KangAdhi7 Blog

All About Article

Posts Tagged ‘Sejarah Pasundan 5’

kerajaan pajajaran 1

Posted by kangadhi7 on May 31, 2010


KERAJAAN PAJAJARAN BAGIAN 1

 

PAJAJARAN

Poerbacaraka pada tahun 1921 menyebutkan, bahwa istilah Pakuan Pajajaran berasal dari kata istana yang berjajar (“aanrijn staande hoven”). Hal ini dimungkin demikian, mengingat nama tersebut gabungan dari nama ibukota (Pakuan) dengan nama keraton Sri Bima – Punta – Narayana – Madura – Suradipati (Pajajaran). Dalam sastra klasik disebut Panca Persada yang berarti lima bangunan keraton, sedangkan di dalam naskah Wangsakerta sering disingkat dengan menyebut Sang Bima atau Sri Bima.

Nama Keraton dan pendirinya diberitakan di dalam Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara parwa II sarga 3 halaman 204 – 2005, sebagai berikut :

Hana Pwanung magadegaknya Pakwan Pajajaran lawan kadatwan Sang Bima-Punta-Narayana-Madura-Suradipati ya ta Sang Prabu Tarusbawa (adapun yang mendirikan Pakuan Pajajaran beserta keraton Sang Bima – Punta – Narayana – Madura – Suradipati adalah Sanh Prabu Tarusbawa).

Nama Keraton di Pakuan tersebut dituliskan didalam berita kropak 406 atau Fragmen Carita Parahyangan. Naskah dimaksud menyebutkan :

Di inya urut kadtwan, ku Bujangga Sedamanah ngaran Sri Kadatwan Bima – Punta – Narayana – Madura – Suradipati. Anggeus ta tuluy diprebokta ku Maharaja Tarusbawa deung Bujangga Sedamanah. / Disiar kahulu Cipakancilan, katimu ku Bagawat Sunda Mayajati, ku Bujangga Sedamanah di baan ka hareupeun Maharaja Tarusbawa. (Di sanalah bekas keraton yang oleh Bujangga Sedamanah diberi nama Sri Kedatuan Bima – Punta – Narayana – Madura – Suradipati. Setelah selesai dibangun lalu diberkati oleh Maharaja Tarusbawa dan Bujangga Sedamanah. / Dicari ke hulu Cipakancilan, ditemukan disana Bagawat Sunda Majayati ; oleh Bujangga Sedamanah di bawa ke hadapan Maharaja Tarusbawa)

Prasasti Kabantenan, yakni Prasasti yang dibuat dari tembaga dan ditemukan di Bekas, menggunakan nama Pakuan Pajajaran (lengkap), Pakuan (tanpa Pajajaran) dan Pajajaran (tanpa Pakuan). Urang sunda lebih nyaman menggunakan nama Pajajaran untuk nama kerajaan dan nama Pakuan untuk nama ibukota. Pemilihan nama tersebut pada akhirnya digunakan pula oleh para penulis sejarah Sunda.

Pakuan sebagai ibukota Sunda dicacat oleh Tom Peres (1513 M) di dalam “The Suma Oriantal”, ia menyebutkan bahwa ibukota kerajaan Sunda disebut dayo (dayeuh) itu terletak sejauh sejauh dua hari perjalanan dari Kalapa (Jakarta). Menurut Laporan VOC, perjalanan dari bekas benteng Pakuan ke muara Ciliwung tempat benteng VOC memakan waktu dua hari. 

Saleh Danasasmita (1983 : 2) menghubungkan asal muasal nama keraton dengan nama kota di mana keraton tersebut berada. Menurutnya : “Nama keraton sering meluas menjadi nama ibu kota, bahkan akhirnya sering menjadi nama negara. Contoh nyata adalah Ngayogyakarta Hadiningrat dan Surakarta Hadiningrat yang sebenarnya nama-nama keraton, sekarang meluas menjadi ibukota dan juga nama wilayah”. (Yoseph Iskandar 2005 : 228).

Di dalam versi lainnya menyebutkan, bahwa penggunaan istilah Pajajaran untuk nama kerajaan Sunda sebenarnya mulai digunakan pada masa Prabu Susuktunggal, ayah mertua Sri Baduga Maharaja. Hal ini dikemukakan didalam tulisan Atja Sasmita dan Edi S. Ekadjati, : “Pada waktu Sang Haliwungan berusia 13 tahun, ia diangkat menjadi rajamuda Sunda, dengan nama abhiseka Prabu Susuktunggal, baginda memerintah di Pakuan Pajajaran”. (Ibid : 229).

Pajajaran dipilih untuk nama kerajaan Sunda di Pakuan dimungkinkan akibat sering terjadi perpecahan dan bersatunya kembali antara kerajaan Sunda dengan kerajaan Galuh, sejak tahun 669 M, ditandai dengan Galuh menyatakan kemerdekaannya, demikian pula pada masa sesudahnya, seperti pada masa Sanjaya, Manarah dan pasca Wastu Kancana, sehingga untuk menghindarkan kesalahan pahaman, seperti masa Tarusbawa memindahkan ibukotanya ke Sundapura, maka dipilihlah nama Pajajaran untuk penerus kerajaan Sunda dengan Galuh tersebut.

Istilah Pajajaran kemudian digunakan pula untuk kisah-kisah di dalam cerita babad dan pantun, bahkan didalam Babad Tanah Jawi, menyebutkan kerajaan Sunda dengan nama Pajajaran. Hal tersebut dijelaskan sebagai berikut : 

ing tahun 1433 Sang Ratu Dewa iya Raja Purana, ngadegake kutha anyar aran Pakuan. Karajan iki aran Pajajaran. Tulisan kang ana ing watu kono nerangake manawa Sang Prabu yasa segaran. Pajajaran semune krajan rada gedhe lan ngerehake Cirebon barang.

Pajajaran pada jaman Siliwangi tentunya bukan hanya suatu obrolan ringan, kita pun dapat melayang kealam ketentraman hidup dimana raja dan rakyat hidup sajajar lan ngajajar, raja adil dan rakyat sentosa, murah sandang murah pangan, seperti yang dilantunkan Ki Baju Rambeng, seorang juru pantun dari Bogor.

• Talang tulung keur Pajajaran

• jaman aya keneh kuwarabekti

• jaman guru bumi di pusti-pusti

• jaman leuit tangtu eusina metu

• euweuh nu tani mudu ngijon

• euweuh nu tani nandonkeun karang

• euweuh nu tan paeh ku jengkel

• euweuh nu tani modar ku lapar

(masih mending waktu Pajajaran / ketika masih ada kuwarabekti / ketika guru bumi dipuja-puja / ketika lumbung padi melimpah ruah / tiada petani perlu mengijon / tiada petani harus mati kelaparan / tiada petani harus mati karena kesal / tiada hatus petani mati karena lapar). (***)

 

LOKASI PAKUAN

Pakuan sebagai ibukota Sunda dicacat oleh Tom Peres (1513 M) di dalam “The Suma Oriantal”, ia menyebutkan bahwa ibukota kerajaan Sunda disebut dayo (dayeuh) itu terletak sejauh sejauh dua hari perjalanan dari Kalapa (Jakarta). Menurut Laporan VOC, perjalanan dari bekas benteng Pakuan ke muara Ciliwung tempat benteng VOC memakan waktu dua hari. 

Amir Sutaarga (1966) menguraikan tentang asal nama Pakuan yang merujuk pada pendapat beberapa ahli, seperti Holle, Purbacarakan dan Tendam. Menurut Holle arti kata Pakwa Pajajaran berasal dari kata paku (pohon paku, pakis), sehingga Pakuan Pajajaran akan berarti : “tempat yang ada jajaran pohon-pohon paku”, sedangkan menurut Prof. Poerbacaraka, kata Pakwan sama dengan ‘hof’ (istana, dalam bahasa jawa ‘pakuwon’ artinya tempat kediaman) yang berasal dari kata ‘kuwu’ Pakuwuan (bahasa kawi klasik Pakuwwan) dengan lidah urang sunda Pakuan akhiranya menjadi Pakuwan.

Penafsiran lain dari karangan Tendam, yang menyatakan, bahwa kata paku harus dihubungkan dengan lingga kerajaan yang ada disebelah prasasti Batutulis. Paku dalam arti lingga sesuai dengan penafiran jamannya ketika itu berarti sumbu jagat dan hubungannya memang erat dengan kedudukan raja masa itu, yakni pusat jagat, pusat kosmos di dunia, yang mewakili dewa tertinggi yang jadi pusat jagat. Tendam secara tegas membedakan antara ‘pakwan’ dan ‘kadatwan’. Pakwan berarti ibukota pusat kerajaan yang ada paku-nya, lingganya, sedangkan kadatwan ialah keratonnya. Dan memang Kadatwan di Pakuan memiliki nama, yakni Sri Bima Untarayana Madura Suradipati. Dengan alasan ini maka istilah yang dikemukakan oleh Purbacaraka menjadi tidak lagi dapat digunakan.

Nama keraton di Pakuan ditemukan pula didalam berita kropak 406 atau Fragmen Carita Parahyangan. Naskah dimaksud menyebutkan :

Di inya urut kadtwan, ku Bujangga Sedamanah ngaran Sri Kadatwan Bima – Punta – Narayana – Madura – Suradipati. Anggeus ta tuluy diprebokta ku Maharaja Tarusbawa deung Bujangga Sedamanah. / Disiar kahulu Cipakancilan, katimu ku Bagawat Sunda Mayajati, ku Bujangga Sedamanah di baan ka hareupeun Maharaja Tarusbawa. (Di sanalah bekas keraton yang oleh Bujangga Sedamanah diberi nama Sri Kedatuan Bima – Punta – Narayana – Madura – Suradipati. Setelah selesai dibangun lalu diberkati oleh Maharaja Tarusbawa dan Bujangga Sedamanah. / Dicari ke hulu Cipakancilan, ditemukan disana Bagawat Sunda Majayati ; oleh Bujangga Sedamanah di bawa ke hadapan Maharaja Tarusbawa).

Dari kedua data tersebut dapat disimpulkan bahwa dari masa Tarusbawa sampai dengan abad ke 16 nama Pakuan sudah digunakan untuk menyebutkan nama ibukota Sunda. 

Lokasi keraton Pakuan terletak pada lahan lemah duwur – diatas bukit yang diapit oleh tiga batang sungai berlereng curam, yakni Cisadane, Ciliwung (Cihaliwung) dan Cipaku (anak Cisadane). Ditengahnya mengalir Cipakancilan yang ke bagian hulu sungainya bernama Ciawi. Pakuan terlindung oleh lereng terjal pada ketiga sisinya, namun disisi tenggara kota berbatasan dengan tanah datar dan terdapat benteng (kuta) yang paling besar, pada bagian luar benteng terdapat parit yang merupakan bentuk negatif dari benteng tersebut. Tanah galian parit itulah yang diperkirakan untuk dijadikan bahan pembangunan benteng.

Lokasi Pakuan didalam Carita Pantun disebutkan :

Guru sekar anu ngarana Aki Santarupa / anu di Taman Milakancana / sakalereun ginung anu tujuh / beulah wetan ti karaton / sagigireun rada jauh tonggoheunnana / Leuwi Kipataheunana / anu aya di talaga panjang / Talaga Kamala Rena Wijaya (guru sekar yang bernama Aki Santapura / yang ada di Taman Milakancana / sebelah utara gintung yang tujuh / sebelah timur dari keraton / sebelah hulu agak jauh diatasnya / Leuwi Kipatahunan / yang ada di telaga panjang / Telaga Kemala Rena Wijaya).

Pantun itu menginspitrasi Amir Sutaarga untuk menguraikan tentang Pakuan Pajajaran. Konon kabar dihias dengan kraton Sri Bima, telaga panjang Sang Hiyang Talaga Rena Mahawijaya atau Sanghyang Kamala Rena Wijaya, dengan taman Milakancana dekat hutan Songgong tempat punden pusat pemujaan penduduk Pakuan Pajajaran.

Kearah Pakuan Pajajaran dibuat jalan-jalan besar yang dapat dilalui gerobak-gerobak dan beberapa kilometer. ke utara Muaraberes di kali Ciliwung masih ada bekas-bekas dermaga, dan juga di Ciampea, disebelah barat dari Pakuan, di Kali Cisadane semestinya akan dapat ditemukan bekas-bekas peninggalan dermaga atau sistim pertahanan, karena kedua tempat itu adalah batas sungai yang dapat dilayari sampai ke muara Laut Jawa, pintu gerbang menuju pedalaman.

Dari Pakuan ada sebuah jalan yang dapat melalui Cileungsi atau Cibarusa, Warunggede, Tanjungpura, Karawang, Cikao, Purwa karta, Sagalaherang, terus ske Sumedang, Tomo, Sindangkasih, Rajagaluh, Talaga Kawali dan ke pusat kerajaan Galuh Pakuan disekitar Ciamis dan Bojong Galuh. (Mungkin semacam jalan tol).

 

Berita-berita VOC

Laporan tertulis pertama mengenai lokasi Pakuan diperoleh dari catatan perjalan ekspedisi pasukan VOC (Verenigde Oost Indische Compagnie/Perserikatan Kumpeni Hindia Timur) yang oleh bangsa kita lumrah disebut Kumpeni. KarenaInggris pun memiliki perserikatan yang serupa dengan nama EIC (East India Company), maka VOC sering disebut Kumpeni Belanda dan EIC disebut Kumpeni Inggris. 

Setelah mencapai persetujuan dengan Cirebon (1681), Kumpeni Belanda menandatangani persetujuan dengan Banten (1684). Dalam persetujuan itu ditetapkan Cisadane menjadi batas kedua belah pihak.

Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai lokasi bekas istana Kerajaan Pajajaran, VOC mengirimkan tiga tim ekspedisi, masing-masing dipimpin oleh Scipio (1687) ; Adolf Winkler (1690) dan Abraham van Riebeeck (1703, 1704, 1709).

Scipio pada tahun 1687 memiliki dua catatan penting dari ekspedisinya, yakni perjalanan antara Parung Angsana (Tanah Baru) menuju Cipaku dengan melalui Tajur, kira-kira lokasi Pabrik Unitex sekarang. Scipio mencatat : Jalan dan lahan antara Parung Angsana dengan Cipaku adalah lahan yang bersih dan di sana banyak sekali pohon buah-buahan, tampaknya pernah dihuni. Lukisan jalan setelah ia melintasi Ciliwung. Ia mencatat Melewati dua buah jalan dengan pohon buah-buahan yang berderet lurus dan 3 buah runtuhan parit. 

Scipio pada tanggal 1 September 1687 M memperoleh keterangan dari anak buahnya, bahwa semua itu peninggalan dari Raja Pajajaran. Dari perjalanannya disimpulkan bahwa ada jejak Pajajaran yang masih bisa memberikan kesan wajah kerajaan, terutama Situs Batutulis. 

Penemuan Scipio segera dilaporkan oleh Gubernur Jenderal Joanes Camphuijs kepada atasannya di Belanda. Dalam laporan yang ditulis tanggal 23 Desember 1687, ia memberitakan bahwa menurut kepercayaan penduduk, dat hetselve paleijs en specialijck de verheven zitplaets van den getal tijgers bewaakt ent bewaart wort (bahwa istana tersebut terutama sekali tempat duduk yang ditinggikan untuk raja Jawa [maksudnya Sunda Pajajaran] sekarang masih berkabut dan dijaga serta dirawat oleh sejumlah besar harimau). Laporan tersebut juga dikaitkan dengan kisah anak buahnya yang mengalami patah tulang leher setelah diterkam harimau, laporan tersebut ia terima pada tanggal 31 Agustus 1687 malem hari. 

Penduduk Parung Angsana menghubungkan seorang anggota ekspedisi yang diterkam harimau di dekat Cisadane pada malam tanggal 28 Agustus 1687. Diperkirakan Situs Batutulis pernah menjadi sarang harimau penjaga ‘singgasana raja Pajajaran’. Penulis RPMSJB menafsirkan, bahwa laporan dan peristiwa ini yang akhirnya memunculkan mitos tentang hubungan Pajajaran yang sirna dengan keberadaan harimau. Selanjutnya disebutkan pula bahwa raja Pajajaran tilem, sedangkan prajuritna berubah wujud menjadi harimau. 

Laporan Scipio tersebut menggugah para pimpinan Kumpeni Belanda. Tiga tahun kemudian atau pada tahun 1690 masehi dibentuk kembali team ekspedisi terdiri dari 16 orang kulit putih dan 26 orang Makasar serta seorang ahli ukur. Ekspedisi tersebut dipimpin oleh Kapiten Winkler. 

