagai penyebar islam pertama di wilayah Sumedang Larang. Ia putera Maulana Abdurahman alias Pangeran Panjunan. Jika ditelusuri keatas, ia cucu Syekh Datuk Kahfi dan Ki Ageng Japura. 

Pada tahun 1504 M Pangeran Palakaran menikah dengan seorang putri Sindangkasih. Dari pernikahannya maka pada tahun 1505 M melahirkan seorang putra yang diberi nama Ki Gedeng Sumedang (Pangeran Santri).

Tentang putri Sindangkasih atau ibunda Pangeran Santri memang membuahkan beberapa kesimpulan. Apakah Pangeran Santri tersebut putra dari putri Sindangkasih (Ambetkasih) yang kemudian tilem, karena tidak mau memeluk agama islam, atau putri dari kerabat putri Sindangkasih ?. Mengingat penting untuk mencari benang merah dengan legalitas Pangeran Santri sebagai pewaris Sindangkasih.

Berdasarkan dari rintisan penelusuran masa silam sejarah Jawa Barat (rpmssjb) yang dimaksud putri Sindangkasih adalah yang berdomisili di Majalengka – dekat Kali Cideres, daerah ini pernah menjadi ibukota Majalengka. Penegasan ini perlu dilakukan karena sering kali kasaweur dengan kisah putri Sindangkasih dari daerah Beber Cirebon, yang dikenal dengan nama Ambetkasih, istri Sri Baduga Maharaja.

Sindangkasih di Majalengka yang dimaksud dikenal pula dengan sebutan Rambutkasih – saudara dari Munding Surya Ageung, keduanya pala putra dari Sri Baduga dan Ambetkasih. Penamaan Putri Sindangkasih bagi Ambetkasih dimungkin terjadi karena ia cucu dari Ki Gedeng Sindangkasih.

Kedua menurut riwayat Majalengka, Rambutkasih tidak mau menganut agama islam. Ia menghilang (tilem) tidak kelihatan jasadnya lagi. Ketika Pangeran Palakaran bersama istrinya (Nyi Armilah) menemuinya di Sindangkasih, ia tidak berhasil menemukannya. karena itulah Pangeran Palakaran menganjurkan istrinya (Nyi Armilah) menjadi penguasa di Sindangkasih.

Dari kisah tersebut memang ada sedikit ambigu. Karena ada versi lain yang mengatakan bahwa putri Sindangkasih dimaksud adalah Rambutkasih istri dari Pangeran Palakaran – ibunda Pangeran Santri. Namun versi lainnya memaparkan bahwa Nyi Armila (ibunda Pangeran Santri) memang putri Sindangkasih namun bukan Rambutkasih, melainkan kerabat atau putri dari Rambutkasih. Hal ini penting untuk diuraikan, kalau tidak maka dapat dikatagorikan adanya ‘coup’ terhadap kekuasaan yang syah di Sindangkasih.

Dari peristiwa itu rpmssjb menarik kesimpulan, bahwa : ”tokoh Nyi Armilah itulah ibunda Pangeran Santri, dan seandainya ia bukan putri Rambutkasih tentulah ia kerabat dekatnya yang menempati posisi sebagai ahli waris utama sehingga hak waris itu dapat diturunkan kepada puteranya, Pangeran Santri”.

 

Pangeran Santri

Pangeran Santri menikah dengan Ratu Pucuk Umum, kemudian ia menggantikan Ratu Pucuk Umum sebagai penguasa Sumedang.

Peristiwa diatas memiliki kemiripan dengan Kisah Tarusbawa, raja Sunda pertama (penerus Tarumanagara) yang menikah dengan Dewi Manasih putri Linggawarman raja Tarumanagara kedua belas, kemudian Tarusbawa bertahta. Selanjutnya kerajaan Tarumanagara lebih dikenal dengan sebutan kerajaan Sunda. Mungkin karena Tarusbawa memindahkan ibukotanya kedaerah Sunda, tempat kelahirannya. Konon kabar daerah ini pernah dijadikan ibukota Tarumanagara ketika masa Pemerintahan Purnawarman. Peristiwa ini menginspirasi Wretikandayun untuk menyatakan Galuh memisahkan diri dari Sunda.

Menurut rpmssjb, Pangeran Santri dinobatkan sebagai penguasa Sumedang pada tanggal 13 bagian gelap bulan Asuji tahun 1452 Saka (+ 21 Oktober 1530 M), bergelar Pangeran Kusumadinata I. Pangeran Santri dikisahkan pula bahwa ia murid dari Sunan Gunung Jati, sehingga, penobatannya sebagai penguasa Sumedang dimungkinkan ada kaitannya dengan perluasan kekuasaan Cirebon di Tatar Sunda, paling tidak Sumedang dapat dijadikan penyangga daerah Cirebon dari Pajajaran yang pada saat itu sedang mengalami ketegangan.

Kemungkinan ini tentunya akan lebih jelas jika menyitir pendapat buku rpmssjb selanjutnya, bahwa : “tiga bulan setelah penobatan Pangeran Santri, pada tanggal 12 bagian terang bulan Margasira tahun 1452 Saka, di keraton Pakungwati diadakan perjamuan “syukuran” untuk merayakan kemenangan Cirebon atas Galuh dan sekaligus pula merayakan penobatan Pangeran Santri. Hal itu menunjukan bahwa Sumedanglarang telah masuk kedalam linngkar pengaruh Cirebon. Pangeran Santri adalah murid Susuhunan Jati. Karena itulah posisi Sumedang lebih merupakan “satelit’ Cirebon”.

Pangeran Santri adalah penguasa Sumedang pertama yang menganut agama Islam. Diperkirakan berkedudukan di Kutamaya Padasuka. Pada waktu itu daerah tersebut dijadikan sebagai Ibukota Sumedang Larang yang baru. Di Musium Geusan Ulun dijelaskan, bahwa memang telah ditemukan situs di Kutamaya, berupa batu bekas fondasi ‘tajug’ keraton Kutamaya.

Dari pernikahannya dengan Pucuk Umum, maka pada tahun 1558 M) lahir seorang putra, yang diberi nama Pangeran Angkawijaya. Dikelak kemudian hari ia bergelar Prabu Geusan Ulun. Namun suatu hal yang patut diteliti pula, bahwa Angkawijaya bukanlah satu-satu putra, karena didalam kisah lainnya masih ada putra-putra Pangeran Santri dan Pucuk Umum, yakni (1) Pangeran Angkawijaya (Prabu Geusan Ulun) ; (2) Kiyai Rangga Haji ; (3) Kiyai Demang Watang di Walakung ; (4) Santowaan Wirakusumah (Pagaden dan Pamanukan, Subang) ; (5) Santowaan Cikeruh ; (6) Santowaan Awiluar.

Pada masa pemerintahan Pangeran Santri memang hubungan kerajaan islam di Jawa Barat (Banten dan Cirebon) sedang berada dipuncak ketegangan dengan Pajajaran. Namun ketika Pajajaran runtuh (diperkirakan 8 Mei 1579 M) ia sehari-hari sudah tidak lagi memegang kendali Sumedang Larang sebagaimana layaknya kepala pemerintahan, karena usi lanjut.

Patut diperhitungkan, ketika Pangeran Santri sudah tidak lagi menjalankan fungsinya sebagai penguasa Sumedang, apakah terjadi kekosongan kekuasaan atau telah ada penguasa panyelang, atau Geusan Ulun sudah menduduki tahta ?.

Dalam hal ini ada dua versi. Pertama menyatakan, Geusan Ulun dilantik sebelum wafatnya Pangeran Santri. Adapun pasca wafatnya Pangeran Santri ia diistrenan sebagai raja Sumedang Larang penerus syah tahta Pajajaran. Didalam peristiwa ini pula Kandage Lante diserahkan oleh Jayaperkosa. Kedua Geusan Ulun dilantik 13 bulan setelah wafatnya Pangeran Santri, mengingat umurnya masih masih sangat muda. Pelantikan ini sekaligus dikukuhkan sebagai penerus trah Pajajaran, dengan menerima Kandage Lante.

Pangeran Santri wafat pada bulan Asuji 1501 Saka atau diperkirakan bertepatan dengan tanggal 2 Oktober 1579, Ia di makamkan di Dayeuh Luhur, sedangkan Ratu Pucuk Umun dimakamkan di Gunung Ciung Pasarean Gede di Kota Sumedang.

Menurut rpmsjb, sebagai pengganti penguasa Sumedang Larang, 13 bulan kemudian, atau pada tanggal 10 bagian terang bulan Posya tahun 1502 Saka bertepatan dengan tanggal 18 Nopember 1580 M maka diangkatlah Pangeran Angkawijaya dengan gelar Pangeran Kusumadinata II, kemudian lebih dikenal dengan sebutan Prabu Geusan Ulun.

 

PEWARIS PAJAJARAN

Angkawijaya atau Pangeran Kusumahdinata II, lebih dikenal dengan sebutan Geusan Ulun di nobatkan pada tanggal 10 bagian terang bulan Posya tahun 1502 Saka, bertepatan dengan tanggal 18 November 1580. Ia menggantikan Pangeran Santri yang wafat pada tahun 1579 M. 

Lajimnya seorang raja, biasanya memiliki simbul-simbul tertentu dari tradisi dikerajaannya sehingga dengan penguasaan simbol tersebut maka seorang raja akan lengkap mendapat legitimasi, baik secara de facto maupun de jure.

Sama dengan peristiwa yang dialami Geusan Ulun, pengganti Pangeran Santri. Ia bukan sekedar penguasa Sumedang Larang melainkan juga “diistrenan” sebagai pewaris syah tahta Pajajaran. Masalah ini menjadi sangat menarik untuk dibahas, mengingat saat itu eksistensi Cirebon dan Banten masih ada, bahkan selain memiliki kekuatan riil juga masih trah raja Sunda. 

Ada dua simbol yang dapat melengkapi pengesahan pelantikan raja-raja di Pajajaran, yakni : Mahkota raja dan atrbutnya (kalung bersusun dua dan tiga, serta perhiasan lainnya seperti benten, siger, tampekan, dan kilat bahu) serta batu palangka, tempat dilantiknya raja-raja Pajajaran. Memang yang digunakan Angkawijaya pada saat pelantikannya adalah seperangkat Mahkota dan pakaian raja, sedangkan batu palangka telah diboyong Panembahan Yusuf ke Surasowan.

Didalam Pustaka Kertabhumi ½ dikisahkan :

 “Geusan Ulun nyakrawati mandala ning Pajajaran kang wus pralaya, ya ta sirna, ing bhumi Parahyangan. Ikang kedatwan ratu Sumedang heneng Kutamaya ri Sumedangmandala” (Geusan Ulun memerintah wilayah Pajajaran yang telah runtuh, yaitu sirna, di bumi Parahyangan. Keraton raja Sumedang ini terletak di Kutamaya dalam daerah Sumedang).

Kemudian ditegaskan pula, bahwa: “Rakyan Samanteng Parahyangan mangastungkara ring sirna Pangeran Ghesan Ulun” (Para penguasa lain di Parahyangan merestui Pangeran Geusan Ulun).

Simbol raja Pajajaran.

Pasca penyerangan Banten ke Pakuan dan Pakuan sudah tidak berfungsi sebagai ibukota. Sebagian penduduk telah mengungsi ke wilayah pantai selatan, membuat pemukiman baru didaerah Cisolok dan Bayah (mungkin juga cerita komunitas Abah Anom didaerah Ciptarasa mulai dari sini), sebagian lagi mengungsi ke timur, diantaranya terdapat pembesar kerajaan, seperti Senapati Jayaprakosa atau Sanghyang Hawu, Batara Dipati Wiradijaya atau Embah Nangganan, Sanghyang Kondanghapa, dan Batara Pancar Buana atau Embah Terong Peot.

 

Mahkota Raja Pajajaran

Ketika meloloskan diri dari Pakuan, Jayaperkosa membawa (menyelamatkan) Mahkota dan atribut raja Pajajaran ke Sumedang Larang, yang menjadi simbol raja Pajajaran. Atribut sebagai simbol yang perlu dimiliki raja-raja Pajajaran. Selain itu biasanya raja-raja Pajajaran diistrenan diatas batu Gilang batu gilang atau palangka batu sriman sriwacana.

Berakhirlah jaman Pajajaran (1482 – 1579), ditandai pula dengan diboyongnya Palangkan Sriman Sriwacana (Tempat duduk tempat penobatan tahta) dari Pakuan ke Surasowan di Banten oleh pasukan Maulana Yusuf. Batu berukuran 200 x 160 x 20 cm itu di boyong ke Banten karena tradisi politik waktu itu “mengharuskan” demikian. Pertama, dengan dirampasnya Palangka tersebut, di Pakuan tidak mungkin lagi dinobatkan raja baru. Kedua, dengan memiliki Palangka itu, Maulana Yusuf merupakan penerus kekuasaan Pajajaran yang “sah” karena buyut perempuannya adalah puteri Sri Baduga Maharaja.

Tentang sakralitas batu tersebut diceritakan pula dalam Carita Parahiyangan di beritakan sebagai berikut :

• Sang Susuktunggal inyana nu nyieuna palangka

• Sriman Sriwacana Sri Baduga Maharajadiraja

• Ratu Haji di Pakwan Pajajaran nu mikadatwan Sri Bima

• Punta Narayana Madura Suradipati,

• inyana Pakwan Sanghiyang Sri Ratu Dewata

(Sang Susuktunggal ialah yang membuat tahta Sriman Sriwacana untuk Sri Baduga Maharaja ratu penguasa di Pakuan Pajajaran yang bersemayam di keraton Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati yaitu istana Sanghiyang Sri Ratu Dewata).

Batu Pangcalikan bisa ditemukan, misalnya di makam kuno dekat Situ Sangiang di Desa Cibalanarik, Kecamatan Sukaraja, Tasikmalaya dan di Karang Kamulyan bekas pusat Kerajaan Galuh di Ciamis. Sementara Batu Ranjang dengan kaki berukir dapat ditemukan di Desa Batu Ranjang, Kecamatan Cimanuk, Pandeglang (pada petakan sawah yang terjepit pohon).

Kata Palangka secara umum berarti tempat duduk (pangcalikan). Bagi raja berarti Tahta. Dalam hal ini adalah Tahta Nobat yaitu tempat duduk khusus yang hanya digunakan pada upacara penobatan. Di atas Palangka itulah ia diberkati (diwastu) oleh pendeta tertinggi. Tempatnya berada di Kabuyutan Kerajaan, tidak di dalam istana. Sesuai dengan tradisi, tahta itu terbuat dari batu dan digosok halus mengkilap. Batu Tahta seperti ini oleh penduduk biasanya disebut Batu Pangcalikan atau Batu Ranjang (bila kebetulan dilengkapi dengan kaki seperti balai-balai biasa).

Palangka Sriman Sriwacana sendiri saat ini bisa ditemukan di depan bekas Keraton Surasowan di Banten. Karena mengkilap, orang Banten menyebutnya Watu Gigilang. Kata Gigilang berarti mengkilap atau berseri, sama artinya dengan kata Sriman.

Kehancuran Pakuan berdasarkan versi Banten dikarenakan ada pengkhianatan dari “orang dalam yang sakit hati”. Konon terkait dengan masalah jabatan. Saat itu ia bertugas menjaga pintu gerbang dan membukanya dari dalam untuk mempersiapkan pasukan Banten memporakporandakan Pakuan. Benteng Pakuan akhirnya dapat ditaklukan. Penduduk Pakuan yang dengan susah payah membangun kembali kehidupannya pasca penyerangan kedua kembali dilanda bencana maut. Mereka dibinasakan tanpa ampun. keraton Sri Bima-Punta-Narayana-Madura-Suradipati yang dijadikan simbol Pajajaran dibumi hanguskan.

Sebagian penduduk Pakuan yang ada pertalian darah dengan keluarga keraton, ikut mengungsi dengan satu-satunya raja yang bersedia meneruskan tahta Pajajaran, yaitu Sang Ragamulya Suryakancana, putra Prabu Nilakendra. Ia mengungsi ke wilayah barat laut, tepatnya di lereng Gunung Pulasari Pandeglang, Kampung Kadu Hejo, Kecamatan Menes, Kabupaten Pandeglang.

Menurut legenda “Kadu Hejo”, di daerah Pulasari (tempat situs Purbakala) terdapat peninggalan seorang raja tanpa membawa mahkota. Ia kemudian memerintah sebagai raja pendeta, tetapi akhirnya dihancurkan oleh Pasukan Banten yang menyerang kerajaan itu.

Ketiadaan pakaian dan perangkat raja dimaksud dapat pula dikaitkan dengan cerita lain. Dalam kisahnya disebutkan bahwa mahkota dan pakain kerajaan Pajajaran disimpan di musium Sumedang (Musium Geusan Ulun). Menurut riwayat mahkota tersebut dibawa oleh Jaya Perkosa dari Pakuan dan adik-adiknya, yakni Batara Dipati Wiradijaya atau Embah Nangganan, Sanghyang Kondanghapa, dan Batara Pancar Buana atau Embah Terong Peot, kemudian diserahkan untuk digunakan oleh Geusan Ulun pada saat pelantikannya. Dengan penggunaan perangkat tersebut maka Geusan Ulun dianggap syah sebagai pewaris tahta Pajajaran.

Pasca penghancuran Pakuan kemudian Banten mengarahkan serangannya ke Pulasari, Prabu Ragamulya Suryakancana bersama pengikutnya yang setia berupaya melawan sekuat tenaga. Namun pada akhirnya Ragamulya Suryakancana bersama pengikutnya gugur di Pulasari.

Menurut Wangsakerta dalam Pustaka Rajyarajya Bhumi Nusantara parwa III sarga I halaman 219. : Pajajaran sirna ing bhumi ing ekadaci cuklapaksa Wesakhamasa saharsa limangatus punjul siki ikang cakakala. (Pajajaran lenyap dari muka bumi tanggal 11 bagian terang bulan Wesaka tahun 1501 Saka” bertepatan dengan tanggal 11 Rabiul’awal 987 Hijriyah, atau tanggal 8 Mei 1579 M).

 

Geusan Ulun Penerus tahta

Prabu Geusan Ulun (1580-1608 M) dinobatkan untuk menggantikan kekuasaan ayahnya, Pangeran Santri. Ia menetapkan Kutamaya sebagai ibukota kerajaan Sumedang Larang, yang letaknya di bagian Barat kota. Wilayah kekuasaannya meliputi Kuningan, Bandung, Garut, Tasik, Sukabumi (Priangan) kecuali Galuh (Ciamis).

Luas daerah Sumedang Larang pada masa Geusan Ulun dapat diteliti dari surat Rangga Gempol 3 yang ditujukan kepada Gubernur Jendral Willem Van Outhorn, yang dibuat pada tanggal 31 Januari 1691. Dalam surat tersebut ia meminta agar luas wilayah Sumedang dipulihkan sebagai jaman Geusan Ulun. Yang membawahi 44 penguasa daerah yang terdiri dari 26 Kandaga lante dan 18 umbul (menurut babad hanya 4 buah yang berstatus kanda lante). Pada waktu itu Rangga Gempol III hanya menguasai 11 dari Kandage Lante.

Jika dibentangkan dalam peta, daerah kekuasaan Geusan Ulun meliputi wilayah Kabupaten Sumedang, Garut, Tasikmalaya, dan Bandung. Sebelah timur berbatasan dengan garis Cimanuk – Cilutung dan Sindangkasih (Cideres – Cilutung), sebelah barat garis Citarum – Cisokan. Memang pada saat itu telah ada beberapa daerah yang masuk Cirebon, seperti Ciamis dan Majalengka yang direbut Cirebon dari Pajajaran pada tahun 1528 M, serta Talaga pada tahun 1530 M.

Sebagaimana diuraikan diatas, Geusan Ulun mendapat dukungan dari para Veteran Senapati Pajajaran, yakni Jayaperkosa dan adik-adiknya. Mereka merasa gagal mempertahankan pakuan dan berniat membangun kembali kejayaan Pajajaran melalui Sumedang Larang. Alasan ini pula yang menyebabkan mereka menyerakan perangkat dan simbol-simbol raja Pajajaran ke Sumedang Larang.

Didalam Pustaka Kertabhumi menjelaskan mengenai para senapati tersebut, bahwa :

 “Sira paniwi dening Pangeran Ghesan Ulun. Rikung sira rumaksa wadyabala, sinangguhan niti kaprabhun mwang salwirnya” (Mereka mengabdi kepada Prabu Geusan Ulun. Di sana mereka membina bala tentara, ditugasi mengatur pemerintahan dan lain-lainnya). Konon kabar para senapati tersebut masih keturunan Sang Bunisora (Sunda Galuh).

Suatu hal yang menarik tentang pelantikan Geusan Ulun, ketika itu ia masih berumur sangat muda (23 tahun), namun ia disepakati oleh 44 penguasa di tatar Parahyangan untuk menjadi penguasa Parahyangan. Padahal ayahnya sendiri, yakni Pangeran Santri tidak memiliki kekuasan yang luas demikian.

Tentunya ada suatu gerakan yang mampu meyakinkan para penguasa daerah untuk mengabdi kepada Geusan Ulun sebagai penerus tahta Pajajaran. Konon inilah salah satu keberhasilan Jayaperkosa dan saudara – saudaranya dalam upayanya mempersatukan puing-puing wilayah Pajajaran. Disini pula dapat dinilai tentang kebesaran pengaruh Jayaperkosa bersama adik-adiknya terhadap para penguasa di Parahyangan.

Menurut buku rpmsjb : “Dengan tokoh Jayaperkosa bersama adik-adiknya sebagai jaminan, para raja daerah Parahyangan dapat menerima dan merestui tokoh Geusan Ulun menjadi narendra baru pengganti penguasa Pajajaran yang telah sirna. Faktor Geusan Ulun dan faktor politik inilah yang mungkin yang telah “menunda” penobatan Geusan Ulun menjadi penguasa Sumedang Larang sampai setahun lebih sejak kemangkatan Pangeran Santri”.

Secara politis penobatan Geusan Ulun dapat diartikan sebagai suatu bentuk memproklamirkan kebebasan Sumedang dan mensejajarkan diri dengan Kerajaan Banten dan Cirebon. Selain itu menurut rpmsjb dapat pula disimpulkan adanya pernyataan, bahwa : “Sumedang menjadi ahli waris serta penerus yang sah dari kekuasaan Pajajaran di Bumi Parahyangan. Mahkota dan beberapa atribut kerajaan yang dibawa oleh Senapati Jayaperkosa dari Pakuan dengan sendirinya dijadikan bukti dan alat legalisasi sama halnya dengan pusaka kebesaran Majapahit menjadi ciri keabsahan Demak, Pajang, dan kemudian Mataram”.

 

Bahan Bacaan :

•           Sumedang Larang (wikipedia, 17 Maret 2010).

•           Sejarah singkat Kabupaten Sumedang (http://www.sumedang.go.id – Pemda Sumedang, 17 Mei 2010

•           Rintisan masa silam sejarah Jawa Barat – Proyek Penerbitan Sejarah Jawa Barat Pemeirntahan Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat, Tjetjep Permana, SH dkk. 1983 – 1984.

•           Bupati Di Priangan – dan Kajian Lainnya mengenai Budaya Sunda, Pusat Studi Sunda 2004.

•           Sejarah Jawa Barat, Yoseph Iskandar – Geger Sunten Bandung 2005.

 

Di Kutip dari : GUNUNG SEPUH

akibalangantrang.blogspot.com

Disarikan oleh : Agus Setiya Permana

Dari : berbagai sumber

 

 

Posted in Legend & Mitos | Tagged: | Leave a Comment »

kerajaan pajajaran 2

Posted by kangadhi7 on May 31, 2010


KERAJAAN PAJAJARAN BAGIAN 2

 

POLITIK DAGANG

 

Hubungan Portugis dengan Sunda

Pada tahun 1511 armada Demak sedang berada di Cirebon. Hal ini dianggap mengancam kedaulatan Pajajaran, terutama pasca Cirebon menyatakan diri sebagai negara merdeka. Oleh karena itu Sri Baduga mengutus putra mahkotanya, yakni Surawisesa untuk mengadakan hubungan dengan Portugis.

Nagara Kretabhumi I/2 dan sumber Portugis mengisahkan bahwa Surawisesa pernah diutus ayahnya menghubungi Alfonso d’Albuquerque (Laksamana Bungker) di Malaka. Ia pergi ke Malaka dua kali (1512 dan 1521).

Hasil kunjungan pertama bersifat penjajakan, pada tahun 1513 Portugis tiba diikuti oleh Tome Pires, sedangkan hasil kunjungan yang kedua adalah kedatangan utusan Portugis yang dipimpin oleh Hendrik de Leme (ipar Alfonso) ke Ibukota Pakuan. Dalam kunjungan tersebut disepakati persetujuan antara Pajajaran dan Portugis mengenai perdagangan dan keamanan.

Kisah ini dimuat didalam Pustaka Nusantara III/1. Naskah tersebut sebagai berikut :

•        Karena itu Sang Prabu Pakuan Pajajaran mengutus putera mahkota yaitu Ratu Sangian atau Prabu Surawisesa. Duta Kerajaan Pajajaran ini menuju ke negeri Malaka. Di sana sang duta menegadakan persahabatan dengan pemimpin (nerpati) orang Portugis yang bernama Laksamana Bungker.

•        Ia telah berjanji akan selalu membantu Kerajaan Pajajaran bila diserang oleh Pasukan Demak dan Cirebon serta ingin menjalin hubungan dagang. Setahun kemudian orang-orang Portugis berkunjung ke Pulau Jawa. Jumlah kapalnya 4 buah.

•        Mereka menginggahi semua pelabuhan yang ada di negeri Sunda, dan sang bule membuat surat kelak ketika sang putra mahkota telah menjadi ratu Sunda dengan gelar Prabu Surawisesa. [RPMSJB, Jilid ke-4, 16].

Surawisesa ketika itu masih menjadi Prabu Anom. Kelak dikemudian hari para penulis babad dan petutur pantun mengisahkan lalampahannya ini di dalam Lalakon Salaka (mungkin sakakala) Domas, dengan nama Munding Laya Dikusumah, sedangkan orang Purtugis digambarkannya sebagai Guriang.

Menurut Tome Pires orang Portugis yang mengikuti pelayaran penjajakan pada bulan Maret – Juni 1513, menyatakan, bahwa pada saat itu Portugis telah berhasil menguasai perairan Malaka.

Pada tahun 1522 Surawisesa naik tahta. Penobatannya dihadilir utusan Portugis di Malaka. Pada akhir kunjungan tersebut utusan Portugis dengan Pakuan menandatangani perjanjian dengan Pajajaran. Perjanjian tersebut menurut Soekanto (1956)  ditandatangai pada tanggal 21 Agustus 1522.

Ten Dam (1957) menganggap bahwa perjanjian itu dibuat secara lisan, akan tetapi sumber portugis yang dikutip oleh Hageman menyebutkan “Van deze overeenkomst werd een geschrift opgemaakt in dubbel, waarvan elke partij een behield” (Dari perjanjian ini dibuat tulisan rangkap dua, lalu masing-masing pihak memegang satu).

Dalam perjanjian itu disepakati bahwa Portugis akan mendirikan benteng di Banten dan Kalapa. Untuk itu tiap kapal Portugis yang datang akan diberi muatan lada yang harus ditukar dengan barang-barang keperluan yang diminta pihak Sunda. Kemudian pada saat benteng mulai dibangun, pihak Pajajaran akan menyerahkan 1000 karung lada tiap tahun, untuk ditukarkan dengan muatan sebanyak dua costumodos atau + 351 kuintal.

Perjanjian Pajajaran dengan Portugis sangat mencemaskan Sultan Trenggono, disebabkan  Selat Malaka merupakan pintu masuk perairan Nusantara sebelah utara yang sudah dikuasai Portugis yang berkedudukan di Malaka dan Pasai. Bila Selat Sunda yang menjadi pintu masuk perairan Nusantara di selatan juga dikuasai Portugis, maka jalur perdagangan laut yang menjadi urat nadi kehidupan ekonomi Demak terancam putus.

Trenggono mengirimkan armadanya di bawah pimpinan Senapati Demak, yakni Fadilah Khan. Pada saat itu Fadillah Khan telah memperistri Ratu Pembayun, janda Pangeran Jayakelana (Cirebon). Kemudian ia pun menikah dengan Ratu Ayu, janda Sabrang Lor (Sultan Demak II). Dengan demikian, Fadillah menjadi menantu Raden Patah sekaligus menantu Susuhunan Jati Cirebon. Dari segi kekerabatan, Fadillah masih terhitung keponakan Susuhunan Jati karena buyutnya, yakni Barkat Zainal Abidin adalah adik Nurul Amin, kakek Susuhunan Jati dari pihak ayah.

Pasukan Fadillah yang merupakan gabungan pasukan Demak-Cirebon berjumlah 1967 orang. Sasaran pertama adalah Banten, pintu masuk Selat Sunda. Kedatangan pasukan ini telah didahului dengan huru-hara di Banten yang ditimbulkan oleh Pangeran Hasanudin dan para pengikutnya. Pada masa itu Hasanudin sedang berusaha menjatuhkan tahta Ua nya, yakni Arya Surajaya.

Kedatangan pasukan Fadillah menyebabkan pasukan Banten terdesak. Bupati Banten (Sang Arya Surajaya) beserta keluarga dan pembesar keratonnya mengungsi ke Ibukota Pakuan. Hasanudin kemudian diangkat oleh ayahnya, Syarif Hidayat menjadi Bupati Banten pada tahun 1526.

Setahun kemudian Fadillah menyerang dan merebut pelabuhan Kalapa. Bupati Kalapa bersama keluarga dan para menteri kerajaan yang bertugas di pelabuhan gugur. Keunggulan pasukan Fadillah terletak pada penggunaan meriam yang justru tidak dimiliki oleh Laskar Pajajaran. Menurut Versi lainnya pada masa itu Kalapa tidak dijaga ketat oleh Legiun Sunda, mengingat jarak Pajajaran dengan Kalapa diperkirakan dua hari (Tome Pires : 1453). Menurut versi lainnya, jarak tempuh dari Ibukota Pakuan ke Kalapa lewat perairan memerlukan waktu dua minggu.

Bantuan Portugis datang terlambat karena Francisco de Sa yang ditugasi membangun benteng diangkat menjadi Gubernur Goa di India. Keberangkatan ke Sunda dipersiapkan dari Goa dengan membawa 6 buah kapal. Galiun yang dinaiki De Sa berisi peralatan untuk membangun benteng terpaksa ditinggalkan karena armada ini diterpa badai di Teluk Benggala. De Sa tiba di Malaka tahun 1527. Ekspedsi ke Sunda bertolak dari Malaka. Mula-mula menuju Banten, akan tetapi karena Banten sudah dikuasai Hasanudin, perjalanan dilanjutkan ke Pelabuhan Kalapa.

Pada tanggal 30 Juni 1527 di Muara Cisadane De Sa memancangkan padrao dan menjuluki Cisadane dengan nama Rio de Sa Jorge. Kemudian galiun De sa memisahkan diri. Hanya kapal brigantin yang dipimpin oleh Duarte Coelho langsung ke Pelabuhan Kalapa. Coelho terlambat mengetahui perubahan situasi, kapalnya menepi terlalu dekat ke pantai dan menjadi mangsa sergapan pasukan Fadillah.

Dengan kerusakan yang berat dan korban yang banyak, kapal Portugis ini berhasil meloloskan diri ke Pasai. Tahun 1529 Portugis menyiapkan 8 buah kapal untuk melakukan serangan balasan, akan tetapi karena peristiwa 1527 yang menimpa pasukan Coelho demikian menakutkan, maka tujuan armada lalu di ubah menuju Pedu.

 

Hubungan Portugis dengan Demak

Panembahan Hasanudin memiliki peranan yang cukup besar ketika ia masih berstatus Bupati bawahan Cirebon. Pada masa tersebut Sultan Trenggono mengutus adiknya, yakni Nyi Pembayun, isteri dari Fadillah Khan, meminta bantuan pasukan Banten agar bergabung dengan pasukan Fadillah Khan (Bupati Kalapa), untuk menaklukkan, Blambangan, Panarukan dan Pasuruan. Dalam penyerangan tersebut, Demak menyertakan Pasukan Portugis untuk membantunya.

Pada masa itu Demak tidak lagi memusuhi Portugis, bahkan Portugis diijinkan membuka kantor dagang di Banten Pasisir, serta menempatkan armada lautnya disana. Armada Portugis pada saat itu dipimpin oleh Tome Pinto (pelaku penanda tangan perjanjian Pajajaran – Portugis 21 Agustus 1522 M di Pakuan). Dari catatan Tom Pires inilah sejarah ini diketahui.

Mungkin cerita tersebut sangat menganggu mengingat peristiwa penandatanganan Perjanjian Pajajaran – Portugis di pahami sebagai kesalahan Pajajaran melakukan kolaborasi dengan pihak asing dalam mempertahankan kedaulatannya. Namun akan menjadi lain ketika mengetahui sejarah selanjutnya, terutama ketika Demak menyertakan Portugis untuk menaklukan Blambangan, Panarukan dan Pasuruan.

Begitu pula pandangan Demak. Awalnya dimasa pemerintahan Raden Patah sangat memusuhi Portugis. Namun ketika Banten, Sunda Kelapa dan Cirebon sudah berada dibawah pengaruhnya, demi kepentingan perdagangan maka Demak tidak mengharamkan untuk menjalin persahabatan dengan Portugis.

Ketika Banten Pasisir sudah berubah menjadi Kerajaan Surasowan, dunia perdagangannya semakin pesat. Islam telah mewarnai Surasowan menjadi Negara perniagaan. Menurut (Iskandar, 2005) dari catatan perjalanan dapat digambarkan sebagai berikut :

•      Dari Malaka berlayar lagi, Setelah 17 hari, tibalah aku dipelabuhan Banten tempat yang biasa dikunjungi orang Portugis untuk berdagang. Disana keperluan untuk muatan kapal kita, merica, ketika itu sedang sangat jarang didapat diseluruh negeri. Karena itu kami terpaksa harus tinggal disini selama musim hujan.

•     Telah berlangsung dua bulan lamanya kami dalam perdagangan yang menyenangkan disin, ketika raja Demak penguasa seluruh Pulau Jawa, Bali, Madura, Angenia mengirim utusan kepada Tagaril, raja Sunda, meminta bantuan dengan pesan bahwa dalam tempo setengah bulan harus datang ke Jepara tempat peralatan perang sedang disiapkan untuk menyerang Pasuruan.

•      Bala bantuan Banten ketika itu berkekuatan yang terdiri dari 30 calaluzes dan 10 jurupango diperlengkapi dengan keperluan perjalan dan peralatan perang. Dalam 40 kapal itu terdapat 7.000 orang diluar para pendayung. Sedangkan dari Portugis menyertakan 40 orang. Kesertaan Portugis tentunya setelah mendapat konsensi, bahwa Portugis akan dibantu di Banten, sehingga janji ini mendorong Portugis untuk membantu peperangan ini.

Dari catatan Tome Pinto, menyebutkan, bahwa Raja Sunda (Hasanudin) bertolak dari pelabuhan Banten pada tanggal 5 januari 1546 dan tiba pada tanggal 19 bulan itu dikota Jepara. Disana peralatan perang sedang disiapkan.

 

Terakhir

Dari catatan ini diketahui pula adanya kepentingan politik perdagangan antara Banten, Sunda Kelapa, Cirebon, Demak dengan Portugis. Walaupun 24 tahun yang lalu Portugis telah mengadakan perjanjian dagang dengan Pajajaran, namun kemudian berpaling dan mengikat persahabatan dengan negara-negara yang memiliki pelabuhan dagang. Pada waktu semua pelabuhan milik Pajajaran sudah direbut Demak. Hal ini ditegaskan dalam catatan Tome Pinto, bahwa raja Demak adalah penguasa seluruh Pulau Jawa, Bali, Madura, Angenia.

Suatu hal yang jarang dibahas dalam kondisi ini, yakni kesempatan Pajajaran untuk menguasai kembali daerahnya yang telah direbut Cirebon – Demak. Keengganan Pajajaran untuk menggunakan kesempatan ini dimungkinkan karena penguasa Pajajaran percaya terhadap Perjanjian Cirebon – Pajajaran untuk tidak saling mengganggu. Dimasa kemudian, perjanjian ini menjadi haraus dilanggar, terutama ketika Hasanudin dan Panembahan Yusup merasa pelu untuk menaklukan Pajajaran (***)

 

MANURAJASUNYA

Surawisesa memerintah selama 14 tahun lamanya. Pada tahun 1535 masehi, atau dua tahun setelah ia membuat prasasti sebagai Sakakala untuk ayahnya, Sri Baduga Maharaja. Surawisasa dipusarakan di Padaren.

Surawisesa begitu mencintai dan menghormati ayahnya, ia berupaya mempertahan keutuhan Sunda, namun tidak pernah ada kesempatan untuk tetap memajukannya kecuali terfokus mempertahankan dari gempuran Cirebon, Demak dan Banten. Upayanya ini ia dikenang dan dilantunkan dalam pantun serta dikisahkan dalam babad. Konon hanya Surawisesa dan Sri Baduga yang paling banyak dikisahkan petutur tradisional Sunda. Namun sejak Surawisesa purna tugas dan purna hirup, Pajajaran mengalam kemorosotan yang sulit dibangkitkan kembali. Mungkin masa tersebut adalah peralihan jaman, geus niti wancina nu mustari sangkan Pajajaran ganti ngaran, tileum heula terus ngaganti ngaran jadi Sunda anu anyar.

Surawisesa digantikan oleh Ratu Dewata, putranya yang bertahta di Pakuan pada tahun 1535 sampai tahun 1543. Ratu Dewata sangat berbeda dengan Surawisesa yang dikenal sebagai panglima perang yang perwira, perkasa dan pemberani. Ratu Dewata sangat alim dan taat kepada agama. Ia melakukan upacara Sunatan, adat khitan pra Islam yang memang telah biasa dilakukan di kalangan raja Sunda, ia pun melakukan tapa Pwah – Susu, suatu kebiasaan adat yang hanya makan buah-buahan dan minum susu dan berperilaku sebagai raja resi.

 

Pelanggaran Perjanjian

Pada saat Ratu Dewata bertahta perjanjian perdamaian Pajajaran dengan Cirebon masih dianggap berlaku. Ratu Dewata sangat yakin perdamaian ini akan ditaati para pihak, sehingga ia tidak mempunyai prasangka buruk akan adanya pelanggaran perjanjian yang dilakukan pihak lain. Disamping itu, Ratu Dewata lebih banyak memilih menekuni masalah keagamaan dan berpuasa dibandingkan mengurus kenegaraan.

Anggapan Ratu Dewata tentu berlainan dengan Hasanudin dari Banten, yang pada saat itu ikut menandatangani perjanjian perdamaian Pajajaran – Cirebon, Hasanudin melakukan penandatanganan perjanjian karena kepatuhannya kepada Syarif Hidayat, ayahnya. Hasanudin beranggapan bahwa perjanjian Cirebon dengan Pajajaran hanya menguntungkan Cirebon, samak sekali tidak menjamin kepentingan Banten, padahal wilayah kekuasaan Banten berbatasan langsung dengan Pajajaran.

Hasanudin secara diam-diam membentuk pasukan khusus tanpa identitas resmi yang mampu bergerak cepat. Kemampuan pasukan Banten dalam hal bergerak cepat ini telah dibuktikannya pada saat terjadi huru hara di keraton Surasowan yang memaksa bupati Banten melarikan diri ke Pajajaran, kemudian menjadikan Hasanudin sebagai bupati Banten dibawah vassal Cirebon. Pasukan ini oleh Belanda dinamakan rover karena dianggap sering mengganggu ketertiban, sedangkan penulis Carita Parahyangan menyebutnya “tambuh sangkane” (tidak dikenal asal-usulnya).

Ratu Dewata masih beruntung karena memiliki para perwira yang pernah mendampingi ayahnya dalam 15 kali pertempuran. Sebagai veteran perang, para perwira ini masih mampu menghadapi sergapan musuh. Disamping itu, ketangguhan benteng Pakuan peninggalan Sri Baduga menyebabkan serangan serangan Banten tidak mampu menembus Pakuan.

Didalam prasasti batu tulis dituliskan, bahwa Sri Baduga membuat benteng Pakuan yang kokoh. Hal yang sama disebutkan didalam naskah Pustaka Nagara Kretabhuni I/2 dengan istilah Amateguh Kadatwan (memperteguh kedatuan) sejalan dengan maksud “membuat parit” (memperteguh pertahanan) Pakuan, bukan saja karena kata Pakuan mempunyai arti pokok keraton atau kedatuan, melainkan kata amateguh menunjukkan bahwa kata kedatuan dalam hal ini kota raja. Jadi sama dengan Pakuan dalam arti ibukota.

Posisi Pakuan sangat strategis untuk pertahanan, karena berada pada permukaan yang tinggi atau Lemah Duwur – Lemah Luhur, Van Riebeeck menyebutnya “bovenvlakte”. Pada posisi ini pasukan pengawal keraton sangat leluasa untuk memantau sekelilingi luar istana, sehingga mempermudah untuk mengetahui manuver musuh.

Pasir Muara di Cibungbulang merupakan contoh bagaimana bukit rendah yang dikelilingi 3 batang sungai pernah dijadikan pemukiman lemah duwur sejak beberapa ratus tahun sebelum masehi. Lokasi Pakuan merupakan lahan Lemah Duwur yang satu sisinya terbuka menghadap Gunung Pangrango. Tebing Ciliwung, Cisadane dan Cipaku merupakan pelindung alamiah. Tipe Lemah Duwur biasanya dipilih masyarakat dengan latar belakang kebudayaan Huma (Ladang). Kota-kota seperti ini adalah Bogor, Sukabumi dan Cianjur, dibangun dengan konsep berdasarkan pengembangan Perkebunan.

Lainnya halnya dengan yang disebut dengan Garuda Ngupuk, biasanya digunakan masyarakat yang berlatar belakang Kebudayaan Sawah. Mereka menganggap bahwa lahan yang ideal untuk pusat pemerintahan adalah lahan yang datar, luas, dialiri sungai dan berlindung di balik pegunungan. Kota demikian seperti Garut, Bandung dan Tasikmalaya.

Pasukan Hasanudin setelah gagal merebut benteng kota, bergerak ke utara dan menghancurkan pusat-pusat keagamaan lemah larangan (Kabuyutan) di Sumedang, Ciranjang dan Jayagiri, Daerah tersebut pada masa Sri Baduga merupakan desa Kawikwan yang dilindungi oleh negara, mungkin juga Hasanudin menyerang ketiga wilayah ini bertujuan menghancur- kan ‘dangiang kerajaan’, atau untuk mengalihkan perhatian pasukan Sunda agar keluar menyerang di luar Benteng.

Penulis Carita Parahyangan menyebutkan adanya penyerangan dan pembunuhan para pandita, sebagai berikut . 

Hana pandita sakti diruksak, pandita di Sumedeng. Sang panadita di Ciranjang pinejahan tanpa dosa, katiban ku tapak kikir. / Sang pandita di Jayagiri Iinabuhaken ring sagara. / Hana sang pandita sakti hanteu dosana.

Ngarajaresi di jaman Susah

Sikap Ratu Dewata yang alim dan rajin bertapa, menurut norma kehidupan jaman itu tidak tepat karena raja harus “memerintah dengan baik”. Tapa-brata seperti yang dilakukannya itu hanya boleh dilakukan setelah turun tahta dan menempuh kehidupan Manurajasunya seperti yang telah dilakukan oleh Wasitu Kancana.

Kepribadian Ratu Dewata yang ngarajaresi di masa perang mungkin dianggap kurang tepat, bahkan ada yang berpendapat, bahwa hal tersebut dilakukan karena ia tidak mampu menghadapi kenyataan. Penulis carita parahyangan kemudian berkomentar pendek ‘Samangkana ta precinta’ (begitulah jaman susah).

Perilaku Ratu Dewata di sindir oleh penulis Carita Parahyangan. “Nya iyatnayatna sang Kawuri, haywa ta sira kabalik pupuasaan” (ya berhati-hatilah orang-orang yang kemudian, janganlah engkau kalah perang karena rajin puasa). Memang seolah-olah ada sifat yang ambigu dalam menyikapi perilaku Ratu Dewata dengan raja-raja sebelumnya yang menjadi raja resi, seperti Sang Bunisora yang diberinya gelar Satmata.

Menurut Kropak 630, tingkatan batin manusia dalam keagamaan adalah acara, adigama, gurugama, tuhagama, satmata, suraloka, dan nirawerah. Satmata adalah tingkatan kelima dan tahap tertinggi bagi seseorang yang masih ingin mencampuri urusan duniawi. Setelah mencapai tingkat keenam (suraloka), orang sudah sinis terhadap kehidupan umum. Pada tingkatan ketujuh (nirawerah) padamlah segala hasrat dan nafsu, seluruh hidupnya pasrah kepada Hiyang Batara Tunggal. Pada saat itu mungkin Ratu Dewata sudah mencapai tingkat diatas Satmata sehingga tidak menjalankan fungsinya sebagai raja Sunda. Padahal fungsinya sebagai raja tentu sangat berhubungan dengan masalah keduniaan.

Suatu hal yang kerap tidak terperhatikan oleh para penulis sejarah Sunda yakni mencari kondisi kekinian (semangat jaman) pada masa pemerintahan Ratu Dewata. Jika mencermati catatan Bujangga Manik yang diperkirakan menuliskan perjalanannya pada akhir tahun 1400 atau awal 1500 an. Dokumen tersebut saat ini disimpan di Perpustakaan Bodley, Oxford sejak tahun 1627, dapat ditarik kesimpulan bahwa pada masa itu memang semangat keagamaan sudah mewarnai kisah perjalanan hidup kerabat keraton, bahkan Bujangga Manik pun diperkirakan seorang rahib. Mungkin kondisi pada waktu yang membentuk Ratu Dewata untuk lebih menekuni masalah keagamaan dibandingkan masalah kenegaraan.

Ratu Dewata dikesankan oleh Penulis Carita Parahyangan, sebagai berikut :

Prebu Ratudé wata,

inya nu surup ka Sawah-tampian-dalem.

Lumaku ngarajaresi.

Tapa Pwah Susu.

Sumbé lé han niat tinja bresih suci wasah.

Disunat ka tukangna, jati Sunda teka.

Datang na bancana musuh ganal,

tambuh sangkané.

Prangrang di burwan ageung.

Pejah Tohaan Saréndét deung Tohaan Ratu Sanghiyang.

Hana pandita sakti diruksak,

pandita di Sumedeng.

Sang panadita di Ciranjang

pinejahan tanpa dosa,

katiban ku tapak kikir.

Sang pandita di Jayagiri

Iinabuhaken ring sagara.

Hana sang pandita sakti hanteu dosana.

Munding Rahiyang ngaraniya

linabuhaken ring sagara

tan keneng pati, hurip muwah,

moksa tanpa tinggal raga

teka ring duniya.

Sinaguhniya ngaraniya Hiyang Kalingan.

Nya iyatnajatna sang kawuri,

haywa ta sira kabalik pupuasaan.

Samangkana ta pr écinta.

Prebu Ratudé wata,

lawasniya ratu dalapan tahun,

kasalapan panteg hanca dina bwana.

Ratu Dewata Wafat pada tahun 1543, dipusarakan disawah tampian dalem. Kemudian digantikan oleh Ratu Sakti, putranya yang memiliki sifat yang berbeda dengan ayahnya. Masa pemerintahan Ratu Sakti sering juga disebutkan dengan istilah Masa Kaliyuga. (*)

 

MASA KALIYUGA

 20Raja Pajajaran keempat adalah Ratu Sakti menggantikan Ratu Dewata, ia berkuasa pada tahun 1543 sampai dengan 1551 masehi. Kemudian ia diturunkan dari tahta dan digantikan oleh Nilakendra, yang berkuasa dari tahun 1551 sampai dengan 1567 masehi.

Penulis Carita Parahyangan menggambarkan, bahwa masa kaliyuga tiba pada masa Nilakendra, karena suasana masyarakat sudah menampilkan kejahatan dan kemaksiatan. Namun jika diurut dari sebab-sebabnya, tentu tidak dapat dilepaskan dari kondisi akhir pemerintahan Ratu Sakti, sehingga kondisi pada masa Nilakendra hanya berbentuk kondisi lanjutan yang mengarah pada jaman pralaya [kehancuran]. Carita Parahyangan mengamanatkan, : “aja tinut de sang kawuri polah sang nata” [jangan ditiru oleh mereka yang kemudian kelakuan raja ini].

Adanya permasalahan intern Pajajaran sangat jarang diperhatikan masyarakat, mengingat masyarakat Sunda pada umumnya hanya melihat adanya gangguan yang datang dari luar, yakni Banten, Cirebon dan Demak.

Kedatangan masa pralaya sebenarnya dapat dicegah jika Ratu Sakti meninggalkan kesenangangan pribadi dan memperhatikan suatu tatatanan masyarakat yang merasa aman lahir dan bathin serta dijauhkan dari kesengsaraan (Hanteu ta yuga dopara kasiksa tikang wong sajagat, kreta ngaraniya. Hanteu nu ngayuga sanghara, kreta). Pada jaman pemerintahan Ratu Sakti, merupakan masa yang sangat strategis untuk mengembalikan wilayah-wilayah Sunda yang telah direbut Cirebon.

Pada masa tersebut di Banten dan Kalapa terjadi kekosongan pasukan, karena pasukan Banten, Cirebon dan Demak disibukan menaklukan Pasuruan dan Panarukan. Serbuan pasukan gabungan tersebut, yang sudah dibantu Portugis mengalami kegagalan, apalagi setelah Trenggono gugur ditikam pelayannya yang baru berusia 10 tahun, putra Bupati Surabaya. Pasca peristiwa itu Demak dilanda huru hara. Didalam huru hara di Demak, gugur pula Pangeran Pasarean, putra mahkota Cirebon.

Kemudian pada tahun yang sama, yakni tahun 1546 Kerajaan Islam Demak runtuh, kekuasaannya beralih ke Pajang, untuk selanjutnya dilanjutkan oleh Mataram. Kondisi inilah yang tidak dimanfaatkan Ratu Sakti.

 

Jaman Ratu Sakti

Didalam suatu teori politik yang termasuk pada katagori jaman (masa) berulang, biasanya muncul dari suatu kondisi yang serba longgar dan menuju kearah kondisi chaos. Dalam kondisi ini masyarakat yang serba longgar akan mengarahkan kedalam kondisi free ficht competition. Pada akhirnya yang kuatlah yang menang. Dari kondisi chaos akan lahir suatu pihak dan kelompok atau tokoh yang kuat. Pihak ini bertujuan melakukan stabilitas dan mengembalikan aturan-aturan agar on the track terhadap tujuannya. Namun jika pihak tersebut sudah sangat berkuasa dan beralih menjadi otoriter, maka masyarakat akan mendesak kembali agar dapat lebih bebas dan serba longgar.

Kondisi seperti itu memang muncul pada masa Ratu Dewata, karena Ratu Dewata sendiri sudah tidak terlalu menghiraukan urusan kenegaraan. Mungkin Ratu Sakti merasa perlu untuk menstabilkan kembali kondisi negara, dan dapat dibenarkan jika langkah-langkahnya disertai dengan adanya penghormatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan, serta menggunakan aturan-aturan dan etika yang berlaku.

Langkah yang dilakukan Ratu Sakti justru sebaliknya. Kesan masyarakat terhadap rajanya sangat jauh dari istilah bijaksana. Ratu Sakti lebih banyak menyelesai kan permasalahan dengan cara-cara yang represif, banyak rakyat yang dihukum mati hanya karena melakukan pelanggaran kecil. Harta benda rakyat dirampas untuk kepentingan keraton, ia dianggap tidak berbakti terhadap orang tua, dan menghinakan para pendeta, kondisi ini tentu tidak dapat mengkonsolidasikan negara menjadi suatu kekuatan, bahkan mendorong rakyat untuk melakukan perlawanan.

Sifat Ratu Sakti  sangat bertolak belakang dengan sifat Ratu Dewata yang serba alim, rajin berpuasa dan sering bertapa (bertarak). Memang sangat antagonis dari kondisi sebelumnya. Pelanggaran yang paling dianggap memancingkan reaksi rakyat, adalah mengawini estri larangan tikaluaran dan menikahi para selir ayahnya. Dengan demikian ia melanggaran dua katagori istri larangan dari tiga katagori yang dilarang.

Wanita terlarang (Istri larangan) untuk dinikahi di dalam tradisi Sunda masa lalu ada tiga macam. Hal ini sebagaimana yang diberitakan dari Carita Parahyangan dan Siksa Kandang Karesyan, yaitu : (1) gadis atau wanita yang telah dilamar dan lamarannya diterima, gadis atau wanita terlarang bagi pria lain untuk meminang dan mengganggu, (2) Wanita yang berasal dari Tanah Jawa, terlarang dikawin oleh pria Sunda dan larangan tersebut dilatar belakangi peristiwa Bubat, dan (3) ibu tiri yang tidak boleh dinikahi oleh pria yang ayahnya pernah menikahi wanita tersebut. (Ekadjati – 2005 : hal.196)

Kondusifitas yang tidak menguntungkan masyarakat Pajajaran tersebut masih bisa dihindarkan, dengan cara menurunkan Ratu Sakti dari tahtanya. Disisi lain Pajajaran masih diselamatkan dari serangan luar, baik serangan dari tambuh sangkane atau slagorde Banten, karena pada masa tersebut pasukan Hasanuddin serta Fadillah Khan sedang membantu Sultan Trenggono menyerbu Pasuruan dan Panarukan.

Penulis Carita Parahyangan dalam menanggapi perilaku Ratu Sakti, menuliskan, sebagai berikut : 

•        Disilihan ku Sang Ratu Saksi Sang Mangabatan ring Tasik, inya nu surup ka / Péngpéléngan. Lawasniya ratu dalapan tahun, kenana ratu twahna kabancana ku estri / larangan ti kaluaran deung kana ambutéré. Mati-mati wong tanpa dosa, ngarampas / tanpa prégé, tan bakti ring wong-atuha [44], asampé ring sang pandita. / Aja tinut d é sang kawuri, polah sang nata. / Mangkana Sang Prebu Ratu, carita inya.

Ratu Sakti dimungkinkan wafat dengan mengalami peristiwa kekerasan, karena jika melihat dari sifatnya, suatu hal yang mustahil jika mau mengundurkan diri sebagaimana yang dilakukan Dewa Niskala (Kawali). Ratu Sakti dimakamkan di Pengpelangan.

 

Prabu Nilakendra

Nilakendra atau Tohaan di Majaya naik tahta sebagai penguasa Pajajaran kelima. Pada masa ini penulis Carita parahyangan menganggap sudah tiba kaliyuga (jaman kali) yaitu jaman yang menampilkan kejahatan dan kemaksiatan. Setelah Kaliyuga datang Pralaya (kiamat, kehancuran). Pemerintah Nilakendra di jadikan pertanda bahwa tidak lama lagi Kerajaan Pajajaran akan hancur akibat keangkara murkaan penguasanya. (PMSJB, buku keempat, hal.29).

Pada masa itu situasi Pajajaran sudah tidak menentu, rasa frustasi sangat melanda segala lapisan masyarakat, baik kerabat keraton maupun petani. Penulis Carita Parahyangan memberitakan, : “Wong huma darpa mamangan, tan igar yan tan pepelakan” [Petani menjadi serakah akan makanan, tidak merasa senang bila tidak bertanam sesuatu]. Berita ini diartikan, bahwa kelaparan telah berjangkit di Pajajaran.

Prabu Nilakendra diberitakan pula, ia membuat Bendera keramat, memperindah keraton dengan membangun tangan berbalay – tanahnya diperkeras dengan batu – mengapit gerbang larangan. Yang mendirikan bangunan megah 17 baris, dilukis dengan emas yang menggambarkan bermacam-macam cerita.

•        Tohaan di Majaya alah prangrang, mangka tan nitih ring kadatwan. Nu ngibuda

•        Sanghiyang Panji, mahayu na kadatwan, dibalay manelah taman mihapitkeun dora

•        larangan. Nu migawe bale-bobot pituweJas jajar, tinulis pinarada warnana cacaritaan.

Penilaian para penulis terhadap Nilakendra yang dianggap negatif tersebut, yakni memperindah keraton ; membangun taman berbalay ; memperkeras tanah dengan batu ; mendirikan bangunan mungkin dapat dianggap mendua, karena terhadap Sri Baduga justru dinilai sebagai mahakarya, bahkan diabadikan di dalam prasasti Batutulis. Hemat saya, negatifitas terhadap penilaian ini bukan disebabkan ia membuat sesuatu sebagaimana diatas, namun karena dilakukan di dalam kondisi rakyat yang sedang dalam keadaan kesulitan hidup dan frustasi.

Menurut penulis Carita Parahyangan, : “Lawasnya ratu kampa kalayan pangan, tatan agama gyan kewaliya mamangan sadrasa nu surup ka sangkan beuanghar” [Karena ratu terlalu lama (sering) tergoda oleh makanan, tiada ilmu yang disenanginya kecuali perihal makanan lezat yang layak dengan tingkat kekayaan]. Didalam berita selanjutnya di sebutkan pula, : “Cai tiningkalan nidra wisaya ning baksa kilang”. [air yang memabukan menjadi penyedap makanan dan minuman].

Frustasi di lingkungan kerajaan lebih parah, timbul ketegangan yang mencekam dalam menghadapi kemungkinan serangan musuh yang sewaktu-waktu akan datang. Kondisi ini disikapi Nilakendra  dan para pembesarnya dengan cara memperdalam suatu aliran tertentu. Konon menurut RPMSJB, ajaran ini mengutamakan mantera-mantera yang terus menerus diucapkan sampai kadang-kadang orang yang bersangkutan merasa bebas dari keadaan di sekitarnya, bahkan untuk mempercepat keadaan tidak sadar didahului dengan pesta pora, minum minuman keras, padahal kondisi itu masih tetap tidak berubah. Perilaku ini tentunya sangat tidak sesuai dengan nilai-nilai ajaran tentang ‘makan sekedar enak dan minum tuak hanya sekedar pelepas dahaga’ [nyatu tamba ponyo, nginum twak tamba hanaang]. Itulah bunga Pralaya Pajajaran yang tinggal menunggu waktu kehancurannya.

Didalam carut marut dan tanpa bisa melakukan konsolidasi kekuatan dan pasukannya, pada ahirnya pasukan tambu sangkane [pasukan tanpa identias] dari Banten tiba di Pajajaran. Hanya beberapa saat akhirnya benteng Pakuan dapat dikuasainya.

Memang sulit mencari berita tentang penghancuran Pakuan yang  pertama oleh Banten, karena serangan tersebut dilakukan tanpa identitas. Hal ini disebabkan kepatuhan Hasanudin terhadap Syarif Hidayat, untuk menghormati perjanjian yang telah dibuat pada masa Surawisesa, namun Hasanudin merasa perjanjian tersebut hanya menguntungkan Cirebon, sedangkan Banten masih belum merasa aman karena berbatasan langsung dengan Pajajaran. Mungkin juga Hasanudin merasa khawatir adanya pembalasan dari Pajajaran, karena tahta Hasanudin didapatkan setelah ia melakukan kup terhadap ua dari ibunya sendiri, pada saat itu bupati Banten masih berada dibawah kekuasaan Pajajaran.

Peristiwa kekalahan Nilakendra terjadi ketika Syarif Hidayat masih hidup. Syarif Hidayat wafat pada tahun 1568 dan Fadillah wafat 2 tahun kemudian.

 

Nasib Benteng Pakuan

Berita tentang penjebolan benteng Pakuan diberitakan didalam sebaris kalimat Carita Parahyangan, yang mengabarkan “Tohaan di maja alah prangrang, maka tan nitih ring kadatwan” (Tohaan di maja kalah perang, maka ia tidak tinggal di keraton), tanpa menyebutkan kuburannya, karena dimungkinkan ia wafat diluar Pakuan, atau di pengungsian.

Sejak saat itu ibukota Pakuan telah ditinggalkan oleh raja dan dibiarkan nasibnya berada pada penduduk dan para prajurit yang ditinggalkan. Namun ternyata Pakuan sanggup bertahan 12 tahun lagi.

Pasca penyerangan Banten ke Pakuan maka Pakuan sudah tidak berfungsi sebagai ibukota. Sebagian penduduk telah mengungsi ke wilayah pantai selatan, membuat pemukiman baru didaerah Cisolok dan Bayah (mungkin juga cerita komunitas Abah Anom didaerah Ciptarasa mulai dari sini), sementara pengungsi kearah timur terdapat pembesar kerajaan, seperti Senapati Jayaprakosa atau Sanghyang Hawu, Batara Dipati Wiradijaya atau Embah Nangganan, Sanghyang Kondanghapa, dan Batara Pancar Buana atau Embah Terong Peot.

Ketika meloloskan diri dari Pakuan, Jayaperkosa membawa (menyelamatkan) Mahkota dan atribut raja Pajajaran (sanghjiyang pake) ke Sumedang Larang, yang menjadi simbol raja Pajajaran. Untuk kemudian diserahkan kepada Geusan Ulun. Adanya simbol-simbol kerajaan Pajajaran yang digunakan Geusan Ulun, maka raja Sumedang Larang itu dianggap sebagai pewaris syah tahta Sunda.

Sebagian para pengungsi turut bersama Ragamulya ke Pula Sari, Pandeglang. Ragamulya yang bergelar Prabu Surya Kencana, kia menjadi raja Pajajaran di pengungsian, dinobatkan tanpa Mahkota. Hal ini sesuai dengan legenda Kadu Hejo yang menyebutkan, bahwa benda purbakala itu peninggalan seorang raja yang datang ketempat itu tanpa mahkota. (***)

 

RAJA PAMUNGKAS

Raga Mulya (1567 – 1579) didalam sejarah Sunda dikenal sebagai raja Pajajaran yang terakhir. Penulis Carita Parahyangan memberikan mana Nusiya Mulya. Dalam naskah-naskah Wangsakerta ia disebut Raga Mulya alias Prabu Suryakancana. Raja ini tidak berkedudukan di Pakuan sebagaimana raja Sunda lainnya, tetapi di Pulasari, Pandeglang. Oleh karena itu, ia disebut Pucuk Umun Panembahan Pulasari.

 

Raja dipengungsian

Pasca penyerangan Banten pada masa Nilakendra, Pakuan sudah tidak berfungsi sebagai ibukota, bahkan telah ditinggalkan Nilakendra dan kerabat keraton yang mengungsi keberbagai wilayah. Pakuan kemudian diurus oleh para pengawal istana dan penduduk,  dan mampu bertahan sampai dua belas tahun, ketika itu Banten melakukan penyerangan untuk yang kedua kalinya dan memboyong baru Sriman tempat dinobatkannya raja Sunda.

Sebagian penduduk mengungsi ke wilayah pantai selatan, membuat pemukiman baru didaerah Cisolok dan Bayah (mungkin juga komunitas saat ini berada didaerah Ciptarasa dan Ciptagelar).

Tentang pelarian keluarga keraton kearah selatan, dikisahkan pada awal abad yang lalu oleh Aki Baju Rambeng, juru Pantun dari Bogor selatan, dalam judul Dadap Malang Sisi Cimandiri, mengetengahkan keteguhan seorang perwira Sunda, tokoh tersebut bernama Raden Rakeyan Kalang Sunda. Selain itu, muncul pula legenda tentang Uga Wangsit Siliwangi, yang diyakini di amanatkan Prabu Siliwangi didaerah ini, padahal Siliwangi, hidup dijaman Pajajaran masih jeneng dan Siliwangi masih mampu memerintah dengan tenang. 

Rombongan lainnya mengungsi menuju ke timur, diantaranya terdapat pembesar kerajaan, seperti Senapati Jayaprakosa atau Sanghyang Hawu, Batara Dipati Wiradijaya atau Embah Nangganan, Sanghyang Kondanghapa, dan Batara Pancar Buana atau Embah Terong Peot.

Ketika meloloskan diri dari Pakuan, Jayaperkosa memboyong Mahkota dan atribut raja Pajajaran (Sanghiyang Pake) ke Sumedang Larang, mungkin tertinggal ketika Nilakendra meloloskan diri dari Pakuan. Didalam tradisi raja-raja Pajajaran Sanghiyang pake dan batu gilang atau palangka batu sriman sriwacana dianggap penting untuk menunjukan legalitas seorang raja.

Sebagian penduduk Pakuan mengungsi kearah barat daya tepatnya di lereng Gunung Pulasari Pandeglang, Kampung Kadu Hejo, Kecamatan Menes, Kabupaten Pandeglang. Rombongan tersebut dipimpin oleh salah satu putra Nilakendra, yang bersedia meneruskan tahta Pajajaran, yaitu Sang Ragamulya Suryakancana. Menurut legenda Kadu Hejo, di daerah Pulasari (tempat situs Purbakala) terdapat peninggalan seorang raja tanpa membawa mahkota. Ia memerintah sebagai raja pendeta, tetapi akhirnya dihancurkan oleh Pasukan Banten yang menyerang kerajaan itu. [RPMSJB, Jilid keempat, hal.30]

Ketiadaan pakaian dan perangkat raja diatas dapat pula dikaitkan dengan cerita lain. Dalam kisahnya disebutkan bahwa mahkota dan pakain kerajaan tersebut diboyong oleh Jaya Perkosa dari Pakuan dan adik-adiknya, yakni Batara Dipati Wiradijaya atau Embah Nangganan, Sanghyang Kondanghapa, dan Batara Pancar Buana atau Embah Terong Peot, kemudian diserahkan untuk digunakan Geusan Ulun pada saat pelantikannya. Dengan penggunaan perangkat tersebut maka Geusan Ulun dianggap syah sebagai pewaris tahta Sunda.

 

Serangan Banten kedua

Pada tanggal 12 bagian terang bulan Badra tahun 1490 Saka, bertepatan dengan tanggal 19 September 1568 masehi Susuhunan Jati wafat. Pemerintahan Cirebon diwalikan kepada Fadilah Khan, kemudian dua tahun sesudahnya atau pada tahun 1570, Fadilah Khan wafat, tahta Cirebon selanjutnya dilanjutkan oleh Panembahan Ratu. Namun lebih banyak mengkonsentrasikan perhatiannya ke Pajang, karena termasuk salah satu murid sekaligus menantu dari Adiwijaya.

Di Banten pada tahun 1570 Panembahan Hasanudin juga wafat. Tahta Banten di lanjutkan oleh putranya, yakni Panembahan Yusuf. Ia sangat berperan dalam menentukan hubungan selanjutnya dengan masalah Pajajaran. Hal ini disebabkan pula para penandatangan perdamaian Cirebon dengan Pajajaran sudah wafat, oleh karenanya ia tidak merasa harus menghormati perjanjian tersebut.

Semula Panembahan Yusuf tertarik untuk menaklukan Palembang, namun ia merasa kurang puas karena Pakuan belum seluruhnya dapat dilumpuhkan. Padahal telah dikepung dan beberapa kali diserang, benteng Pakuan masih belum dapat diterobos. Pada masa itu Pakuan sudah ditinggalkan rajanya, namun masih ada penduduk bersama pasukan yang ditugaskan untuk mempertahan Pakuan.

Untuk melakukan penyerangan, Panembahan Yusuf memerlukan persiapan yang matang, antara lain mempersiapkan pasukan yang lengkap dan menebar para telik sandi untuk mengetahui kelemahan penjagaan benteng. Penyerangan akhirnya dilakukan pada tahun 1579 dengan menggabungkan dua pasukan besar, yakni Banten dan Cirebon.

Menurut Wangsakerta dalam Pustaka Rajyarajya Bhumi Nusantara parwa III sarga I halaman 219. : 

•        Pajajaran sirna ing bhumi ing ekadaci cuklapaksa Wesakhamasa saharsa limangatus punjul siki ikang cakakala. (Pajajaran lenyap dari muka bumi tanggal 11 bagian terang bulan Wesaka tahun 1501 Saka” bertepatan dengan tanggal 11 Rabiul’awal 987 Hijriyah, atau tanggal 8 Mei 1579 M).

Sejarah Banten memberitakan keberangkatan pasukan Banten ketika akan melakukan penyerangan ke Pakuan, dalam Pupuh Kinanti, :

•        Nalika kesah punika / ing sasih Muharam singgih / wimbaning sasih lapisan / dinten ahad tahun alif / punika sakalanya / bumi rusak rekeih iki ( Waktu keberangkatan itu / terjadi bulan Muharam / tepat pada awal bulan / hari Ahad tahun Alif /inilah tahun Sakanya / satu lima kosong satu). [RPMSJB, hal. 32]

Kejatuhan benteng pakuan diketahui dari naskah Banten. Naskah tersebut memberitakan, bahwa benteng kota Pakuan baru dapat dibobol setelah dibuka dari dalam oleh komandan kawal benteng Pakuan yang merasa sakit hati, karena tidak memperoleh kenaikan pangkat. Ia adalah saudara Ki Jongjo seorang kepercayaan Panembahan Yusuf.

Pada tengah malam buta, setelah pintu gerbang Pakuan dibukan dari dalam Ki Jongjo bersama pasukan khusus menyelinap ke dalam kota. Kisah itu mungkin benar atau hanya rekaan, namun cerita ini cukup menggambarkan, bahwa betapa kuatnya pertahanan Benteng Pakuan yang dibuat Sri Baduga, bahkan setelah ditinggalkan oleh rajanya selama 12 tahun, pasukan Banten dan Cirebon masih perlu menggunakan cara halus untuk menembusnya.

Nasib Pakuan beserta para penghuninya setelah dihancurkan oleh pasukan Banten dan Cirebon, tidak terkabarkan beritanya, termasuk dari naskah-naskah tua. Namun pasukan ekspedisi yang dipimpin oleh Sersan Scipio, pada tanggal 1 September 1687 menemukan sisa-sisa keraton tersebut, terutama tempat duduk yang ditinggikan (sitinggil) raja Pajajaran, masih dikerumuni dan dijaga serta dirawat oleh sejumlah besar harimau. Dari sinilah kemungkinan muncul mitos, bahwa prajurit Pajajaran berubah menjadi harimau.

Berakhirnya jaman Pajajaran (1482 – 1579), ditandai dengan diboyongnya Palangka Sriman Sriwacana dari Pakuan ke Surasowan di Banten oleh pasukan Maulana Yusuf.  Batu tersebut di boyong ke Banten karena tradisi politik mengharuskan demikian. Pertama, dengan dirampasnya Palangka tersebut, di Pakuan tidak mungkin lagi dinobatkan raja baru. Kedua, dengan memiliki Palangka itu, Maulana Yusuf merupakan penerus kekuasaan Pajajaran yang sah karena buyut perempuannya adalah puteri Sri Baduga Maharaja.

Tentang batu palangka dikisahkan di dalam Carita Parahiyangan, :

•           Sang Susuktunggal inyana nu nyieuna palangka Sriman Sriwacana Sri Baduga Maharajadiraja Ratu Haji d i Pakwan Pajajaran nu mikadatwan Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati, inyana Pakwan Sanghiyang Sri Ratu Dewata.

•           (Sang Susuktunggal ialah yang membuat tahta Sriman Sriwacana untuk Sri Baduga Maharaja ratu penguasa di Pakuan Pajajaran yang bersemayam di keraton Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati yaitu istana Sanghiyang Sri Ratu Dewata).        

Kata Palangka secara umum berarti tempat duduk (pangcalikan). Bagi raja berarti Tahta. Dalam hal ini adalah Tahta Nobat, yaitu tempat duduk khusus yang hanya digunakan pada upacara penobatan. Di atas Palangka yang berada di Kabuyutan itulah seorang calon raja diberkati (diwastu) oleh pendeta tertinggi. Sesuai dengan tradisi, tahta itu terbuat dari batu dan digosok sehingga halus dan mengkilap. Batu Tahta seperti ini oleh penduduk biasanya disebut Batu Pangcalikan atau Batu Ranjang, bila dilengkapi dengan kaki seperti balai-balai biasa. 

Palangka Sriman Sriwacana sendiri saat ini bisa ditemukan di depan bekas Keraton Surasowan Banten. Karena bentuknya yang mengkilap, orang Banten menyebutnya Watu Gigilang, yang berarti Batu yang mengkilap atau berseri, sama artinya dengan kata Sriman.

 

Berakhir di Pulasari

Pasca penghancuran Pakuan kemudian Panembahan Yusuf mengarahkan serangannya ke Pulasari. Prabu Ragamulya Suryakancana bersama pengikutnya yang setia berupaya melawan sekuat tenaga. Namun pada akhirnya Ragamulya Suryakancana bersama pengikut nya gugur di Pulasari. (***)

 

MASA PRALAYA

•           Disilihan ku Nusiya Mulia. Lawasniya ratu sadewidasa, tembey datang na prebeda. / Bwana alit sumurup ring ganal, metu sanghara ti Selam. / Prang ka Rajagaluh, él éh na Rajagaluh. Prang ka Kalapa, él éh na Kalapa. Prang ka Pakwan, prang ka Galuh, prang ka Datar, prang ka Madiri, prang ka Paté gé, prang ka Jawakapala, él éh na JawakapaJa. Prang ka Galé lang. Nyabrang, prang ka Salajo, pahi éléh ku Selam. / Kitu, kawisésa ku Demak deung ti Cirebon, pun.

Didalam akhir naskah, penulis Carita Parahyangan memberitakan tentang raja terakhir Pajajaran dan bagaimana proses peperangan dilakukan sehingga seluruh wilayah Pakuan menjadi “Kawisesa oleh Demak dan Cirebon”.

Kehancuran Pajajaran diakibatkan dua faktor, yakni faktor intern dan ekstern. Faktor intern disebabkan oleh perilaku raja yang tidak peduli terhadap kemajuan negara dan kesejahteraan rakyat, sedangkan faktor eksteern disebabkan adanya serangan musuh yang bertubi-tubi, terutama yang dilakukan oleh pasukan gabungan Banten dan Cirebon. Faktor ini menimbulkan rasa frustrasi dan ketakutan rakyat. Itulah sebenarnya yang hendak di gambarkan oleh penulis Carita Parahyangan.

Penulis Carita Parahyangan mengupas tentang proses dialetika suatu kondisi masyarakat, sekalipun diuraikan secara sederhana namun bagi para pemikir nampak adanya pemikiran dialektis tentang bagaimana kehancuran suatu masyarakat itu terjadi.

 

Masalah Intern Pakuan

Penulis Carita Parahyang menguraikan, bahwa : jika suatu masa tidak mengalami kejahatan dan kemaksiatan maka manusia akan berada di dalam masa yang sejahtera. Akan tetapi justru sebaliknya, masa kaliyuga sudah sangat terasakan ketika masa Ratu Sakti, terutama ketika kejahatan dan kemaksiatan dianggap biasa dan dilindungi penguasa, sehingga Pajajaran hanya tinggal menunggu masa Pralaya (kehancuran, kiamat). Tentang analisa ini secara lengkap, sebagai berikut :

•        Hanteu ta yuga dopara kasiksa tikang wong sajagat, kreta ngaraniya. Hanteu nu ngayuga sanghara, kreta, kreta. / Dopara luha gumenti tang kali. Sang Nilak éndra wwat ika sangké lamaniya manggirang, lumekas madumdum cereng. Manganugraha weka, hatina nunda wisayaniya, manurun aken pretapa, putu ri patiriyan. Cai tiningkalan nidra wisaya ning baksa kilang.

Tahapan kehancuran Pajajaran diuraikan pada bab terdahulu, tentang Manurajasuna dan masa Kaliyuga, tentunya mulai nampak pada masa Ratu Dewata, raja hanya mengejar kebahagiaan hidup melalui laku tapa, batarak, kuru cileuh kentel peujit, melakukan pwah susu namun tidak peduli terhadap kehidupan negara dan masyarakatnya.

Pada masa Ratu Dewata bertahta, kesempatan untuk melakukan pembangunan dan mengkonsolidasikan masyarakat lebih besar dibandingkan pada masa Surawisesa, namun Surawisesa sudah meletakan dasar-dasar keamanan negara melalui perjanjian damai dengan Cirebon, Demak dan Banten. Sekalipun luas yuridiksi negara sudah tidak seluas ketika Sri Baduga masih bertahta.

Kesempatan kedua nampak pada masa Ratu Sakti. Raja ini memiliki kesempatan yang luas untuk mengembalikan wilayah Pajajaran yang telah direbut Cirebon, Demak dan Banten. Pada masa itu pasukan Banten dan Kalapa sedang disibukan untuk menaklukan Pasuruan dan Panarukan, bahkan Sultan Trenggono, Demak dan Pangeran Pasarean, putra mahkota Cirebon terbunuh didalam huru hara Demak.

Proses selanjutnya tiba pada masa Nilakendra. Pada masa tersebut Pakuan sudah mulai membangun jalan-jalan disekitar istana dan memperbaiki segala macam atribut istana, namun kejahatan dan kemaksiatan sudah menyeruak keseantero negeri dan dianggap sesuatu yang biasa. Raja asyik mengejar kepuasaan hidup melalui pendalaman ajaran yang jauh dari realitas hidup, seperti mensyahkannya mabuk-mabukan sebelum melakukan ritual. Pada masa ini rakyat sudah frustasi dan dianggap sudah berada didalam masa Kaliyuga.

Pada masa Ragamulya ia bertindak sebagai raja sekaligus pertapa, masa ini raja berkuasa tanpa mahkota dan tanpa memiliki pasukan perang. Raja hanya tinggal meunggu waktu datangnya kehancuran yang ditimbulkan musuh. Pada masa ini disebutkan masa Pralaya Pajajaran.

 

Banten melanggar Perjanjian

Panembahan Hasanudin dari Banten Pasisir kurang setuju atas perjanjian damai Pajajaran – Cirebon. Perjanjian tersebut dianggap hanya aman bagi Cirebon, tetapi menjadi ancaman bagi Banten. Jika kemudian Ia menyetujui, hal ini hanya karena ketaatannya kepada kebijakan ayahnya, Susuhunan Jati.

Niat Hasanudin untuk menguasai pakuan dilakukan secara terselubung, dengan cara membentuk pasukan khusus tanpa indentitas (tambuh sangkane), sebagaimana yang telah dilakukan sebelumnya ketika merebut Surasowan. Dalam periode berikutnya, Belanda menyebut tambuh sangkane dengan istilah rover, pengganggu ketertiban.

Hasanudin didalam ranji Pajajaran ia masih cicit Sri Baduga Maharaja dari Kawunganten, maupun dari Susuhunan Jati. Kawunganten putra Surasowan dan Surasowan putra Sri Baduga Maharaja dari Kentring Manik Mayang Sunda. (Yoseph, hal. 282). Mungkin Hasanudin merasa berhak atas tahta Kerajaan Pajajaran. Suatu hal yang patut diperhitungkan adanya kekhawatiran Hasanudin terhadap serangan Pajajaran untuk mengembalikan Banten sebagai wilayah Pajajaran. Kekuasaan Hasanudin di Banten diperoleh pasca menggulingkan ua nya, yakni  Sang Arya Surajaya, hal ini sangat terkait erat dengan ekspansi perdagangan para Saudagar islam waktu itu, mengingat sangat sulit dikatagorikan sebagai penyebaran agama islam di Banten jika Sang Arya Surajaya pada masa itu sudah memeluk agama islam, bahkan ayahnya pun, Sang Surasowan telah memeluk agama islam. Banten sebagai pelabuhan perdagangan pada masa Arya Surajaya berada di bawah kekuasaan Pajajaran.

Niat menyerang Pajajaran dilakukan pada masa pemerintahan Sang Ratu Dewata. Hasanudin dengan pasukan tambuh sangkane langsung menyerang Pakuan, serangan itu disongsong pasukan Pakuan dialun-alun Pakuan, sekarang alun-alun Empang. Dalam pertempuran itu, gugur Tohaan Ratu Sarendet dan Tohaan Ratu Sanghiyang, perwira-perwira muda pihak Pajajaran.

Peperangan ini dicatat dalam Carita Parahyangan, isinya :

•        “datangna bancana musuh ganal, tambuh sangkane. Prangrang di burwan ageung. Pejah Tohaan Ratu Sarendet deung Tohaan Ratu Sanghyang”. (Datang bencana dari laskar musuh. Tak dikenal asal-usulnya. Terjadi perang di alun-alun. Gugurlah Tohaan Ratu Sarendet dan Ratu Sanghyang).

Kemenangan pasukan Pajajaran lebih banyak ditopang oleh kesetiaan dan ketangguhan pasukan yang pernah menjadi pengawal Surawisesa. Pada masa lalu pasukan tersebut telah mengalami lima berlas kali pertemuan di front barat Citarum. Pasukan Hasanudin setelah gagal menyerang Pakuan, kemudian mengundurkan diri, lalu melakukan serangan ke daerah utara, kemudian Sumedang, Ciranjang dan Jayagiri. Serangan ini dimungkinkan untuk memancing konsentrasi pasukan Pajajaran agar keluar meninggalkan benteng Pakuan.

Didaerah tersebut pasukan Banten banyak melakukan pengrusakan terhadap Kabuyutan dan para wiku yang sangat dilindungi Pajajaran. Dimasa lalu dianggap sebagai Dangiang Sunda, banyak raja Sunda yang mempertaruhkan harga diri negaranya di Kabuyutan, bahkan Darmasiksa memaklumkan, bahwa : “lebih hina seorang raja dari kulit musang di tong sampah jika tidak mampu mempertahankan Kabuyutannya”.

 

Serangan Kedua

Pasca penyerangan pertama, Pakuan sudah tidak dapat mengkonsolidasikan pasukannya dengan baik, mengingat rakyat sudah mulai frustasi melihat tingkah laku penguasanya, terutama ketika masa Ratu Sakti.

Pada masa Nilakendra memang telah masuk pada masa Kaliyuga. Pada masa ini muncul kembali serangan dari pasukan tambu sangkane menggempur ibukota Pakuan. Prabu Nilakendra tidak berdaya, ia meloloskan diri meninggalkan keraton. Prabu Nilakendra tidak pernah diketahui kapan wafatnya dan dimana dipusarakannya. Mungkin ia meninggal di tengan hutan belantara dalam keadaan sengsara sebatang kara. Peristiwa ini digambarkan didalam Carita Parahyangan, :

•        “Tohaan Majaya alah prangrang mangka tan nitih ring kadatwan” (Tohaan Majaya kalah perang dan ia tidak tinggal di Keraton).

Pakuan dipercayakan kepada semua pembesar yang tidak menyertainya dalam pelarian. Para pembesar kerajaan Pajajaran dengan segala daya upaya mempertahankan keraton Pakuan Pajajaran. Berkat perlindungan parit pertahanan dan benteng yang dibangun oleh Sri Baduga Maharaja, Pakuan dapat diselamatkan.

 

Pengungsi dari Pakuan

Pakuan pasca ditinggalkan oleh Prabu Nilakendra, sudah tidak berfungsi sebagai ibukota. Sebagian penduduk telah mengungsi ke wilayah pantai selatan, membuat pemukiman baru didaerah Cisolok dan Bayah. Sebagian lagi meninggalkan Pakuan mengungsi ke timur, diantaranya terdapat pembesar kerajaan, Senapati Jayaprakosa beserta adik-adiknya, kemudian menetap di Sumedang.

Sebagian penduduk Pakuan yang ada pertalian darah kekerabatan dengan keluarga keraton, ikut mengungsi dengan satu-satunya raja yang bersedia meneruskan tahta Pajajaran, yaitu Sang Ragamulya Suryakancana, putra Prabu Nilakendra. Ia mengungsi ke wilayah barat laut, tepatnya di lereng Gunung Pulasari Pandeglang, Kampung Kadu Hejo, Kecamatan Menes, Kabupaten Pandeglang.

Dari sekian bagian penduduk yang mengungsi, ada sebagian lagi yang mencoba bertahan di Pakuan, bersama beberapa orang pembesar kerajaan yang ditugaskan menjaga dan mempertahankan Pakuan. Walaupun sudah tidak berfungsi, kehidupan di Pakuan pulih kembali.

Pengusian lainnya kewilayah barat daya dipimpin oleh Ragamulya. Di pengungsian ia berupaya menegakkan kembali Kerajaan Pajajaran, dengan ibukotanya di Pulasari. Ia bertahta tanpa mahkota, sebab semua perangkat dan atribut kerajaan telah dipercayakan kepada Senapati Jayaprakosa dan adik-adiknya untuk diselamatkan. Mungkin juga pemilihan Pulasari pada waktu itu karena masih ada raja daerah, Rajataputra, bekas ibukota Salakanagara. Dalam versi lainnya ada juga yang menyebutkan, bahwa Pulasari bukanlah ibukota seperti yang lajim digambarkan dalam suatu pemerintahan. Pulasari waktu itu sebagai Kabuyutan, daerah yang dikeramatkan. Digunakan oleh Suryakancana untuk mendekatkan diri dengan Tuhan.

Menurut Iskandar (2005), Prabu Ragamulya Suryakancana seperti sudah mempunyai firasat, bahwa pusat kerajaannya harus di Pulasari Pandeglang. Mungkin berdasarkan petunjuk spiritual (uga), bahwa ia harus kembali ketitik-asal (purbajati). Mungkin juga ia mengetahui melalui bacaan lontar, catatan tentang Rajakasawa yang mengisahkan Karuhun (leluhur) Jawa Barat. Atau hanya berdasarkan dorongan batin yang ia miliki sebagai pewaris darah raja.

Sulit dibayangkan, sebab pusat kerajaannya yang baru, justru berdampingan dengan Kerajaan Surasowan. Yang pasti, Pulasari yang dijadikan ibukota Kerajaan Pajajaran tersebut adalah patilasan (bekas) pemukiman yang dahulu kala didirikan oleh Sang Aki Tirem Sang Aki Luhur Mulya dalam abad kedua Masehi. Di Pulasari pula Sang Dewawarman mendirikan Rajatapura, ibukota Salakanagara pada tahun 130 Masehi.

 

Pajajaran Sirna

Pasca penyerangan Banten kali kedua ke Pakuan, tokoh penanda tangan perjanjian Pajajaran-Cirebon, satu persatu menutup usianya, yakni Sanghiyang Surawisesa (raja Pajajaran), wafat lebih awal, pada tahun 1535 M ; Susuhunan Jati, wafat pada tanggal 12 bagian terang bulan Badra tahun 1490 Saka atau 19 September 1568 M ; Fadillah Khan, yang menggantikan Susuhunan Jati, wafat, pada tahun 1570 Masehi ; dan Panembahan Hasanudin, wafat pada tahun 1570 Masehi.

Hasanudin digantikan oleh putranya, yakni Panembahan Yusuf, putra dari pernikahannya dengan puteri Indrapura. Panembahan Yusuf merasa tidak terikat dalam perjanjian damai Cirebon dengan Pajajaran, ia pun tertarik untuk memperluas wilayah Banten, kemudian mempersiapkan serangannya dengan matang, terutama setelah Hasanudin Gagal menghancurkan Pakuan untuk yang kedua kalinya. Penyerangan tersebut dilakukan setelah sembilan tahun Panembahan Yusuf memegang tahta kerajaan Surasowan. Serangan tersebut mendapat bantuan dari kerajaan Cirebon, sehingga disebut serangan besar-besaran ke Pakuan.

Serangan Banten ke Pakuan diabadikan dalam Serat Banten dalam bentuk pupuh Kinanti, :

•        Nalika kesah punika / Ing sasih muharam singgih / Wimbaning sasih sapisan / Dinten ahad tahun alif / Puningka sangkalanya / Bumi rusak rikih iki (Waktu keberangkatan itu – terjadi bulan muharam – tepat pada awal bulan – hari ahad tahun alif – inilah tahun sakanya – satu lima kosong satu).

Pakuan pasca ditinggalkan Nilakendra masih memiliki aktifitas seperti biasanya, namun memang sudah tidak lagi digunakan sebagai persemayamannya raja Pajajaran. Benteng Pakuan memiliki pertahanan yang sangat kuat. Pakuan masih memiliki soliditas dan ketangguhan sisa-sisa prajurit Pajajaran yang masih bermukim dibenteng.

Kehancuran Pakuan berdasarkan versi Banten dikarenakan ada pengkhianatan dari “orang dalam yang sakit hati”. Konon terkait dengan masalah jabatan. Saat itu ia bertugas menjaga pintu gerbang dan membukanya dari dalam untuk mempersiapkan pasukan Banten memporakporandakan Pakuan. Benteng Pakuan akhirnya dapat ditaklukan. Penduduk Pakuan telah susah payah membangun kembali kehidupannya, namun pasca penyerangan kedua kembali dilanda bencana maut. Mereka dibinasakan tanpa ampun. keraton Sri Bima-Punta-Narayana-Madura-Suradipati yang dijadikan simbol Pajajaran dibumi hanguskan.

Menurut Wangsakerta dalam Pustaka Rajyarajya Bhumi Nusantara parwa III sarga I halaman 219. :

•        Pajajaran sirna ing bhumi ing ekadaci cuklapaksa Wesakhamasa saharsa limangatus punjul siki ikang cakakala. (Pajajaran lenyap dari muka bumi tanggal 11 bagian terang bulan Wesaka tahun 1501 Saka” bertepatan dengan tanggal 11 Rabiul’awal 987 Hijriyah, atau tanggal 8 Mei 1579 M).

 

Memburu Raja Nu Ngungsi

Para pengungsi yang menuju kearah barat daya berakhir di Pulasari. Mereka menyertakan Ragamulya. Di pengungsian ia berupaya menegakkan kembali Kerajaan Pajajaran, dengan ibukotanya di Pulasari. Ia bertahta tanpa mahkota, sebab semua perangkat dan atribut kerajaan telah dipercayakan kepada Senapati Jayaprakosa dan adik-adiknya untuk diselamatkan, untuk kemudian diserahkan kepada Prabu Geusan Ulun.

Mungkin juga pemilihan Pulasari pada waktu itu karena masih ada raja daerah, Rajataputra, bekas ibukota Salakanagara. Namun dalam versi lain disebutkan, bahwa : Pulasari bukanlah ibukota seperti yang lajim digambarkan dalam suatu pemerintahan. Di Pulasari hanya sebagai wilayah Kabuyutan, daerah yang dikeramatkan dan dilindungi negara. Hal tersebut digunakan pula oleh Ragamulya untuk mendekatkan diri dengan Tuhan.

Pasca penghancuran Pakuan kemudian Banten mengarahkan serangannya ke Pulasari, Prabu Ragamulya Suryakancana bersama pengikutnya yang setia berupaya melawan sekuat tenaga, namun ia bukan raja Sunda seperti leluhurnya dahulu, ia tidak memiliki perlengkapan perang, karena ia hanya hidup Ngaresi dipengungsian.

Ragamulya Suryakancana bersama pengikutnya pada akhirnya harus menerima kodratnya, ia gugur di Pulasari setelah di bantai dan diluluh lantakan penduduknya. Demikian catatan sejarah menuliskan, Prabu Ragamulya Suryakancana gugur di Pulasari oleh pasukan Maulana Yusuf.

Lima abad setelahnya, setiap pengunjung Situs Purbakala Pulasari diberitahukan tentang adanya legenda Kaduhejo. Konon pada masa lalu telah datang kedaerah ini seorang raja tanpa mahkota, yang wafat di telasan pasukan Panembahan Yusuf. (***)

 

PUING PAKUAN

Antara Pajajaran sirna Ing Bhumi sampai ditemukan kembali oleh ekspedisi Scipio (1867) berlangsung kira-kira satu abad. Kota Pakuan yang pernah berpenghuni sekitar 48.271 jiwa ini ditemukan sebagai puing yang diselimuti oleh hutan tua (geheel met out bosch begroeijt zijnde; 1703).

Penduduk Kedunghalang dan Parung Angsana yang mengantarkan ekspedisi Scipio menemukan kembali  kotanya yang hilang. Pakuan ditelan jaman, di selimuti kabut duka, dihancurkan kerakusan manusia.

Pada tanggal 1 September 1687 titi mangsa ditemukan tapak lacak lemah cainya. Mereka hadir sebagai pejiarah pertama. Di puing Kabuyutan Pajajaran yang mereka duga sebagai singggasana raja, mereka tafakur dan mengenang kejayaan dan keagungan Pajajaran.

Scipio pada tahun 1687 memiliki dua catatan penting dari ekspedisinya, yakni perjalanan antara Parung Angsana, Tanah Baru menuju Cipaku dengan melalui Tajur. Scipio mencatat : Jalan dan lahan antara Parung Angsana dengan Cipaku adalah lahan yang bersih dan di sana banyak pohon buah-buahan, tampaknya pernah dihuni. Lukisan jalan setelah ia melintasi Ciliwung. Ia mencatat Melewati dua buah jalan dengan pohon buah-buahan yang berderet lurus dan 3 buah runtuhan parit.

Pada tanggal 1 September 1687 M memperoleh keterangan dari anak buahnya, bahwa semua itu peninggalan dari Raja Pajajaran. Dari perjalanannya disimpulkan bahwa ada jejak Pajajaran yang masih bisa memberikan kesan wajah kerajaan, terutama Situs Batutulis.

Penemuan Scipio segera dilaporkan oleh Gubernur Jenderal Joanes Camphuijs kepada atasannya di Belanda. Dalam laporan yang ditulis tanggal 23 Desember 1687, ia memberitakan bahwa menurut kepercayaan penduduk, istana tersebut terutama sekali tempat duduk yang ditinggikan untuk raja Pajajaran, sekarang masih berkabut dan dijaga serta dirawat oleh sejumlah besar harimau.

Penduduk Parung Angsana menghubungkan seorang anggota ekspedisi yang diterkam harimau di dekat Cisadane pada malam tanggal 28 Agustus 1687. Diperkirakan Situs Batutulis pernah menjadi sarang harimau penjaga ‘singgasana raja Pajajaran’. Mungkin laporan dan peristiwa ini yang memunculkan mitos tentang hubungan Pajajaran yang sirna dengan keberadaan harimau. Selanjutnya disebutkan pula bahwa raja Pajajaran tilem, sedangkan prajuritna berubah wujud menjadi harimau.

Dari hasil ekspedisi Winkler dilaporkan pula, tentang perjalanannya yang bertolak dari Kedung Halang lewat Parung Angsana, Tanah Baru lalu ke selatan, melewati jalan besar, Scipio menyebutnya ‘twee lanen’. Winkler menyebutkan jalan tersebut sejajar dengan aliran Ciliwung lalu membentuk siku-siku, namun hanya mencatat satu jalan. Scipio menganggap jalan yang berbelok tajam ini sebagai dua jalan yang bertemu.

Setelah melewati sungai Jambuluwuk, Cibalok dan melintasi parit Pakuan yang dalam dan berdinding tegak, tepinya nampak membentang ke arah Ciliwung sampai ke jalan menuju arah tenggara, setelah arca. Kemudian ia sampai di lokasi kampung Tajur Agung. Setelah itu sampai ke pangkal jalan durian yang panjangnya.

Tajur Agung menjadi tempat bercengkerama keluarga kerajaan. Karena itu pula penggal jalan pada bagian ini ditanami pohon durian dikedua sisinya. Dari Tajur Agung menuju ke daerah Batutulis menempuh jalan yang kelak pada tahun 1709 dilalui Van Riebeeck dari arah berlawanan. Jalan ini menuju ke gerbang kota. Di situlah letak Kampung Lawang Gintung pertama.

Di sekitar Batutulis Winkler menemukan lantai atau jalan berbatu yang sangat rapi. Menurut penjelasan para pengantarnya, di situlah letak istana kerajaan. Setelah diukur, lantai itu membentang ke arah paseban tua. Di sana ditemukan 7 batang pohon beringin.

Lahan di bagian utara bersambung dengan Bale Kambang yang biasanya digunakan untuk bercengkrama raja. Dengan indikasi tersebut, lokasi keraton Pajajaran mesti terletak pada lahan yang dibatasi jalan Batutulis (sisi barat) dan Gang Amil (sisi selatan), bekas parit yang sekarang dijadikan perumahan (sisi timur) dan benteng batu yang ditemukan Scipio sebelum sampai di tempat prasasti (sisi utara).

Balekambang terletak di sebelah utara benteng itu. Pohon beringinnya mestinya berada dekat gerbang Pakuan di lokasi jembatan Bondongan sekarang. Dari Gang Amil, Winkler memasuki tempat batu bertulis. Ia memberitakan bahwa Istana Pakuan itu dikeliligi oleh dinding dan di dalamnya ada sebuah batu berisi tulisan sebanyak 8.5 baris, disebutkan demikian karena baris ke-9 hanya berisi 6 huruf dan sepasang tanda penutup. Winkler menyebut kedua batu itu stond (berdiri).

Setelah terlantar selama kira-kira 110 tahun, sejak Pajajaran burak oleh pasukan Banten pada tahun 1579, batu-batu itu masih berdiri dan masih tetap pada posisi semula.

Winkler dari tempat prasasti menuju ke tempat arca, pada penduduk menyebutnya Purwakalih, pada tahun 1911 Pleyte masih mencatat nama Purwa Galih. Di sana terdapat 3 buah patung yang menurut informan Pleyte adalah patung Purwa Galih, Gelap Nyawang dan Kidang Pananjung. Nama trio ini terdapat dalam Babad Pajajaran yang ditulis di Sumedang (1816) pada masa bupati Pangeran Kornel, kemudian pada tahun 1862 disadur dalam bentuk pupuh. Penyadur naskah babad mengetahui beberapa ciri bekas pusat kerajaan seperti juga penduduk Parung Angsana dalam tahun 1687 mengetahui hubungan antara Kabuyutan Batutulis dengan kerajaan Pajajaran dan Prabu Siliwangi. Menurut babad Pajajaran, Pohon Campaka Warna terletak tidak jauh dari alun-alun.

Konon kabar  Pakuan dihias dengan kraton Sri Bima, telaga panjang Sang Hiyang Talaga Rena Mahawijaya atau Sanghyang Kamala Rena Wijaya, dengan taman Milakancana dekat hutan Songgong tempat punden Pakuan Pajajaran.

Kearah Pakuan Pajajaran dibuat jalan-jalan besar yang dapat dilalui gerobak-gerobak dan beberapa kilometer. ke utara Muaraberes di kali Ciliwung masih ada bekas-bekas dermaga, dan juga di Ciampea, disebelah barat dari Pakuan, di Kali Cisadane semestinya akan dapat ditemukan bekas-bekas peninggalan dermaga atau sistim pertahanan, karena kedua tempat itu adalah batas sungai yang dapat dilayari sampai ke muara Laut Jawa, pintu gerbang menuju pedalaman.

Dari Pakuan ada sebuah jalan yang dapat melalui Cileungsi atau Cibarusa, Warunggede, Tanjungpura, Karawang, Cikao, Purwa karta, Sagalaherang, terus ske Sumedang, Tomo, Sindangkasih, Rajagaluh, Talaga Kawali dan ke pusat kerajaan Galuh Pakuan disekitar Ciamis dan Bojong Galuh. (Mungkin semacam jalan tol).

Pakuan bukan hanya lahan melainkan juga kenangan. Lahannya “dihidupkan kembali” tetapi kerajaanya takkan kembali. Inilah yang dirindukkan dan disenandungkan oleh para pujangga dalam karyanya setiap kali gema Pajajaran menyentuh hati mereka “Geus deukeut ka Pajajaran ceuk galindeng Cianjuran Jauh keneh ka Pakuan ceuk galindeng panineungan” (Sudah dekat ke Pajajaran menurut lantun Cianjuran Masih jauh ke Pakuan menurut lantun Kenangan) Pakuan terasa dekat, tetapi tak kunjung sampai. Kedekatan batin terhadap Pajajaran ini akhirnya menjelmakan gagasan Pajajaran Ngahiyang atau Pajajaran Tilem.

Pajajaran henteu sirna, tapi tilem ngawun-ngawun –  Pajajaran tidak hilang, Pakuan hanya ngahiang. Paling itulah kata-kata orang tua yang tidak mau kehilangan Pajajaran, bahkan mereka menghibur diri dengan berkata : “Ngan engke bakal ngadeg deui” [Suatu saat akan berdiri kembali).

•        Talung talung keur jaman Pajajaran / jaman aya keneh kuwarabekti / jaman guru bumi di pusti-pusti / jaman leuit tangtu eusina metu / euweuh nu tani mudu ngijon / euweuh nu tani nandonkeun karang / euweuh nu tan paeh ku jengkel / euweuh nu tani modar ku lapar. (masih mending waktu Pajajaran / ketika masih ada kuwarabekti / ketika guru bumi dipuja-puja / ketika lumbung padi melimpah ruah / tiada petani perlu mengijon / tiada petani harus mati kelaparan / tiada petani harus mati karena kesal / tiada hatus petani mati karena lapar).

Cag heula. (***)

 

Sumber Bacaan :

Sejarah Bogor – bagian 1, Saleh Danasasmita. Pemda DT II Bogor – 1983 – di copy dari pasundan.homestead.com

Prabu Siliwangi atau Ratu Purana Prebu Guru Dewataprana Sri Baduga Maharaja Taru Haji Di Pakwan Pajajaran 1474 – 1513, Amir Sutaarga, Pustaka Jaya, Bandung – 1966.

Kebudayaan Sunda (Suatu Pendekatan Sejarah) – Jilid 1, Edi S. Ekadjati, Pustaka Jaya, Bandung, Cet Kedua – 2005

Kebudayaan Sunda – Zaman Pajajaran – Jilid 2, Ekadjati, Pustaka Jaya, Bandung – 2005.

Rintisan Penelusuran Masa Silam Sejarah Jawa Barat, Jilid 2 dan 3, Tjetjep, SH dkk, Proyek Penerbitan Sejarah Jawa Barat Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat.

•        Yoseph Iskandar. Sejarah Jawa Barat (Yuganing Rajakawasa), Geger Sunten, Bandung – 2005.

•        Prabu Siliwangi atau Ratu Purana Prebu Guru Dewataprana Sri Baduga Maharaja Taru Haji Di Pakwan Pajajaran 1474 – 1513, Amir Sutaarga, Pustaka Jaya, Bandung – 1966.

•        Kebudayaan Sunda (Suatu Pendekatan Sejarah) – Jilid 1, Edi S. Ekadjati, Pustaka Jaya, Bandung, Cet Kedua – 2005

•        Kebudayaan Sunda – Zaman Pajajaran – Jilid 2, Ekadjati, Pustaka Jaya, Bandung – 2005.

•        Kebudayaan Sunda (Suatu Pendekatan Sejarah) – Jilid 1, Edi S. Ekadjati, Pustaka Jaya, Bandung, Cet Kedua – 2005

•         Kebudayaan Sunda – Zaman Pajajaran – Jilid 2, Ekadjati, Pustaka Jaya, Bandung – 2005.

•        Rintisan Penelusuran Masa Silam Sejarah Jawa Barat, Jilid 2 dan 3, Tjetjep, SH dkk, Proyek Penerbitan Sejarah Jawa Barat Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat.

•         Sejarah Bogor (Bagian 1), Saleh Danasasmita. Pemda DT II Bogor, – 1983.

•         Rintisan Penelusuran Masa Silam Sejarah Jawa Barat, Jilid 2 dan 3, Tjetjep, SH dkk, Proyek Penerbitan Sejarah Jawa Barat Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat.

•         Yoseph Iskandar. Sejarah Jawa Barat (Yuganing Rajakawasa), Geger Sunten, Bandung – 2005.

•         Tjarita Parahjangan, Drs.Atja, Jajasan Kebudayaan Nusalarang, Bandung- 1968.

 

Di Kutip dari : GUNUNG SEPUH

akibalangantrang.blogspot.com

Disarikan oleh : Agus Setiya Permana

Dari : berbagai sumber

 

Posted in Legend & Mitos | Tagged: | Leave a Comment »

kerajaan pajajaran 1

Posted by kangadhi7 on May 31, 2010


KERAJAAN PAJAJARAN BAGIAN 1

 

PAJAJARAN

Poerbacaraka pada tahun 1921 menyebutkan, bahwa istilah Pakuan Pajajaran berasal dari kata istana yang berjajar (“aanrijn staande hoven”). Hal ini dimungkin demikian, mengingat nama tersebut gabungan dari nama ibukota (Pakuan) dengan nama keraton Sri Bima – Punta – Narayana – Madura – Suradipati (Pajajaran). Dalam sastra klasik disebut Panca Persada yang berarti lima bangunan keraton, sedangkan di dalam naskah Wangsakerta sering disingkat dengan menyebut Sang Bima atau Sri Bima.

Nama Keraton dan pendirinya diberitakan di dalam Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara parwa II sarga 3 halaman 204 – 2005, sebagai berikut :

Hana Pwanung magadegaknya Pakwan Pajajaran lawan kadatwan Sang Bima-Punta-Narayana-Madura-Suradipati ya ta Sang Prabu Tarusbawa (adapun yang mendirikan Pakuan Pajajaran beserta keraton Sang Bima – Punta – Narayana – Madura – Suradipati adalah Sanh Prabu Tarusbawa).

Nama Keraton di Pakuan tersebut dituliskan didalam berita kropak 406 atau Fragmen Carita Parahyangan. Naskah dimaksud menyebutkan :

Di inya urut kadtwan, ku Bujangga Sedamanah ngaran Sri Kadatwan Bima – Punta – Narayana – Madura – Suradipati. Anggeus ta tuluy diprebokta ku Maharaja Tarusbawa deung Bujangga Sedamanah. / Disiar kahulu Cipakancilan, katimu ku Bagawat Sunda Mayajati, ku Bujangga Sedamanah di baan ka hareupeun Maharaja Tarusbawa. (Di sanalah bekas keraton yang oleh Bujangga Sedamanah diberi nama Sri Kedatuan Bima – Punta – Narayana – Madura – Suradipati. Setelah selesai dibangun lalu diberkati oleh Maharaja Tarusbawa dan Bujangga Sedamanah. / Dicari ke hulu Cipakancilan, ditemukan disana Bagawat Sunda Majayati ; oleh Bujangga Sedamanah di bawa ke hadapan Maharaja Tarusbawa)

Prasasti Kabantenan, yakni Prasasti yang dibuat dari tembaga dan ditemukan di Bekas, menggunakan nama Pakuan Pajajaran (lengkap), Pakuan (tanpa Pajajaran) dan Pajajaran (tanpa Pakuan). Urang sunda lebih nyaman menggunakan nama Pajajaran untuk nama kerajaan dan nama Pakuan untuk nama ibukota. Pemilihan nama tersebut pada akhirnya digunakan pula oleh para penulis sejarah Sunda.

Pakuan sebagai ibukota Sunda dicacat oleh Tom Peres (1513 M) di dalam “The Suma Oriantal”, ia menyebutkan bahwa ibukota kerajaan Sunda disebut dayo (dayeuh) itu terletak sejauh sejauh dua hari perjalanan dari Kalapa (Jakarta). Menurut Laporan VOC, perjalanan dari bekas benteng Pakuan ke muara Ciliwung tempat benteng VOC memakan waktu dua hari. 

Saleh Danasasmita (1983 : 2) menghubungkan asal muasal nama keraton dengan nama kota di mana keraton tersebut berada. Menurutnya : “Nama keraton sering meluas menjadi nama ibu kota, bahkan akhirnya sering menjadi nama negara. Contoh nyata adalah Ngayogyakarta Hadiningrat dan Surakarta Hadiningrat yang sebenarnya nama-nama keraton, sekarang meluas menjadi ibukota dan juga nama wilayah”. (Yoseph Iskandar 2005 : 228).

Di dalam versi lainnya menyebutkan, bahwa penggunaan istilah Pajajaran untuk nama kerajaan Sunda sebenarnya mulai digunakan pada masa Prabu Susuktunggal, ayah mertua Sri Baduga Maharaja. Hal ini dikemukakan didalam tulisan Atja Sasmita dan Edi S. Ekadjati, : “Pada waktu Sang Haliwungan berusia 13 tahun, ia diangkat menjadi rajamuda Sunda, dengan nama abhiseka Prabu Susuktunggal, baginda memerintah di Pakuan Pajajaran”. (Ibid : 229).

Pajajaran dipilih untuk nama kerajaan Sunda di Pakuan dimungkinkan akibat sering terjadi perpecahan dan bersatunya kembali antara kerajaan Sunda dengan kerajaan Galuh, sejak tahun 669 M, ditandai dengan Galuh menyatakan kemerdekaannya, demikian pula pada masa sesudahnya, seperti pada masa Sanjaya, Manarah dan pasca Wastu Kancana, sehingga untuk menghindarkan kesalahan pahaman, seperti masa Tarusbawa memindahkan ibukotanya ke Sundapura, maka dipilihlah nama Pajajaran untuk penerus kerajaan Sunda dengan Galuh tersebut.

Istilah Pajajaran kemudian digunakan pula untuk kisah-kisah di dalam cerita babad dan pantun, bahkan didalam Babad Tanah Jawi, menyebutkan kerajaan Sunda dengan nama Pajajaran. Hal tersebut dijelaskan sebagai berikut : 

ing tahun 1433 Sang Ratu Dewa iya Raja Purana, ngadegake kutha anyar aran Pakuan. Karajan iki aran Pajajaran. Tulisan kang ana ing watu kono nerangake manawa Sang Prabu yasa segaran. Pajajaran semune krajan rada gedhe lan ngerehake Cirebon barang.

Pajajaran pada jaman Siliwangi tentunya bukan hanya suatu obrolan ringan, kita pun dapat melayang kealam ketentraman hidup dimana raja dan rakyat hidup sajajar lan ngajajar, raja adil dan rakyat sentosa, murah sandang murah pangan, seperti yang dilantunkan Ki Baju Rambeng, seorang juru pantun dari Bogor.

• Talang tulung keur Pajajaran

• jaman aya keneh kuwarabekti

• jaman guru bumi di pusti-pusti

• jaman leuit tangtu eusina metu

• euweuh nu tani mudu ngijon

• euweuh nu tani nandonkeun karang

• euweuh nu tan paeh ku jengkel

• euweuh nu tani modar ku lapar

(masih mending waktu Pajajaran / ketika masih ada kuwarabekti / ketika guru bumi dipuja-puja / ketika lumbung padi melimpah ruah / tiada petani perlu mengijon / tiada petani harus mati kelaparan / tiada petani harus mati karena kesal / tiada hatus petani mati karena lapar). (***)

 

LOKASI PAKUAN

Pakuan sebagai ibukota Sunda dicacat oleh Tom Peres (1513 M) di dalam “The Suma Oriantal”, ia menyebutkan bahwa ibukota kerajaan Sunda disebut dayo (dayeuh) itu terletak sejauh sejauh dua hari perjalanan dari Kalapa (Jakarta). Menurut Laporan VOC, perjalanan dari bekas benteng Pakuan ke muara Ciliwung tempat benteng VOC memakan waktu dua hari. 

Amir Sutaarga (1966) menguraikan tentang asal nama Pakuan yang merujuk pada pendapat beberapa ahli, seperti Holle, Purbacarakan dan Tendam. Menurut Holle arti kata Pakwa Pajajaran berasal dari kata paku (pohon paku, pakis), sehingga Pakuan Pajajaran akan berarti : “tempat yang ada jajaran pohon-pohon paku”, sedangkan menurut Prof. Poerbacaraka, kata Pakwan sama dengan ‘hof’ (istana, dalam bahasa jawa ‘pakuwon’ artinya tempat kediaman) yang berasal dari kata ‘kuwu’ Pakuwuan (bahasa kawi klasik Pakuwwan) dengan lidah urang sunda Pakuan akhiranya menjadi Pakuwan.

Penafsiran lain dari karangan Tendam, yang menyatakan, bahwa kata paku harus dihubungkan dengan lingga kerajaan yang ada disebelah prasasti Batutulis. Paku dalam arti lingga sesuai dengan penafiran jamannya ketika itu berarti sumbu jagat dan hubungannya memang erat dengan kedudukan raja masa itu, yakni pusat jagat, pusat kosmos di dunia, yang mewakili dewa tertinggi yang jadi pusat jagat. Tendam secara tegas membedakan antara ‘pakwan’ dan ‘kadatwan’. Pakwan berarti ibukota pusat kerajaan yang ada paku-nya, lingganya, sedangkan kadatwan ialah keratonnya. Dan memang Kadatwan di Pakuan memiliki nama, yakni Sri Bima Untarayana Madura Suradipati. Dengan alasan ini maka istilah yang dikemukakan oleh Purbacaraka menjadi tidak lagi dapat digunakan.

Nama keraton di Pakuan ditemukan pula didalam berita kropak 406 atau Fragmen Carita Parahyangan. Naskah dimaksud menyebutkan :

Di inya urut kadtwan, ku Bujangga Sedamanah ngaran Sri Kadatwan Bima – Punta – Narayana – Madura – Suradipati. Anggeus ta tuluy diprebokta ku Maharaja Tarusbawa deung Bujangga Sedamanah. / Disiar kahulu Cipakancilan, katimu ku Bagawat Sunda Mayajati, ku Bujangga Sedamanah di baan ka hareupeun Maharaja Tarusbawa. (Di sanalah bekas keraton yang oleh Bujangga Sedamanah diberi nama Sri Kedatuan Bima – Punta – Narayana – Madura – Suradipati. Setelah selesai dibangun lalu diberkati oleh Maharaja Tarusbawa dan Bujangga Sedamanah. / Dicari ke hulu Cipakancilan, ditemukan disana Bagawat Sunda Majayati ; oleh Bujangga Sedamanah di bawa ke hadapan Maharaja Tarusbawa).

Dari kedua data tersebut dapat disimpulkan bahwa dari masa Tarusbawa sampai dengan abad ke 16 nama Pakuan sudah digunakan untuk menyebutkan nama ibukota Sunda. 

Lokasi keraton Pakuan terletak pada lahan lemah duwur – diatas bukit yang diapit oleh tiga batang sungai berlereng curam, yakni Cisadane, Ciliwung (Cihaliwung) dan Cipaku (anak Cisadane). Ditengahnya mengalir Cipakancilan yang ke bagian hulu sungainya bernama Ciawi. Pakuan terlindung oleh lereng terjal pada ketiga sisinya, namun disisi tenggara kota berbatasan dengan tanah datar dan terdapat benteng (kuta) yang paling besar, pada bagian luar benteng terdapat parit yang merupakan bentuk negatif dari benteng tersebut. Tanah galian parit itulah yang diperkirakan untuk dijadikan bahan pembangunan benteng.

Lokasi Pakuan didalam Carita Pantun disebutkan :

Guru sekar anu ngarana Aki Santarupa / anu di Taman Milakancana / sakalereun ginung anu tujuh / beulah wetan ti karaton / sagigireun rada jauh tonggoheunnana / Leuwi Kipataheunana / anu aya di talaga panjang / Talaga Kamala Rena Wijaya (guru sekar yang bernama Aki Santapura / yang ada di Taman Milakancana / sebelah utara gintung yang tujuh / sebelah timur dari keraton / sebelah hulu agak jauh diatasnya / Leuwi Kipatahunan / yang ada di telaga panjang / Telaga Kemala Rena Wijaya).

Pantun itu menginspitrasi Amir Sutaarga untuk menguraikan tentang Pakuan Pajajaran. Konon kabar dihias dengan kraton Sri Bima, telaga panjang Sang Hiyang Talaga Rena Mahawijaya atau Sanghyang Kamala Rena Wijaya, dengan taman Milakancana dekat hutan Songgong tempat punden pusat pemujaan penduduk Pakuan Pajajaran.

Kearah Pakuan Pajajaran dibuat jalan-jalan besar yang dapat dilalui gerobak-gerobak dan beberapa kilometer. ke utara Muaraberes di kali Ciliwung masih ada bekas-bekas dermaga, dan juga di Ciampea, disebelah barat dari Pakuan, di Kali Cisadane semestinya akan dapat ditemukan bekas-bekas peninggalan dermaga atau sistim pertahanan, karena kedua tempat itu adalah batas sungai yang dapat dilayari sampai ke muara Laut Jawa, pintu gerbang menuju pedalaman.

Dari Pakuan ada sebuah jalan yang dapat melalui Cileungsi atau Cibarusa, Warunggede, Tanjungpura, Karawang, Cikao, Purwa karta, Sagalaherang, terus ske Sumedang, Tomo, Sindangkasih, Rajagaluh, Talaga Kawali dan ke pusat kerajaan Galuh Pakuan disekitar Ciamis dan Bojong Galuh. (Mungkin semacam jalan tol).

 

Berita-berita VOC

Laporan tertulis pertama mengenai lokasi Pakuan diperoleh dari catatan perjalan ekspedisi pasukan VOC (Verenigde Oost Indische Compagnie/Perserikatan Kumpeni Hindia Timur) yang oleh bangsa kita lumrah disebut Kumpeni. KarenaInggris pun memiliki perserikatan yang serupa dengan nama EIC (East India Company), maka VOC sering disebut Kumpeni Belanda dan EIC disebut Kumpeni Inggris. 

Setelah mencapai persetujuan dengan Cirebon (1681), Kumpeni Belanda menandatangani persetujuan dengan Banten (1684). Dalam persetujuan itu ditetapkan Cisadane menjadi batas kedua belah pihak.

Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai lokasi bekas istana Kerajaan Pajajaran, VOC mengirimkan tiga tim ekspedisi, masing-masing dipimpin oleh Scipio (1687) ; Adolf Winkler (1690) dan Abraham van Riebeeck (1703, 1704, 1709).

Scipio pada tahun 1687 memiliki dua catatan penting dari ekspedisinya, yakni perjalanan antara Parung Angsana (Tanah Baru) menuju Cipaku dengan melalui Tajur, kira-kira lokasi Pabrik Unitex sekarang. Scipio mencatat : Jalan dan lahan antara Parung Angsana dengan Cipaku adalah lahan yang bersih dan di sana banyak sekali pohon buah-buahan, tampaknya pernah dihuni. Lukisan jalan setelah ia melintasi Ciliwung. Ia mencatat Melewati dua buah jalan dengan pohon buah-buahan yang berderet lurus dan 3 buah runtuhan parit. 

Scipio pada tanggal 1 September 1687 M memperoleh keterangan dari anak buahnya, bahwa semua itu peninggalan dari Raja Pajajaran. Dari perjalanannya disimpulkan bahwa ada jejak Pajajaran yang masih bisa memberikan kesan wajah kerajaan, terutama Situs Batutulis. 

Penemuan Scipio segera dilaporkan oleh Gubernur Jenderal Joanes Camphuijs kepada atasannya di Belanda. Dalam laporan yang ditulis tanggal 23 Desember 1687, ia memberitakan bahwa menurut kepercayaan penduduk, dat hetselve paleijs en specialijck de verheven zitplaets van den getal tijgers bewaakt ent bewaart wort (bahwa istana tersebut terutama sekali tempat duduk yang ditinggikan untuk raja Jawa [maksudnya Sunda Pajajaran] sekarang masih berkabut dan dijaga serta dirawat oleh sejumlah besar harimau). Laporan tersebut juga dikaitkan dengan kisah anak buahnya yang mengalami patah tulang leher setelah diterkam harimau, laporan tersebut ia terima pada tanggal 31 Agustus 1687 malem hari. 

Penduduk Parung Angsana menghubungkan seorang anggota ekspedisi yang diterkam harimau di dekat Cisadane pada malam tanggal 28 Agustus 1687. Diperkirakan Situs Batutulis pernah menjadi sarang harimau penjaga ‘singgasana raja Pajajaran’. Penulis RPMSJB menafsirkan, bahwa laporan dan peristiwa ini yang akhirnya memunculkan mitos tentang hubungan Pajajaran yang sirna dengan keberadaan harimau. Selanjutnya disebutkan pula bahwa raja Pajajaran tilem, sedangkan prajuritna berubah wujud menjadi harimau. 

Laporan Scipio tersebut menggugah para pimpinan Kumpeni Belanda. Tiga tahun kemudian atau pada tahun 1690 masehi dibentuk kembali team ekspedisi terdiri dari 16 orang kulit putih dan 26 orang Makasar serta seorang ahli ukur. Ekspedisi tersebut dipimpin oleh Kapiten Winkler. 

Winkler dari hasil ekspedisi melaporkan perjalannya seperti Scipio yang bertolak dari Kedung Halang lewat Parung Angsana (Tanah Baru) lalu ke selatan, melewati jalan besar, Scipio menyebutnya ‘twee lanen’. Winkler menyebutkan jalan tersebut sejajar dengan aliran Ciliwung lalu membentuk siku-siku, namun hanya mencatat satu jalan. Scipio menganggap jalan yang berbelok tajam ini sebagai dua jalan yang bertemu. 

Setelah melewati sungai Jambuluwuk (Cibalok) dan melintasi parit Pakuan yang dalam dan berdinding tegak (dediepe dwarsgragt van Pakowang) yang tepinya membentang ke arah Ciliwung dan sampai ke jalan menuju arah tenggara 20 menit setelah arca. Sepuluh menit kemudian (pukul 10.54) sampai di lokasi kampung Tajur Agung (waktu itu sudah tidak ada). Satu menit kemudian, ia sampai ke pangkal jalan durian yang panjangnya hanya 2 menit perjalanan dengan berkuda santai. 

Bila kembali ke catatan Scipio yang mengatakan bahwa jalan dan lahan antara Parung Angsana dengan Cipaku itu bersih dan di mana-mana penuh dengan pohon buah-buhan, maka dapat disimpulkan bahwa kompleks Unitex itu pada jaman Pajajaran merupakan Kebun Kerajaan. Tajur adalah kata Sunda kuno yang berarti tanam, tanaman atau kebun. Tajur Agung sama artinya dengan Kebon Gede atau Kebun Raya. Sebagai kebun kerajaan. 

Tajur Agung menjadi tempat bercengkerama keluarga kerajaan. Karena itu pula penggal jalan pada bagian ini ditanami pohon durian pada kedua sisinya. Dari Tajur Agung Winkler menuju ke daerah Batutulis menempuh jalan yang kelak pada tahun 1709 dilalui Van Riebeeck dari arah berlawanan. Jalan ini menuju ke gerbang kota (lokasi dekat pabrik paku Tulus Rejo, sekarang). Di situlah letak Kampung Lawang Gintung pertama sebelum pindah ke Sekip dan kemudian lokasi sekarang (bernama tetap Lawang Gintung). Jadi gerbang Pakuan pada sisi ini ada pada penggal jalan di Bantar Peuteuy (depan kompleks perumahan LIPI). Dulu di sana ada pohon Gintung. 

Di sekitar Batutulis Winkler menemukan lantai atau jalan berbatu yang sangat rapi. Menurut penjelasan para pengantarnya, di situlah letak istana kerajaan (het conincklijke huijs soude daerontrent gestaen hebben). Setelah diukur, lantai itu membentang ke arah paseban tua. Di sana ditemukan 7 batang pohon beringin. 

Di dekat jalan tersebut Winkler menemukan sebuah batu besar yang dibentuk secara indah. Jalan berbatu itu terletak sebelum tiba di situs Bautulis, dan karena dari batu bertulis perjalanan dilanjutkan ke tempat arca (Purwa Galih), maka lokasi jalan itu harus terletak di bagian utara tempat batu bertulis (prasasti). Antara jalan berbatu dengan batu besar yang indah dihubungkan oleh Gang Amil. 

Lahan di bagian utara Gang Amil ini bersambung dengan Bale Kambang (rumah terapung), yang biasanya digunakan untuk bercengkrama raja. Contoh Bale kambang yang masih utuh adalah seperti yang terdapat di bekas Pusat Kerajaan Klungkung di Bali. Dengan indikasi tersebut, lokasi keraton Pajajaran mesti terletak pada lahan yang dibatasi Jl. Batutulis (sisi barat), Gang Amil (sisi selatan), bekas parit yang sekarang dijadikan perumahan (sisi timur) dan benteng batu yang ditemukan Scipio sebelum sampai di tempat prasasti (sisi utara). 

Balekambang terletak di sebelah utara (luar) benteng itu. Pohon beringinnya mestinya berada dekat gerbang Pakuan di lokasi jembatan Bondongan sekarang. Dari Gang Amil, Winkler memasuki tempat batu bertulis. Ia memberitakan bahwa Istana Pakuan itu dikeliligi oleh dinding dan di dalamnya ada sebuah batu berisi tulisan sebanyak 8½ baris, disebutkan demikian karena baris ke-9 hanya berisi 6 huruf dan sepasang tanda penutup. Winkler menyebut kedua batu itu stond (berdiri). Jadi setelah terlantar selama kira-kira 110 tahun, sejak Pajajaran burak bubar/hancur oleh pasukan Banten pada tahun 1579, batu-batu itu masih berdiri dan masih tetap pada posisi semula. 

Winkler dari tempat prasasti menuju ke tempat arca, pada penduduk menyebutnya Purwakalih, pada tahun 1911 Pleyte masih mencatat nama Purwa Galih. Di sana terdapat 3 buah patung yang menurut informan Pleyte adalah patung Purwa Galih, Gelap Nyawang dan Kidang Pananjung. Nama trio ini terdapat dalam Babad Pajajaran yang ditulis di Sumedang (1816) pada masa bupati Pangeran Kornel, kemudian pada tahun 1862 disadur dalam bentuk pupuh. Penyadur naskah babad mengetahui beberapa ciri bekas pusat kerajaan seperti juga penduduk Parung Angsana dalam tahun 1687 mengetahui hubungan antara Kabuyutan Batutulis dengan kerajaan Pajajaran dan Prabu Siliwangi. Menurut babad Pajajaran, Pohon Campaka Warna terletak tidak jauh dari alun-alun.

 

Dari Naskah Kuna

Dalam kropak, tulisan pada lontar atau daun nipah yang diberi nomor 406 di Mueseum Pusat terdapat petunjuk yang mengarah kepada lokasi Pakuan. Kropak 406 sebagian telah diterbitkan khusus dengan nama Carita Parahiyangan.

Dalam bagian yang belum diterbitkan (biasa disebut fragmen K 406) terdapat keterangan mengenai kisah pendirian keraton Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati. :

Di inya urut kadatwan, ku Bujangga Sedamanah ngaran Sri Kadatwan Bima Punta Narayana Madura Suradipati. Anggeus ta tuluy diprebolta ku Maharaja Tarusbawa jeung Bujangga Sedamanah. Disiar ka hulu Cipakancilan. Katimu Bagawat Sunda Mayajati. Ku Bujangga Sedamanah dibaan ka hareupeun Maharaja Tarusbawa. 

(Di sanalah bekas keraton yang oleh Bujangga Sedamanah diberi nama Sri Kadatuan Bima Punta Narayana Madura Suradipati. Setelah selesai (dibangun) lalu diberkati oleh Maharaja Tarusbawa dan Bujangga Sedamanah. dicari ke hulu Cipakancilan. Ditemukanlah Bagawat Sunda Majayati. Oleh Bujangga Sedamanah dibawa ke hadapan Maharaja Tarusbawa). 

Dari sumber kuno tersebut dapat diketahui, bahwa letak keraton tidak akan terlalu jauh dari hulu Cipakancilan. Hulu Cipakancilan terletak dekat lokasi kampung Lawang Gintung yang sekarang, sebab ke bagian hulu sungai ini disebut Ciawi. Dari naskah itu pula kita mengetahui bahwa sejak jaman Pajajaran sungai itu sudah bernama Cipakancilan. Juru pantun kemudian menerjemahkan menjadi Cipeucang, yang artinya sama (Peucang = Kancil).

 

Hasil Penetian

Prasasti Batutulis sudah mulai diteliti sejak tahun 1806 dengan pembuatan cetakan tangan untuk Universitas Leiden (Belanda). Upaya pembacaan pertama dilakukan oleh Friederich tahun 1853. Sampai tahun 1921 telah ada 4 orang ahli yang meneliti isinya. Akan tetapi, hanya C.M. Pleyte yang mencurahkan pada lokasi Pakuan, yang lain hanya mendalami isi prasasti itu. 

Hasil penelitian Pleyte yang dilakukan pada tahun 1903 dipublikasikan pada tahun 1911. Dalam tulisannya ia menyebutkan angka tahun yang tertera pada batu tulis (Het Jaartal op en Batoe-Toelis nabij Buitenzorg). Pleyte menjelaskan : 

“Waar alle legenden, zoowel als de meer geloofwaardige historische berichten, het huidige dorpje Batoe-Toelis, als plaats waar eenmal Padjadjarans koningsburcht stond, aanwijzen, kwam het er aleen nog op aan. Naar eenige preciseering in deze te trachten” (Dalam hal legenda-legenda dan berita-berita sejarah yang lebih dipercayai menunjuk kampung Batutulis yang sekarang sebagai tempat puri kerajaan Pajajaran, masalah yang timbul tinggalah menelusuri letaknya yang tepat). 

Sedikit kotradiksi dari Pleyte adalah pertama ia menunjuk kampung Batutulis sebagai lokasi keraton, akan tetapi kemudian ia meluaskan lingkaran lokasinya meliputi seluruh wilayah Kelurahan Batutulis yang sekarang. Pleyte mengidentikkan puri dengan kota kerajaan dan kadatuan Sri Bima Narayana Madura Suradipati dengan Pakuan sebagai kota.

Babad Pajajaran melukiskan bahwa Pakuan terbagi atas Dalem Kitha (Jero kuta) dan Jawi Kitha (Luar kuta). Pengertian yang tepat adalah kota dalam dan kota luar. Pleyte masih menemukan benteng tanah di daerah Jero Kuta yang membentang ke arah Sukasari pada pertemuan Jalan Siliwangi dengan Jalan Batutulis.

Peneliti lain seperti Ten Dam menduga, letak keraton tersebut terletak di dekat kampung Lawang Gintung, bekas Asrama Zeni Angkatan Darat. Suhamir dan Salmun bahkan menunjuk pada lokasi Istana Bogor yang sekarang. Namun pendapat Suhamir dan Salmun kurang ditunjang oleh data kepurbakalaan dan sumber sejarah. Dugaannya hanya didasarkan pada anggapan bahwa Leuwi Sipatahunan yang termashur dalam lakon-lakon lama itu terletak pada alur Ciliwung dalam Kebun Raya Bogor. Menurut kisah klasih, leuwi (lubuk) itu biasa dipakai bermandi-mandi oleh puteri-puteri penghuni istana. Lalu ditarik logika bahwa letak istana tentu tak jauh dari Leuwi Sipatahunan itu.

Pantun Bogor mengarah pada lokasi bekas Asrama Resimen Cakrabirawa (Kesatrian) dekat perbatasan kota. Daerah itu dikatakan bekas Tamansari kerajaan bernama Mila Kencana. Namun hal ini juga kurang ditunjang sumber sejarah yang lebih tua. Selain itu, lokasinya terlalu berdekatan dengan kuta yang kondisi topografinya merupakan titik paling lemah untuk pertahanan Kota Pakuan.

Kota Pakuan dikelilingi oleh benteng alam berupa tebing-tebing sungai yang terjal di ketiga sisinya. Hanya bagian tenggara batas kota tersebut berlahan datar. Pada bagian ini pula ditemukan sisa benteng kota yang paling besar. Penduduk Lawang Gintung yang diwawancara Pleyte menyebut sisa benteng ini Kuta Maneuh.

Sebenarnya hampir semua peneliti berpedoman pada laporan Kapiten Winkler yang berkunjung ke Batutulis pada tanggal 14 Juni 1690. Kunci laporan Winkler tidak pada sebuah hoff (istana) yang digunakan untuk situs prasasti, melainkan pada kata paseban dengan 7 batang beringin pada lokasi Gang Amil. Sebelum diperbaiki, Gang Amil ini memang bernuansa kuno dan pada pinggir-pinggirnya banyak ditemukan batu-batu bekas balay yang lama. 

Penelitian lanjutan membuktian bahwa benteng Kota Pakuan meliputi daerah Lawang Saketeng yang pernah dipertanyakan Pleyte. Menurut Coolsma, Lawang Saketeng berarti porte brisee, bewaakte in-en uitgang (pintu gerbang lipat yang dijaga dalam dan luarnya). Kampung Lawang Saketeng tidak terletak tepat pada bekas lokasi gerbang.

Benteng pada tempat ini terletak pada tepi Kampung Cincaw yang menurun terjal ke ujung lembah Cipakancilan, kemudian bersambung dengan tebing Gang Beton di sebelah Bioskop Rangga Gading. Setelah menyilang di jalan Suryakencana, membelok ke tenggara sejajar dengan jalan tersebut. Deretan pertokoan antara jalan Suryakencana dengan jalan Roda di bagian in sampai ke Gardu Tinggi, bekas pondasi benteng. Selanjutnya benteng tersebut mengikuti puncak lembah Ciliwung. 

Deretan kios dekat simpangan jalan Siliwangi – jalan Batutulis juga didirikan pada bekas fondasi benteng. Di bagian ini benteng tersebut bertemu dengan benteng Kota Dalam yang membentang sampai ke Jero Kuta Wetan dan Dereded. Benteng luar berlanjut sepanjang puncak lereng Ciliwung melewati kompleks perkantoran PAM, lalu menyiang jalan Raya Pajajaran, pada perbatasan kota, membelok lurus ke barat daya menembus jalan Siliwangi, di sini dahulu terdapat gerbang, terus memanjang sampai Kampung Lawang Gintung.

Di Kampung Lawang Gintung, benteng ini bersambung dengan benteng alam yaitu puncak tebing Cipaku yang curam sampai di lokasi Stasiun Kereta Api Batutulis. Dari sini, batas Kota Pakuan membentang sepanjang jalur rel kereta api sampai di tebing Cipakancilan setelah melewati lokasi Jembatan Bondongan. Tebing Cipakancilan memisahkan ujung benteng dengan benteng pada tebing Kampung Cincaw.(***)

 

KEMBALI KE PAKUAN

Wastu Kancana wafat pada tahun 1475. Untuk menjaga keseimbangan wilayah Sunda, kerajaan dipecah dua, yakni Sunda Galuh yang berpusat di Keraton Surawisesa diperintah oleh Ningrat Kencana dengan gelar Prabu Dewa Niskala sedangkan Sunda Pakuan yang berpusat di Keraton Sri Bima diperintah oleh Sang Haliwungan dengan gelar Prabu Susuktunggal. 

Para pewaris Wastu Kancana menurut Atja dan Ekadjati (1989 : 142), sebagai berikut : 

“Setelah ayahnya wafat Prabu Susuktunggal menjadi raja di Pakuan Pajajaran yang berdiri sendiri, hingga tahun 1482 Masehi. Dengan demikian baginda berkuasa 100 tahun lamanya. Ia wafat pada usia 113 tahun”, sedangkan Dewa Niskala, didalam buku yang sama dijelaskan, bahwa : “Prabu Niskala Wastu Kancana, pada tahun 1371 menikah dengan Dewi Mayangsari, putri bungsu Prabu Suradipati (Bunisora), putri itu baru berusia 17 tahun. Salah seorang putranya ialah Sang Ningratkancana. Pada usia 23 tahun dinobatkan menjadi raja wilayah Garut dengan nama abhiseka Prabu Dewaniskala. Baginda menjadi rajamuda pada ayahnya hingga 1475 masehi”. (Iskandar – hal. 230). 

Politik keseimbangan dengan cara pembagian kekuasaan telah berhasil melakukan stabilitas wilayah Sunda, terutama ada keterwakilan unsur Galuh dengan Sunda yang di posisikan sejajar. Hubungan kekerabatan para keturunan Wastu Kancana pada generasi berikutnya semakin kuat, ditandai dengan jalinan perkawinan Jayadewata, putra Dewa Niskala dengan Kentring Manik Mayang Sunda, putri Susuktunggal. Hubungan perkawinan dilakukan juga oleh para keturunan Sang Bunisora dengan keturunan Wastu Kencana. Dua orang putra Wastu Kancana menikah dengan putri Giri Dewata alias Gedeng Kasmaya putra Sulung Bunisora yang menikah dengan Ratya Kirana puteri Ganggapermana raja daerah Cirebon Girang. Oleh karena itu Gedeng Kasmaya dapat menjadi penguasa Cirebon mewarisi tahta dari mertunya.(RPMSJB Jilik ketiga, hal 50).

 

Suksesi dan Penyatuan Wilayah

Kisah penyatuan kembali kerajaan Sunda dengan Galuh (Kawali) warisan Wastu Kancana tidak terlepas dari adanya peristiwa di Kawali. Pada masa tersebut, tahta Sunda di Kawali diwariskan kepada Dewa Niskala, dan ia di anggap ngarumpak larangan (tabu) yang berlaku di keraton Galuh. Mungkin pada waktu itu hukum adat di Sunda mengkatagorikannya pada pelanggaran moral. Padahal persoalan moralitas di wilayah Sunda Galuh mendapat sorotan yang serius, bahkan dapat mewarnai perubahan jalannya sejarah Sunda. Hal ini nampak dari kisah Smarakarya Mandiminyak (Amara) dengan Pwah Rababu, istri Sempakwaja yang membuahkan perebutan tahta Galuh. Kisah selanjutnya adalah Kisah Dewi Pangrenyep. Didalam versi cerita tradisional, seperi pantun dan babad, kisah ini diabadikan didalam lalakon Ciung Wanara. Demkian pula didalam kisah Dewa Niskala yang dianggap ngarumpak tabu keraton dengan cara menikahi putri hulanjar dan sekaligus istri larangan (Wanita terlarang).

Dari contoh kisah diatas dapat disimpulkan, bahwa keraton Galuh memiliki tradisi yang sangat menghormati moralitas, pada masa itu diatur dalam suatu bentuk etika hidup dan kenegaraan, yang disebut Purbatisti – Purbajati, bahkan memiliki sanksi yang tegas, dikucilkan dari lingkungan atau diturunkan dari tahtanya.

Keyakinan dan ketaatan Keraton Galuh demikian menjadikan suatu hal yang lumrah ketika nyusud kagirangna, karena Cikal Bakal Galuh adalah Kendan yang didirikan oleh Resi Manikmaya, resi sekaligus penguasa. Para keturunan Galuh dalam periode berikutnya menciptakan keseimbangan dengan membentuk negara Galunggung sebagai negara agama (kabataraan) yang memiliki kekuatan untuk mengontrol perilaku penguasa Galuh. Ketaatan Galuh terhadap Galunggung nampak pula ketika masa Demunawan menginisiasi Perjanjian Galuh, sehingga wajar ketika Dewa Niskala dipaksa untuk mengundurkan diri karena dianggap ngarumpak larangan. 

Penulis Carita Parahyangan dan Siksa Kandang Karesyan mendifiniskan tentang Istri larangan (istri yang terlarang untuk dinikahi oleh keluarga Galuh), pada masa itu ada tiga katagori, yakni (1) gadis atau wanita yang telah dilamar dan lamarannya diterima, gadis atau wanita terlarang bagi pria lain untuk meminang dan mengganggu, (2) Wanita yang berasal dari Tanah Jawa, terlarang dikawin oleh pria Sunda dan larangan tersebut dilatar belakangi peristiwa Bubat, dan (3) ibu tiri yang tidak boleh dinikahi oleh pria yang ayahnya pernah menikahi wanita tersebut. (Ekadjati – 2005 : hal.196). Kecuali istri larangan dalam katagori (1) dan (3) sampai saat ini masih diyakini masyarakat sebagai sesuatu yang harus dihindari, sedangkan yang temasuk katagori (2) sudah sangat luntur, bahkan didalam hukum negara saat ini perkawinan antar bangsa, antar suku dan antar agama bukan lagi merupakan sesuatu yang tabu.

Peristiwa Dewa Niskala didalam sejarah resmi sangat terkait pula dengan eksodusnya keluarga Keraton Majapahit ke Kawali, pasca huru hara di Majapahit yang menjatuhkan Brawijaya V. Pada masa tersebut Majapahit mendapat serangan beruntun dari Demak dan Girindrawardana. Keluarga keraton Majapahit mengungsi ke Pasuruan, Blambangan dan Supit Udang, namun tak kurang pula yang mengungsi ke Kawali disebelah barat Majapahit.

Kisah pelarian keluarga keraton Majapahit yang menuju wilayah Galuh tiba di Kawali. Mereka dipimpin oleh Raden Baribin, saudara seayah Prabu Kretabhumi. Mereka disambut dengan senang hati oleh Dewa Niskala. Raden Baribin kemudian di jodohkan dengan Ratu Ayu Kirana, putri Prabu Dewa Niskala. Namun Dewa Niskala dianggap ‘ngarumpak larangan’ karena menikahi seorang rara hulanjar dan istri larangan (wanita terlarang) dari salah satu rombongan para pengungsi. Rara hulanjar sebutan untuk wanita yang telah bertunangan. Masalah hulanjar sama halnya dengan aturan di Majapahit, yakni perempuan yang masih bertunangan dan telah menerima Panglarang, tidak boleh diperistri kecuali tunangannya telah meninggal dunia atau membatalkan pertunangannya.

Pernikahan Dewa Niskala dengan hulanjar atau istri larangan, serta akibat dari perbuatannya diabadikan oleh penulis Carita Parahyangan, sebagai berikut :

 

Diganti ku Tohaan Galuh, enya eta nu hilang di Gunung tiga. Lawasna jadi ratu tujuh taun, lantaran salah tindak bogoh ka awewe larangan ti kaluaran.

Hal yang sama dituliskan pula di dalam Pustaka Pararatwan i Bhumi Jawadwipa parwa 1 sarga 3, sebagai berikut :

• //sang ningrat kancana / a-

• Thawa prabhu dewa niskala/

• Madeg ratu ghaluh pakwan

• Ing (1397-1404) ikang ca-

• Kakala//lawasnya/pitung warca/

• Mapan sira kawilang sang sa-

• Lah mastri lawan wanodya

• Sakeng wilwatikta/

(Sang Ningrat Kancana atau Prabu Dewa Niskala, menjadi ratu Galuh Pakuan pada tahun 13897-1404. Lamanya 7 tahun. Karena ia terhitung bersalah memperistri gadis [hulanjar] dari Majapahit) [Yoseph Iskandar – hal 321].

Prabu Susuktunggal merasa bahwa keraton Surawisesa telah dinodai, sehingga mengancam untuk memutuskan segala hubungan kekerabatan dengan Galuh. Ancaman demikian tidak berakibat menakutkan jika disampaikan oleh kerabat biasa, namun lain halnya jika disampaikan oleh seorang raja Sunda yang sederajat dengan Dewa Niskala, sehingga wajar jika kemudian terjadi ketegangan.

Prabu Susuktunggal didalam kisah dan versi lain memang tak ada ‘cawadeun’, bahkan penulis Carita Parahyangan memiliki kesan yang sangat baik, ia mencatatkan sebagai berikut :

Enya kieu, mimiti Sang Resi Guru boga anak Sang Haliwungan, nya eta Sang Susuktunggal nu ngomean pakwan reujeung Sanghiang Huluwesi, nu nyaeuran Sanghiang Rancamaya. / Tina Sanghiang Rancamaya aya nu kaluar. / “Ngaran kula Sang Udubasu, Sang Pulunggana, Sang Surugana, ratu hiang banaspati.” / Sang Susuktunggal, enya eta nu nyieun pangcalikan Sriman Sriwacana Sri Baduga Maharajadiraja, ratu pakwan Pajajaran. Nu kagungan kadaton Sri bima – untarayana madura – suradipati, nya eta pakwan Sanghiang Sri Ratudewata. / Titinggal Sang Susuktunggal, anu diwariskeunana tanah suci, tanah hade, minangka bukti raja utama. / Lilana ngadeg ratu saratus taun.

Ketegangan diantara kedua keturunan Wastu Kancana itu berakhir ketika para pemuka kerajaan mendesak keduanya untuk mengundurkan diri. Sebagai bentuk kompromi keduanya harus menyerahkan tahtanya kepada Jayadewata, yakni putra Dewa Niskala dan sekaligus menantu Susuktunggal. Pada masa itu Jayadewata telah menduduki jabatan sebagai Putra Mahkota Galuh, sedangkan di Sunda diangkat sebagai Prabu Anom.

Adnya peristiwa tersebut mengandung hikmah yang cukup besar, karena peristiwa ini maka pada tahun 1482 M kerajaan Sunda warisan Wastu Kencana bersatu kembali dibawah pemerintahan Jayadewata, cucunya, dengan sebutan Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi.

 

Dari Kawali ke Pakuan.

Jayadewata pasca dinobatkan sebagai raja Sunda kemudian mengalihkan pusat pemerintahannya dari Kawali ke Pakuan. Sumber utama tentang masalah ini ditegaskan didalam prasasti Kabantenan dan Batutulis Bogor.

Saleh Danasasmita (1981-1984) menterjemaahkan Prasasti Bogor, sebagai berikut :

OO wang na pun ini sakakala, prebu ratu purane pun, diwastu / diya wingaran prebu guru dewataprana diwastu diyadingan sri / baduga maharaja ratu haji pakwan pajajaran sri sang ratu de- / wata pun ya nu nyusuk na pakwan diya anak rahyang dewa nis- / kala sa(ng) sidamoka di gunatiga, i(n)cu rahyang niskala wastu / ka(n)cana sa(ng) sidamoka ka nusa larang, ya siya nu nyiyan sakaka- / ia gugunungan ngabalay nyiyan samida, nyiyan sanghayang talaga / rena mahawijaya, ya siya pun OO i saka, pan- / dawa (m) bumi OO [Semoga selamat. Ini tanda peringatan bagi prabu ratu suwargi. Ia dinobatkan dengan gelar Prabuguru Dewataprana; dinobatkan (lagi) ia dengan gelar Sri Baduga Maharaja ratu penguasa di Pakuan Pajajaran Sri Ratu Dewata. Dialah yang membuat parit (pertahanan) di Pakuan. Dia anak Rahiyang Dewata Niskala yang mendiang ke Nusalarang. Dialah yang membuat tanda peringatan berupa gunung-gunungan, mengeraskan jalan dengan batu, membuat (hutan) samida, membuat telaga Rena Mahawijaya, Ya dialah (yang membuat semua itu). (Dibuat dalam (tahun) 1455.].

Jika dicermati dari Prasasti Bogor, Jayadewata diistrenan sebagai raja Sunda dua kali, yakni di Kawali dengan gelar Prabuguru Dewataprana dan di Pakuan dengan gelar Sri Baduga Maharaja. Berita yang sama di muat dalam naskah Pustaka Negara Kretabhumi parwa 1 sarga 4 halaman 47, sebagai berikut :

Raja Pajajaran winstwan ngaran Prabhuguru Dewata prana muwah winastwan ngaran Cribaduga Maharaja Ratuhaji ing Pakwan Pajajaran Cri Sang Ratu Dewata putra ning Rahiyang Dewa Niskala Wastu Kencana. Rahyang Niskala Wastu Kancana putra ning Prabhu Maharaja Linggabhuanawicesa. [Raja Pajajaran dinobat kan dengan gelar Prabhuguru Dewataprana dan dinobat kan lagi dengan gelar Sri Baguga Maharaja Ratuhaji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata, putra rahiyang Niskala Wastu Kancana. Rahiyang Niskala Wastu Kancana putra Prabu Maharaja Linggabuanawisesa]. (Iskandar, hal. 226).

Dari dua kali peristiwa pengangkatan Jayadewata tentu membuahkan tandatanya, namun dapat terjawabkan jika diketahui bahwa Jayadewata sebelum diistrenan jadi raja Sunda ia menyandang gelar (jabatan) Putra mahkota (rajaputra) di Galuh dan Prabu Anom di Pakuan. Gelar putra mahkota karena memang ia putra dari Dewa Niskala sedangkan Prabu Anom karena ia menikah dengan rajaputri Pakuan, putrinya Prabu Susuktunggal, yakni Kentring Manik Mayang Sunda.

Kisah pengangkatan di dua kerajaan tersebut adalah suatu bentuk kompromi yang tekait dengan ketegangan penguasa Galuh dengan Sunda. Hal tersebut diinisiasikan oleh para pemuka kerajaan untuk menjaga harmoni antara Galuh dengan Sunda. Kisah pelantikan Jayadewata di abadikan dalam Carita Ratu Pakuan yang disusun oleh Kai Raga dari Srimanganti (Cikuray).

Alasan pemindahan ibukota Sunda ke Pakuan sampai sekarang belum banyak di kupas secara khusus, padahal Jayadewata lebih kental berdarah Kawali, karena ia putra Dewa Niskala. Namun alasan pemindahan pusat pemerintahan ke Pakuan diuraikan didalam beberapa versi, yakni Pertama karena Jayadewata telah sering tinggal di Pakuan untuk mewakili mertuanya, sehingga ia lebih familier melaksanakan tugas pemerintahannya dari Pakuan. Kedua adanya upaya Jayadewata untuk lebih mengakrabkan dirinya dengan kerabat Pakuan, yakni dari pihak mertuanya. Ketiga Susuktunggal dianggap jauh lebih berwibawa dibandingkan Dewa Niskala dan lebih dihargai oleh masyarakat Sunda. Keempat perkembangan kota Pakuan pada masa itu dianggap lebih maju dibandingkan Kawali. Sama halnya ketika masyarakat memilih Sunda untuk menyebutkan gabungan entitas Sunda dengan Galuh.

Jayadewata bertahta memerintah wilayah kerajaan Sunda (Galuh dan Sunda, kemudian disebut Pajajaran) pada tahun 1404 sampai dengan 1443 saka, atau pada tahun 1482 sampai dengan 1521 masehi. Pajajaran dimasa pemerintahannya mencapai puncaknya. Menurut penulis Carita Parahyangan : “disebabkan (Sri Baduga Maharaja) melaksanakan pemerintahannya berdasarkan purbatisti purbajati, (sehingga) tidak pernah kedatangan musuh kuat atau musuh halus. Tentram disebelah utara, selatan, barat dan timur”. Cag Heula. (***)

 

SRI BADUGA MAHARAJA

Jayadewata bertahta memerintah wilayah kerajaan Pajajaran pada tahun 1404 sampai dengan 1443 saka, atau pada tahun 1482 sampai dengan 1521 masehi, jika mengacu kedalam tulisan Amir Sutaarga sejak tahun 1474 – 1513 masehi. Hal tersebut ia cantumkan dalam tulisannya, tentang Prabu Siliwangi atau Ratu Purana Prebu Guru Dewataprana Sri Baduga Maharaja Taru Haji Di Pakwan Pajajaran 1474 – 1513.

Jayadewata sebelum bertahta sebagai raja Pajajaran ia menyandang predikat Putra Mahkota di Kawali dan Prabu Anom di Pakuan, karena ia putra raja Sunda Kawali (Dewa Niskala), dan sekaligus menantu raja Sunda Pakuan (Prabu Susuktunggal).

Didalam Babad Tanah Jawi dijelaskan :

ing tahun 1433 Sang Ratu Dewa iya Raja Purana, ngadegake kutha anyar aran Pakuan. Karajan iki aran Pajajaran. Tulisan kang ana ing watu kono nerangake manawa Sang Prabu yasa segaran. Pajajaran semune krajan rada gedhe lan ngerehake Cirebon barang.

Penulis Carita Parahyangan menujukan keberadaan sebagai pengganti Wastu Kancana. Kisah tersebut menyebutkan pula tentang eksistensinya, sebagai berikut :

Diganti ku Prebu, putra raja pituin, nya eta Sang Ratu Rajadewata, nu hilang di Rancamaya, lilana jadi ratu tilu puluh salapan taun. / Ku lantaran ngajalankeun pamarentahanana ngukuhan purbatisti purbajati, mana henteu kadatangan boh ku musuh badag, boh ku musuh lemes. Tengtrem ayem Beulah Kaler, Kidul, Kulon jeung Wetan, lantaran rasa aman.

Jayadewata memiliki banyak gelar, diantaranya gelar Sri Baduga Maharaja Ratu (H)aji di Pakwan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata. Di Jawa Barat Sri Baduga lebih dikenal dengan nama Prabu Siliwangi. Menurut Pangeran Wangsakerta, : hanya orang Sunda dan orang Cirebon serta semua orang Jawa Barat yang menyebut Prabu Siliwangi raja Pajajaran. Jadi nama itu bukan nama pribadinya.

“Kawalya ta wwang Sunda lawan ika wwang Carbon mwang sakweh ira wwang Jawa Kulwan anyebuta Prabhu Siliwangi raja Pajajaran. Dadyeka dudu ngaran swaraga nira”.

Pemberian nama Siliwangi menurut tradisi lama dikarenakan orang segan (teu wasa) atau tidak sopan (belegug) menyebut nama raja yang dihormatinya sesuai dengan nama sesungguhnya, sehingga juru pantun mempopulerkan sebutan Siliwangi. Nama Siliwangi selanjutnya dikenal pula sebagai tokoh sastra, seperti yang tercatat dalam kropak 630 sebagai lakon pantun, ditulis pada tahun 1518 ketika Sri Baduga masih hidup.

Kisah Prabu Siliwangi dalam berbagai versinya berintikan kisah perjalanan Pamanahrasa atau Siliwangi menjadi raja di Pakuan. Namun memang ada beberapa hal yang perlu ditafsirkan mengingat sangat syarat dengan simbol-simbol, seperti penyebutan Sumedang Larang sebagai muasalnya dan menempatkan Anggalarang sebagai raja di Sumedang Larang.

Alasan lain tentang penyebutan Siliwangi menurut Wangsakerta karena dalam hal kekuasaan ia setingkat dengan Prabu Wangi (Linggabuana) dan Prabu Wangisuta (Wastu Kancana). Di dalam naskah Kertabahumi 1/5 h. 22/23 ditegaskan, :

“Cri Baduga Maharaja atyantakaweh yasa nira ring nagara Sunda. Swabhawa Matangyan sira pramanaran Prabu Ciliwangi mapan sira sumilihaken kacakrawrtyan Sang Prabhu Wangi ya ta sang mokteng Bubat lawan Sang Prabhu Wangisuta ya ta sang mokteng Nusalarang”

(Sri Baduga Maharaja sangat banyak jasanya terhadap negeri Sunda. Kekuasaanya seolah-olah tidak berbeda dengan Sang Prabu Maharaja yang gugur di Bubat. Itulah sebabnya ia digelari Prabu Siliwangi karena menggantikan pemerintahan Sang Prabu Wangi yaitu yang gugur di Bubat dan Sang Prabu Wangisuta yaitu mendiang di Nusa Larang) [RPMSJB, Jilid Keempat, h. 3]

 

Tokoh Cerita Sastra

Jayadewata dalam kapasitasnya sebagai Siliwangi dikenal melalui cerita sastra, baik melalui nyanyian anak-anak yang lengkap dengan kejayaannya di Pajajajaran maupun dalam sirsilah keluarga menak, cerita babad, pantun dan wawacan. Kisah dan kebesaran Siliwangi didalam cerita ini terkenal jauh sebelum ditemukannya prasasti Batu Tulis dan Kebantenan, sehingga penfsiran bahwa sejarah Sunda merupakan rekaan Belanda menjadi tidak beralasan.

Menurut Holle (1867 : 457), didalam naskah kuna yang bernama Siksa Kandang Karesyan menyebutkan beberapa caerita pantun, yaitu Angga Larang, Babakcatra, Siliwangi dan Haturwangi. Naskah ini diberi candra sangkala nora catur sagara wulan atau sama dengan angka 1440 Saka atau tahun 1518 masehi. (Sutaarga, 1966 : 15). Naskah dan candra sangkala ini menunjukan, penokohan Siliwangi sudah dilakukan ketika masa Siliwangi masih jumeneng. Namun sayangnya, cerita-cerita pantun yang judulnya tercantum dalam naskah Siksa Kandang Karesyan tersebut saat ini tidak lagi ditemukan, kecuali hanya berupa cerita Pantun, itu pun hampir punah ditelan jaman.

Tentang biografi Siliwangi sampai saat ini baru ditemukan beberapa naskah yang disimpan di Museum Pusat – Jakarta yang ditulis pada pertengahan abad 19, yakni Babad Pajajaran lima jilid yang ditulis dalam bahasa dan tulisan jawa dari pertengahan abad 19 dan naskah Ceritera Prabu Anggalarang yang ditulis dalam bahasa latin, berasal dari Ciamis.

Amir Sutaarga (1966 : 17) secara singkat menguraikan tentang wawacan dan naskah-naskah tersebut, namun tidak dapat ditampilkan dalam bahasan ini, mengingat pada panjangnya tulisan tersebut. Judul tulisan yang tertera dalam buku itu berjudul (1) Ceritera Prabu Anggalarang ; (2) Babad Siliwangi ; (3) Babad Pajajaran dan (4) Wawacan Cariosan Prabu Siliwangi. (ibid, hal 22).

Kesejarahan Siliwangi dari Ceritra, Wawacan dan Babad dapat disimpulkan, sebagai berikut : (1) Prabu Siliwangi putra Prabu Wangi atau Prabu Anggalarang (2) Prabu Siliwangi telah mengalami kisah hidup dan keprihatinan (3) Prabu Siliwangu dianggap berparas elok dan berwatak baik (4) Prabu Siliwangi banyak melakukan peperangan dan perkawinan politis sehingga dapat mengkonsolidasikan Pajajaran (5) Prabu Siliwangi tidak menggantikan langsung Prabu Anggalarang, melainkan melalui kepala pemerintahan perantara [mungkin juga istilahnya raja panyelang] (6) Prabu Siliwangi didalam wawacan Sulanjana dijadikan mitos padi dan lambang kesuburan di Sunda.

Penyusunan naskah babad, wawacan dan karya sastra yang dibuat pada jaman dan daerah yang berbeda tentunya juga akan sangat berpengaruh terhadap munculnya perbedaan dalam menyusun sirsilah Siliwangi. Seperti nampak perbedaan sirsilah yang dimuat dalam Babad Pajajaran dan Babad Galuh. Tidak heran jika dikemudian hari muncul perdebatan tentang siapa Siliwang tersebut, bahkan sulit dibedakan antara Prabu Wangi ; Prabu Wangisuta ; dan Prabu Siliwangi sendiri.