Winkler dari hasil ekspedisi melaporkan perjalannya seperti Scipio yang bertolak dari Kedung Halang lewat Parung Angsana (Tanah Baru) lalu ke selatan, melewati jalan besar, Scipio menyebutnya ‘twee lanen’. Winkler menyebutkan jalan tersebut sejajar dengan aliran Ciliwung lalu membentuk siku-siku, namun hanya mencatat satu jalan. Scipio menganggap jalan yang berbelok tajam ini sebagai dua jalan yang bertemu. 

Setelah melewati sungai Jambuluwuk (Cibalok) dan melintasi parit Pakuan yang dalam dan berdinding tegak (dediepe dwarsgragt van Pakowang) yang tepinya membentang ke arah Ciliwung dan sampai ke jalan menuju arah tenggara 20 menit setelah arca. Sepuluh menit kemudian (pukul 10.54) sampai di lokasi kampung Tajur Agung (waktu itu sudah tidak ada). Satu menit kemudian, ia sampai ke pangkal jalan durian yang panjangnya hanya 2 menit perjalanan dengan berkuda santai. 

Bila kembali ke catatan Scipio yang mengatakan bahwa jalan dan lahan antara Parung Angsana dengan Cipaku itu bersih dan di mana-mana penuh dengan pohon buah-buhan, maka dapat disimpulkan bahwa kompleks Unitex itu pada jaman Pajajaran merupakan Kebun Kerajaan. Tajur adalah kata Sunda kuno yang berarti tanam, tanaman atau kebun. Tajur Agung sama artinya dengan Kebon Gede atau Kebun Raya. Sebagai kebun kerajaan. 

Tajur Agung menjadi tempat bercengkerama keluarga kerajaan. Karena itu pula penggal jalan pada bagian ini ditanami pohon durian pada kedua sisinya. Dari Tajur Agung Winkler menuju ke daerah Batutulis menempuh jalan yang kelak pada tahun 1709 dilalui Van Riebeeck dari arah berlawanan. Jalan ini menuju ke gerbang kota (lokasi dekat pabrik paku Tulus Rejo, sekarang). Di situlah letak Kampung Lawang Gintung pertama sebelum pindah ke Sekip dan kemudian lokasi sekarang (bernama tetap Lawang Gintung). Jadi gerbang Pakuan pada sisi ini ada pada penggal jalan di Bantar Peuteuy (depan kompleks perumahan LIPI). Dulu di sana ada pohon Gintung. 

Di sekitar Batutulis Winkler menemukan lantai atau jalan berbatu yang sangat rapi. Menurut penjelasan para pengantarnya, di situlah letak istana kerajaan (het conincklijke huijs soude daerontrent gestaen hebben). Setelah diukur, lantai itu membentang ke arah paseban tua. Di sana ditemukan 7 batang pohon beringin. 

Di dekat jalan tersebut Winkler menemukan sebuah batu besar yang dibentuk secara indah. Jalan berbatu itu terletak sebelum tiba di situs Bautulis, dan karena dari batu bertulis perjalanan dilanjutkan ke tempat arca (Purwa Galih), maka lokasi jalan itu harus terletak di bagian utara tempat batu bertulis (prasasti). Antara jalan berbatu dengan batu besar yang indah dihubungkan oleh Gang Amil. 

Lahan di bagian utara Gang Amil ini bersambung dengan Bale Kambang (rumah terapung), yang biasanya digunakan untuk bercengkrama raja. Contoh Bale kambang yang masih utuh adalah seperti yang terdapat di bekas Pusat Kerajaan Klungkung di Bali. Dengan indikasi tersebut, lokasi keraton Pajajaran mesti terletak pada lahan yang dibatasi Jl. Batutulis (sisi barat), Gang Amil (sisi selatan), bekas parit yang sekarang dijadikan perumahan (sisi timur) dan benteng batu yang ditemukan Scipio sebelum sampai di tempat prasasti (sisi utara). 

Balekambang terletak di sebelah utara (luar) benteng itu. Pohon beringinnya mestinya berada dekat gerbang Pakuan di lokasi jembatan Bondongan sekarang. Dari Gang Amil, Winkler memasuki tempat batu bertulis. Ia memberitakan bahwa Istana Pakuan itu dikeliligi oleh dinding dan di dalamnya ada sebuah batu berisi tulisan sebanyak 8½ baris, disebutkan demikian karena baris ke-9 hanya berisi 6 huruf dan sepasang tanda penutup. Winkler menyebut kedua batu itu stond (berdiri). Jadi setelah terlantar selama kira-kira 110 tahun, sejak Pajajaran burak bubar/hancur oleh pasukan Banten pada tahun 1579, batu-batu itu masih berdiri dan masih tetap pada posisi semula. 

Winkler dari tempat prasasti menuju ke tempat arca, pada penduduk menyebutnya Purwakalih, pada tahun 1911 Pleyte masih mencatat nama Purwa Galih. Di sana terdapat 3 buah patung yang menurut informan Pleyte adalah patung Purwa Galih, Gelap Nyawang dan Kidang Pananjung. Nama trio ini terdapat dalam Babad Pajajaran yang ditulis di Sumedang (1816) pada masa bupati Pangeran Kornel, kemudian pada tahun 1862 disadur dalam bentuk pupuh. Penyadur naskah babad mengetahui beberapa ciri bekas pusat kerajaan seperti juga penduduk Parung Angsana dalam tahun 1687 mengetahui hubungan antara Kabuyutan Batutulis dengan kerajaan Pajajaran dan Prabu Siliwangi. Menurut babad Pajajaran, Pohon Campaka Warna terletak tidak jauh dari alun-alun.

 

Dari Naskah Kuna

Dalam kropak, tulisan pada lontar atau daun nipah yang diberi nomor 406 di Mueseum Pusat terdapat petunjuk yang mengarah kepada lokasi Pakuan. Kropak 406 sebagian telah diterbitkan khusus dengan nama Carita Parahiyangan.

Dalam bagian yang belum diterbitkan (biasa disebut fragmen K 406) terdapat keterangan mengenai kisah pendirian keraton Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati. :

Di inya urut kadatwan, ku Bujangga Sedamanah ngaran Sri Kadatwan Bima Punta Narayana Madura Suradipati. Anggeus ta tuluy diprebolta ku Maharaja Tarusbawa jeung Bujangga Sedamanah. Disiar ka hulu Cipakancilan. Katimu Bagawat Sunda Mayajati. Ku Bujangga Sedamanah dibaan ka hareupeun Maharaja Tarusbawa. 

(Di sanalah bekas keraton yang oleh Bujangga Sedamanah diberi nama Sri Kadatuan Bima Punta Narayana Madura Suradipati. Setelah selesai (dibangun) lalu diberkati oleh Maharaja Tarusbawa dan Bujangga Sedamanah. dicari ke hulu Cipakancilan. Ditemukanlah Bagawat Sunda Majayati. Oleh Bujangga Sedamanah dibawa ke hadapan Maharaja Tarusbawa). 

Dari sumber kuno tersebut dapat diketahui, bahwa letak keraton tidak akan terlalu jauh dari hulu Cipakancilan. Hulu Cipakancilan terletak dekat lokasi kampung Lawang Gintung yang sekarang, sebab ke bagian hulu sungai ini disebut Ciawi. Dari naskah itu pula kita mengetahui bahwa sejak jaman Pajajaran sungai itu sudah bernama Cipakancilan. Juru pantun kemudian menerjemahkan menjadi Cipeucang, yang artinya sama (Peucang = Kancil).

 

Hasil Penetian

Prasasti Batutulis sudah mulai diteliti sejak tahun 1806 dengan pembuatan cetakan tangan untuk Universitas Leiden (Belanda). Upaya pembacaan pertama dilakukan oleh Friederich tahun 1853. Sampai tahun 1921 telah ada 4 orang ahli yang meneliti isinya. Akan tetapi, hanya C.M. Pleyte yang mencurahkan pada lokasi Pakuan, yang lain hanya mendalami isi prasasti itu. 

Hasil penelitian Pleyte yang dilakukan pada tahun 1903 dipublikasikan pada tahun 1911. Dalam tulisannya ia menyebutkan angka tahun yang tertera pada batu tulis (Het Jaartal op en Batoe-Toelis nabij Buitenzorg). Pleyte menjelaskan : 

“Waar alle legenden, zoowel als de meer geloofwaardige historische berichten, het huidige dorpje Batoe-Toelis, als plaats waar eenmal Padjadjarans koningsburcht stond, aanwijzen, kwam het er aleen nog op aan. Naar eenige preciseering in deze te trachten” (Dalam hal legenda-legenda dan berita-berita sejarah yang lebih dipercayai menunjuk kampung Batutulis yang sekarang sebagai tempat puri kerajaan Pajajaran, masalah yang timbul tinggalah menelusuri letaknya yang tepat). 

Sedikit kotradiksi dari Pleyte adalah pertama ia menunjuk kampung Batutulis sebagai lokasi keraton, akan tetapi kemudian ia meluaskan lingkaran lokasinya meliputi seluruh wilayah Kelurahan Batutulis yang sekarang. Pleyte mengidentikkan puri dengan kota kerajaan dan kadatuan Sri Bima Narayana Madura Suradipati dengan Pakuan sebagai kota.

Babad Pajajaran melukiskan bahwa Pakuan terbagi atas Dalem Kitha (Jero kuta) dan Jawi Kitha (Luar kuta). Pengertian yang tepat adalah kota dalam dan kota luar. Pleyte masih menemukan benteng tanah di daerah Jero Kuta yang membentang ke arah Sukasari pada pertemuan Jalan Siliwangi dengan Jalan Batutulis.

Peneliti lain seperti Ten Dam menduga, letak keraton tersebut terletak di dekat kampung Lawang Gintung, bekas Asrama Zeni Angkatan Darat. Suhamir dan Salmun bahkan menunjuk pada lokasi Istana Bogor yang sekarang. Namun pendapat Suhamir dan Salmun kurang ditunjang oleh data kepurbakalaan dan sumber sejarah. Dugaannya hanya didasarkan pada anggapan bahwa Leuwi Sipatahunan yang termashur dalam lakon-lakon lama itu terletak pada alur Ciliwung dalam Kebun Raya Bogor. Menurut kisah klasih, leuwi (lubuk) itu biasa dipakai bermandi-mandi oleh puteri-puteri penghuni istana. Lalu ditarik logika bahwa letak istana tentu tak jauh dari Leuwi Sipatahunan itu.

Pantun Bogor mengarah pada lokasi bekas Asrama Resimen Cakrabirawa (Kesatrian) dekat perbatasan kota. Daerah itu dikatakan bekas Tamansari kerajaan bernama Mila Kencana. Namun hal ini juga kurang ditunjang sumber sejarah yang lebih tua. Selain itu, lokasinya terlalu berdekatan dengan kuta yang kondisi topografinya merupakan titik paling lemah untuk pertahanan Kota Pakuan.

Kota Pakuan dikelilingi oleh benteng alam berupa tebing-tebing sungai yang terjal di ketiga sisinya. Hanya bagian tenggara batas kota tersebut berlahan datar. Pada bagian ini pula ditemukan sisa benteng kota yang paling besar. Penduduk Lawang Gintung yang diwawancara Pleyte menyebut sisa benteng ini Kuta Maneuh.

Sebenarnya hampir semua peneliti berpedoman pada laporan Kapiten Winkler yang berkunjung ke Batutulis pada tanggal 14 Juni 1690. Kunci laporan Winkler tidak pada sebuah hoff (istana) yang digunakan untuk situs prasasti, melainkan pada kata paseban dengan 7 batang beringin pada lokasi Gang Amil. Sebelum diperbaiki, Gang Amil ini memang bernuansa kuno dan pada pinggir-pinggirnya banyak ditemukan batu-batu bekas balay yang lama. 

Penelitian lanjutan membuktian bahwa benteng Kota Pakuan meliputi daerah Lawang Saketeng yang pernah dipertanyakan Pleyte. Menurut Coolsma, Lawang Saketeng berarti porte brisee, bewaakte in-en uitgang (pintu gerbang lipat yang dijaga dalam dan luarnya). Kampung Lawang Saketeng tidak terletak tepat pada bekas lokasi gerbang.

Benteng pada tempat ini terletak pada tepi Kampung Cincaw yang menurun terjal ke ujung lembah Cipakancilan, kemudian bersambung dengan tebing Gang Beton di sebelah Bioskop Rangga Gading. Setelah menyilang di jalan Suryakencana, membelok ke tenggara sejajar dengan jalan tersebut. Deretan pertokoan antara jalan Suryakencana dengan jalan Roda di bagian in sampai ke Gardu Tinggi, bekas pondasi benteng. Selanjutnya benteng tersebut mengikuti puncak lembah Ciliwung. 

Deretan kios dekat simpangan jalan Siliwangi – jalan Batutulis juga didirikan pada bekas fondasi benteng. Di bagian ini benteng tersebut bertemu dengan benteng Kota Dalam yang membentang sampai ke Jero Kuta Wetan dan Dereded. Benteng luar berlanjut sepanjang puncak lereng Ciliwung melewati kompleks perkantoran PAM, lalu menyiang jalan Raya Pajajaran, pada perbatasan kota, membelok lurus ke barat daya menembus jalan Siliwangi, di sini dahulu terdapat gerbang, terus memanjang sampai Kampung Lawang Gintung.

Di Kampung Lawang Gintung, benteng ini bersambung dengan benteng alam yaitu puncak tebing Cipaku yang curam sampai di lokasi Stasiun Kereta Api Batutulis. Dari sini, batas Kota Pakuan membentang sepanjang jalur rel kereta api sampai di tebing Cipakancilan setelah melewati lokasi Jembatan Bondongan. Tebing Cipakancilan memisahkan ujung benteng dengan benteng pada tebing Kampung Cincaw.(***)

 

KEMBALI KE PAKUAN

Wastu Kancana wafat pada tahun 1475. Untuk menjaga keseimbangan wilayah Sunda, kerajaan dipecah dua, yakni Sunda Galuh yang berpusat di Keraton Surawisesa diperintah oleh Ningrat Kencana dengan gelar Prabu Dewa Niskala sedangkan Sunda Pakuan yang berpusat di Keraton Sri Bima diperintah oleh Sang Haliwungan dengan gelar Prabu Susuktunggal. 

Para pewaris Wastu Kancana menurut Atja dan Ekadjati (1989 : 142), sebagai berikut : 

“Setelah ayahnya wafat Prabu Susuktunggal menjadi raja di Pakuan Pajajaran yang berdiri sendiri, hingga tahun 1482 Masehi. Dengan demikian baginda berkuasa 100 tahun lamanya. Ia wafat pada usia 113 tahun”, sedangkan Dewa Niskala, didalam buku yang sama dijelaskan, bahwa : “Prabu Niskala Wastu Kancana, pada tahun 1371 menikah dengan Dewi Mayangsari, putri bungsu Prabu Suradipati (Bunisora), putri itu baru berusia 17 tahun. Salah seorang putranya ialah Sang Ningratkancana. Pada usia 23 tahun dinobatkan menjadi raja wilayah Garut dengan nama abhiseka Prabu Dewaniskala. Baginda menjadi rajamuda pada ayahnya hingga 1475 masehi”. (Iskandar – hal. 230). 

Politik keseimbangan dengan cara pembagian kekuasaan telah berhasil melakukan stabilitas wilayah Sunda, terutama ada keterwakilan unsur Galuh dengan Sunda yang di posisikan sejajar. Hubungan kekerabatan para keturunan Wastu Kancana pada generasi berikutnya semakin kuat, ditandai dengan jalinan perkawinan Jayadewata, putra Dewa Niskala dengan Kentring Manik Mayang Sunda, putri Susuktunggal. Hubungan perkawinan dilakukan juga oleh para keturunan Sang Bunisora dengan keturunan Wastu Kencana. Dua orang putra Wastu Kancana menikah dengan putri Giri Dewata alias Gedeng Kasmaya putra Sulung Bunisora yang menikah dengan Ratya Kirana puteri Ganggapermana raja daerah Cirebon Girang. Oleh karena itu Gedeng Kasmaya dapat menjadi penguasa Cirebon mewarisi tahta dari mertunya.(RPMSJB Jilik ketiga, hal 50).