Banyak para menak jaman baheula yang menyusun sirsilah keluarganya dengan mengaitkan nama Siliwangi. Hal ini mudah di pahami mengingat Siliwangi memiliki banyak keturunan, dari istri-istri putri para penguasa daerah. Selain hal tersebut, terutama hubungannya dengan masalah politik, pada jaman Belanda siapapun yang dapat menjadi penguasa daerah (bupati) di tatar Sunda haruslah berdarah biru, keturunan menak Pajajaran, alias keturunan Prabu Siliwangi. Salah satu contoh sirsilah ini dimuat didalam Kropak 421, salah satu cuplikannya, sebagai berikut :

Punika Prabu Siliwangi, Puputra Mundingsari Ageung, / Puputra Mundingsari Leutik, / Puputra Raden Panglurah, / Puputra Sunan Dampal, / Puputra Sunan Genteng, / Puputra Wanaperih, / Puputra Sunan Ciptarengga, / Puputra Satonga Asta, / Puputra Eyang Wargasita / Saderekna Ki Enjot Nayawangsa, / Ki Entol Panji, / Sadulurna Nyi Asta, / Ki Dipati Talaga, / Ki Arya Saringringan, / Ki Mas Yudamardawa, / Ki Mas Badapati, / Ki Mas Wangsakusumah / ……. (Sudarsa dan Edi : 2006).

Sirsilah Prabu Siliwangi saat ini banyak merujuk dan menggabungkan pada naskah Carita Parahyangan ; Pararathon (Brandes 1920 : 36-37) dan Sejarah Banten (Djajadiningrat 1913 : 90 dan 1318). Ketiga naskah tersebut bertolak dari masa perang bubat (1279 saka/1357M) sampai dengan burakna Pajajaran (1501 saka/1579 M). Sirsilah tersebut telah beberapa kali di uji coba melalui cara membandingkan dengan prasasti yang ditemukan. Menurut Amir Sutaarga (1966), sirsilah tersebut, sebagai berikut :

1    1350 – 1357   Prabu Maharaja

2    1357 – 1363   Masa Peralihan Hyang Bunisora

3    1363 – 1467   Prabu Niskala Wastu Kancana

4    1467 – 1474   Rahiyang Dewa Niskala

5    1474 – 1513   Sri Baduga Maharaja

6    1513 – 1527   Prabu Surawisesa

7    1527 – 1535   Prabu Ratu Dewata

8    1535 – 1543   Sang Ratu Saksi

9    1543 – 1559   Prabu Ratu Carita

10  1559 – 1579   Nu Sia Mulya atau Prabu Seda

 

Memindahkan Ibukota

Jayadewata sampai pada tahun 1482 masih memusatkan kegiatan pemerintahannya di Kawali. Bisa disebut bahwa tahun 1333 – 1482 adalah Jaman Sunda Kawali, selanjutnya pemerintahan di pindahkan ke Pakuan, bertepatan dengan diistrenannya Jayadewata sebagai raja Sunda di Pakuan.

Khusus kekuasaannya di Pakuan, jika mengacu kedalam tulisan Amir Sutaarga sejak tahun 1474 – 1513 masehi. Hal tersebut ia cantumkan dalam tulisannya, tentang Prabu Siliwangi atau Ratu Purana Prebu Guru Dewataprana Sri Baduga Maharaja Taru Haji Di Pakwan Pajajaran 1474 – 1513.

Pajajaran pada masa Jayadewata memiliki luas melebihi luas jawa barat sekarang. Menurut naskah Bujangga Manik sampai ke tungtung Sunda (Tegal, Cipamali) dan daerah Banyumas (Pasir Luhur) atau bekas kerajaan Pasir.

Pada masa itu Raden Banyakcatra, atau Kamandaka, putra Siliwangi diangkat mantu oleh raja Pasir dan menurunkan raja-raja Pasir. Hal ini dapat dibuktikan dari babad Pasir (Kenbel, 1900), namun sekarang nama-nama yang berkonotasi Sunda sudah mulai berubah, dan berangsur-angsur diganti dengan kata-kata Jawa.

Dalam prasasti Batutulis diberitakan bahwa Sri Baduga dinobatkan dua kali. Penobatan yang pertama dilakukan ketika menerima Tahta Galuh dari ayahnya, Prabu Dewa Niskala, kemudian bergelar Prabu Guru Dewataprana, kedua ketika ia menerima tahta Kerajaan Sunda dari mertuanya, Prabu Susuktunggal. Adanya peristiwa demikian menyebabkan ia secara praktis menguasai seluruh tatar Sunda dan dinobatkan dengar gelar Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata.

Urang Sunda sering pacaruk untuk membedakan Prabu Siliwangi dengan Prabu Wangi atau Prabu Maharaja Lingga Buana yang gugur di Bubat. Urang Sunda tidak memperhatikan perbedaan ini sehingga menganggap Prabu Siliwangi sebagai putera Wastu Kancana.

Di dalam Carita Parahiyangan disebutkan bahwa Niskala Wastu Kancana itu adalah ‘seuweu’ Prabu Wangi atau putra Prabu Wangi, sedangkan Sri Baduga atau Siliwangi adalah putra Wastu Kancana. Mengapa Dewa Niskala, ayah Sri Baduga dilewati ?. Padahal ia pun dikisahkan di dalamnya. Hal ini dikarenakan Dewa Niskala hanya menjadi penguasa Galuh, sedangkan Sri Baduga memiliki kekuasaan yang sama dengan Wastu Kancana, dengan demikian maka Sri Baduga dianggap sebagai penerus langsung dari tahta Wastu Kancana.

Alasan diatas dikemukakan juga di dalam Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara II/4, bahwa : ayah dan mertua Sri Baduga (Dewa Niskala dan Susuktunggal) hanya bergelar Prabu, sedangkan Jayadewata bergelar Maharaja, sama seperti kakeknya, Wastu Kancana sebagai penguasa Sunda-Galuh.

Didalam membahas tentang Prabu Siliwangi Amir Sutaarga (1965) mengutarakan, Sri Baduga dianggap sebagai “silih” (pengganti) Prabu Wangi Wastu Kancana (oleh Pangeran Wangsakerta disebut Prabu Wangisutah). “Silih” dalam pengertian kekuasaan ini oleh para pujangga babad yang kemudian ditanggapi sebagai pergantian generasi langsung dari ayah kepada anak sehingga Prabu Siliwangi dianggap putera Wastu Kancana.

Pada masa pemerintahan Sri Baduga kerajaan Pajajaran mencapai masa keemasan. Penulis Carita Parahyangan menjelaskan sebab-sebabnya, yakni :

“Purbatisi purbajati, mana mo kadatangan ku musuh ganal musuh alit. Suka kreta tang lor kidul kulon wetan kena kreta rasa. Tan kreta ja lakibi dina urang reya, ja loba di sanghiyang siksa” (disebabkan melaksanakan pemerintahan yang berdasarkan purbatisti purbajati, tidak pernah kedatangan musuh kuat atau musuh halus. Tentram disebelah utara, selatan, barat dan timur).

Tentang Sri Baduga didapatkan pula berita dari naskah luar, seperti yang dicatat oleh Tome Pires yang ikut dalam perjanjian antara Pajajaran dengan Portugis. Ia mencatat kemajuan jaman Sri Baduga dengan komentar : “The Kingdom of Sunda is justly governed; they are true men” (Kerajaan Sunda diperintah dengan adil; mereka adalah orang-orang jujur). Juga diberitakan kegiatan perdagangan Sunda dengan Malaka sampai ke kepulauan Maladewa (Maladiven). Jumlah merica bisa mencapai 1000 bahar (1 bahar = 3 pikul) setahun, bahkan hasil tammarin (asem) dikatakannya cukup untuk mengisi muatan 1000 kapal.

Selain laporan tersebut, didalam Naskah Kitab Waruga Jagat dari Sumedang dan Pancakaki Masalah Karuhun Kabeh dari Ciamis yang ditulis dalam abad ke-18, ditulis dalam bahasa Jawa dan huruf Arab, pegon masih menyebut masa pemerintahan Sri Baduga ini dengan masa Gemuh Pakuan (kemakmuran Pakuan) sehingga tak mengherankan bila Sri Baduga diabadikan kebesarannya oleh para penggantinya dan rakyat Sunda dari masa kemasa.

Tentang kesuburan Pajajaran pada masa Siliwangi dilantunkan Ki Baju Rombeng seorang Juru Pantun dari Bogor Selatan, yang hidup pada awal ke 20 menuturkan :

Talang tulung keur Pajajaran / jaman aya keneh kuwarabekti / jaman guru bumi di pusti-pusti / jaman leuit tangtu eusina metu / euweuh nu tani mudu ngijon / euweuh nu tani nandonkeun karang / euweuh nu tan paeh ku jengkel / euweuh nu tani modar ku lapar.

(masih mending waktu Pajajaran / ketika masih ada kuwarabekti / ketika guru bumi dipuja-puja / ketika lumbung padi melimpah ruah / tiada petani perlu mengijon / tiada petani harus mati kelaparan / tiada petani harus mati karena kesal / tiada hatus petani mati karena lapar). (***)

 

KEJAYAAN PAKUAN

Pajajaran pada masa pemerintahan Sri Baduga Maharaja mengalami masa keemasan. Alasan ini pula yang banyak diingat dan dituturkan masyarakat Jawa Barat, seolah-olah Sri Baduga atau Siliwangi adalah raja yang tak pernah purna, senantiasa hidup abadi dihati dan pikiran masyarakat.

Pembangunan Pajajaran di masa Sri Baduga menyangkut seluruh aspek kehidupan. Tentang pembangunan spiritual dikisahkan dalam Carita Parahyangan, yakni menjalankan nilai-nilai Purbatisti – Purbajati.

“Purbatisi purbajati, mana mo kadatangan ku musuh ganal musuh alit. Suka kreta tang lor kidul kulon wetan kena kreta rasa. Tan kreta ja lakibi dina urang reya, ja loba di sanghiyang siksa”.

Hal ini sejalan dengan tulisan Tome Pires didalam The Suma Oriental, tentang The Kingdom of Sunda is justly geverned – Raja Sunda memerintah secara adil.

Mahakarya dari Sri Baduga diuraikan pula di dalam naskah Pustaka Kertabumi I/2. Naskah versi Cirebon ini menyebutkan, bahwa :

Sang Maharaja membuat karya besar, yaitu ; membuat talaga besar yang bernama Maharena Wijaya, membuat jalan yang menuju ke ibukota Pakuan dan Wanagiri. Ia memperteguh (pertahanan) ibu kota, memberikan desa perdikan kepada semua pendeta dan pengikutnya untuk menggairahkan kegiatan agama yang menjadi penuntun kehidupan rakyat. Kemudian membuat Kabinihajian (kaputren), kesatriaan (asrama prajurit), pagelaran (bermacam-macam formasi tempur), pamingtonan (tempat pertunjukan), memperkuat angkatan perang, mengatur pemungutan upeti dari raja-raja bawahan dan menyusun undang-undang kerajaan. (RPMSJB, Jilid keempat, hal. 9).

Pembangunan yang bersifat material tersebut terlacak pula didalam Prasasti Kabantenan dan Batutulis, di kisahkan para Juru Pantun dan penulis Babad, saat ini masih bisa terjejaki, namun tak kurang yang musnah termakan jaman.

Dari kedua Prasasti serta Cerita Pantun dan Kisah-kisah Babad tersebut diketahui bahwa Sri Baduga telah memerintahkan untuk membuat wilayah perdikan ; membuat Talaga Maharena Wijaya ; memperteguh ibu kota ; membuat Kabinihajian, kesatriaan, pagelaran, pamingtonan, memperkuat angkatan perang, mengatur pemungutan upeti dari raja-raja bawahan dan menyusun undang-undang kerajaan.

 

Pendidikan

Pembangunan yang berhubungan dengan Pendidikan pada dasarnya memadukan pembangunan watak (jati diri) dan kesejahteraan umum. Hal ini dituliskan di dalam Prasasti Kabantenan yang dibuat atas perintah langsung Sri Baduga. Saat ini baru ditemukan 4 buah keputusan yang tertera didalam 5 lempeng tembaga. Keputusan tersebut menyangkut masalah penentuan batas Kabuyutan dan pembebasan pajak (RPMSJB, Jilid keempat, hal. 4).

Menurut Holle, isi ringkasnya dapat diutarakan sebagai berikut :

Prasasti 1 Penetapan batas lemah dasawasasana (tanah kabuyutan) di Sundasembawa

Prasasti 3–4 Penetapan batas dayeuh Jayagiri dan dayeuh Sunda Sembawa dan keputusan pembebasan pajak ;

Prasasti 5 Pengukuhan status lemah dasawasasana di Sunda Sembawa.

Prasasti 1, 2 dan 5 berupa piteket (keputusan langsung), sedangkan Prasasti 3 dan 4 berisi tentang sakakala (tanda peringatan). Khusus untuk Prasasti 3, 4, 5 akan dibahas tersendiri mengingat para akhli menganggap prasasti ini mencerminkan tentang kepribadian Sri Baduga.

Prasasti 3 dan 4 menjelaskan :

//o// ong awignamastu, nihan sakakala ; rahyang nikala wastu kancana pun, turunka rahyang ningrat kancana, maka nguni ka susuhunan ayeuna di pakuan pajajaran pun mulah mo mihape

Dayeuhan di jayagiri, deung dayeuhan di su(n)da sembawa, aya ma nu ngabayuan inya, ulah dek ngaheuryan inya, ku na dasa, calagara, kapas timbang, pare dondang, mang(k)a ditudi(ng) ka para muhara, mulah dek men –

Taan inya beya pun, kena inya nu purah ngabuhaya, mibuhayakeunna ka caritaan pun, nu pageuh ngawakan na dewasanana //o//

Terjemaahan :

Semoga selamat. Ini tanda peringatan bagi Rahyang niskala Wastu Kancana. Turun kepada Rahyang Ningrat Kancana, maka selanjutnya kepada Susuhunan sekarang di Pakuan Pajajaran. Menitipkan ibukota di Jayagiri dan ibukota di Sunda Sembawa. Semoga ada yang mengurusnya. Jangan memberatkannya dengan dasa, calagra, kapas timbang, dan pare dongdang. Maka diperintahkan kepada para petugas muara agar jangan memungut bea. Karena merekalah yang selalu berbakti dan membaktikan diri kepada ajaran agama. Mereka yang teguh mengamalkan hukum-hukum dewa.

 

Prasasti 5

Ini piteket nu seba ka papajaran, miteketan ka kabuyuran di sun(n)da

sembawa, aya ma nu ngabayuan, mulah aya numunah-munah inya nu ngaheureuyan

lamu aya nu kadeu paambahan lurah sunda sembawa eta lurah kawikwan.

Terjemahan :

Ini piagam (dari) yang pindah ke Pajajaran. Memberikan piagam kepada kabuyutan di Sunda Sembawa. Semoga ada yang mengurusnya. Jangan ada yang menghapus atau mengganggu nya. Bila ada yang bersikeras menginjaknya daerah Sunda Sembawa aku perintahkan agar di bunuh karena tempat itu daerah kediaman para pendeta.

Jika dicermati peringatan yang tertera dalam Prasasti 3 dan 4 tersebut akan nampak adanya amanat dari Wastu Kancana kepada Susuhanan Pajajaran (Sri Baduga) yang disampaikan melalui Ningrat Kancana, untuk mengurus wilayah Jayagiri dan Sunda Sembawa. Jika dihubungkan dengan Prasasti 1 akan diketahui bahwa di daerah Jayagiri dan Sunda Sembawa terdapat batas antara Kota dan Kabuyutuan. Sunda Sembawa didalam sejarah awal merupakan daerah asal Terusbawa, cikal bakal raja-raja Sunda. Di daerah tersebut pernah pula dijadikan ibukota Tarumanagara pada masa Purnawarman.

Kabuyutan atau Dawasasana dikelola oleh kelompok wiku, mereka mengurus keagamaan, kesejahteraan raja, negara dan penduduk. Wilayah para wiku di dalam prasasti 1 disebut lemah larangan, yakni daerah otonom atau semacam perdikan, dikepalai oleh Lurah Kawikwan (Kawikuan). Dalam prasasti 5 ditegaskan pula bahwa siapapun yang memasuki lemah larangan tanpa ijin akan dijatuhi hukuman mati.

Disekitar lemah larangan terdapat sangga, yaitu penduduk yang mendukung keberadaan dan ngabayuan (menghidupi) Kabuyutan. Sangga dimaksud dalam prasasti ini dimungkinkan berada di dalam wilayah Sunda Sembawa dan Jayagiri. Dengan demikian di Jayagiri dan Sunda Sembawa terdapat Lemah Rangan dan Sangga.

Sri Baduga di dalam prasasti 3 dan 4 memerintahkan agar penduduk di kedua dayeuh ini dibebaskan dari 4 macam pajak, yaitu dasa (pajak tenaga perorangan), calagra (pajak tenaga kolektif), kapas timbang (kapas 10 pikul) upeti dan pare dongdang (padi 1 gotongan). Urutan pajak tersebut didalam kropak 630 adalah dasa, calagra, upeti, dan panggeureus reuma, sedangkan petugas pajak disebut Pangurang.

Pare dongdang disebut panggeres reuma. Panggeres adalah hasil lebih atau hasil cuma-cuma tanpa usaha, sedangkan Reuma adalah bekas ladang. Memang contoh untuk panggeres reuma saat ini sudah tidak ada, yang dimaksud adalah padi yang tumbuh terlambat (turiang) di bekas ladang setelah dipanen, kemudian ditinggalkan karena petani membuka ladang baru. Didalam keyakinan masyarakat Sunda dimasa lalu, hasil tanah demikian milik lelembut, karena tidak ada yang mengurusnya, namun pelaksanaan panennya diwakilkan menjadi hak milik raja, sehingga padi yang tumbuh demkian selanjutnya menjadi hak raja atau penguasa setempat.

Dongdang adalah alat pikul seperti tempat tidur persegi empat yang diberi tali atau tangkai berlubang untuk memasukan pikulan. Dongdang harus selalu di gotong. Karena bertali atau bertangkai, waktu digotong selalu berayun sehingga disebut dongdang (berayun). Dongdang biasanya digunakan untuk membawa barang antaran pada selamatan atau arak-arakan. Oleh karena itu, pare dongdang atau penggeres reuma lebih bersifat barang antaran.

Kewajiban yang benar-benar harus ditunaikan adalah pajak tenaga atau dasa dan calagra, di Majapahit disebut walaghara atau pasukan kerja bakti. Didalam memenuhi dasa dan calagra dilakukan untuk kepentingan raja, diantaranya tugas untuk menangkap ikan, berburu, memelihara saluran air (ngikis), bekerja di ladang atau di serang ageung atau ladang kerajaan yang hasil padinya di peruntukkan bagi upacara resmi.

Sistem dasa dan calagara masih diteruskan pada masa para Bupati Belanda. Pada masa itu wilayah Jawa Barat sudah diserahkan Mataram kepada Belanda. Sedangkan kekuasaan Mataram di Jawa Barat didapatkan, karena adanya penyerahan begitu saja oleh Suradiwangsa kepada Sultan Agung, raja Sumedang Larang, pengganti Prabu Geusan Ulun. Sistim ini sebagai bentuk simbiosa mutualisma para Bupati dalam mempertahankan batas wilayah kekuasannya dengan kepentingan Belanda yang membutuhkan hasil bumi, konon wilayah Jawa Barat merupakan penghasil kopi terbaik. Padahal di negara Belanda sendiri tidak mengenal sistem semacam ini. Belanda memanfaatkan sistim ini untuk kerja rodi. Bentuk dasa diubah menjadi Heerendiensten, yakni bekerja di tanah milik penguasa atau pembesar yang memang bertujuan untuk kepentingan Belanda dan pribadi para bupati, bukan untuk kepentingan umum seperti pada masa Sri Baduga.

Disamping pajak ada pula yang disebut beya (restribusi) yang dipungut di pelabuhan, muara sungai, tempat penyebrangan dan tempat-tempat lainnya. Didalam Prasasti 3 dan 4 penduduk Sunda Sembawa dan Jayagiri dibebaskan dari seluruh pajak dan restribusi. Hal ini berkaitan dengan tugasnya untuk mengurus kabuyutan yang terletak di keua perbatasan Jayagiri dan Sunda Sembawa.

Dalam kaitan ini dapat dipahami, dengan memajukan lemah larangan atau lurah kawikwan (kawikuan), Sri Baduga memajukan pula pendidikan bagi semua kalangan melalui lembaga – lembaga binayapanti yang ada didaerah tersebut. Binayapanti yang dimaksud adalah tempat belajar atau pesantren yang ada di lemah larangan atau kabuyutan. Sama halnya dengan Kabuyutan yang dikembangkan oleh Prabu Darmasiksa dimasa lalu.

Didalam membahas Kabuyutan memang seolah-olah ada beberapa perbedaan fungsi, terutama antara Kabuyutan yang dikisahkan di Galunggung, Kanekes, Sukabumi (prasasti Cibadak) dan Sunda Sembawa. Fungsi kabuyutan Sunda Sembawa dan Jayagiri adalah Kabuyutan lemah Dawasasana yang berhubungan dengan dewa-dewa. Sedangkan Kabuyutan di Kanekes, atau Sasakadomas adalah Kabuyutan Jati Sunda atau Kabuyutan Parahyangan yang berhubungan dengan para leluhur. (RPMSJB, Jilid ke 4, hal. 6).

Masyarakat Sunda pada masa Pajajaran memiliki hirarki pemerintahan yang jelas. Hirarki tersebut merupakan satu kesatuan antara manusia dengan Hiyang, sehingga dapat diketahui juga tentang tingkatan Kabuyutan. Tingkatan tersebut, yakni : Wado tunduk kepada Mantri ; Mantri tunduk kepada Nanganan ; Nanganan tunduk kepada Mangkubumi ; Mangkubumi tunduk kepada Raja ; Raja tunduk kepada Dewa ; Dewa tunduk kepada Hyang.

 

Sumber dari Prasasti Batu Tulis

Karya Sri Baduga tercantum pula didalam Prasasti Batu tulis yang dibuat pada masa Surawisesa pada tahun 1455 saka atau 1533 masehi. Prasasti tersebut menerangkan sebagai berikut :

++ Wang na pun ini sakakala, prebu ratu purane pun, diwastu diya wingaran prebuguru dewataprana diwastu diya dingaran sri baduga maharaja ratu haji pakwan pajajaran sri sang ratu dewata pun ya nu nyusuk na pakwan diya anak rahyang dewa niskala sa(ng) sidamoksa di gunatiga i(n)cu rahyang niskala wastu ka(n)cana sa(ng) sidamokta ka nusalarang, ya siya nu nyiyan sakakala ngabalay nyiyan samida, nyiyan sanghyang talaga rena mahawijaya, ya siyapun ++ i saka. Panca pandawa e(m)bau bumi ++

Terjemahan :

Semoga selamat. Ini tanda peringatan bagi prabu ratu suwargi. Ia dinobatkan dengan gelar Prabuguru Dewataprana ; dinobatkan (lagi) ia dengan gelar Sri Baduga Maharaja ratu penguasa di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata. Dialah yang membuat parit (pertahanan) di Pakuan. Dia anak Rahiyang Dewa Niskala yang mendiang di Gunatiga, cucu Rahiyang Niskala Wastu Kancana yang mendiang di Nusalarang. / Dialah yang membuat tanda peringatan berupa gunung-gunungan, mengeraskan jalan dengan batu membuat (hutan) samida, membuat telaga Rena Mahawijaya. Ya dialah (yang membuat semua itu). / dibuat dalam tahun Saka lima pandawa pengasuh bumi (1455).

Prasasti tersebut menunjukan adanya karya Sri Baduga, yakni membuat parit pertahanan ; gunung-gunungan ; mengeraskan jalan dengan batu membuat hutan samida ; dan membuat telaga Rena Mahawijaya. Namun dakam hal ini penulis hanya akan menyajikan beberapa saja.

 

Parit Pertahanan

Arti kata nyusuk lebih sering diterjemaahkan sebagai membuat Parit. Hal yang sama dilakukan oleh Tarusbawa, Banga, Hyang Batari dan Niskala Wastu Kancana yang tercantum didalam naskah maupun prasasti (Galunggung dan Batutulis). Parit ini kelak akan dicoba ketangguhannya dalam beberapa kali menghadapi serangan Banten. Konon benteng tersebut hanya dapat dijebol setelah ada pengkhianatan yang membuka pintu benteng dari dalam.

Parit yang dibangun Sri Baduga bertujuan untuk melindungi Sri Bima. Kota Pakuan dikelilingi oleh benteng alam berupa tebing-tebing sungai yang terjal di ketiga sisinya. Hanya bagian tenggara batas kota tersebut berlahan datar. Pada bagian ini pula ditemukan sisa benteng kota yang paling besar. Penduduk Lawang Gintung yang diwawancara Pleyte menyebut sisa benteng ini Kuta Maneuh.

Hampir semua peneliti berpedoman pada laporan Kapiten Winkler yang berkunjung ke Batutulis pada tanggal 14 Juni 1690. Kunci laporan Winkler tidak pada sebuah hoff (istana) yang digunakan untuk situs prasasti, melainkan pada kata paseban dengan 7 batang beringin pada lokasi Gang Amil. Sebelum diperbaiki, Gang Amil ini memang bernuansa kuno dan pada pinggir-pinggirnya banyak ditemukan batu-batu bekas balay yang lama.

Penelitian lanjutan membuktian bahwa benteng Kota Pakuan meliputi daerah Lawang Saketeng yang pernah dipertanyakan Pleyte. Menurut Coolsma, Lawang Saketeng berarti porte brisee, bewaakte in-en uitgang (pintu gerbang lipat yang dijaga dalam dan luarnya). Kampung Lawang Saketeng tidak terletak tepat pada bekas lokasi gerbang. 

Benteng pada tempat ini terletak pada tepi Kampung Cincaw yang menurun terjal ke ujung lembah Cipakancilan, kemudian bersambung dengan tebing Gang Beton di sebelah Bioskop Rangga Gading. Setelah menyilang di jalan Suryakencana, membelok ke tenggara sejajar dengan jalan tersebut. Deretan pertokoan antara jalan Suryakencana dengan jalan Roda di bagian in sampai ke Gardu Tinggi, bekas pondasi benteng. Selanjutnya benteng tersebut mengikuti puncak lembah Ciliwung.

Deretan kios dekat simpangan jalan Siliwangi – jalan Batutulis juga didirikan pada bekas fondasi benteng. Di bagian ini benteng tersebut bertemu dengan benteng Kota Dalam yang membentang sampai ke Jero Kuta Wetan dan Dereded. Benteng luar berlanjut sepanjang puncak lereng Ciliwung melewati kompleks perkantoran PDAM, lalu menyilang jalan Raya Pajajaran, pada perbatasan kota, membelok lurus ke barat daya menembus jalan Siliwangi, di sini dahulu terdapat gerbang, terus memanjang sampai Kampung Lawang Gintung.

Di Kampung Lawang Gintung, benteng ini bersambung dengan benteng alam yaitu puncak tebing Cipaku yang curam sampai di lokasi Stasiun Kereta Api Batutulis. Dari sini, batas Kota Pakuan membentang sepanjang jalur rel kereta api sampai di tebing Cipakancilan setelah melewati lokasi Jembatan Bondongan. Tebing Cipakancilan memisahkan ujung benteng dengan benteng pada tebing Kampung Cincaw.

 

Sakakala Gugunungan

Sakakala Gugunungan dimaksud merupakan tanda peringatan berupa gunung-gunungan yang letaknya diperkirakan terdapat di Badigul Rancamaya. Bukit Badigul memperoleh namanya dari penduduk karena penampakannya yang unik. Sebelum tahun 1984 bukit tersebut hampir gersang dan berbentuk seperti parabola dan tampak seperti wajan terbalik. Bukit-bukit disekitarnya tampak subur. Badigul hanya ditumbuhi jenis rumput tertentu. Mudah diduga bukit ini dulu dikerok sampai mencapai bentuk parabola.

Badigul dimungkinan waktu itu dijadikan Bukit Punden tempat berziarah, sama dengan yang dimaksud dalam rajah Waruga Pakuan dengan Sanghiyang Padungkulan.

Kedekatan telaga (diperkirakan di Rancamaya) dengan bukit punden bukanlah tradisi baru. Pada masa Purnawarman, raja beserta para pembesar Tarumanagara selalu melakukan upacara mandi suci di Gangganadi, Setu Gangga yang terletak dalam istana Kerajaan Indraprahasta – Cirebon Girang. Setelah bermandi suci, raja melakukan ziarah ke punden-punden yang terletak dekat sungai.

 

Jalan Berbatu.

Jalan berbatuan pernah ditemukan oleh regu ekspedisi Scipio pada tahun 1687, terletakdiantara Bogor dan Rancamaya. Hal yang sama ditemukan pula oleh Winkler (1690), tidak jauh dari prasasti ditemukan jalan berbatuan yang rapi menuju kearah Paseban dan ditandai oleh tujuh pohon beringin. Disebelah jalan tersebut diperkirakan bekas berdirinya Sri Bima. (RPMSJB, Jilid keempat, hal. 8).

Menurut Sutaarga (1966), kearah Pakuan Pajajaran dibuat jalan-jalan besar yang dapat dilalui gerobak-gerobak, Beberapa kilometer kearah utara Muaraberes di kali Ciliwung dan Ciampea masih ada bekas-bekas dermaga. Posisi ini berada disebelah barat dari Pakuan. Di Kali Cisadane semestinya dapat ditemukan bekas-bekas peninggalan dermaga atau sistim pertahanan, karena kedua tempat itu merupakan batas sungai yang dapat dilayari sampai ke muara Laut Jawa, pintu gerbang menuju pedalaman.

Dari Pakuan ada sebuah jalan yang dapat melalui Cileungsi atau Cibarusa, Warunggede, Tanjungpura, Karawang, Cikao, Purwa karta, Sagalaherang, terus ske Sumedang, Tomo, Sindangkasih, Rajagaluh, Talaga Kawali dan ke pusat kerajaan Galuh Pakuan disekitar Ciamis dan Bojong Galuh. (Mungkin semacam jalan tol).

 

Samida

Samida adalah hutan yang kayunya di gunakan untuk pembakaran jenasah. Jenis kayu ini hampir sama dengan cemara dan pinus yang mudah terbakar. Hutan ini diperkirakan terletak diluar Pakuan dan berada di perbukitan. Jenis kayu demikian biasanya tumbuh didataran tinggi dan bercuaca dingin, sehingga dimungkiknkan tumbuh subur di wilayah Bogor.

 

Telaga Rena Mahawijaya

Winkler pada abad ke 17 dalam penelitiannya tidak menemukan bekas telaga tersebut, dimungkinkan telah jebol pasca serangan Banten, atau memang telah hancur karena bencana alam. Kesulitan menemukan telaga ini berakibat banyaknya dugaan-dugaan.

Pleyte menyebutkan, bahwa telaga yang dimaksud adalah kolam tua di Kotabatu, terletak lima kilo meter sebelah barat daya Pakuan. Sebelumnya ditemukan banyak patung disana, kemudian oleh Friederich dipindahkan ke kebon raya, namun luas kolam tersebut tidak memenuhi syarat jika disebutkan sebagai telaga. Pada masa sesudahnya, Poerbacaraka (1921) menyebutkan, bahwa yang dimaksud Telaga Rena Wijaya tersebut adalah Telaga Warna yang terletak di daerah puncak. Dugaan tersebut tidak beralasan, mengingat di dalam Bujangga Manik, sekitar tahun 1473 – 1478 ia pernah berhenti di dekat Talagawarna dana masih tetap utuh. Kisah Bujangga Manik tersebut menyebutkan, sebagai berikut :

Sananyjak aing ka Bangis, / Ku ngaing geus / aleumpang, / Nepi ka Talaga Hening, / Ngahusir aing ka Peusing.

Menurut Suhamir Salmun telaga ini terletak pada aliran Ciliwung. Namun para petutur Pantun mengisahkan, bahwa : “telaga yang berada pada aliran Ciliwung disebut Kamalawijaya (kamala = air), sedangkan yang berada di Rancamaya disebut Rena Wijaya. Istilah Rena Wijaya menjadi Rancamaya disebabkan lidah urang sunda yang lebih familir menyebutkan Ranca ketimbang menyebutkan Rena. Hal ini dianggap sejalan dengan naskah Carita Parahyangan, yang menyatakan Rancamaya pernah disaeuran (di bandung) oleh Sang Haluwesi, adik Susuktunggal. (RPMSJB, Jilid Keempat, hal.8) 

Menurut Amir Sutaarga (1966), danau buatan tersebut menahan air sungai Ciliwung dari Bantar Peuteuy sampai dengan Babakan Pilar. Jika dilihat dari ketinggian air mancur (tugu, pilar), dari sisi jalan raya Jakarta – Bogor (bukan dari jalan tol), kemudian turun kebawah menuruni Sungai Ciliwung, maka akan nampak adanya penyempitan pada tepi sungai ini, dan dasar pada sungai ini jatuh dibawah masih kelihatan penumpukan batu-batu kali yang besar.

Sutaarga menggambarkan keadaan tersebut setelah terinspirasi dari informasi juru pantun Bogor :

Inyana laju nindak deui / ka leuwi Kipatahunan / anu kiwari disarebutna / Sipatahunan atawa Cipatahunan / nu aya di talaga panjang / nu ngaran Talaga Kamala Rena Wijaya / anu kiwari mah ngan kari urut / nyanghulu ka Bantar Peuteuy / nunjangna ka Babakan Pilar. (ia kemudian pergi lagi / ke lubuk Kipatahunan / yang sekarang disebut orang / Sipatahunan atau Cipatahunan / yang adanya di Telaga Kemala Rena Wijaya / yang sekarang hanya tinggal bekasnya / beruhulu ke Bantar Peuteuy / ujung kakinya pada Babakan Pilar). 

Bila diteliti keadaan sawah di Rancamaya sebelum dijadikan real estate, dapat diperkirakan bahwa dulu telaga itu membentang dari hulu Cirancamaya sampai ke kaki bukit Badigul di sebelah utara jalan lama yang mengitarinya dan berseberangan dengan Kampung Bojong. Sebelum tahun 1966, di sisi utara lapang bola Rancamaya, merupakan tepi telaga yang bersambung dengan kaki bukit. 

Alasan lainnya, kedekatan Cirancamaya dengan Badigul melambangkan adanya kesatuan Sunda dengan Galuh, yakni Cirancamaya dilambangkan sebagai urang Galuh (air) sedangkan gunung Badigul dilambangkan sebagai urang Sunda (gunung). 

Sri Baduga disebut Sang Lumahing (Sang Mokteng) di Rancamaya karena ia dipusarakan di Rancamaya, sehingga Rancamaya dianggap memiliki nilai yang tersendiri. Rancamaya terletak kira-kira 7 Km di sebelah tenggara Kota Bogor. Rancamaya memiliki mata air yang sangat jernih. Tahun 1960-an di hulu Cirancamaya ini ada sebuah situs makam kuno dengan pelataran berjari-jari 7.5 m tertutup hamparan rumput halus dan dikelilingi rumpun bambu setengah lingkaran. Dekat makam itu terdapat Pohon Hampelas Badak setinggi 25 meter dan pohon beringin.

Dewasa ini seluruh situs sudah dihancurkan, bahkan sudah dirikan Real Estate. Konon surat keputusan tentang Cagar Budaya tidak mampu menahan laju pembangunan – Pre Historis, namun pernah di dalamnya ditambah sebuah kuburan baru, lalu makam kunonya diganti dengan bata pelesteran, ditambah bak kecil untuk peziarah dengan dinding yang dihiasi huruf Arab. Makam yang dikenal sebagai makam Embah Punjung ini mungkin sudah dipopulerkan orang sebagai Makam Wali, sama seperti kuburan Embah Jepra pendiri Kampung Paledang yang terdapat di Kebun Raya, disebut sebagai makam Raja Galuh. Mungkin pula sama dengan klim Gus Dur terhadap Makam leluhur Panjalu di Situ Lengkong. Jadi kapan ditatar Sunda bisa memiliki jejak ‘Karuhun’-nya.

 

Dari berita Portugis

Pada tahun 1513 Portugis mengunjungi Pajajaran dengan membawa empat kapal. Berita ini diketahui dari catatan Tome Pires yang ikut dalam rombongan tersebut. pada kesempatan ini pula Tome Pires berhasil mewawancarai beberapa pihak yang ada di Pajajaran, untuk kemudian ia bukukan didalam “The Suma Oriental”.

Dari penelitiannya Tome Pires mengetahui wilayah pelabuhan yang termasuk yuridiksi Pajajaran. Ia menyebutkan Banten, Pontang, Cigede, (muara Cidurian), Tamgara (muara Cisadane), Kalapa, Karawang dan Cimanuk, sedangkan Cirebon pada waktu itu telah memisahkan diri. Tapi Pires hanya menyebutkan, bahwa Cirebon termasuk wilayah Demak. Untuk kemudian ia membahas Cirebon dalam babnya tentang Jawa.

Dayo (dayeuh) di istilahkan untuk menyebut ibukota yang terletak sejauh dua hari perjalanan dari pelabuhan Kalapa. Rumah-rumah di Pakuan indah-indah dan besar, terbuat dari kayu palem, sedangkan istana raja (Sri Bima) dikelilingi oleh 330 pilar, masing-masing sebesar tong anggur yang tinggi + 9 meter dan dihiasi berbagai macam ukiran pada puncaknya.

Menurut RPMSJB (1983-1984), Pires menyebutkan Sunda sebagai negeri ksatria dan pahlawan laut. Para pelaut Sunda berlayar keseganap pelosok negeri sampai ke Maladewa. Komoditi perdagangan yang terpenting adalah beras (10 jung pertahun), lada (1.000 bahar setahun), kain tenun (diekspor ke Malaka). Demikian pula sayuran dan daging sampai melimpah, bahkan tamarin (asam) cukup untuk dimuat dalam seribu kapal. (Jilid keempat, hal 10).

Pajajaran telah mengenal alat tukar, berupa uang emas dan kepeng. Pajajaran juga sebagai importir tekstil halus dari Cambay dan kuda Pariaman yang mencapai 4.000 ekor setahun. Kuda tersebut digunakan sebagai alat pengangkutan, angkatan perang dan berburu yang merupakan olah raga kaum bangsawan.

Kesan Tome Pires terhadap Urang Sunda waktu itu adalah : menarik (goodly figure), ramah, tinggi, kekar (robust), dan ‘the are true man’ – mereka orang jujur. Sedangkan terhadap pemerintahan Sri Baduga mencatat, bahwa :”Kerajaan Sunda diperintah dengan adil “ (The Kingdom of Sunda is justly geverned).

Dari kebebasaran tersebut, ada lantunan Ki Baju Rombeng, Juru Pantun dari Bogor yang hidup pada awal ke 20.

Talung talung keur Pajajaran / jaman aya keneh kuwarabekti / jaman guru bumi di pusti-pusti / jaman leuit tangtu eusina metu / euweuh nu tani mudu ngijon / euweuh nu tani nandonkeun karang / euweuh nu tan paeh ku jengkel / euweuh nu tani modar ku lapar.

(masih mending waktu Pajajaran / ketika masih ada kuwarabekti / ketika guru bumi dipuja-puja / ketika lumbung padi melimpah ruah / tiada petani perlu mengijon / tiada petani harus mati kelaparan / tiada petani harus mati karena kesal / tiada hatus petani mati karena lapar). Cag heula. (***)

 

PEMISAHAN CIREBON

Perkawinan Sang Pamanahrasa (Sri Baduga Maharaja) dengan Nyi Mas Subanglarang, putri dari Ki Gedeng Tapa, memperoleh putera dan putri, yakni Walangsungsang, Rara Santang dan Rajasangara. Sang Pamanah Rasa mempersunting Nyi Mas Subanglarang setelah terlebih dahulu mengalahkan Raja Sakti Mandraguna dari wilayah Cirebon, yakni Amuk Murugul. Dengan demikian, baik dari Sirsilah ibu maupun ayah, Walangsungsang masih teureuh Niskala Wastu Kancana.

Subanglarang sebelum dipersunting Sang Pamanahrasa terlebih dahulu telah memeluk agama Islam. Ia alumnus Pesantren Quro yang didirikan oleh Syeh Hasanudin atau Syeh Quro (bukan Sultan Hasanudin), Syeh Hasanudin masuk ke wilayah ini pada masa Laksamana Cheng Ho. Menjadi tidak mengherankan jika putra-putrinya dari Subanglarang memeluk agama Islam dan direstui oleh Sang Pamanahrasa.

Bahwa memang ada cerita tentang keluarnya ketiga bersaudara tersebut keluar lingkungan istana Pakuan disebabkan perselisihan tahta antara Subanglarang dengan Kentring Manik Mayangsunda. Namun ada versi lain yang menceritakan bahwa keluarnya Walangsungsang dari lingkungan Pakuan bersama adiknya, Nyi Mas Rarasantang dilakukan dengan seijin ayahnya, sedangkan Rajasangara tetap berada dilingkungan Pakuan. Tahta Pajajaran dikemudian hari diserahkan kepada Surawisesa, putra mahkota dari Kentring Manik Mayang Sunda.

Iskandar (2005) menjelaskan, bahwa : pada suatu ketika, Walangsungsang bersama adik-adiknya meminta izin secara baik-baik kepada ayahandanya, untuk pergi ke Kerajaan Singapura (Cirebon). Alasan Walangsungsang dan adik-adiknya yang utama dikemukakan secara terus terang kepada ayahnya. Walangsungsang yang berstatus Tohaan (Pangeran), juga adik-adiknya, merasa bertanggung jawab untuk meningkatkan kualitas dirinya sebagai putera-puteri Maharaja. Mereka merasa haus akan ilmu pengetahuan, terutama dibidang keagamaan. Ketika ibunya masih hidup, mereka ada yang membimbing, tetapi ketika ibunya telah wafat, di Pakuan tidak ada orang yang bisa dijadikan guru mereka. Tidak Ada lagi penenang batin yang memadai bagi mereka.

Sri Baduga Maharaja menurut versi lainnya, ketika itu masih berstatus Prabu Anom, bahkan mertuanya (Prabu Susuktunggal) masih dibawah kekuasaan kakeknya, Sang Mahaprabu Niskala Wastu Kancana. Sri Baduga Maharaja atau Prabu Anom Jayadewata, sangat maklum atas keinginan ketiga puterinya itu. Dengan berat hati ia hanya mengijinkan Walangsungsang dan Rara Santang, sedangkan Rajasangara dimohon tetap tinggal di Pakuan.

 

Berdirinya Pakungwati

Pada tanggal 14 bagian terang bulan Caitra tahun 1367 Saka atau Kamis tanggal 8 April 1445 Masehi, bertepatan dengan 1 Muharam 848 Hijriah, Pangeran Walangsungsang membuka perkampungan baru dihutan pantai kebon pasisir yang bernama Cirebon Larang atau Cirebon Pasisir.

Nama tersebut diambil berdasarkan nama yang sudah ada, yaitu kerajaan Cirebon yang terletak dilereng Gunung Cereme yang pernah dirajai oleh Ki Gedeng Kasmaya (putera sulung Sang Bunisora). Ketika Cirebon Pasisir sudah berdiri, kawasan Cirebon yang dilereng Gunung Cereme kemudian disebut Cirebon Girang.

Daerah baru tersebut berkembang pesat. Dua tahun setelah didirikan tercatat ada 346 orang. Kampung baru Cirebon Pasisir, penduduknya terdiri atas caruban (campuran) berbagai bangsa dan agama. Mereka sepakat memilih Ki Danusela menjadi kuwu yang pertama, dan Ki Samadullah terpilih menjadi pangraksabumi, dengan julukan Ki Cakrabumi yang kemudian dijuluki pula Pangeran Cakrabuana.

Setelah menunaikan ibadah haji Pangeran Walangsungsang alias Ki Samadullah, mendapat nama baru, yakni Haji Abdullah Imam. Kemudian bermukim di Mekah selama 3 bulan. Di Cirebon, isterinya Indah Geulis, putri dari Ki Danuwarsih telah melahirkan seorang puteri. Untuk kemudian diberi nama Nyai Pakungwati.

Dalam rangka penyebaran agama, ia memperisteri Ratna Riris (puterinya Ki Danusela) dan namanya diganti dengan Kancana Larang. Selanjutnya Ki Danusela wafat, Walangsungsang diangkat menjadi kuwu yang kedua di Cirebon Larang.

Pada tahun 1479 M, kedudukannya digantikan putra adiknya, Nyai Rarasantang dari hasil perkawinannya dengan Syarif Abdullah dari Mesir. Syarif Hidayat berkuasa sejak tahun 1479 – 1568.

Dalam Pustaka Pakungwati Carbon (1779 M) yang disusun oleh Wangsamanggala – Demang Cirebon Girang atas perintah Sultan Muhammad Saifuddin (Matang Aji), dijelaskan tentang letak Pakungwati sebagai berikut :

“Keraton ini didirikan di sebelah barat Kali Karyan. Dahulu disebut Kali Carbon yang dalam jaman hindu disebut Kali Subha. Sebelah hulunya disebut Kali Gangga dan disebelah hulunya lagi disebut Carbon Girang”.

Pembentukan Pakungwati direstui Pajajaran. Sri Baduga mengutus Ki Jagabaya untuk menyampaikan tanda kekuasaan dan memberi gelar Sri Mangana kepada Walangsungsang, putranya. Pada saat itu disampaikan oleh Ki Jagabaya disertai Jasangara, adik bungsu Walangsungsang.

 

Cirebon Merdeka

Naskah Pustaka Nagara Kretabhumi parwa I sarga 2 menceritakan, bahwa pada tanggal 12 bagian terang bulan Caitra tahun 1404 Saka, Syarif Hidayat menghentikan pengiriman upeti yang seharusnya di bawa setiap tahun ke Pakuan Pajajaran dan menyatakan Cirebon todak lagi berada dibawah kekuasaan Pajajaran. Tindakan tersebut dilakukan setelah terlebih dahulu mendapat desakan dari para wali lainnya.

Ketika itu Sri Baduga baru saja menempati istana Sri Bima di Pakuan diberitakan, bahwa pasukan Angkatan Laut Demak berada di Pelabuhan Cirebon untuk menjaga kemungkinan datangnya serangan Pajajaran. Untuk mengetahui keadaan itu Sri Baduga mengutus Tumenggung Jagabaya beserta 60 anggota pasukannya, namun Ki Jagabaya dan pasukannya disergap hingga tak berdaya menghadapi pasukan gabungan Cirebon – Demak yang jumlahnya sangat besar. Akhirnya Jagabaya masuk Islam.

Peristiwa tersebut membangkitkan kemarahan Sri Baduga. Ia memerintahkan untuk menyiapkan pasukan besar agar segera disiapkan untuk menyerang Cirebon. Akan tetapi pengiriman pasukan dapat dicegah oleh Purohita – pendeta tertinggi keraton, yakni Ki Purwa Galih, dengan alasan, tidak pantas seorang kakek menyerang anak dan cucunya. Disamping itu diyakinkan pula, bahwa yang mengangkat Syarif Hidayat adalah Walangsungsang, putranya sendiri.

 

Perjanjian Internasional Pertama

Demikianlah situasi yang dihadapi Sri Baduga pada awal masa pemerintahannya, sehingga wajar jika ia mencurahkan perhatian kepada tegaknya pubatisti, purbajati dan membuat parit pertahanan, sebagaimana yang dijelaskan didalam berbagai naskah.

Tome Pires (1513) menyebutkan Sunda sebagai negeri ksatria dan pahlawan laut. Para pelaut Sunda berlayar keseganap pelosok negeri sampai ke Maladewa. Namun berdasarkan keterangan lain Pajajaran hanya memiliki 6 buah Jung, itupun hanya untuk kepentingan perdagangan antar pulaunya. Memang pada waktu itu perdagangan kuda jenis Pariaman mencapai sudah 4.000 ekor pertahun.

Keadaan makin tegang ketika hubungan Demak-Cirebon makin dikukuhkan dengan perkawinan putera-puteri dari kedua belah pihak. Ada 4 pasangan yang dijodohkan, yaitu : Pangeran Hasanudin (Banten) dengan Ratu Ayu Kirana (Purnamasidi) ; Ratu Ayu dengan Pangeran Sabrang Lor ; Pangeran Jayakelana dengan Ratu Pembayun ; dan Pangeran Bratakelana dengan Ratu Ayu Wulan (Ratu Nyawa). Perkawinan Sabrang Lor – Yunus Abdul Kadir dengan Ratu Ayu terjadi 1511, pada saat itu ia menjabat sebagai Senapati Sarjawala (Panglima angkatan laut) Kerajaan Demak, sehngga ia untuk sementara berada di Cirebon.

Hubungan Cirebon-Demak pada masa itu menurut versi lain dianggap mencemaskan Sri Baduga di Pakuan, ia mengutus putera mahkota (Surawisesa) menghubungi Panglima Portugis di Malaka, yakni Alafonso d’Albuquerque, ketika itu baru saja Portugis merebut Pelabuhan Pasai. Pada tanggal 21 Agustus 1522 secara resmi Pajajaran mengadakan perjanjian dengan Portugis. Perjanjian ini di akui dan dikomentasikan sebagai perjanjian internasional pertama di bumi Nusantara. 

Upaya Pajajaran melakukan perjanjian dengan Portugis telah meresahkan pihak Cirebon dan Demak. Didalam versi lain yang menghubungkan dengan penyerangan Fadilah Khan ke Kalapa (Jakarta), Pajajaran dianggap salah karena meminta bantuan asing. Padahal Pajajaran sedang mempertahankan kedaulatan wilayahnya. Terhadap versi ini akan menjadi pertanyaan jika diketahui sejarah selanjutnya, yakni ketika Demak menyertakan pasukan Portugis, Banten dan Fadilah Khan (Kalapa) untuk menaklukan Blambangan, Panarukan dan Pasuruan. Dengan demikian menjadi wajar pula ketika ada versi yang menegaskan, bahwa direbutnya Kalapa dari tangan Pajajaran bukan karena masalah penyebaran agama, melainkan suatu bentuk aneksasi dari suatu negara terhadap wilayah negara lain.

Kemudian kisah Surawisesa yang menjadi utusan dalam perundingan dengan Portugis disilokakan didalam Lalampahan Mundinglaya Dikusumah dengan kisah Langlayangan Salaka Domas. Di dalam kisah itu diceritakan Mundinglaya bertemu dengan Guriang, konon sebutan Guriang merupakan siloka bagi orang Portugis yang tinggi besar.

Ketegangan Pakuan dengan Cirebon yang dibantu Demak dan Banten tidak sampai mengakibatkan peperangan, oleh karena itu masing-masing pihak dapat memiliki kesempatan untuk mengembangkan keadaan di dalam negerinya, bahkan kerajaan Pajajaran mencapai puncaknya dan Cirebon menjadi puser penyebaran agama Islam.

Dari penelitiannya Tome Pires (1513) mengetahui wilayah pelabuhan yang termasuk yuridiksi Pajajaran. Ia menyebutkan Banten, Pontang, Cigede, (muara Cidurian), Tamgara (muara Cisadane), Kalapa, Karawang dan Cimanuk, sedangkan Cirebon pada waktu itu telah memisahkan diri. Tapi Pires hanya menyebutkan, bahwa Cirebon termasuk wilayah Demak. Untuk kemudian pembahasan Cirebon ia masukan didalam babnya tentang Jawa. (***).

 

SURAWISESA

Pasca wafatnya Sri Baduga, kemudian digantikan oleh Surawisesa (1522 – 1535), puteranya dari Kentring Manik Mayang Sunda. Surawisesa dipuji oleh Carita Parahiyangan dengan sebutan kasuran (perwira), kadiran (perkasa) dan kuwanen (pemberani). Selama 14 tahun masa pemerintahannya mengalami 15 kali pertempuran. Penulis Carita Parahyangan menuturkan, sebagai berikut :

Diganti enya eta ku Prebu Surawisesa, anu hilang di Padaren, Ratu gagah perkosa, teguh jeung gede wawanen.

Perang limawelas kali henteu eleh. Dina ngajalankeun peperangan teh kakuatan baladna aya sarewu jiwa.

Perang ka Kalapa jeung Aria Burah. Perang ka Tanjung. Perang ka Ancol kiyi. Perang ka Wahanten Girang. Perang ka Simpang. Perang ka Gunungbatu. Perang ka Saungagung. Perang ka Rumbut. Perang ka Gunungbanjar. Perang ka Padang. Perang ka Pagoakan. Perang ka Muntur. Perang ka Hanum. Perang ka Pagerwesi. Perang ka Madangkahiangan.

Didalam kisah Pantun dan Babad Surawisesa dikenal dengan sebutan Guru Gantangan atau Mundinglaya Dikusumah. Ia memiliki Permaisuri bernama Kinawati yang berasal dari Kerajaan Tanjung Barat, yang terletak di daerah Pasar Minggu sekarang. Kinawati adalah puteri Mental Buana, cicit Munding Kawati, penguasa di Tanjung Barat.

Baik Pakuan maupun Tanjung Barat terletak di tepi Ciliwung. Diantara dua kerajaan ini terletak kerajaan kecil Muara Beres di Desa Karadenan, dahulu bernama Kaung Pandak. Di Muara Beres ini bertemu silang jalan dari Pakuan ke Tanjung Barat terus ke Pelabuhan Kalapa dengan jalan dari Banten ke daerah Karawang dan Cianjur. Pada jaman dahulu merupakan kota pelabuhan dan berada dititik silang. VOC mencatat tempat ini sebagai daerah yang berjarak satu setengah kali perjalanan dari Muara Ciliwung. Dan diberi nama Jalan Banten Lama atau “oude Bantamsche weg”.

 

Duta Sunda

Pada tahun 1511 armada Demak sedang berada di Cirebon. Hal ini dianggap mengancam kedaulatan Pajajaran, terutama pasca Cirebon menyatakan diri sebagai negara merdeka yang lepas dari kekuasaan Pajajaran. Oleh karena itu Sri Baduga mengutus putra mahkotanya, yakni Surawisesa untuk mengadakan hubungan dengan Portugis.

Nagara Kretabhumi I/2 dan sumber Portugis mengisahkan bahwa Surawisesa pernah diutus ayahnya menghubungi Alfonso d’Albuquerque (Laksamana Bungker) di Malaka. Ia pergi ke Malaka dua kali (1512 dan 1521). Hasil kunjungan pertama adalah kunjungan penjajakan pihak Portugis pada tahun 1513 yang diikuti oleh Tome Pires, sedangkan hasil kunjungan yang kedua adalah kedatangan utusan Portugis yang dipimpin oleh Hendrik de Leme (ipar Alfonso) ke Ibukota Pakuan. Dalam kunjungan tersebut disepakati persetujuan antara Pajajaran dan Portugis mengenai perdagangan dan keamanan.

Kisah ini dimuat didalam Pustaka Nusantara III/1. Naskah tersebut sebagai berikut :

Karena itu Sang Prabu Pakuan Pajajaran mengutus putera mahkota yaitu Ratu Sangian atau Prabu Surawisesa. Duta Kerajaan Pajajaran ini menuju ke negeri Malaka. Di sana sang duta menegadakan persahabatan dengan pemimpin (nerpati) orang Portugis yang bernama Laksamana Bungker.

Ia telah berjanji akan selalu membantu Kerajaan Pajajaran bila diserang oleh Pasukan Demak dan Cirebon serta inhgin menjalin hubungan dagang. Setahun kemudian orang-orang Portugis berkunjung ke Pulau Jawa. Jumlah kapalnya 4 buah.

Mereka menginggahi semua pelabuhan yang ada di negeri Sunda, dan sang bule membuat surat kelak ketika sang putra mahkota telah menjadi ratu Sunda dengan gelar Prabu Surawisesa. [RPMSJB, Jilid ke-4, 16].

Surawisesa ketika itu masih menjadi Prabu Anom. Kelak dikemudian hari para penulis babad dan petutur pantun mengisahkan lalampahannya ini di dalam Lalakon Salaka (mungkin sakakala) Domas, dengan nama Munding Laya Dikusumah, sedangkan orang Purtugis digambarkannya sebagai Guriang.

Menurut Tome Pires orang Portugis yang mengikuti pelayaran penjajakan pada bulan Maret – Juni 1513, menyatakan, bahwa pada saat itu Portugis telah berhasil menguasai perairan Malaka. 

Dari pihak Demak nampaknya berupaya pula untuk menguasai Malaka dari tangan Portugis, namun serangan yang dilakukan pada tahun 1518 dan 1521 yang dipimpin Sabrang Lor untuk menyerang posisi Portugis di Pasai, mengalami kegagalan, bahkan Sabrang Lor, Sultan Demak kedua gugur. Portugis dapat dikalahkan di Pasai pada tahun 1595, ketika itu pasukan laut Aceh dipimpin Laksamana Malahayati. Sedangkan posisinya di Malaka masih dapat dipertahankan sampai dengan tahun 1641. Pada masa itu Portugis berhasil dikalahkan oleh Kumpeni Belanda.

Pasca berakhirnya pertempuran di Pasai, Surawisesa sebagai duta Sunda untuk kali kedua berkunjung ke Malaka. Disatu sisi, pasca kegagalan menyerang Pasai, kemudian Demak mengalihkan perhatiannya untuk menguasai selat Sunda. Hal ini dilakukan untuk mengamankan kepentingan dagangnya. Namun sulit dipertahankan Sunda, mengingat Sri Baduga pada akhir tahun 1521 wafat dan bantuan Portugis masih belum tiba.

Dipihak Demak telah terjadi suksesi. Pada tahun 1521 dinobatkan Sultan Ahmad Abdul Arifin sebagai sultan Demak yang ketiga. Ia putra ketiga dari Raden Patah yang lahir pada tahun 1483. Ia memperoleh tahta Demak karena Sabrang Lor tidak memiliki putra, maka ia menggantikan kedudukan kakaknya sebagai Sultan Demak.

Menurut salah satu versi Sultan Ahmad Abdul Arifin memperoleh nama Trenggono karena ketika hamil ibunya mengidam untuk pergi ke Trangganu, karena lidah penduduklah kemudian sebutan itu berubah menjadi Trenggono.

Pada tahun 1522 Surawisesa naik tahta. Penobatannya dihadilir oleh pihak utusan pihak Portugis di Malaka. Pada akhir kunjungan tersebut utusan Portugis dengan Pakuan menandatangani perjanjian dengan Pajajaran. Perjanjian tersebut menurut Soekanto (1956) ditandatangai pada tanggal 21 Agustus 1522.

Ten Dam (1957) menganggap bahwa perjanjian itu dibuat secara lisan, akan tetapi sumber portugis yang dikutip oleh Hageman menyebutkan “Van deze overeenkomst werd een geschrift opgemaakt in dubbel, waarvan elke partij een behield” (Dari perjanjian ini dibuat tulisan rangkap dua, lalu masing-masing pihak memegang satu).

Dalam perjanjian itu disepakati bahwa Portugis akan mendirikan benteng di Banten dan Kalapa. Untuk itu tiap kapal Portugis yang datang akan diberi muatan lada yang harus ditukar dengan barang-barang keperluan yang diminta pihak Sunda. Kemudian pada saat benteng mulai dibangun, pihak Pajajaran akan menyerahkan 1000 karung lada tiap tahun, untuk ditukarkan dengan muatan sebanyak dua costumodos atau + 351 kuintal.

Perjanjian Pajajaran dengan Portugis sangat mencemaskan Sultan Trenggono. Hal ini disebabkan Selat Malaka yang dijadikan pintu masuk perairan Nusantara sebelah utara sudah dikuasai Portugis yang berkedudukan di Malaka dan Pasai. Bila Selat Sunda yang menjadi pintu masuk perairan Nusantara di selatan juga dikuasai Portugis, maka jalur perdagangan laut yang menjadi urat nadi kehidupan ekonomi Demak terancam putus.

Trenggono segera mengirimkan armadanya di bawah pimpinan Senapati Demak, yakni Fadilah Khan. Pada saat itu Fadillah Khan telah memperistri Ratu Pembayun, janda Pangeran Jayakelana (Cirebon). Kemudian ia pun menikah dengan Ratu Ayu, janda Sabrang Lor (Sultan Demak II). Dengan demikian, Fadillah menjadi menantu Raden Patah sekaligus menantu Susuhunan Jati Cirebon. Dari segi kekerabatan, Fadillah masih terhitung keponakan Susuhunan Jati karena buyutnya, yakni Barkat Zainal Abidin adalah adik Nurul Amin, kakek Susuhunan Jati dari pihak ayah.

Posisi Fadilah Khan juga sangat kuat, karena ia masih terhitung cucu Sunan Ampel, atau Ali Rakhmatullah. Hal ini dikarenakan buyutnya adalah kakak Ibrahim Zainal Akbar, ayah dari Sunan Ampel. Sunan Ampel sendiri adalah mertua Raden Patah (Sultan Demak I).

Barros menyebut Fadillah dengan Faletehan. Hal ini sesuai dengan lafal orang Portugis dalam menyebutkan Fadillah Khan, namun Tome Pinto menyebutnya Tagaril, dari sebutan Ki Fadil. Nama ini julukan sehari-hari dari Fadillah Khan. Nama Fadillah sendiri baru muncul dalam buku Sejarah Indonesia susunan Sanusi Pane (1950). Carita Parahiyangan menyebut Fadillah dengan Arya Burah.

Pasukan Fadillah yang merupakan gabungan pasukan Demak-Cirebon berjumlah 1967 orang. Sasaran pertama adalah Banten, pintu masuk Selat Sunda. Kedatangan pasukan ini telah didahului dengan huru-hara di Banten yang ditimbulkan oleh Pangeran Hasanudin dan para pengikutnya. Kedatangan pasukan Fadillah menyebabkan pasukan Banten terdesak. Bupati Banten beserta keluarga dan pembesar keratonnya mengungsi ke Ibukota Pakuan. Hasanudin kemudian diangkat oleh ayahnya, Syarif Hidayat menjadi Bupati Banten pada tahun 1526.

Setahun kemudian Fadillah menyerang dan merebut pelabuhan Kalapa. Bupati Kalapa bersama keluarga dan para menteri kerajaan yang bertugas di pelabuhan gugur. Keunggulan pasukan Fadillah terletak pada penggunaan meriam yang justru tidak dimiliki oleh Laskar Pajajaran. Menurut Versi lainnya pada masa itu Kalapa tidak dijaga ketat oleh Legiun Sunda, mengingat jarak Pajajaran dengan Kalapa diperkirakan dua hari (Tome Pires : 1453). Menurut versi lainnya, jarak tempuh dari Ibukota Pakuan ke Kalapa lewat perairan memerlukan waktu dua minggu.

Bantuan Portugis datang terlambat karena Francisco de Sa yang ditugasi membangun benteng diangkat menjadi Gubernur Goa di India. Keberangkatan ke Sunda dipersiapkan dari Goa dengan membawa 6 buah kapal. Galiun yang dinaiki De Sa berisi peralatan untuk membangun benteng terpaksa ditinggalkan karena armada ini diterpa badai di Teluk Benggala. De Sa tiba di Malaka tahun 1527. Ekspedsi ke Sunda bertolak dari Malaka. Mula-mula menuju Banten, akan tetapi karena Banten sudah dikuasai Hasanudin, perjalanan dilanjutkan ke Pelabuhan Kalapa.

Pada tanggal 30 Juni 1527 di Muara Cisadane De Sa memancangkan padrao dan menjuluki Cisadane dengan nama Rio de Sa Jorge. Kemudian galiun De sa memisahkan diri. Hanya kapal brigantin yang dipimpin oleh Duarte Coelho langsung ke Pelabuhan Kalapa. Coelho terlambat mengetahui perubahan situasi, kapalnya menepi terlalu dekat ke pantai dan menjadi mangsa sergapan pasukan Fadillah.

Dengan kerusakan yang berat dan korban yang banyak, kapal Portugis ini berhasil meloloskan diri ke Pasai. Tahun 1529 Portugis menyiapkan 8 buah kapal untuk melakukan serangan balasan, akan tetapi karena peristiwa 1527 yang menimpa pasukan Coelho demikian menakutkan, maka tujuan armada lalu di ubah menuju Pedu.

 

Pasca Sri Baduga

Setelah Sri Baduga wafat, penguasa Pajajaran dengan Cirebon berada pada generasi yang sejajar. Meskipun yang berkuasa di Cirebon Syarif Hidayat, tetapi dibelakangnya berdiri Pangeran Cakrabuana atau Walasungsang. Cakrabuana adalah kakak seayah Prabu Surawisesa. Ia masih putra Sri Baduga dari Subanglarang, sedangkan Surawisesa putra Sri Baduga dari Kentring Manik Mayangsunda. Dengan demikian keengganan Cirebon unuk menjamah pelabuhan atau wilayah lain di Pajajaran menjadi hilang, sehingga terjadi pertempuran di wilayah Citarum bagian barat.

Pada masa itu Cirebon mendapat dukungan penuh dari Demak. Pada suatu ketika Cirebon menjadi lemah. Hal ini terjadi pasca kegagalan Demak menyerbu Pasuruan dan Panarukan yang berakibat terbunuhnya Sultan Trenggono. Selain itu di Demak sedang terjadi perebutan, bahkan salah satu putra Syarif Hidayat wafat. Pada masa selanjutnya kedudukan Cirebon terdesak dan terlampaui oleh kejayaan Banten, sedangkan Cirebon berubah menjadi vasal Demak.

 

Perjanjian dengan Cirebon

Perang Pajajaran dengan Cirebon yang dibantu Banten dan Demak berlangsung 5 tahun, karena pasukan gabungan Cirebon tidak berani naik ke darat, sedangkan dipihak lain Pajajaran tidak memiliki armada laut yang kuat. Cirebon hanya berhasil menguasai kota pelabuhan. Pertempuran Pajajaran dengan Cirebon menurut Carita Parahyangan terjadi 15 kali, berlangsung dari tahun 1526 – 1531. 

Di front timur pasukan Cirebon bergerak lebih jauh ke selatan. Pada tahun 1528 Cirebon pernah dipukul mundur oleh Galuh. Berkat kepemimpinan Pangeran Cakrabuana pada akhirnya pasukan Galuh berhasil dipukul mundur sampai ke Talaga. Didaerah ini pasukan Galuh menghimpun kekuatan.

Cirebon menghentikan sementara serangannya ke Talaga, karena pada tahun 1529 Cakrabuana (Walangsungsang) wafat. Pada tahun berikutnya serangan ke Talaga dilakukan, maka pada tahun 1530 Talaga dapat dikalahkan. Raja Talaga kemudian masuk islam dan Talaga menjadi bawahan Cirebon

Kekalahan Galuh disebabkan kurang matangnya persiapan perang dan minimnya peralatan perang yang dimiliki. Sementara pasukan Cirebon di bantu Demak memiliki pasukan meriam yang jauh lebih efektif dibandingkan pasukan panah Galuh.

Pada peristiwa ini Sumedang telah masuk ke dalam lingkaran pengaruh Cirebon, Hal ini terjadi pasca dinobatkannya Pangeran Santri menjadi Bupati Sumedanglarang pada tanggal 21 Oktober 1530. Pangeran Santri adalah cucu Pangeran Panjunan, kakak ipar Syarif Hidayat. Buyut Pangeran Santri adalah Syekh Datuk Kahfi, pendiri pesantren pertama di Cirebon. Pangeran Santri dari Sindangkasih dapat menjadi bupati Sumedang Larang karena pernikahan dengan Satyasih, Pucuk Umum Sumedang, bahkan acara syukuran penobatannya dilakukan di Cirebon.

Menurut versi lain, pada tahun 1504 M Pangeran Palakaran menikah dengan seorang putri Sindangkasih. Dari pernikahannya maka pada tahun 1505 M melahirkan seorang putra yang diberi nama Ki Gedeng Sumedang (Pangeran Santri). Tentang putri Sindangkasih atau ibunda Pangeran Santri memang membuahkan beberapa kesimpulan. Apakah Pangeran Santri tersebut putra dari putri Sindangkasih (Rambutkasih) yang tilem, karena tidak mau memeluk agama islam, atau putri dari kerabat putri Sindangkasih ?. Namun masalah ini akan dibahas tersendiri.

Dengan posisi di timur Citarum yang telah dikuasai, Cirebon merasa kedudukannya mapan. Selain itu, karena gerakan ke Pakuan selalu dapat dibendung oleh pasukan Surawisesa, maka kedua pihak mengambil jalan terbaik dengan berdamai dan mengakui kedudukan masing-masing.

Pada tahun 1531 antara Pajajaran yang diprakarsai Prabu Surawisesa dengan Cirebon yang diprakarsai Syarif Hidayat dilakukan perdamaian, masing-masing pihak berdiri sebagai negara merdeka ; sederajat ; dan bersaudara sebagai ahli waris Sri Baduga. Dari pihak Cirebon yang ikut menandatangani naskah perjanjian adalah Pangeran Pasarean, putera mahkota Cirebon ; Fadillah Khan ; dan Hasanudin, Bupati Banten.

Bagi Cirebon, penghentian peperangan tersebut dikarenakan pihaknya telah cukup puas dengan menguasai wilayah pesisir Sunda. Hal ini bertujuan untuk mengamankan jalur perdagangannya dan merebut kota pelabuhan. Sementara bagi Pajajaran berakibat kerugian besar, karena lebih dari separuh wilayah peninggalan Sri Baduga telah hilang. Dengan dukungan pasukan belamati yang setia, Surawisesa masih mampu mempertahankan daerah inti kerajaannya di Pakuan.

Perjanjian damai dengan Cirebon memberikan peluang kepada Surawisesa untuk mengurus dalam negerinya. Setelah berhasil memadamkan beberapa pemberontakkan, berkesempatan untuk membangun Sunda. Dalam suasana seperti itulah Surawisesa mengenang kebesaran ayahandanya. Perjanjian damai dengan Cirebon memberi kesempatan kepadanya untuk menunjukkan rasa hormat terhadap mendiang Sri Baduga, ayahnya.

Pada tahun 1533, tepat 12 tahun setelah ayahnya wafat, ia melakukan upacara Srada, yakni upacara untuk menyempurnakan sukma yang harus dilakukan 12 tahun setelah seorang raja wafat. Kemudian membuat Sakakala, tanda peringatan tentang Sri Baduga Maharaja dalam bentuk suatu prasasti, yang sekarang kita kenal dengan sebutan ‘Prasasti Batu Tulis.’

Dalam prasasti dicantumkan Maha Karya ayanya satu persatu, bahkan diakhir kalimat ‘ya siya pun.’ Hal ini untuk menunjukan bahwa benar Sri Baduga lah yang membuat tanda-tanda itu, yakni membuat parit pertahanan di Pakuan ; membuat tanda peringatan berupa gunung – gunungan ; mengeraskan jalan dengan batu membuat (hutan) samida ; membuat telaga Rena Mahawijaya. Ya dialah yang membuat semua itu.

++ Wang na pun ini sakakala, prebu ratu purane pun, diwastu diya wingaran prebuguru dewataprana diwastu diya dingaran sri baduga maharaja ratu haji pakwan pajajaran sri sang ratu dewata pun ya nu nyusuk na pakwan diya anak rahyang dewa niskala sa(ng) sidamoksa di gunatiga i(n)cu rahyang niskala wastu ka(n)cana sa(ng) sidamokta ka nusalarang, ya siya nu nyiyan sakakala ngabalay nyiyan samida, nyiyan sanghyang talaga rena mahawijaya, ya siyapun ++ i saka. Panca pandawa e(m)bau bumi ++

Surawisesa tidak menampilkan namanya dalam prasasti. Ia hanya meletakkan dua buah batu di depan prasasti itu. Satu berisi Astatala ukiran jejak tangan, yang lainnya berisi Padatala ukiran jejak kaki. Menurut versi lain, pemasangan batu tulis tersebut bertepatan dengan upacara Srada, karena dengan dilaksankannya upacara demikian maka sukma orang yang meninggal dianggap telah lepas hubungannya dengan dunia materi.

Surawisesa memerintah selama 14 tahun lamanya. Pada tahun 1535 masehi, atau dua tahun setelah ia membuat prasasti sebagai Sakakala untuk ayahnya, ia wafat dan dipusarakan di Padaren. Diantara raja-raja jaman Pajajaran, hanya dia dan ayahnya yang menjadi bahan kisah tradisional, baik babad maupun pantun.

Ti dinya mulang ka pakwan deui.

Hanteu naunan deui.

Ratu tilar dunya.

Lawasna jadi ratu opatwelas taun.

  

Sumber Bacaan :

Prabu Siliwangi atau Ratu Purana Prebu Guru Dewataprana Sri Baduga Maharaja Taru Haji Di Pakwan Pajajaran 1474 – 1513, Amir Sutaarga, Pustaka Jaya, Bandung – 1966.

Kebudayaan Sunda – Zaman Pajajaran – Jilid 2, Ekadjati, Pustaka Jaya, Bandung – 2005.

Rintisan Penelusuran Masa Silam Sejarah Jawa Barat, Jilid 2 dan 3, Tjetjep, SH dkk, Proyek Penerbitan Sejarah Jawa Barat Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat.

Yoseph Iskandar. Sejarah Jawa Barat (Yuganing Rajakawasa), Geger Sunten, Bandung – 2005.

Tjarita Parahjangan, Drs.Atja, Jajasan Kebudayaan Nusalarang, Bandung- 1968.

Sejarah Bogor (Bagian 1), Saleh Danasasmita. Pemda DT II Bogor. Sumber : pasundan.homestead.com – Sumber : Salah Dana Sasmita, Sejarah Bogor, 24 September 2008.

Sejarah Bogor (Bagian 1), Saleh Danasasmita. Pemda DT II Bogor, – 1983.

Foto :wikipedia.org/wiki/Berkas:Pakuanpajajaran.jpg

Tjarita Parahjangan, Drs.Atja, Jajasan Kebudayaan Nusalarang, Bandung- 1968.

Sumber Bacaan :

Kebudayaan Sunda (Suatu Pendekatan Sejarah) – Jilid 1, Edi S. Ekadjati, Pustaka Jaya, Bandung, Cet Kedua – 2005

Kebudayaan Sunda – Zaman Pajajaran – Jilid 2, Ekadjati, Pustaka Jaya, Bandung – 2005.

Yoseph Iskandar. Sejarah Jawa Barat (Yuganing Rajakawasa), Geger Sunten, Bandung – 2005.

Yosep Iskandar, Perang Bubat, Naskah bersambung Majalah Mangle, Bandung, 1987.

Yus Rusyana – Puisi Geguritan Sunda : PPPB, 1980

Tjarita Parahjangan, Drs.Atja, Jajasan Kebudayaan Nusalarang, Bandung- 1968.

Sejarah Bogor (Bagian 1), Saleh Danasasmita. Pemda DT II Bogor.

pasundan.homestead.com – Sumber : Salah Dana Sasmita, Sejarah Bogor, 24 September 2008.

wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Galuh, 5 April 2010.

Prabu Siliwangi atau Ratu Purana Prebu Guru Dewataprana Sri Baduga Maharaja Taru Haji Di Pakwan Pajajaran 1474 – 1513, Amir Sutaarga, Pustaka Jaya, Bandung – 1966.

Kebudayaan Sunda (Suatu Pendekatan Sejarah) – Jilid 1, Edi S. Ekadjati, Pustaka Jaya, Bandung, Cet Kedua – 2005

Kebudayaan Sunda – Zaman Pajajaran – Jilid 2, Ekadjati, Pustaka Jaya, Bandung – 2005.

Prabu Siliwangi atau Ratu Purana Prebu Guru Dewataprana Sri Baduga Maharaja Taru Haji Di Pakwan Pajajaran 1474 – 1513, Amir Sutaarga, Pustaka Jaya, Bandung – 1966.

Kebudayaan Sunda (Suatu Pendekatan Sejarah) – Jilid 1, Edi S. Ekadjati, Pustaka Jaya, Bandung, Cet Kedua – 2005

Kebudayaan Sunda – Zaman Pajajaran – Jilid 2, Ekadjati, Pustaka Jaya, Bandung – 2005.

Kebudayaan Sunda (Suatu Pendekatan Sejarah) – Jilid 1, Edi S. Ekadjati, Pustaka Jaya, Bandung, Cet Kedua – 2005

Kebudayaan Sunda – Zaman Pajajaran – Jilid 2, Ekadjati, Pustaka Jaya, Bandung – 2005.

Rintisan Penelusuran Masa Silam Sejarah Jawa Barat, Jilid 2 dan 3, Tjetjep, SH dkk, Proyek Penerbitan Sejarah Jawa Barat Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat.

Sejarah Bogor – bagian 1, Saleh Danasasmita. Pemda DT II Bogor – 1983 – di copy dari pasundan.homestead.com

Prabu Siliwangi atau Ratu Purana Prebu Guru Dewataprana Sri Baduga Maharaja Taru Haji Di Pakwan Pajajaran 1474 – 1513, Amir Sutaarga, Pustaka Jaya, Bandung – 1966.

Kebudayaan Sunda (Suatu Pendekatan Sejarah) – Jilid 1, Edi S. Ekadjati, Pustaka Jaya, Bandung, Cet Kedua – 2005

Kebudayaan Sunda – Zaman Pajajaran – Jilid 2, Ekadjati, Pustaka Jaya, Bandung – 2005.

Rintisan Penelusuran Masa Silam Sejarah Jawa Barat, Jilid 2 dan 3, Tjetjep, SH dkk, Proyek Penerbitan Sejarah Jawa Barat Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat.

 

Di Kutip dari : GUNUNG SEPUH

akibalangantrang.blogspot.com

Disarikan oleh : Agus Setiya Permana

Dari : berbagai sumber

 

 

Posted in Legend & Mitos | Tagged: | Leave a Comment »

sunda kawali

Posted by kangadhi7 on May 31, 2010


SUNDA KAWALI

 

TENTANG KAWALI

Kisah perpindahan ibu kota Sunda tentu memiliki alasan yang masuk akal, sangat terkait dengan pengembangan wilayah dan keamanan negara. Ketika masa Citraganda memang diwilayah Kawali sudah lebih maju dibandingkan Pakuan, hingga pusat pemerintahan pada periode berikutnya dialihkan ke Kawali, sedangkan Pakuan menjadi kerajaan daerah.

Tradisi perpindahan ibukota terjadi pula pada masa Purnawarman di Tarumagara dan Tarusbawa pada masa awal pemerintahannya. Namun peristiwa ini ada juga yang mengaitkan dengan sifat masyarakat Sunda yang agraris – sangat theis dan percaya terhadap kekuatan alam dan penciptanya, sehingga perpindahan ibukota dari satu daerah kedaerah lainnya tak dapat dilepaskan dari adanya petunjuk sebagaimana didalam peristiwa spiritualnya.

Seringnya suatu masyarakat berpindah-pindah demikian didalam masyarakat modern sering ditafsirkan sebagai masyarakat nomaden, terutama ketika membandingkan masyarakat Sunda di Sukabumi Selatan, tepatnya di Cipta Gelar, namun yang perlu dipahami dalam masalah pemerintahan Sunda adalah latar belakang perpindahannya bukan hanya melihat sifatnya.

Pusat pemerintahan yang berpindah-pindah bagi generasi sesudahnya berakibat sulitnya melacak peninggalan masa lalu, seolah-olah ‘urang sunda’ tidak memiliki karya besar, sangat rentan untuk dinisbikan, terutama ketika daerah tersebut sudah ‘kalindih’ kegiatan ekonomi atau menjadi daerah pemukiman, seperti yang dialami situs Rancamaya dan Kota Bogor.

Kesulitan demikian berakibat pula banyaknya spekulasi tentang siapa yang pernah berkuasa didaerah tersebut. Misalnya, muncul spekulasi tentang kekuasaan Erlangga yang konon sampai menguasai tatar Sunda. Kerentatan terhadap kondisi diatas juga dapat dirasakan ketika membaca buku dalam versi lainnya, terutama klaim yang menyatakan bahwa tanah Sunda dibagian barat pernah menjadi bagian dari kekuasaan Sriwijaya.

Pertama, klaim adanya kekuasaan Erlangga diketahui setelah diketemukan Prasasti Cibadak di sungai Citatih, diperkirakan dibuat pada abad ke 15. Dalam kenyataannya Prasasti tersebut menjelaskan tentang Sri Jayabupati, raja Sunda yang ke-20. Kebetilan ia beristrikan putri Darmawangsa dari Jawa Timur, sehingga ia pun diberi gelar yang mirip dengan gelar yang diberikan kepada Erlangga.

Kedua, klaim tentang kekuasaan Sriwijaya di hubungkan dengan peninggalan purbakala yang berada di pesisir Banten. Daerah tersebut sampai saat ini masih diteliti tentang kaitannya dengan Salakanagara. Dalam sejarah Sunda, Salakanagara dianggap sebagai awal dari kerajaan yang berada di tatar Sunda, namun jika menyangkut masalah Pulasari, maka tidak dapat pula dilepaskan dari eksisteni raja Pajajaran terakhir.

Perpindahan pusat pemerintahan yang akhirnya menyulitkan pencarian jejak masa lalu, dialami juga ketika mencari jejak  muasal Sumedang. Padahal Sumedang lebih akhir dibandingkan kerajaan Sunda lainnya. Sampai saat ini sangat sulit menetapkan pusat-pusat pemerintahannya, kecuali yang saat ini digunakan sebagai Museum Prabu Geusan Ulun.

Para akhli sejarah dalam menafsirkan sejarah Sunda menyimpulkan bahwa antara Sunda dengan Galuh pada tahun 1333 sampai dengan tahun 1482 masehi sangat terkait erat dengan Kawali. Pakuan pada masa itu sudah menjadi kerajaan daerah, sedangkan Galuh fungsinya dianggap sudah berakhir. Hal tersebut akibat perkawinan antara keturunan Sunda dengan Galuh. Kesamaran demikian terjadi pula ketika Sunda beribukota di Kawali. Namun Galuh dinyatakan benar-benar dinyatakan hancur pada masa penyerangan Syarif Hidayat ke Talaga.

Pada abad ke-14 di timur muncul kota baru yang makin mendesak kedudukan Galuh dan Saunggalah, yaitu Kawali yang berlokasi sangat strategis karena berada di tengah segitiga Galunggung, Saunggalah dan Galuh. Sejak abad XIV Galuh dan Sunda kerap disangkut pautkan dengan Kawali, bahkan dua orang Raja Sunda dipusarakan di Winduraja (sekarang bertetangga desa dengan Kawali).

 

Para penguasa Kawali

Kisah pemindahan ibukota Sunda terjadi pada masa Prabu Ajiguna Wisesa (1333 – 1340) dan berakhir pada masa kekuasaan Jayadewata, karena pada tahun 1482 masehi ia memindahkan kembali ibukotanya ke Pakuan.

Para penguasa Sunda di Kawali memiliki nama yang harum dan sangat dikenal masyarakat. Mungkin hal ini akibat dari sifat masyarakatnya Kawali dan sekitarnya yang homogen dibanding dengan masyarakat Pakuan, sehingga berita lisan pun dapat praktis diteruskan kegenerasi beikutnya. Hal yang berbeda dengan masyarakat di wilayah Pakuan cenderung heterogen dan memiliki kegiatan ekonomi yang relatif tinggi dibandingkan Kawali, sehingga agak kurang peduli, atau dapat dikatakan sangat sedikit yang peduli terhadap masalah sejarahnya dimasa lalu.

Penguasa Kawali yang terkenal, yaitu Lingga Buana, Niskala Wastu Kencana dan Jaya Dewata. Didalam sejarah lisan, ketiga raja ini kerap dikaitkan dengan masalah sejarah masa lalu di tatar Sunda. Seolah-olah Sunda tidak memiliki raja lainnya selain yang ketiga penguasa ini. Selain itu, banyak dari keturunannya yang juga menjadi tokoh dalam kisah yang lain.

Kisah ketiga raja dimaksud adakalanya pacaruk satu dengan lainnya. Masyarakat sulit membedakan, adakalanya ketiganya diistilah dengan sebutan Prabu Silihwangi. Memang ketiganya memiliki nama dan kesejarahannya yang Wangi (harum), sesuai dengan gelarnya, yakni Prabu Wangi ; Prabu Wangisutah ; dan Prabu Silihwangi.

Pusat Pemerintahan Sunda sampai tahun 1482 tetap berada di Kawali. Bisa disebut bahwa tahun 1333 – 1482 adalah Jaman Kawali. Didalam sejarah pemerintahan di Jawa Barat di sebut-sebut Kawali pernah menjadi pusat pemerintahan Sunda.

Nama Kawali diabadikan di dalam dua buah prasasti batu peninggalan Prabu Raja Wastu yang tersimpan di “Astana Gede ” Kawali. Prasasti tersebut menegaskan “mangadeg di kuta Kawali” (bertahta di kota Kawali) dan keratonnya yang disebut Surawisesa dijelaskan sebagai “Dalem sipawindu hurip” yang berarti keraton yang memberikan ketenangan hidup. (***)

 

JEJAK KAWALI

Pada abad ke-14 di timur muncul kota baru yang makin mendesak kedudukan Galuh dan Saunggalah, yaitu Kawali. Lokasi Kawali berada di wilayah yang strategis, karena berada di tengah segitiga Galunggung, Saunggalah dan Galuh. Sejak abad XIV ini Galuh selalu disangkut pautkan dengan Kawali, bahkan dua orang Raja Sunda dipusarakan di Winduraja (sekarang bertetangga desa dengan Kawali).

Gejala pengalihan pusat pemerintahan sudah nampak pada masa pemerintahan Prabu Ragasuci (1297 – 1303). Ketika naik tahta menggantikan ayahnya (Prabu Darmasiksa), ia tetap memilih Saunggalah sebagai pusat pemerintahan, karena ia sendiri sebelumnya telah lama berkedudukan sebagai raja di timur. Tetapi pada masa pemerintahan puteranya, yakni Prabu Citraganda, Pakuan menjadi pusat pemerintahan.

Ragasuci bukan putera mahkota karena kedudukanya itu dijabat kakaknya Rakeyan Jayadarma. Menurut Pustakan Rayarajya i Bhumi Nusantara parwa II sarga 3, Jayadarma adalah menantu Mahisa Campaka di Jawa Timur karena ia berjodoh dengan Dyah Singamurti alias Dyah Lembu Tal. Mereka berputera Sang Narararya Sanggaramawijaya atau lebih dikenal dengan nama Raden Wijaya (lahir di Pakuan). Karena Jayadarma wafat dalam usia muda, Lembu Tal tidak bersedia tinggal lebih lama di Pakuan. Akhirnya Wijaya dan ibunya diantarkan ke Jawa Timur. Dalam Babad Tanah Jawi, Wijaya disebut pula Jaka Susuruh dari Pajajaran yang kemudian menjadi Raja Majapahit yang pertama. Kematian Jayadarma mengosongkan kedudukan putera mahkota karena Wijaya berada di Jawa Timur.

Prabu Darmasiksa kemudian menunjuk putera Prabu Ragasuci sebagai calon ahli warisnya yang bernama Citraganda. Permaisuri Ragasuci adalah Dara Puspa (Puteri Kerajaan Melayu) adik Dara Kencana isteri Kertanegara.

Citraganda tinggal di Pakuan bersama kakeknya. Ketika Prabu Darmasiksa wafat, untuk sementara ia menjadi raja daerah selama 6 tahun di Pakuan (ketika itu Raja Sunda dijabat ayahnya di Saunggalah). Dari 1303 sampai 1311, Citraganda menjadi Raja Sunda di Pakuan, ketika wafat ia dipusarakan di Tanjung.

Prabu Lingga Dewata (putera Citraganda) mungkin berkedudukan di Kawali. Yang pasti, Prabu Ajiguna Wisesa (1333 – 1340), menantunnya sudah berkedudukan di Kawali. Sampai tahun 1482 pusat pemerintahan tetap berada di Kawali. Bisa disebut bahwa tahun 1333 – 1482 adalah Jaman Kawali. Didalam sejarah pemerintahan di Jawa Barat mengenal adanya lima orang raja.

Nama Kawali terabadikan dalam dua buah prasasti batu peninggalan Prabu Raja Wastu yang tersimpan di “Astana Gede ” Kawali. Prasasti tersebut menegaskan “mangadeg di kuta Kawali” (bertahta di kota Kawali) dan keratonnya yang disebut Surawisesa dijelaskan sebagai “Dalem sipawindu hurip” (keraton yang memberikan ketenangan hidup).

 

Prasasti

Kesejarahan Sunda di Kawali dikukuhkan dengan bukti otentik yang dimuat dalam Prasasti Kawali 1 yang terletak di Astana Gede. Prasasti ini diyakini merupakan tanda kehadiran Wastu Kencana. Isi Prasasti tersebut, sebagai berikut :

Prasasti Kawali 1 :

00 nihan tanpa kawa-

Li nu siya mulia tanpa bha-

Gya parebu raja wastu

Mangadeg di kuta kawa-

Li nu mahayu na kadatuan

Surawisesa nu margi sa-

Kuliling bdayeuh nu najur sagala

Desa aya ma nu pa(n) deuri pakena

Gawe rahhay pakeun heubeul ja-

Ya dina buana 00

(yang berada di kawali ini adalah yang mulia pertapa yang berbahagia Prabu Raja Wastu yang bertahta di Kawali, yang memperindah keraton Surawisesa, yang membuat parit (pertahanan) sekeliling ibu kota, yang mensejahterakan (memajukan pertanian) seluruh negeri. Semoga ada (mereka) yang kemudian membiasakan diri berbuat kebajikan agar lama berjaya di dunia).

Prasasti Kawali 1 tentu tidak bisa dipisahkan dari Prasasti Kawali Ke 2. Isinya mengenai nasehat Prabu Wastu Kencana kepada para penerusnya. Prasasti tersebut sangat akrab disebuat Wangsit atau Wasiat Wastu Kencana.

Prasasti Kawali 2 :

Aya ma

nu ngeusi bha-

gya kawali ba-

ri pakena kere-

ta bener

pakeun na(n)jeur

na juritan.

[semoga ada (mereka) yang kemudian mengisi (negeri) Kawali ini dengan kebahagiaan sambil membiasakan diri berbuat kesejahteraan sejati agar tetap unggul dalam perang].

Prasasti tersebut merupakan wasiat dari Niskala Wastu Kancana kepada para penerusnya agar dapat mempertahankan Kawali dengan cara berbuat kebajikan kepada warganya. Wasiat ini benar-benar memiliki makna yang universal. Mungkin jika diterapkan dalam teori kepemimpinan dapat memberikan arah yang jelas tentang sosok pemimpin dalam melaksanakan amanahnya.

Kawali dalam Naskah Carita Ratu Pakuan yang ditulis oleh kai Raga dari Srimanganti – Cikuray diistilah sebagai “dalem si pawindu hurip” atau keraton yang memberikan ketenangan hidup. Cuplikan dari Carita Ratu Pakuan tersebut, sebagai berikut :

Dicariatekun Ngambetkasi

Kadeungeun sakamaruan

Bur payung agung nagawah tugu

Nu sahur manuk sabda tunggal

Nu deuk mulih ka Pakuan

Saundur ti dalem timur

Kadaton wetan buruhan

Si mahut putih gede manik

Maya datar ngaranna

Sunijalaya ngaranna

Dalem Sri Kencana Manik

Bumi ringit cipta ririyak

Di Sanghyang Pandan Larang

Dalem si Pawindu Hurip

Nama kraton “sipawindu hurip” jika dikaitkan dengan prasasti Kawali disebut Surawisesa. Prasasti Kawali 1 ini yang sebenarnya merupakan bukti otentik bahwa Sunda pernah beribukota di Kawali.

Kawali sebagai pusat pemerintahan Sunda ditegaskan pula didalam Pustaka Nusantara II/2, dengan kalimat :

•         Katatwa pratista Sang Prabu Wastu Kancana haneng Surawisesa kadatwan. Pinaka kithagheng rajya Kawali wastanya. Ring usama nira mangadeg dumadi mahaprabu rikung juga”

(Persemayaman Sang Prabu Wastu Kancana adalah keraton Surawisesa. Ibukota kerajaannya bernama Kawali. Pada masa sebelumnya, ayahnya pun bertahta sebagai maharaja di situ).

Dari adanya Prasasti Kawali 1, para ahli sejarah Sunda kuna pada umumnya bersepakat, bahwa : “Dengan demikian pengertian Galuh dan Sunda antara 1333 – 1482 Masehi harus dihubungkan dengan Kawali walaupun di Pakuan tentu ada seorang penguasa daerah. Keraton Galuh sudah ditinggalkan atau fungsinya sebagai tempat kedudukan pemerintah pusat sudah berakhir”. (RPMSJB, buku ketiga, hal. 32).

Penguasa Kawali yang terkenal, yaitu Lingga Buana, Niskala Wastu Kencana dan Jaya Dewata. Didalam sejarah lisan, ketiga raja ini kerap dikaitkan dengan masalah sejarah masa lalu di tatar Sunda. Seolah-olah Sunda tidak memiliki raja lainnya selain yang ketiga penguasa ini. Selain itu, banyak dari keturunannya yang juga menjadi tokoh dalam kisah yang lain.

 

Prabu Wangi

Prabu Maharaja terkenal karena ia tokoh utama didalam peristiwa Bubat. Ia Gugur di medan Bubat yang jauh dari kampung halamannya. Ia pun dilambangkan sebagai ksatria sekaligus penguasa Sunda yang ajeg kana pamadegana, memiliki harga diri dan dijadikan anutan penting dalam cara-cara orang Sunda mempertahankan haknya. Setelah gugur di medan Bubat masyarakat Sunda memberinya gelar Prabu Wangi.

Lingga Buana dkisahkan di dalam Fragmen Carita Parahyangan. Sekalipun tidak terlalu banyak, namun telah menunjukan bahwa ia tokoh utama yang terlibat peristiwa Bubat. Isi dari Fragmen tersebut, sebagai berikut :

•         Boga anak, Prebu Maharaja, lawasna jadi ratu tujuh taun, lantaran keuna ku musibat, Kabawa cilaka ku anakna, ngaran Tohaan, menta gede pameulina.

•         Urang rea asalna indit ka Jawa, da embung boga salaki di Sunda. Heug wae perang di Majapahit.

 

Niskala Wastu Kancana

Raja Kawali lainnya yang terkenal adalah Niskala Wastu Kencana, ia putra dari Lingga Buana atau Prabu Maharaja. Pada saat peristiwa Bubat ia baru berumur sembilan tahun, sehingga tidak ikut rombongan Sunda ke Majapahit. Pasca gugurnya Prabu Wangi, Kawali dikuasakan kepada Sang Bunisora, pamannya yang terkenal ketaatannya terhadap agama, sehingga Bunisora dikenal pula sebagai Rajaresi, penulis Carita Parahyangan memberi gelar Satmata, yakni gelar keagamaan tingkat kelima dari tujuh tingkat keagaaman yang dianut penguasa Sunda waktu itu.

Niskala Wastu Kancana banyak dibimbing tentang masalah kenegaraan dan keagaamaa, sehingga ia tumbuh menjadi orang bijaksana dan banyak disukai masyarakat. Niskala Wastu Kancana menggantikan posisi Bunisora pada usia yang 23 tahun, dengan gelar Mahaprabu Niskala Wastu Kancana atau Praburesi Buana tunggadewata, dalam naskah yang paling muda ia disebut Prabu Linggawastu putra Prabu Linggahiyang.

Karya besar yang dipersembahkan untuk generasi sesudahnya diabadikan dalam dua buah prasasti yang terletak di Kawali. Prasasti inilah yang sangat membantu generasi sesudahnya untuk mengenal keberadaan Sunda di Kawali. Niskala Wastu Kancana juga melekat dihati masyarakat akan kesalehan sosialnya. Masyarakat Sunda mengenal ajaran atau nasehat yang ia berikan, kemudian dikenal dengan sebutan Wangsit (Wasiat) Wastu Kancana, kemudian ia pun dikenal dengan sebutan Prabu Wangisutah.

Prabu Niskala Wastu Kancana dicerirtakan didalam Fragmen Carita Parahyangan, sebagai berikut :

•         Aya deui putra Prebu, kasohor ngaranna, nya eta Prebu Niskalawastu kancana, nu tilem di Nusalarang gunung Wanakusuma. Lawasna jadi ratu saratus opat taun, lantaran hade ngajalankeun agama, nagara gemah ripah.

•         Sanajan umurna ngora keneh, tingkah lakuna seperti nu geus rea luangna, lantaran ratu eleh ku satmata, nurut ka nu ngasuh, Hiang Bunisora, nu hilang di Gegeromas. Batara Guru di Jampang.

•         Sakitu nu diturut ku nu ngereh lemah cai.

•         Batara guru di Jampang teh, nya eta nyieun makuta Sanghiang Pake, waktu nu boga hak diangkat jadi ratu.

•         Beunang kuru cileuh kentel peujit ngabakti ka dewata. Nu dituladna oge makuta anggoan Sahiang Indra. Sakitu, sugan aya nu dek nurutan. Enya eta lampah nu hilang ka Nusalarang, daek eleh ku satmata. Mana dina jaman eta mah daek eleh ku nu ngasuh.

•         Mana sesepuh kampung ngeunah dahar, sang resi tengtrem dina ngajalankeun palaturan karesianana ngamalkeun purbatisti purbajati. Dukun-dukun kalawan tengtrem ngayakeun perjangjian-perjangjian make aturan anu patali jeung kahirupan, ngabagi-bagi leuweung jeung sakurilingna, ku nu leutik boh kunu ngede moal aya karewelanana, para bajo ngarasa aman lalayaran nurutkeun palaturan ratu.

•         Cai, cahaya, angin, langit, taneuh ngarasa senang aya dina genggaman pangayom jagat.

•         Ngukuhan angger-angger raja, ngadeg di sanghiang linggawesi, puasa, muja taya wates wangenna.

•         Sang Wiku kalawan ajen ngajalankeun angger-angger dewa, ngamalkeun sanghiang Watangageung. Ku lantaran kayakinan ngecagkeun kalungguhanana teh.

 

Jayadewata

Penguasa Sunda di Kawali yang paling banyak dikisahkan masyarakat dalam bermacam versi, adalah Jayadewata. Pada masa mudanya lebih dikenal dengan sebutan Sang Pamanah Rasa, putera Dewa Niskala. Kemudian ia memindahkan pusat pemerintahan Sunda kembali ke Pakuan.

Jayadewata mewarisi tahta ayahnya di Galuh (Dewa Niskala), dalam kapasitasnya sebagai penguasa Galuh bergelar Prabu Guru Dewataprana. Kemudian ia pun mewarisi tahta mertuanya di Pakuan. Gelar Sri Baduga Maharaja yang ia sandang di peroleh karena ia mewaris dua kerajaan, yakni Sunda dengan Galuh. Sumber utama tentang keberadaan Sri Baduga Maharaja berasal dari prasasti Kabantenan dan Batutulis Bogor. Namun kisah Jayadewata jauh lebih terkenal dalam cerita masyarakat dengan gelar Prabu Silihwangi.

Kisah Jayadewata di tulis didalam Fragmen Carita Parahyangan, sebagai berikut :

•         Diganti ku Prebu, putra raja pituin, nya eta Sang Ratu Rajadewata, nu hilang di Rancamaya, lilana jadi ratu tilupuluhsalapan taun.

•         Ku lantaran ngajalankeun pamarentahanana ngukuhan purbatisti purbajati, mana henteu kadatangan boh ku musuh badag, boh ku musuh lemes. Tengtrem ayem Beulah Kaler, Kidul, Kulon jeung Wetan, lantaran rasa aman.

•         Teu ngarasa aman soteh mun lakirabi dikalangan jalma rea, di lantarankeun ku ngalanggar Sanghiang Siksa.

Kisah ketiga raja tersebut adakalanya pacaruk satu dengan lainnya. Masyarakat sulit membedakan, adakalanya ketiganya diistilah dengan sebutan Prabu Silihwangi. Memang ketiganya memiliki nama dan kesejarahannya yang Wangi (harum), sesuai dengan gelarnya, yakni Prabu Wangi ; Prabu Wangisutah ; dan Prabu Silihwangi.

Pusat Pemerintahan Sunda sampai tahun 1482 tetap berada di Kawali. Bisa disebut bahwa tahun 1333 – 1482 adalah Jaman Kawali. Didalam sejarah pemerintahan di Jawa Barat di sebut-sebut Kawali pernah menjadi pusat pemerintahan Sunda.(***)

 

TIGA PRABU WANGI

Lingga Dewata berkuasa di Pakuan pada tahun 1311 – 1333 masehi. Lingga Dewata diperkirakan menjadi raja peralihan yang memindahkan pusat kerajaan Sunda ke Kawali, karena ia di makamkan di Kikis. Kemudian digantikan oleh Ajiguna Wisesa dengan gelar Prabu Ajiguna Linggawisesa (1333 – 1340) disebut-sebut sebagai raja Sunda pertama yang berkedudukan di Kawali.

Ajiguna Linggawisesa adalah menantu dari Lingga Dewata yang menikah dengan Dewi Uma Lestari atau Ratu Santika. Didalam versi lainnya disebutkan suami dari adik Lingga Dewata, yang menikah dengan Ratna Uma Lestari, putrinya Prabu Citraganda. Tentang muasal Ajiguna Wisesa kurang terlacak, jika dikaitkan dengan Suryadewata, putranya yang menjadi leluhur Talaga, mungkin pula ia berasal dari daerah Talaga.

Dari pernikahannya dengan Dewi Uma Lestari melahirkan dua orang putra, yakni Ragamulya dan Suryadewata. Ragamulya menggantikan Ajiguna Linggawisesa. Dalam Carita Parahyangan disebut Sang Aki Kolot. Ragamulya bernama nobat Prabu Ragamulya Luhur Prabawa, bertahta dari tahun 1340 – 1350 masehi, sedangkan Suryadewata menjadi raja daerah Talaga, dan dikenal sebagai leluhur Talaga, namun ia wafat ketika sedang berburu, dan dimakamkan di Wanaraja (Garut), sehingga ia diberi gelar Sang Mokteng Wanaraja.

Prabu Ragamulya Luhur Prabawa mempunyai dua orang putra, yakni Linggabuana dan Bunisora. Kelak keduanya menjadi raja di Kawali dan memiliki nama yang harum dalam sumbangsihnya terhadap perjalanan sejarah di tatar Sunda.

 

Raja-raja Kawali yang terkenal

Penguasa Kawali yang banyak dikisahkan, yaitu Lingga Buana (Prabu Wangi), Niskala Wastu Kencana (Prabu Wangisutah) dan Jaya Dewata (Prabu Silihwangi). Didalam sejarah lisan, ketiga raja ini kerap dikaitkan dengan masalah sejarah masa lalu di tatar Sunda. Seolah-olah Sunda tidak memiliki raja lainnya selain ketiga penguasa ini, dan menggunakan nama gelar “Wangi”.

Tentang penggunaan nama “Wangi” sempat menjadi perdebatan dikalangan para sejarawan. Istilah wangi diberikan kepada raja-raja Sunda yang dianggap masyarakat mengharumkan Sunda. Disisi lain, masyarakat merasa kurang ajar (calutak) jika menyebutkan nama asli dari rajanya, sehingga mereka lebih nyaman menggunakan nama kehormatannya, seperti nama ‘Wangi”. Perdebatan demikian terjadi dalam mencari : siapakah raja Sunda yang bergelar Prabu Silihwangi.

Menurut Yoseph Iskandar (2005) : “Prof. Dr. Syatrohaedi bersikeras mengemukakan pendapatnya, bahwa Mahaprabu Niskala Wastu Kencana itulah yang yang lebih tepat sebagai tokoh Prabu Siliwangi. Karena Sang Mahaprabu merupakan Silih = pengganti keterkenalan dan keharuman nama Prabu Wangi yang di Palagan Bubat. Hanya raja sekaliber Prabu Wangi yang layak dijuluki Prabu Silih Wangi atau Prabu Siliwangi.” (hal.212)

Perdebatan lainnya dalam mencari keaslian Siliwangi terjadi ketika Purbatjaraka pada tahun 1921 menafsirkan didalam bukunya “De Batoe-toelis bij Buitenzorg”, bahwa Sri Baduga Maharaja yang tercantum dalam prasasti Batutulis Bogor adalah raja yang gugur di Bubat. Sehingga dari tahun 1921, pelajaran Sejarah disekolah-sekolah mengisahkan tentang Gugurnya Sri Baduga Maharaja di Bubat pada tahun 1357 masehi.

Pendapat Purbatjaraka dikritik oleh Saleh Danasasmita, : karena penyebutan Sri Baduga sebagai Prabu Siliwangi yang gugur di palagan Bubat terlalu dipaksakan, bertentangan dengan Kropak 406 Carita Parahyangan dan Pararaton, pada peristiwa Bubat, Sri Baduga belum lahir, bahkan Wastu Kancana baru berumur sembilan tahun. (Ibid. Hal.224)

Perdebatan mereda setelah Saleh Danasasmita (1981–1984) meluruskan bacaan Prasasti Batutulis Bogor, yang sejalan dengan maksud dari naskah Pustaka Nagara Kretabhumi parwa 1 sarga 4. Kandungan naskah tersebut berisi, sebagai berikut :

•         Raja Pajajaran Winastatwan ngaran Prabhuguru Dewataprana muwah winastwan ngaran Sri Baduga Maharaja Ratuhaji ing Pakwan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata putra ning Rahyang Dewa Niskala. Rahyang Dewa Niskala putra ning Rahyang Niskala Wastu Kancana. Rahyang Niskala Wastu Kancana putra Ning Prabu Maharaja Linggabhuanawisesa.

[Raja Pajajaran dinobatkan dengan gelar Prabuguru Dewataprana dan dinobatkan lagi dengan gelar Sri Baduga Maharaja Ratuhaji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata, putra Rahiyang Niskala Wastu Kancana. Tahiyang Wastu Kancana putra Prabu Linggabuanawisesa] (ibid 226).

Saat ini memang tak dapat dipungkiri, bahwa ketiga raja Sunda tersebut berhak menyandang nama “Wangi”, yakni Prabu Wangi, Prabu Wangisutah dan Prabu Silihwangi, masing-masing untuk gelar Sri Maharaja, Prabu Niskala Wastukancana dan Sri Baduga Maharaja.

 

Prabu Wangi

Linggabuana menggantikan Ragamulya (Aki Kolot), dengan nama nobat Prabu Lingga Buana (1350 – 1357) atau disebut juga Prabu Maharaja alias Prabu Wangi. Didalam Pustaka Nagara Kretabhumi parwa 1 sarga 4 disebut Prabu Maharaja Linggabhuanawisesa.

Linggabuana dinobatkan pada tanggal 14 bagian terang bulan Palguna tahun 1272 saka, bertepatan dengan tanggal 22 Februari 1350 masehi. Sebelum menggantikan posisi ayahnya, ia pernah menjabat sebagai adipati selama tujuh tahun dibawah perintah Sang Ajiguna, kakeknya. Kemudian ia pun menjadi Mahamantri merangkap sebagai putra mahkota selama dua tahun dibawah perintah Ragamulya, ayahnya.

Linggabuana disebut Prabu Maharaja, karena dianggap menguasai seluruh tatar Sunda yang sama dengan kekuasaan Purnawarman. Ia terkenal sebagai tokoh utama didalam peristiwa Palagan Bubat yang gugur jauh dari kampung halamannya. Prabu Maharaja dilambangkan sebagai ksatria sekaligus penguasa Sunda “nu ajeg kana pamadegannana”, memiliki harga diri dan dijadikan anutan penting dalam cara-cara orang Sunda mempertahankan haknya. Setelah gugur di Palagan Bubat masyarakat Sunda memberinya gelar Prabu Wangi.

Linggabuana beristrikan Dewi Lara Lisning, ia memperoleh empat orang putra-putri. Putri sulungnya diberi nama Citraresmi, oleh kakeknya diberi nama Dyah Pitaloka. Ia dipersunting oleh Prabu Hayam Wuruk, namun didalam Pasunda Bubat ia gugur dengan cara belamati. Putra yang kedua dan ketiga dari Linggabuana meninggal pada usia satu tahun. Putra yang keempat diberi nama Niskala Wastu Kencana yang lahir pada tahun 1348 masehi.

Linggabuana dengan putrinya Dyah Pitaloka dikisahkan di dalam Fragmen Carita Parahyangan. Sekalipun tidak terlalu banyak, namun telah menunjukan bahwa ia tokoh utama yang gugur pada peristiwa Bubat. Isi naskah tersebut, sebagai berikut :

•                    Boga anak, Prebu Maharaja, lawasna jadi ratu tujuh taun, lantaran keuna ku musibat, Kabawa cilaka ku anakna, ngaran Tohaan, menta gede pameulina.

•                    Urang rea asalna indit ka Jawa, da embung boga salaki di Sunda. Heug wae perang di Majapahit.

Prabu Wangi digantikan oleh Mangkubumi Suradipati atau Prabu Bunisora alias Kuda Lalean. Hal tersebut dikarenakan Niskala Wastu Kancana, putra Prabu Wangi masih berumur sembilan tahun.

Bunisora bertahta pada tahun 1357 sampai dengan 1371 masehi, bergelar Prabu Batara Guru Pangadiparamarta Janadewabrata, sejak masa muda tekun memperdalam ilmu keagaaman. Penulis Carita Parahyangan memberinya gelar Satmata, yaitu sebutan untuk tingkatan kelima dari tujuh tingkatan keagamaan pada waktu itu. Karena kesalehannya pula maka ia dijuluki Batara Guru di Jampang. Bunisora dimakamkan di Geger Omas.

Sang Bunisora didalam cerita Galuh dikisahkan, bahwa ia ayah dari Bratalegawa, seorang pengusaha yang terkenal. Bratalegawa dikenal sebagai penganut agama Islam pertama di Galuh, sehingga mendapat Gelar Haji Purwa Galuh (Haji pertama di Galuh). Banyak kisah dari ketutrunannya yang kemudian menjadi pemuka agama di daerah Jawa Barat. Mungkin spirit dan kesungguhan menekuni masalah keagamaan yang diciptakan Sang Bunisora ini mendorong keturunannya untuk menekuni agamanya masing-masing.

 

Prabu Wangisutah

Ketika terjadi Pasunda Bubat usia Wastu Kancana baru 9 tahun dan ia satu-satunya ahli waris Prabu Maharaja yang masih hidup. Setelah pemerintahan di jalankan pamannya yang sekaligus juga mertuanya (Sang Bunisora), Wastu Kancana dinobatkan menjadi raja pada tahun 1371 pada usia 23 tahun.

Sebelum menjadi raja Sunda, Wastukancana mengembara kedaerah Lampung. Ia bertemu dengan seorang putri penguasa Lampung, yakni Lara Sakti, kemudian dijadikannya sebagai permaisurinya yang pertama. Dari perkawinannya lahir Sang Haliwungan yang bernama nobat Prabu Susuktunggal.

Permaisuri yang kedua dari Wastukancana adalah Mayangsari, puteri sulung Sang Bunisora atau Mangkubumi Suradipati. Dari perkawinan ini lahir Ningrat Kancana, setelah menjadi penguasa Galuh bergelar Prabu Dewa Niskala.

Niskala Wastu Kancana banyak dibimbing tentang masalah kenegaraan dan keagaamaa, sehingga tumbuh menjadi orang bijaksana dan banyak disukai masyarakat. Niskala Wastu Kancana menggantikan posisi Bunisora pada usia yang 23 tahun, dengan gelar Mahaprabu Niskala Wastu Kancana atau Praburesi Buana tunggadewata, dalam versi naskah yang paling muda menyebutnya Prabu Linggawastu putra Prabu Linggahiyang.

Keharuman nama Wastu Kancana membawa pada penafsiran dari versi yang berbeda, bahwa : Mahaprabu Niskala Wastu Kancana itulah yang lebih tepat sebagai tokoh Prabu Silihwangi. Karena Sang Mahaprabu merupakan silih (pengganti) keterkenalan dan keharuman nama Prabu Wangi yang gugur di palagan Bubat. Hanya raja sekaliber Prabu Wangi yang layak dijuluki Prabu Silih Wangi atau Prabu Siliwangi.

Karya besar yang dipersembahkan untuk generasi sesudahnya diabadikan dalam dua buah prasasti yang terletak di Kawali. Prasasti tersebut sangat membantu generasi sesudahnya untuk mengenal keberadaan kerajaan Sunda di Kawali.

Wastu Kancana juga melekat dihati masyarakat akan kesalehan sosialnya. Masyarakat Sunda mengenal ajaran atau nasehat yang ia berikan, berupa uraian tentang kebajikan dan kesejahteraan sejati sebagai mana yang terkandung di dalam ajaran Siksa Kanda Ng Karesyan, kemudian dikenal dengan sebutan “Wangsit (Wasiat) Wastu Kancana”. Mungkin karena ajarannya ini pula yang kemudian mendapat gelar Prabu Wangisutah. Wastu Kencana didalam alur Sejarah Sumedang dan Galuh, disebutkan juga sebagai leluhur Pangeran Santri dan Pucuk Umum Sumedang.

Prabu Niskala Wastu Kancana dicerirtakan didalam Fragmen Carita Parahyangan, sebagai berikut :

•                    Aya deui putra Prebu, kasohor ngaranna, nya eta Prebu Niskalawastu kancana, nu tilem di Nusalarang gunung Wanakusuma. Lawasna jadi ratu saratus opat taun, lantaran hade ngajalankeun agama, nagara gemah ripah.

•                Sanajan umurna ngora keneh, tingkah lakuna seperti nu geus rea luangna, lantaran ratu eleh ku satmata, nurut ka nu ngasuh, Hiang Bunisora, nu hilang di Gegeromas. Batara Guru di Jampang.

•                    Sakitu nu diturut ku nu ngereh lemah cai.

•                   Batara guru di Jampang teh, nya eta nyieun makuta Sanghiang Pake, waktu nu boga hak diangkat jadi ratu.

•              Beunang kuru cileuh kentel peujit ngabakti ka dewata. Nu dituladna oge makuta anggoan Sahiang Indra. Sakitu, sugan aya nu dek nurutan. Enya eta lampah nu hilang ka Nusalarang, daek eleh ku satmata. Mana dina jaman eta mah daek eleh ku nu ngasuh.

•                  Mana sesepuh kampung ngeunah dahar, sang resi tengtrem dina ngajalankeun palaturan karesianana ngamalkeun purbatisti purbajati. Dukun-dukun kalawan tengtrem ngayakeun perjangjian-perjangjian make aturan anu patali jeung kahirupan, ngabagi-bagi leuweung jeung sakurilingna, ku nu leutik boh kunu ngede moal aya karewelanana, para bajo ngarasa aman lalayaran nurutkeun palaturan ratu.

•                    Cai, cahaya, angin, langit, taneuh ngarasa senang aya dina genggaman pangayom jagat.

•                    Ngukuhan angger-angger raja, ngadeg di sanghiang linggawesi, puasa, muja taya wates wangenna.

•                   Sang Wiku kalawan ajen ngajalankeun angger-angger dewa, ngamalkeun sanghiang Watangageung. Ku lantaran kayakinan ngecagkeun kalungguhanana teh.

Setelah Wastu Kancana wafat pada tahun 1475, kerajaan Sunda dipecah dua diantara Susuktunggal (Pakuan) dan Dewa Niskala (Galuh) dengan kedudukan yang sederajat. Namun politik kesatuan wilayah telah membuat jalinan perkawinan antar cucu Wastu Kencana, sebagaimana dilakukannya melalui pernikahan putra Dewa Niskala (Jayadewata) dengan putri Susuktunggal (Kentring Manik Mayang Sunda).

 

Prabu Silihwangi

Penguasa Sunda di Kawali yang kemudian mengalihkan pusat pemerintahannya ke Pakuan dan paling banyak dikisahkan masyarakat dalam bermacam versi, adalah Jayadewata. Seolah-olah petilasan dari raja Sunda atau “Karuhun” Urang Sunda manapun tidak lengkap jika tidak dikaitkan dengan kebesaran nama Prabu Silihwangi. Demikian pula dalam kisah-kisah yang bermuara dari hasil penelitian sejarah. Tak kurang yang berpendapat bahwa ia adalah tokoh penting yang terlibat di Palagan Bubat. Selain itu, ada juga yang menafsirkan bahwa Prabu Siliwangi tersebut adalah Niskala Wastu Kancana.

Didalam versi sejarah yang dicaruk dengan masalah keagamaan, Prabu Siliwangi digambarkan sebagai raja Pajajaran terakhir yang dikejar kejar putranya yang bernama Kian Santang. Padahal ketika ia masih bertahta di Pakuan, Pajajaran masih ajeg, sekalipun ekspansi yang dilakukan para saudagar Islam sudah mulai merebak di tatar Sunda, sehinga ia pun dikisahkan mengeluarkan suatu amanah yang dikenal “Wangsit Siliwang”. Didalam versi sejarah resmi mencatat, bahwa raja Pajajaran terakhir bukanlah Prabu Siliwangi, melainkan Ragamulya Suryakencana, yang bertahta tanpa mahkota dan wafat di Pulasari, Pandeglang.

Jayadewata pada masa mudanya lebih dikenal dengan sebutan Sang Pamanah Rasa, putera Dewa Niskala. Kemudian ia mewarisi tahta ayahnya di Galuh (Dewa Niskala), dalam kapasitasnya sebagai penguasa Galuh bergelar Prabu Guru Dewataprana. Kemudian ia pun mewarisi tahta mertuanya di Pakuan. Gelar Sri Baduga Maharaja yang ia sandang di peroleh karena ia mewaris dua kerajaan, yakni Sunda dengan Galuh.

Sumber utama tentang keberadaan Sri Baduga Maharaja berasal dari prasasti Kabantenan dan Batutulis Bogor. Namun kisah Jayadewata jauh lebih terkenal dalam cerita masyarakat dengan gelar Prabu Siliwangi.

Kisah Jayadewata di tulis didalam Fragmen Carita Parahyangan, sebagai berikut :

•                   Diganti ku Prebu, putra raja pituin, nya eta Sang Ratu Rajadewata, nu hilang di Rancamaya, lilana jadi ratu tilu puluh salapan taun.

•                   Ku lantaran ngajalankeun pamarentahanana ngukuhan purbatisti purbajati, mana henteu kadatangan boh ku musuh badag, boh ku musuh lemes. Tengtrem ayem Beulah Kaler, Kidul, Kulon jeung Wetan, lantaran rasa aman.

•                   Teu ngarasa aman soteh mun lakirabi dikalangan jalma rea, di lantarankeun ku ngalanggar Sanghiang Siksa.

Jayadewata sampai pada tahun 1482 masih memusatkan kegiatan pemerintahan Sunda di Kawali. Bisa disebut bahwa tahun 1333 – 1482 adalah Jaman Kawali, selanjutnya pusat pemerintahannya di pindahkan ke Pakuan. Didalam sejarah pemerintahan di Jawa Barat di sebut-sebut Kawali pernah menjadi pusat pemerintahan Sunda.

Nama Kawali diabadikan di dalam dua buah prasasti batu peninggalan Prabu Raja Wastu yang tersimpan di “Astana Gede ” Kawali. Prasasti tersebut menegaskan “mangadeg di kuta Kawali” (bertahta di kota Kawali) dan keratonnya yang disebut Surawisesa dijelaskan sebagai “Dalem sipawindu hurip” yang berarti keraton yang memberikan ketenangan hidup. (***)

 

TRAGEDI BUBAT

umuli pasunda-bubat. Bhre prabhu ayun ing putri ring Sunda.

Patih Madu ingutus angundangeng wong Sunda.

Ahidep wong Sunda yan awarawarangana.

Teka ratu Sunda maring Majapahit,

sang ratu Maharaja tan pangaturaken putri.

Wong Sunda kudu awiramena tingkahing jurungen.

Sira patihing Majapahit tan payun yen wiwahanen-

reh sira rajaputri makaturatura.

Tulisan diatas merupakan kisah tentang tragedi bubat, dimuat dalam Berita Pararathon. Kitab ini menyebutnya Pabubat atau Pasunda Bubat. Pemilihan Istilah “Tragedi” dalam Pabubat bagi para penyusun sejarah memiliki alasan yang masuk akal. Peristiwa Bubat sebenarnya lebih tepat disebut sebagai lakon yang menyedihkan (tragedi) ketimbang disebutkan perang, mengingat dalam Pabubat raja Sunda tidak berniat berperang dan hanya mengantarkan putrinya untuk dinikahkan, maka wajar jika tidak menyiapkan pasukan perang yang kuat, dan hanya membawa rombongan pengantin. Sementara pihak lawan sudah merencanakan peristiwa ini, bahkan benar-benar mempersiapkan, sehingga peperangan pun terjadi di wilayah Majapahit secara tidak seimbang.  

Tragedi Bubat diawali dari perselisihan Kerajaan Sunda dengan Majapahit, ketika itu Majapahit masih dibawah pemerintahan Prabu Hayam Wuruk dan patihnya yang terkenal Gajah Mada, sedangkan dipihak Sunda yang bertahta waktu itu adalah Prabu Maharaja Linggabuana. Sedangkan Bubat dikenal dari nama suatu daerah daerah yang terletak di wilayah Jawa Timur, sebelah utara Majapahit.

Menurut Berita dari Nusantara II/2 halaman 62, dikisahkan gugurnya Prabu Linggabuana beserta para ksatria Sunda, sebagai berikut :

‘Selanjutnya dikisahkan, pada tanggal 13 bagian terang bulan Badra tahun 1279 Saka Sang Prabu Maharaja Sunda gugur di Bubat di negeri Majapahit. Saat itu Sang Prabu Maharaja bermaksud menikahkan putrinya yaitu Sang Retna Citraresmi atau Dyah Pitaloka dengan Bre Prabu Majapahit yang bernama Sri Rajasanagara’.

Tragedi Bubat dikisahkan pula di dalam beberapa sumber, seperti Kidung Sunda ; Kidung Sundayana ; Carita Parahyangan ; Kitab Pararathon ; dan Pustaka Nusantara. Saat ini sudah terbit novel yang bersifat hiburan untuk sekedar memuaskan keingintahuan para pembaca, sekaliapun ada novel yang jauh dari spirit kasundaan, namun buku tersebut laku keras. Konon mengisahkan Gajah Mada tidaklah lengkap jika tidak mencantumkan Palagan Bubat, bahkan dalam versi lain, peristiwa ini dapat efektif dijadikan mesin cuci bagi keharuman nama Gajah Mada.

Seorang pakar Belanda bernama Prof Dr.C.C.Berg, menemukan beberapa versi Kidung Sunda, disusun dengan menggunakan bahasa Jawa Pertengahan, berbentuk tembang (syair). Dua di antaranya pernah dibicarakan dan diterbitkannya, yaitu Kidung Sunda dan Kidung Sundayana (Perjalanan Urang Sunda) yang berasal dari Bali.

Di Bali Kidung Sundayana di kenal dengan nama Geguritan Sunda. Mungkin karena Berg orang Belanda, dan pada masa lalu banyak menyebar luaskan kepada khalayak, maka masalah Bubat pernah disebut-sebut sebagai upaya Belanda untuk memecah belah Indonesia. Tapi dokumen lainpun selain Kidung Sundayana atau Geguritan Sunda ditemukan pula, seperti dalam naskah Pararathon dan Pustaka Nusantara. Bahkan sekalipun hanya satu alinea, Carita Parahyangan memuat, sebagai berikut :

•           Boga anak, Prebu Maharaja, lawasna jadi ratu tujuh taun, lantaran keuna ku musibat, Kabawa cilaka ku anakna, ngaran Tohaan, menta gede pameulina.

•           Urang rea asalna indit ka Jawa, da embung boga salaki di Sunda. Heug wae perang di Majapahit.

Kidung Sunda atau Kidung Sundayana dibuat sebagai upaya dan niat baik Prabu Hayam Wuruk untuk menyesalkan masalah bubat. Hayam Wuruk mengirimkan utusan (darmadyaksa) dari Bali yang saat itu berada di Majapahit untuk menyaksikan pernikahannya. Melalui perantara Sang Darmadyaksa kemudian Hayam Wuruk menyampaikan permohonan maaf kepada Mangkubumi Hyang Bunisora Suradipati, pengganti Raja Sunda. Pada kesempatan itu pula dijanjikan, bahwa : peristiwa bubat akan dimuat dalam Kidung Sunda (Sundayana). Semua bertujuan untuk diambil hikmahnya.

 

Hubungan Sunda dengan Majapahit

Didalam Pustaka Nusantara II diterangkan bahwa permaisuri Darmasiksa adalah putri keturunan Sanggramawijayot tungga warman, penguasa Sriwijaya yang bertahta pada tahun 1018 sampai dengan 1027 masehi. Dari perkawinannya lahir dua orang putra, yakni Rakeyan Jayagiri atau Rakeyan Jayadarma dan Sang Ragasuci atau Rakeyan Saunggalah, dikenal pula dengan sebutan Sang Lumahing Taman.

Rakeyan Jayadarma dinikahkan dengan putri Mahisa Campaka dari Tumapel Jawa Timur, bernama Dyah Lembu Tal, sedangkan putranya yang kedua, yakni Ragasuci dijodohkan dengan Dara Puspa, putri Trailpkyaraja Maulibusanawar-madewa, dari Melayu. Dara Kencana, kakak dari Dara Puspita diperistri oleh Kertanegara, raja Singosari. Dari posisi campuran perkawinan pada waktu itu sunda dapat memposisikan diri sebagai penengah pada setiap terjadi perselisihan antara Sumatra dan Jawa Timur.

Hubungan kekerabatan Sunda dengan Majapahit dimuat pula dalam naskah lain. Menurut Pustaka Rajya Rajya i Bhumi Nusantara parwa II sarga 3 : Rakeyan Jayadarma, putra Prabu Dharmasiksa Raja Sunda, adalah menantu Mahisa Campaka dari Jawa Timur. Rakeyan Jayadarma berjodoh dengan putrinya Mahisa Campaka yang bernama Dyah Singamurti alias Dyah Lembu Tal. Mahisa Campaka adalah anak dari Mahisa Wong Teleng, yang merupakan anak dari Ken Angrok, raja Singosari dari Ken Dedes.

Dari pernikahan Rakeyan Jayadarma denga Dyah Lembu Tal di Pakuan, memiliki putra yang bernama Sang Nararya Sang ramawijaya atau lebih dikenal dengan nama Raden Wijaya. Dengan demikian Raden Wijaya adalah turunan ke 4 dari Ken Angrok dan Ken Dedes, sekaligus putra Rakeyan Jayadarma.

Dikarenakan Jayadarma wafat dalam usia muda, Lembu Tal tidak bersedia tinggal lebih lama di Pakuan. Akhirnya Wijaya dan ibunya diantarkan ke Jawa Timur. Raden Wijaya setelah dewasa menjadi senapati Singasari, pada waktu itu diperintah oleh Kertanegara, hingga pada suatu ketika ia mampu mendirikan negara Majapahit. Raden Wijaya didalam Babad Tanah Jawi dikenal juga dengan nama Jaka Susuruh dari Pajajaran, karena ia lahir di Pakuan.

Dari alur kesejarahan tersebut, Raden Wijaya di Sunda dikenal sebagai Cucu dari Prabu Darmasiksa, Raja sunda yang ke-25, ayah Rakeyan Jayadarma. Dalam Pustaka Nusantara III dikisahkan, bahwa : Darmasiksa masih menyaksikan Raden Wijaya, cucunya mengalahkan Jayakatwang, raja Singasari. Kemudian dengan taktis ia mampu menyergap dan mengusir keluar Pasukan Kublay Khan dari Jawa Timur. Empat hari pasca pengusiran pasukan Cina, atau pada 1293 M, Raden Wijaya dinobatkan menjadi raja Wilwatika dengan gelar Kertarajasa Jayawardana.

Hubungan Darmasiksa dengan Raden Wijaya ditulis di dalam Pustaka Nusantara III, tentang pemberian nasehat Darmasiksa kepada Raden Wijaya, cucunya. Ketika itu Raden Wijaya berkunjung ke Pakuan dan mempersembahkan hadiah kepada kakeknya. Nasehat tersebut, sebagai berikut :

Haywa ta sira kedo athawamerep ngalindih Bhumi Sunda mapan wus kinaliliran ring ki sanak ira dlahanyang ngku wus angemasi. Hetunya nagaramu wus agheng jaya santosa wruh ngawang kottaman ri puyut katisayan mwang jayacatrum, ngke pinaka mahaprabu. Ika hana ta daksina sakeng Hyang Tunggal mwang dumadi seratanya.

Ikang Sayogyanya rajya Jawa lawan rajya Sunda paraspasarpana atuntunan tangan silih asih pantara ning padulur. Yatanyan tan pratibandeng nyakrawati rajya sowangsowang. Yatanyan siddha hitasukha. Yan rajya Sunda duh kantara, wilwatika sakopayana maweh carana ; mangkana juga rajya Sunda ring Wilwatika.

(Janganlah hendaknya kamu menggangu, menyerang dan merebut Bumi Sunda karena telah diwariskan kepada Saudaramu bila kelak aku telah tiada. Sekalipun negaramu telah menjadi besar dan jaya serta sentosa, aku maklum akan keutamaan, keluar biasaan dan keperkasaan mu kelak sebagai raja besar. Ini adalah anugrah dari Yang Maha Esa dan menjadi suratan-Nya.

Sudah selayaknya kerajaan Jawa dengan kerajaan Sunda saling membantu, bekerjasama dan saling mengasihi antara anggota keluarga. Karena itu janganlah beselisih dalam memerintah kerajaan masing-masing. Bila demikian akan menjadi keselamatan dan kebahagiaan yang sempurna. Bila kerajaan Sunda mendapat kesusahan, Majapahit hendaknya berupaya sungguh-sungguh memberikan bantuan ; demikian pula halnya Kerajaan Sunda kepada Majapahit).

Memang, ketika masa Raden Wijaya, hubungan Sunda dengan Majapahit sangat baik dan tanpa percekcokan.

 

Pinangan Prabu Hayam Wuruk

Peristiwa Bubat diawali dari niat Prabu Hayam Wuruk untuk mempersunting putri Dyah Pitaloka Citraresmi dari Negeri Sunda. Ketertarikan Hayam Wuruk terhadap putri tersebut setelah beredar lukisan sang putri di Majapahit yang dilukis secara diam-diam oleh Sungging Prabangkara, seniman lukis pada masa itu.

Kisah demikian sama dengan yang dimuat di dalam salah satu Novel tentang Bubat. Dyah Pitaloka di gambar atas perintah keluarga keraton Majapahit, bertujuan untuk mengetahui paras Sang Putri. Namun dalam novel itu pula nama Dyah Pitaloka menjadi rusak, karena dikisahkan jatuh cinta kepada pelukisanya. Saya kurang memahami tujuan pembuat novel ini, apakah ia menyamakan kepiawaian pelukis istana tersebut dengan Leonardo Da Vinci yang berhasil membuat teka-teki atas lukisan Monalisa ?. atau ibarat pepatah “ngaleng bari neke” ?.

Pengurasakan citra Dyah Pitaloka tak hanya itu saja, di dalam nover lain dikisahkan pula bahwa Dyah Pitaloka telah memadu kasih dengan Gajah Mada. Ketika Sang Mada belum menjadi Mahapatih. Namun tetntunya sangat sulit dipahami versi hiburan ini, terutama jika dihubungan denga waktu berdarmawisatanya Sang Mada ke tatar Sunda, sehingga sempat cinta lokasi dengan Dyah Pitaloka. Namun kita pun akhirnya harus memaklumi, karena novel itu pun harus laku, sehingga perlu ada kejuatan lain dari pada yang lain, seolah-olah ada berita baru yang harus diketahui khalayak.

Alasan yang mungkin dapat masuk akal dipaparkan oleh penulis sejarah Pajajaran, yakni Saleh Danasasmita dan penulis naskah Perang Bubat, yakni Yoseph Iskandar. Kedua penulis sejarah ini menyebutkan, bahwa niat pernikahan itu untuk mempererat tali persaudaraan yang telah lama putus antara Majapahit dan Sunda. Urang Sunda masih merasa saudara dengan urang Majapahit,. Karena Raden Wijaya yang menjadi pendiri Majapahit, dianggap masih keturunan Sunda. Pernikahan demikian dianggap wajar dimasa lalu, sama seperti yang dilakukan raja-raja sebelumnya. Seperti hubungan Galuh dengan Kalingga dijaman Wretikandayun, yang menikahkan Mandiminyak, putranya dengan Parwati, Putri Ratu Sima.

Niat Prabu Hayam Wuruk untuk memperistri Dyah Pitaloka telah direstui keluarga kerajaan, sehingga tak lagi ada masalah dengan status kedua kerajaan, kecuali untuk melangsungkan pernikahan. Selanjutnya Hayam Wuruk mengirim surat lamaran kepada Maharaja Linggabuana dan menawarkan agar upacara pernikahan dilakukan di Majapahit.

Tawaran Majapahit tentunya masih dipertimbangkan, terutama oleh Mangkubumi Hyang Bunisora Suradipati. Pertama, masalah lokasi atau tempat pernikahan. Pada waktu itu adat di Nusantara menganggap tidak lajim jika pihak pengantin perempuan datang kepada pihak pengantin lelaki. Kedua, ada dugaan alasan ini merupakan jebakan diplomatik Gajah Mada yang saat itu sedang melebarkan kekuasaannya, diantaranya dengan cara menguasai Kerajaan Dompu di Nusa Tenggara. Namun Linggabuana hanya melihat adanya rasa persaudaraan dari garis leluhurnya, sehingga ia memutuskan untuk tetap berangkat ke Majapahit. Rombongan kerajaan kemudian berangkat ke Majapahit, dan ditempatkan di Pesanggrahan Bubat.

 

Kegamangan Prabu Hayam Wuruk

Melihat Raja Sunda datang ke Bubat beserta permaisuri dan putri Dyah Pitaloka dengan diiringi sedikit prajurit, maka timbul niat lain Gajah Mada untuk menaklukan Kerajaan Sunda. Niat tersebut untuk memenuhi sumpahnya yang dikenal dengan nama Sumpah Palapa. Pada masa itu seluruh kerajaan di Nusantara sudah ditaklukkannya kecuali kerajaan sunda, maka timbulah niatnya.

Gajah Mada dalam melaksanakan maksud tersebut membuat alasan, bahwa kedatangan rombongan Sunda di Pesanggrahan Bubat sebagai bentuk penyerahan diri Kerajaan Sunda kepada Majapahit. ini di sampaikan kepada Prabu Hayam Wuruk, Gajah Mada pun mendesak, agar Hayam Wuruk menerima Dyah Pitaloka bukan sebagai pengantin, tetapi sebagai tanda takluk negeri Sunda kepada Majapahit. Dari hal itu diharapkan agar Sunda mau mengakui superioritas Majapahit atas Sunda di Nusantara. Hayam Wuruk sendiri menurut Kidung Sundayana menjadi bimbang. Ia terjebak dalam dilema, antara cinta dan perlunya mentaati saran Gajah Mada. Disisi lain, Gajah Mada adalah Mahapatih yang paling diandalkannya.

Peristiwa selanjutnya dikisahkan didalam Kidung Sunda, dalam bentuk Sinom, sebagai berikut :

•           ‘Maka prabu Hayam Wuruk tidak jadi pergi ke Bubat menuruti saran patih Gajah Mada. Para abdi dalem keraton dan para pejabat lainnya, terperanjat mendengar hal ini, namun mereka tidak berani melawan.

•           Sedangkan di Bubat sendiri, mereka sudah mendengar kabar burung tentang perkembangan terkini di Majapahit. Maka raja Sunda pun mengirimkan utusannya, patih Anepakěn untuk pergi ke Majapahit. Beliau disertai tiga pejabat lainnya dan 300 serdadu. Mereka langsung datang ke rumah patih Gajah Mada. Di sana beliau menyatakan bahwa Raja Sunda akan bertolak pulang dan mengira prabu Hayam Wuruk ingkar janji. Mereka bertengkar hebat karena Gajah Mada menginginkan supaya orang-orang Sunda bersikap seperti layaknya vaza-vazal Nusantara Majapahit. Hampir saja terjadi pertempuran di kepatihan kalau tidak ditengahi oleh Smaranata, seorang pandita kerajaan. Maka berpulanglah utusan raja Sunda setelah diberi tahu bahwa keputusan terakhir raja Sunda akan disampaikan dalam tempo dua hari.

 

Kegagalan Diplomatik

Ketika mengetahui adanya keraguan dari pihak Majapahit, maka raja Sunda pun mengirimkan utusannya, patih Anepakěn untuk pergi ke lingkungan keraton Majapahit disertai tiga pejabat lainnya dan 300 orang pasukan. Mereka langsung datang ke rumah patih Gajah Mada. Di sana menyatakan bahwa Raja Sunda akan bertolak pulang jika niat Gajah Mada dilanjutkan. Raja Sunda mengira bahwa Hayam Wuruk ingkar janji.

Utusan itu bertengkar hebat karena Gajah Mada menginginkan supaya orang-orang Sunda bersikap seperti layaknya vaza-vazal Majapahit. Dalam kisah tersebut diceritakan pula dimaki-makinya Gajah Mada oleh utusan kerajaan Sunda yang kecewa, setelah mendengar, bahwa kedatangan mereka (sunda) dianggap hanya untuk memberikan tanda takluk dan mengakui keunggulan Majapahit, bukan karena undangan untuk menikahkan seperti janji sebelumnya. Akhirnya pertengkaran ini ditengahi oleh Smaranata, seorang pandita kerajaan. Kemudian pulanglah utusan Sunda ke pasanggrahan Bubat, dengan meninggalkan pesan, Raja Sunda akan memberi kabar dalam waktu dua hari tentang syarat yang disampaikan Majapahit.

Kemarahan utusan sunda dikisahkan dalam Kidung Sunda, dengan menggunakan bahasa Jawa pertengahan :

•           Ih angapa, Gajah Mada, agung wuwusmu i kami, ngong iki mangkw angaturana sira sang rajaputri, adulurana bakti, mangkana rakwa karěpmu, pada lan Nusantara dede Sunda iki, durung-durung ngong iki andap ring yuda.

•           Abasa lali po kita nguni duk kita aněkani jurit, amrang pradesa ring gunung, ěnti ramening yuda, wong Sunda kagingsir, wong Jipang amburu, praptâpatih Sunda apulih, rusak wadwamu gingsir.

•           Mantrimu kalih tinigas anama Lěs Beleteng angěmasi, bubar wadwamu malayu, anânibani jurang, amurug-murug rwi, lwir patining lutung, uwak setan pating burěngik, padâmalakw ing urip.

•           Mangke agung kokohanmu, uwabmu lwir ntuting gasir, kaya purisya tinilar ing asu, mengkene kaharěpta, tan pracura juti, ndi sasana tinutmu gurwaning dustârusuh, dadi angapusi sang sadubudi, patitânêng niraya atmamu těmbe yen antu.

Dalam bahasa Sunda :

•                  “Hé Gajah Mada, naon maksudna anjeun gedé bacot ka kami? Kami mah rék mawa Rajaputri, sedeng anjeun kalah miharep kami mawa upeti kawas ti Nusantara. Kami mah béda. Kami urang Sunda, can kungsi éléh perang.

•                   Kawas nu poho baé sia baheula, nalika anjeung keur perang di wewengkon pagunungan. Perang campuh diuudag urang Jipang. Terus patih Sunda datang deui sahingga pasukan dia mundur.

•                   Mantri sia nu dua nu ngaranna Les jeung Beleteng dikadék nepi ka paéh. Pasukan sia bubar jeung kalabur. Aya nu labuh ka jurang sarta ti kakarait kana cucuk rungkang. Maranéhna paéh kawas lutung, owa, jeung setan, lalumengis ménta hirup.

•                   Ayeuna sia gedé sungut. Bau sungut sia kawas kasir, kawas tai anjing. Ayeuna kahayang sia teu sopan sarta hianat. Nuturkeun ajaran naon salian ti hayang jadi guru nu ngabohong jeung milampah rucah. Nipu jalma budi hadé. Mun paéh, roh sia bakal asup naraka!” 

Di pasanggarahan Bubat, raja Sunda setelah mendengar kabar terakhir adanya rencana Gajah Mada, ia tidak bersedia berlaku seperti layaknya seorang vazaal. Ia pun dihadapkan pada posisi yang dilematis, antara perlunya merajut duduluran dengan pentungnya mempertahankan harga diri, kemudian raja Sunda memberikan putusan “Demi membela kehormatan, rela gugur seperti seorang ksatria, lebih baik mati dari pada hidup tetapi dihina orang lain”. Mendengar putusan Sang Raja, serentak para bawahannya berseru mereka akan mengikutinya dan membela sampai titik darah penghabisan.

Kemudian raja Sunda menemui istri dan anaknya dan menyatakan niatnya. Ia memerintahkan agar istri dan anaknya (Dyah Pitaloka) pulang. Tetapi mereka menolak dan bersikeras ingin tetap menemani sang raja dan menyambut serangan Majapahit.

 

Perang Bubat

Terjadinya suatu peperangan biasanya didahului dengan kegagalan diplomatik. Demikian juga pada peristiwa Bubat. Masalahnya semakin meruncing ketika Hayam Wuruk sendiri menurut Kidung Sundayana disebutkan bimbang atas permasalah tersebut. Wajar jika Hayam Wuruk merasa ragu, karena Gajah Mada adalah Mahapatih yang paling diandalkannya.

Sebelum Prabu Hayam Wuruk memberikan putusan, Gajah Mada sudah mengerahkan pasukan bhayangkara ke Pesanggrahan Bubat. Lantas ia pun mengancam Linggabuana untuk mengakui hegemoni Majapahit. Demi mempertahankan kehormatan sebagai ksatria Sunda, Linggabuana menolak tekanan itu.

Peristiwa dan dialog tersebut digambarkan, sebagai berikut :

•         […], yan kitâwĕdîng pati, lah age marĕka, i jĕng sri naranata, aturana jiwa bakti, wangining sĕmbah, sira sang nataputri.

•         Wahu karungu denira sri narendra, bangun runtik ing ati, ah kita potusan, warahĕn tuhanira, nora ngong marĕka malih, angatĕrana, iki sang rajaputri.

•      Monng kari sasisih bahune wong Sunda, rĕmpak kang kanan keri, norengsun ahulap, rinĕbateng paprangan, srĕngĕn si rakryan apatih, kaya siniwak, karnasula angapi

[ […], jika engkau takut mati, datanglah segera menghadap Sri Baginda (Hayam Wuruk) dan haturkan bukti kesetianmu, keharuman sembahmu dengan menghaturkan beliau sang Tuan Putri. – Maka ini terdengar oleh Sri Raja (Sunda) dan beliau menjadi murka: “Wahai kalian para duta! Laporkan kepada tuanmu bahwa kami tidak akan menghadap lagi menghantarkan Tuan Putri!” – “Meskipun orang-orang Sunda tinggal satu tangannya, atau hancur sebelah kanan dan kiri, tiada akan ‘silau’ beta!”. Sang Tuan Patih juga marah, seakan-akan robek telinganya mendengarkan (kata-kata pedas orang Majapahit.]

Terjadilah peperangan yang tidak seimbang antara Gajah Mada dengan pasukannya yang berjumlah besar, melawan Linggabuana dengan pasukan yang sangat kecil, terdiri dari pengawal kerajaan (Balamati) dan menteri kerajaan yang ikut dalam kunjungan itu. Peristiwa itu berakhir dengan gugurnya Linggabuana, para menteri dan pejabat kerajaan Sunda.

Didalam pertempuran tersebut ada seorang perwira Sunda yang pura-pura mati. Setelah suasana agak reda lantas ia memberitahukan peristiwa terakhir itu kepada ratu dan putri Sunda di perkemahan. Selanjutnya ratu dan putri Sunda melakukan mati bela. Sedangkan istri para perwira Sunda menyongsong ke medan perang. Dihadapan jenazah suaminya merekapun melakukan mati – bela.

Peristiwa ini diabadikan didalam Kidung Sunda, dengan Pupuh II (Durma), digambarkan :

•                    Dua pihak geus sariaga. Utusan Majapahit dikirim ka pakémahan Sunda kalawan mawa surat nu eusina pasaratan ti Majapahit. Pihak Sunda nolak kalawan ambek sahingga perang moal bisa dicegah deui.

•                    Pasukan Majapahit disusun ku barisan prajurit biasa di hareup, terus tukangeunana para pangagung karaton, Gajah Mada, sarta Hayam Wuruk jeung dua pamanna pangtukangna.

•                    Perang campuh lumangsung, ngabalukarkeun loba pisan prajurit Majapahit nu tiwas, tapi tungtungna ampir sadaya pasukan Sunda tiwas digempur bébéakan ku pasukan Majapahit. Anepakén tiwas ku Gajah Mada, sedengkeun raja Sunda tiwas ditelasan ku bésanna sorangan, raja Kahuripan jeung Daha. Hiji-hijina nu salamet nyaéta Pitar, perwira Sunda nu pura-pura tiwas di antara pasoléngkrahna mayit prajurit Sunda. Lajeng anjeunna nepungan ratu jeung putri Sunda. Aranjeunna kalintang ngarasa sedih, lajeng nelasan manéh, sedengkeun para istri perwira Sunda arangkat ka médan perang lajeng narelasan manéh hareupeun mayit para salakina

Menurut Berita Nusantara II/2, peristiwa tersebut terjadi pada hari selasa – Wage sebelum tengah hari. Semua orang Sunda yang dibubat itu telah binasa. Tak ada seorangpun yang tersisa. Adapaun para pembesar yang gugur di Palagan Bubat, adalah :

•                    RakeyanTumenggung Larang Ageng, Rakean Mantri Sohan, Yuwamantri (mantri muda), Gempong Lotong, Sang Panji Melong Sakti, Ki Panghulu Sura, Rakean Mantri Saya, Rakean Rangga Kaweni, Sang Mantri Usus, yaitu bhayangkara sang prabu, Rakeyan Senapati Yuda Sutrajali, Rakean Juru Siring, Ki Jagat Saya Patih Mandala Kidul, Sang Mantri Patih Wirayuda, Rakean Nakoda Braja yang menjadi panglima laut Sunda, Ki Nakoda Bule pemimpin Jurumudi kapal perang kerajaan. Ki Juruwastra, Ki Mantri Sabrang Keling, Ki Mantri Supit Kelingking. Lalu Sang Prabu Maharaja Linggabuana ratu Sunda dan rajaputri Dyah Pitaloka bersama pengiringnya. 

 

Pasca Palagan

Berita Nusantara II/2 mengisahkan, Prabu Hayam Wuruk tiba bersama pengiringnya dan Gajah Mada di Bubat. Kemudian ia meneliti dan memperhatikan mayat orang-orang Sunda satu demi satu. Ketika matanya tertatap sesosok mayat, ia melihat Sang Putri telah terbujur kaku, maka sangatlah luka hatinya. Ia terisak menahan tangis. Kemudian semua mayat itu dimasukan kedalam bandusa (peti mati) dan diberi tulisan yang memuat nama masing-masing.

Peristiwa ini dilukiskan dengan pilu didalam Kidung Sunda, sebagai berikut :

•           Sireñanira tinañan, unggwani sang rajaputri, tinuduhakěn aneng made sira wontěn aguling, mara sri narapati, katěmu sira akukub, perěmas natar ijo, ingungkabakěn tumuli, kagyat sang nata dadi atěmah laywan.

•           Wěněsning muka angraras, netra duměling sadidik, kang lati angrawit katon, kengisning waja amanis, anrang rumning srigading, kadi anapa pukulun, ngke pangeran marěka, tinghal kamanda punyaningsun pukulun, mangke prapta angajawa.

•           Sang tan sah aneng swacita, ning rama rena inisti, marmaning parěng prapta kongang mangkw atěmah kayêki, yan si prapta kang wingi, bangiwen pangeraningsun, pilih kari agěsang, kawula mangke pinanggih, lah palalun, pangdaning Widy angawasa.

•           Palar-palarěn ing jěmah, pangeran sida kapanggih, asisihan eng paturon, tan kalangan ing duskrěti, sida kâptining rawit, mwang rena kalih katuju, lwir mangkana panapanira sang uwus alalis, sang sinambrama lěnglěng amrati cita.

•           Sangsaya lara kagagat, pětěng rasanikang ati, kapati sira sang katong, kang tangis mangkin gumirih, lwir guruh ing katrini, matag paněděng ing santun, awor swaraning kumbang, tangising wong lanang istri, arěrěb-rěrěb pawraning gělung lukar.

•           (Maka ditanyalah dayang-dayang di manakah gerangan tempat Tuan Putri. Diberilah tahu berada di tengah ia, tidur. Maka datanglah Sri Baginda, dan melihatnya tertutup kain berwarna hijau keemasan di atas tanah. Setelah dibuka, terkejutlah sang Prabu karena sudah menjadi mayat.

•           Pucat mukanya mempesona, matanya sedikit membuka, bibirnya indah dilihat, gigi-giginya yang tak tertutup terlihat manis, seakan menyaingi keindahan sri gading. Seakan-akan ia menyapa: “Sri Paduka, datanglah ke mari. Lihatlah kekasihnda (?), berbakti, Sri Baginda, datang ke tanah Jawa.

•           Yang senantiasa berada di pikiran ayah dan ibu, yang sangat mendambakannya, itulah alasannya mereka ikut datang. Sekarang jadinya malah seperti ini. Jika datang kemarin dulu, wahai Rajaku, mungkin hamba masih hidup dan sekarang dinikahkan. Aduh sungguh kejamlah kuasa Tuhan!

•           Mari kita harap wahai Raja, supaya berhasil menikah, berdampingan di atas ranjang tanpa dihalang-halangi niat buruk. Berhasillah kemauan bapak dan ibu, keduanya.” Seakan-akan begitulah ia yang telah tewas menyapanya. Sedangkan yang disapa menjadi bingung dan merana)

Prabu Hayam Wuruk keluar dari tenda Sang Putri. Dari kejauhan nampak berkibar dua panji, yakini panji kerajaan Majapahit dan Sunda. Ia pun menugaskan Sang Patih Gajah Mada untuk menyelenggarakan upacara kematian secara kebesaran esok harinya. Ketika semua mayat dimandi sucikan dan diperabukan, tampak ribuan penduduk dari daerah sekitarnya memenuhi lapangan, menyaksikan dengan penuh haru. Kelak di Sunda dibuat patung pribadi Sang Maharaja. Selanjutnya Hayam Wuruk memerintahkan para darmayaksa untuk menemui Bunisora dan mengirimkan surat untuk memintakan maaf atas peristiwa Bubat. Hayam Wuruk berjanji pula, tidak akan pernah terjadi lagi Majapahit menyakiti hati Urang Sunda untuk yang kedua kalinya.

Tentang Prabu Hayam Wuruk dan Gajah Mada, memang ada kelanjutannya dalam Kidung Sunda, dalam Pupuh III (Sinom), dalam bahasa Sunda, sebagai berikut :

•                   Prabu Hayam Wuruk ngarasa hariwang nempo perang ieu. Anjeunna lajeng angkat ka pakémahan putri Sunda, sarta mendakan putri Sunda geus tiwas. Prabu Hayam Wuruk kacida nalangsa ku hayangna ngahiji jeung putri Sunda ieu.

•                   Satutasna ti éta, dilaksanakeun upacara pikeun ngadungakeun para arwah. Teu lila ti kajadian ieu, Hayam Wuruk mangkat ku rasa nalangsa nu kacida.

•                  Sanggeus anjeunna dilebukeun sarta sadaya upacara geus réngsé, paman-pamanna ngayakeun sawala. Aranjeunna nyalahkeun Gajah Mada kana kajadian ieu, sarta mutuskeun rék néwak sarta nelasan Gajah Mada. Nalika aranjeunna datang ka kapatihan, Gajah Mada geus sadar yén wancina geus datang. Gajah Mada maké sagala upakara (kalengkepan) upacara lajeng milampah yoga Samadi, sahingga anjeunna ngaleungit (moksa) ka (niskala).

•                    Raja Kahuripan jeung Daha, nu sarupa jeung “Siwa jeung Buda”, mulang ka nagarana séwang-séwangan, sabab mun cicing di Majapahit teu weléh kasuat-suat ku kajadian ieu.

Versi lainnya dimuat dalam Pustaka Nusantara II/2, yakni : Akibat peristiwa Bubat itu Prabu Hayam Wuruk sakit lama karena menyesal. Keluarga Kerajaan Majapahit seperti ayah, ibu dan adik-adik PrabuHayam Wuruk meyakini bahwa nama buruk Majapahit akibat peristiwa bubat. Yang menyebabkan Sri Rajasanagara sakit parah itu adalah prakarsa Sang Mangkubumi Gajah Mada. Mereka memutuskan bahwa sang Mangkubumi harus ditangkap. Tetapi rencana tersebut dapat diketahui sehingga ketika pasukan Bhayangkara kerajaan datang di puri Gajah Mada, sang mangkubumi telah lolos tanpa seorang pun mengetahui tempat persembunyiannya. Baru beberapa tahun kemudian setelah Prabu Hayam Wuruk mempersunting puteri raja Wengker, Ratu Ayu Kusumadewi, ia memberi ampun kepada sang Mangkubumi dan mengundangnya untuk menepati jabatannya yang semua.

Kemudian ada juga versi yang menjelaskan, bahwa akibat peristiwa Bubat ini hubungan Hayam Wuruk dengan Gajah Mada menjadi renggang. Gajah Mada sendiri tetap menjabat Mahapatih sampai wafatnya (ada juga yang menyatakan moksa), pada tahun 1364 M. Namun didalam Pustaka Nusantara II/2, dijelaskan, bahwa : akibat peristiwa Bubat itu Prabu Hayam Wuruk sakit lama karena menyesal. Keluarga Kerajaan Majapahit seperti ayah, ibu dan adik-adik PrabuHayam Wuruk meyakini bahwa nama buruk Majapahit akibat peristiwa bubat. Yang menyebabkan Sri Rajasanagara sakit parah itu adalah prakarsa Sang Mangkubumi Gajah Mada. Mereka memutuskan bahwa sang Mangkubumi harus ditangkap. Tetapi rencana tersebut dapat diketahui sehingga ketika pasukan Bhayangkara kerajaan datang di puri Gajah Mada, sang mangkubumi telah lolos tanpa seorang pun mengetahui tempat persembunyiannya. Baru beberapa tahun kemudian setelah Prabu Hayam Wuruk mempersunting puteri raja Wengker, Ratu Ayu Kusumadewi, ia memberi ampun kepada sang Mangkubumi dan mengundangnya untuk menepati jabatannya yang semua.

Persitiwa Bubat terjadi pada hari Selasa – Wage sebelum tengah hari. Semua urang Sunda yang datang di pasangrahan Bubat dibinasakan. Tak seorang pun yang tersisa. Tetapi Bumi Sunda tidak pernah dapat dikuasai Majapahit.  Karena hasrat Majapahit untuk menaklukan Sunda tak pernah dapat terlaksana.

Sedemikian kokohnya harga diri Urang Sunda. Semoga generasi penerusnya memiliki “pamadegan” yang sama. Teu lali kana purwadaksina, kalawan mibanda ajen diri salaku teureuh para ksatria Sunda. Karena suatu bangsa menjadi tidak ada artinya jika tidak memiliki harga diri dan jati diri. (***)

 

PASCA BUBAT

Pasca tragedi Bubat dikisahkan dalam versi Berita Nusantara II/2. Menurut buku ini, “Prabu Hayam Wuruk tiba bersama pengiringnya dan Gajah Mada di Bubat. Kemudian ia meneliti dan memperhatikan mayat orang-orang Sunda satu demi satu. Ketika matanya tertatap sesosok mayat, ia melihat Sang Putri telah terbujur kaku, maka sangatlah luka hatinya. Ia terisak menahan tangis. Kemudian semua mayat itu dimasukan kedalam bandusa (peti mati) dan diberi tulisan yang memuat nama masing-masing”. (RPMSJB, Jilid ketiga hal, 35)

Adapun nama-nama para kesatria Sunda yang gugur di Bubat, sebagai berikut :

•         RakeyanTumenggung Larang Ageng, Rakean Mantri Sohan, Yuwamantri (mantri muda), Gempong Lotong, Sang Panji Melong Sakti, Ki Panghulu Sura, Rakean Mantri Saya, Rakean Rangga Kaweni, Sang Mantri Usus, yaitu bhayangkara sang prabu, Rakeyan Senapati Yuda Sutrajali, Rakean Juru Siring, Ki Jagat Saya Patih Mandala Kidul, Sang Mantri Patih Wirayuda, Rakean Nakoda Braja yang menjadi panglima laut Sunda, Ki Nakoda Bule pemimpin Jurumudi kapal perang kerajaan. Ki Juruwastra, Ki Mantri Sabrang Keling, Ki Mantri Supit Kelingking. Lalu Sang Prabu Maharaja Linggabuana ratu Sunda dan rajaputri Dyah Pitaloka bersama pengiringnya. 

Prabu Hayam Wuruk keluar dari tenda Sang Putri. Dari kejauhan nampak berkibar dua panji Majapahit dan Sunda. Ia pun menugaskan untuk menyelenggarakan upacara kematian secara kebesaran esok harinya. Ketika semua mayat dimandi sucikan dan diperabukan, tampak ribuan penduduk dari daerah sekitarnya memenuhi lapangan, menyaksikan dengan penuh haru.

Selanjutnya Hayam Wuruk memerintahkan para darmayaksa dan utusan dari setiap agama menemui Sang Bunisora (adik kandung Parbu Maharaja), untuk mengirimkan surat berisi permintaan maaf atas peristiwa Bubat. Hayam Wuruk berjanji pula, tidak akan pernah terjadi lagi Majapahit menyakiti hati Urang Sunda untuk yang kedua kalinya.