 

Suksesi dan Penyatuan Wilayah

Kisah penyatuan kembali kerajaan Sunda dengan Galuh (Kawali) warisan Wastu Kancana tidak terlepas dari adanya peristiwa di Kawali. Pada masa tersebut, tahta Sunda di Kawali diwariskan kepada Dewa Niskala, dan ia di anggap ngarumpak larangan (tabu) yang berlaku di keraton Galuh. Mungkin pada waktu itu hukum adat di Sunda mengkatagorikannya pada pelanggaran moral. Padahal persoalan moralitas di wilayah Sunda Galuh mendapat sorotan yang serius, bahkan dapat mewarnai perubahan jalannya sejarah Sunda. Hal ini nampak dari kisah Smarakarya Mandiminyak (Amara) dengan Pwah Rababu, istri Sempakwaja yang membuahkan perebutan tahta Galuh. Kisah selanjutnya adalah Kisah Dewi Pangrenyep. Didalam versi cerita tradisional, seperi pantun dan babad, kisah ini diabadikan didalam lalakon Ciung Wanara. Demkian pula didalam kisah Dewa Niskala yang dianggap ngarumpak tabu keraton dengan cara menikahi putri hulanjar dan sekaligus istri larangan (Wanita terlarang).

Dari contoh kisah diatas dapat disimpulkan, bahwa keraton Galuh memiliki tradisi yang sangat menghormati moralitas, pada masa itu diatur dalam suatu bentuk etika hidup dan kenegaraan, yang disebut Purbatisti – Purbajati, bahkan memiliki sanksi yang tegas, dikucilkan dari lingkungan atau diturunkan dari tahtanya.

Keyakinan dan ketaatan Keraton Galuh demikian menjadikan suatu hal yang lumrah ketika nyusud kagirangna, karena Cikal Bakal Galuh adalah Kendan yang didirikan oleh Resi Manikmaya, resi sekaligus penguasa. Para keturunan Galuh dalam periode berikutnya menciptakan keseimbangan dengan membentuk negara Galunggung sebagai negara agama (kabataraan) yang memiliki kekuatan untuk mengontrol perilaku penguasa Galuh. Ketaatan Galuh terhadap Galunggung nampak pula ketika masa Demunawan menginisiasi Perjanjian Galuh, sehingga wajar ketika Dewa Niskala dipaksa untuk mengundurkan diri karena dianggap ngarumpak larangan. 

Penulis Carita Parahyangan dan Siksa Kandang Karesyan mendifiniskan tentang Istri larangan (istri yang terlarang untuk dinikahi oleh keluarga Galuh), pada masa itu ada tiga katagori, yakni (1) gadis atau wanita yang telah dilamar dan lamarannya diterima, gadis atau wanita terlarang bagi pria lain untuk meminang dan mengganggu, (2) Wanita yang berasal dari Tanah Jawa, terlarang dikawin oleh pria Sunda dan larangan tersebut dilatar belakangi peristiwa Bubat, dan (3) ibu tiri yang tidak boleh dinikahi oleh pria yang ayahnya pernah menikahi wanita tersebut. (Ekadjati – 2005 : hal.196). Kecuali istri larangan dalam katagori (1) dan (3) sampai saat ini masih diyakini masyarakat sebagai sesuatu yang harus dihindari, sedangkan yang temasuk katagori (2) sudah sangat luntur, bahkan didalam hukum negara saat ini perkawinan antar bangsa, antar suku dan antar agama bukan lagi merupakan sesuatu yang tabu.

Peristiwa Dewa Niskala didalam sejarah resmi sangat terkait pula dengan eksodusnya keluarga Keraton Majapahit ke Kawali, pasca huru hara di Majapahit yang menjatuhkan Brawijaya V. Pada masa tersebut Majapahit mendapat serangan beruntun dari Demak dan Girindrawardana. Keluarga keraton Majapahit mengungsi ke Pasuruan, Blambangan dan Supit Udang, namun tak kurang pula yang mengungsi ke Kawali disebelah barat Majapahit.

Kisah pelarian keluarga keraton Majapahit yang menuju wilayah Galuh tiba di Kawali. Mereka dipimpin oleh Raden Baribin, saudara seayah Prabu Kretabhumi. Mereka disambut dengan senang hati oleh Dewa Niskala. Raden Baribin kemudian di jodohkan dengan Ratu Ayu Kirana, putri Prabu Dewa Niskala. Namun Dewa Niskala dianggap ‘ngarumpak larangan’ karena menikahi seorang rara hulanjar dan istri larangan (wanita terlarang) dari salah satu rombongan para pengungsi. Rara hulanjar sebutan untuk wanita yang telah bertunangan. Masalah hulanjar sama halnya dengan aturan di Majapahit, yakni perempuan yang masih bertunangan dan telah menerima Panglarang, tidak boleh diperistri kecuali tunangannya telah meninggal dunia atau membatalkan pertunangannya.

Pernikahan Dewa Niskala dengan hulanjar atau istri larangan, serta akibat dari perbuatannya diabadikan oleh penulis Carita Parahyangan, sebagai berikut :

 

Diganti ku Tohaan Galuh, enya eta nu hilang di Gunung tiga. Lawasna jadi ratu tujuh taun, lantaran salah tindak bogoh ka awewe larangan ti kaluaran.

Hal yang sama dituliskan pula di dalam Pustaka Pararatwan i Bhumi Jawadwipa parwa 1 sarga 3, sebagai berikut :

• //sang ningrat kancana / a-

• Thawa prabhu dewa niskala/

• Madeg ratu ghaluh pakwan

• Ing (1397-1404) ikang ca-

• Kakala//lawasnya/pitung warca/

• Mapan sira kawilang sang sa-

• Lah mastri lawan wanodya

• Sakeng wilwatikta/

(Sang Ningrat Kancana atau Prabu Dewa Niskala, menjadi ratu Galuh Pakuan pada tahun 13897-1404. Lamanya 7 tahun. Karena ia terhitung bersalah memperistri gadis [hulanjar] dari Majapahit) [Yoseph Iskandar – hal 321].

Prabu Susuktunggal merasa bahwa keraton Surawisesa telah dinodai, sehingga mengancam untuk memutuskan segala hubungan kekerabatan dengan Galuh. Ancaman demikian tidak berakibat menakutkan jika disampaikan oleh kerabat biasa, namun lain halnya jika disampaikan oleh seorang raja Sunda yang sederajat dengan Dewa Niskala, sehingga wajar jika kemudian terjadi ketegangan.

Prabu Susuktunggal didalam kisah dan versi lain memang tak ada ‘cawadeun’, bahkan penulis Carita Parahyangan memiliki kesan yang sangat baik, ia mencatatkan sebagai berikut :

Enya kieu, mimiti Sang Resi Guru boga anak Sang Haliwungan, nya eta Sang Susuktunggal nu ngomean pakwan reujeung Sanghiang Huluwesi, nu nyaeuran Sanghiang Rancamaya. / Tina Sanghiang Rancamaya aya nu kaluar. / “Ngaran kula Sang Udubasu, Sang Pulunggana, Sang Surugana, ratu hiang banaspati.” / Sang Susuktunggal, enya eta nu nyieun pangcalikan Sriman Sriwacana Sri Baduga Maharajadiraja, ratu pakwan Pajajaran. Nu kagungan kadaton Sri bima – untarayana madura – suradipati, nya eta pakwan Sanghiang Sri Ratudewata. / Titinggal Sang Susuktunggal, anu diwariskeunana tanah suci, tanah hade, minangka bukti raja utama. / Lilana ngadeg ratu saratus taun.

Ketegangan diantara kedua keturunan Wastu Kancana itu berakhir ketika para pemuka kerajaan mendesak keduanya untuk mengundurkan diri. Sebagai bentuk kompromi keduanya harus menyerahkan tahtanya kepada Jayadewata, yakni putra Dewa Niskala dan sekaligus menantu Susuktunggal. Pada masa itu Jayadewata telah menduduki jabatan sebagai Putra Mahkota Galuh, sedangkan di Sunda diangkat sebagai Prabu Anom.

Adnya peristiwa tersebut mengandung hikmah yang cukup besar, karena peristiwa ini maka pada tahun 1482 M kerajaan Sunda warisan Wastu Kencana bersatu kembali dibawah pemerintahan Jayadewata, cucunya, dengan sebutan Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi.

 

Dari Kawali ke Pakuan.

Jayadewata pasca dinobatkan sebagai raja Sunda kemudian mengalihkan pusat pemerintahannya dari Kawali ke Pakuan. Sumber utama tentang masalah ini ditegaskan didalam prasasti Kabantenan dan Batutulis Bogor.

Saleh Danasasmita (1981-1984) menterjemaahkan Prasasti Bogor, sebagai berikut :

OO wang na pun ini sakakala, prebu ratu purane pun, diwastu / diya wingaran prebu guru dewataprana diwastu diyadingan sri / baduga maharaja ratu haji pakwan pajajaran sri sang ratu de- / wata pun ya nu nyusuk na pakwan diya anak rahyang dewa nis- / kala sa(ng) sidamoka di gunatiga, i(n)cu rahyang niskala wastu / ka(n)cana sa(ng) sidamoka ka nusa larang, ya siya nu nyiyan sakaka- / ia gugunungan ngabalay nyiyan samida, nyiyan sanghayang talaga / rena mahawijaya, ya siya pun OO i saka, pan- / dawa (m) bumi OO [Semoga selamat. Ini tanda peringatan bagi prabu ratu suwargi. Ia dinobatkan dengan gelar Prabuguru Dewataprana; dinobatkan (lagi) ia dengan gelar Sri Baduga Maharaja ratu penguasa di Pakuan Pajajaran Sri Ratu Dewata. Dialah yang membuat parit (pertahanan) di Pakuan. Dia anak Rahiyang Dewata Niskala yang mendiang ke Nusalarang. Dialah yang membuat tanda peringatan berupa gunung-gunungan, mengeraskan jalan dengan batu, membuat (hutan) samida, membuat telaga Rena Mahawijaya, Ya dialah (yang membuat semua itu). (Dibuat dalam (tahun) 1455.].

Jika dicermati dari Prasasti Bogor, Jayadewata diistrenan sebagai raja Sunda dua kali, yakni di Kawali dengan gelar Prabuguru Dewataprana dan di Pakuan dengan gelar Sri Baduga Maharaja. Berita yang sama di muat dalam naskah Pustaka Negara Kretabhumi parwa 1 sarga 4 halaman 47, sebagai berikut :

Raja Pajajaran winstwan ngaran Prabhuguru Dewata prana muwah winastwan ngaran Cribaduga Maharaja Ratuhaji ing Pakwan Pajajaran Cri Sang Ratu Dewata putra ning Rahiyang Dewa Niskala Wastu Kencana. Rahyang Niskala Wastu Kancana putra ning Prabhu Maharaja Linggabhuanawicesa. [Raja Pajajaran dinobat kan dengan gelar Prabhuguru Dewataprana dan dinobat kan lagi dengan gelar Sri Baguga Maharaja Ratuhaji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata, putra rahiyang Niskala Wastu Kancana. Rahiyang Niskala Wastu Kancana putra Prabu Maharaja Linggabuanawisesa]. (Iskandar, hal. 226).

Dari dua kali peristiwa pengangkatan Jayadewata tentu membuahkan tandatanya, namun dapat terjawabkan jika diketahui bahwa Jayadewata sebelum diistrenan jadi raja Sunda ia menyandang gelar (jabatan) Putra mahkota (rajaputra) di Galuh dan Prabu Anom di Pakuan. Gelar putra mahkota karena memang ia putra dari Dewa Niskala sedangkan Prabu Anom karena ia menikah dengan rajaputri Pakuan, putrinya Prabu Susuktunggal, yakni Kentring Manik Mayang Sunda.

Kisah pengangkatan di dua kerajaan tersebut adalah suatu bentuk kompromi yang tekait dengan ketegangan penguasa Galuh dengan Sunda. Hal tersebut diinisiasikan oleh para pemuka kerajaan untuk menjaga harmoni antara Galuh dengan Sunda. Kisah pelantikan Jayadewata di abadikan dalam Carita Ratu Pakuan yang disusun oleh Kai Raga dari Srimanganti (Cikuray).

Alasan pemindahan ibukota Sunda ke Pakuan sampai sekarang belum banyak di kupas secara khusus, padahal Jayadewata lebih kental berdarah Kawali, karena ia putra Dewa Niskala. Namun alasan pemindahan pusat pemerintahan ke Pakuan diuraikan didalam beberapa versi, yakni Pertama karena Jayadewata telah sering tinggal di Pakuan untuk mewakili mertuanya, sehingga ia lebih familier melaksanakan tugas pemerintahannya dari Pakuan. Kedua adanya upaya Jayadewata untuk lebih mengakrabkan dirinya dengan kerabat Pakuan, yakni dari pihak mertuanya. Ketiga Susuktunggal dianggap jauh lebih berwibawa dibandingkan Dewa Niskala dan lebih dihargai oleh masyarakat Sunda. Keempat perkembangan kota Pakuan pada masa itu dianggap lebih maju dibandingkan Kawali. Sama halnya ketika masyarakat memilih Sunda untuk menyebutkan gabungan entitas Sunda dengan Galuh.

Jayadewata bertahta memerintah wilayah kerajaan Sunda (Galuh dan Sunda, kemudian disebut Pajajaran) pada tahun 1404 sampai dengan 1443 saka, atau pada tahun 1482 sampai dengan 1521 masehi. Pajajaran dimasa pemerintahannya mencapai puncaknya. Menurut penulis Carita Parahyangan : “disebabkan (Sri Baduga Maharaja) melaksanakan pemerintahannya berdasarkan purbatisti purbajati, (sehingga) tidak pernah kedatangan musuh kuat atau musuh halus. Tentram disebelah utara, selatan, barat dan timur”. Cag Heula. (***)

 

SRI BADUGA MAHARAJA

Jayadewata bertahta memerintah wilayah kerajaan Pajajaran pada tahun 1404 sampai dengan 1443 saka, atau pada tahun 1482 sampai dengan 1521 masehi, jika mengacu kedalam tulisan Amir Sutaarga sejak tahun 1474 – 1513 masehi. Hal tersebut ia cantumkan dalam tulisannya, tentang Prabu Siliwangi atau Ratu Purana Prebu Guru Dewataprana Sri Baduga Maharaja Taru Haji Di Pakwan Pajajaran 1474 – 1513.

Jayadewata sebelum bertahta sebagai raja Pajajaran ia menyandang predikat Putra Mahkota di Kawali dan Prabu Anom di Pakuan, karena ia putra raja Sunda Kawali (Dewa Niskala), dan sekaligus menantu raja Sunda Pakuan (Prabu Susuktunggal).

Didalam Babad Tanah Jawi dijelaskan :

ing tahun 1433 Sang Ratu Dewa iya Raja Purana, ngadegake kutha anyar aran Pakuan. Karajan iki aran Pajajaran. Tulisan kang ana ing watu kono nerangake manawa Sang Prabu yasa segaran. Pajajaran semune krajan rada gedhe lan ngerehake Cirebon barang.

Penulis Carita Parahyangan menujukan keberadaan sebagai pengganti Wastu Kancana. Kisah tersebut menyebutkan pula tentang eksistensinya, sebagai berikut :

Diganti ku Prebu, putra raja pituin, nya eta Sang Ratu Rajadewata, nu hilang di Rancamaya, lilana jadi ratu tilu puluh salapan taun. / Ku lantaran ngajalankeun pamarentahanana ngukuhan purbatisti purbajati, mana henteu kadatangan boh ku musuh badag, boh ku musuh lemes. Tengtrem ayem Beulah Kaler, Kidul, Kulon jeung Wetan, lantaran rasa aman.

Jayadewata memiliki banyak gelar, diantaranya gelar Sri Baduga Maharaja Ratu (H)aji di Pakwan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata. Di Jawa Barat Sri Baduga lebih dikenal dengan nama Prabu Siliwangi. Menurut Pangeran Wangsakerta, : hanya orang Sunda dan orang Cirebon serta semua orang Jawa Barat yang menyebut Prabu Siliwangi raja Pajajaran. Jadi nama itu bukan nama pribadinya.

“Kawalya ta wwang Sunda lawan ika wwang Carbon mwang sakweh ira wwang Jawa Kulwan anyebuta Prabhu Siliwangi raja Pajajaran. Dadyeka dudu ngaran swaraga nira”.

Pemberian nama Siliwangi menurut tradisi lama dikarenakan orang segan (teu wasa) atau tidak sopan (belegug) menyebut nama raja yang dihormatinya sesuai dengan nama sesungguhnya, sehingga juru pantun mempopulerkan sebutan Siliwangi. Nama Siliwangi selanjutnya dikenal pula sebagai tokoh sastra, seperti yang tercatat dalam kropak 630 sebagai lakon pantun, ditulis pada tahun 1518 ketika Sri Baduga masih hidup.

Kisah Prabu Siliwangi dalam berbagai versinya berintikan kisah perjalanan Pamanahrasa atau Siliwangi menjadi raja di Pakuan. Namun memang ada beberapa hal yang perlu ditafsirkan mengingat sangat syarat dengan simbol-simbol, seperti penyebutan Sumedang Larang sebagai muasalnya dan menempatkan Anggalarang sebagai raja di Sumedang Larang.