Menurut versi yang dimuat dalam Pustaka Nusantara II/2, dikisahkan, :

•                    Sakweh ing amtya, tanda senapati, wadyabala, kuwandha raja, dolaya manacitta mapan Bhre Prabhu wilwatika i sedeng gering ngenes, Marga nira gering, karena kahyun ira masteri lawan Dyah Pitaloka tan siddha.

Akibat peristiwa Bubat itu Prabu Hayam Wuruk sakit lama karena menyesal. Keluarga Kerajaan Majapahit seperti ayah, ibu dan adik-adik Prabu Hayam Wuruk meyakini bahwa nama buruk Majapahit akibat peristiwa bubat. Yang menyebabkan Sri Rajasanagara sakit parah itu adalah prakarsa Sang Mangkubumi Gajah Mada. Mereka memutuskan bahwa sang Mangkubumi harus ditangkap. Tetapi rencana tersebut dapat diketahui sehingga ketika pasukan Bhayangkara kerajaan datang di puri Gajah Mada, sang mangkubumi telah lolos tanpa seorang pun mengetahui tempat persembunyiannya.

Baru beberapa tahun kemudian setelah Prabu Hayam Wuruk mempersunting puteri raja Wengker, Ratu Ayu Kusumadewi, ia memberi ampun kepada sang Mangkubumi dan mengundangnya untuk menepati jabatannya yang semua. Ada juga versi lain yang menjelaskan, bahwa akibat peristiwa Bubat ini hubungan Hayam Wuruk dengan Gajah Mada menjadi renggang. Gajah Mada sendiri tetap menjabat Mahapatih sampai wafatnya (ada juga yang menyatakan moksa), pada tahun 1364 M.

 

Keteguhan Janji

Hayam Wuruk memang telah meminta maaf dan berjanji untuk tidak lagi menyerang Sunda, namun sebagai antispasi dan kewaspadaan, Mangkubumi Bunisora masih belum merasa yakin atas janji yang disampaikan Hayam Wuruk. Ia tidak mau terjadi lagi peristiwa seperti Bubat, pura-pura diajak bersaudara namun diperih pati.

Sebagai bentuk kewaspadaan, Sang Bunisora menyiagakan angkatan perang dan angkatan lautnya. Armada Sunda ditempatkan di tungtung Sunda, yaitu di kali Brebes (Cipamali) yang menjadi perbatasan Sunda dengan Majapahit. Namun Hayam Wuruk menepati janjinya dan tidak menyerang Sunda untuk yang kedua kalinya. Konon kabar, janji ini dibuktikan pula, ketika Prabu Hayam Wuruk hendak melakukan ekspedisi ke Sumatera, ia terlebih dahulu memberi kabar kepada Hyang Bunisora bahwa kapal-kapal Majapahit akan melewati perairan Sunda.

Pentaatan Raja-raja Sunda terhadap perjanjian ini juga diwariskan

untuk tidak berniat menyerang Majapahit. Hal ini dibuktikan oleh raja Sunda untuk tidak menyerang Majapahit, ketika terjadi perang Paregreg (1453-1456 M), yaitu peristiwa perebutan tahta Majapahit oleh para keturunannnya. Pada masa perang Paregreg Kawali sudah berada dibawah kekuasaan Wastu Kancana, putra Linggabuana.

Demikian pula pada masa sesudahnya. Ketika itu Majapahit dipimpin Prabu Kertabumi atau Brawijaya V, pada tahun 1478 kalah perang dari Demak dan Girindrawardana, banyak keluarga keraton Majapahit mengungsi ketimur, yakni ke Panarukan, Pasuruan, Blambangan dan Supit Udang. Gelombang para pengungsi ada juga yang menuju ke barat, ke daerah Galuh dan Kawali. Rombongan yang terkahir ini di pimpin oleh Raden Baribin, mereka disambut dengan senang hati oleh Dewa Niskala. Raden Baribin kemudian di jodohkan dengan Ratu Ayu Kirana, putri Prabu Dewa Niskala. Putri ini adiknya Banyakcatra atau Kamandaka, bupati Galuh di Pasir Luhur dan Banyakngampar bupati Galuh di Dayeuh Luhur.

 

Mitos atau larangan.

Pada masa tersebut, tahta Sunda di Kawali sudah diwarikan kepada Dewa Niskala. Sayangnya Dewa Niskala dianggap ‘ngarumpak dua larangan’ dengan cara menikahi seorang rara hulanjar dan istri larangan salah satu rombongan para pengungsi.  Hal tersebut ditentang oleh lingkungan kerabat Galuh, termasuk oleh saudara seayah, yakni Prabu Susuktunggal (raja Sunda di Pakuan). Prabu Susuktunggal merasa bahwa keraton Surawisesa telah dinodai, sehingga Susuktunggal mengancam akan memutuskan segala hubungan kekerabatannya dengan Galuh. Mungkin ancaman demikian tidak berakibat menakutkan jika disampaikan oleh kerabat biasa, namun lain halnya jika disampaikan oleh seorang raja Sunda yang sederajat dengan Dewa Niskala, sehingga wajar jika kemudian terjadi ketegangan.

Ketegangan diantara kedua keturunan Wastu Kancana tersebut berakhir ketika para pemuka kerajaan mendesak keduanya untuk mengundurkan diri. Sebagai bentuk kompromi keduanya harus menyerahkan tahtanya kepada Jayadewata, yakni putra Dewa Niskala dan sekaligus menantu Susuktunggal. Pada masa itu Jayadewata telah menduduki jabatan sebagai Putra Mahkota Galuh, sedangkan di Sunda diangkat sebagai Prabu Anom.

Dari adanya peristiwa tersebut tentunya mengandung hikmah yang cukup besar, karena adanya peristiwa ini maka pada tahun 1482 M, kerajaan Sunda warisan Wastu Kencana tersebut bersatu kembali dibawah pemerintahan Jayadewata, untuk kemudian pusat pemerintahan Sunda beralih ke Pakuan, Jayadewata sendiri dikemudian hari lebih dikenal dengan sebutan Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi.

 

Terakhir

Kisah Bubat tidak hanya dituliskan oleh sejarawan Belanda, melainkan juga oleh sejarawan lokal, seperti buku Kidung Sundayana, serta sejarah lisan yang diceritakan secara turun temurun. Kisah Bubat juga menciptakan beberapa mitos, seperti tentang hulanjar, larangan laki-laki keturunan keraton Galuh untuk menikahi dengan perempuan keluarga Majapahit, atau ketiadaan nama jalan yang sesuai dengan nama negara para pelaku sejarah. Namun mitos tersebut sedikit demi mulai luntur. Perkawinan antar suku (bahkan antar bangsa dan antar agama) dianggap hal yang wajar, masalah hulu lanjar pun secara moralitas masih dilarang jika tidak sesuai dengan nilai-nilai yang berlaku umum.

Suatu kisah yang dikisahkan atau dari kepandaian penulis dalam memaparkan suatu peristiwa adakalanya mampu merubah paradigma pembaca. Tak salah jika suatu buku dinyatakan sebagai sumber ilmu, karena ia mampu merubah pemikiran para pembaca. Demikian pula tentang penulisan sejarah Tragedi Bubat, banyak versi yang berkembang. Dari yang benar-benar menceritakan latar belakang suatu peristiwa, maupun tulisan yang bersifat rekaan, karena tak iklas tokohnya berlacak buruk,, termasuk untuk tujuan komersil, maka sangat bijaksana jika referensi buku dan kesejarahan yang dipelajari tidak cukup hanya dari satu sumber.

Tragedi Palagan Bubat telah menciptakan motivasi bagi para penulis pasca proklamasi untuk menciptakan keutuhan negara sebagai suatu kesatuan wilayah Indonesia yang kuat, dan dijauhkan dari sifat sentimen kesukuan. Hal ini bisa terlaksana jika satu pihak tidak merasa mendominasi sejarahnya terhadap pihak lain. Upaya yang paling radikal (mengakar) dilakukan pula ketika beberapa pihak menyatakan bahwa Tragedi Bubat itu tidak pernah ada, buku yang mengisahkan Palagan Bubat, seperti Kidung Sundayana disinyalir diciptakan untuk memecah belah bangsa Indonesia, bahkan dibuat oleh orang Belanda yang menginginkan terjadinya perpecahan dikalangan Bumi Putra.

Pendapat dan penafsiran demikian mungkin perlu dikaji kembali, karena cepat atau lambat kebenaran tersebut akan terkuak. Sejarah tidak akan pernah dapat dihapuskan dan akan di uji sesuai kemampuan setiap generasi dalam mengungkap kesejatian sejarahnya. Tak perlu juga malu untuk mengungkapkan jika kupasan sejarah tersebut dibuat dalam koridor yang ada didalam bingkai ke Indonesiaan. Karena apapun masalahnya, Indonesia sebagai suatu bangsa telah memiliki perjalanan sejarahnya. Dari semua itu kita bisa bercermin, tentang mana yang baik dan perlu dilanjutkan dan mana yang buruk dan perlu ditinggalkan. Cag Heula (***)

 

AMANAT WASTUKANCANA

Prabu Raja Wastu atau Niskala Wastu Kancana adalah putera Prabu Maharaja Lingga Buana yang gugur di Palagan Bubat pada tahun 1357. Wastu Kancana adalah satu-satunya ahli waris Linggabuana yang masih hidup, karena ketiga saudaranya telah wafat.

Ketika terjadi Pasunda Bubat usia Wastu Kancana baru 9 tahun dan ia satu-satunya ahli waris Prabu Maharaja yang masih hidup. Setelah pemerintahan di jalankan pamannya yang sekaligus juga mertuanya (Sang Bunisora), Wastu Kancana dinobatkan menjadi raja Sunda di Kawali pada tahun 1371 dalam usia 23 tahun.

Niskala Wastu Kancana banyak dibimbing dan diajarkan masalah kenegaraan dan keagaamaan, oleh Sang Bunisora. Ajaran tentang kesejatian hidup yang kemudian dikenal masyarakat sebagai Wasiat (wangsit) Kancana tentunya tidak terlepas dari pengaruh bimbingan Sang Bunisora, yang memang dikenal sebagai rajaresi. Di dalam Carita Parahyangan ia diberi gelar Satmata. Salah satu Wali yang diberi gelar Satmata dalam Babad Tanah Jawi adalah Sunan Giri.

Menurut Kropak 630, tingkatan batin manusia dalam keagamaan adalah acara, adigama, gurugama, tuhagama, satmata, suraloka, dan nirawerah. Satmata adalah tingkatan kelima dan tahap tertinggi bagi seseorang yang masih ingin mencampuri urusan duniawi. Setelah mencapai tingkat keenam (suraloka), orang sudah sinis terhadap kehidupan umum. Pada tingkatan ketujuh (nirawerah) padamlah segala hasrat dan nafsu, seluruh hidupnya pasrah kepada Hiyang Batara Tunggal – Tuhan Yang Maha Esa. (Yosef Iskandar : 2005).

Peranan Sang Bunisora tersebut membentuk pribadi Wastu Kancana menjadi orang yang bijak dan religius. Penulis Carita Parahyangan menguraiakan bahwa :

    “Sanajan umurna ngora keneh, tingkah lakuna seperti nu geus rea luangna, lantaran ratu eleh ku satmata, nurut ka nu ngasuh, Hiang Bunisora, nu hilang di Gegeromas.” (Sekalipun umurnya masih muda namun perilakunya seperti yang sudah banyak pengalaman, sebab ratu taat kepada Satmata, mentaati pengasuh nya, Hyang Bunisora, yang mendiang di Gegeromas).

Penulis Carita Parahyangan mengisahkan Kehidupan Wastu Kancana, dan bagaimana rakyat mencintainya. Uraian tersebut seolah-olah memuji-muji perilakunya, bahkan dapat dijadikan contoh generasi penerusnya. Tulisan dalam Carita Parahyangan tersebut, sebagai berikut :

Aya deui putra Prebu, kasohor ngaranna, nya eta Prebu Niskalawastu kancana, nu tilem di Nusalarang gunung Wanakusuma. Lawasna jadi ratu saratus opat taun, lantaran hade ngajalankeun agama, nagara gemah ripah. – Sanajan umurna ngora keneh, tingkah lakuna seperti nu geus rea luangna, lantaran ratu eleh ku satmata, nurut ka nu ngasuh, Hiang Bunisora, nu hilang di Gegeromas. Batara Guru di Jampang. Sakitu nu diturut ku nu ngereh lemah cai. —  Batara guru di Jampang teh, nya eta nyieun makuta Sanghiang Pake, waktu nu boga hak diangkat jadi ratu. — Beunang kuru cileuh kentel peujit ngabakti ka dewata. Nu dituladna oge makuta anggoan Sahiang Indra. Sakitu, sugan aya nu dek nurutan. Enya eta lampah nu hilang ka Nusalarang, daek eleh ku satmata. Mana dina jaman eta mah daek eleh ku nu ngasuh. — Mana sesepuh kampung ngeunah dahar, sang resi tengtrem dina ngajalankeun palaturan karesianana ngamalkeun purbatisti purbajati. Dukun-dukun kalawan tengtrem ngayakeun perjangjian-perjangjian make aturan anu patali jeung kahirupan, ngabagi-bagi leuweung jeung sakurilingna, ku nu leutik boh kunu ngede moal aya karewelanana, para bajo ngarasa aman lalayaran nurutkeun palaturan ratu. — Cai, cahaya, angin, langit, taneuh ngarasa senang aya dina genggaman pangayom jagat. —  Ngukuhan angger-angger raja, ngadeg di sanghiang linggawesi, puasa, muja taya wates wangenna. — Sang Wiku kalawan ajen ngajalankeun angger-angger dewa, ngamalkeun sanghiang Watangageung. Ku lantaran kayakinan ngecagkeun kalungguhanana teh.

Pada masa Wastu Kancana ada peristiwa yang cukup penting, yakni peristiwa Perang Paregreg ; masuknya pengaruh islam ke Tatar Sunda yang di bawa oleh Bratalegawa atau Haji Purwa Galuh, putra Sang Bunisora, dan tibanya Laksmana Ceng Ho di Pelabuhan Cirebon. Didalam rombongan tersebut terdapat Syekh Hasanudian yang kemudian turun di Karawang serta mendirikan Pesatren Quro.

 

Wasiat Wastu Kancana.

Keberadaan Wastu Kancana di Kawali ditegaskan dalam dua buah prasasti. Hal ini sekaligus juga menunjukan adanya eksistensi kerajaan Sunda di Kawali. Prasasti di Astana Gede dimaksud memuat, sebagai berikut :

Prasasti Kawali 1 :

00 nihan tanpa kawa-

Li nu siya mulia tanpa bha-

Gya parebu raja wastu

Mangadeg di kuta kawa-

Li nu mahayu na kadatuan

Surawisesa nu margi sa-

Kuliling bdayeuh nu najur sagala

Desa aya ma nu pa(n) deuri pakena

Gawe rahhay pakeun heubeul ja-

Ya dina buana 00

(yang berada di kawali ini adalah yang mulia pertapa yang berbahagia Prabu Raja Wastu yang bertahta di Kawali, yang memperindah keraton Surawisesa, yang membuat parit [pertahanan] sekeliling ibu kota, yang mensejahterakan [memajukan pertanian] seluruh negeri. Semoga ada [mereka] yang kemudian membiasakan diri berbuat kebajikan agar lama berjaya di dunia).

Prasasti Kawali 1 tentu tidak bisa dipisahkan dari Prasasti Kawali Ke 2. Intinya menjelaskan sebagai berikut :

Prasasti Kawali 2 :

Aya ma

nu ngeusi bha-

gya kawali ba-

ri pakena kere-

ta bener

pakeun na(n)jeur

na juritan.

[semoga ada (mereka) yang kemudian mengisi (negeri) Kawali ini dengan kebahagiaan sambil membiasakan diri berbuat kesejahteraan sejati agar tetap unggul dalam perang].

Isi dari prasasti kedua ditafsirkan para ahli sejarah Sunda sebagai Wangsit (Wasiat) Wastu Kencana, ditujukan kepada generasi sesudahnya. Wasiat ini berisi tentang wasiat agar selalu berbuat kebajikan (pakena gawe rahayu) dan kesejahteraan yang sejati (pakena kereta bener), konon perbuatan ini jika dilaksanakan dapat menjadikan sumber kejayaan dan kesentausaan segenap manusia. Wasiat di dalam prasasti yang kedua memiliki makna yang universal. Mungkin jika diterapkan dalam teori kepemimpinan dapat memberikan arah yang jelas bagi perilaku pemimpin dalam melaksanakan amanah sehingga dapat dicintai rakyatnya.

Pokok – pokok ajaran kesejahteraan sejati diuraikan didalam kropak 632 dan 630, dikenal dengan sebutan naskah Siksa Kanda Ng Karesyan. Naskah tersebut sama dengan ajaran tentang tetekon hirup yang dikenal dalam yang dianut Batari Hyang – pembuat parit Galunggung, bahkan masih dijadikan ajarannya resmi pada jaman Prabu Siliwangi (1482-1521 M) yang bertahta di Pakuan Pajajaran.

Menurut RPMSJB, salah satu kunci ke arah kesejahteraan sejati itu dalam kropak 630 lembar 26 dan 27 diuraikan sebagai berikut :

Teguhkeun, pageuhkeun sahinga ning tuhu,

pepet byakta warta manah,

mana kreta na bwana,

mana hayu ikang jagat kena twah ning janma kapahayu.

Kitu keh, sang pandita pageuh kapanditaanna, kreta ;

sang wiku pageuh di kawikuanna, kreta ;

sang ameng pageuh di kaamenganna, kreta ;

sang wasi pageuh dikawalkaanna, kreta ;

sang wong tani pageuh di katanianna, kreta ;

sang euwah pageuh di kaeuwahanna, kreta ;

sang gusti pageuh di kagustianna, kreta ;

sang mantri pageuh di kamantrianna, kreta ;

sang masang pageuh di kamasanganna, kreta ;

sang tarahan pageuh di katarahanna, kreta ;

sang disi pageuh di kadisianna, kreta ;

sang rama pageuh di karamaanna, kreta ;

sang prebu pageuh di kaprebuanna, kreta.

Ngun sang pandita kalawan sang dewarata pageuh ngretakeun ing bwana, nya mana kreta lor kidul wetan sakasangga dening pretiwi sakakurung dening akasa, pahi manghurip ikang sarwo janma kabeh.

(Teguhkan, kukuhkan batas-batas kebenaran, penuhi kenyataan niat baik dalam jiwa, maka sejahteralah dunia, maka sentosalah jagat ini sebab perbuatan manusia yang penuh kebajikan.

Demikianlah hendaknya. Bila pendeta teguh dalam tugas nya sebagai pendeta, akan sejahtera ; Bila wiku teguh dalam tugasnya sebagai wiku akan sejahtera ; Bila manguyu teguh dalam tugasnya sebagai akhli gamelan, akan sejahtera ; Bila paliken teguh dalam tugasnya sebagai akhli seni rupa, akan sejahtera ; Bila ameng teguh dalam tugasnya sebagai pelayan biara, akan sejahtera ; Bila pendeta teguh dalam tugasnya sebagai pendeta, akan sejahtera ; Bila wasi teguh dalam tugasnya sebagai santi, akan sejahtera ; Bila ebon teguh dalam tugasnya sebagai biarawati, akan sejahtera ; Bila pendeta teguh dalam tugasnya sebagai pendeta, akan sejahtera ; Demikian pula bila walka teguh dalam tugasnya sebagai pertapa yang berpakaian kulit kayu, akan sejahtera ; Bila petani teguh dalam tugasnya sebagai petani, akan sejahtera ; Bila pendeta teguh dalam tugasnya sebagai pendeta, akan sejahtera ; Bila euwah teguh dalam tugasnya sebagai penunggu ladang, akan sejahtera ; Bila gusti teguh dalam tugasnya sebagai pemilik tanah, akan sejahtera ; Bila menteri teguh dalam tugasnya sebagai menteri, akan sejahtera ; Bila masang teguh dalam tugasnya sebagai pemasang jerat, akan sejaktera ; Bila bujangga teguh dalam tugasnya sebagai ahli pustaka, akan sejahtera ; Bila tarahan teguh dalam tugasnya sebagai penambang penyebrangan, akan sejahtera ; Bila disi teguh dalam tugasnya sebagai ahli obat dan tukang peramal, akan sejahtera ; Bila rama teguh dalam tugasnya sebagai pengasuh rakyat, akan sejahtera ; Bila raja (prabu) teguh dalam tugasnya sebagai raja, akan sejahtera. 

Demikian seharusnya pendeta dan raja harus teguh membina kesejahteraan didunia, maka akan sejahteralah di utara barat dan timur, diseluruh hamparan bumi dan seluruh naungan langit, sempurnalah kehidupan seluruh umat manusia). [Jilid Ketiga, hal 39]

Inti ajaran Siksa Kanda Ng Karesyian sebagaimana yang dimuat di dalam kropak 630 memberikan arti bahwa Jika setiap manusia berpegang teguh kepada kebenaran dan menjalankan kewajiban sesuai dengan tugasnya masing-masing maka akan mencapai kesejahteraan sejati. Kesejahteraan sejati dimaksud meliputi kejehteraan batin dan kesejahteraan lahir. Kesejahteraan batin jika manusia tidak mengingkari kebenaran, sedangkan kesejahteraan lahir dapat diperoleh jika dalam menjalankan tugasnya dilakukan dengan cara yang jujur dan bersungguh-sungguh. Itulah yang di wasiatkan Wastu Kancana kepada generasi sesudahnya.

Wasiat tentang kesejahteraan lahir mengandung pula konsep tentang bagaimana manusia harus teguh dan memiliki dedikasi dibidang keahliannya. Konsep dan visi Wastu Kancana menurut hemat saya lebih maju dari praktek kenegaraan sekarang. Saat ini banyak orang yang bukan negarawan mengurusi masalah negara, para ahli agama banyak yang terjun menjadi politikus, banyak politikus jadi pedagang, banyak kaum pedagang jadi penentu kebijakan negara. Semuanya menyebabkan kerancuan dan menjauhkan bangsa dari kesentosaan.

Mungkin perlu direnungkan kembali tentang nilai-nilai luhur yang dinasehatkan Wastu Kancana. Nilai-nilai tersebut pernah menjadi jati diri urang Sunda. Hal nya sama dengan Naskah Darma Pitutur yang dimuat dalam korpak 630. Intinya mengajarkan, bahwa bertanyalah kepada ahlinya, serta serahkanlah suatu persoalan kepada ahlinya masing-masing. Tentang masalah keagamaan maka tanyakanlah kepada ahli agama – masalah perniagaan bertanyalah kepada ahli niaga – masalah kenegaraan bertanyaan kepada negarawan. Janganlah ahli agama turut campur memaksakan kehendak untuk mengurus negara – tukang dagang ikut-ikutan menentukan kebijakan politik, karena semua itu bukan bidangnya.

Demikian seharusnya ahli agama dan raja harus teguh membina kesejahteraan didunia, maka akan sejahteralah di utara – barat dan timur, diseluruh hamparan bumi dan seluruh naungan langit, sempurnalah kehidupan seluruh umat manusia.

Terakhir marilah kita renungkan Wasiat tersebut sebagai kearifan masa lalu. Karena : ada dahulu ada sekarang, karena ada masa silam maka ada masa kini. Bila tidak ada masa silam maka tiada masa kini. Ada tonggak tentu ada batang. Bila tak ada tonggak tentu tidak ada batang. Bila ada tunggulnya tentu ada catangnya.

Hana nguni hana mangke –

Tan hana nguni tan hana mangke –

Aya ma baheula hanteu teu ayeuna –

Henteu ma baheula henteu teu ayeuna –

Hana tunggak hana watang –

Hana ma tunggulna aya tu catangna.

 

KEMBALI KE PAKUAN

Niskala Wastu Kencana memiliki dua orang putra dari istri yang berbeda. Keduanya mewarisi tahta yang sederajat, yakni Sunda di Galuh dan Sunda di Pakuan. Setelah Wastu Kancana wafat pada tahun 1475, kerajaan Sunda dipecah, Sunda Galuh yang berpusat di Keraton Surawisesa diperintah oleh Ningrat Kencana dengan gelar Prabu Dewa Niskala sedangkan Sunda Pakuan yang berpusat di Keraton Sri Bima diperintah oleh Sang Haliwungan dengan gelar Prabu Susuktunggal (Pakuan).

Tantang penobatan Susuktunggal di Pakuan menurut Atja dan Ekadjati (1989:142), sebagai berikut : “setelah ayahnya wafat Prabu Susuktunggal menjadi raja di Pakuan  Pajajaran yang berdiri sendiri, hingga tahun 1482 Masehi. Dengan demikian baginda berkuasa 100 tahun lamanya. Ia wafat pada usia 113 tahun”, sedangkan Dewa Niskala, didalam buku yang sama dijelaskan, bahwa : “Prabu Niskala Wastu Kancana, pada tahun 1371 menikah dengan Dewi Mayangsari, putri bungsu Prabu Suradipati (Bunisora), putri itu baru berusia 17 tahun. Salah seorang putranya ialah Sang Ningratkancana. Pada usia 23 tahun dinobatkan menjadi raja wilayah Garut dengan nama abhiseka Prabu Dewaniskala. Baginda menjadi rajamuda pada ayahnya hingga 1475 masehi”. (Yoseph Iskandar – hal. 230).

Pembagian tahta Sunda sama sekali tidak memutuskan hubungan kekerabatan keturunan dari Wastu Kencana, bahkan politik kesatuan wilayah dibangun telah membuat jalinan perkawinan antar putra-putri keduanya yang masih terbilang sebagai cucu Wastu Kencana. Hal ini sebagaimana dilakukannya melalui pernikahan Jayadewata, putra Dewa Niskala dengan Kentring Manik Mayang Sunda, putri Susuktunggal.

Hubungan perkawinan dilakukan juga oleh para keturunan Sang Bunisora dengan keturunan Wastu Kencana. Dua orang putra Wastu Kancana menikah dengan putri Giri Dewata alias Ki Gedeng Kasmaya putra Sulung Bunisora yang menikah dengan Ratya Kirana puteri Ganggapermana raja daerah Cirebon Girang. Oleh karena itu Ki Gedeng Kasmaya menjadi penguasa tersebut menggantikan mertunya.(RPMSJB Jilik ketiga, hal 50).

 

Ngarumpak Larangan

Kisah penyatuan kerajaan Sunda warisan Wastu Kancana tidak terlepas dari adanya peristiwa di Galuh. Pada masa tersebut, tahta Sunda di Kawali sudah diwariskan kepada Dewa Niskala, dan ia di anggap ngarumpak larangan yang berlaku di keraton Galuh. Mungkin pada waktu dikatagorikan dengan pelanggaran moral.

Masalah moralitas di wilayah Galuh sangat mewarnai perubahan jalannya sejarah Sunda, ditenggarai dari kisah Smarakarya Mandiminyak (Amara) dengan Pwah Rababu, istri Sempakwaja yang membuahkan perebutan tahta Galuh. Kisah selanjutnya adalah Kisah Dewi Pangrenyep. Didalam versi cerita tradisional, seperi pantun dan babad, kisah ini diabadikan didalam lalakon Ciung Wanara. Demkian pula didalam kisah Dewa Niskala yang dianggap ngarumpak tabu keraton dengan cara menikahi putri hulanjar dan sekaligus istri larangan.

Dari masing-masing kisah tersebut sebenarnya dapat disimpulkan, bahwa keraton Galuh memiliki tradisi yang sangat menghormati moralitas, pada masa itu diatur dalam suatu bentuk etika hidup dan kenegaraan, yang disebut Purbatisti – Purbajati, bahkan memiliki sanksi yang tegas, dikucilkan dari lingkungan atau diturunkan dari tahtanya.

Keyakinan dan ketaatan Keraton Galuh demikian menjadikan suatu hal yang lumrah ketika nyusud kagirangna, karena Cikal Bakal Galuh adalah Kendan yang didirikan oleh Resi Manikmaya, resi sekaligus penguasa. Pada periode berikutnya para keturunan Galuh menciptakan keseimbangan dengan membentuk negara Galunggung sebagai negara agama (kabataraan) yang memiliki kekuatan untuk mengontrol perilaku penguasa Galuh. Ketaatan Galuh terhadap Galunggung nampak pula ketika masa Demunawan menginisiasi Perjanjian Galuh, sehingga pada periode berikutnya sangat wajar, ketika Dewa Niskala dipaksa untuk mengundurkan diri karena dianggap ngarumpak larangan.

Kisah akhir dari suatu kerajaan di pulau Jawa tentunya hampir sama, antara lain melahirkan mitos-mitos yang terkait dengan kondisi sang raja atau keluarganya. Misalnya, munculnya mitos tentang Sabda Palon di Majapahit dan Wangsit Siliwangi di Pajajaran. Kedua mitos tersebut ditafsirkan sedemikian rupa dan ditautkan dengan kondisi kekinian, pada akhirnya melahirkan paradigma tentang akan munculnya Ratu Adil.

Mitos selanjutnya yang muncul juga dikaitkan dengan kisah Ratu Kidul yang sangat melegenda. Didalam RPMSJB menjelaskan, bahwa : Bondan Kejawan, putra Kertabumi dari selirnya, Wandan Bondr Cemara, mengungsi ke Mataram. Ia kemudian memperistri Nawangwulan ratu Mataram yang juga disebut Ratu Kidul. Dari perkawinan ini lahir Ratu Angin-angin atau Ratu Kidul yang kelak diperistri oleh Sutawijaya pendiri kerajaan Mataram”. (Jilid Ketiga, hal 51).

Memang agak sulit melacak kebenarannya, mengingat hanya beredar di kalangan masyarakat tradisional dalam bentuk sejarah lisan, pantun atau babad yang sarat dengan simbol-simbol, masih perlu ditafsirkan. Namun biarlah masalah tersebut hidup terus. Paling tidak dapat menjelaskan adanya ikatan sejarah dan benang merah antara masa kini dengan kearifan masa lalu.

Peristiwa Dewa Niskala didalam sejarah resmi sangat terkait pula dengan eksodusnya keluarga Keraton Majapahit ke Kawali, pasca huru hara di Majapahit yang menjatuhkan Brawijaya V. Pada masa tersebut Majapahit mendapat serangan beruntun dari Demak dan Girindrawardana. Keluarga keraton Majapahit mengungsi ke Pasuruan, Blambangan dan Supit Udang, namun tak kurang pula yang mengungsi ke Kawali disebelah barat Majapahit.

Kisah pelarian keluarga keraton Majapahit yang menuju wilayah Galuh tiba di Kawali. Mereka dipimpin oleh Raden Baribin, saudara seayah Prabu Kretabhumi. Mereka disambut dengan senang hati oleh Dewa Niskala. Raden Baribin kemudian di jodohkan dengan Ratu Ayu Kirana, putri Prabu Dewa Niskala. Putri ini adiknya Banyakcatra atau Kamandaka, bupati Galuh di Pasir Luhur dan Banyakngampar bupati Galuh di Dayeuh Luhur.

Sayangnya Dewa Niskala dianggap ‘ngarumpak larangan’ karena menikahi seorang rara hulanjar dan istri larangan (wanita terlarang) dari salah satu rombongan para pengungsi. Rara hulanjar sebutan untuk wanita yang telah bertunangan. Masalah hulanjar sama halnya dengan aturan di Majapahit, yakni perempuan yang masih bertunangan dan telah menerima Panglarang, tidak boleh diperistri kecuali tunangannya telah meninggal dunia atau membatalkan pertunangannya.

Wanita terlarang (Istri larangan) di dalam tradisi Sunda pada masa itu ada tiga macam. Hal ini sebagaimana rujukan dari Carita Parahyangan dan Siksa Kandang Karesian, yaitu : (1) gadis atau wanita yang telah dilamar dan lamarannya diterima, gadis atau wanita terlarang bagi pria lain untuk meminang dan mengganggu, (2) Wanita yang berasal dari Tanah Jawa, terlarang dikawin oleh pria Sunda dan larangan tersebut dilatar belakangi peristiwa Bubat, dan (3) ibu tiri yang tidak boleh dinikahi oleh pria yang ayahnya pernah menikahi wanita tersebut. (Ekadjati – 2005 : hal.196)

Sejatinya suatu larangan akan ditaati jika mengandung sanksi, karena suatu larangan tanpa sanksi hanya bersifat himbauan maka tidak memiliki alat pemaksa. Demikian pula di dalam hukum adat, seseorang akan dikenakan sanksi jika ia melanggar keseimbangan adat, dalam hal ini ada ketentuan adat yang dilanggar Dewa Niskala, yakni Purbatisti Prbajati (tradisi) keraton Galuh yang selalu diamanatkan oleh Wastu Kencana dan leluhur sebelumnya.

Peristiwa pernikahan Dewa Niskala dengan hulanjar atau istri larangan, serta akibat dari perbuatannya tetsebut diabadikan oleh penulis Carita Parahyangan, sebagai berikut :

•         Diganti ku Tohaan Galuh, enya eta nu hilang di Gunung tiga. Lawasna jadi ratu tujuh taun, lantaran salah tindak bogoh ka awewe larangan ti kaluaran.

Hal yang sama dituliskan pula di dalam Pustaka Pararatwan i Bhumi Jawadwipa parwa 1 sarga 3, sebagai berikut :

•           •         //sang ningrat kancana / a-

•           •         Thawa prabhu dewa niskala/

•           •         Madeg ratu ghaluh pakwan

•           •         Ing (1397-1404) ikang ca-

•           •         Kakala//lawasnya/pitung warca/

•           •         Mapan sira kawilang sang sa-

•           •         Lah mastri lawan wanodya

•           •         Sakeng wilwatikta/

 (Sang Ningrat Kancana atau Prabu Dewa Niskala, menjadi ratu Galuh Pakuan pada tahun 13897-1404. Lamanya 7 tahun. Karena ia terhitung bersalah memperistri gadis (hulanjar) dari Majapahit) [Yoseph Iskandar – hal 321].

Prabu Susuktunggal merasa bahwa keraton Surawisesa telah dinodai, sehingga mengancam untuk memutuskan segala hubungan kekerabatan dengan Galuh. Ancaman demikian tidak berakibat menakutkan jika disampaikan oleh kerabat biasa, namun lain halnya jika disampaikan oleh seorang raja Sunda yang sederajat dengan Dewa Niskala, sehingga wajar jika kemudian terjadi ketegangan.

Prabu Susuktunggal didalam kisah dan versi lainnya memang tak ada ‘cawadeun’, bahkan penulis Carita Parahyangan memiliki kesan yang sangat baik, ia mencatatkan sebagai berikut :

•           •         Enya kieu, mimiti Sang Resi Guru boga anak Sang Haliwungan, nya eta Sang Susuktunggal nu ngomean pakwan reujeung Sanghiang Huluwesi, nu nyaeuran Sanghiang Rancamaya.

•           •         Tina Sanghiang Rancamaya aya nu kaluar.

•           •         “Ngaran kula Sang Udubasu, Sang Pulunggana, Sang Surugana, ratu hiang banaspati.”

•           •         Sang Susuktunggal, enya eta nu nyieun pangcalikan Sriman Sriwacana Sri Baduga Maharajadiraja, ratu pakwan Pajajaran. Nu kagungan kadaton Sri bima – untarayana madura – suradipati, nya eta pakwan Sanghiang Sri Ratudewata.

•           •         Titinggal Sang Susuktunggal, anu diwariskeunana tanah suci, tanah hade, minangka bukti raja utama.

•           •         Lilana ngadeg ratu saratus taun.

Ketegangan diantara kedua keturunan Wastu Kancana tersebut berakhir ketika para pemuka kerajaan mendesak keduanya untuk mengundurkan diri. Sebagai bentuk kompromi keduanya harus menyerahkan tahtanya kepada Jayadewata, yakni putra Dewa Niskala dan sekaligus menantu Susuktunggal. Pada masa itu Jayadewata telah menduduki jabatan sebagai Putra Mahkota Galuh, sedangkan di Sunda diangkat sebagai Prabu Anom.

Dari adanya peristiwa tersebut tentunya mengandung hikmah yang cukup besar, karena peristiwa ini maka pada tahun 1482 M kerajaan Sunda warisan Wastu Kencana tersebut bersatu kembali dibawah pemerintahan Jayadewata, dengan sebutan Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi.

 

Dari Kawali ke Pakuan.

Kisah penyatuan kembali kerajaan Sunda menurut versi sejarah resmi terjadi akibat perselisihan penguasa Galuh dengan Sunda yang cenderung memutuskan hubungan kekerabatan keraton Surawisesa dan Pakuan. Hal tersebut dipicu oleh Dewa Niskala yang dianggap melanggar larangan dengan menikahi Hulanjar dan istri larangan. Untung saja Wastu Kancana sebelumnya telah mempersiapkan Jayadewata, cucunya untuk meneruskan tahta Sunda. Jika saja tidak dipersiapkan dimungkinkan hubungan Sunda dengan Galuh akan kembali sebagai hubungan sebelum dilakukannya perjanjian Galuh di Purasaba.

Jayadewata pada waktu itu masih berposisi sebagai Putra Mahkota Sunda Kawali dan sebagai Prabu Anom di Pakuan. Gelar Prabu Anom berdasarkan pada garis kekerabatan setelah menikah dengan putrinya Prabu Susuktunggal, yakni Kentring Manik Mayang Sunda. Sedangkan Putra Mahkota karena ia putra dari Dewa Niskala.

Jayadewata sebelumnya melakukan pernikahan dengan dua cucu Wastu Kancana lainnya, yakni Ambetkasih, putri Gedeng Sindang Kasih dan Subanglarang, putra Gedeng Tapa. Pada masa itu ia masih dikenal dengan sebutan Sang Pamanah Rasa,

Lalampahan Jayadewata di Cirebon ditafsirkan para sejarawan untuk menimba ilmu kenegaraan dan mendapat pengalaman lain sebagai bekal dikemudian hari. Kisah Sang Pamanah Rasa di dalam cara mendapatkan Ambetkasih di Sindangkasih misalnya, digambarkan sejarawan tradisional dengan sangat dramatis, bagaimana ia dapat mengalahkan Amuk Murugul yang sakti mandraguna dalam suatu lomba tanding satria, ia pun menyamar dengan nama Keukeumbing Rajasunu. Kisah ini dapat ditemukan dalam cerita pantun yang syarat dengan simbol-simbol. Namun dalam dunia nyata memang kedua tokoh benafr adanya. Amuk Murugul kemudian Menjadi raja Singapura (Cirebon) sedangkan Sang Pamanah Rasa menjadi raja Pajajaran.

Didalam kisah lainnya Subanglarang adalah Santriwati dari Pondok Quro Karawang, dari pernikahan tersebut lahir Walangsungsang. Putra dari Subanglarang kemudian menjadi penyebar agama Islam di Cirebon. Namun didalam naskah Wangsakera, Walangsungsang dianggap cucu dari Jayadewata.  Dari epos sejarah ini banyak kisah dalam bermacam versi, Misalnya dikisahkan Jayadewata (Prabu Siliwangi) dikejar-kejar putranya supaya pindah ageman, bahkan tak kurang yang mengidentifisir Walangsungsang sebagai Kian Santang. Kekeliruan identifikasi ini berhenti sejenak setelah para penafsir mengalihkan nama Kian Santang kepada Sunan Rokhmat yang dimakamkan di Godok Garut, namun kisah ageman Prabu Siliwangi sampai saat ini masih menjadi bahan perdebatan yang menarik.

Rupanya kebesaran nama Prabu Siliwangi memang sangat menarik untuk diperbincangkan, tak pernah habis-habisnya, karena masyarakat tradisional di Jawa Barat seolah-olah tidak mau melepaskan kisah raja-raja Sunda jika tidak mengaitkan dengan nama Prabu Siliwangi. Akibatnya banyak versi dan banyak kisah, seolah-olah Prabu Siliwangi adalah raja Sunda seluruh jaman dan tokoh untuk semua kisah serta versinya.

Jayadewata adalah penguasa Sunda di Kawali yang kemudian mengalihkan pusat pemerintahannya ke Pakuan. Pada masa muda lebih dikenal dengan sebutan Sang Pamanah Rasa, putera Dewa Niskala, yang mewarisi tahta ayahnya di Galuh. Sebagai raja Sunda di Galuh ia bergelar Prabu Guru Dewataprana. Kemudian mewarisi tahta mertuanya di Pakuan dengan gelar Sri Baduga Maharaja.

Sumber utama tentang keberadaan Sri Baduga Maharaja berasal dari prasasti Kabantenan dan Batutulis Bogor. Namun kisahnya jauh lebih terkenal dalam cerita masyarakat dengan gelar Prabu Siliwangi.

Saleh Danasasmita (1981-1984) menterjemaahkan Prasasti Bogor, sebagai berikut :

•         OO wang na pun ini sakakala, prebu ratu purane pun, diwastu

•         diya wingaran prebu guru dewataprana diwastu diyadingan sri

•         baduga maharaja ratu haji pakwan pajajaran sri sang ratu de-

•         wata pun ya nu nyusuk na pakwan diya anak rahyang dewa nis-

•         kala sa(ng) sidamoka di gunatiga, i(n)cu rahyang niskala wastu

•         ka(n)cana sa(ng) sidamoka ka nusa larang, ya siya nu nyiyan sakaka-

•         ia gugunungan ngabalay nyiyan samida, nyiyan sanghayang talaga

•         rena mahawijaya, ya siya pun OO i saka, pan-

•         dawa (m) bumi OO

 

Terjemaahan

[Semoga selamat. Ini tanda peringatan bagi prabu ratu suwargi. Ia dinobatkan dengan gelar Prabuguru Dewataprana; dinobatkan (lagi) ia dengan gelar Sri Baduga Maharaja ratu penguasa di Pakuan Pajajaran Sri Ratu Dewata. Dialah yang membuat parit (pertahanan) di Pakuan. Dia anak Rahiyang Dewata Niskala yang mendiang ke Nusalarang. Dialah yang membuat tanda peringatan berupa gunung-gunungan, mengeraskan jalan dengan batu, membuat (hutan) samida, membuat telaga Rena Mahawijaya, Ya dialah (yang membuat semua itu). (Dibuat dalam (tahun) 1455.].

Jika dicermati dari Prasasti Bogor, Jayadewata diistrenan sebagai raja Sunda dua kali, yakni di Kawali dengan gelar Prabuguru Dewataprana dan di Pakuan dengan gelar Sri Baduga Maharaja. Berita yang sama di muat dalam naskah Pustaka Negara Kretabhumi parwa 1 sarga 4 halaman 47, sebagai berikut :

•         Raja Pajajaran winstwan ngaran Prabhuguru Dewataprana muwah winastwan ngaran Cribaduga Maharaja Ratuhaji ing Pakwan Pajajaran Cri Sang Ratu Dewata putra ning Rahiyang Dewa Niskala Wastu Kencana. Rahyang Niskala Wastu Kancana putra ning Prabhu Maharaja Linggabhuanawicesa.

[Raja Pajajaran dinobatkan dengan gelar Prabhuguru Dewataprana dan dinobatkan lagi dengan gelar Sri Baguga Maharaja Ratuhaji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata, putra rahiyang Niskala Wastu Kancana. Rahiyang Niskala Wastu Kancana putra Prabu Maharaja Linggabuanawisesa]. (Yoseph, hal. 226)

Dari dua kali pengangkatannya tersebut tentunya membuahkan tandatanya, namun dapat terjawabkan jika diketahui bahwa Jayadewata sebelum diistrenan jadi raja Sunda ia menyandang gelar (jabatan) Putra mahkota (rajaputra) di Galuh dan Prabu Anom di Pakuan. Gelar putra mahkota karena memang ia putra dari Dewa Niskala sedangkan Prabu Anom karena ia menikah dengan rajaputri Pakuan, putrinya Prabu Susuktunggal, yakni Kentring Manik Mayang Sunda. Kisah pengangkatannya di dua kerajaan tersebut adalah suatu bentuk kompromi yang tekait dengan ketegangan penguasa Galuh dengan Sunda. Hal tersebut diinisiasikan oleh para pemuka kerajaan untuk menjaga harmoni antara Galuh dengan Sunda. Kisah pelantikan Jayadewata di abadikan dalam Carita Ratu Pakuan yang disusun oleh Kai Raga dari Srimanganti (Cikuray).

Jayadewata bertahta memerintah wilayah kerajaan Sunda (Galuh dan Sunda, kemudian disebut Pajajaran) pada tahun 1404 sampai dengan 1443 saka, atau pada tahun 1482 sampai dengan 1521 masehi. Pajajaran dimasa pemerintahannya mencapai puncaknya. Menurut penulis Carita Parahyangan “disebabkan melaksanakan pemerintahan yang berdasarkan purbatisti purbajati, tidak pernah kedatangan musuh kuat atau musuh halus. Tentram disebelah utara, selatan, barat dan timur”.

Ku lantaran ngajalankeun pamarentahanana ngukuhan purbatisti purbajati, mana henteu kadatangan boh ku musuh badag, boh ku musuh lemes. Tengtrem ayem Beulah Kaler, Kidul, Kulon jeung Wetan, lantaran rasa aman.

Jayadewata memiliki banyak gelar, diantaranya gelar Sri Baduga Maharaja Ratu (H)aji di Pakwan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata, namun yang sering disebut-sebut oleh para sejarawan adalah Sang Pamanah Rasa, Sri Baduga Maharaja dan Prabu Siliwangi. Masyarakat di tatar Sunda merasa teu wasa untuk menyebut gelarnya, bahkan ada yang menganggap tidak sopan, sehingga dalam cerita Pantun dan Babad lebih dikenal dengan nama Prabu Siliwangi. Suatu gelar yang diberikan kepada raja Sunda yang berjasa besar, yakni Prabu Wangi, diberikan kepada Prabu Maharaja yang gugur dalam palagan Bubat dan Prabu Wangisuta, gelar untuk Prabu Niskala Wastu Kancana.

Alasan lain tentang nama Sri Baduga disebut Siliwangi, menurut Wangsakerta karena dalam hal kekuasaan ia menggantikan Prabu Wangi (Linggabuana) dan Prabu Wangisuta (Wastu Kancana). Dalam Kertabahumi 1/5 h. 22/23 ditegaskan, :

•         “Cri Baduga Maharaja atyantakaweh yasa nira ring nagara Sunda. Swabhawa Matangyan sira pramanaran Prabu Ciliwangi mapan sira sumilihaken kacakrawrtyan Sang Prabhu Wangi ya ta sang mokteng Bubat lawan Sang Prabhu Wangisuta ya ta sang mokteng Nusalarang”

(Sri Baduga Maharaja sangat banyak jasanya terhadap negeri Sunda. Kekuasaanya seolah-olah tidak berbeda dengan Sang Prabu Maharaja yang gugur di Bubat. Itulah sebabnya ia digelari Prabu Siliwangi karena menggantikan pemerintahan Sang Prabu Wangi yaitu yang gugur di Bubat dan Sang Prabu Wangisuta yaitu mendiang di Nusa Larang) [RPMSJB, Jilid Keempat, h. 3]

Penulis Carita Parahyangan menyebutnya dengan nama Sang Ratu Jayadewata. Kisah tersebut, sebagai berikut :

•           •         Diganti ku Prebu, putra raja pituin, nya eta Sang Ratu Rajadewata, nu hilang di Rancamaya, lilana jadi ratu tilu puluh salapan taun.

•           •         Ku lantaran ngajalankeun pamarentahanana ngukuhan purbatisti purbajati, mana henteu kadatangan boh ku musuh badag, boh ku musuh lemes. Tengtrem ayem Beulah Kaler, Kidul, Kulon jeung Wetan, lantaran rasa aman.

Jayadewata sampai pada tahun 1482 masih memusatkan kegiatan pemerintahan Sunda di Kawali. Bisa disebut bahwa tahun 1333 – 1482 adalah Jaman Sunda Kawali, selanjutnya pemerintahan di pindahkan ke Pakuan. Didalam sejarah pemerintahan di Jawa Barat di sebut-sebut Kawali pernah menjadi pusat pemerintahan Sunda. Tentunya berhubungan dengan Prasasti Kawali yang menegaskan “mangadeg di kuta Kawali” (bertahta di kota Kawali) dan keratonnya yang disebut Surawisesa dijelaskan sebagai “Dalem sipawindu hurip” yang berarti keraton yang memberikan ketenangan hidup. (***)

 

Sumber Bacaan :

•         Kebudayaan Sunda (Suatu Pendekatan Sejarah) – Jilid 1, Edi S. Ekadjati, Pustaka Jaya, Bandung, Cet Kedua – 2005

•         Rintisan Penelusuran Masa Silam Sejarah Jawa Barat, Jilid 2 dan 3, Tjetjep, SH dkk, Proyek Penerbitan Sejarah Jawa Barat Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat.

•         Yoseph Iskandar. Sejarah Jawa Barat (Yuganing Rajakawasa), Geger Sunten, Bandung – 2005.

•         Yosep Iskandar, Perang Bubat, Naskah bersambung Majalah Mangle, Bandung, 1987.

•         Yus Rusyana – Puisi Geguritan Sunda : PPPB, 1980

•         Tjarita Parahjangan, Drs.Atja, Jajasan Kebudayaan Nusalarang, Bandung- 1968.

•         Sejarah Bogor (Bagian 1), Saleh Danasasmita. Pemda DT II Bogor.

•         pasundan.homestead.com – Sumber : Salah Dana Sasmita, Sejarah Bogor, 24 September 2008.

•         wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Galuh, 5 April 2010.

•         wikipedia.org/wiki/Kawali, tanggal 5 April 2010.

Sumber Bacaan :

•         Kebudayaan Sunda (Suatu Pendekatan Sejarah) – Jilid 1, Edi S. Ekadjati, Pustaka Jaya, Bandung, Cet Kedua – 2005

•         Rintisan Penelusuran Masa Silam Sejarah Jawa Barat, Jilid 2 dan 3, Tjetjep, SH dkk, Proyek Penerbitan Sejarah Jawa Barat Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat.

•         Yoseph Iskandar. Sejarah Jawa Barat (Yuganing Rajakawasa), Geger Sunten, Bandung – 2005.

•         Yosep Iskandar, Perang Bubat, Naskah bersambung Majalah Mangle, Bandung, 1987.

•         Yus Rusyana – Puisi Geguritan Sunda : PPPB, 1980

•         Tjarita Parahjangan, Drs.Atja, Jajasan Kebudayaan Nusalarang, Bandung- 1968.

•         Sejarah Bogor (Bagian 1), Saleh Danasasmita. Pemda DT II Bogor.

•         pasundan.homestead.com – Sumber : Salah Dana Sasmita, Sejarah Bogor, 24 September 2008.

•         wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Galuh, 5 April 2010.

•         wikipedia.org/wiki/Kawali, tanggal 5 April 2010.

•         wikipedia.org/wiki/Kawali, tanggal 5 April 2010.

 

Di Kutip dari : GUNUNG SEPUH

akibalangantrang.blogspot.com

Disarikan oleh : Agus Setiya Permana

Dari : berbagai sumber

 

 

Posted in Legend & Mitos | Tagged: | 1 Comment »

kerajaan sunda 2

Posted by kangadhi7 on May 31, 2010


KERAJAAN SUNDA BAGIAN 2

 

PEJANJIAN GALUH

Sanjaya sebelum memenuhi panggilan Sena, ayahnya untuk menjadi raja di Medang, berinisiatif untuk melakukan musyawarah di Purasaba Galuh, dihadiri oleh anggota kerabat kerajaan. Pada saat itu ia dianggap paling berkuasa di Pulau Jawa, sebab Kalingga sudah setengah menjadi bawahannya, sedangkan Demunawan yang memerdekakan dirinya di jamin oleh Sanjaya. Semua ia lakukan untuk menunjukan rasa hormatnya kepada Sena, ayahnya.

Menurut para penulis RPMSJB musyawarah di Galuh terjadi pada tahun 731 M, dan menetapkan :

(1)  daerah sebelah barat Citarum sampai keujung kulon menjadi hak waris keturunan Tarusbawa ;

(2)  daerah sebelah timur Citarum termasuk Jawa Pawatan dibagi dua antara Tamperan yang menguasai bagian selatan dan Demunawan yang menguasai bagian utara, termasuk bekas Galunggung dan Saung Galah ;

(3)  bagian tengah akan tetap diperintah oleh Sanjaya dan menjadi hak waris keturunan Galuh – Kalingga ;

(4)  daerah sebelah timur bagian utara Kali Progo menjadi bagian Prabu Narayana dan keturunan dari keluarga Kalingga. (Jilid 2, Bag. 4 hal. 72).

Semula Galuh diserahkan kepada Premana, namun Premana lebih memilih untuk menjadi pertapa sehingga pada akhirnya dijalankan oleh Tamperan, demikian pula Sunda. Sanjaya sejak 732 M di kerajaan Sunda digantikan oleh Tamperan. Kemudian Premana diceritakan terbunuh di pertapannya.

Riwayat kekuasaan Tamperan di Galuh terganggu oleh masalah Dewi Pangrenyep. Masalah ini menjadi masa kelam bagi hubungan Sunda – Galuh dan keturunan selanjutnya, memicu pula kemarahan Sanjaya untuk kembali menguasai Galuh. (Selanjutnya dalam uraian tentang Galuh).

Membahas raja-raja Sunda tentunya agak sulit dilepaskan dari cerita Galuh. Hal ini bukan hanya awalnya berasal dari Tarumanagara, namun akibat hubungan perkawinan dan pewaris dari kerajaan kembar tersebut maka banyak raja Sunda yang sekaligus bertahta sebagai raja Galuh.

Perbedaan Sunda dengan Galuh disebut-sebut berakhir pada masa Rakean Wuwus. Hal ini akibat dari pencampuran perkawinan antara keturunan Banga dan Manarah. Sunda dengan Galuh benar-benar dianggap bersatu kembali pada abad 13 masehi, bahkan pada abad ke – 14 sebutan untuk Sunda dengan Galuh menjadi tunggal, yakni Sunda.

Kisah Tamperan, pengganti Sanjaya di Sunda dikisahkan pula dalam alur cerita Galuh. Tamperan disebutkan sebagai pemegang tahta Kerajaan Sunda ketiga. Ia putra Sanjaya dari Tejakencana, cucu dari Tarusbawa.

Tamperan menggantikan ayahnya karena Sanjaya dipanggil Sena, untuk menggantikan kedudukannya sebagai raja Medang di Bumi Mataram. Tamperan disebut-sebut memerintah Sunda sejak tahun 732 M – 739 M, namun ada yang berbendapat bahwa sebenarnya Tamperan tidak pernah menjadi Raja Sunda, karena raja Sunda masih tetap Sanjaya. Tamperan hanya memegang jabatan Duta Patih Sunda di Galuh, berdomisili di Purasaba Galuh.

Tamperan didalam Carita Parahyangan dan berita Nusantara III dianggap memiliki tabiat yang kurang baik. Diberitakan mengganggu Dewi Pangrenyep, istri Permana Dikusumah, hingga melahirkan Banga. Ia pun disebut-sebut membunuh Permana Dikusumah. Dari akumulasi perbuatannya ia dibunuh Sang Manarah, anak Permana Dikusumah.

Kisah perilaku dan masa kepemimpinan Tamperan diceritakan didalam Carita Parahyangan, sebagai berikut :

•         Di wates Sunda, aya pandita sakti, dipateni tanpa dosa, ngaranna Bagawal Sajalajala.

•         Atma pandita teh nitis, nya jadi Sang Manarah. Anakna Rahiang Tamperan duaan jeung dulurna Rahiang Banga.

•         Sang manarah males pati.

•         Rahiang Tamperan ditangkep ku anakna, ku Sang Manarah. Dipanjara beusi Rahiang Tamperan teh.

•         Rahiang Banga datang bari ceurik, sarta mawa sangu kana panjara beusi tea. Kanyahoan ku Sang Manarah, tuluy gelut jeung Rahiang Banga. Keuna beungeutna Rahiang Banga ku Sang Manarah.

•         Ti dinya Sang Manarah ngadeg ratu di Jawa, mangrupa persembahan.

•         Nurutkeun carita Jawa, Rahiang Tamperan lilana ngadeg raja tujuh taun, lantaran polahna resep ngarusak nu tapa, mana teu lana nyekel kakawasaanana oge.

Dari carita Parahyangan memang ada perbedaan status Manarah dengan alur yang dikisahkan versi RPMSJB. Manarah disebutkan putra dari Permana Dikusumah, sedangkan Banga memang anak Tamperan.

Tamperan wafat pada tahun 739 M. Posisinya di Galuh digantikan Manarah, sedangkan Banga, anak Tamperan menggantikan posisinya di Sunda, ketika itu Sunda sudah berada dibawah kontrol Manarah dari Galuh. Hal ini sejalan dengan maksud dari buku sejarah Jawa Barat, kerajaan Sunda pernah berada dibawah kontrol Galuh terhitung sejak adanya perjanjian Galuh, yakni tahun 739 M sampai dengan 759 M.

 

Perjanjian Galuh

Perjanjian Galuh merupakan upaya dari para keturunan Wretikandayun, pendiri Galuh untuk menyudahi perseteruan. Ketika itu pasukan Manarah dengan pasukan Sanjaya sudah saling berhadapan untuk saling berperang. Masalah ini dipicu oleh terbunuhnya Tamperan di Galuh oleh Manarah. Namun berkat peran Resi Demunawan mereka mau berunding di Kraton Galuh.

Didalam Nusantara III/1, dijelaskan, bahwa isi dari perjanjian Galuh tersebut, sebagai berikut :

•         Menyudahi permusuhan (mawusana panyatrawanan) diantara yang sedang berperang

•         Mengadakan perjanjian  persahabatan (mitrasamaya), beker jasama (atuntunan tangan) dan saling membantu (parasparo pakara) diantara mereka

•         Tidak boleh mengadakan pembalasan (paribhaksa) terhadap sesamanya karena mereka itu masih satu keturunan (tunggal kawitan)

•         Semua prajurit yang tertawan harus dibebaskan

•         Bila timbul perselisihan di antara mereka harus diselesaikan diantara mereka harus diselesaikan (telas aken) dengan damai (apakenak) dan bermusyawarah (mapulungrahi) dengan semangat persaudaraan (kaharep paduluran)

•         Hubungan kekerabatan tidak boleh putus dan harus saling mengasihi

•         Tidak boleh saling menyerang dan merebut kota-kota (para pura) masing-masing

•         Menghormati hak ahli waris yang sah (maryada sakeng si tutu), yaitu :

(1)  Negeri Sunda dengan wilayah dari Citarum kebarat dirajai oleh sang Kamarasa alias Banga dengan gelar Prabu Kretabuana Yasawiguna Ajimulya ;

(2)  Negeri Galuh dengan wilayah dari Citarum ke timur dirajai oleh Sang Suratoma alias Manarah dengan gelar Prabu Jayaperkosa Mandaleswara Salakabuan ;

(3)  Resi Guru Demunawan menguasai negeri Saung Galah dan bekas kawasan Kerajaan Galunggung ;

(4)  Sanjaya memerintah di Jawa Tengah.

(RPMSJB, Jilid Kedua, hal. 79)

Untuk mengukuhkan persaudaraan diatas kemudian Resi Demunawan menjodohkan cucunya yakni Kencana Wangi dengan Manarah, sedangkan Kencana Sari dinikahkan dengan Banga. Dari pernikahan ini maka berbaurlah darah Sunda, Galuh dan Saunggalah. Dengan demikian maka dikemudian hari keturunan Wretikandayun bersatu kembali. Kelak perbedaan keturunan ini terhapuskan akibat perkawinan antara keturunan Manarah dan Banga. Hal ini terjadi pada masa Rakean Wuwus.

 

Sunda Merdeka

Banga menggantikan Tamperan sebagai Raja Sunda keempat sejak tahun 739 M sampai dengan 766 M. Namun ada juga pendapat bahwa Banga raja Kerajaan Sunda yang ketiga karena Tamperan sebenarnya tidak pernah berdomisili di Sunda, ia hanya menjabat sebagai Duta Patih Sunda di Galuh.

Akibat Perjajian Galuh terpaksa kedudukan Banga harus berada dibawah Galuh. Perjanjian ini dirasakan Banga sangat merugikan posisinya. Posisi ini kebalikan ketika Sanjaya dapat merebut tahta Galuh dari Purbasora. Sanjaya sebagai kakeknya Banga tentu merasa kurang senang melihat kedudukan Banga yang dirugikan ini, namun Sanjaya harus mentaati perjanjian tersebut. Kemudian ia secara diam-diam menganjurkan Banga untuk memperkuat kerajaan Sunda.

Banga melaksanakan ide kakeknya, setahap demi setahap ia menaklukan kerajaan-kerajaan yang berada disebelah barat Citarum, hingga iapun menjadi raja Sunda yang kuat. Pada tahun 759 M Bangga melepaskan diri sebagai bawahan Galuh. Dan menyatakan kerajaan Sunda sebagai kerajaan Mahardika.

Tindakan Banga menyulut kemarahan Manarah. Sekali lagi Resi Demunawan, Raja Saunggalah turun tangan untuk membantu menyelesaikan. Demunawan kemudian membujuk Manarah agar menerima posisi ini. Demunawan pun meyakinkan Manarah bahwa sepantasnyalah kedudukan Sunda dan Galuh sejajar, masing-masing berdiri sebagai Negara yang merdeka.

Peristiwa ini menempatkan Resi Demunawan sebagai orang yang bijaksana dan memiliki visi yang baik. Resi Demunawan pada Perjanjian Galuh menempatkan Sunda di bawah Galuh. Hal tersebut merupakan upaya maksimal pada saat itu. Setelah keadaan memungkinkan ia memenuhi janjinya untuk mensejajarkan Sunda dengan Galuh sehingga dapat tercipta kerukunan yang abadi.

Bangga meninggal pada tahun 766 M, berumur masih relatif masih muda, yakni 42 tahun. Jika dilihat dari tahun kelahirannya, ia dilahirkan pada tahun 724 M, sehingga ketika ia memegang tahta Sunda baru berumur 15 tahun. (***)

 

PERPADUAN BUDAYA

Banga tentunya berada diposisi yang dirugikan akibat perjanjian Galuh, karena Sunda menjadi dibawah kontrol Galuh. Posisi ini kebalikan ketika Sanjaya dapat merebut tahta Galuh dari Purbasora yang menempatkan Galuh dibawah kontrol Sunda. Konon kabar Sanjaya sebagai kakeknya merasa kurang senang melihat kedudukan Banga yang dirugikan ini, namun Sanjaya harus mentaati perjanjian tersebut.

Jika dilihat dari tahun kelahiran Banga, yakni pada tahun 724 M, ketika ia memegang tahta Sunda baru berumur 15 tahun. Masalah umur Banga dimungkin menjadi pertimbangan penting sehingga Sunda berada di bawah kontrol Galuh, sehingga dalam suasana yang penuh persaudaraan tersebut, maka Sanjaya dan Demunawan memutuskan agar Manarah menjadi walinya. Namun rupanya para sejarawan tidak melihat adanya spekulasi kearah sana, mengingat hubungan Sunda dan Galuh pada waktu itu dianggap sangat tajam, sehingga keputusan ini pun hanya dilihat dari sisi untung dan rugi, tidak dari nilai musyawarah yang sangat bersifat kekeluargaan.

Banga pada periode selanjutnya secara perlahan menaklukan kerajaan-kerajaan yang berada disebelah barat Citarum, ia pun tentu mendapat restu dan bantuan Sanjaya, hingga Banga menjadi raja Sunda yang kuat. Pada tahun 759 M Bangga melepaskan diri sebagai bawahan Galuh. Dan menyatakan kerajaan Sunda sebagai kerajaan Merdeka.

Tindakan Banga dianggap menyulut kemarahan Manarah. Resi Demunawan, Raja Saunggalah turun tangan untuk membantu menyelesaikan. Demunawan kemudian membujuk Manarah agar menerima posisi ini. Demunawan pun meyakinkan Manarah bahwa sepantasnyalah kedudukan Sunda dengan Galuh sejajar, masing-masing berdiri sebagai negara yang merdeka.

Kesepakatan ini akhirnya tercapai kembali. Banga meninggal pada tahun 766 M, masih berumur 42 tahun. Namun pada tahun 852, Rakeyan Wuwus, keturunan Banga menjadi pewaris Sunda dengan Galuh, dikarenakan Linggabumi, keturunan Manarah tidak memiliki keturunan.

Banga mempunyai putera bernama Rakeyan Medang, ia menjadi raja Sunda selama 17 tahun (766-783 M) dengan gelar Prabu Hulukujang. Karena anaknya perempuan, Rakeyan Medang mewariskan kekuasaanya kepada menantunya, Rakyan Hujungkulon atau Prabu Gilingwesi (783 – 795 m), raja ini adalah putera Sang Manisri dari Puspasari, putri Manarah. Kisah Manisri dan Puspasari diabadikan dalam cerita rakyat yang terkenal dengan sebutan “Lutung Kasarung”. Tentu saja Manisri dianggap putra Sang Hyang Ambu, karena memang Manisri tidak dikenal leluhurnya, sehingga masyarakat menganggap ia turun dari Kahyangan.

Dalam kisah selanjutnya, antara Sunda dengan Galuh, atau antara keturunan Manarah dengan Banga telah terjadi perpaduan akibat perkawinan. Demikian pula pada tahun 852, Rakeyan Wuwus keturunan Banga menguasai Sunda dengan Galuh, karena Prabu Linggabumi, penguasa Galuh tidak memiliki keturunan, sedangkan Rakeyan Wuwus menikahi adik dari Linggabumi. Inilah semangat mempersatukan antara keturuan Sunda dengan Galuh.

Peristiwa ini pun terjadi sebaliknya, karena Rakeyan Wuwus tidak memiliki keturunan, maka tahtanya dilanjutkan suami adiknya, yakni Arya Kedaton, cucu dari Sang Tariwulan penguasa Galuh. Arya Kedaton memerintah pada tahun 891 sampai dengan 895, ia bergelar Prabu Darmaraksa Salakabuana. Namun tahta tersebut hanya diduduki dalam  waktu yang sangat singkat, karena Ia dibunuh seorang Mantri Sunda yang fanatik, tidak mau tahta Sunda diperintah orang Galuh.

Perpaduan Sunda dengan Galuh semangatnya pada masa itu memang baru terjadi ditingkat penguasa, tentunya sangat terkait dengan keberhasilan Resi Demunawan didalam menginisiasi pernikahan antara keturunan Sunda, Galuh dan Saunggalah. Namun ditingkat bawah dan masyarakat masing-masing masih memiliki perbedaan yang cukup tajam, sehingga para akhli menganggap, antara Sunda dengan Galuh pada masa itu masih memiliki perbedaan budaya dan tradisi yang sangat tajam dan sulit dipadukan.

 

Entitas Sunda – Galuh

Menurut para ahli sejarah sebagaimana ditulis dalam RPMSJB dan Saleh Danasasmita, antara Sunda dengan Galuh dimasa lalu memiliki entitas yang mandiri, perbedaan tradisi yang mendasar. Menurut Prof. Anwas Adiwilaga : Urang Galuh adalah Urang Cai sedangkan Urang Sunda disebut sebagai Urang Gunung. Mayat Urang Galuh ditereb atau dilarung, sedangkan mayat Urang Sunda dikurebkeun.

Perbedaan tradisi Sunda dan Galuh mungkin pada waktu itu dianggap menghambat hubungan keduanya. Urang Galuh merasa kurang nyaman jika dipimpin keturunan Sunda, demikian pula sebaliknya. Upaya menyatukan pernah dilakukan melalui perpaduan atau perkawinan dikalangan para raja dan keluarganya. Seperti perkawinan keturunan Manarah (Galuh) dengan Banga (Sunda), bahkan dikarenakan Manarah tidak memiliki keturunan laki-laki, maka keturunan Bangga, Rakeyan Wuwus, yang ditikahkan dengan adik Prabu Langlangbumi diangkat menjadi Raja Galuh.

Peristiwa ini menandakan adanya perpaduan keturunan Manarah dan Banga. Namun penyatuan tradisi tersebut diperkirakan baru tercapai pada abad ke-13, dengan mengistilahkan penduduk dibagian barat dan timur Citarum (citarum = batas alam Sunda dan Galuh) dengan sebutan urang sunda.

Diyakini diantara kedua leluhur tersebut tidak memiliki rencana dan kesepakatan untuk memilih nama dari gabungan kedua tradisi tersebut, seperti menggunakan nama sunda atau Galuh atau Sunda Galuh. Namun nama ‘Sunda’ sejak abad ke-13 sudah banyak digunakan untuk menyebut Urang Galuh dan Urang Sunda, bahkan sumber-sumber berita luar sudah banyak menyebut penduduk yang ada di wilayah Jawa Barat dengan istilah ‘Urang Sunda’. Mungkin juga Urang Sunda ketika itu dianggap lebih berperan dibandingkan Urang Galuh. Sehingga entitas penduduk di kedua wilayah tersebut disebut Urang Sunda.

Ada juga yang menyebutkan, perbedaan budaya Sunda dan Galuh tidak mendasar, dibandingkan dengan etnis lain. Masalah ini hanya di blow up oleh pihak penjajah, bertujuan agar Urang Sunda dan Urang Galuh tidak bersatu, namun Sunda dan Galuh adalah entitas yang sama, keduanya penerus generasi para penguasa ditatar Sunda, khususnya penerus Tarumanagara. Walahuallam (**).

 

PRASASTI CIBADAK

Sejarah tentang Sri Jayabupati atau Prabu Detya Maharaja diketahui setelah Pleyte menemukan prasasti Cibadak. Kemudian Pleyte menulis artikel “Maharaja Cri Jayabupathi Soenda’s Outdst Bekend Vorst”, dengan mengetengahkan transkip mengenai “Prasasti Cibadak”. (RPMSJB, Buku Ketiga, hal 10).

Sebelum ditemukannya prasasti Cibadak, sejarah ditatar Sunda seakan-akan berhenti tidak diketahui ujungnya, sehingga penemuan prasasti Cibadak menemukan arah yang jelas tentang kekuasaan di tatar Sunda pada masa lalu. Namun siapakah Sri Jayabupati, dan darimanakah leluhurnya ?. Hal ini penting untuk diketahui, mengingat masih ada versi yang berpendapat bahwa Sri Jayabupati berasal dari luar tatar Sunda.

Leluhur Sri Jayabupati

Sepeninggalnya Prabu Darmaraksa dari Galuh yang menjadi Raja Sunda Ke-9, tahta Sunda ke-10 diwariskan kepada Prabu Windu Sakti, putranya, dengan gelar Prabu Dewageung Jayeng Buana (895-913 M). Ia digantikan oleh putranya, yakni Rakeyan Kamuning Gading Prabu Pucukwesi (913 – 916). Prabu Pucukwesi hanya memerintah selama tiga tahun, karena ia di kudeta oleh adiknya sendiri, Rakeyan Jayagiri, bergelar Prabu Wanayasa (916 – 942 m).

Raja berikutnya adalah Rakeyan Watuageng, dengan gelar Praburesi Atmayadarma (942–954 m), menantu Prabu Wanayasa. Ia digulingkan oleh Sang Limbur Kancana, putra dari Pucukwesi. Untuk kemudian Sang Limbur Kancana berkuasa pada tahun 954 sampai dengan 964 masehi. Berdasarkan asumsi penulis sejarah RPMSJB, kemungkinan besar ia memerintah Sunda dari Galuh, karena ia beristri salah seorang putri Galuh, keturunan Manarah. Pasca digulingkannya tahta ayahnya oleh Prabu Wanayasa, ia menetap di Galuh. Pada saat meninggal ia bergelar Sang Mokteng Galuh Pakwan (yang wafat di keraton Galuh).

Raja berikutnya adalah putranya, yakni Rakeyan Sunda Sembawa (964–973 M), bergelar Prabu Munding Ganawirya Tapakmanggala Jayastru (mungkin juga Jagasatru), namun raja ini tidak memiliki keturunan. Ia digantikan oleh suami adiknya, yakni Rakeyan Jayagiri (973- 989 M), bergelar Prabu Wulung Gadung. Stelah dipusarakan di Jayagiri ia digantikan oleh putranya, yakni Rakean Gendang atau Prabu Brajawisesa (989 – 1012 M). Kemudian digantikan oleh putranya yang bergelar Prabu Dewa Sanghyang (1012-1019 M) yang wafat dipertapaan, sehingga disebut Sang Mokteng Patapan. Setelah wafat ia digantikan oleh putranya, yakni Prabu Sanghyang Ageung (1019 – 1030 M), ia dipusarakan di tepi Situ Sanghyang, terletak di Desa Cibalarik – Tasikmalaya. Dan inilah leluhur Sri Jayabupati (1030 – 1042 M).

 

Sri Jayabupati

Pada masa raja-raja diatas seolah-olah Sunda kehilangan catatan sejarah. Baru diketahui jujutannya kembali pada Masa Sri Jayabupati atau Prabu Detya Maharaja, raja Sunda ke-20 dari alur Tarusbawa. Keberadaan Sri Jayabupati terungkap setelah Pleyte (1915 M) menemukan prasasti Cibadak– Sukabumi. 

Setelah Pleyte menemukan prasasti Cibadak, kemudian Pleyte menulis artikel “Maharaja Cri Jayabupathi Soenda’s Outdst Bekend Vorst”, dengan mengetengahkan transkip mengenai “Prasasti Cibadak”. (RPMSJB, Buku Ketiga, hal 10).

Prasasti Cibadak terdiri dari 4 buah batu bertulis yang ditemukan dialiran Sungai Citatih. 1 batu ditemukan di kampung Pangcalikan, sedangkan 3 batu ditemukan di Bantar Muncang, Kecamatan Cibadak, Sukabumi. Menurut para ahli sejarah, prasasti tersebut dibuat pada tanggal 11 Oktober 1030.

Dalam menjelaskan Sri Jayabupati, menurut Pustaka Nusantara, Parwa III sarga 1, Sri Jayabupati memerintah selama 12 tahun (952 – 964) saka (1030 -1042 M). Isi prasasti itu dalam segala hal menunjukkan corak Jawa Timur. Tidak hanya huruf, bahasa dan gaya, namun juga gelar raja yang mirip dengan gelar raja di lingkungan Keraton Darmawangsa.

Tokoh Sri Jayabupati dalam Carita Parahiyangan disebut dengan nama Prabu Datia Maharaja yang berkuasa selama tujuh tahun. Urutan dari sirsilah Sri Jayabupati dari Banga berdasarkan, diuraikan, sebagai berikut :

•         Rahiang Banga lawasna ngadeg ratu tujuh taun, lantaran polahna hanteu didasarkeun kana adat  kabiasaan anu  bener. – Rakean di Medang lilana ngadeg ratu tujuh taun. – Rakeanta Diwus lilana jadi ratu opatlikur taun. – Rakeanta Wuwus lilana jadi ratu tujuhpuluh dua taun. – Nu hilang di Hujung Cariang lilana jadi ratu taun, kaopatna teu cucud, lantaran salah lampah, daek ngala awewe ku  awewe. – Rakean Gendang lilana jadi ratu tilulikur taun. – Dewa Sanghiang lilana jadi ratu tujuh taun. – Prebu Sanghiang lilana jadi ratu sawelas taun. – Prebu Datia Maharaja lilana jadi ratu tujuh taun.

 

 Prasasti Cibadak

Batu tersebut saat ini disimpan di Musium pusat, diberi nomor D-73, D-96, D-97 dan D-98.

D 73 :

//O// ”Swasti shakawarsatita 952

karttikamasa tithi dwadashi shuklapa-

ksa. ha. ka. ra. wara tambir. iri-

ka diwasha nira prahajyan sunda ma-

haraja shri jayabhupati jayamana-

hen wisnumurtti samarawijaya shaka-

labhuwanamandaleswaranindita harogowardhana wikra-

mottunggadewa, ma-”

D 96 :

gaway tepek i purwa sanghyang tapak

ginaway denira shri jayabhupati prahajyan

sunda. mwang tan hanani baryya baryya cila. I

rikang lwah tan pangalapa ikan sesini lwah.

Makahingan sanghyang tapak wates kapujan

i hulu, i sor makahingan ia sanghyang tapak

wates kapujan i wungkalagong kalih

matangyan pinagawayaken pra-

sasti pagepageh. mangmang sapatha.’

D 97 :

sumpah denira prahajyan

sunda. lwirnya nihan.

D 98 :

indah ta kita kamung hyang hara agasti phurbba

daksina paccima uttara agniya neri-

ti bayabya aicanya urddhadah rawi caci patala jala

pawana

hutanasanapah bhayu akaca teja sanghyang mahoratra

saddhya yaksa raksa-

sapicara preta sura garuda graha kinara mahoraga

catwara lokapala

yama baruna kuwera bacawa mwang putra dewata pan-

ca kucika nandiwara mahakala du-

rggadewi ananta surindra anakta hyang kalamrtyu

gana bhuta sang prasidha milu manarira

umasuki sarwwajanma ata regnyaken iking sapatha

samaya sumpah pamangmang na lebu ni pa-

duka haji i sunda irikita kamung hyang kabeh …….

paka-

dya umalapa ikan …….

i sanghyang tapak ya

patyananta ya kamung hyang denta

t patiya siwak kapalanya cucup uteknya belah dada

mya imun rahnya

rantan ususnya wekasaken pranantika ……

…… i sanghyang kabeh

tawathana wwang baribari cila irikang Iwah i

sanghyang tapak apan

iwak pakan parnnahnya kapangguh i sanghyang …

….. maneh kaliliran

paknanya kateke dlaha ning dlaha ….

…. paduka haji sunda umade-

makna kadarman …. ing samangkana wekawet

paduka haji sunda sanggum

nti ring kulit kata karmanah ing kanang …

… i sanghyang tapak makatepa

iwah watesnya i hulu i sanghyang tapak i ….

…… i hilir mahingan i-

Rikang ….. umpi ing wungkal gde kalih. I

Wruhhanta kamung

hyang kabeh ??Q?? (RPMSJB, Jilid Ketiga, hal 12)

Terjemaahan dari prasasti tersebut pada initinya, berintikan tentang :

Selamat. Dalam tahun Saka 952 bulan Kartika tanggal 12 bagian terang, hari Hariang, Kaliwon, Ahad, Wuku Tambir. Inilah saat Raja Sunda Maharaja Sri Jayabupati Jayamanahen Wisnumurti Samarawijaya Sakalabuwana mandaleswaranindita Haro Gowar dhana Wikramottung gadewa, membuat tanda di sebelah timur Sanghiyang Tapak.

Dibuat oleh Sri Jayabupati Raja Sunda. Dan jangan ada yang melanggar ketentuan ini. Di sungai ini jangan (ada yang) menangkap ikan di sebelah sini sungai dalam batas daerah kabuyutan Sanghyang Tapak sebelah hulu sampai batas daerah kabuyutan sanhyang tapak dibagian hilir pada dua buah batu besar.

Untuk tujuan tersebut telah dibuat piagam yang dikukuhkan dengan seruan, kutuk serta sumpah oleh raja Sunda yang bunyi lengkap demikian :

Sungguh indah kamu sekalian Hiyang Siwa, Agatsya, timur, selatan, barat, utara, tenggara, barat daya, barat laut, timur laut, zenith, nadir, matahri, bulan, bumi, air, angin, sernja, yaksa, raksasa, pisaca (sebangsa peri), sura, garuda, buaya, Yama, Baruna, Kuwera, Besawa dan putera dewata Pancakusika, lembu tunggangan Siwa, Mahakala, Dewi Durga, Ananta (dewa ular), Surindra, putra Hyang Kalamercu, gana (makhluk setengah dewa), buta (sebangsa raksasa), para arwah semoga ikut, menjelma merasuki semua orang, kalian gerakanlah supata, janji, sumpah dan seruan raja Sunda ini.

Prasasti Cibadak menerangkan bahwa Sri Jayabupati telah membuat tapak disebelah timur kabuyutan sanghyang tapak. Dibagian sungai yang menjadi batas daerah kabuyutan tersebut orang dilarang menangkap ikan. Mungkin pada saat itu penduduk disekitar prasasti sangat taat terhadap keyakinannya dan sangat takut terhadap kekuatan gaib, sebagaimana ciri masyarakat agraris lainnya, sehingga tanpa hukum kerajaan pun mereka akan taat dan mengikuti himbauan tersebut.

Suatu hal yang merupakan ciri umum, prasasti-prasasti di tatar Sunda (sejak masa Tarumangara) pada umumnya ditemukan di bekas lokasi kabuyutan, seperti prasasti Kawali, prasasti Galunggung dan Batutulis, namun tak pula dapat dihindari jika prasastu tersebut banyak pula yang ditemukan di bantara sungai, seperti prasasti ciaruteun dan kebon kopi. Dalam hal ini menandakan bahwa peranan kabuyutan dan sungai memiliki peranan yang sangat vital dimasa lalu. 

Keberadaan prasasti di Cibadak pernah menjadi spekulasi bagi para ahli sejarah. Pertama, tentang pusat pemerintahan Sunda waktu itu, tak kurang para ahli yang mensinyalir bahwa ibukota Sunda pernah ada di wilayah tersebut. Namun keberadaan prasasti di kabuyutan tersebut tentunya tidak berarti harus menjadi pusat pemerintahan, karena kabuyutan memiliki peranan yang strategis dalam kehidupan masyarakat Sunda, baik sebagai daerah yang disucikan maupun tempat menuntut ilmu. 

Kedua, prasasti yang menggunakan bahasa Jawa Kuna dianggap daerah ini pernah menjadi bawahan Raja Erlangga. Namun jika dilihat dari tanggal pembuatannya, tidak mungkin Erlangga berada diwilayah ini, mengingat ketika itu ia disibukan menundukan kerajaan disekitar Jawa Timur, baru selesai setelah lima tahun ia berkuasa. Keberadaan prasasti Cibadak di sekitar Citatih dianggap tidak lajim jika dibuat oleh raja bawahan.

 

Perkawinan

Menurut naskah Wangsakerta, tanda tersebut memang dibuat oleh Sri Jayabupati sebagai tanda penobatannya. Sri Jayabhupati dikenal-kenal memerintah Sunda pada tahun 1030 – 1042 masehi, ia putra Sanghyang Ageung yang dipusarakan di Situ Sanghyang. Namun sampai sekarang belum terungkap hubungannya dengan makam keramat yang ada di Situ Sanghyang Cibalanarik, Tasikmalaya.

Penggunaan corak Jawa Timuran didalam prasasti tersebut dapat dipahami, mengingat Sri Jayabhupati adalah menantu Prabu Darmawangsa dari Jawa Timur. Ia memperistri adiknya Dewi Laksmi, istri Erlangga. Antara Erlangga dengan Sri Jayabhupati memiliki mertua yang sama. Sedangkan gelar Sri Jayabhupati adalah hadiah perkawinan dari mertuanya, sama halnya dengan gelar yang diterima Erlangga.

Sri Jayabhupati juga memperistri putri melayu, putra mereka kemudian berjodoh dengan putri Sriwijaya. Selain itu, dua orang putri Sri Jayabhupati juga diperistri oleh menteri dari Bali dan Jawa Timur. Demikian pula kemenakannya, ada pula yang diperistri oleh Raja Wura wuri. Konon raja ini membunuh Darmawangsa, kemudian didalam prasasti Calcutta dikenal dengan itsilah pralaya. Darmawangsa disebut pula Sang Mokteng Kadatwan ( yang gugur di keraton).

Kisah pembunuhan Darmawangsa konon kabar merupakan pemberontakan Sriwijaya yang dilakukan tidak langsung. Hal ini dianggap sebagai balas dendam Sriwijaya, mengingat sejak tahun 900 an Sri Wijaya harus tunduk kepada Darmawangsa setelah menderita kekalahan dalam pertempuran. Untuk itulah Sriwijaya menggunakan tangan Wurawuri.

Tentang kekerabatan ini, diuraikan dalam Pustaka Nusantara I/2, :

“Mangkana ta hana pakadangan pantara raja Criwijaya, raja Sunda, raja Wurawari, raja Jawa Dharmawangsa Tguh mwang raja Bali. Dadekya yudha nira kawalya rumebut yacawiryya mwang ahyun pinuja” (ada pertalian kekerabatan antara Sriwijaya, raja Sunda, raja Wurawari, raja Jawa Dharmawangsa Teguh dan raja Bali. Jadi, peperangan diantara mereka itu hanyalah perebutan kemashuran dan ingin dipuja).

Ketika peristiwa pembunuhan Darmawangsa, Sri Jayabhupati masih berkedudukan sebagai putra mahkota. Tentu menjadikan posisinya menjadi pelik bagi Sunda. Disisi lain Pustaka Nusantara I/3 menjelaskan, bahwa :

Lawan mangkana Sunda i Bhumi Jawa Kulwan nityacah dumadi wyawahara pantara ning rajaraja Criwijaya, Jawa, Cina, Cola mwang akweh manih rajya lenya. I sedeng raja haneng Bhumi Jawa Kulwan yatiku rajya Sunda lawan rajya Ghaluh tan ahyun ri sewaka ring sira kabeh, tan angga dumadi mandalika nira (Dengan demikian, Sunda di Bumi Jawa Barat selalu menjadi rebutan diantara raja-raja Sriwijaya, Jawa, Cina, Cola, serta negara-negara lain ; sedangkan raja di Bumi Jawa Barat yaitu Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh tidak mau tunduk kepada mereka semuanya, tidak ingin menjadi raja bawahan mereka).

 

Pasca Sri Jayabhupati

Sri Jayabupati wafat pada tahun 1042 M, ia digantikan oleh putranya, yaitu Darmaraja Jayamanahen Wisnumurti Sakala sundabuana, putranya yang dikenal pula dengan sebutan Sang Mokteng Winduraja, karena ia dimakamkan di Winduraja, Kecamatan Kawali, Ciamis. Dari posisi ini disinyalir, bahwa pusat kekuasaan Sunda waktu itu berpusat disebelah timur, tidak di Pakuan.

Posisi Desa Winduraja di Kecamatan Kawali, Kabupaten Ciamis saat ini diyakini menyimpan misteri kepurbakalaan, bahkan dengan dimakamkannya Darmaraja dilokasi ini disinyalir pemerintahan Sunda pernah terletak di kawasan timur, tidak di Pakuan. Data lokasi tersebut didukung pula dengan adanya makam Prabu Darmakusuma (1157 – 1175 M) yang dipusarakan di Winduraja.

Prabu Darmaraja digantikan oleh puteranya yaitu Prabu Langlangbumi (1065 – 1155 M) atau sang mokteng Kerta. Mungkin sekali salah seorang cucunya diperisteri oleh penguasa Kadiri – Janggala, yakni Maharaja Jayabuana Kesanananta Wikramo tunggadewa (1102 – 1104 M) atau Prabu Surya Amiluhur. Raja ini hanya dua tahun memerintah karena kekuasaannya direbut oleh Jayawarsa Digjaya Sastraprabu. Prabu Jayabuana melarikan diri ke Jawa Barat karena permaisurinya berasal dari sini. Mungkin tokoh inilah yang disebut Prabu Banjaransari,  pelarian dari Kediri sebagaiamana yang diceritakan dalam Babad Galuh.

Para pengganti Sri Jayabupati, menurut Fragmen Carita Parahyangan sampai dengan Prabu Maharaja, di uraikan sebagai berikut :

•         Pengganti Nu hilang di winduraja lilana jadi ratu tilulikur taun. – Nu hilang di Kreta lawasna jadi ratu salapan puluh dua taun, lantaran ngukuhan kana lampah anu hade, ngadatangkeun gemah ripah. – Diganti deui ku nu hilang di Winduraja, henteu lila ngadegna ratu ngan dalapanwelas taun. – Diganti ku Sang Rakean Darmasiksa, titisan Sanghiang Wisnu, nya eta nu ngawangun sanghiang binajapanti. – Nu ngajadikeun para kabuyutan ti sang rama, ti sang resi, ti sang disri, ti sang tarahan tina parahiangan. – “Tina naon berkahna?” Ti sang wiku nu mibanda Sunda pituin, mituhu Sanghiang Darma, ngamalkeun Sanghiang Siksa. – Boga anak nu hilang di Taman, lawasna jadi ratu genep taun. – Boga anak deui nu hilang di Tanjung, lilana jadi ratu dalapan taun. – Boga anak nu hilang di Kikis, lilana jadi ratu dualikur taun. – Nu hilang di Kiding, lilana jadi ratu tujuh taun. – Boga anak Aki Kolot, lilana jadi ratu sapuluh taun. – Boga anak, Prebu Maharaja, lawasna jadi ratu tujuh taun, lantaran keuna ku musibat, Kabawa cilaka ku anakna, ngaran Tohaan, menta gede pameulina.

 

GALUNGGUNG

Geger Hanjuang

Sri Jayabupati digantikan oleh puteranya, yaitu  Darmaraja Jayamanahen Wisnumurti Sakalasundabuana, berkuasa pada tahun 1042 – 1065 M, didalam Fragmen Carita Parahyangan disebutkan : Nu hilang di winduraja lilana jadi ratu tilulikur taun. Darmaraja dikenal pula dengan sebutan Sang Mokteng Winduraja, karena dimakamkan di Winduraja.

Pengganti Darmaraja adalah Prabu Langlangbumi yang bertahta pada tahun 1065 – 1155 M. Fragmen Carita Parahyangan menyebutnya : Nu hilang di Kreta lawasna jadi ratu salapan puluh dua taun, lantaran ngukuhan kana lampah anu hade, ngadatang keun gemah ripah.

Pada masa pemerintahan Langlangbumi dianggap membawa kerajaan Sunda pada kesentausaan. Peristiwa sejarah yang menarik dalam masa pemerintahan Langlangbumi ialah berita yang termuat dalam prasasti yang ditemukan di Galunggung dekat bukit Geger Hanjuang, oleh penduduk setempat disebut Kabuyutan Linggawangi karena terletak di Desa Linggawangi, Kecamatan Leuwisari, Kabupaten Tasikmalaya. Prasasti tersebut kemudian disebut Prasasti ‘Geger Hanjuang’ atau Prasasti ‘Galunggung’.

Prasasti Geger Hanjuang sekarang disimpan di Museum Pusat dengan nomor D-26. Isi prasasti itu ditulis dalam huruf dan bahasa Sunda Kuna yang cukup terang untuk dibaca. Walaupun hanya tiga baris pendek namun di dalamnya tercantum tanggal dan tahun.

Isi prasasti tersebut, sebagai berikut :

tra ba i gune apuy na-

sta gomati sakakala rumata-

k disusu(k) ku batari hyang pun

Menurut RPMSJB (1983 – 1984) : Prasasti tersebut bertanggal tra (trayodasi = ke-13) ba (badramasa = bulan Badra) atau tanggal 13 bulan Badra (Agustus/September) tahun 1 (gomati) 0 (nasta) 3 (apuy) 3 (gune). Arti lengkapnya ialah : Pada hari ke-13 bulan Badra tahun 1033 Saka Rumatak (selesai) disusuk oleh Batari Hyang. – Karena tidak disebutkan paksa (separuh bulan) dalam prasasti ini digunakan sistem amanta (perhitungan tanggal dari bulan baru ke bulan baru) yang hitungan tanggalnya diteruskan sampai 30. Perhitungan menurut tarih Masehi kira-kira tanggal 21 Agustus 1111 masehi. (RPMSJB, buku ketiga, hal 17).

RPMSJB menjelaskan pula, bahwa : Rumatak oleh penduduk setempat disebut Rumantak, bekas ibukota Kerajaan Galunggung yang terletak tidak jauh dari bukit Geger Han¬juang tempat prasasti itu ditemukan. Disusuk berarti dikelilingi dengan parit untuk pertahanan. Berita serupa dapat di temukan dalam prasasti Kawali dan Batutulis di Bogor. Sedangkan tokoh Batari Hyang di duga sebagai penguasa Kerajaan Galunggung waktu itu, adalah keturunan dan ahli waris Resiguru Sempakwaja pendiri Kerajaan Galunggung. (Ibid).

 

Kerajaan Galunggung

Pengaruh Galunggung terhadap perkembangan sejarah di tatar Sunda tidak terlepas dari eksistensi Resi Demunawan untuk menyatukan Sunda dengan Galuh, terutama ketika masa Sanjaya dan Manarah. Resi Demunawan mempersatukan Sunda dengan Galuh melalui perkawinan Manarah, Banga dan keturunan Saunggalah. Pengaruh dari Galunggung tersebut terlihat pula pada proses terbentuknya Perjanjian Galuh.

Pasca Resi Demunawan, Galunggung masih tetap memiliki pengaruh yang sangat kuat. Mengingat sejak pertama diperintah oleh Sempakwaja, Galunggung sudah menjadikan dirinya Negara Agama atau “Kebataraan”.

Kerajaan Galunggung telah ada pada Jaman Sempakwaja, putra Wretikandayun, pendiri Galuh (670). Daerah Galunggung diberikan Wretikandayun kepada Sempakwaja seiring dengan diangkatnya Amara – Mandiminyak, adik Sempakwaja sebagai putra mahkota Galuh. Sempakwaja diberi gelar Resiguru di Galunggung dengan gelar Batara Danghyang Guru. Menurut RPMSJB : “Sebuah naskah yang dimiliki oleh sesepuh Singaparna (berbahasa sunda berhuruf arab) dan berasal dari bagian akhir ada ke-19 masih menyebutkan tokoh sempakwaja diantara generasi pertama Kerajaan Galunggung. Ia masih dikenal dan disebut dalam berbagai mantra dan do’a. Ia sudah “didewakan” orang” (Buku Ketiga, hal.18). Mungkin yang dimaksudkan sudah  “didewakan” sama halnya dengan pemahaman saat ini, yakni “dianggap orang suci”, karena peranannya dimasa lalu.

Galunggung dari masa kemasa memainkan peranan yang cukup penting, terutama sebagai pengimbang Galuh dan Sunda. Pada tahun 723 M, Sempakwaja pernah menyerahkan Galunggung beserta daerah bawahannya kepada putranya, Resi Demunawan sebagai bagian dari pembentukan Saung Galah. Resi Demunawan dikenal pula dengan sebutan Sang Seuweu Karma atau didalam carita Parahyangan dikenal dengan sebutan Rahiyang Kuku.

Kekuasaan Galunggung dalam tradisi silam dianggap sebagai sumber ilmu, karena ia dirikan sebagai “kerajaan agama”. Galunggung menurut Fragmen Carita Parahyangan memiliki batas sebelah utara gunung Sawal, sebelah timur Pelang Datar, dan sebelah selatan Ciwulan.

Berdasarkan catatan sejarah Kabupaten Tasikmalaya, eksistensi Galunggung dimulai pada abad ke VII sampai abad ke XII, Kerajaan tersebut sekarang menjadi Kabupaten Tasikmalaya. Pemerintahan Galunggung pada masa awal berbentuk “Kebataraan”. Galunggung mengabisheka raja-raja (dari Kerajaan Galuh) atau dengan kata lain raja baru dianggap syah bila mendapat persetujuan Batara yang bertahta di Galunggung. Batara atau sesepuh yang memerintah pada masa abad tersebut adalah sang Batara Sempakwaja, Batara Kuncung Putih, Batara Kawindu, Batara Wastuhayu, dan Batari Hyang. Sejak masa Batara Hyang pemerintahan Galunggung mengalami perubahan bentuk dari kebataraan menjadi kerajaan, sehingga disebut Kerajaan Galunggung.

Pada abad ke 18 kerajaan tersebut masih ada dengan nama Kabupaten Galunggung, berpusat di Singaparna. Karena alasan Historis, penduduk Kampung Naga di Salawu tabu menyebut nama Singaparna, mereka tetap menggunakan nama Galunggung.

Tentang Kerajaan penguasa Galunggung, yakni Hyang Batari dikenal adanya ajaran – tetekon hirup yang dikenal sebagai Sang Hyang Siksakanda ng Karesian, ajarannya ini masih dijadikan ajaran resmi pada jaman Prabu Siliwangi (1482-1521 M) yang bertahta di Pakuan Pajajaran. Kerajaan Galunggung bertahan sampai 6 raja berikutnya yang masih keturunan Batari Hyang.

Batari Hyang disebut sebagai nu nyusuk na Galunggung. Ajaran yang tertulis dalam naskah itu disebutkan sebagai ajarannya. Tokoh ini pula yang dalam kropak 630 (Sanghyang Siksakandang Karesian) disebut sang sadu jati atau sang bijaksana atau sang budiman. Memang unik karena “pencipta” ajaran kesejahteraan hidup yang harus men¬jadi pegangan para raja dan rakyatnya itu adalah seorang wanita. Namun sampai saat ini belum ada sejarah yang membeberkan masalah ini. Biasanya ajaran demikian merupakan dominasi laki-lali dan bersifat maskulin, terutama ketika menyangkut masalah agama atau keyakinan. Demikian pula alasan Batari Hyang membangun parit pertahanan sebagai perlindungan pusat pemerintahannya sampai saat ini juga belum dapat dijelaskan.

 

Amanat Galunggung

“Raja yang tidak bisa mempertahankan kabuyutan di wilayah kekuasaannya lebih hina ketimbang kulit musang yang tercampak di tempat sampah”. Demikian cuplikan dari Amanat Galunggung yang dikenal pula dengan sebutan Amanat Prabu Darmasiksa.

Amanat ini disampaikan oleh Prabu Darmasiksa raja Saunggalah kepada Rajaputra yang kelak menggantikannya di Saunggalah, sebelum Prabu Darmasiksa pindah ke Pakuan (1187) untuk menjadi raja Sunda yang ke-25. Dari kropak 632, yang ditulis pada daun lontar, diketahui, Rajaputra dimaksud adalah Sang Lumahing Taman.

Isi kropak 632 yang dijelaskan tersebut adalah dari “ajaran pembuat parit Galunggung”, sedangkan tokoh pembuat parit Galunggung dalam prasasti Geger Hanjuan dikenal dengan nama “Batari Hyang”. Ajaran ini digunakan oleh Prabu Darmasiksa untuk menasehati putranya, namun nasihat tersebut ditujukan pula untuk semua anak cucunya, keturunannya kelak.

Jika dicermati lebih jauh, naskah ini memuat tentang tata politik pada jaman dahulu kala, sedangkan fungsi Kabuyutan digunakan sebagai pusat kegiatan intelektual dan keagamaan. Dari naskah ini diketahui peran Kabuyutan pada waktu itu, yakni merupakan salah satu pilar penting dari keberadaan negaranya, merupakan pusat kekuatan gaib raja dan kerajaannya.

Dalam periode lainnya kabuyutan disebut dangiang Sunda, tempat harga diri urang sunda dipertahankan, sehingga tempat itu dilindungi oleh raja, bahkan dianggap sakral. Sehingga jika gagal melindungi kabuyutan Galunggung, ia (rajaputra) lebih hina dari derajatnya kulit lasun ditempat sampah. Demikian pentingnya kabuyutan bagi kelangsungan negara menurut pemahaman urang Sunda dimasa silam. 

Kegaiban raja dan kerajaannya yang dimaksud mungkin menyangkut kekuatan spiritual dari nilai-nilai yang ada dan diajarkan didalam lingkup kabuyutan. Ia bisa menjadi tuntutan perilaku para pemimpin dalam menjaga negerinya dan menjaga tradisi Sunda.

Amanat Galunggung bukan suatu judul naskah yang langsung ditulis demikian, namun disebutkan bagi sekumpulan naskah yang ditemukan di Kabuyutan Ciburuy Garut. Penamaan terhadap kumpulan naskah menjadi ‘Amanat Galunggung’ diberikan oleh Saleh Danasasmita, yang turut mengkaji naskah ini pada tahun 1987. Menurut RPMSJB : Isi kropak tersebut yang dijelaskan sebagai “ajaran pembuat parit di Galunggung” (Batari Hyang) justru merupakan nasehat Darmasiksa kepada putranya sebelum ia berangkat ke Pakuan” (Buku ketiga, hal 20)

Naskah yang dikatagorikan sebagai salah satu naskah tertua di Nusantara ini diperkirakan disusun pada abad ke-15, ditulis pada daun lontar dan nipah. Naskah ini menggunakan bahasa Sunda kuno dan aksara Sunda.

Jika dihubungan dengan Prabu Darmasiksa yang diceritakan dalam naskah Amanat Galunggung, menyebutkan Darmasiksa pernah memerintah Sanggalah II. Nama keraton tersebut sama dengan nama Keraton Resi Demunawan di Kuningan, yakni Saunggalah. Pada periode berikutnya berubah menjadi Saunggatang atau Saungwatang, terletak di Mangun reja. Ketiga nama tersebut berarti sama, yakni Rumah Panjang, suatu julukan yang wajar disebutkan pada masa itu untuk sebuah Keraton.

Didalam penelusuruan tentang hubungan Saunggalah I dengan Saunggalah II ditafsirkan, bahwa Saunggalah II kelanjutan dari Saunggalah I. Pendapat ini tentu akan mempengaruhi terhadap penafsiran Prabu Darmasiksa, sehingga ia disebut-sebut masih keturunan Resi Demunawan.

Beberapa penafisran sejarah mencoba menghubungkan bibit buit Rakyan Darmasiksa, pada akhirnya menyimpulkan muasal leluhurnya dari Kendan. Jika kita menyoal masalah Kendan tentunya tidak dapat dilepaskan dari Galuh, sehingga tak heran jika banyak masyarakat yang menafsirkan Amanat Galunggung terkait erat dengan nilai-nilai yang berlaku umum di Galuh pada waktu itu. Konon kabar, ajaran Sunda Wiwitan yang sekarang dijadikan tetekon hidup justru berkembang di wilayah ini, tidak di Pakuan, yang kadang pacaruk dengan ajaran lain sehingga susah menemukan identitas dari ajaran Sunda Wiwitan.

Didalam carita Parahyangan disebutkan Darmasiksa, atau Prabu Sanghyang Wisnu memerintah selama 150 tahun, namun di dalam naskah Wangsakerta menyebut angka 122 tahun, yakni sejak tahun 1097 – 1219 Saka atau 1175 – 1297 M. Sebagai bahan perbandingan ada 10 penguasa di Jawa Pawathan yang sejaman dengan masa pemerintahannya. Ia naik tahta 16 tahun pasca Prabu Jayabaya (1135 – 1159) M, penguasa Kediri Jenggala Wafat, iapun memiliki kesempatan menyaksikan lahirnya Kerajaan Majapahit (1293 M).

Menurut Carita Parahyangan yang mengisahkan sejarah Galuh, naskah yang diberi nama Amanat Galunggung memulai ceritanya dari alur Kerajaan Saunggalah I (Kuningan) yang diperkirakan telah ada pada awal abad 8 M. Masa ini terkait dengan kisah perebutan tahta Galuh oleh sesama keturunan Wretikandayun, yakni antara anak-anak mandi minyak disatu pihak dan anak dari Sempak Waja dan Jantaka. Sehingga secara politis, Sanggalah dijadikan kunci penting dalam menyelesaikan pembagian kekuasaan diantara keturunan Wretikandayun.

Kemudian masalah eksistensi Sanggalah, tentunya tidak dapat pula dilepaskan dari eksistensi Demunawan yang memiliki keistimewaan dari saudara-saudara lainnya, baik sekandung maupun dari seluruh teureuh Kendan. Karena sekalipun tidak pernah menguasai Galuh secara fisik, namun ia mampu mempengaruhi pola kebijakannya. Teka-teki tentang pengaruh dan kewibawaan Demunawan, yang dituruti semua pihak yang bertikai di Galuh inilah yang mungkin dapat dijadikan sandaran, bahwa Demunawan memang seorang tokoh agama, yang menjadi cikal bakal Kerajaan Saunggalah I, mempunyai suatu “ajaran”. Kemudian dianut pula oleh keturunannya yang menjadi Raja di Saunggalah I (Kuningan) dan kemudian pindah menjadi raja di Saunggalah II (Mangunreja / Sukapura) yaitu Prabu Guru Darmasiksa.

Prabuguru Darmasiksa pertama kali memerintah di Saunggalah I. Letak wilayah tersebut disinyalir di desa Ciherang, Kadugede, Kuningan. Kemudian diserahkan kepada puteranya dari istrinya yang berasal dari Darma Agung, yang bernama Prabu Purana (Premana).

Amanat Prabuguru Darmasiksa dari setiap halaman, diberi nomor sesuai terjemahan yang diberikan oleh Saleh Danasasmita (1987). Sistematika rangkuman tersebut terbagi dalam 4 bagian, yakni : (1) Amanat yang bersifat pegangan hidup / tetekon hirup. ; (2) Amanat yang bersifat perilaku yang negatif (non etis) ditandai dengan kata penafian “ulah” (jangan) dilakukan. ; (3) Amanat yang bersifat perilaku yang positif (etis) ditandai dengan kata imperatif “kudu” (harus) ; (5) Kandungan nilai, sebagai interpretasi penulis.

 

KEUTUHAN SUNDA

Didalam bab terdahulu telah diuraikan tentang Prabu Darmasiksa dan kaitannya dengan Amanat Galunggung. Ia memiliki visi penting tentang peranan Kabuyutan dan spirit atas nilai-nilai Galunggung yang perlu dipertahankan oleh anak cucunya. Namun siapakah Prabu Darmasiksa ? dan sebesar apakah peranannya terhadap ajegna Kerajaan Sunda ?.

Prabu Darmasiksa didalam Fragmen Carita Parahyangan disebutkan memerintah selama 150 tahun, namun di dalam naskah Wangsakerta menyebut angka 122 tahun, yakni sejak tahun 1097 – 1219 Saka atau 1175 – 1297 M. Sebagai bahan perbandingan ada 10 penguasa di Jawa Pawathan yang sejaman dengan masa pemerintahannya. Ia naik tahta 16 tahun pasca Prabu Jayabaya (1135 – 1159) M, penguasa Kediri Jenggala Wafat, iapun memiliki kesempatan menyaksikan lahirnya Kerajaan Majapahit (1293 M).

Carita Parahyangan menceritakan Darmasiksa sebagai titisan Dewa Wisnu yang mengikuti Sanghyang Rama dan mengamalkan Sanghyang Siksa. Fragmen tersebut, sebagai berikut :

•             Diganti ku Sang Rakean Darmasiksa, titisan Sanghiang Wisnu, nya eta nu ngawangun sanghiang binajapanti.

•                Nu ngajadikeun para kabuyutan ti sang rama, ti sang resi, ti sang disri, ti sang tarahan tina parahiangan. “Tina naon berkahna?” Ti sang wiku nu mibanda Sunda pituin, mituhu Sanghiang Darma, ngamalkeun Sanghiang Siksa.

Pustaka Nusantara II menerangkan bahwa permaisuri Darmasiksa keturunan Sanggramawijayottunggawarman, penguasa Sriwijaya yang bertahta sejak tahun 1018 sampai dengan 1027 M. Dari pernikahannya melahirkan dua orang putra, yakni Rakeyan Jayagiri atau Rakeyan Jayadarma dan Sang Ragasuci atau Rakeyan Saunggalah, dikenal pula dengan sebutan Sang Lumahing Taman.

Rakeyan Jayadarma dinikahkan dengan putri Mahisa Campaka dari Tumapel Jawa Timur, bernama Dyah Lembu Tal, sedangkan putranya yang kedua, yakni Ragasuci dijodohkan dengan Dara Puspa, putri Trailpkyaraja Maulibusanawarmadewa, dari Melayu. Sedangkan Dara Kencana, kakak dari Dara Puspita diperistri oleh Kertanegara, raja Singosari.

Darmasiksa mencoba memperbaiki hubungan antara Melayu dengan Singosari melalui tali perkawinan putra-putranya. Dengan posisi demikian ia mampu menempatkan Sunda menjadi negara yang netral diantara dua kekuatan yang berseteru.

 

Perjanjian Sriwijaya – Kediri

Pada masa Darmasiksa memang Sunda tidak memiliki angkatan laut yang kuat, sebagaimana yang dimiliki Sriwijaya dan Jawa Timur. Hal ini terjadi pula pada masa ia memindahkan wilayahnya ke Saunggalah II, sehingga menyebabkan pantai utara Jawa Barat menjadi sarang bajak laut, dan berangsur-angsur pelabuhan bagian utara Cimanuk secara de facto menjadi daerah kekuasaan Sriwijaya.

Di Jawa Timur sejak masa Jayabaya (1135 – 1159 M), Kediri mulai berkembang, ia memiliki angkatan laut sebanyak tiga laksa (+ 30.000) prajurit. Kediri makin berkembang pesat setelah dipegang oleh cucunya, yakni Sri Maharaja Aryeswara (1171 – 1181 M), sering juga dipanggil Prabu Angling Darma. Namun ia tidak berhasilkan mengalahkan Sriwijaya dilaut.

Setelah wafat ia diganti oleh putranya, yakni Sri Ganda (1181 – 1185 M) dengan gelar Prabu Ajipanasa Sri Kroncaryadipa. Sri Ganda melanjutkan keinginan ayahnya untuk mengalahkan Sriwijaya. Pertempuran tersebut terjadi di perairan Sunda, kedua belah pihak menderita kekalahan dan mundur ke basis masing-masing. Akhirnya kedua pihak tersebut memintakan bantuan Maharaja Cina untuk memberikan perlindungan.

Pada tahun 1182, Maharaja Cina mengabulkan permohonan bantuan tersebut dengan menyarankan agar keduanya berdamai, kemudian menyepakati untuk mengadakan perdamaian. Perjanjian dimaksud dilakukan di Sundapura.

Perundingan damai dipimpin langsung oleh Duta Cina, disaksikan oleh negara-negara sahabat kedua belah pihak, termasuk raja Sunda. Hasil perundingan disepakati, bahwa Sriwijaya dan Kediri hanya boleh bergerak di wilayahnya masing-masing, yakni Sriwijaya bergerak dikawasan Nusantara sebelah barat sedangkan Kediri disebelah timur Nusantara.

Posisi dari hasil perundingan ini menggugah pula Darmasiksa, untuk memindahkan Sunda kewilayah yang dekat dengan pantai. Maka pada tahun 1187 ia memindahkan pusat pemerintahannya ke Pakuan, Keraton yang semula didirikan oleh Maharaja Tarusbawa.

 

Ekspansi Singasari ke Sriwijaya (Pamalayu)

Pada tahun 1182 M terjadi babak baru perubahan perpolitikan di Jawa Timur. Ken Angrok berhasil membunuh Tunggul Ametung dan menjadi Akuwu Tumapel. Cucu dari Ken Angrok dari Ken Umang, yakni Mahisa Campaka disebut-sebut lebih akrab berhubungan Sunda, sehingga terjadi persahabatan diantara Sunda dengan Tumapel.

Pada masa Jayawisnuwardana, raja Tumapel yang berkuasa dari tahun 1250 – 1268 M, cucu Ken Dedes dari Tunggul Ametung ini berbesanan dengan raja Melayu. Dengan posisi ini Darmasiksa memiliki posisi yang strategis dari pertalian perkawinannya. Ia berbesanan dengan raja Melayu dan raja Tumapel, ia pun merupakan kerabat Sriwijaya dari trah istrinya.

Pada masa-masa itu Sriwijaya sedang mengalami penurunan pamor, namun mendapat perlindungan Maharaja Cina. Di Jambi telah berdiri kembali kerajaan Melayu, bernama Melayu Darmasraya. Peristiwa lainnya dalam tahun 1128 M telah berdiri kerajaan Islam pertama di Pasai, diperintah oleh Sultan Abdul Al-Kamil. Selain itu pada tahun 1151 M di Perelak berdiri pula negara Islam dibawah Sultan Alaidin Syaj (1151 – 1186 M). Negara Islam kecil tersebut mendapat dukungan dari Mesir, Gujarat dan Singasari, sehingga berani menentang Sriwijaya.

Pada tahun 1275 M Sultan Makhdum Abdul Malik Syah menyatakan bahwa Perlak tidak lagi dibawah Sriwijaya. Sebelum mengeluarkan statement tersebut terlebih dahulu meminta bantuan Kertanagara, penguasa Singasari sahabat Melayu. Karena bantuan Singasari belum tiba maka Perlak dapat ditundukan Sriwijaya dan Sultan Makhdum gugur.

Kertanegara serta merta mengirimkan pasukannya yang besar, dibawah pimpinan Mahisa Anabrang. Pasukan ini pun singgah selama dua hari di Sunda, sekaligus untuk mengetahui informasi tentang kekuatan Sriwijaya. Kemudian pada tahun 1275 Sriwijaya dapat ditundukan Singasari.

Kekalahan Sriwijaya disebabkan baru saja menyerang Melayu, sehingga semua sumber daya sudah terkuras. Kedua Cina sebagai pelindung Sriwijaya pada saat itu memang sedang disibukan dengan melakukan penyerangan ke wilayah perbatasannya, dibawah pimpinan Kublai Khan.

 

Jaka Susuruh atau Raden Wijaya

Rakeyan Jayadarma sebagaimana kisah diatas dinikahkan dengan putri Mahisa Campaka dari Tumapel Jawa Timur, bernama Dyah Lembu Tal. Dari pernikahan Rakeyan Jayadarma, ia mempunyai seorang anak yang diberi nama Sang Nararya Sanggramawijaya atau sering disebut Raden Wijaya. Namun Jayadarma wafat pada usia muda, sehingga Dyah Lembu Tal memohon ijin untuk tinggal di Tumapel bersama putranya.

Raden Wijaya setelah dewasa ia menjadi senapati Singasari, pada waktu itu diperintah oleh Kertanegara, hingga pada suatu ketika ia mampu mendirikan negara Majapahit. Raden Wijaya didalam Babad Tanah Jawi dikenal juga dengan nama Jaka Susuruh dari Pajajaran, karena ia memang lahir di Pakuan.

Dalam Pustaka Nusantara III dijelaskan, bahwa Darmasiksa masih menyaksikan Raden Wijaya, cucunya mengalahkan Jayakatwang, raja Singasari. Kemudian dengan taktis ia mampu menyergap dan mengusir laskar Kublay Khan dari Jawa Timur. Kemudian empat hari pasca pengusiran pasukan Cina, atau pada 1293 M, Raden Wijaya dinobatkan menjadi raja Wilwatika dengan gelar Kertarajasa Jayawardana.

Peristiwa yang juga direkam didalam Pustaka Nusantara III tentang Darmariksa memberikan nasehat kepada Raden Wijaya, cucunya. Ketika itu Raden Wijaya berkunjung ke Pakuan dan mempersembahkan hadiah kepada kakeknya, sebagai berikut :

Haywa ta sira kedo athawamerep ngalindih Bhumi Sunda mapan wus kinaliliran ring ki sanak ira dlahanyang ngku wus angemasi. Hetunya nagaramu wus agheng jaya santosa wruh ngawang kottaman ri puyut katisayan mwang jayacatrum, ngke pinaka mahaprabu. Ika hana ta daksina sakeng Hyang Tunggal mwang dumadi seratanya.

Ikang Sayogyanya rajya Jawa lawan rajya Sunda paraspasarpana atuntunan tangan silih asih pantara ning padulur. Yatanyan tan pratibandeng nyakrawati rajya sowangsowang. Yatanyan siddha hitasukha. Yan rajya Sunda duh kantara, wilwatika sakopayana maweh carana ; mangkana juga rajya Sunda ring Wilwatika.

(Janganlah hendaknya kamu menggangu, menyerang dan merebut Bumi Sunda karena telah diwariskan kepada Saudaramu bila kelak aku telah tiada. Sekalipun negaramu telah menjadi besar dan jaya serta sentosa, aku maklum akan keutamaan, keluar biasaan dan keperkasaan mu kelak sebagai raja besar. Ini adalah anugrah dari Yang Maha Esa dan menjadi suratan-Nya. – Sudah selayaknya kerajaan Jawa dengan kerajaan Sunda saling membantu, bekerjasama dan saling mengasihi antara anggota keluarga. Karena itu janganlah beselisih dalam memerintah kerajaan masing-masing. Bila demikian akan menjadi keselamatan dankebahagiaan yang sempurna. Bila kerajaan Sunda mendapat kesusahan, Majapahit hendaknya berupaya sungguh-sungguh memberikan bantuan ; demikian pula halnya Kerajaan Sunda kepada Majapahit).

Dari uraian diatas tentunya dapat disimpulkan, bahwa Darmasiksa memiliki peranan yang cukup besar terhadap keutuhan Sunda. Dilakukan tidak menggunakan kekuatan militer, melainkan dengan cara Diplomasi. Kiranya keindahan leadership Darmasiksa patut dicontoh oleh generasi berikutnya. Selain ia ahli agama dan memegang erat tetekon keyakinannya, ia pun mampu menjalankan fungsinya sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan.

 

Penerus Darmasiksa

Darmasiksa wafat tahun 1297 M. Sebelumnya ia telah menunjuk Citraganda (1303 – 1311 M), cucunya putra Prabu Ragasuci untuk memerintah di Pakuan. Ia sejaman dengan Raden Wijaya (1293 – 1309) dan Jayanegara (1309 – 1311 M) di Majapahit. Sedangkan sebelum perpindahan lokasi pemerintahan ke Pakuan, di Saunggalah masih dipegang oleh Ragasuci. Untuk kemudian Ragasuci meninggal dan dikuburkan di Taman (Tasik). Mungkin ini juga akhirnya Ragasuci disebut Sang Lumahing Taman.

Pada masa Citraganda pakuan dianggap sudah mulai redup, karena di timur sudah muncul kota baru yaitu Kawali. Sehingga putranya, Prabu Linggadewata (1311 – 1333 M) menjalankan pemerintahannya yang berkedudukan di Kawali, sedangkan Pakuan sempat menjadi raja daerah. Pakuan baru berfungsi kembali sebagai ibukota Sunda pada tahu 1482 M. Pada masa itu dikenal sebagai periode awal kejayaan Pajajaran (***)

 

PERPINDAHAN IBUKOTA

Konon menurut salah satu versi, antara tahun 895 sampai tahun 1311 kawasan Jawa Barat sering diramaikan oleh iring-iringan rombongan raja baru yang pindah tempat. Salah satu peristiwa kepindahan ini diabadikan oleh Kai Raga, dari gunung Srimaganti (Cikuray), didalam Carita Ratu Pakuan. Cuplikan kisah ini digambar, sebagai berikut :

Dicarita Ngabetkasih

Kadeungeun sakamaruna

Bur payung agung nagawah tugu

Nu sahur manuk sabda tunggal

Nu deuk mulih ka Pakuan

Saundur ti dalem timur

Kadaton wetan buruhan

Si mahut putih gede manik

Maya datar ngaranna

Sunijalaya ngaranna

Dalem Sri Kencana Manik

Bumi ringit cipta ririyak

Di Sanghyang Pandan Larang

Dalem si Pawindu Hurip

Keyakinan dalam menetapkan kedudukan ibukota pemerintahan tidak terlepas dari masalah keamaman negara dan kesejahteraan rakyatnya. Didalam paradigma masyarakat tradisional dapat pula dipengaruhi oleh dorongan spiritual. Karena sifatnya yang selalu berpindah-pindah didalam masyarakat modern ditafsirkan sebagai masyarakat nomaden. Hal yang sama pada pasca kemerdekaan dilakukan pula oleh masyarakat yang berada di Sukabumi Selatan, atau masyarakat Cipta Gelar, namun yang perlu dipahami adalah latar belakang kepindahannya, bukan hanya melihat sifatnya yang kerap berpindah-pindah.

 

Ibukota di timur

Pada abad ke-14 di timur muncul kota baru yang makin mendesak kedudukan Galuh dan Saunggalah, yaitu Kawali yang berlokasi di tengah segitiga Galunggung, Saunggalah dan Galuh. Sejak abad XIV Galuh dan Sunda kerap disangkut pautkan dengan Kawali, bahkan dua orang Raja Sunda dipusarakan di Winduraja (sekarang bertetangga desa dengan Kawali).

Gejala peralihan pusat pemerintahan sudah nampak pada masa pemerintahan Prabu Ragasuci (1297 – 1303). Ketika naik tahta menggantikan ayahnya (Prabu Darmasiksa), ia tetap memilih Saunggalah sebagai pusat pemerintahan, karena ia sendiri sebelumnya telah lama berkedudukan sebagai raja Saunggalah menggantikan ayahnya. Tetapi pada ketika digantikan pleh Prabu Citraganda, pemerintahan dipusatkan di Pakuan.

Prabu Darmasiksa menunjuk putera Prabu Ragasuci sebagai calon ahli warisnya yang bernama Citraganda. Permaisuri Ragasuci adalah Dara Puspa (Puteri Kerajaan Melayu) adik Dara Kencana isteri Kertanegara.

Citraganda tinggal di Pakuan bersama kakeknya. Ketika Prabu Darmasiksa wafat, untuk sementara ia menjadi raja daerah selama 6 tahun di Pakuan, sedangkan raja Sunda yang dijabat ayahnya berkedudukan Saunggalah. Citraganda dipusarakan di Tanjung. Kemudian digantikan oleh Prabu Lingga Dewata, ia diperkirakan berkedudukan di Kawali, ia disebut-sebut sebagai raja peralihan, karena para penggantinya berkedudukan di Kawali.

 

Raja-raja di Kawali

Prabu Lingga Dewata digantitkan oleh Prabu Ajiguna Wisesa (1333 – 1340), menantunnya yang menikah dengan Dewi Uma Lestari atau Ratu Santika. Ajiguna Wisesa diperkirakan sudah berkedudukan di Kawali. Dari pernikahannya ia memiliki dua orang putra, yakni Ragamulya dan Suryadewata. Ragamulya menggantikan posisi Ajiguna Wisesa sebagai raja Sunda, ia bergelar Prabu Ragamulya Luhur Prabawa, bertahta dari tahun 1340 – 1350 masehi, dalam Carita Parahyangan disebut Sang Aki Kolot, sedangkan Suryadewata disebut-sebut sebagai leluhur kerajaan Talaga, ia menjadi raja daerah disana, namun ia wafat ketika sedang berburu, dan dimakamkan di Wanaraja (Garut), sehingga ia diberi gelar Sang Mokteng Wanaraja.

Aki Kolot mempunyai dua orang putra, yakni Linggabuana dan Bunisora. Kelak keduanya menjadi raja di Kawali dan memiliki nama yang harum bagi sumbangsihnya terhadap perjalanan sejarah di tatar Sunda.

Linggabuana menggantikan Sang Aki Kolot, dengan nama nobat Prabu Lingga Buana (1350 – 1357), ia dikenal pula dengan sebutan Prabu Maharaja. Setelah peristiwa Bubat ia dijuluki Prabu Wangi, sebagai gelar kehornatan atas keberaniannya. Lingga Buana dinobatkan pada tanggal 14 bagian terang bulan Palguna tahun 1272 saka, bertepatan dengan tanggal 22 Februari 1350 masehi. Sebelum menggantikan posisi ayahnya, ia pernah menjabat sebagai adipati selama tujuh tahun dibawah perintah Sang Ajiguna, kakeknya. Kemudian ia pun menjadi Mahamantri merangkap sebagai putra mahkota selama dua tahun dibawah perintah Aki Kolot, ayahnya.

Prabu Linggabuana mengalami peristiwa di bubat, yang disebut Pasunda Bubat. Ia gugur di Bubat. Sebagai penggantinya (raja panyelang) diteruskan oleh Mangkubumi Suradipati atau Prabu Bunisora (ada juga yang menyebut Prabu Kuda Lalean). Selain itu ia pun dijuluki Batara Guru di Jampang. Mangkubumi Suradipati dimakamkan di Geger Omas.

Prabu Linggabuana beristrikan Dewi Lara Lisning. Dari pernikahannya memperoleh empat orang putra fan putri. Putri sulungnya diberi nama Citraresmi, oleh kakeknya diberi nama Dyah Pitaloka. Ia dipersunting oleh Prabu Hayam Wuruk, namun didalam Pasunda Bubat ia gugur, dengan cara melakukan belamati. Putra yang kedua dan ketiga Linggabuana meninggal pada usia satu tahun. Putra yang keempat diberi nama Niskala Wastu Kencana yang lahir pada tahun 1348 masehi.

Ketika terjadi Pasunda Bubat usia Wastu Kancana baru 9 tahun dan ia adalah satu-satunya ahli waris kerajaan yang hidup karena seluruh kakaknya sudah meninggal. Setelah pemerintahan di jalankan pamannya yang sekaligus juga mertuanya, Wastu Kancana dinobatkan menjadi raja pada tahun 1371 pada usia 23 tahun. Permaisurinya yang pertama adalah Lara Sakti puteri Lampung. Wastu Kancana dikenal raja yang adil dan bijaksana, sehingga ia pun diberi gelar Prabu Wangi Sutah.

Niskala Wastu Kencana memiliki dua orang putra, yakni Sang Haliwungan, pasca penobatan bergelar Prabu Susuktunggal. Dari permaisuri yang kedua (Mayangsari), puteri sulung dari Bunisora, ia pun memiliki putra, diberi nama Ningrat Kancana, setelah menjadi penguasa Galuh bergelar Prabu Dewa Niskala.

Tentang Prabu Maharaja, Bunisora dan Niskala Wastu Kancana diterangkan di dalam Carita Parahyangan. Tentunya banyak pujian yang dialamtakan kepada Niskala Wastu Kancana. Isi dari Carita Parahyangan tersebut, sebagai berikut :

•                   Boga anak, Prebu Maharaja, lawasna jadi ratu tujuh taun, lantaran keuna ku musibat, Kabawa cilaka ku anakna, ngaran Tohaan, menta gede pameulina. – Urang rea asalna indit ka Jawa, da embung boga salaki di Sunda. Heug wae perang di Majapahit. –

•                  Aya deui putra Prebu, kasohor ngaranna, nya eta Prebu Niskalawastu kancana, nu tilem di Nusalarang gunung Wanakusuma. Lawasna jadi ratu saratus opat taun, lantaran hade ngajalankeun agama, nagara gemah ripah. – Sanajan umurna ngora keneh, tingkah lakuna seperti nu geus rea luangna, lantaran ratu eleh ku satmata, nurut ka nu ngasuh, Hiang Bunisora, nu hilang di Gegeromas. Batara Guru di Jampang. –

•                    Sakitu nu diturut ku nu ngereh lemah cai. – Batara guru di Jampang teh, nya eta nyieun makuta Sanghiang Pake, waktu nu boga hak diangkat jadi ratu. – Beunang kuru cileuh kentel peujit ngabakti ka dewata. Nu dituladna oge makuta anggoan Sahiang Indra. Sakitu, sugan aya nu dek nurutan. Enya eta lampah nu hilang ka Nusalarang, daek eleh ku satmata. Mana dina jaman eta mah daek eleh ku nu ngasuh. –

•                   Mana sesepuh kampung ngeunah dahar, sang resi tengtrem dina ngajalankeun palaturan karesianana ngamalkeun purbatisti purbajati 35). Dukun-dukun kalawan tengtrem ngayakeun perjangjian-perjangjian make aturan anu patali jeung kahirupan, ngabagi-bagi leuweung jeung sakurilingna, ku nu leutik boh kunu ngede moal aya karewelanana, para bajo ngarasa aman lalayaran nurutkeun palaturan ratu. – Cai, cahaya, angin, langit, taneuh ngarasa senang aya dina genggaman pangayom jagat. – Ngukuhan angger-angger raja 36), ngadeg di sanghiang linggawesi, puasa, muja taya wates wangenna. – Sang Wiku kalawan ajen ngajalankeun angger-angger dewa, ngamalkeun sanghiang Watangageung. Ku lantaran kayakinan ngecagkeun kalungguhanana teh.  

  S Setelah Wastu Kancana wafat pada tahun 1475, kerajaan dipecah dua, masing-masing dikuasai oleh Susuktunggal (Sunda) dan Dewa Niskala (Galuh). Kerajaan tersebut hidup sedarajat dan berdampingan. Namun politik kesatuan wilayah kembali membuat jalinan perkawinan diantara putra-putri keduanya, dengan demikian kekuasaan Wastu Kencana bersatu kembali.

Jayadewata, atau sering disebut Prabu Silihwangi, putera Dewa Niskala, mula-mula memperistri Ambetkasih, puteri Ki Gedeng Sindangkasih, kemudian memperistri Subanglarang, puteri Ki Gedeng Tapa yang menjadi Raja Singapura.

Sampai tahun 1482 pusat pemerintahan tetap berada di Kawali. Bisa disebut bahwa tahun 1333 – 1482 adalah Jaman Kawali. Didalam sejarah pemerintahan di Jawa Barat di sebut-sebut Kawali pernah menjadi pusat pemerintahan Sunda.

Nama Kawali diabadikan di dalam dua buah prasasti batu peninggalan Prabu Raja Wastu yang tersimpan di “Astana Gede ” Kawali. Prasasti tersebut menegaskan “mangadeg di kuta Kawali” (bertahta di kota Kawali) dan keratonnya yang disebut Surawisesa dijelaskan sebagai “Dalem sipawindu hurip” (keraton yang memberikan ketenangan hidup).

 

Ibukota kembali ke Pakuan

Kejatuhan Prabu Kertabumi (Bre Wijaya V) Raja Majapahit pada tahun 1478, secara tidak langsung mempengaruhi jalan sejarah di Jawa Barat. Rombongan pengungsi dari kerabat keraton Majapahit akhirnya ada juga yang sampai di Kawali. Salah seorang diantaranya ialah Raden Baribin saudara seayah Prabu Kertabumi.

 

Raden Baribin beserta rombongannya diterima dengan baik oleh Prabu Dewa Niskala bahkan kemudian dijodohkan dengan Ratna Ayu Kirana (puteri bungsu Dewa Niskala dari salah seorang istrinya), adik Raden Banyak Cakra (Kamandaka) yang telah jadi raja daerah di Pasir Luhur. Disamping itu Dewa Niskala sendiri menikahi salah seorang dari wanita pengungsi yang kebetulan telah bertunangan.

Perkawinan dengan pengungsi tersebut didalam Carita Parahiyangan disebutkan “istri larangan ti kaluaran”, karena sejak peristiwa Bubat, kerabat keraton Kawali ditabukan berjodoh dengan kerabat keraton Majapahit. Selain itu, menurut “perundang-undangan” seorang wanita yang bertunangan tidak boleh menikah dengan laki-laki lain kecuali bila tunangannya meninggal dunia atau membatalkan pertunangan. Dalam hal ini Dewa Niskala dianggap telah melanggar dua peraturan sekaligus dan sebagai raja dianggap berdosa besar.

Kehebohan pun tak terelakkan. Susuktunggal, raja Sunda yang juga besan Dewa Niskala mengancam memutuskan hubungan dengan Kawali. Namun, kericuhan dapat dicegah dengan keputusan, bahwa kedua raja yang berselisih itu bersama-sama mengundurkan diri.

Prabu Dewa Niskala menyerahkan Tahta Kerajaan Galuh kepada Jayadewata, putranya. Demikian pula dengan Prabu Susuktungal yang menyerahkan Tahta Kerajaan Sunda kepada menantunya ini (Jayadewata). Dengan peristiwa yang terjadi tahun 1482 itu, kerajaan warisan Wastu Kencana berada kembali dalam satu tangan.

Jayadewata memutuskan untuk berkedudukan di Pakuan karena ia telah lama tinggal di Pakuan untuk menjalankan pemerintahan sehari-hari mewakili mertuanya. Sekali lagi Pakuan menjadi pusat pemerintahan (***).

 

Sumber bacaan :

•         Rintisan Penelusuran Masa Silam Sejarah Jawa Barat, Jilid 2 dan 3, Tjetjep, SH dkk, Proyek Penerbitan Sejarah Jawa Barat Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat.

•         Sejarah Jawa Barat, Yoseph Iskandar, Geger Sunten, Bandung – 2005

•         Tjarita Parahjangan, Drs.Atja, Jajasan Kebudayaan Nusalarang, Bandung- 1968.

•         wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Galuh

•         Rintisan Penelusuran Masa Silam Sejarah Jawa Barat, Jilid 2 dan 3, Tjetjep, SH dkk, Proyek Penerbitan Sejarah Jawa Barat Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat.

•         Sejarah Jawa Barat, Yoseph Iskandar, Geger Sunten, Bandung – 2005

•         Tjarita Parahjangan, Drs.Atja, Jajasan Kebudayaan Nusalarang, Bandung- 1968.

•         wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Galuh

•         Rintisan Penelusuran Masa Silam Sejarah Jawa Barat, Jilid 2 dan 3, Tjetjep, SH dkk, Proyek Penerbitan Sejarah Jawa Barat Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat.

•         Sejarah Jawa Barat, Yoseph Iskandar, Geger Sunten, Bandung – 2005

•         Tjarita Parahjangan, Drs.Atja, Jajasan Kebudayaan Nusalarang, Bandung- 1968.

•         wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Galuh

•         Rintisan Penelusuran Masa Silam Sejarah Jawa Barat, Jilid 2 dan 3, Tjetjep, SH dkk, Proyek Penerbitan Sejarah Jawa Barat Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat.

•         Sejarah Jawa Barat, Yoseph Iskandar, Geger Sunten, Bandung – 2005

•         Tjarita Parahjangan, Drs.Atja, Jajasan Kebudayaan Nusalarang, Bandung- 1968.

•         wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Galuh

•         Rintisan Penelusuran Masa Silam Sejarah Jawa Barat, Jilid 2 dan 3, Tjetjep, SH dkk, Proyek Penerbitan Sejarah Jawa Barat Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat.

•         Sejarah Jawa Barat, Yoseph Iskandar, Geger Sunten, Bandung – 2005

•         Tjarita Parahjangan, Drs.Atja, Jajasan Kebudayaan Nusalarang, Bandung- 1968.

•         wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Galuh

•         putra-galunggung.blogspot.com

•         pasundan.homestead.com – Sumber : Salah Dana Sasmita, Sejarah Bogor, 24 September 2008.

•         Kebudayaan Sunda (Suatu Pendekatan Sejarah) – Jilid 1, Edi S. Ekadjati, Pustaka Jaya, Bandung, Cet Kedua – 2005

•         Rintisan Penelusuran Masa Silam Sejarah Jawa Barat, Jilid 2 dan 3, Tjetjep, SH dkk, Proyek Penerbitan Sejarah Jawa Barat Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat.

•         Tjarita Parahjangan, Drs.Atja, Jajasan Kebudayaan Nusalarang, Bandung- 1968.

•         wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Galuh, 5 April 2010.

•         wikipedia.org/wiki/Kawali, tanggal 5 April 2010.

Di Kutip dari : GUNUNG SEPUH

akibalangantrang.blogspot.com

Disarikan oleh : Agus Setiya Permana

Dari : berbagai sumber

Posted in Legend & Mitos | Tagged: | Leave a Comment »

kerajaan sunda 1

Posted by kangadhi7 on May 31, 2010


KERAJAAN SUNDA BAGIAN 1

 

TENTANG SUNDA

 

Penggunaan istilah Sunda saat ini sulit dibedakan dengan istilah Jawa Barat, sering dicampur adukan, padahal secara histori memiliki sejarah yang berbeda. Kedua istilah tersebut mengalami perubahan pengertian dan penafsiran, sehingga sering terjadi kekeliruan dan keragu-raguan dalam penggunaannya, terutama ketika istilah Sunda hanya dikonotasikan politis, dianggap sukuisme, sehingga terpaksa istilah Sunda dalam perkumbuhan sosial dan budaya harus diganti dengan sebutan Jawa Barat.

Istilah Sunda dalam catatan masa lalu diterapkan untuk menyebutkan suatu kawasan (Sunda besar dan Sunda kecil), sedangkan di dalam prasasti dan naskah sejarah digunakan untuk menyebutkan batas budaya dan kerajaan di pulau Jawa bagian barat (Jawa Kulwon), bukan hanya terbatas didalam yuridiksi penerintahan Jawa Barat saat ini, didalam Catatan Bujangga Manik disebut “Tungtung Sunda”.

 

Dataran- Kepulauan Sunda

Bagi masyarakat yang mengenyam pendidikan pada medio 1960 an, istilah Sunda masih ditemukan didalam mata ajar Ilmu Bumi, suatu istilah yang menunjukan gugusan kepulauan yang disebut Sunda Besar dan Sunda Kecil.

Sunda Besar adalah himpunan pulau yang berukuran besar, terdiri atas pulau Sumatera, Jawa, Madura, dan Kalimantan. Sedangkan Sunda Kecil adalah daerah yang terletak disebelah timur Pulau Jawa, sejak dari Bali disebelah barat hingga Pulau Timor di sebelah timur meliputi pulau-pulau Lombok, Flores, Sumbawa, Sumba, Roti dan lain-lain (Ekadjati – 1995).

Menurut R.W. van Bemmelen (1949), Sunda adalah sebuah istilah yang digunakan untuk menamai dataran bagian barat laut wilayah India Timur, sedangkan dataran bagian tenggara dinamai sahul. Dataran Sunda dikelilingi oleh sistim Gunung Sunda yang melingkar (circum Sunda Mountain System) yang panjangnya sekitar 7.000 km.

Pendapat diatas tentunya mendekati paradigma masyarakat dunia maya saat ini yang sedang mencari jejak Benua Antlantis. Konon berdasarkan penemuan para ahli Amerika dan Jepang, yang mengacu pada ciri ciri kehidupan dan genetika manusianya, benua tersebut berada diwilayah yang saat ini disebut dataran Sunda. Persoalannya sekarang, mampukah kita menemukan jawaban atas pencarian tersebut, atau hanya ‘bakutet’ seperti “monyet ngagugulung kalapa ?”. Jika dikelak kemudian hari pertanyaan tersebut terjawabkan, tentunya akan mampu merubah peta kesejarahan dunia.

Didalam pelajaran Ilmu Bumi, dataran Sunda terdiri dari dua bagian utama, yaitu bagian utara yang meliputi Kepulauan Filipina dan pulau-pulau karang sepanjang lautan Pasifik bagian barat serta bagian selatan yang terbentang dari timur ke barat muali Maluku bagian selatan hingga lembah Brahmaputra di Assam (India). Dengan demikian bagian selatan dataran Sunda dibentuk oleh kawasan mulai Pulau Banda di timur terus kearah barat melalui pulau-pula di Kepulauan Sunda Kecil (The Lesser Sunda Islands), Jawa, Sumatera, Kepulauan Andaman, dan Nikobar sampai ke Arakan Yoma di Birma.

 

Didalam Prasasti dan Naskah Kuna

Di bidang sejarah menurut Ekadjati (hal.2) : istilah Sunda yang menunjukan pengertian wilayah di bagian barat Pulau Jawa dengan segala akitivitas kehidupan manusia didalamnya, muncul untuk pertama kalinya pada abad ke-9 Masehi. Istilah tersebut tercatat dalam prasasti yang ditemukan di Kebon Kopi, Bogor beraksara Jawa Kuna dan berbahasa Melayu Kuna. Bahwa terjadi peristiwa untuk mengembalikan kekuasaan prahajian Sunda pada tahun 854 Masehi. Pada waktu itu sudah diketahui adanya suatu wilayah yang memiliki penguasa yang diberi nama Prahajian Sunda. Ada juga yang menyebutkan istilah ini telah dimuat dalam Prasasti Kabantenan. Prasasti tersebut menjelaskan tentang suatu daerah yang disebut Sundasembawa.

Data lain yang menyebutkan tentang istilah Sunda ditemukan pula, dengan penjelasan: “pemerintahan Suryawarman meninggalkan sebuah prasasti batu yang ditemjukan di kampung Pasir Muara (Cibungbulang) di tepi sawah kira-kira 1 kilometer dari prasasti telapak gajah peninggalan Purnawarman. Prasasti ini berisi inskripsi sebanyak 4 baris. Bacaannya (menurut Bosch) ;

•           ini sabdakalanda juru pangambat i kawihaji panyca pasagi marsandeca barpulihkan haji su – nda. (Ini tanda ucapan Rakryan Juru Pangambat dalam [tahun Saka] 458 [bahwa] pemerintahan daerah dipulihkan kepada raja Sunda”. (RPMSJB, Buku kedua, hal 24).

Suryawarman di dalam sejarah tatar Pasundan tercatat sebagai raja Tarumanagara ketujuh yang memerintah pada tahun 457 sampai dengan tahun 483 Saka bertepatan dengan tahun 536 sampai dengan tahun 561 masehi, sedangkan tahun 458 Saka bertepatan dengan 536 masehi atau abad ke enam masehi.

Sampai saat ini tidak kurang dari 20 buah jumlah prasasti yang ditemukan di wilayah Jawa Barat sekarang. Menurut waktunya dapat dikelompokan menjadi (1) prasasti Tarumanagara (2) Sunda (3) Rumantak (4) Kawali (5) Pakuan Pajajaran. Sedangkan nama-nama raja yang terulis dalam prasasti tersebut, adalah (1) Rajadiraja Guru (2) Purnawarman (3) Haji (raja) Sunda (4) Sri Jayabupati (5) Batari Hyang (6) Prabu Raja Wastu – Niskala Wastu Kencana (7) Ningrat Kencana (Dewa Niskala) dan (8) Prabu Guru Dewataprana (Sri Baduga Maharaja).

Kisah yang dimaksudkan Ekadjati tersebut sama dengan yang dimaksud Pleyte (1914), kisah berdirinya kerajaan Sunda terdapat dalam naskah Kuna dan berbahasa Sunda Kuna. Pendiri dari kerajaan Sunda adalah Terusbawa. Sedangkan eksistensinya ditemukan dalam naskah Nagarakretabhumi (sumber sekunder), yang menjelaskan Terusbawa memerintah pada tahun 591 sampai dengan 645 Saka, bertepatan dengan tahun 669/670 sampai dengan 723/724 Masehi. Sedangkan di dalam Pustaka Jawadwipa I sarga 3 mengisahkan, bahwa :

•           “Telas karuhun wus hana ngaran deca Sunda tathapi ri sawaka ning rajya Taruma. Tekwan ring usana kangken ngaran kitha Sundapura. Iti ngaran purwaprastawa saking Bharatanagari”. (Sesungguhnya dahulu telah ada nama daerah Sunda tetapi menjadi bawahan kerajaan Taruma. Pada masa lalu diberi nama (kota) Sundapura. Nama ini berasal dari negeri India) [Ibid].

Generasi muda sekarang lebih memahami batas sunda bagian timur adalah Cirebon. Penafsiran demikian tidak dapat disalahkan, mengingat pada masa Belanda yuridiksi Propinsi Jawa Barat dibatasi hanya smapai Cirebon. Ekadjati dalam tulisannya tentang Sajarah Sunda mengemukakan, bahwa :

•           … Tanah Sunda perenahna di beulah kulon hiji pulo anu ayeuna jenenganana Pulo Jawa. Ku kituna eta wewengkon disebut oge Jawa Kulon. Ceuk urang Walanda mah West Java. Sacara formal istilah West Java digunakeun ti mimiti taun 1925, nalika pamarentah kolonial ngadegkeun pamarentah daerah anu statusna otonom sarta make ngaran Provincie West Java. Ti mimiti zaman Republik Indonesia (1945) eta ngaran propinsi anu make basa Walanda teh diganti ku basa Indonesia jadi Propinsi Jawa Barat’.

Wilayah Tarumanagara pada masa Purnawarman membawahi 46 kerajaan daerah. Jika dibentangkan dalam peta daerah tersebut meliputi jawa bagian barat (Banten hingga Kali Serayu dan Kali Brebes Jawa Tengah). Paska pemisahan Galuh secara praktis kerajaan Sunda terbagi dua, sebelah barat Sungai Citarum dikuasai Sunda (Terusbawa) dan sebelah Sungai Citarum bagian timur dikuasai Galuh (Wretikandayun). Penyatuan kembali Sunda dengan Galuh dimasa lalu terjadi beberapa kali, seperti pada masa Sanjaya, Manarah, Niskala Wastu Kancana dan Sri Baduga Maharaja.

Untuk menyelusuri batas budaya, ada beberapa versi yang dapat diacu : Pertama, berdasarkan Naskah Bujangga Manik, yang mencatatkan perjalanannya pada abad ke-16, mengunjungi tempat-tempat suci di Pulau Jawa dan Bali, naskah tersebut diakui sebagai naskah primer, saat ini disimpan di Perpustakaan Boedlian, Oxford University, Inggris sejak tahun 1627, batas kerajaan Sunda di sebelah timur adalah sungai Cipamali (kali Brebes) dan sungai Ciserayu (Kali Serayu) Jawa Tengah. Dalam catatan Bujangga Manik disebutkan dengan isitilah Tungtung Sunda, bahkan menurut Wangsakerta, : wilayah kerajaan Sunda mencakup beberapa daerah Lampung. Hal ini terjadi pasca pernikahan antara keluarga kerajaan Sunda dan Lampung. Hanya saja Lampung dipisahkan dari bagian lain kerajaan Sunda oleh Selat Sunda. Disisi lainnya. Sunda memang tidak membentuk kerajaannya sebagai kerajaan Maritim.

Kedua, menurut Tome Pires (1513) dalam catatan perjalanannya, yang kemudian dibukukan dalam suatu judul  Summa Oriental, menyebutkan batas wilayah kerajaan Sunda : ada juga yang menegaskan, kerajaan Sunda meliputi setengah pulau Jawa. Sebagian orang lainnya berkata bahwa kerajaan Sunda mencakup sepertiga pulau Jawa ditambah seperdelapannya lagi. Keliling pulau Sunda tiga ratus legoa. Ujungnya adalah Cimanuk.

 

Kerajaan Sunda

Di dalam buku Rintisan Penelusuran Masa Silam Sejarah Jawa Barat (RPMSJB), uraian tentang kerajaan sunda nampaknya dibatasi sejak Maharaja Terusbawa sampai dengan Citraganda, atau sejak tahun 669 M sampai dengan tahun 1311 M. Hal ini dapat dipahami mengingat pembahasan kerajaan-kerajaan yang ada di tatar Sunda  diuraikan tersendiri, seperti Sunda, Galuh, Kawali dan Pajajaran.

Pembahasan kesejarahan ini jauh lebih luas dibandingkan dengan paradigma masyarakat tradisional yang selalu mengaitkan Sunda dengan simbol-simbol Pajajaran, atau kerajaan Sunda terakhir. Jika budaya Sunda hanya dipahami hanya sebatas Pajajaran, dengan satu-satunya raja yang terkenal, yakni Prabu Silihwangi, maka masyarakat di tatar Sunda akan berpotensi untuk makin kehilangan jejak kesejarahannya. Masalahnya adalah, mampukah masyarakat Sunda merubah paradigmanya untuk melemparkan kemasa yang lebih jauh kebelakang melebihi jejak Pajajaran dan Siliwanginya ?.

Sebutan Sunda untuk nama kerajaan di Tatar Sunda yang mengambil dari garis keturunan Terusbawa agak kurang tepat jika dikaitkan dengan kesejarahan Sunda yang sebenarnya. Istilah Sunda sudah dikenal sebelum digunakan oleh Terusbawa, bahkan prasasti Pasir Muara yang menunjukan tahun 458 Saka (536 M) telah menyebutkan adanya raja Sunda. Secara logika sangat wajar jika ditafsirkan bahwa istilah Sunda sudah digunakan sebelum tahun tersebut, karena prasasti dimaksud tentunya tidak dibuat langsung bertepatan dengan istilah Sunda ditemukan. Dan prasasti tersebut tidak menandakan dimulainya entitas Sunda, namun hanya menerangkan, bahwa memang telah ada penguasa Sunda yang berkuasa pada waktu itu.

Istilah Tarumanagara dimungkinkan diterapkan untuk nama kerajaan Sunda yang berada di tepi kali Citarum. Menurut beberapa versi, istilah Sunda digunakan ketika Ibukota Tarumanagara dipindahkan ke wilayah Bogor. Jika saja ada kaitannya antara Tarumanagara dengan Salakanagara, kemungkinan besar istilah Sunda juga sudah digunakan untuk nama kerajaan daerah atau jejak budaya manusia yang ada di dataran Sunda.

Istilah Sunda (Sundapura) sebelumnya pernah digunakan oleh Purnawarman sebagai pusat pemerintahan. Tarumanagara berakhir pasca wafatnya Linggawarman (669 M). Terusbawa adalah menantu Linggawarman menikah dengan Dewi Manasih, putrinya. Tarusbawa dinobatkan dengan nama Maharaja Tarusbawa Darmawaskita Manunggalajaya Sundasembawa. Dari sinilah para penulis sejarah Sunda pada umumnya mencatat dimulainya penggunaan nama kerajaan Sunda. (***)

 

PENERUS TARUMA

Di dalam buku Rintisan Penelusuran Masa Silam Sejarah Jawa Barat (RPMSJB), pembahasan tentang nama Sunda dalam bentuk kerajaan terbatas sejak Maharaja Terusbawa sampai dengan Citraganda, dari tahun 669 M sampai dengan tahun 1311 M. Namun penerus raja-raja sunda seperti Kawali dan Pajajaran diuraikan tersendiri.

Mungkin saja para penyusun sengaja menguraikan raja-raja sunda berdasarkan pada posisi pusat pemerintahan dan Garis penerus Maharaja Terusbawa, karena jika dikisahkan tentang sunda maka tak pula dapat dipisahkan dengan Kawali, Pajajaran, bahkan Galuh.Istilah Sunda didalam alur cerita kesejarahan resmi di mulai sejak Tarusbawa memindahkan pusat pemerintahan Tarumanagara ke Sundapura, pada tahun 669 M atau tahun 591 Caka Sunda. Pada masa itu kekuasaan Tarumanagara berakhir dengan beralihnya tahta Linggawarman pada tahun 669 M kepada Tarusbawa, menantunya yang menikah dengan Dewi Manasih. Tarusbawa kemudian diberi gelar Maharaja Tarusbawa Darmawaskita Manunggalajaya Sundasembawa.

Berita ini disampaikan kesegenap negara sahabat dan bawahan Tarumanagara. Demikian juga terhadap Cina, Terusbawa mengirimkan utusan bahwa ia pengganti Linggawarman. Sehingga pada tahun 669 M dianggap sebagai lahirnya Kerajaan Sunda.

Perpindahan lokasi atau pembangunan istana Sunda pada masa Terusbawa digambarkan di dalam Fragmen Carita Parahyangan :

Diinyana urut Kadatwan, ku Bujangga Sedamanah ngaran Kadatwan Bima – Punta – Narayana – Madura – Suradipati. Anggeus ta tuluy diprebokta ku Maharaja Tarusbawa denung Bujangga Sedamanah. (Disanalah bekas keraton yang oleh Bujangga Sedamanah diberi nama Sri Kedatuan Bima-Punta – Narayana – Madura – Suradipati. Setelah selesai dibangun lalu diberkati oleh Maharaja Tarusbawa dan Bujangga Sedamanah.).

Berita yang layak dijadikan bahan kajian tentang pembangunan istana yang dilakukan Tarusbawa juga tercantum dalam Pustaka Nusantara II/3 halaman 204/205, isinya :

”Hana pwanung mangadegakna Pakwan Pajajaran lawan Kadtwan Sang Bima – Punta – Narayanan – Madura – Suradipati ya ta Sang Prabu Tarusbawa”. (Adapun yang mendirikan Pakuan Pajajaran beserta keraton Sang Bima – Punta – Narayana – Madura – Suradipati adalah Maharaja Tarusbawa)

Istana sebagai pusat pemerintahan terus digunakan oleh raja-raja Sunda Pajajaran atau Pakuan Pajajaran. Istilah Pakuan Pajajaran menurut Purbatjaraka (1921) berarti istana yang berjajar. Memang nama istana tersebut cukup panjang, tetapi berdiri masing-masing dengan namanya sendiri, berurutan Bima – Punta – Narayana – Madura-Suradipati, atau disebut juga panca persada (bangunan keraton). Bangunan Keraton tersebut dimungkin sebagaimana yang dilaporkan oleh Gubernur Jendral Camphuijs, tanggal 23 Desember 1687 kepada atasannya di Amsterdam. Isi laporan tersebut menyatakan :

•         “Dat hetselve paleijs specialijck de verhaven zitplaets van den Javaense Coning Padzia Dziarum nu nog geduizig door een groot getal tiigers bewaakt en bewaart wort”. (bahwa istana tersebut. dan terutama tempat duduk yang ditinggikan – sitinggil – kepunyaan raja “Jawa” Pajajaran, sekarang ini masih dikerumuni dan dijaga serta dirawat  oleh sejumlah besar harimau). [RPMSJB jilid keempat hal. 34].

Laporan diatas mendasarkan pada penemuan Sersan Scipio, pada tanggal 1 September 1697, tentang penemuan pusat Kerajaan Pajajaran pasca dihancurkan pasukan Banten – Cirebon.

Istilah Pakuan Pajajaran, atau Pakuan atau Pajajaran saja ditemukan pula di dalam Prasasti tembaga di Bekasi. Urang Sunda kemudian terbiasa dengan menyebutkan nama Pakuan untuk ibukota Kerajaan dan nama Pajajaran untuk negaranya. Sama dengan istilah Ngayogyakarta Hadiningrat dan Surakarta Hadiningrat yang nama-nama keraton tersebut kemudian digunakan untuk nama ibukota dan wilayahnya.

 

Pemindahan Ibukota

Pemindahan pusat pemerintahan Tarumanagara ke Sundapura tentunya memiliki alasan, bukan karena Sundapura adalah daerah asalnya, melainkan erat kaitannya dengan masalah pelaksanaan pemerintahannya. Terusbawa menginginkan kembalinya kejayaan Tarumanagara sebagaimana pada masa Purnawarman. Ketika itu Purnawarman memindahkan ibukota Tarumanagara ke Sundapura. Namun Terusbawa tidak memperhitungkan akibat politis dari pemindahan ibukota kerajaannya ke Sundapura.

Pada saat itu kondisi Tarumanagara sudah tidak sekuat masa lalu. Tarumanagara pasca meninggalnya Purnawarman sudah mulai turun pamornya di mata raja-raja daerah, terutama pasca kekacauan yangterjadi diintern istana. Banyak raja-raja daerah yang melakukan pembangkangan, terutama yang berada di wilayah sebelah timur Citarum. Disisi lain nama Sriwijaya dan Kalingga sudah mulai naik pamornya sebagai pesaing Tarumanagara. Dengan alasan inilah Wretikandayun kemudian menyatakan Galuh membebaskan diri dari Sunda. Sejak saat itu ditatar Sunda muncul dua kerajaan kembar, yakni Sunda dan Galuh.

Perbedaan Sunda dengan Galuh bukan hanya menyangkut masalah pemerintahan, menurut para penulis RPMSJB dan Saleh Danasasmita, antara Sunda dengan Galuh masing-masing memiliki entitas yang mandiri dan ada perbedaan tradisi yang mendasar. Hal yang sama dikemukan Prof. Anwas Adiwilaga, menurutnya : Urang Galuh adalah Urang Cai sedangkan Urang Sunda disebut sebagai Urang Gunung. Mayat Urang Galuh ditereb atau dilarung, sedangkan mayat Urang Sunda dikurebkeun. Penyatuan tradisi tersebut diperkirakan baru tercapai pada abad ke-13, dengan mengistilahkan penduduk dibagian barat dan timur Citarum (citarum = batas alam Sunda dan Galuh) dengan sebutan “Urang Sunda”. Sebutan tersebut bukan hasil kesepakatan para penguasanya, melainkan muncul dengan sendirinya.

Pasca ditemukannya Prasasti Kawali 1, para ahli sejarah Sunda kuna pada umumnya bersepakat, bahwa : “Dengan demikian pengertian Galuh dan Sunda antara 1333 – 1482 Masehi harus dihubungkan dengan Kawali walaupun di Pakuan tentu ada seorang penguasa daerah. Keraton Galuh sudah ditinggalkan atau fungsinya sebagai tempat kedudukan pemerintah pusat sudah berakhir”. (RPMSJB, buku ketiga, hal. 32). (*).

 

GALUH MAHARDIKA

Tarusbawa dikenal sebagai pendiri kerajaan Sunda pasca Tarumanagara, dengan nama nobat Maharaja Tarusbawa Darmawaskita Manunggala jaya Sunda sembawa. Ia pengganti raja Tarumanagara terakhir – Linggawarman yang menikah dengan Dewi Manasih, putri Linggawarman.

Tarusbawa sebelumnya adalah raja daerah Sundapura yang berada di bawah wilayah Tarumanagara. Kota Sundapura pernah digunakan sebagai ibukota Tarumanagara pada masa Purnawarman. Demikian pula alasan Terusbawa memindahkan ibukota kembali ke Sundapura pada tahun 669 M atau tahun 591 saka Sunda, Ia memimpikan untuk mengembalikan masa kejayaan Tarumanagara ketika ibukotanya di Sundapura, namun tanpa disadari, pemindahan pusat kekuasaan Tarumanagara ke Sundapura berakibat Galuh menuntut untuk memisahkan diri dari Sunda dan mendirikan kerajaan yang Merdeka.

 

Pemisahan Galuh

Ketika peristiwa pemindahan Ibukota Tarumanagara ke wilayah Sundapura terjadi, Galuh berada dibawah kekuasaan Wretikandayun. Berdasarkan garis keturunan Tarumanagara ia masih termasuk kerabat Tarumanagara, keturunan Suryawarman, raja Tarumanagara ketujuh, yang menikahkan putrinya dengan Manikmaya, pendiri Kendan – cikal bakal Galuh.

Pasca pengalihan ibukota Tarumanagara ke Sundapura Wretikandayun mengirimkan surat kepada Tarusbawa, ia menjelaskan niat Galuh untuk melepaskan diri dari Sunda. Menurut Nusantara III/1, surat Wretikandayun tersebut menyatakan, sbb :

Sejak sekarang, kami yang berada diwilayah sebelah timur Citarum tidak lagi tunduk di bawah kekuasaan Tarumanagara. Jadi tidak lagi mengakui Tuan (Pakanira) sebagai ratu. Tetapi hubungan persahabatan diantara kita tidak terputus, bahkan mudah-mudahan menjadi akrab.