Alasan lain tentang penyebutan Siliwangi menurut Wangsakerta karena dalam hal kekuasaan ia setingkat dengan Prabu Wangi (Linggabuana) dan Prabu Wangisuta (Wastu Kancana). Di dalam naskah Kertabahumi 1/5 h. 22/23 ditegaskan, :

“Cri Baduga Maharaja atyantakaweh yasa nira ring nagara Sunda. Swabhawa Matangyan sira pramanaran Prabu Ciliwangi mapan sira sumilihaken kacakrawrtyan Sang Prabhu Wangi ya ta sang mokteng Bubat lawan Sang Prabhu Wangisuta ya ta sang mokteng Nusalarang”

(Sri Baduga Maharaja sangat banyak jasanya terhadap negeri Sunda. Kekuasaanya seolah-olah tidak berbeda dengan Sang Prabu Maharaja yang gugur di Bubat. Itulah sebabnya ia digelari Prabu Siliwangi karena menggantikan pemerintahan Sang Prabu Wangi yaitu yang gugur di Bubat dan Sang Prabu Wangisuta yaitu mendiang di Nusa Larang) [RPMSJB, Jilid Keempat, h. 3]

 

Tokoh Cerita Sastra

Jayadewata dalam kapasitasnya sebagai Siliwangi dikenal melalui cerita sastra, baik melalui nyanyian anak-anak yang lengkap dengan kejayaannya di Pajajajaran maupun dalam sirsilah keluarga menak, cerita babad, pantun dan wawacan. Kisah dan kebesaran Siliwangi didalam cerita ini terkenal jauh sebelum ditemukannya prasasti Batu Tulis dan Kebantenan, sehingga penfsiran bahwa sejarah Sunda merupakan rekaan Belanda menjadi tidak beralasan.

Menurut Holle (1867 : 457), didalam naskah kuna yang bernama Siksa Kandang Karesyan menyebutkan beberapa caerita pantun, yaitu Angga Larang, Babakcatra, Siliwangi dan Haturwangi. Naskah ini diberi candra sangkala nora catur sagara wulan atau sama dengan angka 1440 Saka atau tahun 1518 masehi. (Sutaarga, 1966 : 15). Naskah dan candra sangkala ini menunjukan, penokohan Siliwangi sudah dilakukan ketika masa Siliwangi masih jumeneng. Namun sayangnya, cerita-cerita pantun yang judulnya tercantum dalam naskah Siksa Kandang Karesyan tersebut saat ini tidak lagi ditemukan, kecuali hanya berupa cerita Pantun, itu pun hampir punah ditelan jaman.

Tentang biografi Siliwangi sampai saat ini baru ditemukan beberapa naskah yang disimpan di Museum Pusat – Jakarta yang ditulis pada pertengahan abad 19, yakni Babad Pajajaran lima jilid yang ditulis dalam bahasa dan tulisan jawa dari pertengahan abad 19 dan naskah Ceritera Prabu Anggalarang yang ditulis dalam bahasa latin, berasal dari Ciamis.

Amir Sutaarga (1966 : 17) secara singkat menguraikan tentang wawacan dan naskah-naskah tersebut, namun tidak dapat ditampilkan dalam bahasan ini, mengingat pada panjangnya tulisan tersebut. Judul tulisan yang tertera dalam buku itu berjudul (1) Ceritera Prabu Anggalarang ; (2) Babad Siliwangi ; (3) Babad Pajajaran dan (4) Wawacan Cariosan Prabu Siliwangi. (ibid, hal 22).

Kesejarahan Siliwangi dari Ceritra, Wawacan dan Babad dapat disimpulkan, sebagai berikut : (1) Prabu Siliwangi putra Prabu Wangi atau Prabu Anggalarang (2) Prabu Siliwangi telah mengalami kisah hidup dan keprihatinan (3) Prabu Siliwangu dianggap berparas elok dan berwatak baik (4) Prabu Siliwangi banyak melakukan peperangan dan perkawinan politis sehingga dapat mengkonsolidasikan Pajajaran (5) Prabu Siliwangi tidak menggantikan langsung Prabu Anggalarang, melainkan melalui kepala pemerintahan perantara [mungkin juga istilahnya raja panyelang] (6) Prabu Siliwangi didalam wawacan Sulanjana dijadikan mitos padi dan lambang kesuburan di Sunda.

Penyusunan naskah babad, wawacan dan karya sastra yang dibuat pada jaman dan daerah yang berbeda tentunya juga akan sangat berpengaruh terhadap munculnya perbedaan dalam menyusun sirsilah Siliwangi. Seperti nampak perbedaan sirsilah yang dimuat dalam Babad Pajajaran dan Babad Galuh. Tidak heran jika dikemudian hari muncul perdebatan tentang siapa Siliwang tersebut, bahkan sulit dibedakan antara Prabu Wangi ; Prabu Wangisuta ; dan Prabu Siliwangi sendiri.

Banyak para menak jaman baheula yang menyusun sirsilah keluarganya dengan mengaitkan nama Siliwangi. Hal ini mudah di pahami mengingat Siliwangi memiliki banyak keturunan, dari istri-istri putri para penguasa daerah. Selain hal tersebut, terutama hubungannya dengan masalah politik, pada jaman Belanda siapapun yang dapat menjadi penguasa daerah (bupati) di tatar Sunda haruslah berdarah biru, keturunan menak Pajajaran, alias keturunan Prabu Siliwangi. Salah satu contoh sirsilah ini dimuat didalam Kropak 421, salah satu cuplikannya, sebagai berikut :

Punika Prabu Siliwangi, Puputra Mundingsari Ageung, / Puputra Mundingsari Leutik, / Puputra Raden Panglurah, / Puputra Sunan Dampal, / Puputra Sunan Genteng, / Puputra Wanaperih, / Puputra Sunan Ciptarengga, / Puputra Satonga Asta, / Puputra Eyang Wargasita / Saderekna Ki Enjot Nayawangsa, / Ki Entol Panji, / Sadulurna Nyi Asta, / Ki Dipati Talaga, / Ki Arya Saringringan, / Ki Mas Yudamardawa, / Ki Mas Badapati, / Ki Mas Wangsakusumah / ……. (Sudarsa dan Edi : 2006).

Sirsilah Prabu Siliwangi saat ini banyak merujuk dan menggabungkan pada naskah Carita Parahyangan ; Pararathon (Brandes 1920 : 36-37) dan Sejarah Banten (Djajadiningrat 1913 : 90 dan 1318). Ketiga naskah tersebut bertolak dari masa perang bubat (1279 saka/1357M) sampai dengan burakna Pajajaran (1501 saka/1579 M). Sirsilah tersebut telah beberapa kali di uji coba melalui cara membandingkan dengan prasasti yang ditemukan. Menurut Amir Sutaarga (1966), sirsilah tersebut, sebagai berikut :

1    1350 – 1357   Prabu Maharaja

2    1357 – 1363   Masa Peralihan Hyang Bunisora

3    1363 – 1467   Prabu Niskala Wastu Kancana

4    1467 – 1474   Rahiyang Dewa Niskala

5    1474 – 1513   Sri Baduga Maharaja

6    1513 – 1527   Prabu Surawisesa

7    1527 – 1535   Prabu Ratu Dewata

8    1535 – 1543   Sang Ratu Saksi

9    1543 – 1559   Prabu Ratu Carita

10  1559 – 1579   Nu Sia Mulya atau Prabu Seda

 

Memindahkan Ibukota

Jayadewata sampai pada tahun 1482 masih memusatkan kegiatan pemerintahannya di Kawali. Bisa disebut bahwa tahun 1333 – 1482 adalah Jaman Sunda Kawali, selanjutnya pemerintahan di pindahkan ke Pakuan, bertepatan dengan diistrenannya Jayadewata sebagai raja Sunda di Pakuan.

Khusus kekuasaannya di Pakuan, jika mengacu kedalam tulisan Amir Sutaarga sejak tahun 1474 – 1513 masehi. Hal tersebut ia cantumkan dalam tulisannya, tentang Prabu Siliwangi atau Ratu Purana Prebu Guru Dewataprana Sri Baduga Maharaja Taru Haji Di Pakwan Pajajaran 1474 – 1513.

Pajajaran pada masa Jayadewata memiliki luas melebihi luas jawa barat sekarang. Menurut naskah Bujangga Manik sampai ke tungtung Sunda (Tegal, Cipamali) dan daerah Banyumas (Pasir Luhur) atau bekas kerajaan Pasir.

Pada masa itu Raden Banyakcatra, atau Kamandaka, putra Siliwangi diangkat mantu oleh raja Pasir dan menurunkan raja-raja Pasir. Hal ini dapat dibuktikan dari babad Pasir (Kenbel, 1900), namun sekarang nama-nama yang berkonotasi Sunda sudah mulai berubah, dan berangsur-angsur diganti dengan kata-kata Jawa.

Dalam prasasti Batutulis diberitakan bahwa Sri Baduga dinobatkan dua kali. Penobatan yang pertama dilakukan ketika menerima Tahta Galuh dari ayahnya, Prabu Dewa Niskala, kemudian bergelar Prabu Guru Dewataprana, kedua ketika ia menerima tahta Kerajaan Sunda dari mertuanya, Prabu Susuktunggal. Adanya peristiwa demikian menyebabkan ia secara praktis menguasai seluruh tatar Sunda dan dinobatkan dengar gelar Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata.

Urang Sunda sering pacaruk untuk membedakan Prabu Siliwangi dengan Prabu Wangi atau Prabu Maharaja Lingga Buana yang gugur di Bubat. Urang Sunda tidak memperhatikan perbedaan ini sehingga menganggap Prabu Siliwangi sebagai putera Wastu Kancana.

Di dalam Carita Parahiyangan disebutkan bahwa Niskala Wastu Kancana itu adalah ‘seuweu’ Prabu Wangi atau putra Prabu Wangi, sedangkan Sri Baduga atau Siliwangi adalah putra Wastu Kancana. Mengapa Dewa Niskala, ayah Sri Baduga dilewati ?. Padahal ia pun dikisahkan di dalamnya. Hal ini dikarenakan Dewa Niskala hanya menjadi penguasa Galuh, sedangkan Sri Baduga memiliki kekuasaan yang sama dengan Wastu Kancana, dengan demikian maka Sri Baduga dianggap sebagai penerus langsung dari tahta Wastu Kancana.

Alasan diatas dikemukakan juga di dalam Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara II/4, bahwa : ayah dan mertua Sri Baduga (Dewa Niskala dan Susuktunggal) hanya bergelar Prabu, sedangkan Jayadewata bergelar Maharaja, sama seperti kakeknya, Wastu Kancana sebagai penguasa Sunda-Galuh.

Didalam membahas tentang Prabu Siliwangi Amir Sutaarga (1965) mengutarakan, Sri Baduga dianggap sebagai “silih” (pengganti) Prabu Wangi Wastu Kancana (oleh Pangeran Wangsakerta disebut Prabu Wangisutah). “Silih” dalam pengertian kekuasaan ini oleh para pujangga babad yang kemudian ditanggapi sebagai pergantian generasi langsung dari ayah kepada anak sehingga Prabu Siliwangi dianggap putera Wastu Kancana.

Pada masa pemerintahan Sri Baduga kerajaan Pajajaran mencapai masa keemasan. Penulis Carita Parahyangan menjelaskan sebab-sebabnya, yakni :

“Purbatisi purbajati, mana mo kadatangan ku musuh ganal musuh alit. Suka kreta tang lor kidul kulon wetan kena kreta rasa. Tan kreta ja lakibi dina urang reya, ja loba di sanghiyang siksa” (disebabkan melaksanakan pemerintahan yang berdasarkan purbatisti purbajati, tidak pernah kedatangan musuh kuat atau musuh halus. Tentram disebelah utara, selatan, barat dan timur).

Tentang Sri Baduga didapatkan pula berita dari naskah luar, seperti yang dicatat oleh Tome Pires yang ikut dalam perjanjian antara Pajajaran dengan Portugis. Ia mencatat kemajuan jaman Sri Baduga dengan komentar : “The Kingdom of Sunda is justly governed; they are true men” (Kerajaan Sunda diperintah dengan adil; mereka adalah orang-orang jujur). Juga diberitakan kegiatan perdagangan Sunda dengan Malaka sampai ke kepulauan Maladewa (Maladiven). Jumlah merica bisa mencapai 1000 bahar (1 bahar = 3 pikul) setahun, bahkan hasil tammarin (asem) dikatakannya cukup untuk mengisi muatan 1000 kapal.

Selain laporan tersebut, didalam Naskah Kitab Waruga Jagat dari Sumedang dan Pancakaki Masalah Karuhun Kabeh dari Ciamis yang ditulis dalam abad ke-18, ditulis dalam bahasa Jawa dan huruf Arab, pegon masih menyebut masa pemerintahan Sri Baduga ini dengan masa Gemuh Pakuan (kemakmuran Pakuan) sehingga tak mengherankan bila Sri Baduga diabadikan kebesarannya oleh para penggantinya dan rakyat Sunda dari masa kemasa.

Tentang kesuburan Pajajaran pada masa Siliwangi dilantunkan Ki Baju Rombeng seorang Juru Pantun dari Bogor Selatan, yang hidup pada awal ke 20 menuturkan :

Talang tulung keur Pajajaran / jaman aya keneh kuwarabekti / jaman guru bumi di pusti-pusti / jaman leuit tangtu eusina metu / euweuh nu tani mudu ngijon / euweuh nu tani nandonkeun karang / euweuh nu tan paeh ku jengkel / euweuh nu tani modar ku lapar.

(masih mending waktu Pajajaran / ketika masih ada kuwarabekti / ketika guru bumi dipuja-puja / ketika lumbung padi melimpah ruah / tiada petani perlu mengijon / tiada petani harus mati kelaparan / tiada petani harus mati karena kesal / tiada hatus petani mati karena lapar). (***)

 

KEJAYAAN PAKUAN

Pajajaran pada masa pemerintahan Sri Baduga Maharaja mengalami masa keemasan. Alasan ini pula yang banyak diingat dan dituturkan masyarakat Jawa Barat, seolah-olah Sri Baduga atau Siliwangi adalah raja yang tak pernah purna, senantiasa hidup abadi dihati dan pikiran masyarakat.

Pembangunan Pajajaran di masa Sri Baduga menyangkut seluruh aspek kehidupan. Tentang pembangunan spiritual dikisahkan dalam Carita Parahyangan, yakni menjalankan nilai-nilai Purbatisti – Purbajati.

“Purbatisi purbajati, mana mo kadatangan ku musuh ganal musuh alit. Suka kreta tang lor kidul kulon wetan kena kreta rasa. Tan kreta ja lakibi dina urang reya, ja loba di sanghiyang siksa”.

Hal ini sejalan dengan tulisan Tome Pires didalam The Suma Oriental, tentang The Kingdom of Sunda is justly geverned – Raja Sunda memerintah secara adil.

Mahakarya dari Sri Baduga diuraikan pula di dalam naskah Pustaka Kertabumi I/2. Naskah versi Cirebon ini menyebutkan, bahwa :

Sang Maharaja membuat karya besar, yaitu ; membuat talaga besar yang bernama Maharena Wijaya, membuat jalan yang menuju ke ibukota Pakuan dan Wanagiri. Ia memperteguh (pertahanan) ibu kota, memberikan desa perdikan kepada semua pendeta dan pengikutnya untuk menggairahkan kegiatan agama yang menjadi penuntun kehidupan rakyat. Kemudian membuat Kabinihajian (kaputren), kesatriaan (asrama prajurit), pagelaran (bermacam-macam formasi tempur), pamingtonan (tempat pertunjukan), memperkuat angkatan perang, mengatur pemungutan upeti dari raja-raja bawahan dan menyusun undang-undang kerajaan. (RPMSJB, Jilid keempat, hal. 9).

Pembangunan yang bersifat material tersebut terlacak pula didalam Prasasti Kabantenan dan Batutulis, di kisahkan para Juru Pantun dan penulis Babad, saat ini masih bisa terjejaki, namun tak kurang yang musnah termakan jaman.

Dari kedua Prasasti serta Cerita Pantun dan Kisah-kisah Babad tersebut diketahui bahwa Sri Baduga telah memerintahkan untuk membuat wilayah perdikan ; membuat Talaga Maharena Wijaya ; memperteguh ibu kota ; membuat Kabinihajian, kesatriaan, pagelaran, pamingtonan, memperkuat angkatan perang, mengatur pemungutan upeti dari raja-raja bawahan dan menyusun undang-undang kerajaan.

 

Pendidikan

Pembangunan yang berhubungan dengan Pendidikan pada dasarnya memadukan pembangunan watak (jati diri) dan kesejahteraan umum. Hal ini dituliskan di dalam Prasasti Kabantenan yang dibuat atas perintah langsung Sri Baduga. Saat ini baru ditemukan 4 buah keputusan yang tertera didalam 5 lempeng tembaga. Keputusan tersebut menyangkut masalah penentuan batas Kabuyutan dan pembebasan pajak (RPMSJB, Jilid keempat, hal. 4).

Menurut Holle, isi ringkasnya dapat diutarakan sebagai berikut :

Prasasti 1 Penetapan batas lemah dasawasasana (tanah kabuyutan) di Sundasembawa

Prasasti 3–4 Penetapan batas dayeuh Jayagiri dan dayeuh Sunda Sembawa dan keputusan pembebasan pajak ;

Prasasti 5 Pengukuhan status lemah dasawasasana di Sunda Sembawa.

Prasasti 1, 2 dan 5 berupa piteket (keputusan langsung), sedangkan Prasasti 3 dan 4 berisi tentang sakakala (tanda peringatan). Khusus untuk Prasasti 3, 4, 5 akan dibahas tersendiri mengingat para akhli menganggap prasasti ini mencerminkan tentang kepribadian Sri Baduga.

Prasasti 3 dan 4 menjelaskan :

//o// ong awignamastu, nihan sakakala ; rahyang nikala wastu kancana pun, turunka rahyang ningrat kancana, maka nguni ka susuhunan ayeuna di pakuan pajajaran pun mulah mo mihape

Dayeuhan di jayagiri, deung dayeuhan di su(n)da sembawa, aya ma nu ngabayuan inya, ulah dek ngaheuryan inya, ku na dasa, calagara, kapas timbang, pare dondang, mang(k)a ditudi(ng) ka para muhara, mulah dek men –

Taan inya beya pun, kena inya nu purah ngabuhaya, mibuhayakeunna ka caritaan pun, nu pageuh ngawakan na dewasanana //o//

Terjemaahan :

Semoga selamat. Ini tanda peringatan bagi Rahyang niskala Wastu Kancana. Turun kepada Rahyang Ningrat Kancana, maka selanjutnya kepada Susuhunan sekarang di Pakuan Pajajaran. Menitipkan ibukota di Jayagiri dan ibukota di Sunda Sembawa. Semoga ada yang mengurusnya. Jangan memberatkannya dengan dasa, calagra, kapas timbang, dan pare dongdang. Maka diperintahkan kepada para petugas muara agar jangan memungut bea. Karena merekalah yang selalu berbakti dan membaktikan diri kepada ajaran agama. Mereka yang teguh mengamalkan hukum-hukum dewa.

 

Prasasti 5

Ini piteket nu seba ka papajaran, miteketan ka kabuyuran di sun(n)da

sembawa, aya ma nu ngabayuan, mulah aya numunah-munah inya nu ngaheureuyan

lamu aya nu kadeu paambahan lurah sunda sembawa eta lurah kawikwan.

Terjemahan :

Ini piagam (dari) yang pindah ke Pajajaran. Memberikan piagam kepada kabuyutan di Sunda Sembawa. Semoga ada yang mengurusnya. Jangan ada yang menghapus atau mengganggu nya. Bila ada yang bersikeras menginjaknya daerah Sunda Sembawa aku perintahkan agar di bunuh karena tempat itu daerah kediaman para pendeta.

Jika dicermati peringatan yang tertera dalam Prasasti 3 dan 4 tersebut akan nampak adanya amanat dari Wastu Kancana kepada Susuhanan Pajajaran (Sri Baduga) yang disampaikan melalui Ningrat Kancana, untuk mengurus wilayah Jayagiri dan Sunda Sembawa. Jika dihubungkan dengan Prasasti 1 akan diketahui bahwa di daerah Jayagiri dan Sunda Sembawa terdapat batas antara Kota dan Kabuyutuan. Sunda Sembawa didalam sejarah awal merupakan daerah asal Terusbawa, cikal bakal raja-raja Sunda. Di daerah tersebut pernah pula dijadikan ibukota Tarumanagara pada masa Purnawarman.

Kabuyutan atau Dawasasana dikelola oleh kelompok wiku, mereka mengurus keagamaan, kesejahteraan raja, negara dan penduduk. Wilayah para wiku di dalam prasasti 1 disebut lemah larangan, yakni daerah otonom atau semacam perdikan, dikepalai oleh Lurah Kawikwan (Kawikuan). Dalam prasasti 5 ditegaskan pula bahwa siapapun yang memasuki lemah larangan tanpa ijin akan dijatuhi hukuman mati.

Disekitar lemah larangan terdapat sangga, yaitu penduduk yang mendukung keberadaan dan ngabayuan (menghidupi) Kabuyutan. Sangga dimaksud dalam prasasti ini dimungkinkan berada di dalam wilayah Sunda Sembawa dan Jayagiri. Dengan demikian di Jayagiri dan Sunda Sembawa terdapat Lemah Rangan dan Sangga.

Sri Baduga di dalam prasasti 3 dan 4 memerintahkan agar penduduk di kedua dayeuh ini dibebaskan dari 4 macam pajak, yaitu dasa (pajak tenaga perorangan), calagra (pajak tenaga kolektif), kapas timbang (kapas 10 pikul) upeti dan pare dongdang (padi 1 gotongan). Urutan pajak tersebut didalam kropak 630 adalah dasa, calagra, upeti, dan panggeureus reuma, sedangkan petugas pajak disebut Pangurang.

Pare dongdang disebut panggeres reuma. Panggeres adalah hasil lebih atau hasil cuma-cuma tanpa usaha, sedangkan Reuma adalah bekas ladang. Memang contoh untuk panggeres reuma saat ini sudah tidak ada, yang dimaksud adalah padi yang tumbuh terlambat (turiang) di bekas ladang setelah dipanen, kemudian ditinggalkan karena petani membuka ladang baru. Didalam keyakinan masyarakat Sunda dimasa lalu, hasil tanah demikian milik lelembut, karena tidak ada yang mengurusnya, namun pelaksanaan panennya diwakilkan menjadi hak milik raja, sehingga padi yang tumbuh demkian selanjutnya menjadi hak raja atau penguasa setempat.

Dongdang adalah alat pikul seperti tempat tidur persegi empat yang diberi tali atau tangkai berlubang untuk memasukan pikulan. Dongdang harus selalu di gotong. Karena bertali atau bertangkai, waktu digotong selalu berayun sehingga disebut dongdang (berayun). Dongdang biasanya digunakan untuk membawa barang antaran pada selamatan atau arak-arakan. Oleh karena itu, pare dongdang atau penggeres reuma lebih bersifat barang antaran.

Kewajiban yang benar-benar harus ditunaikan adalah pajak tenaga atau dasa dan calagra, di Majapahit disebut walaghara atau pasukan kerja bakti. Didalam memenuhi dasa dan calagra dilakukan untuk kepentingan raja, diantaranya tugas untuk menangkap ikan, berburu, memelihara saluran air (ngikis), bekerja di ladang atau di serang ageung atau ladang kerajaan yang hasil padinya di peruntukkan bagi upacara resmi.

Sistem dasa dan calagara masih diteruskan pada masa para Bupati Belanda. Pada masa itu wilayah Jawa Barat sudah diserahkan Mataram kepada Belanda. Sedangkan kekuasaan Mataram di Jawa Barat didapatkan, karena adanya penyerahan begitu saja oleh Suradiwangsa kepada Sultan Agung, raja Sumedang Larang, pengganti Prabu Geusan Ulun. Sistim ini sebagai bentuk simbiosa mutualisma para Bupati dalam mempertahankan batas wilayah kekuasannya dengan kepentingan Belanda yang membutuhkan hasil bumi, konon wilayah Jawa Barat merupakan penghasil kopi terbaik. Padahal di negara Belanda sendiri tidak mengenal sistem semacam ini. Belanda memanfaatkan sistim ini untuk kerja rodi. Bentuk dasa diubah menjadi Heerendiensten, yakni bekerja di tanah milik penguasa atau pembesar yang memang bertujuan untuk kepentingan Belanda dan pribadi para bupati, bukan untuk kepentingan umum seperti pada masa Sri Baduga.

Disamping pajak ada pula yang disebut beya (restribusi) yang dipungut di pelabuhan, muara sungai, tempat penyebrangan dan tempat-tempat lainnya. Didalam Prasasti 3 dan 4 penduduk Sunda Sembawa dan Jayagiri dibebaskan dari seluruh pajak dan restribusi. Hal ini berkaitan dengan tugasnya untuk mengurus kabuyutan yang terletak di keua perbatasan Jayagiri dan Sunda Sembawa.

Dalam kaitan ini dapat dipahami, dengan memajukan lemah larangan atau lurah kawikwan (kawikuan), Sri Baduga memajukan pula pendidikan bagi semua kalangan melalui lembaga – lembaga binayapanti yang ada didaerah tersebut. Binayapanti yang dimaksud adalah tempat belajar atau pesantren yang ada di lemah larangan atau kabuyutan. Sama halnya dengan Kabuyutan yang dikembangkan oleh Prabu Darmasiksa dimasa lalu.

Didalam membahas Kabuyutan memang seolah-olah ada beberapa perbedaan fungsi, terutama antara Kabuyutan yang dikisahkan di Galunggung, Kanekes, Sukabumi (prasasti Cibadak) dan Sunda Sembawa. Fungsi kabuyutan Sunda Sembawa dan Jayagiri adalah Kabuyutan lemah Dawasasana yang berhubungan dengan dewa-dewa. Sedangkan Kabuyutan di Kanekes, atau Sasakadomas adalah Kabuyutan Jati Sunda atau Kabuyutan Parahyangan yang berhubungan dengan para leluhur. (RPMSJB, Jilid ke 4, hal. 6).

Masyarakat Sunda pada masa Pajajaran memiliki hirarki pemerintahan yang jelas. Hirarki tersebut merupakan satu kesatuan antara manusia dengan Hiyang, sehingga dapat diketahui juga tentang tingkatan Kabuyutan. Tingkatan tersebut, yakni : Wado tunduk kepada Mantri ; Mantri tunduk kepada Nanganan ; Nanganan tunduk kepada Mangkubumi ; Mangkubumi tunduk kepada Raja ; Raja tunduk kepada Dewa ; Dewa tunduk kepada Hyang.

 

Sumber dari Prasasti Batu Tulis

Karya Sri Baduga tercantum pula didalam Prasasti Batu tulis yang dibuat pada masa Surawisesa pada tahun 1455 saka atau 1533 masehi. Prasasti tersebut menerangkan sebagai berikut :

++ Wang na pun ini sakakala, prebu ratu purane pun, diwastu diya wingaran prebuguru dewataprana diwastu diya dingaran sri baduga maharaja ratu haji pakwan pajajaran sri sang ratu dewata pun ya nu nyusuk na pakwan diya anak rahyang dewa niskala sa(ng) sidamoksa di gunatiga i(n)cu rahyang niskala wastu ka(n)cana sa(ng) sidamokta ka nusalarang, ya siya nu nyiyan sakakala ngabalay nyiyan samida, nyiyan sanghyang talaga rena mahawijaya, ya siyapun ++ i saka. Panca pandawa e(m)bau bumi ++

Terjemahan :

Semoga selamat. Ini tanda peringatan bagi prabu ratu suwargi. Ia dinobatkan dengan gelar Prabuguru Dewataprana ; dinobatkan (lagi) ia dengan gelar Sri Baduga Maharaja ratu penguasa di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata. Dialah yang membuat parit (pertahanan) di Pakuan. Dia anak Rahiyang Dewa Niskala yang mendiang di Gunatiga, cucu Rahiyang Niskala Wastu Kancana yang mendiang di Nusalarang. / Dialah yang membuat tanda peringatan berupa gunung-gunungan, mengeraskan jalan dengan batu membuat (hutan) samida, membuat telaga Rena Mahawijaya. Ya dialah (yang membuat semua itu). / dibuat dalam tahun Saka lima pandawa pengasuh bumi (1455).

Prasasti tersebut menunjukan adanya karya Sri Baduga, yakni membuat parit pertahanan ; gunung-gunungan ; mengeraskan jalan dengan batu membuat hutan samida ; dan membuat telaga Rena Mahawijaya. Namun dakam hal ini penulis hanya akan menyajikan beberapa saja.

 

Parit Pertahanan

Arti kata nyusuk lebih sering diterjemaahkan sebagai membuat Parit. Hal yang sama dilakukan oleh Tarusbawa, Banga, Hyang Batari dan Niskala Wastu Kancana yang tercantum didalam naskah maupun prasasti (Galunggung dan Batutulis). Parit ini kelak akan dicoba ketangguhannya dalam beberapa kali menghadapi serangan Banten. Konon benteng tersebut hanya dapat dijebol setelah ada pengkhianatan yang membuka pintu benteng dari dalam.

Parit yang dibangun Sri Baduga bertujuan untuk melindungi Sri Bima. Kota Pakuan dikelilingi oleh benteng alam berupa tebing-tebing sungai yang terjal di ketiga sisinya. Hanya bagian tenggara batas kota tersebut berlahan datar. Pada bagian ini pula ditemukan sisa benteng kota yang paling besar. Penduduk Lawang Gintung yang diwawancara Pleyte menyebut sisa benteng ini Kuta Maneuh.

Hampir semua peneliti berpedoman pada laporan Kapiten Winkler yang berkunjung ke Batutulis pada tanggal 14 Juni 1690. Kunci laporan Winkler tidak pada sebuah hoff (istana) yang digunakan untuk situs prasasti, melainkan pada kata paseban dengan 7 batang beringin pada lokasi Gang Amil. Sebelum diperbaiki, Gang Amil ini memang bernuansa kuno dan pada pinggir-pinggirnya banyak ditemukan batu-batu bekas balay yang lama.

Penelitian lanjutan membuktian bahwa benteng Kota Pakuan meliputi daerah Lawang Saketeng yang pernah dipertanyakan Pleyte. Menurut Coolsma, Lawang Saketeng berarti porte brisee, bewaakte in-en uitgang (pintu gerbang lipat yang dijaga dalam dan luarnya). Kampung Lawang Saketeng tidak terletak tepat pada bekas lokasi gerbang. 

Benteng pada tempat ini terletak pada tepi Kampung Cincaw yang menurun terjal ke ujung lembah Cipakancilan, kemudian bersambung dengan tebing Gang Beton di sebelah Bioskop Rangga Gading. Setelah menyilang di jalan Suryakencana, membelok ke tenggara sejajar dengan jalan tersebut. Deretan pertokoan antara jalan Suryakencana dengan jalan Roda di bagian in sampai ke Gardu Tinggi, bekas pondasi benteng. Selanjutnya benteng tersebut mengikuti puncak lembah Ciliwung.

Deretan kios dekat simpangan jalan Siliwangi – jalan Batutulis juga didirikan pada bekas fondasi benteng. Di bagian ini benteng tersebut bertemu dengan benteng Kota Dalam yang membentang sampai ke Jero Kuta Wetan dan Dereded. Benteng luar berlanjut sepanjang puncak lereng Ciliwung melewati kompleks perkantoran PDAM, lalu menyilang jalan Raya Pajajaran, pada perbatasan kota, membelok lurus ke barat daya menembus jalan Siliwangi, di sini dahulu terdapat gerbang, terus memanjang sampai Kampung Lawang Gintung.

Di Kampung Lawang Gintung, benteng ini bersambung dengan benteng alam yaitu puncak tebing Cipaku yang curam sampai di lokasi Stasiun Kereta Api Batutulis. Dari sini, batas Kota Pakuan membentang sepanjang jalur rel kereta api sampai di tebing Cipakancilan setelah melewati lokasi Jembatan Bondongan. Tebing Cipakancilan memisahkan ujung benteng dengan benteng pada tebing Kampung Cincaw.

 

Sakakala Gugunungan

Sakakala Gugunungan dimaksud merupakan tanda peringatan berupa gunung-gunungan yang letaknya diperkirakan terdapat di Badigul Rancamaya. Bukit Badigul memperoleh namanya dari penduduk karena penampakannya yang unik. Sebelum tahun 1984 bukit tersebut hampir gersang dan berbentuk seperti parabola dan tampak seperti wajan terbalik. Bukit-bukit disekitarnya tampak subur. Badigul hanya ditumbuhi jenis rumput tertentu. Mudah diduga bukit ini dulu dikerok sampai mencapai bentuk parabola.

Badigul dimungkinan waktu itu dijadikan Bukit Punden tempat berziarah, sama dengan yang dimaksud dalam rajah Waruga Pakuan dengan Sanghiyang Padungkulan.