Karena itu daerah-daerah sebelah barat Citarum tetap berada dibawah pemerintahan tuan sedangkan daerah-daerah disebelah timur Citarum menjadi bawahan kami, dan sejak sekarang kami tidak mau lagi menyerahkan upeti kepada tuan. Kemudian janganlah hendaknya tentara kerajaan tuan menyerang kami, galuh pakuan, karena tindakan itu akan percuma. Angkatan perang kerajaan Galuh ada kira-kira tiga kali lipat dari angkatan perang Tuan dan sangat lengkap persenjataanya.

Disamping itu banyak kerajaan-kerajaan di Jawa Tengah dan Jawa Timur yang bersahabat dengan kami dan mereka sanggup memberikan bantuan perlengkapan angkatan bersenjata kami. Hal ini telah Tuan maklumi. Nanti kita rukun bersahabat sama-sama menghendaki kesejahteraan negara kita dan kecukupan kehidupan rakyat kita serta bersama-sama menjauhkan mala petaka. Semoga Yang Maha Kuasa memusnahkan siapapun yang berwatak lalim dan culas serta tidak mengenal perikemanusiaan (karunya ning citaning samaya)”. (RpmsJB – Jilid 2, hal. 44).

Keberanian Wretikandayun untuk melepaskan Galuh dari daulat Sunda tentu memiliki beberapa pertimbangan yang masuk akal. Suatu hal yang tidak mungkin jika terjadi ketika Tarumanagara masih dipimpin Purnawarman.

Pada masa pengalihan tahta Linggawarman kepada Tarusbawa memang posisi dan kondisi Tarumanagara sedang berada dititik paling rendah, terutama pasca Tarumanagara memberikan kelonggaran kepada raja-raja daerah untuk mengelola kerajaannya sendiri. Selain itu, pernah terjadi pemberontakan Cakrawarman yang menguras sumber daya Tarumanagara.

Kekuatan yang dimiliki Galuh juga disebabkan Wretikandayun telah membina hubungan baik dengan kerajaan Kalingga, bahkan terjadi pernikahan antara Dewi Parwati, putri Kertikeyasinga dan Ratu Sima dengan Mandiminyak, putra mahkota Galuh. Masalah ini yang memicu keberanian Wretikandayun untuk memerdekakan Galuh.

Disisi lain, Terusbawa dikenal sebagai raja yang senang menyelesaikan persoalannya melalui jalan diplomatik. Ia pun dikenal sebagai raja yang mencintai perdamaian. Ancaman yang dikaitkan dengan besarnya angkatan perang Galuh disebut-sebut tidak menjadi pertimbangan penting bagi Tarusbawa, karena kekuatan pasukan Tarumanagara ketika itu masih dianggap kuat diantara negara-negara lain, sehingga pada tahun 670 M Galuh resmi terpisah dari Sunda. Peristiwa ini merubah peta kekuasaan bekas Tarumanagara menjadi dua wilayah, yakni Sunda dan Galuh (Parahyangan).

Hubungan Galuh – Kalingga terbina sejak lama. Didalam RPMSJB disebutkan  :”Keeratan tersebut mungkin telah ikut mengabadikan batas kekuasaan diantara kedua keluarga dengan nama Cipamali (Sungai Pamali). Dalam catatan Bujangga Manik (antara 1473 – 1478 M) masih disebut Tungtung (Ujung) Sunda.

Batas ujung timur Galuh belum terlalu berubah sejak masa kekuasaan Purnawarman, meliputi Purwalingga atau sekarang Purbalingga. Mungkin batas itu Kali Klawing salah satu cabang Kali Serayu. Sampai abad 15 M daerah Purwokerto masih termasuk kawasan Galuh seperti terbukti dari dua orang Putra Dewa Niskala yaitu Banyakcatra (Kamandaka) dan Banyakngampar yang masing-masing menjadi raja Daerah Pasir Luhur dan Dayeuh Luhur”. (***)

 

MITRA PASAMAYAM

Linggawarman, raja Tarumanagara terakhir mempunyai 2 orang putra, yakni Manasih dan Sobakancana. Manasih dinikahkan dengan Terusbawa, penerus Tarumanagara yang kemudian menjadi nama Sunda, sedangkan Sobakancana di nikahkan dengan Sri Jayanasa, pendiri kerajaan Sriwijaya. Hal ini menumbuhkan hubungan kekerabatan diantara raja Sunda dan Sriwijaya.

Pada tahun 500 M, pulau Sumatera dikuasai oleh dua kerajaan yang kuat, yakni Pali (sebelah utara) dan Melayu Sribuja (sebelah timur), beribu kota di Palembang. Sedangkan Sriwijaya saat itu terletak di Jambi dan baru berbentuk kerajaan kecil dibawah Kerajaan Melayu.

Dibawah daulat Sri Jayanasa, kerajaan Sriwijaya makin berkembang, bahkan dalam waktu lima tahun dapat menaklukan sebagian wilayah Melayu. Pada tahun 676 Sriwijaya berhasil menaklukan Pali dan Mahasin (sekarang Singapura). Kemudian menaklukan Semenanjung dan Ligor. Ia pun memusatkan pasukannya di Minangkabau. Pada tahun 683 M Sriwijaya berhasil menaklukan Melayu.

Ekspansi Sriwijaya ke ke Melayu tentunya sangat mengganggu hubungannya dengan Kalingga (Jawa Tengah). Karena penguasa Melayu masih memiliki kekerabatan dengan Kalingga, bahkan dianggap menggangu perasaan Maharani Sima, ratu Kalingga.Sri Jayanasa mencoba mencairkan kebekuan hubungan ini dengan cara mengambil langkah-langkah di plomatik. Sri Jayanasa berupaya merajut benang silaturakhmi dengan Sunda dan Kalingga.

Sri Jayanasa dengan Terusbawa masih sesama menantu Linggawarman, raja Tarumana terakhir. Mereka menikah dengan putri-putri Linggawarman. Jalinan persaudaraan Sunda – Sriwijaya didudukan dalam suatu bentuk prasasti antara kedua negara, kemudian dikenal dengan istilah Mitra Pasamayan.

Mitra Pasamayan disetujui oleh kedua belah pihak pada tanggal 14 bagian terang bulan Maga tahun 607 Saka (sekitar 22 Januari 685 masehi), intinya untuk tidak saling menyerang, serta harus saling membantu. Menurut Pustaka Nusantara II/3, Maharaja Terusbawa mengabadikan perjanjian ini dalam sebuah prasasti yang ditulis dalam dua bahasa, yakni bahasa Melayu dan Sunda (Ibid. Jilid 3. hal 4).

Sri Jayanasa selanjutnya menawarkan persahabatan dengan Kalingga. Namun Dewi Sima menolak permintaan itu, karena sakit hati atas penaklukan kerajaan Malayu oleh Sriwijaya. Menurut rintisan penelusuran masa seilam sejarah Jawa Barat, ada Mahakawi yang mengisahkan, permusuhan antara Sriwijaya dengan Kalingga akibat dari penolakan pinangan Sri Jayanasa yang dilakukan oleh Maharani Sima.

Permusuhan makin menajam dan berujung pada persiapan Sriwijaya untuk menyerang Kalingga, bahkan telah mempersiapkan armada yang cukup besar. Demikian pula dari Kalingga, telah mempersiapkan diri dan dibantu oleh Cina dan negara-negara sahabat untuk menyerang balik Sriwijaya.

Ketegangan hubungan Sriwijaya – Kalingga dapat dilerai oleh Terusbawa. Ia bertindak sebagai sahabat dan kerabat. Terusbawa mengirimkan surat kepada Sri Jayanasa, yang isinya mengingatkan, bahwa :”Sunda tidak akan membantu penyerangan Sriwijaya ke Kalingga, mengingat dapat diangap kasus susila”. Terusbawa khawatir jika masalah ini dituduhkan oleh negara-negara lain, karena pinangan Sri Jayanasa di tolak oleh Maharani Sima.

Himbauan Terusbawa diterima Sri Jayanasa. Ia pun mengurungkan niatnya. Kapal-kapal Kalingga yang di tahan Sriwijaya kemudian diperbolehkan kembali. Tentunya setelah muatannya dirampas.

Dalam perkembangan selanjutnya, masih ada kapal-kapal Kalingga yang diganggu bajak laut. Disinyalir bajak laut tersebut direstui Sri Jayanasa.

 

Peran Sanjaya

Pasca meninggalnya Sri Jayanasa ketegangan Sri Wijaya dan Sunda menghangat kembali. Sri Wijaya menganggap bahwa ia masih keturunan Tarumanagara yang masih memiliki hak atas wilayah Tarumanagara, bahkan wilayah Selat Sunda – dan pelabuhan pelabuhan di Jawa Barat mulai diganggu para perompak yang direstui Sriwijaya. Adanya gangguan perompak menyebabkan Terusbawa memindah kan ibu kotanya ke pedalaman. Dalam proses selanjutnya Terusbawa memerintahkan Sanjaya, untuk menumpas bajak laut tersebut.

Menurut RPMSJB (1983-1984) : Terusbawa memerintahkan Sanjaya untuk membersihkan perompak diperairan Selat Sunda bertujuan untuk melatih Sanjaya agar kelak dikemudian hari mampu menggantikan posisinya sebagai penguasa Sunda. Pada masa lampau peranan bajak laut merupakan musuh yang sulit diberantas. Pada masa Dewawarman V, ia harus gugur diperairan ketika melakukan pemberantasan bajak laut. Purnawarman mengalami gangguan yang sama ketika ia memerintah Tarumanagara, namun ia berhasil menumpasnya.

Terusbawa memilih bajak laut sebagai sarana latihan Sanjaya, karena bajak laut memiliki sifat yang sangat bengis, mahir berkelahi dan tak pandang bulu dalam memperlakukan musuh-musuhnya. Harapan Terusbawa, jika Sanjaya mampu mengatasi bajak laut maka ia akan mampu membawa ketentraman bagi negara Sunda. Dan ternyata Sanjaya mampu menunaikan tugas ini, bahkan ia mampu mengejar kenagara-negara lain yang melindungi para bajak laut.

Sanjaya adalah putra Mahkota Galuh, dari garis Bratasenawa (Sena) putra Mandiminyak. Ia menjadi penguasa Galuh pada tahun 723 M (645 s/d 647 Saka). Sanjaya juga sebagai pengganti Terusbawa karena perkawinannya dengan Tejakencana. Pada tahun 723 M Sanjaya bersama Tejakencana, istrinya di nobatkan sebagai raja Sunda, terhitung 647 s/d 654 Saka.

Sanjaya adalah Cucu Maharani Sima, ratu Kalingga dari pernikahan Bratasenawa dengan Sanna, cucu Maharani Sima. Jika dilihat dari garis perkawinan Bratasenawa dan Sanna ia adalah putra Mahkota Mataram.

Disamping itu, atas persetujuan Parwati (ibunya), Sanjaya dijodohkan dengan Sudiwara, putri Dewa Singa dan cucu Prabu Narayana, penguasa Bumi Sambara. Perkawinan ini mengikat kekerabatan yang makin erat, karena mereka sesama keturunan Maharani Sima. Jadi posisi Sanjaya pada masa itu sudah menguasai ¾ pulau jawa. Wajar jika Sanjaya menjandang gelar Penguasa Pulau Jawa.

Pada tahun 728 M Sanjaya mengarahkan laskar gabungan dari ketiga negara tersebut untuk membersihkan perompak diperairan Selat Sunda, bahkan mengejar para bajak laut sampai kesarang-sarangnya yang dilindungi negara lain. Iapun berhasil mengalahkan pasukan Indrawarman, penguasa Sriwijaya pada waktu itu. Sriwijaya bangkit kembali dan memperoleh kejayaannya ketika dipimpin oleh Wisnuwarman (730 – 775 M), putra Indrawarman.

 

Sunda pasca Sanjaya

Dalam kisah selanjutnya Sunda harus mampu menyesuaikan dari kondisi pertentangan Sriwijaya dengan wilayah kerajaan di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Pada umumnya penguasa-penguasa Sunda lebih memilih menjadi penengah atau bersikap netral. Hal ini bukan hanya ada kekerabatan diantara penguasa kerajaan lainnya, melainkan Sunda tidak memiliki armada laut yang kuat, sebagaimana yang dimiliki Sriwijaya dan kerajaan-kerajaan di Jawa Timur.

Hubungan antara Sriwijaya dengan kerajaann-kerajaan di Jawa timur terjadi pada masa selanjutnya mengalami ketegangan, seperti pada masa kerajaan Mamenang, Kadiri, Singasari ataupun Majapahit. Pada umumnya berselisih tentang kekuasanya diperairan Nusantara. Apalagi pasca bangkitnya kerajaan Melayu yang selalu dilindungi raja-raja dari Jawa Timur ketika mendapat tekanan Sriwijaya. Yang terakhir ketika Sunda pada masa Prabu Darmasiksa, ia bertindak sebagai tuan rumah dalam penyelesaian perundingan Sriwijaya dengan Kediri yang diprakarasi Cina.

 

KEKUASAAN SANJAYA

Sanjaya menggantikan posisi Terusbawa, raja Sunda, pada tahun 723 M (645 Saka), bergelar Maharaja Bimaparakarma Prabu Maheswara Sarwajitasatru Yudapurnajaya. Mungkin Sanjaya adalah satu-satunya raja Sunda yang memiliki kekuasan melebihi Purnawarman. Sanjaya sangat pantas jika ia disebutkan sebagai penguasa Pulau Jawa pada masa abad ke 8 M.

Posisi dan kekuasaan Sanjaya di Pulau Jawa didapatkan dari trahnya sebagai keturunan dan perkawinan. Pertama, sebagai raja Sunda ia dapatkan setelah menikah dengan Teja Kencana, Cucu Tarusbawa, putra mahkota Sunda. Teja Kencana kemudian diangkat sebagai penguasa Sunda bersama-sama dengan Sanjaya pada tahun 723 M.

Kedua, Sanjaya pewaris syah tahta Galuh, dapatkan dari ayahnya, yakni Sena (Bratasenawa) putra Mandiminyak (Amara), dan cucu Wretikandayun. Kedudukan di Galuh Ia dapatkan pada tahun yang sama ketika menjadi raja Sunda.

Tentang masa berkuasanya Sanjaya di Sunda dan Galuh disebutkan dalam seri Pararatwan Jawadwipa,  yakni di Sunda sejak 645 – 647 Saka, sedangkan menjadi penguasa Sunda dan Galuh sejak 647 – 654 Saka.

Ketiga, Sanjaya adalah cicit Maharani Sima, ratu Kalingga dari pernikahan Bratasenawa, ayahnya dengan Sanna, ibunya, cucu Maharani Sima. Jika dilihat dari garis perkawinan Bratasenawa dan Sanna ia adalah putra Mahkota Mataram.

Keempat, atas persetujuan Parwati (neneknya), Sanjaya berjodoh dengan Sudiwara, putri Dewa Singa dan cucu Prabu Narayana, penguasa Bumi Sambara. Perkawinan ini mengikat kekerabatan yang makin erat, karena mereka sesama keturunan Maharani Sima. Jadi posisi Sanjaya pada masa itu sudah menguasai ¾ pulau jawa. Wajar jika Sanjaya menjandang gelar Penguasa Pulau Jawa.

 

Hubungan dengan Kalingga

Didalam thesis Prakondisi Terbentuknya Identitas Kebangsaan, oleh Drs. Nana Supriatna, M.Ed, dikemukakan : Eksistensi Sanjaya di jawa barat diperoleh dari prasasti Canggal (732 M). Prasasti tersebut menerangkan mengenai seorang raja bernama Sanjaya yang mendirikan tempat pemujaan untuk dewa Siwa di daerah Wukir. Dia adalah anak Sanaha, saudara perempuan Sanna. Sanjaya adalah pendiri wangsa Sanjaya yang berkuasa atas kerajaan Mataram Kuno di Jawa Tengah bagian utara.

 

Apabila isi prasasti tersebut dihubungkan dengan Carita Parahyangan yang menerangkan mengenai berkuasanya Sanna di Galuh (Ciamis), Sanjaya adalah raja Galuh yang mengganti kan Sanna setelah dia berhasil mengalahkan Rahyang Purbasora yang memberontak terhadap raja Sanna.

Dalam Carita Parahyangan disebutkan bahwa Sanjaya berhasil memperluas wilayah kekuasaannya dengan cara menaklukkan kerajaan-kerajaan kecil, yakni Manunggul, Kahuripan, Kadul, Balitar, Malayu, Kemir, Keling, Barus, dan Cina. Kerajaan-kerajaan yang diperkirakan terletak di Jawa Barat bagian timur dan Jawa Tengah bagian barat itu menjadi bagian dari Galuh.

Pada masa Terusbawa di Sunda, hubungan Sunda dengan Kalingga belum sedemikian erat, bahkan Wretikandayun memanfaatkan hubungan Galuh dengan Kalingga sebagai faktor penting untuk memerdekakan Galuh sebagai negara yang merdeka. Hubungan Galuh – Kalingga dipererat dengan pernikahan Parwati, putri Maharani Sima dengan Mandiminyak (Amara), putra Wretikandayun. Pada masa selanjutnya, hubungan Sena, putra Mandiminyak diikat pula dengan tali pernikahan. Kemudian diperkuat pula dengan pernikahan Sanjaya dengan Tejakencana.

Dalam cerita tentang Galuh, Sena adalah pewaris syah atas tahta Galuh. Tahta tersebut ia dapatkan dari Mandiminyak, ayahnya. Sena dikenal sebagai orang yang memiliki budi baik, namun dikarenakan kelahiran Sena hasil smarakarya antara Mandiminyak (Amara) dengan Pwah Rababu (istri Sempakwaja, kakak kandung Mandiminyak), maka ia kurang diterima dilingkungan keluarga Galuh.

Masalah smarakarya tersebut disinyalir pula sebagai pemicu Pisuna Galuh yang dipimpin Purbasora. Akhirnya pada tahun 716 M Purbasora merebut tahta Galuh. Hanya saja Sena berhasil melarikan diri ke Mataram.

Peristiwa ini disebut-sebut sangat menyakitkan keluarga Kalingga Utara. Ratu Parwati menghibur menantunya tersebut dengan cara menyerahkan tahtanya kepada Sanaha, putrinya dan Sena, menantunya. Kemudian Sanaha dan Sena berkuasa selama 16 di Mataram, terhitung sejak 716 – 732 M.

Pada masa terusirnya Sena dari Galuh, usia Sanjaya masih berumur 33 tahun. Pada masa tersebut ia lebih memiliki kesempatan untuk menjadi penguasa dibeberapa kerajaan, seperti Sunda, Galuh, Mataram dan Kalingga. Sebagai upaya merebut tahta Galuh dari Purbasora, ia pergi ke Denuh menemui Resiguru Wanayasa dan iapun menyiapkan diri di Denuh. Dari Denuh kemudian ia menuju Pakuan untuk menemui Terusbawa, kakek mertuanya. Iapun disarankan untuk lebih berhati-hati, karena pada masa itu Galuh memilki pasukan bayangkara yang berasal dari Indraprahasta, yang dikenal cukup tangguh dan teruji.

RPMSJB menjelaskan, sebagai ujian bagi Sanjaya, kemudian Terusbawa memerintahkan Sanjaya untuk membersihkan perompak diperairan Selat Sunda. Hal ini bukan hanya sekedar membebaskan Sunda dari gangguan bajak laut yang direstui Sriwijaya, melainkan pula bertujuan untuk melatih Sanjaya agar kelak dikemudian hari mampu menggantikan posisinya sebagai penguasa Sunda.

Pada masa lampau peranan bajak laut merupakan musuh yang sulit diberantas. Dewawarman V (252 – 276 m) penguasa Salakanagara kelima harus gugur diperairan ketika melakukan pemberantasan bajak laut. Purnawarman mengalami gangguan yang sama ketika ia memerintah Tarumanagara, namun ia berhasil menumpasnya. Sama halnya dengan Cheng Ho ketika ia harus membersihkan Palembang dari kekuasaan bajak laut pada tahun 1407 M.

Terusbawa memilih bajak laut sebagai sarana latihan Sanjaya, karena bajak laut memiliki sifat yang sangat bengis, mahir berkelahi dan tak pandang bulu dalam memperlakukan musuh-musuhnya. Harapan Terusbawa, jika Sanjaya mampu mengatasi bajak laut maka ia akan mampu membawa ketentraman bagi negara Sunda. Dan ternyata Sanjaya mampu menunaikan tugas ini, bahkan ia mampu mengejar kenagara-negara lain yang melindungi para bajak laut.

Memang ada peranan lainnya yang dilakukan Terusbawa dalam melatih Sanjaya, seperti merekomendasikan ke Gunung Sawal untuk meminjam buku Pustaka Ratuning Bala Sariwu. Buku tersebut digunakan Sanjaya pada saat memberantas bajak laut, serta digunakan sebagai acuan strategi dalam mengembalikan tahta Galuh dari kekuasaan Purbasora.

Tentang Pustaka Ratuning Bala Sariwu, konon kabar pernah digunakan oleh Purnawarman, raja Tarumanagara ketiga yang termasyhur. Selain itu digunakan pula oleh Surawisesa dalam mempertahan Pakuan dari serangan gabungan Demak Cirebon. Mungkin yang dimaksud buku Pustaka tersebut semacam pelajaran ilmu perang peninggalan Purnawarman, namun dalam kisah lainnya buku ini disebut-sebut peninggalan Resi Guru Manikmaya (Kendan).

Sanjaya menggantikan posisi Terusbawa, raja Sunda, pada tahun 723 M. Pada tahun yang sama Sanjaya berhasil merebut kembali tahta Galuh dari Purbasora. Dan membumi hanguskan kerajaan Indrapahasta, pendukung penting Purbasora, karena salah satu putri Indraprahasta adalah istri Purbasora.

 

Diplomasi Sanjaya

Sebagaimana cerita sebelumya, Sena adalah pewaris tahta Galuh yang diusir oleh Purbasora. Putra Sena, yaitu Rahyang Sanjaya alias Rakeyan Jambri telah menjadi cucu menantu Terusbawa raja Sunda. Ketika perebutan terjadi Sanjaya sedang berada di Mataram. Dengan kedatangan Sena dan terusirnya dari Galuh, sangat membangkitkan amarah Sanjaya, sehingga ia pun berupaya untuk menuntut balas.

Sena dikenal memiliki budi pekerti yang baik dan dianggap alim, sehingga tidak merespon peristiwa pengusirannya dengan melakukan balas dendam. Untuk mendukung keinginan Sanajaya, Sena menganjurkan Sanjaya agar berhati-hati dan tetap menghormati orang-orang tua di Galuh (Sempakwaja dan Jantaka). Sanjaya hanya diijinkan menyingkirkan Purbasora. Amanah tersebut diikuti oleh Sanjaya, ia perlahan-lahan melakukan infiltrasi dan membentuk pasukan khusus yang akan merebut Galuh kembali.Sanjaya secara diplomatis menghubungi Jantaka, atau Resiguru Wanayasa. Ia meminta Jantaka secara baik-baik untuk menjadi manggala, mengadili dan menentukan pihak mana yang benar dan salah. Jantaka menyadari akan masalah ini, namun permintaan ini menjadikan posisi Jantaka serba sulit, karena dipihak Purbasora telah berdiri Bimaraksa, anaknya. Iapun kemudian menolak tawaran tersebut, ia berjanji akan bersikap netral dan meminta jaminan dari Sanjaya, bahwa keluarganya tidak akan pernah diganggu dalam masalah ini.

 

Masalah ini diceritakan dalam Carita Parahyangan :

Carek Rahiangtang Kidul: “Putu, aing sangeuk kacicingan ku sia, – bisi sia kanyahoan ku ti Galuh. – Jig ungsi Sang Wulan, Sang Tumanggal jeung Sang Pandawa di Kuningan, – sarta anak saha sia teh?”.

Carek Rakian Jambri: “Aing anak Sang Sena. Direbut – kakawasaanana, dibuang ku Rahiang Purbasora.”

“Lamun kitu aing wajib nulungan. – Ngan ulah henteu digugu jangji aing. – Muga-muga ulah meunang, – lamun sia ngalawan perang ka aing. – Jeung deui leuwih hade sia indit ka tebeh Kulon, – jugjug Tohaan di Sunda.”

Sadatangna ka Tohaan di Sunda, – tuluy dipulung minantu ku Tohaan di Sunda.

Dalam Carita Parahyangan, peristiwa tersebut terjadi sebelum Sanjaya menjadi suami Tejakencana, bahkan jauh sebelum ia mendudukui tahta Sunda. Kemudian dukungan selanjutnya ia mintakan kepada raja Sunda, Terusbawa. Tentu Terusbawa tidak bisa dengan mudah memberikan dukungan secara riil, mengingat ia telah terikat hubungan persahabatan dengan Purbasora. Ia menyarankan agar Sanjaya bersikap hati-hati.

Terusbawa memberikan rekomendasi pula agar Sanjaya meminjam Pustaka Ratuning Bala Sarewu kepada Rabuyut Sawal. Pustaka itu hasil ciptaan Resiguru Kendan, tentang bagaimana menggunakan pasukan yang banyak.

 

Kisah perjalanan ini diabadikan dalam Carita Parahyangan, sebagai berikut :

Sadatangna ka Tohaan di Sunda, tuluy dipulung minantu ku Tohaan di Sunda. – Ti dinya ditilar deui da ngajugjug ka Rabuyut Sawal.

Carek Rabuyut sawal: “Sia teh saha?” – “Aing anak Sang Sena. Aing nanyakeun pustaka bogana Rabuyut Sawal. – Eusina teh, ‘retuning bala sarewu’, anu ngandung hikmah pikeun jadi ratu sakti, pangwaris Sang Resi Guru.”

Eta pustaka teh terus dibikeun ku Rabuyut sawal. Sanggeus kitu Rakean jambri miang ka Galuh. – Rahiang Purbasora diperangan nepi ka tiwasna. Rahiang Purbasora jadina ratu ngan tujuh taun. Diganti ku Rakean Jambri, jujuluk Rahiang Sanjaya.

Pada episode berikutnya memang sulit membuktikan dukungan Terusbawa secara formal, hingga ia meninggal pada tahun 723 M. Sebagai pengganti Raja Sunda maka pada tahun 723 M dilantiklah Sanjaya berserta Tejakencana, istrinya. Kemudian Sanjaya mengangkat Anggada, adik sepupu Tejakencana sebagai patih.

  

TAHTA  GALUH

Ketika suasana masih berkabung Sanjaya mengirimkan pasukan Sunda untuk bergabung di Gunung sawal, berjarak + 17 km dengan Galuh. Gerakan tersebut sama sekali tidak diketahui Purbasora. Hingga pada suatu hari, ditengah malam buta tibalah saatnya Sanjaya melakukan penyerangan. Ketika penyerangan di lakukan, Galuh sedang dalam keadaan terlelap, serangan itu pun tidak terdeteksi sebelumnya.

Kisah pengakhiran kekuasaan Purbasora, menurut buku Nusantara diceritakan, bahwa dimalam yang gelap gulita itu Sanjaya langsung berhadapan dengan Raja Galuh yang telah berumur 80 tahun itu, kemudian terdengar teriakan :

•       “Purbacura pinejahan dening Sanjaya yuddhakala” (Purbasora dibinasakan oleh Sanjaya waktu perang).

Kekalahan Purbasora di dalam perang tanding dengan Sanjaya tentunya bukan sesuatu yang aneh, mengingat usia Purbasora saat itu sudah berumur 80 tahun, jauh lebih tua dibandingkan Sanjaya. Dalam cerita ini memang ada yang perlu diteliti lebih jauh, karena Bimaraksa, senapati yang sekaligus patih dari Galuh, bersama sebagian kecil pasukannya berhasil meloloskan diri. Kisah lolosnya Bimaraksa dimungkinkan sesuai dengan maksud dari versi lain, tentang syarat yang diberikan Jantaka (ayah Bimaraksa) kepada Sanjaya untuk tidak mengganggu keluarganya. Hal ini ditaati oleh Sanjaya.

Dalam cerita ini dikisahkan pula, pasca kekalahan Purbasora, Demunawan diminta Sanjaya untuk memegang pemerintahan Galuh namun berada dibawah kontrol Sanjaya, untuk selanjutnya dikuasakan kepada Permana Dikusumah, atau dalam cerita Parahyangan dikenal dengan sebutan Bagawan Sijala-jala. Sedangkan Bimaraksa menetap di Geger Sunten dan menyusun kekuatan baru. Iapun lebih dikenal dengan sebutan Balangantrang, dalam sejarah lisan disebut aki Balangantrang, penyampai benang merah kisah Galuh kepada Ciung Wanara.

 

Penghancuran Indraprahasta

Sanjaya sangat mengetahui tulang punggung pasukan Purbasora yang berhasil mengusir Sena pada tahun 716 M terdiri dari pasukan Indraprahasta dibawah Senapati Wiratara, salah satu senapati Purbasora, kemudian menjadi raja Indraprahasta. Untuk alasan ini Sanjaya berniat membumi hanguskan Indraprahasta. Memang seolah-olah ada semacam pelampiasan untuk menyalurkan dendamnya kepada Indraprahasta, sedangkan terhadap keluarga Galuh lainnya, ia harus menepati janjinya kepada Demunawan dan ayahnya untuk memperlakukan dengan baik.

Didalam naskah Wangsakerta digambarkan persitiwa pembumi hangusan, tanpa ada belas kasihan, mereka menyebutnya seperti binatang buas. Sejak saat itu maka musnahlah Indrapahasta yang didirikan Sentanu pada tahun 363 M. Semula Indrapahasta sejak jaman Tarumanagara dianggap daerahnya sebagai wilayah yang disucikan, termasuk oleh Purnawarman, bahkan ada sebuah sungai yang dinamakan sungai Gangga.

Naskah tersebut sebagai berikut :

Ikang rajya Indraprahasta wus sirna dening Rahyang Sanjaya mapan kasoran yuddha nira.

Rajya Indraprahsta kabehan nira kaparajaya sapinasuk kadatwannya syuhdarawa pinaka tan hana rajya manih I mandala Carbon Ghirang.

Wadyabala, sang pameget, nanawidhakara janapada, manguri, sang pinakadi, meh sakweh ira pejah nirawaceca.

Kawalya pirang siki lumayu humot ring wana, giri, iwah, luputa sakeng satwikang tan hana karunya budhi pinaka satwakura.

 

Pasca Purbasora

Sanjaya pasca kemenangannya mengirimkan untusan untuk menghadap Sempakwaja di Galunggung. Ketika itu Sempakwaja telah berumur 103 tahun. Sanjaya berniat menyerahkan takhta Kerajaan Galuh kepada Demunawan, adik Purbasora. Hal ini ditolak oleh Rahyang Sempakwaja, ayah Purbasora karena takut kelak Demunawan akan ditumpas pula oleh Sanjaya. Iapun tidak ikhlas putranya berada dibawah perintah Sanjaya, karena ia tahu bagaimana Wretikandayun, ayahnya dahulu membebaskan Galuh di Sunda.

Sebagai resi yang bergelar Danghyang Guru di Galunggung yang bijak ia menawarkan pilihan kepada Sanjaya, Ia akan menganggap pantas memerintah Galuh jika Sanjaya mampu mengalahkan tiga tokoh Pandawa, Wulan dan Tumanggul. Ketiganya masing-masing raja didaerah Kuningan, raja Kajaron dan raja Kalanggara di Balamoha.

Kekuasaan yang dipegang Sanjaya dan Sena dianggap tidak ada apa-apanya jika Sanjaya belum mampu menaklukan raja di Jawa Tengah dan sekitar Galuh. Jika Sanjaya mampu menguasai mereka maka Resiguru Demunawan, putra Sempakwaja, masih ua Sanjaya, pantas mempertuan Sanjaya. Namun jika Sanjaya tidak mampu menundukan mereka maka Sempakwajalah yang akan menentukan penguasa Galuh.

 

Masalah ini dikisahkan didalam Cerita Parahyangan, sebagai berikut :

Carek Rahiang Sanjaya: “Patih, indit sia, tanyakeun ka Batara Dangiang Guru, saha kituh anu pantes pantes pikeun nyekel pamarentahan di urang ayeuna.”

Sadatangna patih ka Galunggung, carek Batara Dangiang Guru: “Na aya pibejaeun naon, patih?”

“Pangampura, kami teh diutus ku Rahiang Sanjaya, menta nu bakal marentah, adi Rahiang purbasora.”

Hanteu dibikeun ku Batara dangiang Guru.

Carek Batara Dangiang Guru: “Rahiang Sanjaya, indit beunangkeun ku sorangan. Elehkeun Guruhaji Pagerwesi, elehkeun Wulan, Sang Tumanggal, elehkeun Guruhaji Tepus jeung elehkeun Guruhaji Balitar. Jig indit Rahiyang Sanjaya; elehkeun Sang Wulan, Sang Tumanggal, Sang Pandawa di Kuningan. Maranehna meunang kasaktian, nu ngalantarankeun Sang Wulan, Sang Tumanggal, Sang Pandawa di Kuningan henteu kabawah ku dangiang Guru. Lamun kaelehkeun bener maneh sakti.”

Rahiang Sanjaya tuluy perang ka Kuningan.

Sanjaya tidak mampu mengalahkannya, bahkan sebaliknya Sanjaya dipukul mundur dan dikejar hingga ke Galuh. Peristiwa ini diberitakan didalam Carita Parahyangan.

Eleh Rahiang Sanjaya diubeur, nepi ka walungan Kuningan.

Rahiang Sanjaya undur.

“Teu meunang hanteu aing kudu ngungsi ka dieu, lantaran diudag-udag, kami kasoran.”

Ti dinya Rahiang Sanjaya mulang deui ka Galuh, Sang Wulan, Sang Tumanggal mulang deui ka Arile.

Rahiang Sanjaya tuluy marek ka Batara Dangiang Guru, Carek Batara Dangiang Guru: “Rahiang Sanjaya, naon pibejaeun sia, mana sia datang ka dieu?”

“Nya eta aya pibejaeun, apan kami dipiwarang, tapi kami eleh. Ti mana kami unggulna, anggur kami diuber-uber ku Sang Wulan, Sang Tumanggal jeung Sang Pandawa di Kuningan.”

Sanggeus kitu Rahiang Sanjaya tuluy mulang ka Galuh.

Karena dikalahkan akhirnya Sanjaya menyerahkan penunjukan penguasa Galuh tersebut kepada Danghyang Guru, Karena Sanjaya juga bertakhta di Kerajaan Sunda, maka pemerintahan Galuh diserahkan kepada Premana Dikusumah, cucu Purbasora. Sedangkan putra Sanjaya yang bernama Rahyang Tamperan dijadikan sebagai patih untuk mengawasi pemerintahan Premana. Cucu Purbasora dari Wijayakusuma. Masalah tidak cukup berhenti sampai disini, karena intrik-intrik politik terus berlanjut.

Sempakwaja menunjuk Demunawan sebagai raja Layuwatang. Kemudian pada tahun 723 Demunawan dinobatkan sebagai penguasa kerajaan Saung Galah di Kuningan. Wilayah Galunggung dan kerajaan kecilnya dijadikan wilayah dibawah Saung Galah untuk menandingi Galuh yang dikuasai Sanjaya, namun resminya dipegang Premana Dikusumah.

Karena merasa tertekan, Premana akhirnya memilih pergi bertapa. Istrinya yang bernama Pangrenyep, seorang putri pembesar Sunda, berselingkuh dengan Tamperan sehingga melahirkan Rahyang Banga. Tamperan kemudian mengirim utusan untuk membunuh Premana dipertapaannya. Maka berakhirlah kekuasaan Premana.

Carita Parahyangan dianggap terlalu berlebihan dalam memuji kekuatan Sanjaya yang diberitakan selalu menang dalam setiap peperangan. Konon, Sanjaya bahkan berhasil menaklukkan Melayu, Kamboja, dan Cina. Padahal sebenarnya, penaklukan Sumatra dan Kamboja baru terjadi pada pemerintahan Dharanindra, raja ketiga Kerajaan Medang.Sanjaya di Jawa Barat juga dikenal dengan sebutan Prabu Harisdarma. Ia meninggal dunia karena jatuh sakit akibat terlalu patuh dalam menjalankan perintah guru agamanya. Dikisahkan pula bahwa putranya yang bernama Rahyang Panaraban diperintah untuk pindah ke agama lain, karena agama Sanjaya dinilai terlalu menakutkan. “Rahiang Sanjaya sasauran, ngawulang anakna, Rakean Panaraban, enya eta Rahiang Tamperan: “Ulah arek nurutan agama aing, lantaran eta aing dipikasieun ku jalma rea.”

Dari perkataan tersebut mungkin menarik untuk dibahas adanya perubahan agama keraton di Sunda, namun masalah ini masih kabur dan belum terungkap secara jelas.

Sanjaya bertahta di Galuh sejak 723 sampai 732 M. Ia wafat pada tahun 754 M di Bumi Mataram (***)

 

Sumber Bacaan :

Kebudayaan Sunda (Suatu Pendekatan Sejarah) – Jilid 1, Edi S. Ekadjati, Pustaka Jaya – Bandung, Cetakan Kedua – 2005.

Rintisan Penelusuran Masa Silam Sejarah Jawa Barat, Jilid 2 dan 3, Tjetjep, SH dkk, Proyek Penerbitan Sejarah Jawa Barat Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat.

•         Kebudayaan Sunda (Suatu Pendekatan Sejarah) – Jilid 1, Edi S. Ekadjati, Pustaka Jaya – Bandung, Cetakan Kedua – 2005.

•         Rintisan Penelusuran Masa Silam Sejarah Jawa Barat, Jilid 2 dan 3, Tjetjep, SH dkk, Proyek Penerbitan Sejarah Jawa Barat Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat.

•         Tjarita Parahjangan, Drs.Atja, Jajasan Kebudayaan Nusalarang, Bandung- 1968.

•         wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Galuh, 5 April 2010.

•         wikipedia.org/ wiki/Kawali, tanggal 5 April 2010.

 •         Sumber lainnya.

•         Kebudayaan Sunda (Suatu Pendekatan Sejarah) – Jilid 1, Edi S. Ekadjati, Pustaka Jaya – Bandung, Cetakan Kedua – 2005.

•         Rintisan Penelusuran Masa Silam Sejarah Jawa Barat, Jilid 2 dan 3, Tjetjep, SH dkk, Proyek Penerbitan Sejarah Jawa Barat Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat.

•         Tjarita Parahjangan, Drs.Atja, Jajasan Kebudayaan Nusalarang, Bandung- 1968.

•         wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Galuh

•         Rintisan Penelusuran Masa Silam Sejarah Jawa Barat, Jilid 2 dan 3, Tjetjep, SH dkk, Proyek Penerbitan Sejarah Jawa Barat Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat.

•        Sejarah Jawa Barat, Yoseph Iskandar, Geger Sunten, Bandung – 2005

•         Tjarita Parahjangan, Drs.Atja, Jajasan Kebudayaan Nusalarang, Bandung- 1968.

•         wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Galuh

•         Rintisan Penelusuran Masa Silam Sejarah Jawa Barat, Jilid 2 dan 3, Tjetjep, SH dkk, Proyek Penerbitan Sejarah Jawa Barat Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat.

•         Sejarah Jawa Barat, Yoseph Iskandar, Geger Sunten, Bandung – 2005

•         Tjarita Parahjangan, Drs.Atja, Jajasan Kebudayaan Nusalarang, Bandung- 1968.

•         wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Galuh

•         Rintisan Penelusuran Masa Silam Sejarah Jawa Barat, Jilid 2 dan 3, Tjetjep, SH dkk, Proyek Penerbitan Sejarah Jawa Barat Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat.

•         Sejarah Jawa Barat, Yoseph Iskandar, Geger Sunten, Bandung – 2005

•         Tjarita Parahjangan, Drs.Atja, Jajasan Kebudayaan Nusalarang, Bandung- 1968.

•         wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Galuh

Di Kutip dari : GUNUNG SEPUH

akibalangantrang.blogspot.com

Disarikan oleh : Agus Setiya Permana

Dari : berbagai sumber

Posted in Legend & Mitos | Tagged: | Leave a Comment »

taruma nagara

Posted by kangadhi7 on May 30, 2010


KERAJAAN TARUMA NAGARA

 

PENGANTAR

Sebelum Salakanagara ramai diperbincangkan Kerajaan Tarumanagara lebih dahulu disebut-sebut para akhli sejarah sebagai kerajaan awal di tatar pasundan. Padahal berdasarkan dugaan awal, keberadaan Salakanagara jauh lebih dulu dibandingkan Tarumanagara. Entah bagaimana, Tarumanagara pun dianggap sebagai kerajaan yang didirikan kaum pendatang, para saudagar dari India.

Sekalipun demikian, kepopuleran Tarumanagara didalam sejarah lisan masyarakat sekarang belum dapat mengalahkan cerita tentang Galuh dan Pajajaran, bahkan masih banyak yang menafsirkan bahwa raja-raja Tarumanagara bergelar Purnawarman, sama dengan anggapan bahwa raja-raja Pajajaran bergelar Siliwangi (Silihwangi).

Kesalahan dalam cara mempersepsi raja-raja Tarumanagara yang bergelar Purnawarman dimungkinkan, mengingat Purnawarman disebut-sebut sebagai raja yang paling terkenal, mampu memperluas wilayah Tarumanagara, dan banyak di abadikan didalam bentuk Prasasti.

Sekalipun demikian, masih banyak para akhli sejarah Jawa Barat, yang masih menyisakan pertanyaan tentang asal-usul Tarumanagara, apakah dari India atau pribumi asli yang menggunakan adat istiadat Hindu ?.

 

Keberadaan Tarumanagara

Sebagai bukti keberadaan Tarumanagara diketahui dari peninggalan berupa Prasasti yang saat ini baru ditemukan tujuh buah dan beberapa arca, batu menhir, perhiasan, batu dakon, kuburan tua, tempayan, dan logam perunggu. Sedang sumber rujukan kisah yang sering dijadikan bahan diskusi berasal dari Naskah Wangsakerta.

Mungkin sulit juga diakui keberadaanya jika tidak dikuatkan berita dari luar. Berita ini menurut sejarah jawa barat tercantum didalam berita-berita dari China. Seperti berita perjalanan Fa-Hsien, Dinasti Sui dan Dinasti Tang.

Pada tahun 413 M (Jaman Purnawarman) Fa-Hsien, pendeta Budha dari China. semula ia berniat berlayar ke Srilanka, namun kapalnya terkatung-katung hingga 90 hari, kemudian ia tiba di Ya-va-di dan menetap selama lima bulan. Selama di Ya-va-di ia lebih banyak melihat Brahmana dari pada pendeta-pendeta Budha. Kisah ini kemudian ditulisnya dalam buku yang berjudul Fa-Kao-Chi.

Berita kedua lainnya terkait dengan hubungan diplomatic, yakni berita dari Dinasti Sui, menceritakan bahwa tahun 528 dan 535 (masa raja Candrawarman dan Suryawarman) telah datang utusan dari To-lo-mo yang terletak di sebelah selatan. Sedangkan Berita Dinasti Tang, juga menceritakan bahwa tahun 666 dan 669 (masa raja Linggawarman) telah datang utusaan dari To-lo-mo. Dari berita dipercayai para akhli, bahwa yang dimaksud dengan To-lo-mo adalah Tarumanagara.

Berdasarkan sumber-sumber diatas para akhli sejarah menyimpulkan tentang aspek-aspek social dari kehidupan raja-raja dan pendudukan Tarumanegara.

Tarumanagara mengalami puncak kejayaannya ketika dipimpin Purnmawarman. Ia dianggap raja gagah perkasa, pemberani. panglima perang, membekas dihati rakyat dan tokoh agama sebagai raja yang memperhatikan kesejahteraan rakyat, serta rajin memberikan hadiah kepada para Brahmana.

Jika tidak ditemukan beberapa prasasti, keraguan terhadap keberadaan Tarumanagara akan sama dengan keraguan terhadap Salakanagara. Untungnya Purnawarman termasuk raja yang sangat rajin mengabadikan kejayaannya didalam Prasasti, sehingga tidak mengalami kebuntuan sejarah, sebagaimana yang dialami Salakanagara.

Prasasti terpenting yang mengabarakan keberadaan Purnawarman dimuat dalam prasasti Ciaruten, menjelaskan : “Kedua jejak telapak kaki yang seperti jejak telapak kaki Wisnu ini kepunyaan penguasa dunia yang gagah berani yang termashur Purnawarman raja Tarumanagara”.

Prasasti ini cukup kuat menunjukan Tarumanagara memang pernah ada, sekalipun lokasi dan tanda tanda fisik kedatuannya masih belum diketahui, namun patut diduga, Tarumanagara berada di wilayah Pantai Bekasi. Prasasti inipun menunjukan pula Purnawarman sebagai raja Tarumanagara, sehingga wajar jika Purnawarman dianggap pendiri Tarumanagara.

Keyakinan yang menganggap Purnawarman pendiri Tarumanagara akan menjadi tak terelakan jika tidak ditemukan Prasasti Tugu, yang diperkirakan dibuat abad ke 5 M. Prasasti tersebut menunjukan Purnawarman bukan raja pertama, karena masih ada pendahulunya, yakni Rajadirajaguru. Runtutan kisah ini menjadi tersambungkan jika dihubungkan dengan Kisah Tarumanagara didalam Naskah Wangsakerta, yang dibuat pada abad 17 M (*)

 

PERCANDIAN BATU JAYA

Situs Batujaya terletak wilayah Karawang Jawa Barat + 45 km di sebelah timur kota Jakarta. Situs Batujaya secara umum memiliki peninggalan arkeologi, dilahan yang seluas sekitar 5 km persegi, berada pada lahan-lahan persawahan serta sebagian kecil yang terletak disekitar pemukiman. Tidak jauh dari lokasi Situs terdapat Sungai anak Citarum.

Penanggalan situs berdasarkan temuan stupika tablet di candi ini dapat diketahui berasal dari abad VI-VII M. Bahkan dengan menggunakan carbondating pada tahun 2001 memberikan hasil penanggalan lebih tua lagi yakni antara 150 – 400 M. Dengan demikian candi yang terletak di Situs Batu merupakan Candi tertua yang ada di Indonesia. 

Situs Batujaya ditemukan pada tahun 1985 setelah ada laporan dari masyarakat setempat. Serangkaian penelitian dan penanganan peninggalan budaya tersebut hingga tahun 2006 telah tercatat sebanyak 24 bangunan kuno yang masih dalam bentuk Unur, atau gundukan tanah yang didalamnya terdapat reruntuhan bangunan kuno, diduga berupa candi. (Pada kunjungan dsaya terakhir, maret 2010 penduduk memperkirakan sudah ditemukan 26 bangunan yang masih berbetuk Unur).

Ciri-ciri yang tampak pada sejumlah bangunan yang digali menampilkan sejumlah bentuk profil, bentuk relung, serta sejumlah bagian bangunan yang merupakan bangunan candi. Hingga kini dari sekitar 24 sisa bangunan yang ada, baru 4 buah tengah ditangani, 2 bangunan telah selesai dipugar.

Nama-nama bangunan yang ada disesuaikan dengan nama yang diberikan oleh masyarakat setempat, seperti Candi Jiwa dan Candi Blandongan atau dengan nama desa tempat bangunan tersebut berada, seperti bangunan Segaran untuk bangunan yang ditemukan diwilayah Segaran, Telagajaya untuk bangunan yang ditemukan di wilayah Telagajaya.

Dekat dari unur-unur tersebut biasanya terdapat cekungan tanah yang dikenal dengan nama kobak (kolam), letaknya agak lebih rendah dibandingkan dengan daerah sekitar. Ukuran cekungan tersebut bervariasi, mulai dari 5 m x 5m hingga 25 m x 25 m. Pada Musim penghujan cekungan tersebut tergenang air. Cekungan-cekungan tersebut ada kaitannya dengan keberadaan bangunan itu sendiri.Gambaran umum beberapa unur (candi) di Situs Batujaya adalah sebagai berikut :

 

Candi Jiwa

Bangunan Segaran 1 atau dikenal juga dengan nama Candi Jiwa terletak di Desa Segaran, Kecamatan Batujaya, berjarak sekitar 200 m kearah barat dari jalan Kaliasin. Badan bangunan ini masif, tidak memiliki ruangan., ber ukuran 19 m x 19 m dan tinggi 4,7 m, dengan orientasi kearah tenggara baratlaut. Pada bagian kakinya terdapat profil bangunan berbentuk pelipit rata (patta) dan pelipit penyangga (uttara) serta pelipit setengah lingkaran (kumuda).

Candi Jiwa pada bagian fondasi bangunan tidak ditemukan tanda adanya bekas pintu. Pada permukaan atas bangunan membentuk pola yang melingkar dengan diameter sekitar 6 m. gejala ini menimbulkan pertanyaan apakah susunan bata melingkar itu merupakan bagian dari stupa atau merupakan bentuk lapik dari sebuah teras. Di bagian permukaan atas, pada keempat sisinya menampakkan permukaan yang bergelombang yang seolah-olah sengaja dibuat. Tidak tampak tanda adanya bagian atau komponen bekas atap bangunan.

Susunan bata bangunan candi terdiri dari dua lapis, lapisan bagian luar dan dalam, sehingga diduga bahwa bangunan dibangun dua kali atau mungkin pernah diperluas atau diperbesar. Sementara itu pada keempat sisinya ditemukan bekas-bekas relung masing-masing dengan pasti apakah dahulunya relung-relung tersebut merupakan tempat menempatkan arca.

Pada saat ini bangunan candi Jiwa telah selesai dipugar sesuai dengan bentuk aslinya saat ditemukan. Sekelilingnya telah diberi pagar besi.  Pada tahun 2008 Candi Jiwa telah menjadi pusat perayaan Bhakti waisak umat Buddha dari Propinsi Jawa Barat, DKI Jakarta dan Banten.

 

Candi Blandongan

Bangunan Segaran V atau penduduk setempat lebih mengenal dengan sebutan Candi Blandongan, terletak di Desa Segaran, Kecamatan Batujaya. keseluruhan candi merupakan salah satu yang terbesar bila dibandingkan dengan unur-unur yang lainnya.

Penelitian terhadap bangunan Candi Blandongan ini pertama kali dilakukan pada tahun 1992 s.d. 1998. Pada saat itu telah berhasil menampakkan denah berbentuk bujursangkar. Tangga naik terletak di sisi timurlaut, tenggara, barat daya dan barat laut bangunan. Disisi kiri kanan tangga naik terdapat pipi tangga. Bangunan bata ini pada umumnya telah mengalami kerusakan, disebabkan factor usia tetapi masih ada bagian yang menjadi rujukan dalam pemugaran. Anak tangga dilapisi dengan batu andesit yang dibentuk dan berukuran sama dengan ukuran batat (8x15x40 cm). Pada tangga naik teratas terdapat ruang. Ruang ini berukuran 2 m x 2,3 m berfungsi sebagai pintu menuju bagian dalam halaman candi. Lantai ruangan ini dilapisi dengan batu kerikil yang dicampur dengn semacam adonan lepa yang berwarna putih dan dicampur dengan bubukan kerang.

Tinggi bangunan candi Blandongan yang masih tersisa sekitar 3,5 m. Denah bagian luar bangunan berukuran 24,2 m x 24,2 m. Denah luar bagunan ini merupakan denah tembok keliling halaman sebuah bangunan candi yang merupakan sutu kesatuan dengan bangunan intinya. Tembok keliling bangunan ini terbuat dari bata dengan ketebalannya sekitar 1,75 m. Bagian luar tembok keliling ini terdapat hiasan-hiasan pelipit datar, pelipit kemuda, pelipit sisi genta dan hiasan kerucut terpotong.

Dinding luar tembok keliling ini mungkin dahulunya dilapisi dengan lepa yang berwarna putih, karena sisa-sisa lepa dapat ditemukan dibeberapa tempat, misalnya pada bagian bawah pelipit kemuda dengan ketebalan sekitar 0,5 cm. Dibagian luar tembok keliling denahnya tidak luas, tetapi terdapat penampil berukuran 1,5 m menjorok ke luar sekitar 40 cm, terletak diantara tangga naik dan sudut bangunan. Sudut luar bangunan juga menjorok ke luar sekitar 50 cm seperti bentuk bastion sebuah benteng.

Pada bagian dalam tembok keliling terdapat halaman yang dibuat dari bata dilapisi dengan kerikil yang diaduk denganadoanan lepa berwarna putih. Karena termakan usia , lapisan ini sudah terkikis dan yang tampak adalah lantai bata. Lapisan kerikil ini masih tersisa dekat dengan sudut selatan halaman. Selain itu terdapat dua buah batu andesit yang permukaannya datar. Tepat di tengah halaman terdapat bangunan inti. Bangunan inti kini hanya menyisakan bagian kaki yang denahnya bujursangkar dengan ukuran 9,2 m x 9,2 m. Sudut-sudutnya menonjol seperti bastion pada sebuah benteng. Permukaan atasnya sudah rusak terdapat semacam saluran air pada masing-masing sudut. 

Sejak pertama kali penelitian sejak 1996 hingga sekarang (saat pemugaran) berhasil ditemukan sejumlah benda-benda suci  yang biasa digunakan pada upacara keagamaan. Benda-benda tersebut ditemukan pada relung di sisi baratdaya bangunan, berupa amulet dari bahan tanah liat yang dibakar, tertera mantera-mantera dan penggambaran tokoh dalam Agama Budha.

Tinggi bangunan candi Blandongan yang masih tersisa sekitar 3,5 m. Denah bagian luar bangunan berukuran 24,2 m x 24,2 m. Denah luar bangunan ini merupakan denah tembok keliling halaman sebuah bangunan candi yang merupakan satu kesatuan dengan bangunan intinya. Tembok keliling bangunan ini terbuat dari bata dengan ketebalan 1,75 m.

Berdasarkan pengamatan pada fisik bangunan, ada usaha untuk menata bangunan yang sudah rusak. Gejala ini tampak dari tekhnik penyusunan bata, ada yang diletakan ada pula yang ditumpuk. Bata yang diletakan menunjukkan keaslian bangunan.

Penanggalan situs berdasarkan temuan stupika tablet di candi ini dapat diketahui berasal dari abad VI-VII M. Bahkan dengan menggunakan carbondating pada tahun 2001 memberikan hasil penanggalan lebih tua lagi yakni antara 150-400 M. Bangunan Candi Blandongan sekarang ini masih dipugar (tahap akhir) oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Serang, Propinsi Banten.

 

Sejarah Situs Batujaya

Sejarah Indonesia kuno telah mencatat bahwa peradaban yang mula-mula muncul di Indonesia adalah peradaban bercorak Agama Hindu, yang berlangsung di dua pusat yaitu di Jawa Barat dan Kalimantan Timur. Dari prasasti-prasasti yang paling awal yang ditemukan di wilayah Jawa Barat, meskipun tidak menyebutkan angka tahun yang lengkap, dapat diketahui bahwa kerajaan yang pertama kali berkembang diwilayah ini adalah kerajaan Tarumanegara yang berdiri sekitar abad ke IV Masehi. Prasasti-prasasti tertua yang menyebutkan keberadaan Prasati Ciaruteun, Prasasti Muara Cianten, Prasasti Kebon Kopi, Prasasti Lebak, Prasasti pasir Jambu (Koleangkak) dan Prasati Pasir Awi.

Prasasti Tugu ditemukan di kampung Batutumpu, Desa tugu kecamatan Tarumajaya Kabupaten Bekasi. Transkipsi prasati Tugu :

•           Pura rajadhirajena guruna, Pinabahuna Khata Khyata, Puri prapya Candrabhagaenavam yayau,  Pravarddharmana Dvavinsad Dvavinsad.

•           Dhvajabhutena Crimata purnavarmmana caitrasukla, Trayodsyam dinais siddhaikadhvin sakali, Ayata sastrasahasrena dhanusam sasatena ca, Dyayinsena nadi ramya gomati nirmaladaka, Vhrahmanairgga sahasrena prayati krtadaksina.

Terjemahan :

(Raja Purnawaran yang bijaksana berhasil membuat dua sungai (kali), yaitu Candrabhaga dan Gomati hingga mengalir ke laut, dengan panjang ± 6.122 tumbak, dimulai tanggal 8 paro-petang bulan caitra (±21 hari). Selamatnya dengan menghadiahkan 100 ekor sapi).

Prasasti-prasasti itu berdasarkan ukuran batunya, dapat diketahui dibuat disitu. Sedangkan dari gaya tulisan dan bahasa prasasti berasal dari kurun waktu abad V Masehi. Tulisan menggunakan huruf Pallawa dengan Bahasa Sansekerta. Adanya penggunaan bahasa Sansekerta dan huruf Pallawa merupakan bukti bahwa pada masa itu telah terjadi kontak budaya antara Tarumanagara dengan kerajaa-kerajaan di India.

Dilokasi Situs batujaya hingga tahun 1993 telah ditemukan candi berjumlah 24 buah. (terakhir pada mei 2010 sudah ditemukan 26 bangunan masih dalam bentuk unur dan dimungkinkan masih banyak lagi). Selain itu di wilayah pantai utara Karawang terdapat pula pusat percandian yaitu di situs Cibuaya, di Desa Cibuaya dengan temuan candi berjumlah 6 buah bangunan. Dapat dibayangkan bahwa pada masa lampau di wilayah (Karawang dan sekitarnya) pernah ada suatu komonitas yang cukup besar jumlahnya dan memiliki kemampuan tekhnologi yang cukup tinggi sehingga mampu menciptakan sejumlah besar bangunan yang terbuat dari material bata, tentunya sebelum membangun, masyarakat setempat harus menguasai tekhnologi pembuatan bata, baik tentang pemilihan bahan baku, proses pembuatan hingga pembakaran pada suhu cukup tinggi. Disamping itu di daerah kecamatan Perwakilan Cibuaya pada tahun 1952-1957 juga pernah ditemukan 2 buah arca Wisnu.

Menurut penelitian secara ikonografinya diduga bahwa kedua arca tersebut berasal dari abad ke VII-VIII. Selanjutnya pada tahun 1975 ditemukan fragmen arca Wisnu yang lain yang diduga juga sejaman dengan kedua arca tersebut. Kehadiran sejumlah besar bangunan yang mempunyai cirri-ciri budaya Budha di situs Batujaya dan Hindu di situs Cibuaya itu sendiri merupakn hal penting dalam sejarah kebudayaan Indonesia, karena dapat dikatakan bahwa telah berkembang masyarakat yang menganut agama Hindu dan Budha pada abad ke V-VIII di wilayah Jawa Barat.

Hubungan antara kawasan percandian Situs Batujaya dengan Kerajaan Tarumanagara didasarkan atas tafsiran salah satunya isi prasasti Tugu tersebut, bahwa Kerajaan Tarumanagara wilayah kekuasaan meliputi (masa pemerintahan Raja Purnawarman) setidak mencakup sebagian besar wilayah Jawa Barat dan Banten. Apabila perkiraan ini benar adanya, maka Situs Batujaya merupakan komplek percandian yang masuk dalam kategori tua di Indonesia (untuk sementara tertua di Indonesia, yang diperkirakan dibangun sejak abad ke 4 Masehi).

Kerajaan Tarumanagara pada akhir abad ke 8 M mulai mengalami kemunduran. Hal ini diperkuat oleh berita Cina bahwa sesudah Tahun 669 M, Kerajaan To-lomo tidak mengirim utusan ke Cina lagi. Dengan mundurnya Kerajaan Tarumanagara dan muncul 2 kerajaan baru yang semula merupakan kerajaan bawahan, yaitu Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh yang berkembang pada masa yang bersamaan (abad VII). Kerajaan Sunda daerah kekuasaannya disebelah Timur Sungai Citarum. Selama pergeseran politik dari lenyapnya Tarumanagara dan munculnya Galuh dan Sunda tidak banyak berubah dalam kehidupan keagamaan. 

Penelitian tahun 2005 yang merupakan bagian integral dalam penelitian arkeologi di situs Batujaya menunjukkan bahwa okupasi lahan di areal situs Batujaya diketahui telah dilakukan sejak periode Tembikar Buni (Buni Pottery Complex) dan terus berlangsung hingga periode Kerajaan Sunda di Jawa Barat. Ekskavasi pada beberapa lokasi terpilih berhasil menemukan sejumlah kerangka manusia beserta bekal kuburnya yang semuanya menunjukkan bahwa mereka adalah para pendukung kompleks Tembikar Buni. Selain itu ditemukan pula fragmen-fragmen tembikar Arikamedu (India) berada pada lapisan yang sama dengan fragmen-fragmen tembikar Buni termasuk sisa-sisa kerangka manusianya.

 

Budaya dan Religi

Situs Batujaya yang berlatar Agama Buddha dengan tinggalannya berupa percandian sebanyak 24 buah dikawasan seluas 5 km ini kini tertata dengan baik. Sehingga banyak menarik perhatian masyarakat dan telah menjadi objek wisata yang sering dikunjungi baik dari kalangan pelajar, mahasiswa, maupun masyarakat yang bertujuan ingin mengetahui situs ini. Disamping itu, situs Batujaya telah banyak dijadikan sebagai objek penelitian di bidang kebudayaan, sejarah dan pariwisata.

Baru-baru ini pada tanggal 1 Juni 2008 umat Buddha dari propinsi Jawa Barat, DKI Jakarta dan Banten menyelenggarakan perayaan Puja Bhakti Waisak ke 2552 BE atau tahun 2008 untuk mengenang kembali perjuangan Bodhisatva Sidharta dalam mencapai kesempurnaan hidup menjadi Buddha di pelataran Candi Jiwa dan Candi Blondongan,di situs Batujaya.

Untuk melengkapi keperluan para wisatawan baik dalam dan luar negeri, Pemerintahan Propinsi Jawa Barat melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Propinsi Jawa Barat telah membangun Site Museum Batujaya secara permanen, terletak ditepi jalan Desa Segaran atau ± 200 meter sebelah selatan Candi Jiwa. Disamping untuk keperluan wisatawan, gedung ini untuk menyimpan dan sekaligus memamerkan temuan-temuan artefaktual. Koleksi yang dipamerkan di museum ini berjumlah ± 165 buah artefak berupa keramik, gerabah, fosil tulang binatang, dan fosil tumbuhan, replica kepala arca manusia dan binatang, manik-manik kaca dan tanah liat (terakota), bernagai bentuk bata. Disamping itu juga dipamerkan buku-buku yang berisi kepurbakalaan Situs Batujaya. (*)

 

PENDIRI TARUMA NAGARA

Prasasti yang ditemukan di Desa Tugu, Kecamatan Tarumajaya Bekasi, ditulis dalam huruf palawi menerangkan, bahwa : Purnawarman telah menggali saluran sungai Gomati dalam waktu 20 hari, namun pada bait pertama menyebutkan, : “dahulu sungai Chandrabaga digali oleh Rajadirajaguru…”. Prasasti ini cukup kuat menjelaskan “Purnawarman” bukan raja pertama. Karena menyebut adanya Rajadirajaguru, pendahulunya. Paling tidak Rajadirajaguru adalah pendahulu Purnawarman.

Tentang Rajadirajaguru diuraikan dalam Naskah Wangsakerta, ia disebut-sebut nama aslinya adalah Sang Maharesi Jayasingawarman, berasal dari Calankayana, India, tiba pada tahun 270 Saka (348 M) di Jawa Barat bersama para pengikutnya, karena negaranya dikalahkan oleh Raja Samudragupta, Magada, India. Kemudian menetap di tepi Sungai Citarum yang termasuk Wilayah Salakanagara. Pada waktu itu Salakanagara diperintah oleh Dewawarman VIII. Kelak Sang Maharesi menjadi menantu Dewawarman VIII.

Karena kemasyhurannya, desa tersebut semakin hari semakin bertambah penduduknya, bukan karena bertambahnya anak, melainkan juga banyak penduduk dari desa lain yang menetap disana. Lama kelamaan desa tersebut menjadi sebuah Negara. Ia beri nama Tarumanagara.

Sang Maharesi Jayasingawarman kemudian menjadi Rajadirajaguru yang memerintah Tarumanagara, bergelar Jayasingawarman Gurudarmapurusa, memerintah Tarumanagara sejak 280 Saka (358 M) dan wafat dalam usia 60 tahun.

Jika menyimak penundukan Salakanagara kedalam kekuasaan atau menjadi dibawah perlindungan kerajaan Tarumanagara, memang agak aneh. Karena sebelumnya Tarumanagara termasuk wilayah kekuasaan Salakanagara. Tapi tentunya suksesi ini dilakukan tanpa pertumpahan darah dan jauh dari tanda-tanda adanya perebutan kekuasaan.

Prosesi penundukan Salakanagara kepada Tarumanagara dimungkin terjadi secara alamiah. Pertama, Rajadirajaguru raja Tarumanagara munggaran adalah menantu Dewawarman VIII, Ia menikah dengan putri Minawati Iswara Tunggal Pertiwi. Kedua, pada episode berikutnya Tarumanagara lebih maju dibandingkan Salakanagara, sebagai akibat banyaknya para pendatang yang menetap di Pataruman. Proses alamiah ini membentuk Tarumanagara menjadi kota yang ramai.

 

Pembagian Strata sosial

Dari pernikahan Sang Rajaresi dengan putri Minawati Iswara Tunggal Pertiwi, mempunyai anak bernama Darmayawarman dan Nagawarman. Kelak sepeninggal Sang Rajadirajaguru, Darmayawarman diangkat menggantikannya, dengan gelar Rajaresi Darmayawarmanguru.

Sang Rajaresi memerintah Tarumanagara selama waktu 13 tahun, dimulai dari tahun 304 Saka (382 M). Ia disebut juga Sang Lumahing Candrabaga, karena ia dipusarakan di Candrabaga. Kemudian ia digantikan putranya yang bernama Purnawarman.

Kedudukan Sang Rajaresi di Tarumanagara bukan hanya sebagai pengendali pemerintahan, ia juga pemimpin semua agama yang ada di Tarumanagara. Sama dengan posisi ayahnya dan kesejarahan terbentuknya Tarumanagara. Posisi ini sangat menentukan dalam mengelola sosial kemasyarakatan, bahkan tidak berlebihan jika digunakan sebagai jendela untuk mengetahui sejarah tentang Sunda Wiwitan.

Dari naskah Wangsakerta ada dua catatan penting yang pernah dilakukan Sang Rajaresi, yakni membagi strata sosial kemasyarakatan dan upaya merubah pola pikir penduduk Tarumanagara untuk tidak lagi menganut agama yang dianut nenek moyangnya.

Pertama, Sang Rajaresi membagi kasta penduduk Tarumanagara menjadi empat kasta, yakni Brahmana, Ksatriya, Waisya, dan Sudra. Hal ini dimungkinkan, sama dengan yang dianut dalam kepercayaan Hindu, mengingat Sang Rajaresi termasuk penganut Hindu yang taat. Namun ia pun membedakan golongan penduduk kedalam tiga golongan, yakni golongan nista, madya, dan utama.

Penggolongan masyarakat menjadi golongan nista, madya dan utama, hemat saya sama dengan cara Belanda menetapkan penggolongan penduduk di Hindia Belanda. Namun di Tarumanagara dimungkinkan untuk memberikan hak dan perlakuan yang istimewa kepada raja Tarumanagara dan keluarganya serta kepada kaum Brahmana, dalam rangka menjalankan tugas keagamaan.

Sedangkan di Hindia Belanda pemerintahan waktu itu mengelompokan masyarakat menjadi golongan Eropa, Timur asing dan Pribumi untuk keperluan pendudukan hukum. Penggolongan demikian didudukan pula dalam bentuk-bentuk aturan (hukum). Seperti memberlakukan Hukum perdata barat untuk Golongan Eropa dan Hukum adat untuk pribumi.

Memang jika hanya aturan penundukan hukum adalah masalah kebebasan menentukan, tetapi parahnya, aturan ini mempengaruhi didalam cara pemberian layanan pemerintah kepada masyarakat. Seperti penggunaan fasilitas umum dan pengelompokan sekolah. Sadar atau tidak sadar dapat dikatagorikan pada tindakan diskriminatif.

Saya kurang mendapat Informasi yang jelas mengenai penerapan dan tingkat upaya menggiring kepatuhan warga Tarumanagara terhadap kebijakan ini. Namun tentunya, kebijakan ini memberikan hak yang istimewa kepada raja dan para brahmana yang menjalan tugas keagamaan.

Kedua, Sang Rajaresi berupaya merubah paradigma cara keberagamaan masyarakat Tarumanagara agar tidak lagi menganut agama nenek moyangnya. Upaya Sang Rajaresi ini sangat penting untuk ditelaah lebih jauh, karena masih banyak para ahli sejarah dan penganut agama lain yang mensinkretiskan masyarakat tatar sunda dan parahyangan padaan dahulu sebagai penganut Hindu dan penyembah rokh nenek moyang.

Secara resmi sentuhan dengan budaya luar (India) sudah mulai nampak ketika Dewawarman I menggantikan Aki Tirem. Namun sampai saat ini tidak diketahui adanya benturan, kecuali dari tutur tinular yang mengisahkan lahirnya penanggalan Saka Sunda.

Didalam Naskah Wangsakerta dijelaskan pula, sentuhan budaya Hindu di Jawa Barat ini menandakan sejarah Jawa Barat memasuki masa kerajaan dengan konsep kerajaan yang kemudian bersumber dari tradisi India. Namun tidak berarti seluruh masyarakat di tatar sunda beralih agama menjadi agama yang dianut raja-rajanya. Karena di jaman pemerintahan Sang Rajaresi ditemukan agama (ageman) yang tidak sama dengan agama yang dianut rajanya. Agama ini oleh Sang Rajaresi disebut sebagai agama yang memuja rokh nenek moyang.

Sampai saat inipun belum ada nama resmi dari agama tersebut, apalagi dengan adanya penetapan yang dituangkan dalam SK Menteri, agama ini digabungkan dalam wadah aliran kepercayaan, yang pembinaannya tidak dilakukan oleh Departemen agama. Jika ditenggarai dari istilah yang saat ini berkembang, maka lebih tepat jika dikatagorikan pada agama Urang Sunda Wiwitan (Wiwitan = awal = asal mula).

Berdasarkan peninggalan arkeologis dan naskah-naskah Sunda buhun, agama sunda wiwitan dapat dikatagorikan monoteisme. Dalam perkembangannya ada juga pengaruh ajaran agama lain. Konon kabar, keaslian agama urang sunda dapat dilihat dari agama yang dianut masyarakat Kanekes (Baduy tangtu) Banten.

Menurut keterangan pu’un di Kanekes, ageman Sunda Wiwitan menganggap adanya Sang Hyang Keresa (Tuhan yang Maha Kuasa), yang disebut juga Batara Tunggal (Yang Maha Tunggal), Batara Jagat (Penguasa Jagat) dan Batara Seda Niskala (Yang maha Ghaib). Dalam paradigma agama Sunda Wiwitan, alam ini dibagi tiga, yakni Buana Nyungcung (Dunia Atas), Buana Tengah (Tempat manusia) dan Buana Larang (neraka).

Naskah Carita Parahyangan menyebutkan ageman Urang Sunda Wiwitan sebagai agama Jatisunda, berasal dari kata wiwitan-mula-mula – awal – pokok. Sedangkan saripati dari ajaran ini belum sedemikian dikenal, mengingat adanya sikap yang tertutup dari para penganutnya saat ini. Hal ini disebabkan adanya pengalaman di masa lalu yang tidak mengenakan bagi para penganut ageman ini. Mungkin ketertutupan ini yang akgirnya menimbulkan spekulasi dari para penganut agama lain untuk menempatkan ageman Jatisunda sebagai yang tidak dikatagorikan agama, bahkan ada yang sinis menyebutnya atheis, sehinga mereka menganggap perlu diajak untuk masuk agamanya.

Upaya serius yang dilakukan Sang Rajaresi (Tarumananagara) dilakukan pula melalaui cara mengajarkan agamanya kepada para penghulu desa yang ada disekitar Tarumanagara. Iapun mendatangkan brahmana-brahmana dari India. Namun upaya ini tidak seluruhnya membuahkan hasil, karena masih banyak penduduk disekitar Tarumanagara yang menganut agama nenek moyangnya. (**)

 

MASA KEEMASAN

Masa keeamasan Tarumanagara disebut-sebut terjadi pada jaman Purnawarman, bergelar Sri Maharaja Purnawarman Sang Iswara Digwijaya Bhima prakarma Suryamaha purusa Jagatpati. Pembangun Tarumanagara. Ia disebut juga narendraddhvaja buthena (panji segala raja), atau sering disebut Maharaja Purnawarman, berkuasa pada tahun 317 Saka (395 M), meningal pada 356 Saka (434 M), dipusarakan di Citarum, sehingga disebut juga Sang Lumah ing Tarumadi.

Kemasyhuran Tarumanagara diabadikan didalam Prasasti jaman Purnawaraman, tentang dibangunnya pelabuhan dan beberapa sungai sebagai sarana per-ekonomian ; pada masa Purnawarman, Tarumanagara menaklukan raja-raja kecil di Jawa Barat yang belum mau tunduk.

Prasasti-prasasti tersebut juga menjelaskan tentang raja tarumanagara ; menggali kali gomati sepanjang 6122 busur ; wilayahnya meliputi Bogor dan Pandeglang, bahkan pada perkembangan berikutnya, Tarumanagara mampu melebarkan sayap kekuasaan nya.

Perluasan daerah Tarumanagara dilakukan melalui jalan perang maupun jalan damai, berakibat wilayah Tarumanagara menjadi jauh lebih luas dibandingkan ketika masih dipimpin Rajadirajaguru dan Raja Resi.

Pada jaman ini pula, masalah hubungan diplomatic ditingkat. Sehingga wajar jika Pustaka Nusantara menyebutkan kekuasaan Purnawarman membawahi 48 raja daerah yang membentang dari Salakanagara atau Rajatapura (di daerah Teluk Lada Pandeglang) sampai ke Purwalingga (Purbolinggo) di Jawa Tengah. Sehingga memang secara tradisional Cipamali (Kali Brebes) dianggap batas kekuasaan raja-raja penguasa Jawa Barat pada masa silam. Hal yang sama dapat ditenggarai dari masa Manarah dan Sanjaya di Galuh.

 

Membangun Wilayah

Kisah Purnawarman secara terperinci diuraikan didalam Pustaka Pararatvan I Bhumi Jawadwipa. Langkah pertama yang dilakukannya, ia memindah kan ibukota kerajaan kesebelah utara ibukota lama, ditepi kali Gomati, dikenal dengan sebutan Jaya singapura. Kota tersebut didirikan Jayasingawarman, kakeknya. Kemudian diberi nama Sundapura (kota Sunda). Iapun mendirikan pelabuhan ditepi pantai pada tahun 398 sampai 399 M. Pelabuhan ini menjadi sangat ramai oleh kapal Tarumanagara.

Raja Tarumanagara pada masa Purnawarman sangat memperhatikan pemeliharaan aliran sungai. Tercatatat beberapa sungai yang diperbaikinya :

•        ….Pada tahun 410 M ia memperbaiki kali Gangga hingga sungai Cisuba, terletak di daerah Cirebon, termasuk wilayah kekuasaan kerajaan Indraprahasta.

•        …Pada tahun 334 Saka (412 M) memperindah alur kali Cupu yang terletak di kerajaan Cupunagara yang mengalir hingga istana raja.

•        …Tahun 335 Saka (413 M) Purnawarman memerintahkan membangun kali Sarasah atau kali Manukrawa (Cimanuk).

•        …Tahun 339 Saka (417 M), memperbaiki alur kali Gomati dan Candrabaga, yang sebelumnya pernah dilakukan oleh Rajadirajaguru, kakeknya.

•        …Tahun 341 Saka (419), memperdalam kali Citarum yang merupakan Sungai terbesar di Wilayah kerajaan Tarumanagara.

Proses dan hasil pembangunan beberapa sungai diatas menghasilkan beberapa implikasi, yakni dapat memperteguh daerah-daerah yang dibangun sebagai daerah kekuasaan Tarumanagara. Kedua, karena sungai pada saat itu sebagai sarana perkenomian yang penting, maka pembangunan tersebut membangkitkan perekonomian pertanian dan perdagangan.

 

Politik dan Keamanan

Sejak pra Aki Tirem wilayah pantai barat pulau jawa tak lekang dari gangguan para perompak, bahkan keberadaan Salakanagara tak lepas pula dari perlunya penduduk Kota Perak mempertahankan diri dari gangguan para perompak. Disinilah sebenarnya Dewawarman I

berkenalan dengan masyarakat Yawadwipa dan dari thema ini pula masyarakat Jawa Barat bersentuhan dengan kebudayaan India.

Konon kabar ketika masa Salakanagara, pemberantas an perompak dianggap sulit, bahkan menurut cerita rakyat, ketujuh putra Dewawarman yang terakhir terbunuh dilaut ketika menghalau para perompak. ParaIndia. perompak yang paling ganas berasal dari laut Cina Selatan, sehingga Sang Dewawarman menganggap perlu untuk membuka jalur diplomatik dengan Cina dan Gangguan para perompak dialami juga ketika jaman Purnawarman, bahkan wilayah laut jawa sebelah utara, barat dan timur telah dikuasai perompak. Semua kapal diganggu atau dirampas, yang terakhir para perompak berhasil menyandera dan membunuh seorang menteri kerajaan Tarumanagara dan para pengikutnya.

Untuk menghancurkan para perompak, Sang Purnawarman langsung memimpin pasukan Tarumanagara. Kontak senjata pertama terjadi diwilayah Ujung Kulon. Para perampok tersebut dibunuh dan dibuang kelaut. Sedemikian marahnya Purnawarman. Sejak peristiwa itu daerah tersebut menjadi aman, karena Purnawarman menghukum mati setiap perompak yang tertangkap.

Untuk meneguhkan hubungan diplomatik, banyak anggota kerajaan yang menikah dengan keluarga raja lain. Purnawarman memiliki permaisuri dari raja bawahannya, disamping istri-istri lainnya dari Sumatra, Bakulapura, Jawa Timur dan beberapa daerah lainnya.

Dari permaisuri ini kemudian lahir sepasang putra dan putri. Putra Purnawarman bernama diberinama Wisnuwarman, kelak menggantikan kedudukannya sebagai raja Tarumanagara. Sedangkan adiknya dinikahi oleh seorang raja di Sumatera. Konon dikemudian hari di Sumatera terdapat raja besar yang bernama Sri Jayanasa, dari kerajaan Sriwijaya (pada saat itu masih dibawah kerajaan Melayu), ia adalah keturunan Purnawarman.

 

Pemberontakan Cakrawarman

Pada saat Purnawarman meninggal Tarumanagara membawahi 46 raja-raja kecil. Sungguh kekuasaan yang besar dan perlu raja yang mampu dan kuat untuk melanjutkan kekuasaan ini. Ia kemudian digantikan oleh putranya, yakni Wisnuwarman, dinobatkan tahun 356 Saka (434 M), Ia memerinta selama 21 tahun.

Wisnuwarman meneruskan kebijakan ayahnya, namun ia jauh lebih bijaksana dibandingkan Purnawarman yang dianggap bertangan besi. Untuk menjaga eksistensi Tarumanagara, penobatan ini diberitahukan keesegenap Negara sahabat dan bawahannya.