Kedekatan telaga (diperkirakan di Rancamaya) dengan bukit punden bukanlah tradisi baru. Pada masa Purnawarman, raja beserta para pembesar Tarumanagara selalu melakukan upacara mandi suci di Gangganadi, Setu Gangga yang terletak dalam istana Kerajaan Indraprahasta – Cirebon Girang. Setelah bermandi suci, raja melakukan ziarah ke punden-punden yang terletak dekat sungai.

 

Jalan Berbatu.

Jalan berbatuan pernah ditemukan oleh regu ekspedisi Scipio pada tahun 1687, terletakdiantara Bogor dan Rancamaya. Hal yang sama ditemukan pula oleh Winkler (1690), tidak jauh dari prasasti ditemukan jalan berbatuan yang rapi menuju kearah Paseban dan ditandai oleh tujuh pohon beringin. Disebelah jalan tersebut diperkirakan bekas berdirinya Sri Bima. (RPMSJB, Jilid keempat, hal. 8).

Menurut Sutaarga (1966), kearah Pakuan Pajajaran dibuat jalan-jalan besar yang dapat dilalui gerobak-gerobak, Beberapa kilometer kearah utara Muaraberes di kali Ciliwung dan Ciampea masih ada bekas-bekas dermaga. Posisi ini berada disebelah barat dari Pakuan. Di Kali Cisadane semestinya dapat ditemukan bekas-bekas peninggalan dermaga atau sistim pertahanan, karena kedua tempat itu merupakan batas sungai yang dapat dilayari sampai ke muara Laut Jawa, pintu gerbang menuju pedalaman.

Dari Pakuan ada sebuah jalan yang dapat melalui Cileungsi atau Cibarusa, Warunggede, Tanjungpura, Karawang, Cikao, Purwa karta, Sagalaherang, terus ske Sumedang, Tomo, Sindangkasih, Rajagaluh, Talaga Kawali dan ke pusat kerajaan Galuh Pakuan disekitar Ciamis dan Bojong Galuh. (Mungkin semacam jalan tol).

 

Samida

Samida adalah hutan yang kayunya di gunakan untuk pembakaran jenasah. Jenis kayu ini hampir sama dengan cemara dan pinus yang mudah terbakar. Hutan ini diperkirakan terletak diluar Pakuan dan berada di perbukitan. Jenis kayu demikian biasanya tumbuh didataran tinggi dan bercuaca dingin, sehingga dimungkiknkan tumbuh subur di wilayah Bogor.

 

Telaga Rena Mahawijaya

Winkler pada abad ke 17 dalam penelitiannya tidak menemukan bekas telaga tersebut, dimungkinkan telah jebol pasca serangan Banten, atau memang telah hancur karena bencana alam. Kesulitan menemukan telaga ini berakibat banyaknya dugaan-dugaan.

Pleyte menyebutkan, bahwa telaga yang dimaksud adalah kolam tua di Kotabatu, terletak lima kilo meter sebelah barat daya Pakuan. Sebelumnya ditemukan banyak patung disana, kemudian oleh Friederich dipindahkan ke kebon raya, namun luas kolam tersebut tidak memenuhi syarat jika disebutkan sebagai telaga. Pada masa sesudahnya, Poerbacaraka (1921) menyebutkan, bahwa yang dimaksud Telaga Rena Wijaya tersebut adalah Telaga Warna yang terletak di daerah puncak. Dugaan tersebut tidak beralasan, mengingat di dalam Bujangga Manik, sekitar tahun 1473 – 1478 ia pernah berhenti di dekat Talagawarna dana masih tetap utuh. Kisah Bujangga Manik tersebut menyebutkan, sebagai berikut :

Sananyjak aing ka Bangis, / Ku ngaing geus / aleumpang, / Nepi ka Talaga Hening, / Ngahusir aing ka Peusing.

Menurut Suhamir Salmun telaga ini terletak pada aliran Ciliwung. Namun para petutur Pantun mengisahkan, bahwa : “telaga yang berada pada aliran Ciliwung disebut Kamalawijaya (kamala = air), sedangkan yang berada di Rancamaya disebut Rena Wijaya. Istilah Rena Wijaya menjadi Rancamaya disebabkan lidah urang sunda yang lebih familir menyebutkan Ranca ketimbang menyebutkan Rena. Hal ini dianggap sejalan dengan naskah Carita Parahyangan, yang menyatakan Rancamaya pernah disaeuran (di bandung) oleh Sang Haluwesi, adik Susuktunggal. (RPMSJB, Jilid Keempat, hal.8) 

Menurut Amir Sutaarga (1966), danau buatan tersebut menahan air sungai Ciliwung dari Bantar Peuteuy sampai dengan Babakan Pilar. Jika dilihat dari ketinggian air mancur (tugu, pilar), dari sisi jalan raya Jakarta – Bogor (bukan dari jalan tol), kemudian turun kebawah menuruni Sungai Ciliwung, maka akan nampak adanya penyempitan pada tepi sungai ini, dan dasar pada sungai ini jatuh dibawah masih kelihatan penumpukan batu-batu kali yang besar.

Sutaarga menggambarkan keadaan tersebut setelah terinspirasi dari informasi juru pantun Bogor :

Inyana laju nindak deui / ka leuwi Kipatahunan / anu kiwari disarebutna / Sipatahunan atawa Cipatahunan / nu aya di talaga panjang / nu ngaran Talaga Kamala Rena Wijaya / anu kiwari mah ngan kari urut / nyanghulu ka Bantar Peuteuy / nunjangna ka Babakan Pilar. (ia kemudian pergi lagi / ke lubuk Kipatahunan / yang sekarang disebut orang / Sipatahunan atau Cipatahunan / yang adanya di Telaga Kemala Rena Wijaya / yang sekarang hanya tinggal bekasnya / beruhulu ke Bantar Peuteuy / ujung kakinya pada Babakan Pilar). 

Bila diteliti keadaan sawah di Rancamaya sebelum dijadikan real estate, dapat diperkirakan bahwa dulu telaga itu membentang dari hulu Cirancamaya sampai ke kaki bukit Badigul di sebelah utara jalan lama yang mengitarinya dan berseberangan dengan Kampung Bojong. Sebelum tahun 1966, di sisi utara lapang bola Rancamaya, merupakan tepi telaga yang bersambung dengan kaki bukit. 

Alasan lainnya, kedekatan Cirancamaya dengan Badigul melambangkan adanya kesatuan Sunda dengan Galuh, yakni Cirancamaya dilambangkan sebagai urang Galuh (air) sedangkan gunung Badigul dilambangkan sebagai urang Sunda (gunung). 

Sri Baduga disebut Sang Lumahing (Sang Mokteng) di Rancamaya karena ia dipusarakan di Rancamaya, sehingga Rancamaya dianggap memiliki nilai yang tersendiri. Rancamaya terletak kira-kira 7 Km di sebelah tenggara Kota Bogor. Rancamaya memiliki mata air yang sangat jernih. Tahun 1960-an di hulu Cirancamaya ini ada sebuah situs makam kuno dengan pelataran berjari-jari 7.5 m tertutup hamparan rumput halus dan dikelilingi rumpun bambu setengah lingkaran. Dekat makam itu terdapat Pohon Hampelas Badak setinggi 25 meter dan pohon beringin.

Dewasa ini seluruh situs sudah dihancurkan, bahkan sudah dirikan Real Estate. Konon surat keputusan tentang Cagar Budaya tidak mampu menahan laju pembangunan – Pre Historis, namun pernah di dalamnya ditambah sebuah kuburan baru, lalu makam kunonya diganti dengan bata pelesteran, ditambah bak kecil untuk peziarah dengan dinding yang dihiasi huruf Arab. Makam yang dikenal sebagai makam Embah Punjung ini mungkin sudah dipopulerkan orang sebagai Makam Wali, sama seperti kuburan Embah Jepra pendiri Kampung Paledang yang terdapat di Kebun Raya, disebut sebagai makam Raja Galuh. Mungkin pula sama dengan klim Gus Dur terhadap Makam leluhur Panjalu di Situ Lengkong. Jadi kapan ditatar Sunda bisa memiliki jejak ‘Karuhun’-nya.

 

Dari berita Portugis

Pada tahun 1513 Portugis mengunjungi Pajajaran dengan membawa empat kapal. Berita ini diketahui dari catatan Tome Pires yang ikut dalam rombongan tersebut. pada kesempatan ini pula Tome Pires berhasil mewawancarai beberapa pihak yang ada di Pajajaran, untuk kemudian ia bukukan didalam “The Suma Oriental”.

Dari penelitiannya Tome Pires mengetahui wilayah pelabuhan yang termasuk yuridiksi Pajajaran. Ia menyebutkan Banten, Pontang, Cigede, (muara Cidurian), Tamgara (muara Cisadane), Kalapa, Karawang dan Cimanuk, sedangkan Cirebon pada waktu itu telah memisahkan diri. Tapi Pires hanya menyebutkan, bahwa Cirebon termasuk wilayah Demak. Untuk kemudian ia membahas Cirebon dalam babnya tentang Jawa.

Dayo (dayeuh) di istilahkan untuk menyebut ibukota yang terletak sejauh dua hari perjalanan dari pelabuhan Kalapa. Rumah-rumah di Pakuan indah-indah dan besar, terbuat dari kayu palem, sedangkan istana raja (Sri Bima) dikelilingi oleh 330 pilar, masing-masing sebesar tong anggur yang tinggi + 9 meter dan dihiasi berbagai macam ukiran pada puncaknya.

Menurut RPMSJB (1983-1984), Pires menyebutkan Sunda sebagai negeri ksatria dan pahlawan laut. Para pelaut Sunda berlayar keseganap pelosok negeri sampai ke Maladewa. Komoditi perdagangan yang terpenting adalah beras (10 jung pertahun), lada (1.000 bahar setahun), kain tenun (diekspor ke Malaka). Demikian pula sayuran dan daging sampai melimpah, bahkan tamarin (asam) cukup untuk dimuat dalam seribu kapal. (Jilid keempat, hal 10).

Pajajaran telah mengenal alat tukar, berupa uang emas dan kepeng. Pajajaran juga sebagai importir tekstil halus dari Cambay dan kuda Pariaman yang mencapai 4.000 ekor setahun. Kuda tersebut digunakan sebagai alat pengangkutan, angkatan perang dan berburu yang merupakan olah raga kaum bangsawan.

Kesan Tome Pires terhadap Urang Sunda waktu itu adalah : menarik (goodly figure), ramah, tinggi, kekar (robust), dan ‘the are true man’ – mereka orang jujur. Sedangkan terhadap pemerintahan Sri Baduga mencatat, bahwa :”Kerajaan Sunda diperintah dengan adil “ (The Kingdom of Sunda is justly geverned).

Dari kebebasaran tersebut, ada lantunan Ki Baju Rombeng, Juru Pantun dari Bogor yang hidup pada awal ke 20.

Talung talung keur Pajajaran / jaman aya keneh kuwarabekti / jaman guru bumi di pusti-pusti / jaman leuit tangtu eusina metu / euweuh nu tani mudu ngijon / euweuh nu tani nandonkeun karang / euweuh nu tan paeh ku jengkel / euweuh nu tani modar ku lapar.

(masih mending waktu Pajajaran / ketika masih ada kuwarabekti / ketika guru bumi dipuja-puja / ketika lumbung padi melimpah ruah / tiada petani perlu mengijon / tiada petani harus mati kelaparan / tiada petani harus mati karena kesal / tiada hatus petani mati karena lapar). Cag heula. (***)

 

PEMISAHAN CIREBON

Perkawinan Sang Pamanahrasa (Sri Baduga Maharaja) dengan Nyi Mas Subanglarang, putri dari Ki Gedeng Tapa, memperoleh putera dan putri, yakni Walangsungsang, Rara Santang dan Rajasangara. Sang Pamanah Rasa mempersunting Nyi Mas Subanglarang setelah terlebih dahulu mengalahkan Raja Sakti Mandraguna dari wilayah Cirebon, yakni Amuk Murugul. Dengan demikian, baik dari Sirsilah ibu maupun ayah, Walangsungsang masih teureuh Niskala Wastu Kancana.

Subanglarang sebelum dipersunting Sang Pamanahrasa terlebih dahulu telah memeluk agama Islam. Ia alumnus Pesantren Quro yang didirikan oleh Syeh Hasanudin atau Syeh Quro (bukan Sultan Hasanudin), Syeh Hasanudin masuk ke wilayah ini pada masa Laksamana Cheng Ho. Menjadi tidak mengherankan jika putra-putrinya dari Subanglarang memeluk agama Islam dan direstui oleh Sang Pamanahrasa.

Bahwa memang ada cerita tentang keluarnya ketiga bersaudara tersebut keluar lingkungan istana Pakuan disebabkan perselisihan tahta antara Subanglarang dengan Kentring Manik Mayangsunda. Namun ada versi lain yang menceritakan bahwa keluarnya Walangsungsang dari lingkungan Pakuan bersama adiknya, Nyi Mas Rarasantang dilakukan dengan seijin ayahnya, sedangkan Rajasangara tetap berada dilingkungan Pakuan. Tahta Pajajaran dikemudian hari diserahkan kepada Surawisesa, putra mahkota dari Kentring Manik Mayang Sunda.

Iskandar (2005) menjelaskan, bahwa : pada suatu ketika, Walangsungsang bersama adik-adiknya meminta izin secara baik-baik kepada ayahandanya, untuk pergi ke Kerajaan Singapura (Cirebon). Alasan Walangsungsang dan adik-adiknya yang utama dikemukakan secara terus terang kepada ayahnya. Walangsungsang yang berstatus Tohaan (Pangeran), juga adik-adiknya, merasa bertanggung jawab untuk meningkatkan kualitas dirinya sebagai putera-puteri Maharaja. Mereka merasa haus akan ilmu pengetahuan, terutama dibidang keagamaan. Ketika ibunya masih hidup, mereka ada yang membimbing, tetapi ketika ibunya telah wafat, di Pakuan tidak ada orang yang bisa dijadikan guru mereka. Tidak Ada lagi penenang batin yang memadai bagi mereka.

Sri Baduga Maharaja menurut versi lainnya, ketika itu masih berstatus Prabu Anom, bahkan mertuanya (Prabu Susuktunggal) masih dibawah kekuasaan kakeknya, Sang Mahaprabu Niskala Wastu Kancana. Sri Baduga Maharaja atau Prabu Anom Jayadewata, sangat maklum atas keinginan ketiga puterinya itu. Dengan berat hati ia hanya mengijinkan Walangsungsang dan Rara Santang, sedangkan Rajasangara dimohon tetap tinggal di Pakuan.

 

Berdirinya Pakungwati

Pada tanggal 14 bagian terang bulan Caitra tahun 1367 Saka atau Kamis tanggal 8 April 1445 Masehi, bertepatan dengan 1 Muharam 848 Hijriah, Pangeran Walangsungsang membuka perkampungan baru dihutan pantai kebon pasisir yang bernama Cirebon Larang atau Cirebon Pasisir.

Nama tersebut diambil berdasarkan nama yang sudah ada, yaitu kerajaan Cirebon yang terletak dilereng Gunung Cereme yang pernah dirajai oleh Ki Gedeng Kasmaya (putera sulung Sang Bunisora). Ketika Cirebon Pasisir sudah berdiri, kawasan Cirebon yang dilereng Gunung Cereme kemudian disebut Cirebon Girang.

Daerah baru tersebut berkembang pesat. Dua tahun setelah didirikan tercatat ada 346 orang. Kampung baru Cirebon Pasisir, penduduknya terdiri atas caruban (campuran) berbagai bangsa dan agama. Mereka sepakat memilih Ki Danusela menjadi kuwu yang pertama, dan Ki Samadullah terpilih menjadi pangraksabumi, dengan julukan Ki Cakrabumi yang kemudian dijuluki pula Pangeran Cakrabuana.

Setelah menunaikan ibadah haji Pangeran Walangsungsang alias Ki Samadullah, mendapat nama baru, yakni Haji Abdullah Imam. Kemudian bermukim di Mekah selama 3 bulan. Di Cirebon, isterinya Indah Geulis, putri dari Ki Danuwarsih telah melahirkan seorang puteri. Untuk kemudian diberi nama Nyai Pakungwati.

Dalam rangka penyebaran agama, ia memperisteri Ratna Riris (puterinya Ki Danusela) dan namanya diganti dengan Kancana Larang. Selanjutnya Ki Danusela wafat, Walangsungsang diangkat menjadi kuwu yang kedua di Cirebon Larang.

Pada tahun 1479 M, kedudukannya digantikan putra adiknya, Nyai Rarasantang dari hasil perkawinannya dengan Syarif Abdullah dari Mesir. Syarif Hidayat berkuasa sejak tahun 1479 – 1568.