Pada awal pemerintahan Wisnuwarman sudah beberapa kali mengalami upaya pembunuhan. Hingga kemudian diketahui, bahwa actor intellectual upaya pembunuhan itu adalah Cakrawarman, pamannya sendiri, adik Purnawarman.

Cakrawarman dimasa Purnawarman menjabat sebagai panglima angkatan perang. Ia sangat setia mendampingi kakaknya dalam upaya melebarkan sayap kekuasaan Tarumanagara. Ia dianggap orang kedua di Tarumanagara. Sepeninggal Purnawarman Ia diharapkan para pengikutnya untuk menggantikan Purnawarman.

Upaya makar sebenarnya tidak akan pernah terjadi jika Cakrawarman tidak berambisi dan yakin terhadap kepemimpinan Wisnuwarman yang mampu melanjutkan kekuasaan Purnawarman. Keraguannya sangat beralasan, mengingat Cakrawarman tidak bertabiat seperti ayahnya, yang tegas dan tanpa kompromi terhadap lawan-lawannya. Namun patut diakui, sejak masa Wisnuwarman keadilan dan kemakmuran Tarumanagara bisa dapat tercapai.

Upaya makar yang dilakukan pula oleh para pejabat istana yang setia kepada Cakrawarman, seperti Sang Dewaraja (wakil panglima angkatan perang), Sang Hastabahu (kepala bayangkara), Kuda Sindu (wakil panglima angkatan laut), serta pejabat angkatan perang dan para pejabat kerajaan-kerajaan bawahan Tarumanagara.

Cakrawarman akhirnya terbunuh dalam suatu pertempuran di sebelah selatan Indraprahasta, tidak jauh dari Sungai Cimanuk. Ia terbunuh oleh pasukan Bhayangkara Indraprahasta, kerajaan dibawah Tarumanagara yang setia kepada Wisnuwarman. Sejak peristiwa tersebut, pasukan bhayangkara Tarumanagara selalu dipercayakan kepada orang-orang Indraprahasta. Kepercayaan demikian berlangsung hingga pada peristiwa Galuh, ketika terjadi pemberontakan Purbasora terhadap Sena. Negara Indrapahasta yang dibangun Resi Sentanu itu dibumi hanguskan oleh Sanjaya.

Peristiwa pengancuran Indraprahasta oleh Sanhaya diabadikan dalam Nusantara III/2, sebagai berikut :

•           Ikang rajya Indraprahasta wus sirna dening Rahyang Sanjaya mapan kasoran yuddha nira. Rajya Indraprahasta kebehan nira kaprajaya sapinasuk kadatwan syuhdrawa pinaka tan hana rajya manih i mandala Carbon Ghirang. Wadyanbala, sang pameget, nanawidhakara janapada, manguri, sang pinadika, meh sakweh ira pejah nirawaceca. Kawalya pirang siki lumayu humot ring wana, giri, iwah, luputa sakeng satrwikang tan hana karunya budhi pinaka satwakura.

[Kerajaan Indraprahasta itu telah musnah oleh Rahyang Sanjaya karena kalah perangnya. Seluruh Kerajaan Indraprahasta ditundukan termasuk keratonya hancur lumat seakan-akan tidak ada lagi kerajaan didaerah Cirebon Girang. Angkatan perang, pembesar kerajaan, seluruh golongan penduduk, penghuni istana, para terkemuka, hampir seluruhnya binasa tanpa sisa. Hanya beberapa orang yang berhasil melarikan diri bersembunyi di hutan, gunung dan sungai yang terluput dari musuh yang tidak mengenal belas kasihan seperti binatang buas].

 

Pemberian Otonomi

Kisah penumpasan pemberontakan Cakrawarman memberikan pelajaran terhadap pihak keraton dan raja-raja dibawah Tarumanagara untuk tidak mengulang peristiwa yang sama. Keteguhan kekuasaan selanjutnya dirubah, dari yang bersifat tangan besi dijaman Purnawarman menjadi perilaku adil dan bijaksana. Ia memperhatikan kesejahteraan rakyat dan mengayomi raja-raja yang ada dibawah kekuasaannya. 

Suri ketauladan Wisnuwarman digambarkan ketika menggagalkan upaya Kup Cakrawarman. Secara bijak ia mengadili orang-orang suruhan Cakrawarman untuk memberitahukan actor intelectualnya. Ia memperlakukan tersangka dengan baik dan secara cerdik dijanjikan tidak akan dihukum mati. Kemudian iapun mendapatkan informasi tentang actor intellectual dimaksud.

Kebijaksanaan yang ia miliki dijadikan suri tauladan oleh generasi penerusnya, Indrawarman dan Candrawarman. Sang Maharaja Indrawarman bergelar Sang Paramartha Sakti Maha Prabawa Lingga Triwikrama Buanatala. Berkuasa selama 60 tahun, sejak 377 sampai dengan 437 Saka (455 – 515 M), sedangkan Indrawarman bergelar Sri Maharaja Candrawarman bergelar Sang Hariwangsa Purusasakti Suralaga Wangenparamarta, berkuasa selama 20 tahun, sejak tahun 437 sampai dengan 457 saka (515 – 535 M).

Pada masa pemerintahannya memang banyak penduduk yang beragama Wisnu, namun tidak pernah terdengar adanya benturan, Situasi keagamaan digambar-kan tidak ada yang saling curiga dan cemburu (tan hanekang irsya). Peristiwa yang dapat dianggap monumental ketika menyerahkan pemerintahan raja-raja daerah kepada trah turunanan masing-masing, atas dasar kesetiaan kepada raja Tarumanagara. Peristiwa ini terjadi pada 454 Saka (532 M).

Suatu hal yang perlu diteladani, pembagian atau penyerahan pengawasan pusat ke daerah masing-masing bukan suatu barang baru di tatar sunda. Hanya saja banyak ragam proses yang perlu dilalui. BIasanya perlu ada desakan, tekanan dan permintaan agar pusat mau memberikan otonomi. Dalam peristiwa Tarumanagara justru sebaliknya, pemberian otonomi kepada raja-raja dibawahnya dilakukan ketika Negara dalam keadaan yang stabil. Peristiwa ini digambarkan didalam naskah Wangsakerta (Jawa dwipa Sarga 1) dan disebut adanya perubahan paradigma raja-raja tarumanagara, dari tangan besi kearah pengendoran kekuasaan.

Tindakan monumental tersebut kemudian diabadikan dalam bentuk prasasti ketika jaman Raja Suryawarman, yang ditemukan didaerah Pasir Muara (Cibungbulang). Isi prasasti tersebut sebagai berikut :

Ini sabdakalanda rakryan juru pangambat

wi kawihaji panyca pasagi marsa

Ndeca barpulihkan haji sundaIni tanda ucapan

rakyan juru pangambat (tahun) 458 pemerintahan

daerah dipulihkan kepada raja sunda.

 

Karakter Kepemimpinan

Dari kearifan masa lalu, saya melihat adanya penerapan leadership yang berbeda antara masa Purnawarman dengan Wisnuwarman. Masa Purnawarman kepemimpinan Tarumanagara dijalan kan secara tangan besi. Ia tanpa ampun menghukum setiap para pelanggar hokum dan penganggu ketertiban. Namun ia pun mampu menjaga hubungan baiknya melalui jalur diplomatik dengan kerajaan lainnya. Bahkan masalah reward dan punishment sangat kentara dijalankan. Hal ini dapat ditenggarai dari setiap selesainya membangun suatu daerah niscaya ia memberikan hadiah kepada warga maupun brahmana.

Konsep lain dari kearifannya dapat pula ditenggarai dalam cara-cara Purnawarman menjaga hubungan baik dengan para Brahmana, bahkan ia membangun tempat tempat suci seperti diwilayah Indraprahasta. Hubungan raja brahmana demikian dapat mensinergikan antara masalah duniawi (raja) dan masalah akhirat (brahma).

Dalam cara-cara mempertahankan kejayaan tersebut di jaman Wisnuwarman dilakukan dengan cara yang benar-benar adil dan berani mendelagasikan pengawasan dan kebijakannya kepada raja-raja bawahan. Iapun memberikan punishment yang seimbang dengan tingkat kesalahan para pelanggarnya. Hal ini terbukti pada cara-cara memberikan hukuman terhadap para pemberontak. Namun tentunya, masalah kepercayaan (dipercayai dan dapat memegang kepercayaan) merupakan factor analisa yang pentinga ia lakukan, sehingga tanpa perangpun Ia mampu mempertahankan kejayaan Tarumanagara.(**)

 

PEMISAHAN GALUH

Didalam buku Rintisan Penelusuran Masa Silam Jawa Barat disebutkan Tarumanagara ketika pada masa Sudawarman sudah mulai nampak anti klimaks dari masa keemasan Tarumanagara. Sudawarman, raja Tarumanagara ke IX, dengan gelar Sri Maharaja Sudawarman Mahapurusa Sang Paramertaresi Hariwangsa. Ia berkuasa sejak tahun 550 sampai dengan 561 saka (628 – 639 M) dan dikenal sebagai raja yang berbudi luhur.

Kemunduran atau gejala meredupnya kejayaan Tarumanagara mulai nampak pada masa Sudarwana, konon dimungkinkan terjadi, Pertama, pemberian otonomi kepada raja-raja bawahan yang diberikan oleh raja-raja sebelumnya tidak disertai hubungan dan pengawasan yang baik. Akibanya para raja bawahan merasa tidak terlindungi dan tidak diawasi.

Sudawarman secara emosional juga tidak menguasai persoalan di Tarumanagara, sejak kecil ia tinggal di Kanci, kawasan Palawa. Sehingga masalah Tarumanagara menjadi asing baginya. Memang ia dapat menyelesaikan tugas pemerintahannya, hal ini disebabkan adanya kesetiaan dari pasukan Bhayangkara yang berasal dari Indraprahasta, telah teruji kesetiannya terhadap raja-raja Tarumanagara, mereka hanya berpikir tentang : bagaimana cara menyelematkan raja. Sehingga setiap pemberontakan dapat diselesaikan dengan baik. 

Kedua, pada jaman Sudawarman telah muncul kerajaan pesaing Tarumanagara yang sedang naik daun. Seperti ditenggara terdapat Kerajaan Galuh, didirikan tahun 612 M, sebelumnya termasuk Wilayah Tarumanagara. Galuh didirikan oleh Wretikandayun, cucu dari Kretawarman, raja Tarumanagara kedelapan. Selain Galuh terdapat kerajaan Kalingga di Jawa Tengah yang sudah mulai ada didalam masa keemasannya. Sedangkan di Sumatera terdapat kerajaan Melayu (termasuk Sriwijaya) dan Pali.

Kemerosotan pamor Tarumanagara tidak akan berakibat parah jika pengganti Sudarwan, yakni Dewamurti dapat bertindak arif. Ia dianggap sebagai raja yang kasar dan tidak mau berbelas kasihan, cenderung menebar aib didalam keraton Tarumanagara. Hingga pada akhirnya ia dibunuh oleh Brajagiri, anak angkat Kretawarman, raja Tarumanagara ke VIII, yang ia permalukan. Barjagiri sendiri tewas dibunuh oleh Sang Nagajaya, menantu Dewamurti.

 

Sundapura

Kemudian Sang Nagajaya mewarisi tahta mertuanya dengan gelar Maharaja Nagajayawarman Darmastya Cupujayasatru. Ia berasal dari Cupunagara, kerajan dibawah Tarumanagara. Nagajaya memerintah Tarumanagara sejak tahun 562 sampai dengan 588 saka (640 – 666 M). Setelah wafat digantikan oleh Linggawarman, dinobatkan sebagai raja ke 12 Tarumanagara pada tahun 588 saka atau 666 M, dengan gelar Maharaja Linggawarman Atmahariwangsa Panunggalan Tirtabumi. Kemudian ia digantikan menantunya, yakni Tarusbawa, dengan gelar Maharaja Tarusbawa Darmawaskita Manungmanggalajaya Sundasembawa, sebelumnya ia raja sundapura. Tarusbawa memerintah sejak tahun 591 sampai dengan 645 saka (669 – 723 M).

Karena melihat pamor Tarumanagara yang terus merosot, Tarusbawa sangat menginginkan untuk mengangkat Tarumanagara kembali kemasa kejayaannya. Ia pun memimpinkan kejayaan Tarumanagara seperti jaman Purnawarman yang bersemayam di Sundapura. Dengan keinginannya tersebut ia merubah nama Kerajaan Tarumanagara menjadi Kerajaan Sunda (Sundapura atau Sundasembawa).

Penggantian nama kerajaan yang ia lakukan tidak dipikirkan dampaknya bagi hubungan Tarumanaga dengan raja-raja bawahannya. Karena dengan digantinya nama Tarumanagara menjadi Kerajaan Sunda berakibat raja-raja daerah merasa tidak lagi memiliki ikatan kesejarahan, apalagi Tarusbawa bukan anak Linggawarman, melainkan seorang menantu dan bekas raja Sundapura.

 

Letak Sundapura

Tentang letak Sundapura jika dikaitkan dengan prasasti di Kampung Muara Cibungbulang dan Prasasti Kebantenan menimbulkan pertanyaan. Karena bisa ditafsirkan, bahwa perpindahan ibukota Tarumanagara dari Sundapura telah terjadi sejak masa Suryawarman. Selain itu, posisi letak prasasti Muara dahulu termasuk berada diwilayah kerajaan Pasir Muara. Sundapura diduga keras berada di daerah Bekasi.

Didalam Pustaka Jawadwipa diterangkan mengenai lokasi Sundapura, : “telas karuhun wus hana ngaran deca Sunda tathapi ri sawaka ning tajyua Taruma. Tekwan ring usana kangken ngaran kitha Sundapura. Iti ngaran purwaprastawa saking Bratanagari”. (dahulu telah ada nama daerah Sunda tetapi menjadi bawahan kerajaan Taruma. Pada masa lalu diberi nama Sundapura. Naman ini berasal dari negeri Bharata).

 

Pemisahan Galuh

Keinginan melepaskan diri dari Sundapura dicetuskan oleh Wretikandayun, penguasa Galuh. Padahal leluhur Wretikandyun sangat setia terhadap Tarumanagara, namun karena ada perubahan nama (mungkin juga adanya pemindahan ibukota Tarumanagara ke wilayah Sundapura) berakibat ia merasa perlu melepaskan diri.

Keinginan melepaskan diri ini bukan seuatu yang muskil untuk untuk dilaksanakan, mengingat Galuh telah merasa cukup kuat untuk melawan Tarumanagara, karena Galuh telah memiliki hubungan yang sangat baik dengan Kalingga, menikahkan Mandiminyak, putranya dengan Cucu Ratu Sima. Keinginan tersebut ia sampaikan melalui surat.

Isi surat dimaksud intinya memenjelaskan, bahwa : Galuh bersama kerajaan lain yang berada di sebelah Timur Citarum tidak lagi tunduk kepada Tarumanagara dan tidak lagi mengakui raja Tarumanagara sebagai ratu. Tetapi hubungan persahabatan tidak perlu terputus, bahkan diharapkan dapat lebih akrab. Wretikandayun memberikan ultimatum pula, bahwa Tarumanagara janganlah menyerang Galuh Pakuan, sebab angkatan perang Galuh tiga kali lipat dari angakatan perang Tarumanagara, dan memilki senjata yang lengkap. Selain itu Galuh juga memiliki bersahabat baik dengan kerajaan-kerajaan di Jawa Tengah dan Jawa Timur yang siap memberikan bantuan kepada Galuh kapan saja.

Permintaan untuk memisahkan diri tersebut tidak akan dikabulkan jika terjadi jaman Purnawarman. Namun berdasarkan perhitungan Tarusbawa, pasukan Tarumanagara yang ada saat ini dibandingkan pasukan Galuh masih seimbang, sehingga sulit untuk memenangkan peperangan. Tarusbawa juga termasuk raja yang visioner dan cinta damai. Ia memilih mengelola setengah kerajaan dengan baik dibandingkan mengelola seluruh kerajaan dalam keadaan lemah.

Pada cerita berikut dikisahkan, : akhirnya Tarusbawa menerima tuntutan Wretikandayun. Dan memecah kerajaan menjadi dua, sesuai dengan permintaan Wretikandayun. Dengan menggunakan Citarum sebagai batas negaranya.

Dalam tahun 670. berakhirlah Tarumanagara sebagai kerajaan yang menguasai seluruh Jawa Barat. Namun muncul dua kerajaan. Disebalah barat Citarum menjadi kerajaan Sunda, sedangkan disebelah timur Citarum berdiri kerajaan Galuh (Parahyangan). Cag heula.(***)

 

Disadur dan disarikan dari :

Buklet Situs Batujaya, Kabupaten Karawang – Propinsi Jawa Barat, Penyusun Dra. Heni Fajria Rif’ati – Drs. Eddy Sunarto, Penyunting/Editor Dra. Wana Sundari. Pemda Jabar – Dinas Kebudayaan dan Parawisata.

 

Di Kutip dari : GUNUNG SEPUH

akibalangantrang.blogspot.com

Disarikan oleh : Agus Setiya Permana

Dari : berbagai sumber

Posted in Legend & Mitos | Tagged: | Leave a Comment »

salaka nagara

Posted by kangadhi7 on May 30, 2010


SALAKA NAGARA

 

MUASAL SALAKA

 

Muasal Aki Tirem

Aki Tirem sangat kuat untuk diperkenalkan sebagai cikal bakal Salakanagara. Dijamannya hanya berpredikat setingkat penghulu, bukan berpangkat raja.Aki Tirem dalam cerita rakyat Pandeglang dikenal juga dengan landihan Aki Luhurmulya, atau Angling Dharma (Hindu) dan naman Wali Jangkung (Islam).

Namun penyebutan tokoh dengan nama tersebut sering terdapat perbedaan, karena masyarakat ada juga yang menyebut nama Prabu Angling Dharma atau Wali Jangkung kepada Dewawarman. Bahkan Angling Dharma juga diakui berada di wilayah lain, bukan Salakanagara.

Kemasygulan masyakarat terhadap tokoh Aki Tirem menyebabkan bertambah gelar-gelar yang ia terima. Nama Angling Dharma misalnya, hemat saya lebih tepat jika dilarapkan kepada Dewawarman, mengingat Prabu Angling Dharma dalam ceritanya digambarkan sebagai Raja, bukan penghulu. Demikian pula sosok Wali Jangkung, mengingat para pendatang dari India lebih memiliki sosok yang lebih tinggi dari para penduduk yang datang sebelumnya atau pribumi.

Menurut Naskah Wangsakerta Aki Tirem adalah putera Ki Srengga, Ki Srengga Putera Nyai Sariti Warawiri, Nyai Sariti Warawiri puteri Sang Aki Bajulpakel. Aki Bajulpakel putera Aki Dungkul dari Swarnabhumi bagian selatan kemudian berdiam di Jawa Barat sebelah Barat, Aki Dungkul putera Ki Pawang Sawer, Ki Pawang Sawer Putera Datuk Pawang Marga, Datuk Pawang Marga putera Ki Bagang yang berdiam di swarnabhumi sebelah utara, Ki Bagang putera Datuk Waling yang berdiam di Pulau Hujung Mendini, Datuk Waling putera Datuk Banda, ia berdiam di dukuh tepi sungai, Datuk Banda putera Nesan, yang berasal dari Langkasungka. Sedangkan Nenek moyangnya berasal dari negeri Yawana sebelah barat.

 Jika dipelajari lebih jauh lagi, naskah Wangsakerta yang ditulis pada tahun 1677 M menceritakan, bahwa pendatang dari Yawana dan Syangka yang termasuk kedalam kelompok manusia purba tengahan (janma purwwamadhya) tiba kira-kira tahun 1.600 sebelum saka. Kaum pendatang yang tiba di Pulau Jawa kira-kira antara 300 sampai dengan 100 tahun sebelum saka. Mereka telah memiliki ilmu yang tinggi (widyanipuna) dan telah melakukan perdagangan serbaneka barang. Para pendatang ini menyebar ke pulau-pulau Nusantara.

Wangaskerta menjelaskan pula, : oleh para mahakawi yang terlibat dalam penyusunan naskah Wangsakerta disebut jaman besi (wesiyuga), karena mereka dianggap telah mampu membuat berbagai macam barang dan senjata dari besi, yang lebih penting, mereka telah mengenal penggunaan emas dan perak.

Sebenarnya bukan hanya berdagang, tetapi merekapun merasuk kedesa-desa, seolah-olah semuanya milik mereka. Pribumi yang tidak mau menurut atau menghadangnya segera dikalahkan. Merekapun harus menjadi orang bawahan yang harus tunduk pada keinginan mereka. Antara tahun 100 sebelum saka sampai awal tahun Saka masih banyak kaum pendatang yang tiba dinusantara dari negeri-negeri sebelah timu India yang juga telah memiliki pengetahuan yang tinggi.

Dari kisah ini dapat diambil kesimpulan, bahwa pengambilan nama Salakanagara, atau Kotaperak, atau argyre memang wajar dan sangat terkait dengan jaman tersebut, yang kisahkan oleh para Mahakawi sebagai jaman besi (wesiyuga), jaman manusia di Nusantara telah mengenal penggunaan besi dan perak sebagai perkakas. Sedangkan kaum pendatang, seperti Dewawarman dari India datang ketempat tersebut dimungkinkan untuk berdagang dan mencari perak.

 

Raja-raja Salakanagara

Raja raja Salakanagara menggunakan nama Dewawarman sesuai nama raja pertamanya, yaitu Dewawarman I., menurut sejarah merupakan salah seorang Pangeran dari Palawi, India selatan, sebelum menjadi menantu aki ia adalah duta negaranya di Pulau Jawa. Dewawarman.

Pertemuan klan Aki Tirem dengan Dewawarman semula berazaskan pada kepentingan saling melindungi. Aki Tirem ketika itu sebagai penghulu diwilayah Salakanagara, sedangkan Dewawarman duta dari Palawa. Konon kabar menurut Naskah Wangsakerta, Dewawarman selalu melindungi penduduk Salakanagara dari rongrongan para perompak.

Kerjasama yang paling mengesankan bagi kedua belah pihak ketika Pasukan Dewawarman dengan Aki Tirem menregap rombongan perompak yang turun ke Salakanagara. Serta merta mereka dapat dilumpuhkan. Sejak saat itu pasukan Dewawarman sering turun ke Salakanagara, hingga suatu saat Dewawarman terpikat oleh putri Aki Tirem, kemudian menikah. Demikian juga seluruh pasukan dan kerluarganya, merekapun mengikuti jejak Dewawarman menikai putri-putri Salakanagara.

 Ketika Aki Tirem sakit ia sudah berpesan agar jika suatu saat meninggal maka Dewawarman yang diharapkan menggantikan kedudukannya. Hingga tibalah Aki Tirem Wafat. Ada juga yang mengisahkan Akti Tirem ketika digantikan Dewawarman belum wafat, namun ia sengaja mengundurkan diri dari keramaian dunia dan pergi bertapa. Dewawarman kemudian dinobatkan menjadi raja pertama Salakanagara, dengan gelar Prabhu Dharmalokapala Dewawarman Haji Raksagapurasagara, Sedangkan Dewi Pohaci diberi gelar Dwi Dwani Rahayu.

Penyerahan kekuasaan tersebut terjadi pada tahun 122 M. Dan pada saat itu diberlakukan pula penanggalan Sunda yang dikenal dengan sebutan Saka Sunda.Dewawarman I berkuasa selama waktu 38 tahun sejak dinobatkan pada tahun 52 Saka atau 130 M. selama masa pemerintahan ia pun mengutus adiknya yang merangkap Senapati, bernama Bahadur Harigana Jayasakti untuk menjadi raja daerah di Mandala Ujung Kulon. Sedangkan adiknya yang lain, bernama Sweta Liman Sakti dijadikan raja daerah Tanjung Kidul dengan ibukotanya Agrabhintapura.

Nama Agrabhinta dimungkinkan terkait dengan nama daerah berada didaerah Cianjur selatan, sekarang menjadi daerah perkebunan Agrabhinta, hanya karena sulit diakses, daerah tersebut seperti menjadi daerah tertinggal.

Klan Dewawarman menjadi raja Salakanagara secara turun menurun. Seperti Dewawarman II anak Dewawarman dari perkawinan dengan Pohaci Larasati. Dalam catatan sejarah, raja-raja Salakanagara yang menggunakan nawa Dewawarman sampai pada Dewawarman IX. Hanya saja setelah Dewawarman VIII, atau pada tahun 362 pusat pemerintahan dari Rajatapura dialihkan keTarumanagara. Sedangkan Salakanagara pada akhirnya menjadi raja bawahan Tarumanagara.

 

Wilayah Kekuasaan

Wilayah kekuasaan Salakanagara meliputi Banten, Jawa Barat bagian barat dan pulau-pulau didalam Wilayahnya. Sepanjang pantai Salakanagara dijaga Pasukan Dewawarman, termasuk pesisir Jawa Barat, Nusa Mandala atau Puilau Sangiang, Nusa Api dan pesisir Sumatra Bagian selatan. Bertujuan untuk menjaga keamanan dari gangguan perampok. Sebagai imbalannya, para pelaut tersebut diwajibkan membayar upeti.

Selama kejayaan Salakanagara memang gangguan yang sangat serius datangnya dari para perompak. Hingga pernah kedatangan perompak Cina. Namun berkat keuletan Dewawarman dengan membuka hubungan diplomatik dengan Cina dan India pada akhirnya Salakanagara dapat hidup damai dan sentausa.

 

Peninggalan Salakanagara

Selain adanya perkiraan jejak peninggalan Salakanagara, seperti batu menhir,. Dolmen dan batu magnet yang terletak di daerah Banten, berdasarkan penelitian juga ditemukan bahwa penanggalan sunda atau Kala Sunda dinyatakan ada sejak jaman Aki Tirem. Penanggalan tersebut kemudian dinamakan Caka Sunda. Perhitungan Kala Saka mendasarkan pada Matahari 365 hari) dan Bulan (354 hari). Masing-masing tahun mengenal taun pendek dan panjang.

 

Cikal Bakal Tarumanagara

Konon kabar pada tahun 270 Saka atau 348 Jayasinghawarman, seorang Maharesi dari Salankayana India, ia mengungsi karena daerahnya ditaklukkan Maharaja Samudragupta dari Kerajaan Maurya. Daerah pengungsuiannya terletak di Wilayah dekat Citarum. Daerah tersebut masih termasuk wilayah kekuasaan Dewawarman VIII. Maharesi tersebut kemudian menjadi menantu Dewawarman VIII.

Setelah berselang lama, banyak penduduk berdatangan dan menetap disana. Lama kelamaan daerah tersebut menjadi Nagara (kota). Kemudian Jayasingawarman pun memperbesar kotanya hingga menjadi sebuah kerajaan yang diberi nama Tarumanagara.

Jayasingawarman selain menjadikan wilayah Salakanagara menjadi sebuah kerajaan iapun kemudian menjadi rajadirajaguru yang memerintah kerajaan dan bergelar Jayasingawarman Gurudarmapurusa.

 

WILAYAH SALAKA

Wilayah kekuasaan Salakanagara meliputi Banten, Jawa Barat bagian barat dan pulau-pulau didalam Wilayahnya. Sepanjang pantai Salakanagara dijaga Pasukan Dewawarman, termasuk pesisir Jawa Barat, Nusa Mandala atau Pulau Sangiang, Nusa Api dan pesisir Sumatra Bagian selatan. Bertujuan untuk menjaga keamanan dari gangguan perompak. Sebagai imbalannya, para pelaut tersebut diwajibkan membayar upeti.

Selama kejayaan Salakanagara memang gangguan yang sangat serius datangnya dari para perompak. Konon kabar pernah kedatangan perompak Cina, namun berkat keuletan Dewawarman dengan cara membuka hubungan diplomatik dengan Cina dan India, pada akhirnya Salakanagara dapat hidup damai dan sentausa, jauh dari gangguan perompak.

 

Peninggalan Salakanagara

Selain adanya perkiraan jejak peninggalan Salakanagara, seperti batu menhir, Dolmen dan batu magnet yang terletak di daerah Banten, berdasarkan penelitian juga ditemukan penanggalan sunda atau Kala Sunda, yang dinyatakan telah ada sejak jaman Aki Tirem. Penanggalan tersebut kemudian dinamakan Caka Sunda. Perhitungan Kala Saka mendasarkan pada Matahari 365 hari) dan Bulan (354 hari). Masing-masing tahun mengenal taun pendek dan panjang.

 

Kota Taruma

Didalam Prasasti yang ditemukan di Desa Tugu, Kecamatan Tarumajaya Bekasi, ditulis dalam huruf palawi menerangkan, bahwa : Purnawarman telah menggali saluran sungai Gomati dalam waktu 20 hari, namun pada bait pertama menyebutkan, : “dahulu sungai Chandrabaga digali oleh Rajadirajaguru…”.

Prasasti ini cukup kuat menjelaskan, bahwa Purnawarman bukan raja pertama di Tarunagara, karena prasati tersebut menjelaskan adanya Rajadirajaguru, pendahulunya. Paling tidak Rajadirajaguru adalah pendahulu Purnawarman.

Tentang Rajadirajaguru diuraikan dalam Naskah Wangsakerta, bernama asli Sang Maharesi Jayasingawarman, berasal dari Calankayana, India, tiba didaerah ini bersama para pengikutnya pada tahun 270 Saka (348 M). Pada masa itu negaranya dikalahkan oleh Raja Samudragupta, Magada, India. Kemudian menetap di tepi Sungai Citarum yang termasuk Wilayah Salakanagara.

Karena kemasyhuran desa Taruma, maka semakin hari semakin bertambah penduduknya, bukan karena bertambahnya anak, melainkan juga banyak penduduk dari desa lain yang menetap disana. Lama kelamaan desa tersebut menjadi sebuah negara (kota) yang diberi nama Tarumanagara.

Sang Maharesi Jayasingawarman kemudian menjadi Rajadirajaguru yang memerintah Tarumanagara, bergelar Jayasingawarman Gurudarmapurusa. Ia memerintah Tarumanagara sejak 280 Saka (358 M) dan wafat dalam usia 60 tahun.

Jika menyimak penundukan Salakanagara kedalam kekuasaan kerajaan Tarumanagara, memang agak aneh. Karena sebelumnya Tarumanagara termasuk wilayah kekuasaan Salakanagara. Tapi tentunya suksesi ini dilakukan tanpa pertumpahan darah dan jauh dari tanda-tanda adanya perebutan kekuasaan.

Prosesi penundukan Salakanagara kepada Tarumanagara dimungkin terjadi secara alamiah. Pertama, Rajadirajaguru raja Tarumanagara munggaran adalah menantu Dewawarman VIII, Ia menikah dengan putri Minawati Iswara Tunggal Pertiwi. Kedua, pada episode berikutnya Tarumanagara lebih maju dibandingkan Salakanagara, sebagai akibat banyaknya para pendatang yang menetap di Pataruman. Proses alamiah ini membentuk Tarumanagara menjadi kota yang ramai.

 

Di Kutip dari : GUNUNG SEPUH

akibalangantrang.blogspot.com

Disarikan oleh : Agus Setiya Permana

Dari : berbagai sumber

Posted in Legend & Mitos | Tagged: | Leave a Comment »

syeikh ahmad al-rifa’i

Posted by kangadhi7 on May 8, 2010


SYEIKH AHMAD AL-RIFA’I

 

Oleh : YAHYA

 

Ketinggian dan Kehalusan Budi Pekerti Aulia’illah Sayyidi Ahmad Al Rifa’i dilahirkan pada tahun 500 Hijriah. Pertama kali beliau belajar Ilmu Fiqih Mazhab Syafi’i dengan mempelajari Kitab Al-Tanbih, akan tetapi beliau lebih cenderung kepada ilmu tasawuf. Beliau terkenal sebagi rujukan pimpinan ilmu thoriqoh, karena memiliki ilmu haqiqat yang tinggi dan sebagai wali qutub yang agung dan masyhur di zaman sesudah syeikh Abdul Qodir al Jailany ra. Beliau sangat terkenal dan memiliki pengikut yang banyak.

Para pengikutnya terkenal dengan sebutan “Al-Thoifah Al-Rifa’iyah”. Dalam kitab Tobaqot diterangkan, pada saat mengajar syeikh Ahmad Rifa’i tidak mau sambil berdiri.Orang-orang yang tinggalnya jauh bisa mendengar apa yang disampaikan beliau sama seperti orang yang dekat dengan tempat pengajian. Sehingga penduduk disekitar desa Ummi Abidah banyak yang keluar dari rumahnya untuk mendengarkan apa yang disampaikan oleh syeikh Ahmad Rifa’i ini.

Bahkan orang yang tadinya tuli jika mau hadir mengaji oleh Allah, dibukakan pendengarannya sehingga bisa mendengar apa yang disabdakan oleh syeikh Ahmad Rifa’i. Para guru thoriqoh banyak yang hadir untuk mendengarkan sabda-sabda dari Syeikh Ahmad Al Rifa’i dengan menggelar sajadah sebagai tempat duduk.

Setelah syeikh Ahmad selesai memberi pelajaran, mereka pulang sambil menempelkan sajadah kedadanya masing-masing, sehingga sesampai di rumah mereka bisa menjelaskan kepada para muridnya. Banyak hal aneh yang sering terjadi pada diri murid Syeikh Ahmad Rifa’i seperti, mereka dapat masuk ke dalam api yang sedang menyala. Mereka juga dapat menjinakkan binatang buas, seperti harimau di mana hewan ini akan menuruti apa yang mereka katakan. Sehingga harimau ini dapat dijadikan kendaraan oleh mereka.

Banyak lagi keajaiban-keajaiban lain yang ada pada mereka. Ketika pertama kali Sayyidi Ahmad bertemu dengan seorang Wali bernama Syeikh Abdul Malik Al-Khonubi. Syeikh ini memberinya pelajaran berupa sindiran tetapi sangat berkesan buat Syeikh Ahmad Al Rifa’i. Sindiran itu berbunyi ; Orang yang berpaling dia tiada sampai. Orang yang ragu-ragu tidak dapat kemenangan. Barangsiapa tidak mengetahui waktunya kurang, maka semua waktunya telah kurang.

Setahun lamanya Sayyidi Ahmad Al-Rifa’i mengulang-ulang perkataan ini. Setelah setahun dia datang kembali menemui Syeikh Abdul Malik Al-Khonubi. Sayyidi Ahmad Al-Rifa’i minta wasiat lagi, maka berkata Syeikh Abdul Malik; Sangatlah keji kejahilan bagi orang-orang yang mempunyai Akal; Sangatlah keji penyakit pada sisi semua doktor; Sangatlah keji sekalian kekasih yang meninggalkan Wusul (sampai kepada Allah). Sayyidi Ahmad Al-Rifa’i mengulang-ulang pula perkatan itu selama setahun dan beliau banyak mendapat manfaat dari perkataan itu karena perkataan itu diresapi, dihayati dan diamalkan.

Salah satu dari sekian budi pekerti Syeikh Ahmad Al Rifa’i yang mulia ialah beliau seringkali membawa serta membersihkan pakaian orang-orang yang berpenyakit kusta dan beberapa penyakit yang sangat menjijikkan menurut pandangan umum. Dipeliharanya orang-orang yang sedang sakit itu; diantarkan makanan untuk mereka dan beliau juga turut makan bersama-sama dengan orang-orang sakit itu tanpa ada rasa jijik. Kalau Syeikh Ahmad Al Rifa’i datang dari perjalanan, apabila telah dekat dengan kampung halamannya maka dipungutnya kayu bakar, setelah itu dibagi-bagikan kepada orang-orang sakit, orang buta, orang-orang jompo atau orang tua yang membutuhkan pertolongan.

Syeikh Ahmad berkata : “Mendatangi orang-orang yang semacam itu bagi kita wajib bukan hanya sunah. Bahkan Nabi bersabda : “Barang siapa yang memuliakan orang tua yang Islam, maka Allah akan meluluhkan orang untuk memuliakannya apabila ia sudah tua”. Beliau setiap dijalan selalu menanti datangnya orang buta, kalau ada orang buta datang lalu dipegang dan dituntun sampai tujuan.

Beliau mempunyai kasih sayang bukan hanya kepada manusia saja, tetapi juga kepada binatang, sehingga kalau bertemu dengan siapa saja selalu mendahului memberi salam, bahkan juga kepada hewan. Diriwayatkan bahwa ada seekor anjing yang menderita sakit kusta. Kemana saja anjing itu pergi, ia akan diusir. Anjing tersebut diambil oleh Sayyidi Ahmad Al-Rifa’i lalu dimandikan dengan air panas, diberikan obat dan makan secukupnya, sampai anjing tersebut sembuh dari penyakit yang dideritanya.

Kalau ada orang yang bertanya tentang apa yang diperbuatnya beliau berkata : “Aku selalu membiasakan pekerjaan yang baik. Syeikh Ahmad ini kalau dihinggapi nyamuk beliau membiarkannya dan tidak boleh ada orang lain yang mengusirnya.

Beliau berkata, “Biarkanlah dia meminum darah yang dibagikan Allah kepadanya. Pada suatu hari ada seekor kucing sedang nyenyak tidur di atas lengan bajunya. Waktu sholat telah masuk, lalu digunting lengan bajunya itu karena tidak sampai hati mengejutkan kucing yang sedang lelap tidur itu. Seusai sholat lengan bajunya diambil dan dijait lagi. Budi pekerti mulia yang lain ialah beliau tidak mau membalas kejahatan dengan kejahatan. Apabila beliau dimaki oleh orang, beliau terus menundukkan kepalanya mencium bumi dan menangis serta meminta maaf kepada yang memakinya.

Beliau pernah dikirimi surat oleh Syeikh Ibrohim al Basity yag isi suratnya merendahkan martabat beliau, lalu beliau berkata kepada orang yang menyampaikan surat itu : “Coba bacalah surat itu, dan ternyata isinya adalah : “Hai orang yang buta sebelah, hai dajjal, hai orang yang bikin bid’ah dan berbagai macam perkataan yang menyakitkan hati. Setelah selesai membaca surat kemudian surat itu diterima oleh syeikh Ahmad, dibaca kemudian berkata : “Ini semua betul, smoga Allah membalas kebaikan kepadanya.

Beliau terus berkata dengan syiir, “Maka tidaklah aku peduli kepada orang yang meragukan aku yang penting menurut Allah, aku bukanlah orang yang meragukan. Kemudian syeikh berkata : “Tulislah sekarang jawaban balasanku yang berbunyi “Dari orang rendahan kepada tuanku syeikh Ibrohim. Mengenai tulisanmu seperti yang tertera dalam surat, memang Allah telah menjadikan aku menurut apa yang dikehendaki-Nya dan aku mengharapkanmu hendaknya sudi bersedekah kepadaku dengan mendo’akan dan memaafkanku.

Setelah surat balasan ini sampai pada syeikh Ibrohim dan dibaca isinya, kemudian syeikh Ibrohim pergi entah kemana tidak ada orang yang tahu. Jika ada orang minta dituliskan azimat kepadanya, maka Syeikh Ahmad mengambil kertas lalu ditulis tanpa pena. Sewaktu beliau pergi Haji, ketika berziarah ke Maqam Nabi Muhammad Saw, maka nampak tangan dari dalam kubur Nabi bersalaman dengan beliau dan beliau pun terus mencium tangan Nabi SAW yang mulia itu.

Kejadian itu dapat disaksikan oleh orang ramai yang juga berziarah ke Maqam Nabi Saw tersebut. Salah seorang muridnya berkata ; “Ya Sayyidi! Tuan Guru adalah Qutub”. Jawabnya; “Sucikan olehmu syak mu daripada Qutubiyah”. Kata murid: “Tuan Guru adalah Ghatus!”. Jawabnya: “Sucikan syakmu daripada Ghautsiyah”. Al-Imam Sya’roni mengatakan bahwa yang demikian itu adalah dalil bahwa Sayyidi Ahmad Al-Rifa’i telah melampaui “Maqaamat” dan “Athwar” karena Qutub dan Ghauts itu adalah Maqam yang maklum (diketahui umum).

Sebelum wafat beliau telah menceritakan kapan waktunya akan meninggal dan sifat-sifat hal ihwalnya beliau. Beliau akan menjalani sakit yang sangat parah untuk menangung bilahinya para makhluk. Sabdanya, “Aku telah di janji oleh Allah, agar nyawaku tidak melewati semua dagingku (daging harus musnah terlebih dahulu). Ketika Sayyidi Ahmad Al-Rifa’i sakit yang mengakibatkan kewafatannya, beliau berkata, “Sisa umurku akan kugunakan untuk menanggung bilahi agungnya para makhluk.

Kemudian beliau menggosok-ngosokkan wajah dan uban rambut beliau dengan debu sambil menangis dan beristighfar . Yang dideritai oleh Sayyidi Ahmad Al-Rifa’i ialah sakit “Muntah Berak”. Setiap hari tak terhitung banyaknya kotoran yang keluar dari dalam perutnya. Sakit itu dialaminya selama sebulan. Hingga ada yang tanya, “Kok, bisa sampai begitu banyaknya yang keluar, dari mana yaa kanjeng syeikh. Padahal sudah dua puluh hari tuan tidak makan dan minum. Beliau menjawab, “Karena ini semua dagingku telah habis, tinggal otakku, dan pada hari ini nanti juga akan keluar dan besok aku akan menghadap Sang Maha Kuasa.

Setelah itu ketika wafatnya, keluarlah benda yang putih kira-kira dua tiga kali terus berhenti dan tidak ada lagi yang keluar dari perutnya. Demikian mulia dan besarnya pengorbanan Aulia Allah ini sehingga sanggup menderita sakit menanggung bala yang sepatutnya tersebar ke atas manusia lain. Wafatlah Wali Allah yang berbudi pekerti yang halus lagi mulia ini pada hari Kamis waktu duhur 12 Jumadil Awal tahun 570 Hijrah. Riwayat yang lain mengatakan tahun 578 Hijrah.

 

Posted by Yahya

DiPostkan Oleh : Bintang Sufi Blogspot

Posted in Spirit Sufisme | Leave a Comment »

syeikh ahmad badawiy ra.

Posted by kangadhi7 on May 8, 2010


SYEIKH AHMAD BADAWIY RA.

 

Oleh : YAHYA

 

WALI QUTB AL GHOUTS

Setiap hari, dari pagi hingga sore, ia menatap matahari, sehingga kornea matanya merah membara. Apa yang dilihatnya bisa terbakar, khawatir terjadinya hal itu, saat berjalan ia lebih sering menatap langit, bagaikan orang yang sombong. Sejak masa kanak kanak, ia suka berkhalwat dan riyadhoh, pernah empat puluh hari lebih perutnya tak terisi makanan dan minuman.

Ia lebih memilih diam dan berbicara dengan bahasa isyarat, bila ingin berkomunikasi dengan seseorang. Ia tak sedetikpun lepas dari kalimat toyyibah, berdzikir dan bersholawat. Dalam perjalanan riyadhohnya, ia pernah tinggal di loteng negara Thondata selama 12 tahun, dan selama 8 tahun ia berada diatas atap, riadhoh siang dan malam. Ia hidup pada tahun 596-675 H dan wafat di Mesir, makamnya di kota Tonto, setiap waktu tak pernah sepi dari peziarah.

Pada usia dini ia telah hafal Al-Qur’an, untuk memperdalam ilmu agama ia berguru kepada Syeikh Abdul Qadir al-Jailani dan syeikh Ahmad Rifai. Ia adalah Waliullah Qutbol Gaust, Assayyid, Assyarif Ahmad al Badawi. Suatu hari, ketika sang Murid telah sampai ketingkatannya, Syeikh Abdul Qodir Jaelani, menawarkan kepadanya ; ”Manakah yang kau inginkan ya Ahmad Badawi, kunci Masriq atau Magrib, akan kuberikan untukmu”, hal yang sama juga diucapkan oleh gurunya Sayyid Ahmad Rifai, dengan lembut, dan menjaga tatakrama murid kepada gurunya, ia menjawab; ”Aku tak mengambil kunci kecuali dari Al Fattah (Allah )”.

Suatu hari datang kepadanya, seorang janda mohon pertolongan, anak lelakinya ditahan di Perancis, dan sang ibu ingin agar anak itu kembali dalam keadaan selamat. Oleh Sayyidi Ahmad Al Badawi, janda itu disuruhnya untuk pulang, dan berkata sayidi : “Insya Allah anak ibu sudah berada dirumah”. Bergegas sang ibu menuju rumahnya, dan betapa bahagia, bercampur haru, dan penuh keheranan, ia dapati anaknya telah berada di rumah dalam keadaan terbelenggu. Sayyidi al badawi banyak menolong orang yang ditahan secara Dholim oleh penguasa Prancis saat itu, dan semua pulang ke rumahnya dalam keadaan tangannya tetap terbelenggu.

Pernah suatu ketika Syaikh Ibnul labban mengumpat Sayyidi Ahmad Badawi, seketika itu juga hafalan Al-Qur’an dan iman Syaikh Ibnul labban menjadi hilang. Ia bingung dan berusaha dengan beristighosah dan meminta bantuan do’a, orang orang terkemuka di zaman itu (agar ilmu dan imannya kembali lagi), tetapi tidak satupun dari yang dimintainya doa, berani mencampuri urusannya, karena terkait dengan Sayyidi Ahmad Badawi. Padahal diriwayatkan, saat itu Sayyidi Al Badawi telah wafat.

Orang terkemuka yang dimintainya doa, hanya berani memberi saran kepada Syaikh Ibnul labban, agar dia menghadap Syeikh Yaqut al-‘Arsyiy, waliullah terkemuka pada saat itu, dan kholifah sayyidi abil hasan Assadzili. Ibnu labban segera menemui Sjech Yaqut dan minta pertolongannya, dalam urusannya dengan sayyidi Ahmad Al badawi.

Setelah dimintai pertolongan oleh Syaikh Ibnul labban, Syeikh Yaqut Arsyiy berangkat menuju ke makam Sayyidi al-Badawi dan berkata : “ Wahai guru, hendaklah tuan memberi ma’af kepada orang ini!”. Dari dalam makamnya, terdengar jawaban “Apakah kamu berkehendak untuk mengembalikan tandanya orang miskin itu ? ya…sudah, tapi dengan syarat ia mau bertaubat”. Syeikh Ibbnul Labbanpun akhirnya bertaubat, dan tidak lama kemudian kembalilah ilmu dan imannya seperti sedia kala dan ia juga mengakui kewalian Syeikh Yaqut, karena peristiwa tersebut.

Ia kemudian dinikahkan dengan putrinya Syeikh Yaqut. (Di ambil dari kitab al-Jaami’). Syeikh Muhammad asy-Syanawi menceritakan, bahwa pada waktu itu ada orang yang tidak mau menghadiri dan bahkan mengingkari peringatan maulidnya Syeikh Ahmad Badawi, maka seketika hilanglah iman orang itu dan menjadi merasa tidak senang terhadap agama Islam. Orang itu kemudian berziarah ke makamnya Sayyid Badawi untuk minta tolong dan memohon maaf atas kesalahannya. Kemudian terdengarlah suara sayyidi Badawi dari dalam kubur : “iya, saya ma’afkan, tapi jangan berbuat lagi. Na’am (iya) jawab orang itu, spontan imannya kembali lagi.

Beliau lalu meneruskan ucapannya : “Apa sebabnya kamu mengingkari kami semua”. Dijawabnya : “Karena di dalam acara itu banyak orang laki-laki dan perempuan bercampur baur menjadi satu” (tanpa ada garis pembatas). Sayyidi Badawi lalu mengatakan : “Di tempat thowaf sana, dimana banyak orang yang menunaikan ibadah haji disekitar Ka’bah, mereka juga bercampur laki-laki dan perempuan, kenapa tidak ada yang melarang”.

Demi mulianya Tuhanku, orang-orang yang ada untuk menghadiri acara maulidku ini tidaklah ada yang menjalankan dosa kecuali pasti mau bertaubat dan akan bagus taubatnya. Hewan-hewan di hutan dan ikan-ikan di laut, semua itu dapat aku pelihara dan kulindungi diantara satu dengan lainnya sehingga menjadi aman dengan idzin Allah.

Lalu, apakah kiranya Allah Ta’ala, tidak akan memberi aku kekuatan untuk mampu menjaga dan memelihara keamanannya orang-orang yang menghadiri acara maulidku itu ?” Suatu ketika Syeikh Ibnu Daqiqil berkumpul dengan Sayyidi Badawi, dan ia bertanya kepada beliau : “Mengapa engkau tidak pernah sholat, yang demikian itu bukanlah perjalanannya para shalihin“. Lalu beliau menjawab : “Diam kamu! Kalau tidak mau diam aku hamburkan daqiqmu (tepung)”.

Dan di tendanglah Syeikh Daqiqil oleh beliau hingga berada disuatu pulau yang luas dalam kondisi tidak sadarkan diri.Setelah sadar, iapun termangu karena merasa asing dengan pulau tersebut. Dalam kebingungannya, datanglah seorang lelaki menghampirinya dan memberi nasehat agar jangan mengganggu orang type al-Badawi, dan sekarang kamu berjalanlah menuju qubah yang terlihat itu, nanti jika sudah tiba di sana kau berhentilah di depan pintu hingga menunggu waktu ‘ashar dan ikutlah shalat berjamaah dibelakangnya imam tersebut, sebab nanti Ahmad Badawi akan ikut di dalamnya.

Setelah bertemu dia ucapkanlah salam, peganglah lengan bajunya dan mohonlah ampun atas ucapanmu tadi. Ia menuruti kata-kata orang itu yang tidak lain adalah Nabiyullah Khidir a.s. Setelah semua nasehatnya dilaksanakan, betapa terkejutnya ia karena yang menjadi imam sholat waktu itu adalah Sayyidi Badawi. Setelah selesai sholat ia langsung menghampiri dan menciumi tangan dan menarik lengan Sayyidi al-Badawi, sambil berkata seperti yang diamanatkan orang tadi.

Dan berkatalah Sayyidi Badawi sambil menendang Syeikh Daqiqil,” Pergilah sana murid-muridmu sudah menantimu dan jangan kau ulangi lagi!. Seketika itu juga ia sudah sampai di rumahnya dan murid-muridnya telah menunggu kedatangan Syeikh Daqiqil. Dijelaskan bahwa yang menjadi makmum sholat berjamaah dengan Sayyidi Badawi pada kejadian itu adalah para wali.

Syekh Imam al Munawi berkata : “Ada seorang Syeikh yang setiap akan bepergian selalu berziarah di makamnya Syeikh Ahmad al Badawi untuk minta ijin, lalu terdengar suara dari dalam kubur dengan jelas :”Ya pergilah dengan tawakkal, Insya Allah niatmu berhasil, kejadian tersebut didengar juga oleh Syeikh abdul wahab Assya’roni, padahal saat itu Syeikh Ahmad al Badawi sudah meninggal 200 tahun silam, jadi para aulia’ itu walaupun sudah meninggal ratusan tahun, namun masih bisa emberi petunjuk.

Berkata Syeikh Muhammad al-Adawi : Setengah dari keindahan keramat beliau ialah, pada saat banyaknya orang yang ingin berusaha membatalkan peringatan maulidnya beliau, dimana orang-orang tersebut menghadap dan meminta kepada Syeikh Imam Yahya al-Munawiy agar beliau mau menyetujuinya. Sebagai orang yang berpengaruh dan berpendirian kuat pada masa itu, Syeikh Yahya tidak menyetujuinya, akhirnya orang-orang tersebut melapor kepada sang raja azh-Zhohir Jaqmaq. Sang rajapun berusaha membujuk agar Syeikh Yahya bersedia memberi fatwa untuk membatalkan maulidnya Sayyidi Badawi. Akan tetapi Syeikh Yahya tetap tidak mau dan hanya bersedia memberikan fatwa melarang keharaman-haraman yang terjadi di acara itu. Maka acara maulid tetap dilaksanakan seperti biasa.

Dan Syeikh Yahya bekata kepada sang raja: “Aku tetap tak berani sama sekali berfatwa yang demikian, karena Sayyidi Badawi adalah wali yang agung dan seorang fanatik (malati = bahasa jawanya). Hai raja, tunggu saja, kamu akan tahu akibat bahayanya orang-orang yang berusaha menghilangkan peringatan maulid Sayyidi Badawi. Memang benar, tak lama kemudian mereka yang bertujuan menghilangkan peringatan maulid Sayyidi Badawi tertimpa bencana. Orang-orang tersebut ada yang dicopot jabatannya dan diasingkan oleh rajanya.

Ada yang melarikan diri ke Dimyath akan tetapi kemudian ditarik kembali dan diberi pengajaran, dirantai dan dipenjara selama setengah bulan. Bahkan diantara mereka yang mempunyai jabatan tinggi dikerajaan itu lalu banyak yang ditangkap, disidang dengan kelihatan terhina, disiksa dan diborgol besi di depan majlis hakim syara’ lalu dihadapkan raja yang kemudian dibuang di negara Maghrib.

Sayyidi Ahmad Badawi pernah berkata kepada seseorang : “Bahwa pada tahun ini hendaknya kamu menyimpan gandum yang banyak yang tujuanmu nanti akan kau berikan kepada para fakir miskin, sebab nanti akan terjadi musim paceklik pangan. Kemudian orang tadi menjalankan apa yang diperintahkan beliau, dan akhirnya memang terbukti kebenaran ucapan Sayyidi Badawi.

Berkata al-Imam Sya’roni : “Pada tahun 948 H aku ketinggalan tidak dapat menghadiri acara maulidnya Sayyidi Badawi. Lalu ada salah satu aulia’ memberi tahu kepadaku bahwa Sayyidi Badawi pada waktu peringatan itu memperlihatkan diri di makamnya dan bertanya : “Mana Abdul Wahhab Sya’roni, kenapa tidak datang ?” Pada suatu tahun, al-Imam Sya’roni juga pernah berkeinginan tidak akan mendatangi maulid beliau.

Lalu aku melihat beliau memegang pelepah kurma hijau sambil mengajak orang-orang dari berbagai negara. Jadi orang-orang yang berada dibelakangnya, dikanan dan kirinya banyak sekali tak terhingga jumlahnya. Terus beliau melewati aku di Mesir, sayyidi Badawi berkata : “Kenapa kamu tidak berangkat ?”. Aku sedang sakit tuan, jawabku. Sakit tidak menghalang-halangi orang cinta. Terus aku diperlihatkan orang banyak dari para aulia’dan para masayikh, baik yang masih hidup maupun yang sudah wafat, dan orang-orang yang lumpuh semua berjalan dengan merangkak dan memakai kain kafannya, mereka mengikuti dibelakang sayyidi Badawi menghadiri maulid beliau.

Terus aku juga diperlihatkan jama’ah dan sekelompok tawanan yang masih dalam keadaan terbalut dan terbelenggu juga ikut datang menghadiri maulidnya. Lalu beliau berkata: lihatlah ! itu semua tidak ada yang mau ketinggalan, akhirnya aku berkehendak untuk mau menghadiri, dan aku berkata : Insya Allah aku hadir tuan guru ?. Kalau begitu kamu harus dengan pendamping, jawab sayyidi Badawi. Kemudian beliau memberi aku dua harimau hitam besar dan gajah, yang dijanji tidak akan berpisah denganku sebelum sampai di tempat.

Peristiwa ini kemudian aku ceritakan kepada guruku Syeikh Muhammad asy-Syanawi, beliau lalu menjelaskan: memang pada umumnya para aulia’ mengajak orang-orang itu dengan perantaraan, akan tetapi sayyidi Ahmad Badawi langsung dengan sendirinya menyuruh orang-orang mengajak datang. Sungguh banyak keramat beliau, hingga al-Imam Sya’roni mengatakan,”Seandainya keajaiban atau keramat-keramat beliau kalau ditulis di dalam buku tidaklah akan muat karena terlalu banyaknya.

Tetapi ada peninggalan Syeikh ahmad Badawi yang sangat utama, yaitu bacaan sholawat badawiyah sughro dan sholawat badawiyah kubro. Demikianlah sekelumit manakib Sayyidi Ahmad Al Badawi disajikan kehadapan pembaca, untuk dapat diambil hikmahnya, Amin.

 DiPostkan Oleh : Bintang Sufi Blogspot

Posted in Spirit Sufisme | 1 Comment »

habib syeikh bin ahmad bafaqih

Posted by kangadhi7 on May 8, 2010


HABIB SYEIKH BIN AHMAD BAFAQIH

 

Oleh : YAHYA

 

Kelahiran

Habib Syekh dilahirkan di kota Syihr pada tahun 1212 H anak dari Habib Ahmad Bafaqih dan silsilahnya sampai kepada Nabi Muhammad Rasululloh SAW

Dakwah

Setelah beberapa lama memperdalam pengetahuannya disana-sini, pada tahun 1250 H, Habib Syekh mulai berani mengambil langkah dakwah menyebarkan ilmunya. Ia sempat menjelajahi beberapa kota di Nusantara, sebelum akhirnya memutuskan berlabuh dikota Surabaya.

Di Surabaya inilah, mulai memancarkan cahaya pengetahuannya. Ia mengajarkan ilmu-ilmunya kepada para penuntut ilmu sekitar. Mulai dari Fiqih, Tauhid, Tasawuf dan lainnya. Hingga akhirnya, ditengah hingar bingar dakwahnya itu, ia diangkat oleh Allah SWT menjadi salah satu walinya. Semenjak itu pula, ia sering terhanyut alam Rabbaniyah, dan karamah-karamah ynag luar biasa senantiasa mengisi kesehariannya.

Sebagaimana seorang sufi, Habib Syekh Bafaqih memiliki kepekaan yang tinggi akan syair-syair sufistik. Ia begitu mudah terbawa terbang oleh syair-syair gubahan para tokoh sufi. Apalagi bila menyenandungkan syair itu adalah adiknya sendiri, Sayid Muhammad Bafaqih yang bersuara emas, bisa-bisa ia mabuk kepayang semalaman.Dakwah Habib Syekh ditanah jawa amatlah sukses. Ia berhasil mengislamkan banyak orang. Selain itu, ia juga berhasil mencetak beberapa ulama. Walhasil, ilmunya benar-benar menyinari belantara jawa yang masih awan kala itu.

Karamah dan Keutamaan

Pada suatu ketika tibalah Habib Syekh di kediaman salah satu pecintanya. Ini bukan kunjungan biasa, akan tetapi kunjungan sarat hikmah. Pasalnya, begitu ketemu shahibul bait, Sang Wali menggelontorkan permintaan yang agak ganjil.”Aku menginginkan dua lembar permadani ini.” titahnya.
Sang pecinta terkesiap. Bagaimana tidak, yang diminta junjungannya itu adalah permadani buatan Eropa yang super mahal. Barang itu baru saja dibelinya.

Ia amat menyayangi permadani itu hingga ditempatkannya di tempat khusus.
“Bagini saja. Anda boleh minta apa saja, asal jangan permadani ini.” Pinta si pecinta. “Tidak. Aku tidak menginginkan lainnya.” Sang Wali bergeming. Negosiasi alot. Dan akhirnya hati pecinta setengah mencair. ”Baiklah, kalau begitu Anda boleh mengambil satu lembar saja.”

Setelah mendapatkan permintaannya itu, Sang Wali segera beranjak. Sang pecinta adalah seorang saudagar kaya raya. Sewaktu disambangi Sang Wali, Dua armada kapal dagangannya tengah berlayar di lautan dengan membawa muatan yang banyak. Sayang nahas mendera, dua armadanya itu koyak akibat terjangan gelombang. Salah satunya terhempas lalu tenggelam. Sementara satunya lagi selamat dan berhasil mendarat.

Hati saudagar sedikit lega. Syukur, tidak kedua-duanya tenggelam. Ia memeriksa kapalnya yang selamat itu dengan seksama. Dan, terpampanglah pemandangan ajaib dihadapannya. Ya, selembar permadani yang dihadiahkan kepada Sang Wali telah menambal rapat-rapat bagian yang koyak pada perahunya. Ia terpekur, menyesali perlakuannya pada Sang Wali. “Mengapa tidak kuberikan kedua-duanya saja waktu itu.” gerutu hatinya.
Kisah masyhur diatas dihikayatkan oleh Habib Abdul Bari bin Syekh Al-Aydrus,dan dicantumkan dalam manuskrip Tajul A’ras, torehan pena Habib Ali bin Husein Al-Attas.

Suatu malam, Habib Abdullah Al-Haddad, seoarang wali yang dulu dikenal royal menjamu tamu, menyuruh seorang sayid bernama Abdullah bin Umar Al-Hinduan berziarah kepusara Habib Syekh Bafaqih. “Hai Abdullah, pergilah kamu kepusara Habib Syekh sekarang, dan katakan pada beliau,” Abdullah Al-Haddad saat ini butuh uang dua ribu rupiah. Tolong, Berilah ia uang besok !” perintahnya.

Sayid Abdullah segera berangkat. Sesampainya dipusara Habib Syekh, ia membaca ayat-ayat suci dan doa-doa. Kemudian ia membisikkan ke makam kalimat yang dipesankan Habib Abdullah.Selang dua hari kemudian, Sayid Abdullah berjumpa lagi dengan Habib Abdullah. Wali yang sangat dermawan itu nampak berbunga-bunga. ”Lihat uang ini. Aku terima dari Habib Syekh .” Selorohnya sembari menunjukkan segepok uang pada Abdullah Al Haddad Maklum, dua ribu rupiah uang dulu, sama nilainya dengan dua belas juta ripiah uang sekarang.

Sang Wali yang berkaromah luar biasa itu, tidak lain tidak bukan, adalah Habib Syekh bin Ahmad Bafaqih, ulama besar yang pusarannya ada didaerah Boto Putih, Surabaya. Dekat masjid Sunan Ampel. Karena itu, masyarakat lebih mengenal beliau sebagai Habib Syekh Boto Putih.

Di masanya, keulamaaan Habib Syekh sulit tertandingi. Pengetahuannya dalam Fiqih, Lughah, Tauhid dan lainnya sangat dalam. Sehingga sewaktu tinggal di Surabaya, beliau menjadi oase yang mengobati dahaga orang-orang yang haus ilmu di ranah Jawa.

Pencapaian luar biasa itu tidaklah didapatkan Habib Syekh dengan mudah dan gampang. Sebab ilmu takkan pernah ditumpahkan dari langit begitu saja. Sejak usia belia, beliau sudah bekerja keras menggali ilmu. Mula-mula ia mempelajari Al-Qur’an dan beberapa bidang pengetahuan syari’at dan tasawuf kepada ayahandanya sendiri, Habib Ahmad bin Abdullah Bafaqih. Kebetulan, Sang Ayah sendiri adalah ulama yang sudah kesohor ketinggian ilmunya.

Ia kemudian mengembangkan diri dengan belajar pada ulama-ulama yang ada di kotanya, Syihr. Pada fase ini, jiwa ilmuannya sedang mekar-mekarnya. Semakin lama hatinya semakin merasakan kehausan tak terkira untuk meneguk pengetahuan sehingga beliau dengan seizin ayahnya memutuskan berangkat ke Haramain unntuk menyelami telaga pengetahuan disana.

Selama di Mekah dan Madinah, beliau belajar kepada beberapa ulama besar, diantaranya adalah Syaikh Umar bin Abdul Karim bin Abdul Rasul At-‘Attar, Syaikh Muhammad Sholeh Ar-Rais Al-Zamzami, dan Al-Allamah Sayid Ahmad bin Alawi Jamalullail. Tak hanya sampai di situ. Ia pun menyempatkan diri tinggal di Mesir beberapa lama, untuk menimba pengetahuan dari guru-guru besar Universitas al-Azhar kala itu.

Wafatnya Habib Syekh bin Ahmad Bafaqih

Beliau wafat pada tahun 1289 H di Surabaya. Diatas pusarannya dibangun kubah yang megah, sebagai perlambang kemegahan derajatnya. Sampai kini makamnya tak henti-hentinya diziarahi kaum muslimin, untuk bertawasul dengan mengharapkan barokah. Ya Allah, curahkan dan limpahkanlah keridhoan atasnya dan anugerahilah kami dengan rahasia-rahasia yang Engkau simpan padanya, Amin.

DiPostkan Oleh : Bintang-sufi blogspot

Posted in Spirit Sufisme | Leave a Comment »

Cara Mendeteksi Penipuan di Bisnis Online

Posted by kangadhi7 on May 7, 2010


Cara Mendeteksi Penipuan di Bisnis Online

 

Oleh: f.wisnuwardhana

Ingat bisnis di www 65% website adalah cenderung SCAM, artinya website tersebut tidak membayar kita atau website PENIPU. Nah hari ini posting saya membahas bagaimana tips dan trik menghindari penipuan di bisnis internet.

1. Perhatikan baik-baik tawaran situs tersebut

Jika tawarannya berlebihan atau terlalu bagus udah itu gampang TAJIR lagi wah gak beres nih, kalo begitu gampang tajir dia gak bakalan bikin itu web, pasti sekarang lagi di hawai bulan madu tanpa henti.

Contoh tawaran tidak masuk akal. Misalnya BISNIS PTC dengan tawaran $1 / klik, itu sangat tidak mungkin karena perusahaan yang pasang iklan tidak pernah membayar sebesar itu.

2. Perhatikan system kerjanya

Jika kita menjual barang atau jasa, itu jelas masih logis jika dibayar dengan harga tinggi sesuai dengan produk yang kita jual misalnya 10% dari harga produk, ya wajar aja. Tapi harus di ingat, ini jika tidak menganut system MLM. Sedangkan jika menganut system MLM, hati-hati karena biasanya posisi anda ada di tempat yang merugikan. MLM pada dasarnya hanya menguntungkan orang yang ada dipuncaknya saja. Apalagi jika harus menyetorkan sejumlah dana. Lebih baik anda tidak mengikutinya karena jika uang yang sudah terkumpul cukup banyak maka website tersebut bisa menghilang sewaktu-waktu alias KABURRRrrrr.

3. Perhatikan sudah berapa lama bisnis itu berdiri

Cara mengukurnya adalah dengan melihat data di WHOIS domain bisnis yang bersangkutan.

WHOIS adalah sebuah fitur untuk mengetahui kapan domain situs bisnis dibeli. Jika dia menggunakan domain yang tidak berbayar, lebih baik tidak ikutan. Karena logikanya orang yg membuka situs bisnis tersebut tidak bermodal sama sekali, buka bisnis pake domain gratis lagi heheeh. Contoh domain gratisan dot tk ( .tk) dot us (.us) dan banyak lagi.

Bagaimana cara mengecek WHOIS web tersebut?

Gunakan WHOIS checker yang tersedia di internet. Antara lain

Whois.domaintools.com

Betterwhois.com

Whois.sc

Whois.net

Yang lain cari pake mbah google heheh (cape ketik mode: on)

Jika bisnis tersebut bagus atau jelek, pasti sering di gosipin banyak orang. Bagaimana cara melihatnya

Klik whois.com.domaintools.com/clixsense.com (jika kita mau cek website cliksense.com – salah satu situs PTC)

Maka disana akan terlihat Creation date: 29 Des 2006 14:53:35

Berarti sudah cukup lama bertahan. Berarti bisnis ini cukup kuat dan menjanjikan.

4. Perhatikan berapa sering situs tersebut disebut.

Caranya cukup ketik nama situsnya di google maka pada bagian kanan atas tertera tulisan

Misalnya Results 1-10 of about 274.324 for clixsense.com

Berarti terdapat 274.324 yang menyebutkan tentang clixsense.com. Itu menunjukan seberapa situs tersebut terkenal. Tapi tunggu kita belum tau dia terkenal karena kebaikan ato ke jahatannya heheeh ( hitler juga terkenal loh).

Sekarang ketik di google: Scam clixsense.com

Maka sebagai contoh akan muncul : Urutan 1 – 10 dari sekitar 330,000 hasil telusur untuk scam clixsense.com

Ternyata ada 330.000 laporan bahwa clixsense.com scam

Mudah kan. Maka jangan sia-siakan waktu anda dengan bisnis tidak jelas.

5. Menghitung Hasil Maksimal yang bisa didapatkan

Untuk menilai bisnis itu berbayar ato tidak tentu dia harus punya bukti sudah pernah membayar berapa kali. Nah cara ceknya adalah
Ketik di google “payment proof” +nama bisnis yang diinginkan. Atau ditambah kata “check” jika bisnis membayar dengan cek

Contoh “the adsense check”
Hasilnya google menunjukan alamat www.shoemoney.com/200//the-adsense-check-for-13299497/

Coba klik disana terlihat bahwa pemilik web memegang check senilai $132.994.97
Berarti bahwa memang Adsense punya uang untuk membayar pelanggannya.
Nah gunakan trik-trik ini untuk cek bisnis anda.
DiPostkan Oleh : ArtikelPopuler.com

Posted in Bisnis & Financial | Leave a Comment »

PAKAR-PAKAR DARI DUNIA SERANGGA

Posted by kangadhi7 on May 8, 2010


Para Pakar dari Dunia Serangga

Oleh : HARUN YAHYA

Sistem pertahanan diri, perkembangbiakan dan berburu yang sangat rumit dari serangga, yang merupakan salah satu dari binatang jenis ini, menunjukkan bahwa semua sistem ini diciptakan oleh Pencipta yang Maha Bijaksana dan Maha Agung. Desain mengagumkan pada serangga adalah bukti keberadaan Allah dan ciptaan-Nya yang sempurna. Setiap manusia yang berpikir dengan hati jernih dan akal yang bebas prasangka akan mampu melihat fakta yang jelas ini.

Dan pada apa yang diciptakan Allah di langit dan di bumi, benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan-Nya bagi orang-orang yang bertakwa. (QS. Yuunus, 10:6)

Berlimpahnya jumlah serangga ini sungguh menakjubkan. Untuk setiap manusia di bumi, terdapat 200 juta serangga, ini setara dengan 10 juta serangga per kilometer persegi. Terdapat 30 juta jenis serangga, banyak diantaranya bahkan belum diberi nama.

Kumbang Pembom: Pakar Senjata Kimia

Bombardier beetle atau ‘Kumbang Pembom’ adalah serangga yang telah dijadikan obyek bagi sejumlah besar penelitian. Yang menjadikan serangga ini begitu populer adalah senjata kimia yang sangat canggih dalam tubuhnya yang memiliki panjang sekitar 2 sentimeter. Ketika merasa terancam oleh binatang kecil lain, larutan panas mendidih dan pedih terbentuk dalam tubuhnya. Kemudian serangga ini menyemprotkan zat kimia tersebut ke arah musuh melalui lubang di bagian belakang tubuhnya. Ketika menghalau musuh dengan cara ini, kumbang pembom sendiri tidak memahami betapa menakjubkan perilaku yang ia tunjukkan. Senjata kimia ini adalah hasil reaksi kimia berantai sangat rumit yang terjadi dalam tubuh serangga tersebut.

Sejumlah organ khusus yang disebut kantung sekresi, menghasilkan cairan sangat pekat yang merupakan campuran dua zat kimia, yaitu hidrogen peroksida dan hidroquinon. Campuran ini lalu ditempatkan pada bilik penyimpanan yang disebut dengan collecting vesicle atau kantung pengumpul. Kantung pengumpul ini dihubungkan dengan ruangan yang kedua yang dinamakan bilik ledakan.

Ketika kumbang merasakan bahaya, ia menegangkan otot-otot di sekeliling bilik penyimpanan tersebut dan bilik ini tiba-tiba berkontraksi. Secara bersamaan, saluran yang menghubungkan bilik penyimpanan dengan bilik ledakan terbuka. Sehingga larutan kimia terdorong dan memasuki bilik ledakan. Segera setelah itu, saluran bilik ledakan menutup. Ketika larutan kimia ini bercampur dengan katalis enzim yang dikeluarkan oleh kelenjar ektodermal yang menempel pada bilik ledakan, reaksi berantai terjadi. Reaksi-reaksi ini menghasilkan panas dalam jumlah besar, sehingga suhu larutan naik hingga mencapai titik didih. Otot-otot di sekeliling pipa yang mengarah keluar dari tubuh kumbang, memungkinkan semburan uap untuk diarahkan ke sumber bahaya tersebut. Dan kumbang membakar musuhnya dengan menyemprotkan cairan yang dihasilkannya ke arah si musuh. Senjata kimia yang sangat ampuh untuk mengusir musuh ini tidak berbahaya bagi serangga tersebut, sebab bagian tubuh kumbang yang menghasilkan zat kimia ini dilapisi dengan bahan anti-panas.

Sistem mengagumkan yang “mengejutkan” banyak ilmuwan ini harus terbentuk pada saat yang bersamaan dan sudah lengkap, sebagaimana jutaan sistem serupa di alam. Satu saja dari bagiannya hilang, maka sistem tersebut tidak akan bekerja dan makhluk kecil ini akan punah dari bumi. Setiap tahapan dari mekanisme pertahanan diri serangga ini, dikendalikan oleh kecerdasan yang luar biasa. Kumbang pembom, sebagaimana milyaran makhluk hidup lainnya, adalah satu contoh ciptaan luar biasa dan tiada tara dari Allah Yang Maha Tahu dan Maha Kuasa. Allah berfirman dalam Alqur’an.

Dan pada penciptaan kamu dan pada binatang-binatang yang melata yang bertebaran (di muka bumi) terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) untuk kaum yang meyakini. (QS. Al-Jaatsiyah, 45: 4)

Kumbang Kura-Kura: Mirip Alat Pengisap

Satu lagi serangga dengan desain mengagumkan adalah kumbang kura-kura. Meskipun lebih kecil dari si kumbang mungil ladybird, ia memiliki kaki besar dibandingkan ukuran tubuhnya. Pertahanan diri serangga ini mengandalkan kaki dan tempurungnya. Ketika terancam musuh, serangga ini menarik antena dan kakinya ke dalam temperung dan menempel erat pada permukaan, mirip sebuah alat pengisap. Bagian dalam tempurung dirangcang agar dapat menyimpan antena dan kaki yang ditarik masuk ke dalam. Bentuk seperti ini menjadikan tubuhnya mustahil untuk dibolak-balikkan.

Semut yang berusaha membalikkan tubuh serangga ini, hendak melukai jaringan lunak yang ada di bagian bawah tempurung. Tetapi, semut tidak mampu membalikkan tubuh kumbang karena sistem pertahanannya. Meskipun ukurannya lebih besar, semut akhirnya menyerah kurang dari satu menit setelah kerja kerasnya.

Ketika desain canggih serangga ini diamati melalui mikroskop, kaki-kakinya nampak memiliki 60 ribu rambut. Ketika dilihat melalui mikroskop elektron, rambut-rambut ini terlihat bercabang dua membentuk garpu dan memiliki telapak sepon lunak pada ujung-ujungnya. Pengamatan lebih dekat pada permukaan tempat mereka menempel, tampak ada bekas-bekas minyak berbentuk ribuan butiran. Minyak yang dihasilkan dalam kelenjar pada akar rambut tersebut mengalir melalui pembuluh-pembuluh sempit, dan dari sini mengalir ke ujung rambut sehingga membasahi jaringan sepon. Alasan mengapa tubuh serangga ini tidak dapat dibalikkan musuhnya adalah karena rambut-rambut ini menempel erat pada permukaan seperti alat pengisap.

Terdapat keistimewaan sempurna pada binatang ini, dari bentuk tempurung hingga desain rambutnya, dari kelenjar minyak hingga pembuluh tempat minyak mengalir. Kesempurnaan dan kerapian pada penciptaan kumbang ini, mustahil dijelaskan dengan serangkaian peristiwa kebetulan sebagaimana anggapan teori evolusi. Peristiwa kebetulan tidak mampu memunculkan sejumlah mekanisme sempurna ini secara bersamaan. Manusia, dengan akal dan ilmunya, tidak akan percaya bahwa peristiwa kebetulan memunculkan desain ini.

Keberadaan sistem sempurna ini adalah perwujudan Ilmu Maha Luas dari Sang Pencipta. Allah, Penguasa Seluruh Alam, adalah Pencipta segala sesuatu. Dan seluruh makhluk hidup memperlihatkan tanda-tanda penciptaan sempurna oleh Allah.

Kunang-kunang: Pakar Lampu Berpendar

Kunang-kunang dilengkapi dengan sistem yang menakjubkan. Serangga ini memiliki organ dalam tubuhnya yang memancarkan cahaya berpendar. Cahaya ini sangat penting bagi kelestarian jenisnya, sebab kunang-kunang betina dan jantan mengenali jenis kelamin masing-masing berdasarkan cahaya mereka.

Organ berpendar pada kunang-kunang terdiri atas tiga lapisan, persis seperti lampu depan mobil. Sel-sel yang menghasilkan cahaya berada pada lapisan paling bawah. Sel-sel ini bertugas menghasilkan zat yang mudah terbakar. Zat ini bereaksi dengan oksigen di bawah kendali sebuah enzim. Akibat reaksi kimia ini, cahaya berpendar yang proses pembuatannya mirip seperti pada pabrik ini, pertama-tama diteruskan ke lapisan cekung terdekat, dan kemudian ke lapisan transparan bagian atas di mana cahaya ini dipantulkan.

Kualitas sempurna dan tingkat produktifitas 98% dari cahaya berpendar ini mengejutkan para ilmuwan yang meneliti kunang-kunang. Bola lampu yang digunakan manusia untuk penerangan hanya mampu mengubah 5% dari energi yang diterimanya menjadi cahaya, sedangkan 95% sisanya terbuang dalam bentuk panas. Karena 95% panas yang dihasilkan inilah kita tidak tahan menyentuh bola lampu yang sedang menyala. Meskipun kunang-kunang menghasilkan cahaya hampir 20 kali lebih besar dari bola lampu, suhu kunang-kunang tidak naik karena sifat dingin cahaya mereka. Manusia hanya mampu membuat cahaya dingin di laboratorium setelah melakukan serangkaian reaksi kimia.

Jelas tidak masuk akal untuk mengatakan bahwa sistem pencahayaan rumit ini telah dirancang dan kemudian ditempatkan dalam tubuh serangga mungil ini dengan sendirinya.

Kesempurnaan dalam tubuh kunang-kunang memperlihatkannya sebagai hasil dari hikmah yang agung and ilmu yang tak terbatas. Allah menciptakan semua jenis makhluk hidup dengan cirinya masing-masing dan; melalui semua ini, memperlihatkan kepada kita Kekuasaan-Nya Yang Kekal. Dalam sebuah ayat Alqur’an, manusia diperintah agar memikirkan kenyataan ini:.

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan makhluk-makhluk yang melata yang Dia sebarkan pada keduanya. Dan Dia Maha Kuasa mengumpulkan semuanya apabila dikehendaki-Nya. (QS. Asy-Syuuraa, 42:29)

Sumber : www.harunyahya.com/indo/
© 2005 Harun Yahya International. Hak Cipta Terpelihara. Semua materi dapat disalin, dicetak dan disebarkan dengan mencantumkan sumber situs web ini.  info@harunyahya.com

Posted in Education & Science | Leave a Comment »