Dalam Pustaka Pakungwati Carbon (1779 M) yang disusun oleh Wangsamanggala – Demang Cirebon Girang atas perintah Sultan Muhammad Saifuddin (Matang Aji), dijelaskan tentang letak Pakungwati sebagai berikut :

“Keraton ini didirikan di sebelah barat Kali Karyan. Dahulu disebut Kali Carbon yang dalam jaman hindu disebut Kali Subha. Sebelah hulunya disebut Kali Gangga dan disebelah hulunya lagi disebut Carbon Girang”.

Pembentukan Pakungwati direstui Pajajaran. Sri Baduga mengutus Ki Jagabaya untuk menyampaikan tanda kekuasaan dan memberi gelar Sri Mangana kepada Walangsungsang, putranya. Pada saat itu disampaikan oleh Ki Jagabaya disertai Jasangara, adik bungsu Walangsungsang.

 

Cirebon Merdeka

Naskah Pustaka Nagara Kretabhumi parwa I sarga 2 menceritakan, bahwa pada tanggal 12 bagian terang bulan Caitra tahun 1404 Saka, Syarif Hidayat menghentikan pengiriman upeti yang seharusnya di bawa setiap tahun ke Pakuan Pajajaran dan menyatakan Cirebon todak lagi berada dibawah kekuasaan Pajajaran. Tindakan tersebut dilakukan setelah terlebih dahulu mendapat desakan dari para wali lainnya.

Ketika itu Sri Baduga baru saja menempati istana Sri Bima di Pakuan diberitakan, bahwa pasukan Angkatan Laut Demak berada di Pelabuhan Cirebon untuk menjaga kemungkinan datangnya serangan Pajajaran. Untuk mengetahui keadaan itu Sri Baduga mengutus Tumenggung Jagabaya beserta 60 anggota pasukannya, namun Ki Jagabaya dan pasukannya disergap hingga tak berdaya menghadapi pasukan gabungan Cirebon – Demak yang jumlahnya sangat besar. Akhirnya Jagabaya masuk Islam.

Peristiwa tersebut membangkitkan kemarahan Sri Baduga. Ia memerintahkan untuk menyiapkan pasukan besar agar segera disiapkan untuk menyerang Cirebon. Akan tetapi pengiriman pasukan dapat dicegah oleh Purohita – pendeta tertinggi keraton, yakni Ki Purwa Galih, dengan alasan, tidak pantas seorang kakek menyerang anak dan cucunya. Disamping itu diyakinkan pula, bahwa yang mengangkat Syarif Hidayat adalah Walangsungsang, putranya sendiri.

 

Perjanjian Internasional Pertama

Demikianlah situasi yang dihadapi Sri Baduga pada awal masa pemerintahannya, sehingga wajar jika ia mencurahkan perhatian kepada tegaknya pubatisti, purbajati dan membuat parit pertahanan, sebagaimana yang dijelaskan didalam berbagai naskah.

Tome Pires (1513) menyebutkan Sunda sebagai negeri ksatria dan pahlawan laut. Para pelaut Sunda berlayar keseganap pelosok negeri sampai ke Maladewa. Namun berdasarkan keterangan lain Pajajaran hanya memiliki 6 buah Jung, itupun hanya untuk kepentingan perdagangan antar pulaunya. Memang pada waktu itu perdagangan kuda jenis Pariaman mencapai sudah 4.000 ekor pertahun.

Keadaan makin tegang ketika hubungan Demak-Cirebon makin dikukuhkan dengan perkawinan putera-puteri dari kedua belah pihak. Ada 4 pasangan yang dijodohkan, yaitu : Pangeran Hasanudin (Banten) dengan Ratu Ayu Kirana (Purnamasidi) ; Ratu Ayu dengan Pangeran Sabrang Lor ; Pangeran Jayakelana dengan Ratu Pembayun ; dan Pangeran Bratakelana dengan Ratu Ayu Wulan (Ratu Nyawa). Perkawinan Sabrang Lor – Yunus Abdul Kadir dengan Ratu Ayu terjadi 1511, pada saat itu ia menjabat sebagai Senapati Sarjawala (Panglima angkatan laut) Kerajaan Demak, sehngga ia untuk sementara berada di Cirebon.

Hubungan Cirebon-Demak pada masa itu menurut versi lain dianggap mencemaskan Sri Baduga di Pakuan, ia mengutus putera mahkota (Surawisesa) menghubungi Panglima Portugis di Malaka, yakni Alafonso d’Albuquerque, ketika itu baru saja Portugis merebut Pelabuhan Pasai. Pada tanggal 21 Agustus 1522 secara resmi Pajajaran mengadakan perjanjian dengan Portugis. Perjanjian ini di akui dan dikomentasikan sebagai perjanjian internasional pertama di bumi Nusantara. 

Upaya Pajajaran melakukan perjanjian dengan Portugis telah meresahkan pihak Cirebon dan Demak. Didalam versi lain yang menghubungkan dengan penyerangan Fadilah Khan ke Kalapa (Jakarta), Pajajaran dianggap salah karena meminta bantuan asing. Padahal Pajajaran sedang mempertahankan kedaulatan wilayahnya. Terhadap versi ini akan menjadi pertanyaan jika diketahui sejarah selanjutnya, yakni ketika Demak menyertakan pasukan Portugis, Banten dan Fadilah Khan (Kalapa) untuk menaklukan Blambangan, Panarukan dan Pasuruan. Dengan demikian menjadi wajar pula ketika ada versi yang menegaskan, bahwa direbutnya Kalapa dari tangan Pajajaran bukan karena masalah penyebaran agama, melainkan suatu bentuk aneksasi dari suatu negara terhadap wilayah negara lain.

Kemudian kisah Surawisesa yang menjadi utusan dalam perundingan dengan Portugis disilokakan didalam Lalampahan Mundinglaya Dikusumah dengan kisah Langlayangan Salaka Domas. Di dalam kisah itu diceritakan Mundinglaya bertemu dengan Guriang, konon sebutan Guriang merupakan siloka bagi orang Portugis yang tinggi besar.

Ketegangan Pakuan dengan Cirebon yang dibantu Demak dan Banten tidak sampai mengakibatkan peperangan, oleh karena itu masing-masing pihak dapat memiliki kesempatan untuk mengembangkan keadaan di dalam negerinya, bahkan kerajaan Pajajaran mencapai puncaknya dan Cirebon menjadi puser penyebaran agama Islam.

Dari penelitiannya Tome Pires (1513) mengetahui wilayah pelabuhan yang termasuk yuridiksi Pajajaran. Ia menyebutkan Banten, Pontang, Cigede, (muara Cidurian), Tamgara (muara Cisadane), Kalapa, Karawang dan Cimanuk, sedangkan Cirebon pada waktu itu telah memisahkan diri. Tapi Pires hanya menyebutkan, bahwa Cirebon termasuk wilayah Demak. Untuk kemudian pembahasan Cirebon ia masukan didalam babnya tentang Jawa. (***).

 

SURAWISESA

Pasca wafatnya Sri Baduga, kemudian digantikan oleh Surawisesa (1522 – 1535), puteranya dari Kentring Manik Mayang Sunda. Surawisesa dipuji oleh Carita Parahiyangan dengan sebutan kasuran (perwira), kadiran (perkasa) dan kuwanen (pemberani). Selama 14 tahun masa pemerintahannya mengalami 15 kali pertempuran. Penulis Carita Parahyangan menuturkan, sebagai berikut :

Diganti enya eta ku Prebu Surawisesa, anu hilang di Padaren, Ratu gagah perkosa, teguh jeung gede wawanen.

Perang limawelas kali henteu eleh. Dina ngajalankeun peperangan teh kakuatan baladna aya sarewu jiwa.

Perang ka Kalapa jeung Aria Burah. Perang ka Tanjung. Perang ka Ancol kiyi. Perang ka Wahanten Girang. Perang ka Simpang. Perang ka Gunungbatu. Perang ka Saungagung. Perang ka Rumbut. Perang ka Gunungbanjar. Perang ka Padang. Perang ka Pagoakan. Perang ka Muntur. Perang ka Hanum. Perang ka Pagerwesi. Perang ka Madangkahiangan.

Didalam kisah Pantun dan Babad Surawisesa dikenal dengan sebutan Guru Gantangan atau Mundinglaya Dikusumah. Ia memiliki Permaisuri bernama Kinawati yang berasal dari Kerajaan Tanjung Barat, yang terletak di daerah Pasar Minggu sekarang. Kinawati adalah puteri Mental Buana, cicit Munding Kawati, penguasa di Tanjung Barat.

Baik Pakuan maupun Tanjung Barat terletak di tepi Ciliwung. Diantara dua kerajaan ini terletak kerajaan kecil Muara Beres di Desa Karadenan, dahulu bernama Kaung Pandak. Di Muara Beres ini bertemu silang jalan dari Pakuan ke Tanjung Barat terus ke Pelabuhan Kalapa dengan jalan dari Banten ke daerah Karawang dan Cianjur. Pada jaman dahulu merupakan kota pelabuhan dan berada dititik silang. VOC mencatat tempat ini sebagai daerah yang berjarak satu setengah kali perjalanan dari Muara Ciliwung. Dan diberi nama Jalan Banten Lama atau “oude Bantamsche weg”.

 

Duta Sunda

Pada tahun 1511 armada Demak sedang berada di Cirebon. Hal ini dianggap mengancam kedaulatan Pajajaran, terutama pasca Cirebon menyatakan diri sebagai negara merdeka yang lepas dari kekuasaan Pajajaran. Oleh karena itu Sri Baduga mengutus putra mahkotanya, yakni Surawisesa untuk mengadakan hubungan dengan Portugis.

Nagara Kretabhumi I/2 dan sumber Portugis mengisahkan bahwa Surawisesa pernah diutus ayahnya menghubungi Alfonso d’Albuquerque (Laksamana Bungker) di Malaka. Ia pergi ke Malaka dua kali (1512 dan 1521). Hasil kunjungan pertama adalah kunjungan penjajakan pihak Portugis pada tahun 1513 yang diikuti oleh Tome Pires, sedangkan hasil kunjungan yang kedua adalah kedatangan utusan Portugis yang dipimpin oleh Hendrik de Leme (ipar Alfonso) ke Ibukota Pakuan. Dalam kunjungan tersebut disepakati persetujuan antara Pajajaran dan Portugis mengenai perdagangan dan keamanan.

Kisah ini dimuat didalam Pustaka Nusantara III/1. Naskah tersebut sebagai berikut :

Karena itu Sang Prabu Pakuan Pajajaran mengutus putera mahkota yaitu Ratu Sangian atau Prabu Surawisesa. Duta Kerajaan Pajajaran ini menuju ke negeri Malaka. Di sana sang duta menegadakan persahabatan dengan pemimpin (nerpati) orang Portugis yang bernama Laksamana Bungker.

Ia telah berjanji akan selalu membantu Kerajaan Pajajaran bila diserang oleh Pasukan Demak dan Cirebon serta inhgin menjalin hubungan dagang. Setahun kemudian orang-orang Portugis berkunjung ke Pulau Jawa. Jumlah kapalnya 4 buah.

Mereka menginggahi semua pelabuhan yang ada di negeri Sunda, dan sang bule membuat surat kelak ketika sang putra mahkota telah menjadi ratu Sunda dengan gelar Prabu Surawisesa. [RPMSJB, Jilid ke-4, 16].

Surawisesa ketika itu masih menjadi Prabu Anom. Kelak dikemudian hari para penulis babad dan petutur pantun mengisahkan lalampahannya ini di dalam Lalakon Salaka (mungkin sakakala) Domas, dengan nama Munding Laya Dikusumah, sedangkan orang Purtugis digambarkannya sebagai Guriang.

Menurut Tome Pires orang Portugis yang mengikuti pelayaran penjajakan pada bulan Maret – Juni 1513, menyatakan, bahwa pada saat itu Portugis telah berhasil menguasai perairan Malaka. 

Dari pihak Demak nampaknya berupaya pula untuk menguasai Malaka dari tangan Portugis, namun serangan yang dilakukan pada tahun 1518 dan 1521 yang dipimpin Sabrang Lor untuk menyerang posisi Portugis di Pasai, mengalami kegagalan, bahkan Sabrang Lor, Sultan Demak kedua gugur. Portugis dapat dikalahkan di Pasai pada tahun 1595, ketika itu pasukan laut Aceh dipimpin Laksamana Malahayati. Sedangkan posisinya di Malaka masih dapat dipertahankan sampai dengan tahun 1641. Pada masa itu Portugis berhasil dikalahkan oleh Kumpeni Belanda.

Pasca berakhirnya pertempuran di Pasai, Surawisesa sebagai duta Sunda untuk kali kedua berkunjung ke Malaka. Disatu sisi, pasca kegagalan menyerang Pasai, kemudian Demak mengalihkan perhatiannya untuk menguasai selat Sunda. Hal ini dilakukan untuk mengamankan kepentingan dagangnya. Namun sulit dipertahankan Sunda, mengingat Sri Baduga pada akhir tahun 1521 wafat dan bantuan Portugis masih belum tiba.

Dipihak Demak telah terjadi suksesi. Pada tahun 1521 dinobatkan Sultan Ahmad Abdul Arifin sebagai sultan Demak yang ketiga. Ia putra ketiga dari Raden Patah yang lahir pada tahun 1483. Ia memperoleh tahta Demak karena Sabrang Lor tidak memiliki putra, maka ia menggantikan kedudukan kakaknya sebagai Sultan Demak.

Menurut salah satu versi Sultan Ahmad Abdul Arifin memperoleh nama Trenggono karena ketika hamil ibunya mengidam untuk pergi ke Trangganu, karena lidah penduduklah kemudian sebutan itu berubah menjadi Trenggono.

Pada tahun 1522 Surawisesa naik tahta. Penobatannya dihadilir oleh pihak utusan pihak Portugis di Malaka. Pada akhir kunjungan tersebut utusan Portugis dengan Pakuan menandatangani perjanjian dengan Pajajaran. Perjanjian tersebut menurut Soekanto (1956) ditandatangai pada tanggal 21 Agustus 1522.

Ten Dam (1957) menganggap bahwa perjanjian itu dibuat secara lisan, akan tetapi sumber portugis yang dikutip oleh Hageman menyebutkan “Van deze overeenkomst werd een geschrift opgemaakt in dubbel, waarvan elke partij een behield” (Dari perjanjian ini dibuat tulisan rangkap dua, lalu masing-masing pihak memegang satu).

Dalam perjanjian itu disepakati bahwa Portugis akan mendirikan benteng di Banten dan Kalapa. Untuk itu tiap kapal Portugis yang datang akan diberi muatan lada yang harus ditukar dengan barang-barang keperluan yang diminta pihak Sunda. Kemudian pada saat benteng mulai dibangun, pihak Pajajaran akan menyerahkan 1000 karung lada tiap tahun, untuk ditukarkan dengan muatan sebanyak dua costumodos atau + 351 kuintal.

Perjanjian Pajajaran dengan Portugis sangat mencemaskan Sultan Trenggono. Hal ini disebabkan Selat Malaka yang dijadikan pintu masuk perairan Nusantara sebelah utara sudah dikuasai Portugis yang berkedudukan di Malaka dan Pasai. Bila Selat Sunda yang menjadi pintu masuk perairan Nusantara di selatan juga dikuasai Portugis, maka jalur perdagangan laut yang menjadi urat nadi kehidupan ekonomi Demak terancam putus.

Trenggono segera mengirimkan armadanya di bawah pimpinan Senapati Demak, yakni Fadilah Khan. Pada saat itu Fadillah Khan telah memperistri Ratu Pembayun, janda Pangeran Jayakelana (Cirebon). Kemudian ia pun menikah dengan Ratu Ayu, janda Sabrang Lor (Sultan Demak II). Dengan demikian, Fadillah menjadi menantu Raden Patah sekaligus menantu Susuhunan Jati Cirebon. Dari segi kekerabatan, Fadillah masih terhitung keponakan Susuhunan Jati karena buyutnya, yakni Barkat Zainal Abidin adalah adik Nurul Amin, kakek Susuhunan Jati dari pihak ayah.

Posisi Fadilah Khan juga sangat kuat, karena ia masih terhitung cucu Sunan Ampel, atau Ali Rakhmatullah. Hal ini dikarenakan buyutnya adalah kakak Ibrahim Zainal Akbar, ayah dari Sunan Ampel. Sunan Ampel sendiri adalah mertua Raden Patah (Sultan Demak I).

Barros menyebut Fadillah dengan Faletehan. Hal ini sesuai dengan lafal orang Portugis dalam menyebutkan Fadillah Khan, namun Tome Pinto menyebutnya Tagaril, dari sebutan Ki Fadil. Nama ini julukan sehari-hari dari Fadillah Khan. Nama Fadillah sendiri baru muncul dalam buku Sejarah Indonesia susunan Sanusi Pane (1950). Carita Parahiyangan menyebut Fadillah dengan Arya Burah.

Pasukan Fadillah yang merupakan gabungan pasukan Demak-Cirebon berjumlah 1967 orang. Sasaran pertama adalah Banten, pintu masuk Selat Sunda. Kedatangan pasukan ini telah didahului dengan huru-hara di Banten yang ditimbulkan oleh Pangeran Hasanudin dan para pengikutnya. Kedatangan pasukan Fadillah menyebabkan pasukan Banten terdesak. Bupati Banten beserta keluarga dan pembesar keratonnya mengungsi ke Ibukota Pakuan. Hasanudin kemudian diangkat oleh ayahnya, Syarif Hidayat menjadi Bupati Banten pada tahun 1526.

Setahun kemudian Fadillah menyerang dan merebut pelabuhan Kalapa. Bupati Kalapa bersama keluarga dan para menteri kerajaan yang bertugas di pelabuhan gugur. Keunggulan pasukan Fadillah terletak pada penggunaan meriam yang justru tidak dimiliki oleh Laskar Pajajaran. Menurut Versi lainnya pada masa itu Kalapa tidak dijaga ketat oleh Legiun Sunda, mengingat jarak Pajajaran dengan Kalapa diperkirakan dua hari (Tome Pires : 1453). Menurut versi lainnya, jarak tempuh dari Ibukota Pakuan ke Kalapa lewat perairan memerlukan waktu dua minggu.

Bantuan Portugis datang terlambat karena Francisco de Sa yang ditugasi membangun benteng diangkat menjadi Gubernur Goa di India. Keberangkatan ke Sunda dipersiapkan dari Goa dengan membawa 6 buah kapal. Galiun yang dinaiki De Sa berisi peralatan untuk membangun benteng terpaksa ditinggalkan karena armada ini diterpa badai di Teluk Benggala. De Sa tiba di Malaka tahun 1527. Ekspedsi ke Sunda bertolak dari Malaka. Mula-mula menuju Banten, akan tetapi karena Banten sudah dikuasai Hasanudin, perjalanan dilanjutkan ke Pelabuhan Kalapa.

Pada tanggal 30 Juni 1527 di Muara Cisadane De Sa memancangkan padrao dan menjuluki Cisadane dengan nama Rio de Sa Jorge. Kemudian galiun De sa memisahkan diri. Hanya kapal brigantin yang dipimpin oleh Duarte Coelho langsung ke Pelabuhan Kalapa. Coelho terlambat mengetahui perubahan situasi, kapalnya menepi terlalu dekat ke pantai dan menjadi mangsa sergapan pasukan Fadillah.

Dengan kerusakan yang berat dan korban yang banyak, kapal Portugis ini berhasil meloloskan diri ke Pasai. Tahun 1529 Portugis menyiapkan 8 buah kapal untuk melakukan serangan balasan, akan tetapi karena peristiwa 1527 yang menimpa pasukan Coelho demikian menakutkan, maka tujuan armada lalu di ubah menuju Pedu.

 

Pasca Sri Baduga

Setelah Sri Baduga wafat, penguasa Pajajaran dengan Cirebon berada pada generasi yang sejajar. Meskipun yang berkuasa di Cirebon Syarif Hidayat, tetapi dibelakangnya berdiri Pangeran Cakrabuana atau Walasungsang. Cakrabuana adalah kakak seayah Prabu Surawisesa. Ia masih putra Sri Baduga dari Subanglarang, sedangkan Surawisesa putra Sri Baduga dari Kentring Manik Mayangsunda. Dengan demikian keengganan Cirebon unuk menjamah pelabuhan atau wilayah lain di Pajajaran menjadi hilang, sehingga terjadi pertempuran di wilayah Citarum bagian barat.

Pada masa itu Cirebon mendapat dukungan penuh dari Demak. Pada suatu ketika Cirebon menjadi lemah. Hal ini terjadi pasca kegagalan Demak menyerbu Pasuruan dan Panarukan yang berakibat terbunuhnya Sultan Trenggono. Selain itu di Demak sedang terjadi perebutan, bahkan salah satu putra Syarif Hidayat wafat. Pada masa selanjutnya kedudukan Cirebon terdesak dan terlampaui oleh kejayaan Banten, sedangkan Cirebon berubah menjadi vasal Demak.

 

Perjanjian dengan Cirebon

Perang Pajajaran dengan Cirebon yang dibantu Banten dan Demak berlangsung 5 tahun, karena pasukan gabungan Cirebon tidak berani naik ke darat, sedangkan dipihak lain Pajajaran tidak memiliki armada laut yang kuat. Cirebon hanya berhasil menguasai kota pelabuhan. Pertempuran Pajajaran dengan Cirebon menurut Carita Parahyangan terjadi 15 kali, berlangsung dari tahun 1526 – 1531. 

Di front timur pasukan Cirebon bergerak lebih jauh ke selatan. Pada tahun 1528 Cirebon pernah dipukul mundur oleh Galuh. Berkat kepemimpinan Pangeran Cakrabuana pada akhirnya pasukan Galuh berhasil dipukul mundur sampai ke Talaga. Didaerah ini pasukan Galuh menghimpun kekuatan.

Cirebon menghentikan sementara serangannya ke Talaga, karena pada tahun 1529 Cakrabuana (Walangsungsang) wafat. Pada tahun berikutnya serangan ke Talaga dilakukan, maka pada tahun 1530 Talaga dapat dikalahkan. Raja Talaga kemudian masuk islam dan Talaga menjadi bawahan Cirebon

Kekalahan Galuh disebabkan kurang matangnya persiapan perang dan minimnya peralatan perang yang dimiliki. Sementara pasukan Cirebon di bantu Demak memiliki pasukan meriam yang jauh lebih efektif dibandingkan pasukan panah Galuh.

Pada peristiwa ini Sumedang telah masuk ke dalam lingkaran pengaruh Cirebon, Hal ini terjadi pasca dinobatkannya Pangeran Santri menjadi Bupati Sumedanglarang pada tanggal 21 Oktober 1530. Pangeran Santri adalah cucu Pangeran Panjunan, kakak ipar Syarif Hidayat. Buyut Pangeran Santri adalah Syekh Datuk Kahfi, pendiri pesantren pertama di Cirebon. Pangeran Santri dari Sindangkasih dapat menjadi bupati Sumedang Larang karena pernikahan dengan Satyasih, Pucuk Umum Sumedang, bahkan acara syukuran penobatannya dilakukan di Cirebon.

Menurut versi lain, pada tahun 1504 M Pangeran Palakaran menikah dengan seorang putri Sindangkasih. Dari pernikahannya maka pada tahun 1505 M melahirkan seorang putra yang diberi nama Ki Gedeng Sumedang (Pangeran Santri). Tentang putri Sindangkasih atau ibunda Pangeran Santri memang membuahkan beberapa kesimpulan. Apakah Pangeran Santri tersebut putra dari putri Sindangkasih (Rambutkasih) yang tilem, karena tidak mau memeluk agama islam, atau putri dari kerabat putri Sindangkasih ?. Namun masalah ini akan dibahas tersendiri.

Dengan posisi di timur Citarum yang telah dikuasai, Cirebon merasa kedudukannya mapan. Selain itu, karena gerakan ke Pakuan selalu dapat dibendung oleh pasukan Surawisesa, maka kedua pihak mengambil jalan terbaik dengan berdamai dan mengakui kedudukan masing-masing.

Pada tahun 1531 antara Pajajaran yang diprakarsai Prabu Surawisesa dengan Cirebon yang diprakarsai Syarif Hidayat dilakukan perdamaian, masing-masing pihak berdiri sebagai negara merdeka ; sederajat ; dan bersaudara sebagai ahli waris Sri Baduga. Dari pihak Cirebon yang ikut menandatangani naskah perjanjian adalah Pangeran Pasarean, putera mahkota Cirebon ; Fadillah Khan ; dan Hasanudin, Bupati Banten.

Bagi Cirebon, penghentian peperangan tersebut dikarenakan pihaknya telah cukup puas dengan menguasai wilayah pesisir Sunda. Hal ini bertujuan untuk mengamankan jalur perdagangannya dan merebut kota pelabuhan. Sementara bagi Pajajaran berakibat kerugian besar, karena lebih dari separuh wilayah peninggalan Sri Baduga telah hilang. Dengan dukungan pasukan belamati yang setia, Surawisesa masih mampu mempertahankan daerah inti kerajaannya di Pakuan.

Perjanjian damai dengan Cirebon memberikan peluang kepada Surawisesa untuk mengurus dalam negerinya. Setelah berhasil memadamkan beberapa pemberontakkan, berkesempatan untuk membangun Sunda. Dalam suasana seperti itulah Surawisesa mengenang kebesaran ayahandanya. Perjanjian damai dengan Cirebon memberi kesempatan kepadanya untuk menunjukkan rasa hormat terhadap mendiang Sri Baduga, ayahnya.

Pada tahun 1533, tepat 12 tahun setelah ayahnya wafat, ia melakukan upacara Srada, yakni upacara untuk menyempurnakan sukma yang harus dilakukan 12 tahun setelah seorang raja wafat. Kemudian membuat Sakakala, tanda peringatan tentang Sri Baduga Maharaja dalam bentuk suatu prasasti, yang sekarang kita kenal dengan sebutan ‘Prasasti Batu Tulis.’

Dalam prasasti dicantumkan Maha Karya ayanya satu persatu, bahkan diakhir kalimat ‘ya siya pun.’ Hal ini untuk menunjukan bahwa benar Sri Baduga lah yang membuat tanda-tanda itu, yakni membuat parit pertahanan di Pakuan ; membuat tanda peringatan berupa gunung – gunungan ; mengeraskan jalan dengan batu membuat (hutan) samida ; membuat telaga Rena Mahawijaya. Ya dialah yang membuat semua itu.

++ Wang na pun ini sakakala, prebu ratu purane pun, diwastu diya wingaran prebuguru dewataprana diwastu diya dingaran sri baduga maharaja ratu haji pakwan pajajaran sri sang ratu dewata pun ya nu nyusuk na pakwan diya anak rahyang dewa niskala sa(ng) sidamoksa di gunatiga i(n)cu rahyang niskala wastu ka(n)cana sa(ng) sidamokta ka nusalarang, ya siya nu nyiyan sakakala ngabalay nyiyan samida, nyiyan sanghyang talaga rena mahawijaya, ya siyapun ++ i saka. Panca pandawa e(m)bau bumi ++

Surawisesa tidak menampilkan namanya dalam prasasti. Ia hanya meletakkan dua buah batu di depan prasasti itu. Satu berisi Astatala ukiran jejak tangan, yang lainnya berisi Padatala ukiran jejak kaki. Menurut versi lain, pemasangan batu tulis tersebut bertepatan dengan upacara Srada, karena dengan dilaksankannya upacara demikian maka sukma orang yang meninggal dianggap telah lepas hubungannya dengan dunia materi.

Surawisesa memerintah selama 14 tahun lamanya. Pada tahun 1535 masehi, atau dua tahun setelah ia membuat prasasti sebagai Sakakala untuk ayahnya, ia wafat dan dipusarakan di Padaren. Diantara raja-raja jaman Pajajaran, hanya dia dan ayahnya yang menjadi bahan kisah tradisional, baik babad maupun pantun.

Ti dinya mulang ka pakwan deui.

Hanteu naunan deui.

Ratu tilar dunya.

Lawasna jadi ratu opatwelas taun.

  

Sumber Bacaan :

Prabu Siliwangi atau Ratu Purana Prebu Guru Dewataprana Sri Baduga Maharaja Taru Haji Di Pakwan Pajajaran 1474 – 1513, Amir Sutaarga, Pustaka Jaya, Bandung – 1966.

Kebudayaan Sunda – Zaman Pajajaran – Jilid 2, Ekadjati, Pustaka Jaya, Bandung – 2005.

Rintisan Penelusuran Masa Silam Sejarah Jawa Barat, Jilid 2 dan 3, Tjetjep, SH dkk, Proyek Penerbitan Sejarah Jawa Barat Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat.

Yoseph Iskandar. Sejarah Jawa Barat (Yuganing Rajakawasa), Geger Sunten, Bandung – 2005.

Tjarita Parahjangan, Drs.Atja, Jajasan Kebudayaan Nusalarang, Bandung- 1968.

Sejarah Bogor (Bagian 1), Saleh Danasasmita. Pemda DT II Bogor. Sumber : pasundan.homestead.com – Sumber : Salah Dana Sasmita, Sejarah Bogor, 24 September 2008.

Sejarah Bogor (Bagian 1), Saleh Danasasmita. Pemda DT II Bogor, – 1983.

Foto :wikipedia.org/wiki/Berkas:Pakuanpajajaran.jpg

Tjarita Parahjangan, Drs.Atja, Jajasan Kebudayaan Nusalarang, Bandung- 1968.

Sumber Bacaan :

Kebudayaan Sunda (Suatu Pendekatan Sejarah) – Jilid 1, Edi S. Ekadjati, Pustaka Jaya, Bandung, Cet Kedua – 2005

Kebudayaan Sunda – Zaman Pajajaran – Jilid 2, Ekadjati, Pustaka Jaya, Bandung – 2005.

Yoseph Iskandar. Sejarah Jawa Barat (Yuganing Rajakawasa), Geger Sunten, Bandung – 2005.

Yosep Iskandar, Perang Bubat, Naskah bersambung Majalah Mangle, Bandung, 1987.

Yus Rusyana – Puisi Geguritan Sunda : PPPB, 1980

Tjarita Parahjangan, Drs.Atja, Jajasan Kebudayaan Nusalarang, Bandung- 1968.

Sejarah Bogor (Bagian 1), Saleh Danasasmita. Pemda DT II Bogor.

pasundan.homestead.com – Sumber : Salah Dana Sasmita, Sejarah Bogor, 24 September 2008.

wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Galuh, 5 April 2010.

Prabu Siliwangi atau Ratu Purana Prebu Guru Dewataprana Sri Baduga Maharaja Taru Haji Di Pakwan Pajajaran 1474 – 1513, Amir Sutaarga, Pustaka Jaya, Bandung – 1966.

Kebudayaan Sunda (Suatu Pendekatan Sejarah) – Jilid 1, Edi S. Ekadjati, Pustaka Jaya, Bandung, Cet Kedua – 2005

Kebudayaan Sunda – Zaman Pajajaran – Jilid 2, Ekadjati, Pustaka Jaya, Bandung – 2005.

Prabu Siliwangi atau Ratu Purana Prebu Guru Dewataprana Sri Baduga Maharaja Taru Haji Di Pakwan Pajajaran 1474 – 1513, Amir Sutaarga, Pustaka Jaya, Bandung – 1966.

Kebudayaan Sunda (Suatu Pendekatan Sejarah) – Jilid 1, Edi S. Ekadjati, Pustaka Jaya, Bandung, Cet Kedua – 2005

Kebudayaan Sunda – Zaman Pajajaran – Jilid 2, Ekadjati, Pustaka Jaya, Bandung – 2005.

Kebudayaan Sunda (Suatu Pendekatan Sejarah) – Jilid 1, Edi S. Ekadjati, Pustaka Jaya, Bandung, Cet Kedua – 2005

Kebudayaan Sunda – Zaman Pajajaran – Jilid 2, Ekadjati, Pustaka Jaya, Bandung – 2005.

Rintisan Penelusuran Masa Silam Sejarah Jawa Barat, Jilid 2 dan 3, Tjetjep, SH dkk, Proyek Penerbitan Sejarah Jawa Barat Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat.

Sejarah Bogor – bagian 1, Saleh Danasasmita. Pemda DT II Bogor – 1983 – di copy dari pasundan.homestead.com

Prabu Siliwangi atau Ratu Purana Prebu Guru Dewataprana Sri Baduga Maharaja Taru Haji Di Pakwan Pajajaran 1474 – 1513, Amir Sutaarga, Pustaka Jaya, Bandung – 1966.

Kebudayaan Sunda (Suatu Pendekatan Sejarah) – Jilid 1, Edi S. Ekadjati, Pustaka Jaya, Bandung, Cet Kedua – 2005

Kebudayaan Sunda – Zaman Pajajaran – Jilid 2, Ekadjati, Pustaka Jaya, Bandung – 2005.

Rintisan Penelusuran Masa Silam Sejarah Jawa Barat, Jilid 2 dan 3, Tjetjep, SH dkk, Proyek Penerbitan Sejarah Jawa Barat Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat.

 

Di Kutip dari : GUNUNG SEPUH

akibalangantrang.blogspot.com

Disarikan oleh : Agus Setiya Permana

Dari : berbagai sumber

 

 

Posted in Legend & Mitos | Tagged: | Leave a Comment »

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.